Posts filed under ‘Kedokteran’

Contoh Skripsi Kedokteran

  1. Penilaian Standar Pelayanan Rumah Sakit Melalui Kepatuhan Prosedur Kerja Di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember
  2. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Terhadap Perilaku Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan Di Puskesmas Rawat Inap Kedaton Bandar Lampung
  3. Pengetahuan Dan Sikap Perilaku Merokok Pada Siswa SMU Negeri 3 Padang Sidimpuan Sumatera Utara


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Iklan

April 26, 2012 at 7:56 am Tinggalkan komentar

Pengetahuan Dan Sikap Perilaku Merokok Pada Siswa SMU Negeri 3 Padang Sidimpuan Sumatera Utara (KD-03)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial maupun ekonomis. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kesehatan adalah suatu investasi. Jadi, ketika kita sedang memperjuangkan kesehatan berarti kita juga sedang menanam investasi baik dari sosial maupun dari segi ekonomi. Jika demikian keadaanya, maka kesehatan harus diperjuangkan semaksimal mungkin.

Walaupun demikian, kesehatan merupakan hak setiap orang. Karena itu prinsip-prinsip investasi di dunia perekonomian tidak seluruhnya diterapkan di dunia kesehatan. Maksudnya, ketika kita membuat orang yang tidak sehat menjadi sehat maka tidak etis kalau kita mengharapkan produktifitasnya sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk membuat orang yang tidak sehat menjadi sehat. Karena kesehatan merupakan hak setiap orang maka kesehatan harus diusahakan dan dinikmati oleh setiap orang. Usaha itu bukan saja kewajiban pemerintah semata, melainkan kewajiban setiap orang (Depkes. RI, 1992:2).
Salah satu penyebabnya masalah kesehatan yang ada hampir seluruh negara didunia termasuk Indonesia saat ini yaitu merokok. Merokok menjadi penyebab masalah karena menimbulkan kehilangan ataupun kerugian sumber daya baik tingkat keluarga, tingkat perusahaan, maupun tingkat nasional. (Gani, 1993:5).

Kesakitan dan kematian yang diakibatkan rokok adalah bagian dari bentuk kelalaian atau kealahan yang disengaja, karena itu identik dengan bunuh diri. Padahal dalam sudut pandang agama apapun, tindakan itu tidak akan diridhoi oleh tuhan yang Maha Bijaksanan. Menurut data di Indonesia 6,5 juta orang dewasa menderita penyakit akibat merokok. Berbagai penyakit tersebut antara lain kanker terutama kanker paru, jantung dan peredaran darah, bayi lahir dengan berat rendah serta sindroma bayi meninggal medadak (studden death) dari ibu yang merokok (Depkes RI, New Letter, Mei 2003).

Dari segi kesehatan telah terbukti bahwa merokok berhubungan dengan sedikitnya 25 jenis penyakit yang diakibatkan diantaranya penyakit kardiovaskuler (seperti jantung koroner, stroke, aneurisma arterosklerosis aorta, arteroklerosis pembuluh darah perifer), penyakit kanker (seperti kanker paru, mulut, tenggorokan, pankreas, ginjal dan lambung), keadaan alergi dan penurunan daya tahan tubuh, diabetes melitus, perubahan genetik, gangguan kromosom, menghambat perbaikan DNA yang rusak serta mengganggu sistem enzimetik. Akhir-akhir ini para ahli juga menghubungkan kebiasaan merokok dengan katarak mata dan osteoporosis. (Aditama, 1996:20).

Dengan melihat begitu luas dan fatalnya dampak negatif merokok terhadap kesehatan juga ekonomi yang tentunya akan berdampak pada kelanggengan pembangunan bangsa, maka seharusnya merokok bukan menjadi pilihan setiap orang dan banyak laporan hasil penelitian mengenai rokok menemukan bahwa sampai saat ini perilaku merokok masih disukai banyak orang dari berbagai kalangan, dari mulai anak-anak, remaja, pemuda dan orang tua sehingga merokok merupakan masalah kesehatan dalam masyarakat.

World Health Organization (WHO) memperkirakan dewasa ini terdapat sekitar 1,1 milyar perokok didunia ini, tiga ratus juta diantaranya (200 juta pria dan 100 juta wanita) merupakan penduduk negara maju. Di negara berkembang diperkirakan jumlah perokok hampir tiga kali lebih banyak dibanding di negara maju yaitu sekitar 800 juta orang yang terdiri dari 700 juta perokok pria dan 100 juta perokok wanita. Di dunia ini 48% pria dan sekitar 12% wanita adalah wanita. Data yang dikeluarkan WHO pada tahun 1996 menyebutkan bahwa 41% pria dan 21% wanitanya adalah perokok, sementara di negara berkembang 50% pria dan 8% wanita punya kebiasaan merokok. (Aditama, 1996:43).
Setiap orang yang meninggal akibat rokok pada usia pertengahan rata-rata meninggal 22 tahun lebih cepat dari pada rata-rata. Dalam dekade 1990-an terdapat 2 juta orang yang meninggal akibat rokok diberbagai negara maju dimana 1,44 juta diantaranya adalah pria dan 0,48 juta lainnya adalah wanita, di pihak lain data yang terkumpul menunjukkan bahwa di negara berkembang di dekade yang sama terdapat 1 juta kematian akibat rokok yang angkanya akan naik tajam menjadi 7 juta kematian di tahun 2000 kelak.

Menteri Kesehatan Dr. Akhmad Sujudi mengatakan, bahwa rokok menjadi penyebab kematian diantara 10 orang dewasa di dunia. Kecenderungannya makin meningkat, tahun 2030 diperkirakan akan menyebabkan 10 juta kematian setahun. Di Indonesia konsumsi rokok tumbuh paling cepat di dunia, penyebab utamanya perokok pemula. (IDI, 2002:1).
Menurut World Health Organization (WHO) kematian akibat rokok adalah 4 juta jiwa pertahun yang 500.000 diantaranya adalah perempuan. Data Departemen Kesehatan RI, Indonesia pada akhir tahun 1999 kematian akibat rokok sudah mencapai 57.000 jiwa pertahun. Angka konsumsi rokok di Indonesia termasuk yang paling cepat pertumbuhannya di dunia karena melonjaknya perokok pemula yang sebagian besar berumur antara 10-19 tahun. (Djunaedi, 2002:19).

Berdasarkan hasil Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan Tahun 1980 telah menunjukan bahwa kebiasaan merokok pria mencapai 46,5% dan pada tahun 1988 meningkat menjadi 52,9% hasil SKRT tahun 1995 didapat 22,9% orang berumur 10 tahun keatas telah menghisap 100 batang rokok dalam hidupnya dan berstatus merokok. Dilihat dari usia mulai merokok berdasarkan kelompok umur penduduk yakni 53,2% adalah penduduk berusia 15-19 tahun (SKRT 1995:18). Sedangkan hasil penelitian yan dilakukan oleh LM3 tahun 1998 menunjukan bahwa perilaku 59,04% laki-laki usia 10 tahun keatas, 4,83% perempuan berusia 10 tahun keatas (LM3, 1998:6). Padahal seorang pada usia tersebut masa perkembangan yang seyogyanya terbatas dari hal-hal yang dapat merusak dan mengganggu kesehatannya.

Merokok dapat menjadi penyebab masalah kesehatan di Indonesia sangat nyata terlihat sejak tahun 1980 dengan dimunculkannya hasil survai tentang kebiasaan merokok dan beberapa aspek lainnya yang berhuungan dengan merokok sekalipun data yang ada belum transparan menggambarkan situasi sebenarnya. Sejak SKRT tahun 1992 hingga sekarang ditemukan bahwa penyakit jantung koroner (PJK) menempati tingkat pertama penyebab kematian di Indonesia. Hal ini juga mempertegas bahwa Indonesia sedang pada kondisi transisi epidemiologi yaitu sementara penyebab kematian akibat infeksi belum teratasi dengan tuntas ternyata penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner sudah menjadi penyebab kematian utama di Indonesia.

Peyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyatakan kelainan myocardium yang disebabkan oleh insufiensi aliran darah koroner. (Himawan, 1973:57). Dari segi etiologi, merokok memang bukan penyebab tunggal Penyakit Jantung Koroner. Beberapa faktor resiko Penyakit Jantung Koroner, yaitu kebiasaan merokok, kadar kolesterol yang tinggi dalam darah, kadar lemak yang tinggi dalam darah, hipertensi, diabetes melitus, obesitas dan sedentary living (gaya hidup dengan aktivitas fisik yang sedikit). Dari kesemuanya itu, ternyata kebiasaan merokok merupakan faktor resiko yang relatif besar menyebabkan terjadinya Penyakit Jantung Koroner. (Siagian, 1998:5).

Logikanya, menghilangkan salah satu faktor resiko atau mengurangi resiko akan berarti menurunkan kemungkinan terjadinya Penyakit Jantung Koroner. Sebaliknya kematian akibat Penyakit Jantung Koroner yang disebabkan merokok akan terus meningkat jika upaya untuk mengurangi atau menghilangkan faktor penyebab tidak sungguh-sungguh dilakukan.

Dari SKRT tahun 1995 juga menunjukan bahawa perilaku merokok tidak saja tersebar di kota-kota besar melainkan di pedesaan juga. Hal ini berarti bahwa masalah merokok tersebar di desa dan di kota. Karena itu, upaya penanggulangannya pun harus tersebar di desa dan di kota dengan lebih terencana dan komprehensif.

Beberapa penelitian terdahulu sudah membuktikan bahwa umur mulai merokok terbanyak terdapat pada kelompok remaja. Salah satunya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Soekidjo Notoadmodjo di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta pada tahun 1981 menemukan umur mulai merokok pertama kali, 11% pada umur sebelum 12 tahun, 31% pada kelompok umur 13-17 tahun, 41% pada kelompok umur 18-22 tahun dan diatas 22 tahun sebesar 17%. Dari penelitian itu juga didapatkan alasan merokok karena iseng (38,5%), sebagai alat pergaulan (21,1%), mengganggap rokok sebagai kebiasaan saja (9,3%), untuk mengisi kesepian (6,2%), tidak tahu (3,1%) dan dengan alasan lainnya sebesar 6,2%. (Notoadmodjo, 1982:68).

Dari beberapa penelitian terdahulu juga menunjukan angka orang yang berhenti merokok sangat kecil yaitu 2,1% pernah merokok (SKRT, 1992). Hal itu diakibatkan efek adiksi dari kandungan zat kimia dalam rokok sehingga orang yang sudah merokok tanpa disertai pengalaman menyakitkan secara fisik cenderung akan mempertahankan perilaku tersebut.

Setelah mengetahui dampak negatif merokok di dunia termasuk di Indonesia, kelompok resiko tinggi mulai merokok, penyebaran masalah rokok, sekarang kita telah sampai pada pemikiran cara mengatasi masalah tersebut.

Untuk penanggulangan masalah merokok tersebut WHO telah memulainya dengan menetapkan tanggal 31 Mei 1988 sebagai Hari Tidak Merokok Sedunia (World No Tobacco Day) pertama dengan tema “Tembakau Atau Sehat, Pilihlah Sehat”, yang selanjutnya ditetapkan setiap tanggal 31 Mei sebagai Hari Tidak Merokok Sedunia.
WHO menganjurkan tiga upaya pokok untuk menanggulangi masalah akibat merokok yaitu: (Aditama, 1996:5).

1. Upaya pengorganisasian yang mantap
2. Upaya di bidang peraturan yang tegas
3. Upaya pendidikan kesehatan yang luas
Departemen Kesehatan sendiri dalam upaya mendukung langkah-langkah yang telah diambil oleh WHO telah mengeluarkan peraturan melalui instruksi Menkes RI No.
161/Menkes/Ins/III/1990 tanggal 28 Maret 1990 Tentang Lingkungan Kerja Bebas Rokok (TLKBR) yang ditujukan seluruh jajarannya mulai dari Tingkat Pusat sampai tingkat Kabupaten/Kotamadya di seluruh Indonesia, yang isinya antara lain: (Hanafiah,1993:32).
1. Menjadikan lingkungan bebas rokok masing-masing unit
2. Melaksanakan larangan merokok terhadap pejabat dan tamu/pengunjung di lingkungan kerja masing-masing unit.
3. Menyediakan tempat atau ruangan khusus bagi mereka yang ingin merokok sehingga tidak mengganggu orang di lingkungan kerja.
4. Larangan merokok di lingkungan atau tempat kerja bagi pejabat/karyawan kesehatan agar dilaksanakan secara konsekuen dan bertanggung jawab sehingga dapat menjadi panutan bagi masyarakat.

Pemerintah juga sudah melakukan pembatasan iklan rokok yakni dengan melarang iklan rokok yang menampilkan orang-orang yang sedang merokok. Tetapi, sepertinya larangan total iklan rokok perlu diterapkan juga di Indonesia. Pemerintah juga sudah melakukan pencantuman peringatan bahaya merokok pada setiap bungkus tapi sepertinya belum efektif. Respon yang menunjukan bahwa tidak tertarik sering dijumpai penulis, baik dari perokok maupun non perokok, (Aditama, 1996:13) dan juga melaui Interuksi Direktur Jendral Pendidikan dasar dan menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 019/C/I/Inst/1978 tentang Larangan Pelajar Membawa Rokok.

Mendidik remaja (kelompok usia rawan mulai merokok) dapat dilakukan dengan pendidikan masyarakat di sekolah atau melalui media lainnya. (Aditama, 1996:21). Agar materi yang diberikan dapat efektif, maka langkah awal yang perlu diketahui yakni gambaran pengetahuan, sikap dan kecenderungan berperilaku remaja tentang kebiasaan merokok.

Berdasarkan masalah diatas membut penulis tertarik untuk mengangkat tema tentang perilaku merokok dikalangan Siswa Menengah Umum (SMU). Untuk lokasi penelitian penulis mengambil sampel di SMU Negeri 3 Padang Sidimpuan Sumatera Utara. Alasannya karena belum pernah ada penelitian tentang perilaku merokok siswa di SMU Negeri 3 Padang Sidimpuan dan karena keterbatasan yang dimilki penulis, maka populasi penelitian ini hanya terbatas pada siswa kelas satu dan dua SMU Negeri 3 Padang Sidimpuan Sumatera Utara dengan peritmbangan karena kelas 3 SMU tesebut mau mengahdapi Ujian Akhir Nasional 2005.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Maret 26, 2011 at 12:07 am Tinggalkan komentar

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP PERILAKU KUNJUNGAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN DI PUSKESMAS RAWAT INAP KEDATON BANDAR LAMPUNG (KD-02)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah

Masalah kesehatan ibu dan perinatal merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama, karena sangat menentukan kualitas sumber daya manusia pada generasi mendatang. Perhatian terhadap ibu dalam sebuah keluarga perlu mendapat perhatian khusus karena Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi bahkan tertinggi di antara negara-negara Association South East Asian Nation (ASEAN). Dimana AKI saat melahirkan tahun 2005 tercatat 307 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup (Azrul Azwar, 2005).

Menurut Survei Penduduk (SP) dan Survei Sosial Tingkat Nasional (Susenas) tahun 2000 dalam profil dinas kesehatan (Dinkes) Propinsi Lampung 2005, AKI di Propinsi Lampung sebesar lebih dari 307 kasus per 100.000 kelahiran hidup. Untuk tahun berikutnya AKI di Propinsi Lampung mengalami penurunan, yakni sebesar 53 kasus per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2003 dan 88 kasus per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 dan 2005. Di Propinsi Lampung, khususnya Kabupaten Lampung Selatan merupakan kabupaten dengan jumlah AKI terbanyak yaitu 147 kasus per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan Kota Bandar Lampung menempati peringkat ke-4 dengan jumlah 85 kasus per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes Propinsi Lampung, 2005).
Upaya menurunkan AKI pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat Pilar Safe Motherhood”, dimana salah satunya yaitu akses terhadap pelayanan pemeriksaan kehamilan yang mutunya masih perlu ditingkatkan terus. Pemeriksaan kehamilan yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian ibu. Petugas kesehatan seyogyanya dapat mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan usia, paritas, riwayat kehamilan yang buruk, dan perdarahan selama kehamilan. Kematian ibu juga diwarnai oleh hal-hal nonteknis yang masuk kategori penyebab mendasar, seperti taraf pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil yang masih rendah, serta melewati pentingnya pemeriksaan kehamilan dengan melihat angka kunjungan pemeriksaan kehamilan (K4) yang masih kurang dari standar acuan nasional (Prawirohardjo, 2002).

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang standar pelayanan kesehatan minimal di bidang kesehatan di kabupaten atau kota khususnya pelayanan kesehatan ibu dan anak dengan target tahun 2010 : berupa cakupan kunjungan ibu hamil K1 dan K4. K1 yaitu kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan. Cakupan Kl di bawah 70% (dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu satu tahun) menunjukkan keterjangkauan pelayanan antenatal yang rendah, yang mungkin disebabkan oleh pola pelayanan yang belum cukup aktif. Rendahnya K1 menunjukkan bahwa akses petugas kepada ibu masih perlu ditingkatkan. Sedangkan K4 : Kontak minimal 4 kali selama masa kehamilan untuk mendapatkan pelayanan antenatal, yang terdiri atas minimal 1 kali kontak pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga. Cakupan K4 di bawah 60% (dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu satu tahun) menunjukkan kualitas pelayanan antenatal yang belum memadai . Rendahnya K4 menunjukkan rendahnya kesempatan untuk menjaring dan menangani risiko tinggi obstetric.

Dari studi pendahuluan berdasarkan profil kesehatan Propinsi Lampung tahun 2005 didapatkan pencapaian cakupan K4 untuk Propinsi Lampung sebesar 83 %, sedangkan targetnya 86 %, untuk Kota Bandar Lampung pencapaian cakupan K4 sebesar 82 % dan targetnya sebesar 78 %, dan pencapaian cakupan untuk Puskesmas Kedaton K4 sebesar 84 % dengan target K4 sebesar 90 %. Dengan demikian target untuk cakupan K4 di Puskesmas Kedaton masih belum tercapai (Dinkes Propinsi Lampung dan Dinkes Kota Bandar Lampung, 2005).

Belum tercapainya target K4, salah satunya disebabkan karena pemahaman tentang pedoman Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) khususnya kunjungan pemeriksaan kehamilan masih kurang, sehingga masih ditemukan ibu hamil yang belum mengetahui pentingnya pemeriksaan kehamilan secara teratur.

Kunjungan pemeriksaan kehamilan merupakan salah satu bentuk perilaku. Menurut Lawrence Green, faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku ada 3 yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Yang termasuk faktor predisposisi diantaranya : pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan nilai. Sedangkan yang termasuk faktor pendukung adalah ketersediaan sarana-sarana kesehatan, dan yang terakhir yang termasuk faktor pendorong adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

Secara teori memang perubahan perilaku atau mengadopsi perilaku baru itu mengikuti tahap – tahap, yakni melalui proses perubahan : pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), praktik (practice) atau ”KAP”. Beberapa penelitian telah membuktikan hal itu, namun penelitian lainnya juga membuktikan bahwa proses tersebut tidak selalu seperti teori diatas (K-A-P), bahkan di dalam praktik sehari-hari terjadi sebaliknya. Artinya, seseorang telah berperilaku positif, meskipun pengetahuan dan sikapnya masih negatif (Notoatmodjo, 2003).

Berdasarkan uraian di atas peneliti bermaksud untuk meneliti tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap perilaku kunjungan pemeriksaan kehamilan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap perilaku kunjungan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Induk Kedaton Bandar Lampung ?

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Mei 14, 2009 at 1:18 am Tinggalkan komentar

PENILAIAN STANDAR PELAYANAN RUMAH SAKIT MELALUI KEPATUHAN PROSEDUR KERJA DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI (KD-01)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sehat adalah keadaan sejahtera, baik dari segi badan, mental spiritual (dirinya sendiri) maupun segi sosial budaya (lingkungannya). Sehat merupakan kehendak semua pihak, tidak hanya oleh perorangan, tetapi oleh keluarga, kelompok dan masyarakat. Keadaan sehat membutuhkan banyak hal, salah satu diantaranya adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan (Azwar, 1996).

Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat (Leevey dan Loomba, 1973 dalam Azwar,1996). Bentuk dan jenis pelayanan kesehatan ada dua, yaitu pelayanan kedokteran dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok pelayanan kedokteran (medical services) ditandai dengan cara pengorganisasian yang dapat bersifat sendiri (solo practice) atau secara bersama-sama dalam satu organisasi (institution). Tujuan utamanya untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan serta sasaran utamanya untuk perseorangan dan keluarga. Pelayanan kesehatan masyarakat ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya secara bersama-sama dalam suatu organisasi, tujuan utamanya adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, sasaran utamanya untuk kelompok dan masyarakat (Hodgetts dan Cascio, 1983 dalam Azwar, 1996).

Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat, oleh karena itu rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat (Keputusan Menteri Kesehatan No. 228/2002).

Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember (RSGM FKG Universitas Jember) merupakan rumah sakit khusus, karena hanya memberikan satu jenis pelayanan kesehatan yaitu kesehatan gigi dan mulut. RSGM FKG Universitas Jember mengharapkan agar tuntutan masyarakat terhadap peningkatan mutu pelayanan kesehatan dapat terpenuhi, maka rumah sakit merupakan sarana pelayanan yang paling dibutuhkan, karena memberikan pelayanan secara optimal dari tingkat dasar hingga paling canggih. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kesehatan lainnya, sangat membutuhkan sarana pelayanan kesehatan yang komprehensif dan multifungsional berupa rumah sakit gigi dan mulut sebagai pusat rujukan bagi pelayanan kesehatan gigi, lahan pendidikan dan penelitian. Peningkatan standar pelayanan kesehatan dari RSGM FKG Universitas Jember dibutuhkan agar RSGM dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan mutu pelayanan yang memenuhi standar pelayanan yang berlaku (Depkes RI, 2003).

Penilaian adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam membandingkan hasil yang dicapai dengan tolok ukur atau kriteria yang telah ditetapkan, dilanjutkan dengan pengambilan kesimpulan serta penyusunan saran-saran yang dapat dilakukan pada setiap tahap dari pelaksanaan program (The International Clearing House on Adolescent Fertility Control for Population Options dalam Azwar, 1996).

Penilaian tentang standar pelayanan rumah sakit melalui kepatuhan prosedur kerja di RSGM FKG Universitas Jember merupakan salah satu upaya evaluasi hasil karya tenaga kerja dengan membandingkan terhadap standar. Penilaian prestasi harus melibatkan seluruh jajaran organisasi, penilaian harus mengetahui benar aspek yang berkaitan dengan tugas, tanggung jawab tenaga kerja dan mengetahui kriteria yang akan dinilai, terlebih dahulu harus ditetapkan instrumen penilaian prestasi kerja (Darmanto, 1997).

RSGM FKG Universitas Jember merupakan salah satu rumah sakit pendidikan dengan rata-rata kunjungan per hari 118 orang dan jumlah total kunjungan dalam 1 tahun adalah 25.759 orang. Jumlah tersebut sudah melebihi standar minimal rata-rata kunjungan yang telah ditetapkan. Dewi Irin (2005), menyatakan bahwa 85,7% responden menyatakan puas dengan pelayanan yang diberikan RSGM FKG Universitas Jember. Iin Rahmawati (2006) menyatakan bahwa pelayanan kesehatan gigi dan mulut di RSGM belum baik, karena hanya 41,8% responden yang menjawab baik. Dengan jumlah pasien setiap tahun yang terus meningkat, penulis ingin mengetahui apakah pelayanan yang diberikan kepada pasien sudah mematuhi standar pelayanan yang berlaku.

Penelitian tentang penilaian standar pelayanan rumah sakit melalui kepatuhan prosedur kerja dilakukan di RSGM FKG Universitas Jember untuk mengetahui standar pelayanan rumah sakit yang diukur dari kepatuhan prosedur kerja yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat profesi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah bagaimana standar pelayanan RSGM yang diukur melalui kepatuhan prosedur kerja yang diterapkan oleh RSGM FKG Universitas Jember.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Mei 14, 2009 at 12:52 am Tinggalkan komentar


Kalender

November 2017
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts by Month

Posts by Category