Posts filed under ‘Bimbingan dan Konseling’

Contoh Skripsi Bimbingan dan Konseling

  1. Hubungan Antara Sikap Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja (Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat Tahun Pelajaran 2004/2005)
  2. Peningkatan Motivasi Belajar Pada Siswa Berintelegensi Rendah Melalui Konseling Behavior Di Kelas VIII-B SMP Negeri 22 Semarang Tahun Ajaran 2008/2009
  3. Peningkatan Pemahaman Tentang Kecerdasan Emosional Melalui Layanan Informasi Bimbingan Pribadi Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Kesatrian I Semarang Tahun Ajaran 2008/ 2009


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Iklan

April 26, 2012 at 7:39 am Tinggalkan komentar

Peningkatan Pemahaman Tentang Kecerdasan Emosional Melalui Layanan Informasi Bimbingan Pribadi Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Kesatrian I Semarang (BK-3)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya bagi manusia salah satunya adalah kecerdasan. Manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun peradaban dan keadaban demi kesejahteraan umat manusia dengan kecerdasan akal. Kecerdasan memungkinkan manusia maju dalam bersikap, berbuat, dan berkarya secara dinamis dan konstruktif. Beberapa kecerdasan tersebut antara lain: kecerdasan intelegensi, emosi, spiritual, linguistik, bodi kinestik, dan interpersonal, kecerdasan sosial seperti yang dikemukakan oleh Wahab (Sumber: Republika Online Collected By pasarmuslim.com). Perkembangan terakhir dalam seminar Multiple Intelligence di Denpasar diperoleh hasil penelitian Goleman, bahwa keberhasilan seseorang hanya 20% dipengaruhi Intelligence Quotient (IQ), 80% dipengaruhi Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ).
(http://www.mail-archive.com/ppiindia@yahoogroups.com/msg20773.html).

EQ tinggi diperlukan agar mampu mengendalikan diri sendiri dan orang lain, dengan mengutamakan kepentingan umum/ rakyat, daripada kepentingan perorangan dan golongan. Keberhasilan seseorang semata-mata tidak ditentukan oleh kecerdasan rasional yang diukur IQ, ada unsur lain yang harus diperhatikan yaitu Emotional Quotient (EQ). Unsur ini jauh lebih efektif menyokong kesuksesan dalam
hidup manusia. EQ sangat menekankan aspek emosional dalam diri manusia. Aspek ini memungkinkan orang menghidupkan segala talenta yang dimiliki serta mengembangkan afeksi secara wajar.
Kecerdasan emosi menggambarkan kemampuan seorang individu untuk mampu mengelola dorongan-dorongan dalam dirinya terutama dorongan emosinya.

Perkembangan terakhir dalam bidang ilmu psikologi menunjukkan bahwa perkembangan kecerdasan emosi ini ternyata lebih penting bagi seorang individu daripada kecerdasan intelektualnya. Mengapa? Goleman (1999) menyebutkan bahwa: (1) EQ mempengaruhi prestasi anak
(2) EQ mempengaruhi perilaku anak

(3) EQ mempengaruhi penyesuaian sosial, konsep diri, kepribadian anak

(http://multiply.com/user/join?connect=jovandc)

Sumbangan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang paling berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa adalah mengarah, membimbing serta mengantar mereka menuju kepada bidang yang cocok dengan bakatnya. Adanya sumbangan sekolah sebagai lembaga pendidikan mengaktualisir segala potensi siswa sehingga diharapkan siswa puas dan berkompeten dalam pelbagai konteks kehidupan. Tujuan pengembangan kecerdasan emosional adalah agar manusia memiliki kompetensi emosional. Kompetensi emosional meliputi kompetensi individual dan sosial. Kompetensi sosial yaitu kemampuan berelasi, berempati terhadap yang lain. Peranan EQ yang disoroti tidak berarti menggantikan peran IQ. EQ dan IQ tetap
dibutuhkan hanya proporsinya berbeda. (http://www.indomedia.com/poskup/2003/01/30/EDISI30/h04.htm).

Seorang siswa sebagai generasi penerus bangsa, sepatutnya mampu mengelola aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang dimilikinya secara baik. Usia siswa yang tergolong remaja berkisar antara 15-18 tahun. Masa remaja dikenal dengan masa storm dan stress, masa-masa terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan bervariasi. Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam-macam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupannya sehari-hari (Mu’tadin, 2002: 1). Hurlock (2004: 207) menyatakan bahwa “masa remaja sebagai periode perubahan, yang salah satunya adalah meningginya emosi”.

Fenomena di SMA Kesatrian I Semarang khususnya pada kelas XI IPS, bahwa terdapat 4 siswa yang sering berselisih dengan teman, 9 siswa berperilaku kasar, 50 siswa suka berfoya-foya, 7 siswa bersikap individualis, 8 siswa tidak bisa berempati, 12 siswa belum mampu memecahkan masalahnya sendiri, 9 siswa bermalas-malasan dalam mengerjakan tugas dan suka membolos, serta 12 siswa bersikap tidak saling menghormati antar sesama. Penelitian sebelumnya juga telah dilakukan oleh Siti Uswatun, salah satu mahasiswi Universitas Negeri Semarang tentang upaya meningkatkan kecerdasan emosional melalui layanan bimbingan kelompok. Adanya penelitian tersebut juga menunjukan bahwa kecerdasan emosional siswa di SMA Kesatrian I Semarang masih perlu ditingkatkan (belum optimal). Jika
perilaku demikian dibiarkan, dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi kehidupan siswa tersebut di kemudian hari.
Agustian (2001: 199) menyatakan bahwa:

Tingkat IQ atau kecerdasan intelegen sebagian umumnya tetap, sedangkan EQ (kecerdasan emosional) dapat terus ditingkatkan. Dalam peningkatan inilah kecerdasan emosi sangat berbeda dengan IQ, yang umumnya hampir tidak berubah selama kita hidup. Apabila kemampuan murni kognitif relatif tidak berubah, kecakapan emosi dapat dipelajari kapan saja. Tidak peduli orang yang tidak peka, pemalu, kikuk, atau sulit bergaul dengan orang lain, dengan motivasi dan usaha yang benar kita dapat mempelajari dan menguasai kecakapan emosi.

Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (2004: 14) “visi konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar individu berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia”. Berdasarkan visi konseling, maka guna membantu perkembangan siswa dalam rangka pencegahan masalah tersebut, peneliti turut mengupayakan siswa agar meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional. Meningkatnya pemahaman siswa tentang kecerdasan emosional, diharapkan mampu mempengaruhi tingkat kecerdasan emosional. Peneliti pun berupaya meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional siswa melalui pemberian layanan informasi bidang bimbingan pribadi.

Peneliti memilih menggunakan layanan informasi karena layanan informasi bertujuan membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sekitar,
pendidikan, jabatan, maupun sosial budaya. Sukardi (2003: 33) mengungkapkan bahwa “layanan informasi bertujuan untuk membekali individu dengan pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat”. Sedangkan alasan menggunakan bidang bimbingan pribadi adalah karena kecerdasan emosi berkaitan dengan pribadi siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zulfa (2007: 43) tentang efektivitas layanan informasi karier dalam meningkatkan perencanaan karier siswa bahwa “layanan informasi karier efektif dalam meningkatkan perencanaan karier siswa”. Begitu juga dengan penelitian Widyastuti (2006: 29) tentang meminimalkan kenakalan remaja melalui layanan informasi bimbingan sosial bahwa “layanan informasi bimbingan sosial dapat meminimalkan kenakalan remaja”.

Peneliti memilih judul “Peningkatan Pemahaman tentang Kecerdasan Emosional Melalui Layanan Informasi Bimbingan Pribadi Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Kesatrian I Semarang Tahun Ajaran 2008/ 2009” dengan alasan untuk mengetahui sejauh mana layanan informasi bimbingan pribadi dapat meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional pada siswa. Sedangkan alasan peneliti mengambil lokasi SMA Kesatrian I Semarang adalah karena lokasi tersebut merupakan lokasi praktikan memperoleh fenomena yang terkait dengan upaya meningkatkan pemahaman tentang kecerdasan emosional siswa. Selain itu lokasi tersebut juga dekat dengan lokasi peneliti sehingga diharapkan memudahkan kegiatan penelitian.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 5, 2011 at 1:07 am Tinggalkan komentar

Peningkatan Motivasi Belajar Pada Siswa Berintelegensi Rendah Melalui Konseling Behavior Di Kelas VIII-B SMP Negeri 22 Semarang (BK-2)

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan dari jaman ke jaman mempunyai peranan yang amat penting. Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 1 ayat (1) menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Untuk menyiapkan peserta didik yang bermutu maka diperlukan motivasi belajar pada setiap siswa. Baik terhadap siswa yang pandai dan terlebih pada siswa yang tingkat intelegensinya rendah perlu mendapatkan dukungan agar termotivasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Motivasi merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran karena keberadaanya sangat berarti bagi perbuatan belajar (Uno, 2007: 23). Selain itu motivasi belajar merupakan faktor psikis yang dapat menumbuhkan gairah, menimbulkan perasaan senang dan semangat untuk belajar. Hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, maka akan berhasil pula proses belajar siswa. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Sardiman (2003: 74) menjelaskan bahwa
motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.
Di dalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Motivasi selain dapat mengembangkan aktivitas siswa juga dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat dalam belajar akan menunjukkan hasil belajar yang baik. Adanya usaha yang tekun dan terutama didasari dengan adanya motivasi, maka individu yang belajar itu akan melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prsetasi belajarnya. Namun apabila siswa tidak memiliki motivasi yang kuat maka hasil belajar yang dicapai juga tidak akan optimal, dalam hal ini siswa akan mengalami kegagalan belajar.

Siswa yang kurang memiliki motivasi dalam belajar dapat dilihat melalui ciri-ciri diantaranya sebagai berikut: jarang mengerjakan tugas, mudah putus asa, harus memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi (kurang ada dorongan dari dalam diri sendiri), cepat puas dengan prestasinya, kurang semangat belajar, tidak mempunyai semangat untuk mengejar cita-cita, tidak senang mencari dan memecahkan soal-soal (Suhaimin, 2008).

Bagi siswa yang mempunyai motivasi intrinsik, mereka akan memiliki kesadaran sendiri untuk memperhatikan penjelasan dari guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Siswa yang demikian tidak akan mudah mendapatkan pengaruh gangguan dari sekitarnya. Lain halnya bagi
siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru pembimbing adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga mereka mau belajar.
Sebelum peneliti akan melakukan penelitian ini, ada diantara penelitian terdahulu yang meneliti tentang motivasi belajar. Penelitian sebelumnya, oleh Sulistiyaningrum (2003) tentang “keefektifan bimbingan belajar melalui layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan motivasi berprestasi pada siswa kelas 1
SMU Negeri 1 Semarang” menunjukkan bahwa ada 43 anak yang memiliki motivasi rendah. Sampel ini diperoleh melalui skala motivasi kepada seluruh jumlah populasi yaitu kelas 1 Nilai yang diperoleh dari masing-masing sub variabel yaitu: nilai post test pada sub variabel “berorientasi sukses” adalah 1211 dengan prosentase 70, 41 % kategori tinggi, nilai post test pada sub variabel “berorientasi jauh ke depan” adalah adalah 1463 dengan prosentase 75,61% kategori tinggi, nilai post test pada sub variabel “suka tantangan” yaitu 964 dengan prosentase 74,73 % kategori tinggi, nilai post test pada sub variabel “tangguh dalam bekerja” yaitu 1910 dengan prosentase 74,03 % kategori tinggi. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan diadakanya bimbingan kelompok maka motivasi berprestasi siswa dapat meningkat.

Fenomena di SMP Negeri 22 semarang menunjukkan bahwa ada beberapa siswa yang memiliki motivasi belajar rendah terjadi pada siswa yang tingkat intelegeensinya rendah. Data ini diperoleh dari hasil wawancara dengan konselor sekolah dan didukung dengan data tes IQ. Gejala ini ditandai dengan ciri-ciri
sebagai berikut; malas dalam menerima pelajaran di kelas, jarang mengerjakan tugas dari guru, malas mencatat materi dari guru, kurang konsentrasi apabila guru menjelaskan materi (melamun), bercanda sendiri dengan temanya apabila guru sedang menyampaikan pelajaran, tidak berusaha untuk merubah kebiasaan belajar dan hasil belajarnya yang kurang baik.

Dalam fenomena di atas menunjukkan bahwa terdapat gejala-gejala motivasi belajar yang rendah pada siswa di sekolah. Apabila motivasi tersebut tidak ditingkatkan maka hal ini akan berakibat pada menurunya hasil belajar siswa dan tidak tercapainya prestasi yang diharapkan. Supaya siswa tidak mengalami hal tersebut maka penulis berpandangan bahwa dengan menggunakan konseling behavior diharapkan motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan cara memperkuat perilaku belajar siswa dan mempertahankan kebiasaan belajar yang sudah sesuai serta dapat juga mencontoh perilaku belajar orang lain sebagai pendorong agar seseorang mempunyai motivasi untuk meniru perilaku belajar yang baik dari orang lain. Pada dasarnya konsep motivasi erat kaitanya dengan prinsip bahwa perilaku yang diperkuat di masa lalu akan lebih diulang lagi di masa sekarang dibandingkan dengan perilaku yang dihukum. Jadi untuk menumbuhkan motivasi belajar yang tinggi dapat dilakukan dengan prinsip penguatan atau reinforcement karena pada dasarnya konsep utama dalam behavior theraphy adalah reinforcement (Pujosuwarno,
1993: 80).

Konseling behavior memandang bahwa kepribadian manusia itu pada hakekatnya adalah perilaku. Dengan dasar bahwa konsep utama dari behavior
yaitu reinforcement atau penguatan maka penulis memilih menggunakan konseling behavior untuk meningkatkan motivasi belajar siswa karena dalam kaitanya dengan konsep tersebut motivasi belajar dapat ditingkatkan salah satunya dengan reinforcement dan juga melalui modeling. Jadi dengan pemberian renforcement diharapkan siswa dapat termotivasi dalam kegiatan belajarnya.

Siswa juga diharapkan untuk dapat mengulangi perilaku belajar yang diperkuat dan meniadakan perilaku belajar yang salah. Hal ini sesuai dengan tujuan konseling behavior yaitu mengubah perilaku yang maladaptif menjadi adaptif. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Latipun (2005: 114) juga menjelaskan bahwa tujuan yang khusus dari konseling behavioral yaitu mengubah perilaku salah dalam penyesuaian dengan cara-cara memperkuat perilaku yang diharapkan dan meniadakan perilaku yang tidak diharapkan serta membantu menemukan cara- cara berperilaku yang tepat. Berdasarkan paparan diatas maka penulis akan melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Motivasi Belajar Pada Siswa Berintelegensi Rendah Melalui Konseling Behavior di Kelas VIII-B SMP Negeri
22 Semarang Tahun Ajaran 2008/2009”.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 5, 2011 at 1:05 am Tinggalkan komentar

Hubungan Antara Sikap Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja (Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga (BK-1)

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Merokok merupakan kegiatan yang masih banyak dilakukan oleh banyak orang, walaupun sering ditulis di surat-surat kabar, majalah dan media masa lain yang menyatakan bahayanya merokok. Bagi pecandunya, mereka dengan bangga menghisap rokok di tempat-tempat umum, kantor, rumah, jalan-jalan, dan sebagainya. Di tempat-tempat yang telah diberi tanda “dilarang merokok” sebagian orang ada yang masih terus merokok. Anak-anak sekolah yang masih berpakaian seragam sekolah juga ada yang melakukan kegiatan merokok.

Merokok merupakan salah satu masalah yang sulit dipecahkan. Apalagi sudah menjadi masalah nasional, dan bahkan internasional. Hal ini menjadi sulit, karena berkaitan dengan banyak faktor yang saling memicu, sehingga seolah- olah sudah menjadi lingkaran setan. Di tinjau dari segi kesehatan merokok harus dihentikan karena menyebabkan kanker dan penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan kematian, oleh karena itu merokok harus dihentikan sebagai usaha pencegahan sedini mungkin. Dari segi pemerintahan, pemerintah memperoleh pajak pemasukan rokok yang tidak sedikit jumlahnya, dan mampu banyak menyerap tenaga kerja. Jika pabrik rokok ditutup harus mencarikan pemasukan dana dari sumber lain dan mengalihkan para pekerja pabrik rokok yang tidak sedikit jumlahnya (sulit pemecahannya). Di pihak perokok sendiri, mereka merasakan nikmatnya begitu nyata, sampai dirasa memberikan rasa kesegaran dan kepuasan tersendiri sehingga setiap harinya harus menyisihkan uang untuk merokok. Kelompok lain, khususnya remaja pria, mereka menganggap bahwa merokok adalah merupakan ciri kejantanan yang membanggakan, sehingga mereka yang tidak merokok malah justru diejek.

Survei yang diadakan oleh Yayasan Jantung Indonesia tahun 1990 yang dikutip oleh Mangku Sitepoe (2000: 19) menunjukkan data pada anak-anak berusia 10-16 tahun sebagai berikut : angka perokok <10 tahun (9%), 12 tahun (18%), 13 tahun (23%), 14 tahun (22%), dan 15-16 tahun (28%). Mereka yang menjadi perokok karena dipengaruhi oleh teman-temannya sejumlah 70%, 2% di antaranya hanya coba-coba. Selain itu, menurut data survei kesehatan rumah tangga 2002 seperti yang tercatatat dalam koran harian Republika tanggal 5 juni 2003, menyebutkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 75% atau 141 juta orang. Sementara itu, dari data WHO jumlah perokok di dunia ada sebanyak 1,1 miliar orang, dan 4 juta orang di antaranya meninggal setiap tahun. Dewasa ini di Indonesia kegiatan merokok seringkali dilakukan individu dimulai di sekolah menengah pertama, bahkan mungkin sebelumnya. Kita sering melihat di jalan atau tempat yang biasanya dijadikan sebagai tempat “nongkrong” anak-anak tingkat sekolah menengah banyak siswa yang merokok. Pada saat anak duduk di sekolah menengah atas, kebanyakan pada siswa laki- laki merokok merupakan kegiatan yang menjadi kegiatan sosialnya. Menurut mereka merokok merupakan lambang pergaulan bagi mereka. Siswa SMU yang berada dalam masa remaja yang merasa dirinya harus lebih banyak menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok sebaya dari pada norma-norma orang dewasa. Dalam hal ini remaja menganggap merokok sebagai lambang pergaulannya. Khususnya siswa laki-laki bahwa merokok sebagai suatu tuntutan pergaulan bagi mereka. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Hurlock (1999: 223) bahwa bagi remaja rokok dan alkohol merupakan lambang kematangan. Hal tersebut disampaikan oleh Hurlock berdasarkan fenomena di Amerika. Tetapi menurut norma yang berlaku di Indonesia lebih memandang bahwa remaja khususnya remaja yang masih berada diusia sekolah melakukan aktivitas merokok diidentikan sebagai anak yang nakal. Hampir semua orang mulai merokok dengan alasan yang sedikit sekali kaitannya dengan kenikmatan. Dalam pikiran remaja, rokok merupakan lambang kedewasaan. Sebagai seorang remaja mereka menggunakan berbagai cara agar terlihat dewasa. Untuk membuktikannya mereka melakukan dengan sadar melakukan kebiasaan orang dewasa yakni merokok. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Hariyadi (1997: 12) bahwa remaja ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa, dengan sembunyi-sembunyi remaja pria mencoba merokok karena seringkali mereka melihat orang dewasa melakukannya. Pada masa remaja, ada sesuatu yang lain yang sama pentingnya dengan kedewasaan, yakni solidaritas kelompok, dan melakukan apa yang dilakukan oleh kelompok. Apabila dalam suatu kelompok remaja telah melakukan kegiatan merokok maka individu remaja merasa harus melakukannya juga. Individu remaja tersebut mulai merokok karena individu dalam kelompok remaja tersebut tidak ingin dianggap sebagai orang asing, bukan karena individu tersebut menyukai rokok. Sitepoe (2000: 20) menyebutkan bahwa alasan utama menjadi perokok adalah karena ajakan teman-teman yang sukar ditolak, selain itu juga, ada juga pelajar pria mengatakan bahwa pria menjadi perokok setelah melihat iklan rokok. Ini berarti bahwa tindakan merokok diawali dari adanya suatu sikap, yaitu kecenderunga seseorang untuk menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap respon yang datang dari luar dalam hal ini adalah rokok. Orang melihat rokok atau melihat orang lain merokok, lalu respon apa yang muncul di dalam pikiran atau perassaanya, bisa saja orang tertarik (setuju) atau tidak tertarik (tidak setuju), hal ini akan terjadi pada setiap orang. Orang yang setuju, ada kecenderungan akan melakukannya atau menirunya, bagi yang tidak setuju tentu kencenderungannya akan menghindari. Namun ada kecenderungan lain, yaitu dalam hati ia tidak setuju, tetapi kenyataannya ia melakukannya (merokok). Hal ini tentu ada faktor lain yang mempengaruhinya. Di sinilah terjadinya kontradiksi antara sikap dan perbuatan. Penelitian akan dilakukan di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelitian sementara di lapangan didapat data dari hasil penyebaran angket kebiasaan merokok pada remaja sebagai studi pendahuluan yang disebarkan kepada 404 siswa laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat didapat bahwa 61,14% siswa laki- laki tersebut melakukan aktivitas merokok. Berkaitan dengan fenomena di atas, maka peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian di lapangan dengan judul “ Hubungan Antara Sikap Remaja Terhadap Merokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Remaja (Penelitian Pada Siswa Laki-laki di SMA Negeri 1 Jasinga Kabupaten Bogor Pada Tahun Pelajaran 2004/2005)”.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 5, 2011 at 1:01 am Tinggalkan komentar


Kalender

Oktober 2017
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Posts by Month

Posts by Category