Archive for Mei, 2012

Strategi Pemasaran Tape 31 di Kabupaten Bondowoso (125)

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Pertanian
mempunyai peranan
penting dalam mendukung industri,
sektor pertanian      menghasilan      beberapa
komoditi yang merupakan         asset bagi pengembangan industri
pengolahan hasil pertanian. Pengembangan hasil industri akan makin meluas dan diharapkan dapat mendapatkan basis dari sektor industri
membuka kesempatan kerja dan lapangan
pekerjaan atau berusaha.
Dalam hal ini komoditi pertanian khususnya ketela
pohon adalah merupakan
 salah satu hasil pertanian  yang  berperan
 dalam
 bidang
 pangan
 bagi
 penduduk
 didaerah
 yang
rawan  pangan  yang  sampai
 saat
 ini
 masih  ada.  Diketahui  bahwa  Indonesia
merupakan   penghasil  ketela  pohon
 terbesar  disbanding  dengan  negara
 lain.
Dengan keadaan    tersebut mendorong      kesempatan
     untuk mengutamakan
pendayagunaan ketela pohon sebagai :
Pelet, Chip, Tapioka, Tape.

Berbagai gejala yang sulit   diukur  dengan              tepat,
mengakibatkan pengurangan areal
ketela pohon (ubi kayu). Pembangunan pengairan utamanya program  rehabilitas  yang
 sedang
 berjalan  telah  memungkinkan  komoditi  padi diganti dengan komoditi  yang
lain seperti ketela pohon atau tanaman lain yang
memperpanjang
 masa  tanam  sampai   saat 
 ini  tanaman
 ketela
 pohon
 belum
ditangani  secara  serius  sehingga
 produksi  ketela  pohon  dirasa
 kurang
 dalam
memenuhi permintaan pasar. Hasil tanam yang sudah busuk tidak dapat disimpan lama tanpa ada pengolahan (Processing). Karena
iti pabrik, mengolah surplus musiman dari hasil panen yang mudah busuk adalah penting. Demikian juga hasil
pertanian  yang  tidak  dimakan
 dalam  bentuk  seperti  ketika
 akan
 dipungut.
Teknologin makanan yang sudah modern memungkinkan
produksi-produksi baru
(ATMOSHER,1997).
Strategi
pengembangan yang ideal harus mampu menumbuhkan
industri dipedesaan,  pertumbuhan
 ekonomi,
 peningkatan  nilai  tambah  dari  penyerapan
tenaga kerja dalam rangka  menanggulangi konsentrasi sektor informal di kota
industri  tape  Bondowoso  adalah  makanan  khas  daerah  yang  sudah
 dikenal
dimanamana, disamping harganya
yang relative murah dan mudah membawanya
sehingga sering dijadikan oleh-oleh bagi tamu
yang berkunjung ke Bondowoso.
Umur ketela pohon yang baik antara 9 sampai 12 bulan, musim ketela antara bulan Juni sampai bulan Desember setiap tahunnya. Sebagian
besar ketela yang dikomsumsi menjadi
tape adalah jenis ketela pohon yang berwarna
kuning atau mentega Anonim, 2002).
Kegiatan  industri  tape
 termasuk  kelompok
 agro  industri  yang  dapat
memberi
 peluang bagi para petani
untuk menanam ketela pohon
dalam jumlah yang sangat besar dan juga merangsang
pertumbuhan kerajinan anyaman bambu
dalam bentuk Besek dan Keranjang tape
(Anonim, 2002) Pemasaran
tape sampai saat ini hanya skala lokal saja dan dibeberapa dearah  sekitar   Kabupaten  Bondowoso.  Hal
 ini
 dikarenakan
 berbagai
 faktor
kapasitas  produksi,  ketrsedian  bahan
 baku,
 teknologi
 produksi,
 tenaga
 kerja.
Faktor-faktor     inilah     yang menentukan          keberhasilan            perusahan         dalam
meningkatkan volume penjualan,  luas pangsa pasar, dan keuntungan. Untuk itu
peran manajemen pemasaran sangat menentukan
dalam meningkatkan efektivitas dan tercapainya sasaran perluasan
seperti perluasan
pangsa pasar dan keuntungan.
Manajemen  pemasaran nantinya
akan memunculkan
bebrbagai strategi-strategi pemasaran untuk mengatasi masalah perusahaan
baik dalam lingkuangan internal dan  eksternal  perusahaan  yaitu
 meliputi
 kekuatan,
 kelemahan,
 peluang,
 dan
ancaman.  Untuk  mengetahui  faktor-faktor  internal
 dan   eksternal  perusahaan memerlukan
 analisa
 SWOT
 (Srengjh,
 Weakness,
 Opportunity,
 Treats
),  karena akan  memudahkan
 dalam  pemilihan
 dan
 penetapan  strategi
 pemasaran
 dalam
upaya   meningkatkan
 keuntungan
 volume  penjualan,  dan  luas
 pangsa
 pasar.
Karena      mengingat         pentingnya        manajemen       dan       stategi   pemasaran        untuk keberhasilan  suatu
 perusahaan
 tape,
 maka
 diperlukan
 penelitian
 dengan
 judul
STRATEGI PEMASARAN TAPE 31 DI KABUPATEN BONDOWOSO”
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini
Iklan

Mei 17, 2012 at 11:01 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Keanggotaan Primkopti Bangkit Usaha Terhadap Peningkatan Pendapatan Anggotanya (Pengusaha Kecil Tempe)” (Studi Kasus di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kodya Malang) (124)

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Krisis yang berkepanjangan di Indonesia hingga pada saat ini belum bisa
terselesaikan. Realitasnya    dapat            dilihat   dari      beberapa indicator seperti
pertumbuhan  ekonomi  yang
 masih  rendah,
 tekanan  inflasi
 yang  cukup
 serius ditandai
 dengan  naiknya
 harga  barang-barang
 dan  jasa,
 lemahnya  daya
 serap kegiatan  ekonomi  terhadap
 tenaga
 kerja,
 kejenuhan
 pasar,
 rendahnya
 utilitas
kapasitas produksi. Semua itu mempengaruhi lambatnya pemulihan ekonomi baik
lokal maupun nasional. Yang paling nyata terkena dampaknya adalah usaha-usaha
besar karena rata-rata para pengusaha besar. Oleh karena itu saat ini pemerintah
berusaha memberdayakan  usaha  kecil
 menengah  dan
 koperasi  yang
 saat  ini
diharapkan mampu mengatasi krisis tersebut. Sebab pada dasarnya aktivitas usaha
kecil   mempunyai
 potensi  prospektif
 untuk  dikembangkan.
 Untuk  itu
 upaya peningkatan            menejemen       bagi            usaha    kecil     penting dilakukan agar 
dapat berkembang secara optimal.

Dalam  menghadapi
 perdagangan  bebas  (AFTA)
 yang  dapat
 dipastikan bahwa  persaingan akan semakin tajam. Oleh karena itu, maka kompetisi yang
dimiliki pelaku bisnis
 harus jelas dan dapat diandalkan di pasar. Sebab dalam
kondisi seperti itu hanya
 produk-produk  yang memiliki
nilai dan sesuai dengan
keinginan pasar yang dapat memenangkan persaingan. Berkaitan dengan itu jika
tidak  ingin  kalah
 dalam  persaingan
 global  terutama
 dalam  memasuki
 pasar ekspor, maka kemampuan      usaha    kecil     menengah         dan       koperasi dalam
memproduksi dan pemasarannya harus ditingkatkan.(Anonymous, 2003).
Kemampuan
usaha kecil menengah
untuk melakukan ekspor berkaitan erat dengan aspek linkungan mikro, seperti menajemen usaha, ketrampilan dan jumlah
pekerja, teknologi  yang digunakan, ketersediaan bahan baku lokal, asset yang
dimiliki,  pemasaran  dan  promosi.
 Sedangkan
 aspek
 makro
 berkenaan
 dengan
tatacara ekspor, pengetahuan sistem pembayaran,  pengusaan informasi pasar di luar  negeri,
 dan
 persyaratan-persyaratan
 untuk
 melakukan   ekspor.  Tuntutan terhadap
pengusaan aspek mikro dan makro tersebut, dirasakan cukup berat bagi
kebanyakan usaha kecil dan menengah. Mengingat masih kurangnya pengetahuan
serta ketrampilan yang dimiliki. Kendala-kendala yang mehadang lainnya adalah
berkenaan  dengan  pengusaan  menajemen,
 proses
 produksi,
 teknologi,
 kulitas
produk, praduktivitas dan yang paling utama adalah masalah permodalan.
Untuk  mengatasi  persoalan  diatas
 para  pengusaha
 kecil  membutuhkan
wadah yang tepat untuk bisa membantu mereka yaitu koperasi. Melalui koperasi
ini
diharapkan dapat
 membantu
memecahkan berbagai persoalan atau masalah
yang  dihadapi  yaitu
 aspek  mikro
 dan  makro.
 Disamping  itu  dengan
 adanya koperasi juga dapat membantu pengusaha kecil
 dalam pengandaan bahan baku,
pembinaan untuk meningkatkan produksi baik secara
kulitas  maupun
kuantitas dan yang paling utama adalah masalah permodalam. Sehingga dengan
 adanya koperasi                           diharapkan     mampu     meningkatkan     pendapatan    dan
produktivitas pengusaha
kecil.
Tugas utama perusahaan koperesi adalah menunjang kegiatan usaha para anggotanya   dalam 
 rangaka 
 meningkatkan   kepentingan   perekonomian   para anggotanya
melalui pemberin           modal,  pengadaan barang         dan            jasa      yang dibutuhkan,
 yang sama sekali
tidak tersedia di pasar, atau ditawarkan dengan
harga,   mutu   atau   syarat-syarat   yang   lebih   menguntungkan   daripada   yang
ditawarkan  pada  anggota  di   pasar 
 atau  oleh  badan-badan  resmi,  disinilah
sebenarnya arti penting dari koperasi.
Bagi negara
kita, pengembangan jenis makanan yang berasal dari kedelai
khususnya tempe boleh
dikatakan sangat potensial, karena selain kandungan gizi tinggi juga sudah menjadi menu masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu kita harus
terus-menurus berupaya untuk  meningkatkan standart mutu tempe
agar semakin memiliki
daya saing di pasaran dalam maupun luar negeri.
Usaha kecil tempe di Kelurahan
Purwantoro mempunyai prospek yang
bagus, karena  daerah tersebut
salah satu daerah sentra penghasil
tempe di kota Malang.  Dalam  melakukan
 proses
 usahanya
 para
 pengusaha
 tempe
 tentunya
menghadapi  banyak  persoalan  seperti  usaha-usaha  kecil  yang  lain  diantaranya
mengenai  masalah  bahan
 baku,  permodalan,
 sarana  produksi,
 teknologi  dan pemasaran. Oleh sebab itu para pengusaha tempe di daerah tersebut memerlukan
wadah yang bisa diajak kerjasama untuk menghadapi berbagai persoalan yang
ada
. Seperti di Indonesia
sudah ada wadah bagi para pengusgoa wahu-tempe yaitu
Kopti (Koperasi Pengerajin Tempe dan Tahu Indonesia)
( Retno Rusdjijati, 1997).
Primair
koperasi tahu-tempeIndonesia (primkopti) “Bangkit Usaha” adalah koperasi   yang   bergerak   di   bidang   tahu-tempe   yang   berada   di   Kelurahan
Purwantoro
, Kecamatan
Blimbing, Kodya Malang. Primkopti “Bangkit Usaha ini
mencoba   membantu   para 
 pengusaha   kecil 
 tempe’damam”wengadoçn   gahaþ baou! (mcsin’oopor)’ego memberikan batuan modal kepada para anggotanya yaitu pengusaha kecil tempe yang mejadi
 anggota
koperasi tersebut. Untuk bantuan
yang diberikan adalah bahan baku dalam hal ini yaitu kedelai dan bantuan modal
berupa kredit lunak sehingga tidak terlalu membebani pengusaha
 kecil tempe. Selain  beranggotakan  pengusaha
 tempe
 di
 Kelurahan
 Purwantoro,
 Kecamatan
Blimbing, Prikopti Bangkit Usaha juga beranggotakan pengusaha
tempe di empat kecamatan lain di daerah kota Malang.
Diharapkan Primkopt
Bangkit Usaha ini dapat menjadi wadah yang baik
untuk  pengembangan  usaha  tempe  di  daerah  Malang  khususnya  di  Kelurahan
Purwantoro,  Kecamatan  Blimbing,  sehingga
 dapat
 menghasilkan
 tempe
 yang
berkualitas tinggi dan kemungkinan untuk diekspor juga semakin tinggi pula.
Melihat kondisi
yang dipaparkan diatas, maka sangat diperlukan adanya
penelitian   yang  berkaitan
 tentang
 pengaruh
 keanggotaan
 koperasi
 terhadap
peningkatan   pendapatan,   karena 
 berbagai   kendala 
 yang 
 dihapi 
 oleh 
 para pengusaha kecil tidak dapat diselesaikan.
 Mereka butuh wadah yang baik yaitu koperasi
 untuk  memecahkan
 berbagai  kendala
 yang 
 ada,
 melalui  organisasi
koperasi atau dengan menjadi anggota koperasi, pengusaha
kecil khususnya tempe dapat
 memecah  masalah-masalah
 yang  dialami
 terutama  masalah
 modal  dan
bahan baku.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Mei 17, 2012 at 11:00 am Tinggalkan komentar

ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN USAHA ANTARA MASYARAKAT PENERIMA KREDIT DAN BUKAN PENERIMA KREDIT DARI YAYASAN OLAT PERIGI (YOP) (Studi Kasus di Desa Sekongkang Atas Kabupaten Sumbawa Barat) (123)

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Sejarah pembangunan Indonesia selama ini tak terlepas
dari kenyataan selalu timbul golongan
yang terpinggirkan oleh proses pembangunan. Golongan ini  adalah  masyarakat  yang  tidak  dapat  mengakses
 sember-sumber
 ekonomi.
Mereka  biasanya  para  urban
 yang
 hidup
 di
 daerah
 yang
 kumuh,  orang  yang menggantungkan
 dirinya
 pada
 sektor
 informal,  pekerja  rendahan  pada
 pabrik,
penduduk kota yang terdesak oleh pendatang, petani kecil dan  nelayan kecil. Dimana ciri dasar pembangunan adalah
meningkatkan konsolidasi pemanfaatan kekayaan
alam dan kurang memperhatikan sumberdaya manusia.
Tujuan pembangunan masyarakat
dalam konsep Community
Development (CD) telah  banyak
dirumuskan dalam beberapa
definisi. PBB  mendefenisikan bahwa pembangunan masyarakat merupakan suatu “proses” dimana usaha-usaha atau potensi-ptensi yang dimiliki masyarakat diintegrasikan dengan sumber
daya yang  dimiliki  pemerintah
 untuk
 memperbaiki   kondisi  ekonomi,  sosial,  dan kebudayaan  serta  mengintegrasikan
 masyarakat
 di
 dalam
 konteks
 kehidupan
berbangasa  dan  memberdayakan
 mereka  agar  mampu  memberikan  kontribusi secara penuh untuk mencapai
kemajuan pada level nasional.

Pengembangan masyarakat
pada dasarnya tidak lagi dipandang sebagai tugas dan wewenang yang dimonopoli oleh pemerintah atau negara, tetapi
telah menjelma menjadi hak dan kewenangan bersama yakni pemerintah (government),
sektor swasta (business /privat sector) dan masyarakat (civil society).
Hubungan  sinergi
 antara
 masyarakat,
 pemerintah  dan  swasta  menjadi bagian  penting dalam good government. Dalam kontek
ini pemerintah dituntut harus
 mempososikan
 diri
 sebagai
 fasilitator  dan  katalisator,  sedangkan  tugas
pembangunan menjadi tanggung jawab seluruh komponen negara termasuk dunia
usaha dan masyarakat. Bentuk ideal relasi
 yang diwujudkan adalah kemitraan (partnership) antara
pemerintah, swasta
dan masyarakat  termasuk di dalamnya organisasi  massa,  organisasi  politik,  organisasi
 profesi
 dan
 lembaga  swadaya masyarakat (LSM).
Sebagai realisasi tindak lanjut
dari adanya good
coorporate governance
berbagai
 perusahaan
 melaksanakan  kegiatan
 pengembangan
 masyarakat  yang dikelola sendiri
dengan melibatkan peran serta masyarakat baik secara perorangan
atau kelompok. Perusahaan meletakkan
dirinya layaknya sebagai lembaga funding
atau donor bagi proyek-proyek
infrastruktur maupun capacity building.
PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT), yang terdapat di Sumbawa Barat pada  dasarnya  telah
 membangun  realisasi
 kemitraan  yang  cukup  baik  antara pemerintah,  sektor 
 swasta
 dan
 masyrakat
 dalam
 pengembangan
 masyarakat.
Selama ini pengembangan masyarakat
mulai dari perencanaan hingga monitoring
evaluasinya  langsung  ditangani  sendiri   oleh  perusahaan  dengan  membantu
masyarakat yang ingin mendirikan usaha-usaha yang menyediakan barang-barang dan  jasa-jasa.  Secara  umum  dapat  memajukan,  menunjang,
 mendorong
 dan
membantu
 pembangunan
 kegiatan
 usahausaha  setempat  di  dalam  wilayah pertambangan.
Data yang ada di bawah ini menunjukkan bahwa
jumlah anggaran yang dibelanjakan oleh PT. NNT setiap tahun
untuk kegiatan pengembangan masyarakat
mengalami fluktuasi.
Pengembangan  yang  telah  dilakukan  oleh  PT.
 NNT
 tersebut
 akan
berdampak  sangat besar pada masyarakat, apalagi
yang di tunjuk adalah YOP. YOP  pada  saat  sekarang  ini  telah  memfokuskan
 upaya
 jangka
 panjang
 pada
pengembangan ekonomi dan sebagai
 bagian dari pemfokusan tersebut yayasan akan   memperluas 
 kegiatan   pengembangan 
 usaha 
 masyarakatnya.   
Kegiatan ekonomi lokal akan
ditekankan terutama pada kerja untuk masa mendatang.
Pembentukan
lembaga usaha mandiri yang dimiliki dan dioperasikan oleh masyarakat   akan 
 memberikan   momen   yang 
 sangat 
 penting 
 dalam 
 upaya memastikan 
 bahwa 
 penduduk   lokal 
 memperoleh 
 bagian 
 yang 
 adil 
 dalam pengembangan   ekonomi   lokal  
yang   mandiri.   YOP   sangat  berharap   dapat mendukung
 dan
 meningkatkan  usaha  pemasaran
 bagi
 para
 petani
 di
 daerah
Sumbawa Barat (Wagimin, 2000).
Dari berbagai penjelasan serta uraian
diatas, maka perlu diadakan sebuah penelitian mengenai Analisis Komparatif           Pendapatan                   Usaha
antara Masyarakat Penerima Kedit dan bukan Penerima Kredit dari YOP
, sehingga dengan demikian akan  terlihat manfaat dari dana bantuan
yang telah disalurkan PT. NTT melalui
perantara YOP kepada masyarakat.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Mei 17, 2012 at 10:58 am Tinggalkan komentar

Peranan Bandol (Tengkulak) Dalam Tataniaga Tembakau Rajangan Madura (122)

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Di          dalam   GBHN
telah      digariskan          bahwa
  pembangunan nasional
dilaksanakan 
dalam  rangka  pembangunan  manusia
 
Indonesia  seutuhnya  dan pembangunan
masyarakat
Indonesia seluruhnya.   Pembangunan
jangka panjang tersebut 
 dilaksanakan
 secara  bertahap.            Sedangkan  tujuan  dari  setiap  tahap
tersebut adalah untuk meningkatkan taraf
hidup dan kesejahteraan
seluruh rakyat serta meletakkan landasan yang kuat untuk pembangunan tahap-tahap berikutnya.
Dalam era pembangunan duapuluh lima tahun,
yang dibagi-bagi
menjadi lima   tahap
 Pelita, 
 Indonesia   menempatkan
 pembangunan  pertanian   sebagai prioritas
 pertama.   Sebab pembangunan dibidang
pertanian pada khususnya, dan pembangunan
 dibidang ekonomi pada umumnya, relatif menunjukkan hasil-hasil yang posistif disamping  dampak negatifnya,  tetapi diakui ataupun tidak belum semua
 hasil-hasil
 kemajuan
 tersebut  dinikmati
 oleh
 sebagian  besar  penduduk,
terutama golongan orang miskin (Hadi Prayitno dan Lincolin Arsyad, 1987).

Memasuki tahun 1997, Indonesia mengalami krisis multidimensi
yang mengakibatkan runtuhnya dinasti orde baru.  Namun, sektor pertanian masih tetap
eksis         memberi  bantuan  devisa  pada     negara   hingga   saat       ini. Sehingga perekonomian Indonesia masih sangat tergantung pada kemajuan pembangunan
disektor  pertanian.
 Sasaran  pembangunan
 pertanian  adalah
 meningkatkan
 hasil pertanian untuk mendukung
sektor industri.  Salah satu sektor industri yang ada di Indonesia
 adalah  pabrik  rokok  dengan
 komoditas  tembakau
 sebagai  salahsatu bahan  baku  utama.   Tanaman
 Tembakau  disamping  sebagai pengahasil
 devisa
negara,
   juga   merupakan 
 sumber   pendapatan   bagi 
 petani.      Karena   selain memberikan  manfaat   secara  ekonomis,   tanaman  tembakau
 mampu   mengisi kekosongan lahan  di  musim kemarau,  terutama  di  daerah  Madura
 yang  setiap musim kekurangan air.
Perkembangan produksi tembakau menurut
 laporan Dinas kehutanan dan
Perkebunan   menunjukkan   bahwa 
 produksi   tembakau
  Madura   di 
 lapangan mencapai
 ± 38.000 ton yang terdiri
dari kabupaten Pamekasan sebesar ± 19.000 ton, kabuapaten Sumenep sebesar ± 12.000 ton dan kabupaten Sampang sebesar ± 7.000
 ton  yang             seluruhnya  terbeli
 oleh
 pabrik
 rokok.  Hal
 ini
 menunjukkan bahwa kebutuhan pabrik rokok  terhadap tembakau Madura sangatlah besar.
Kabupaten Pamekasan merupakan
salah satu sentra pertanaman tembakau
Madura dengan
luas areal rata-rata tiap tahun mencapai 34.565 Ha atau 50 % dari total  areal  tembakau  se-Madura
 dengan
 luas
 70.405  Ha  (Anonymus,
 2001). Ditinjau dari segi sosial, jumlah petani yang menanam tembakau sebanyak 95.895 KK
 dengan
 tenaga  kerja
 yang
 terserap
 dalam
 budidaya  tembakau
 sebanyak ± 287.685
orang (Anonymus, 2004).  Isdijoso et al. (1998) menambahkan
bahwa usahatani tembakau Madura mempunyai peran berkisar antara 60 80 % terhadap total pendapatan petani.
Meningkatnya  areal
 tembakau
 yang
 diikuti
 oleh
 meningkatnya  harga
tembakau,  memberi
 petunjuk
 bahwa   keunggulan 
 kompetitif  tembakau  akan meningkatkan 
pendapatan  rumah
 tangga
 dan
 pengembangan
 ekonomi wilayah.
Sehingga  tembakau merupakan salah satu komoditas ekonomi
 dan sosial yang memiliki peranan  penting terutama pada pendapatan devisa dari bea cukai yang pada tahun 2004 target
terbesar Rp. 27,6 triliun.
Salah  satu
 masalah  utama  yang  dihadapi  petani  tembakau
 di
 Madura
adalah  masalah  perdagangan.  Masalah  perdagangan
 ini
 melibatkan  hubungan
antara penjual (petani)
dengan pembeli (tauke
= kaki tangan pembeli dari pabrik
rokok). Kurangnya pengetahuan para petani tentang tata cara penjualan tembakau kepada tauke telah
 melahirkan
pedagang baru yang disebut juragan
dan bandol. Juragan merupakan
orang yang mendapat kepercayaan dari tauke untuk
membeli tembakau
 dengan   mutu
 dan   harga  yang  sudah
 ditentukan  terlebih  dahulu. Sedangkan  bandol  adalah  asisten  atau  pembantu  juragan
 untuk
 mendapatkan
tembakau dari para petani.
Secara sederhana dikatakan
bahwa juragan dan bandol berperan sebagai pialang atau perantara
dalam perdagangan tembakau Madura.
Seperti hal yang sudah disebut diatas bahwa hampir keseluruhan tembakau Madura  dipasarkan
 di
 pabrik-pabrik
 rokok  yang  terbesar
 diseluruh  Indonesia (tersebar di luar pulau Madura).  Oleh karena itu untuk memperlancar pemasaran tembakau,   pabrik   rokok 
 kretek   melakukan 
 pembelian   yang   sesuai 
 dengan kebutuhan menggunakan lembaga
 perantara yang berhubungan langsung dengan
petani. Di Madura 
 lebih
dikenal dengan  sebutan bandol atau tengkulak. 
 Tugas dari para pedagangan pengumpul (bandol) berperan
sebagai grosir atau distributor bagi  pedagang  eceran  hasil-hasil  pertanian.     Oleh  karena
 itu
 perlu  diadakan penelitian   tentang 
 peranan 
 bandol 
 tersebut   dalam   mempelancar 
 tataniaga tembakau khususnya tembakau rajangan.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Mei 17, 2012 at 10:56 am Tinggalkan komentar

Analisis Investasi Dan Kelayakan Industri Kecil Kecap “CAP BAWANG”di Kabupaten Magetan (121)

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Indonesia saat ini adalah negara yang dikategorikan sebagai negara yang berkembang.
Semakin banyak teknologi canggih yang digunakan dan banyak industri yang didirikan,
perubahan teknologi dan perkembangan dunia industri yang cukup pesat mengakibatkan persaingan  diberbagai
 jenis  industri   yang  semakin  ketat.
 Dengan  melihat  situasi
persaingan
 sekarang
 ini,
 terobosan
 baru  dalam
 dunia   usaha  memang
 dirasa  perlu
menyajikan apa yang diinginkan dalam kebutuhan konsumen.
Indonesia     sebagai     salah     satu    negara     berkembang     dalam
melaksanakan
pembangunan tidaklah lepas dari masalah yang sering dihadapi oleh negara yang sedang berkembang
 lainnya. Masalah yang dihadapi negara sedang berkembang saat ini adalah masalah  bagaimana   meningkatkan
 kesejahteraan  masyarakat  dengan
 memanfaatkan
sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tersedia.

Sumber daya alam yang ada di Indonesia sangat beraneka ragam seperti halnya kedelai, dimana kedelai ini mempunyai peluang yang sangat besar, yang digunakan untuk bahan utama pembuatan kecap, tahu, tempe, dan lainlain. Sedangkan dalam sumber daya manusia, mereka mampu memanfaatkan sumber daya alam yang ada di Indonesia, seperti
halnya dalam pengolahan kecap.
Dalam pengelohan kecap ini dapat dikembangkan oleh industri, dimana industri
kecap  ini tidak  saja ditujukan kepada industri yang 
besar  saja, tetapi ditujukan pula kepada industri sedang dan industri kecil, sebab pada kenyataannya industri sedang, dan
industri kecil adalah industri yang  masih sangat  diperlukan untuk dapat  memberikan kesempatan kerja dan sekaligus pemerataan pendapatan ditingkat masyarakat.
Industri kecil sangat penting, karena industri kecil dapat  memberikan manfaat
sosial  yang
 berarti
 bagi  perekonomian,
 terutama  perekonomian  Indonesia.  Manfaat pertama
 :
 Industri  kecil   dapat
 menciptakan
 peluang
 berusaha  yang
 luas
 dengan pembiayaan yang relatif murah. Kedua :  Industri kecil turut mengambil peranan dalam
peningkatan  dan
 mobilisasi
 tabungan
 domestik.
 Ketiga
 :
 Industri
 kecil  mempunyai kedudukan  komplementer  terhadap  industri  besar  dan
 sedang,
 karena
 industri
 kecil menghasilkan produk yang relatif murah dan sederhana, yang biasanya tidak dihasilkan
oleh industri besar dan sedang.
Industri kecil merupakan jalan keluar dari banyaknya tenaga kerja, sementara luasnya  lapangan
 pekerjaan  yang
 terbatas.
 Industri
 kecil
 dipedesaan
 yang  berbasis pertanian mempunyai
 peranan penting dalam meningkatakan perekonomian. Sebagian
besar permasalahan yang dihadapi  industriindustri kecil yaitu rendahnya produktifitas
dan
kurangnya pengusaha teknologi, permodalan dan manajemen.
Industri
 kecil
 kecap
 yang  berada
 di  Kabupaten         Magetan
 pada  khususnya
mempunyai peranan yang tidak kalah penting dengan industriindustri lainnya. Yang mana
 dengan   pengembangan
 selanjutnya  bisa  memberikan
 tambahan  income  dan
pendapatan khususnya di Kabupaten Magetan. Jika usaha ini dikembangkan dengan baik pasti akan menguntungkan, karena
 konsumen kecap di Kabupaten Magetan sangat luas mencakup strata sosial. Kecap CAP BAWANG ini tidak hanya dikonsumsi oleh kelas bawah dan menengah saja, tetapi juga kelas atas kecap CAP
 BAWANG
 ini dikenal
masyarakat karena disamping harganya yang murah juga banyak digemari masyarakat
dan
kecap sendiri bisa memberikan nilai gizi yang penting.

Dalam industri kecil, perlu adanya penanganan mengenai biaya dan pendapatan, dimana biaya ini digunakan untuk mengetahui jumlah pengeluaran yang dilakakukan oleh industri kacil kecap, dan
 sedangkan pendapatan digunakan untuk  mengetahui jumlah
penerimaan yang diterima oleh industri kecil kecap.  Selain dari biaya dan pendapatan,
studi kelayakan juga diperlukan oleh industri kecil, untuk digunakan sebagai tolak ukur
oleh pengusaha industri kecil, apakah layak diteruskan atau tidak  diteruskan, sehingga
apabila industri kecil tersebut  mengalami kerugian maka industri kecil tersebut  tidak
layak diteruskan, dan sebaliknya apabila industri kecil tersebut mengalami keuntungan maka industri kecil tersebut layak diteruskan atau memproduksi secara terusmenerus.
Dengan
 melihat
 uraian
 diatas,
 maka
 penulis
 mengangkat
 judul
 ANALISIS
INVESTASI
 DAN  KELAYAKAN INDUSTRI
 KECIL KECAP CAP
 BAWANG di KABUPATEN MAGETAN.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Mei 17, 2012 at 10:54 am 1 komentar

Analisis Usaha Pembibitan Anggrek Dalam Botol Pada Handoyo Budi Orchids Di Malang (120)

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Sektor              pertanian     merupakan     andalan     bagi    negara
negara agraris. Kemajuan teknologi di berbagai
bidang membawa dunia
ke era globalisasi dan keadaan 
 ini   membawa   dunia   perekonomian   yang   berpola   agribisnis   dan
agroindustri Indonesia kedunia perdagangan internasional.
Era globalisasi dicirikan antara lain oleh perdagangan yang semakin besar
antar negara  didunia
termasuk diadakannya perdagangan komoditas hortikultura.
Hal  ini
 bararti
 bahwa
 komoditads
 hortikultura
 Indonesia
 mempunyai peluang
untuk berperan dipasaran dunia disamping
dipihak lain pasar dalam negri menjadi
terbuka  untuk  pasaran
 komoditas  hortikultura  dari
 luar  negri.
 Sebagai  suatu
peluang ekonomi (economy opportunity) yang sangat potensial,
 bisnis
tanaman hias  akan
 dapat
 memberikan
 kontribusi
 yang
 berarti
 bagi
 ekonomi
 nasional
dimasa  mendatang.  Kesempatan  ekonomi
 yang
 potensial
 dapat
 direalisasikan
apabila   sektor   ini 
 mendapatkan   penanganan   yang 
 cukup 
 dari 
 pemerintah (Anonymous, 1994).

Proses  pengembangan
sektor   pertania n sampai
saat   ini masih
diprioritaskan  untuk    peningkatan      produksi
pangan. Usaha usaha
untuk peningkatan  produksi
 tanaman  hias
 masih  kurang
 mendapat  perhatian
 dari berbagai  pihak,   hal  tersebut  dapat  dimengerti
 mengingat
 konsumen
 untuk
produksi  tanaman
 hias  masih
 sangat  terbatas
 untuk  masyarakat
 dalam  negri.
Setelah adanya rangsangan rangsangan untuk kepentingan ekspor maka mulailah
tanaman hias itu mendapat perhatian.
Indonesia sebagai
negara tropis, terkenal juga memiliki berbagai macam
jenis tanaman hias yang banyak diminati, meskipun tanaman hias bukanlah bahan pangan, tanaman hias terutama anggrek banyak juga diminati dan dibutuhkan
oleh masyarakat di negara lain.
 Tentunya kondisi  ini dapat dilihat
sebagai tantangan sekaligus sebagai
peluang dalam bisnis tanaman
hias  anggrek  atau pembibitan anggrek, khususnya
“Handoyo Budi       Orchids yang merupakan salah
 satu dari
sekian banyak tempat usaha pembibitan anggrek botol. Sebagai
peluang apabila terbukanya  peluang  pasar
 dalam  negri
 karena
 antara
 lain
 disebabkan
 oleh peningkatan   pendapatan  dan  kasejahteraan
 masyarakat
 serta
 berkembangnya
pariwisata, agroindustri, dan toko atau kios bunga, sedangkan untuk peluang pasar di
luar negri karena masih banyaknya  permintaan akan bunga potong anggrek
yang
belum terlayani.
Terbukanya peluang pasar akan memacu
dan merangsang perkembangan
usaha tanaman hias untuk pembibitan anggrek botol terutama pada “Handoyo
Budi  Orchids”.
 Pengembangan
 tanaman
 hias
 anggrek
 khususnya
 dilaksanakan
melalui peningkatan kualitas hasil dan peningkatan teknologi
pembibitan anggrek botol, sehingga
dapat menghasilkan  tanaman
anggrek berkualitas yang mampu
bersaing dipasaran dalam negri dan luar negri.
Perkembangan  usaha  pembibitan
 anggrek  botol
 pada  “Hadoyo
 Budi Orchids”  khususnya, 
dapat  diketahui
 jika  dilakukan
 evaluasi  atas
 kemampuan “Handoyo  Budi
 Orchids dalam
 pengambilan  keputusan  ekonomi
 dan  dalam
menghasilkan  kas  diantaranya  melalui  struktur
 biaya,
 laporan
 labarugi,
 dan
neraca.
Dengan  alasan
 inilah  penelitian
 mengambil  judul:  “Analisis
   Us aha Pembibitan anggrek
Dalam Botol Pada Handoyo Budi Orchids Di Malang ”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Mei 17, 2012 at 10:51 am Tinggalkan komentar

Perbandingan Nilai Tambah Dan Keuntungan Berbagai Produk Olahan Pangan Pada Kube Teratai (Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo) (119)

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

              Dalam pola
dasar pembangunan Jawa Timur 2001-2005 disebutkan bahwa, misi utama pembangunan
daerah Jawa Timur adalah mengembangkan perekonomian terpadu yang berorientasi
global berbasis potensi daerah dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya
alam yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta mampu memberdayakan
ekonomi rakyat sehingga. Sektor   
pertanian mampu menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat.
Banyak bahan alami Indonesia
khususnya tumbuhan yang mempuyai prospek  
untuk dijadikan makanan tambahan atau dijadikan suatu produk olahan
pangan. berpijak dari hal tersebut pembangunan pertanian ke depan diarahkan
kepada pengembangan usaha agribisnis baik itu skala industri kecil ataupun
besar yang mampu berdaya saing serta berkelanjutan
            

  Sejalan dengan hal tersebut,
program peningkatan pertanian Jawa Timur difokuskan pada peningkatan ketahanan
pangan berwawasan agribisnis, pemberdayaan ekonomi petani, peternak dan
nelayan, serta peningkatan produksi dan daya saing komoditas ekspor (Imam
Utomo, 2000). Ketiga hal tersebut saling terkait, dalam arti bahwa upaya
mewujudkan ketahanan pangan yang berwawasan agribisnis dan peningkatan daya
saing industri-industri kecil rumah tangga yang kontribusinya sangat besar
untuk pengembangan ekonomi daerah, baik itu skala industri kecil atau menengah
yang mampu memberi nilai tambah bagi suatu pengembangan  perekonomian daerah.  

             Pembangunan sektor pertanian untuk
sangat ini lebih mengarah pada pola pengembangan industri agribisnis baik itu
industri pengolahan pangan ataupun yang lebih mengarah pada pembinaan pengrajin
atau pengusaha industri kecil dan menengah guna meningkatkan sumber daya
manusia, dan meningkatkan kualitas hasil produksi serta peningkatan pelayanan
informasi dan perijinan sektor industri kecil, dimana keberhasilan pelaksanaan
pembangunan pemerintah dilaksanakan melalui program dan kegiatan pembangunan
antara lain: pengembangan Industri Rumah Tangga (IKM), peningkatan kemampuan
teknologi industri dan penataan struktural industri kecil. Oleh karena itu di
Kabupaten Probolinggo tepatnya di Kecamatan Kraksaan dibentuklah suatu kelompok
usaha bersama (KUBE) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya yang skala usahanya termasuk skala industri kecil serta
pendirianya dipelopori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Teratai.
          Kelompok Usaha Bersama (KUBE) adalah
kelompok warga atau binaan sosial yang dibentuk oleh warga atau kelompok warga
atau binaan sosial yang telah dibina melalui proses kegiatan untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatan sosial dan usaha ekonomi dalam semangat kebersamaan sebagai
sarana untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya. KUBE bertujuan untuk  meningkatkan kemampuan berwirausaha,
pengembangan usaha skala kecil dan peningkatan kepedulian serta kesetiakawanan
sosial dalam satu ruang lingkup.
         Dalam menangani obyek pengembangan
industri, baik yang bersifat pemecahan masalah maupun pengembangan kedepan
harus berdasar kepada pola pendekatan logis dan komprehensif agar tercipta
wirausaha yang unggul serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Seperti
diketahui usaha kecil dalam pengembangan usahanya seringkali menghadapi banyak
kendala baik itu kendala internal atau ekternal. Kendala internal terutama
berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, karena keterbatasan sumberdaya
tersebut maka mereka kurang mampu memanfaatkan peluang yang ada, baik akses
pasar atau akses terhadap sumber pembiayaan dan akses terhadap teknologi,
sedangkan kendala ekternal berkaitan dengan iklim usaha yang kurang kondunsif
terhadap pengembangan usaha kecil (Y.Sri Susilo 1996).
             Program utama yang dilaksanakan
dalam pengembangan sektor industri kecil adalah mendorong tumbuhnya sektor
industri kecil dan menengah karena sektor ini merupakan sektor penggerak
ekonomi riil di Kabupaten Probolinggo. Dampak positif yang dapat dimbil adalah
adanya perluasan tenaga kerja serta peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat
serta melibatkan partisipasi masyarakat.
        Berbagai alternatif pendekatan
pembinaan dan pengembangan sektor industri kecil pada dasarnya dapat dilakukan
dengan jangka pendek dan jangka panjang, dalam jangka pendek dapat dilakukan
dengan penciptaan iklim yang kondunsif   bagi usaha kecil sedangkan dalam jangka
panjang adalah perbaikan kualitas sumberdaya manusia
         Sektor industri mempuyai potensi yang
cukup besar terutama industri pengolahan pangan, dimana industri pengolahan
pangan diharapkan dapat menjadi penggerak utama perekonomian yang efisien dan
berdaya saing tinggi. Salah satu contoh dari sektor industri pengolahan
tersebut adalah sektor industri pengolahan pangan, pembangunan industri
pengolahan, termasuk industri pengolahan pangan 
merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan
ekonomi nasional.
Setiap daerah
mempuyai potensi yang berbeda-beda, meskipun Kabupaten Probolinggo merupakan
kota “Mangga” tapi industri pengolahan pangan relatif besar, sehingga mampu
memberikan kontribusi yang lebih terhadap pengembangan perekonomian suatu
daerah dengan demikian perlu dilakukan suatu penelitian dengan judul “Perbandingan Nilai Tambah Berbagai Produk
Olahan Pangan pada KUBE Teratai di Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan
Kabupaten Probolinggo”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Mei 17, 2012 at 10:49 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category