Posts filed under ‘Pemasaran’

Contoh Skripsi Pemasaran

  1. Atribut-Atribut Swalayan Yang Mempengaruhi Konsumen Dalam Memilih Pt. Hero Supermarket, Tbk

  2. Analisis Pengaruh Pemberian Kredit Terhadap Pendapatan Pedagang Kecil Pd. Bpr Bkk Purwodadi Cabang Kedungjati Kabupaten Grobogan (=Ak-14)
  3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Etnis China-Non Muslim Menjadi Nasabah Bank Syari’ah Dan Implikasinya Terhadap Strategi Pemasaran (Study Kasus : Pt Bank Syari’ah Mega Indonesia) (=Ke-5)
  4. Pengaruh Marketing Mix Terhadap Loyalitas Konsumen Kartu Pra Bayar Im3 ( Study Kasus Pada Mahasiswa Stain Surakarta )
  5. Analisis Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Depot Air Minum Isi Ulang Di Tirta Mulya (=Ms-6)
  6. Pengaruh Harga, Promosi Dan Kualitas Terhadap Keputusan Pembelian Produk Alkohol One Med Di Kota Semarang (Studi Kasus Pada Cv. Global Surya Medica)
  7. Analisis Persepsi Brand Association Menurut Pelanggan Sabun Mandi Cair Luk Pada Pt. Unilever Indonesia, Tbk =(Ke-11)
  8. Pengaruh Implementasi Relationship Marketing Terhadap Customer Loyalty  (Studi Kasus Pada Bank Rakyat Indonesia Cabang Cik Di Tiro Di Yogyakarta)
  9. Analisis Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Nasabah Pada Bank Mandiri Cabang Hasanuddin Di Kota Palu
  10. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Pembelian Telepon Seluler
  11. Respon Konsumen Terhadap Mie Instan Produk Indofood (Studi Kasus Di Pasar Atas Cimahi)
  12. Persepsi Target Audience Terhadap Brand Image Dalam Iklan Yang Menggunakan Celebrity   Endorser
  13. Analisa Sikap Konsumen Supermarket Indogrosir
  14. Analisis Pengaruh Diferensiasi Produk Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Toko Dua Motor Bitung
  15. Pengaruh Perkembangan Jumlah Pelanggan Kartuhalo Melalui Program Halobebas Terhadap Tingkat Pemakaian Pulsa Rata-Rata Pelanggan Kartuhalo (Studi Kasus Di Telkomsel Grapari Jakarta Barat)
  16. Sirkulasi Kerja Housekeeping Di Kartika Hotel Pontianak
  17. Pelaksanaan Promosi Dalam Upaya Memelihara Loyalitas Pelanggan Pada Pt.Indosat Tbk. Cabang Bandung
  18. Tinjauan  Pelaksanaan Saluran Distribusi Dalam Upaya Meningkatkan   Penjualan Pada Cv. Al – Fath Production Bandung
  19. Pengetahuan Konsumen Mengenai Perbankan Syariah Dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah Padapt Bank Syariah Mandiri Tbk Cabang Bandung
  20. Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion Terhadap Proses Pengambilan Keputusan Konsumen Pada Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung
  21. Pengaruh Penerapan Kinerja Bauran Pemasaran Terhadap Pembentukan Loyalitas Pelanggan Pada Butik Busana Muslim Shafira Jalan Sulanjana 28 Bandung
  22. Kegiatan Humas dalam menangani keluhan ( complaints ) pelanggan di PT. PLN ( Persero ) APJ Semarang


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Iklan

April 26, 2012 at 7:38 am Tinggalkan komentar

PENGARUH PENERAPAN KINERJA BAURAN PEMASARAN TERHADAP PEMBENTUKAN LOYALITAS PELANGGAN PADA BUTIK BUSANA MUSLIM SHAFIRA JALAN SULANJANA 28 (PM-21)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Sejak dasawarsa 1970’an, fenomena kebangkitan Islam terjadi di seluruh dunia. Dampak fenomena ini terhadap Islam di Indonesia mempengaruhi agama, politik dan keadaan sosial. Selain perubahan dalam bidang agama, politik dan sosial, salah satu perubahan yang jelas adalah pemakaian busana Muslim.

Salah satu fenomena yang juga cukup menarik perhatian penulis dan mungkin pula menarik perhatian banyak orang yaitu fenomena loyalitas pengguna busana Muslim di Indonesia mengingat pemakaian busana Muslim bukan merupakan bagian dari sejarah di Indonesia. Juga, karena Indonesia adalah negara tropis, busana Muslim tidak logis – disebabkan karena cuaca yang panas (Brenner 1996:673). Namun demikian, mengapa busana Muslim menjadi populer di Indonesia? Mungkin jawaban dari pertanyaan itu terdapat dalam perasaan identitas Muslim di Indonesia, sehingga hampir setiap orang Muslim mau berubah untuk menerima pemakaian busana Muslim yang sebenarnya tidak cocok untuk iklim di Indonesia.
Dalam hal ini, kesadaran setiap Muslim dipengaruhi oleh ajaran agamanya diantaranya ada beberapa bagian di Al Qur’an yang mewajibkan untuk menutup aurat.
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al-Qur’an Surat Al Ahzab: 59)”.

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, hubungan antara Islam dan negara adalah hubungan yang sulit. Pemerintah Indonesia menolak permintaan menjadi negara Islam sejak kemerdekaan. Sekalipun sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, agama itu tidak ditetapkan satu-satunya agama yang resmi di Indonesia. Ada lima agama resmi di Indonesia, dan kedudukan agama Islam sederajat dengan agama-agama lain. Pemerintahan pada waktu itu selalu mendorong partisipasi Islam dalam masalah sosial, tetapi Islam politik ditiadakan, khususnya sumber kekuasaan Islam politik (Brenner 1996:676). Gerakan Darul Islam – gerakan yang berusaha mendirikan negara Indonesia sebagai negara Islam, dihilangkan pada tahun 1962 – memberi masyarakat Indonesia dengan perasaan negatif terhadap fundamentalisme di Indonesia (Jenkins 1998 dalam http://www.hamline.edu). Oleh karena itu, ketika busana Muslim menjadi populer pada tahun-tahun 1980’an, berarti dipengaruhi oleh situasi politik di Indonesia (Marcoes-Natsir 2004 dalam http://www.qantara.de). Pada waktu itu, dan beberapa tahun-tahun sebelumnya, masih ada banyak perusahaan dan organisasi yang melarang pegawai perempuan memakai busana Muslim (Powell 2003:45).

Pada tahun-tahun 1980’an setiap orang telah mengenal dan menggunakan busana Muslim meski masih dalam keadaan yang terbatas. Mereka berhenti memakai kebaya (yang menunjukkan lehernya) dan sarung (yang ketat) dan gaya rambut yang sulit. Reaksi terhadap perilaku ini adalah sikap kebingungan, kemarahan dan kecurigaan. Setiap orang yang menggunakan pakaian Muslim dianggap sebagai orang fanatik atau fundamentalis oleh masyarakat, termasuk keluarga dan teman-teman (Geertz dalam http://www.faculty.uccb.ns.ca). Pemerintah menciptakan aturan supaya busana Muslim dilarang di kantor-kantor pemerintahan. Sehingga menjadikan pilihan menggunakan busana Muslim adalah pilihan yang berat. Pada 1980’an seorang murid di Bogor, Jawa Barat, diberi pilihan ini: memilih berjilbab atau bersekolah, tetapi tidak bisa melakukan dua-duanya (Marcoes-Natsir 2004 dalam http://www.qantara.de).

Sebagai akibat gerakan revolusi Islam di negara Iran (yang mewajibkan penggunaan jilbab bagi perempuan), suasana dalam menggunakan busana Muslim menjadi lebih terbuka di seluruh dunia, termasuk negara Indonesia. Globalisasi Islam terjadi melalui perkembangan televisi dan media massa. Orang Islam mulai merasa sebagai anggota masyarakat internasional (Brenner 1996:678). Sebelum itu, berbusana Muslim dianggap sebagai hanya untuk ibu-ibu taat yang sudah tua yang tinggal di desa (Geertz dalam http://www.faculty.uccb.ns.ca). Kelihatannya lebih banyak orang Indonesia menjadi lebih senang kalau dapat mengekspresikan sendiri sebagai orang Islam dalam busana Muslim (Jenkins 1998 dalam http://www.hamline.edu).

Awal popularisasi terjadinya pengenalan busana Muslim di Indonesia, salah satunya adalah ketika pemerintahan Presiden Suharto menjalin hubungan dengan pemimpin Islam, untuk mendapatkan sokongan mereka bagi kelangsungan pemerintahan pada waktu itu. Pemerintah memberikan pembiayaan kepada pembangunan institusi dan organisasi Islam, misalnya bank-bank, pers Islam, mesjid, dan lembaga pendidikan. Keluarga Suharto ingin dianggap sebagai lebih taat, yang kemudian dilanjutkan dengan naik haji, dan anak perempuan mulai berjilbab (Marcoes-Natsir 2004 dalam http://www.qantara.de). Mereka sering menghadiri upacara Islam. Anak perempuan Suharto – Tutut – mulai berjilbab dalam gaya yang menarik, dan perempuan-perempuan mencoba mirip gayanya. Ini merupakan permulaan gerakan mode Islam di Indonesia.

Pada awalnya, gaya-gaya dan desain-desain mahal dan akibatnya bisa dibeli hanya oleh orang kaya saja. Tetapi desain yang lebih murah dan gaya yang biasa bisa diciptakan sendiri. Hal ini berarti bahwa mode Islam menjadi tersedia untuk semua tingkat golongan masyarakat (Marcoes-Natsir 2004 dalam http://www.qantara.de).
Sejarah popularisasi busana Muslim dipengaruhi oleh keadaan politik, sosial, dan ekonomi. Tetapi bagaimana pada saat ini? Busana Muslim sudah dipakai oleh banyak warga Indonesia, dan sudah diterima oleh kebanyakan orang Indonesia. Apa peran busana Muslim di antara konteks loyalitas di Indonesia?

Dalam bidang busana Muslim ada banyak gaya dan mode. Kalau berjilbab, bisa memakai topi di atas jilbab, bisa memasukkan plastik supaya melindungi kulit dari sinar matahari, dan bisa membeli jilbab yang sudah siap dipakai (misalnya kalau ada elastik dipakai). Busana Muslim adalah komoditi yang dibeli, dijual, dan dipakai di seluruh Indonesia, dan kemudian busana itu bisa dianggap sebagai unsur kebudayaan yang pada akhirnya menjadi lebih memasyarakat.

Dalam artikel Sian Powell (2003:45), dia menulis bahwa karena proses popularisasi busana Muslim dan proses westernisasi terjadi bersama-sama di Indonesia, maka mode menjadi unsur berpakaian yang sangat penting, dan pada saat ini kalau ada orang yang menggunakan busana Muslim dianggap sebagai orang yang bermode. Oleh karena itu, ada banyak perempuan di Indonesia yang baru berjilbab.

Dari semua informasi tersebut, bisa dilihat bahwa industri busana Muslim adalah industri yang cukup besar. Artikel yang mempertunjukkan bagaimana menggunakan busana Muslim, bagaimana menjahit busana Muslim dan bagaimana tetap cantik sementara berbusana Muslim sudah cukup banyak. Artikel-artikel tentang busana Muslim ditawarkan sama dengan artikel tentang kesehatan, masakan, dan kesantaian dalam satu edisi majalah atau koran tabloid. Karena busana Muslim tersedia sama seperti halnya busana lain di dalam beberapa majalah dan koran tabloid di Indonesia, ini bukti bahwa industri mode Islam bagian biasa industri mode di Indonesia. Dari contoh iklan Sunsilk Hijau bisa dilihat bahwa industri kosmetika juga menjadi tertarik pada busana Muslim, karena mereka menjadi sadar bahwa industri ini sudah bertambah cepat. Perusahaan itu meneliti bagaimana menciptakan sampo yang khusus untuk orang berkerudung.

Dalam hubungannya dengan perekonomian dan perkembangan busana Muslim, PT Shafira Laras Persada adalah merupakan salah satu contoh perdagangan produk busana Muslim di Indonesia dan lebih kecil lagi yaitu di Kota Bandung selain dari perusahaan lain yang juga memproduksi busana Muslim (diperlihatkan pada tabel 1.1). PT Shafira Laras Persada merupakan salah satu perusahaan produk busana Muslim yang cukup memiliki pelanggan yang loyal. Shafira yang berlokasi di wilayah Bandung memiliki dua butik sebagai tempat penjualan produk-produknya salah satunya adalah yang sedang penulis teliti yaitu Butik busana muslim Shafira di jalan Sulanjana 28 sedangkan lainnya berada di jalan Buah Batu 165 berlokasi di wilayah Bandung Selatan. Dilihat dari data perusahaan, dalam satu hari pelanggan yang datang cukup banyak yaitu berjumlah 7-8 orang setiap harinya yang tidak hanya berasal dari kota Bandung saja tetapi juga berasal dari kabupaten Bandung, dan Kabupaten Sumedang. Sedangkan untuk total pelanggannya sendiri Shafira di jalan Sulanjana memiliki sebanyak 250 orang member/pelanggan. Ini menjadi menarik untuk diteliti oleh penulis, karena secara umum pola pemasaran Shafira lebih menekankan kepada kalangan kelas menengah ke atas, sehingga melihat pelanggan dari karakteristik baik itu dari asal domisilinya, tingkat pendapatannya, tingkat pendidikannya, golongan usianya, dan jenis kelaminnya, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pendapat mengenai loyalitas pelanggan terhadap produk busana Muslim Shafira yang dipasarkan.

Hal menarik lainnya tentang produk busana Muslim ini adalah mengenai hal apa yang membuat orang mau melakukan kunjungan atau bahkan pembelian produk Shafira? Apakah karena faktor produk yang ditawarkan disana memiliki variasi produk yang banyak? atau karena harga produk yang ditawarkan disana relatif terjangkau? atau tempat penjualan dimana terdapat korelasi antara kenyamanan dengan berbelanja? atau hanya sebuah trend untuk mengunjungi dan melakukan pembelian produk busana Muslim?
Pada pengamatan sebelumnya mengenai tanggapan konsumen Shafira terhadap pelaksanaan kinerja bauran pemasaran perusahaan, maka terdapat beberapa orang pelanggan yang menyatakan tentang produk yang kurang memiliki tingkat kualitas yang diharapkan karena ternyata produk yang ditawarkan terkadang memiliki kekurangan, seperti jahitan yang kurang baik, warna yang luntur, dan terkadang sulit untuk mencari ukuran yang sesuai sehingga ada pelanggan yang mengeluhkan bahwa pelanggan tersebut harus menyesuaikan kembali busana yang telah dibeli karena tidak ada ukuran produk yang sesuai. Selain dari hal diatas ada juga yang menyatakan tentang alat-alat promosi yang terkadang masih belum dapat memberikan informasi menyeluruh mengenai Shafira hala lainnya lagi yaitu tempat yang agak dalam dan terkadang sulit untuk terjangkau.

Namun terlepas dari itu semua, PT Shafira Laras Persada telah banyak memberikan kontribusi besar dalam perekonomian terutama dalam membangun trend mode Islami dalam jangka waktu yang cukup lama. Di lain sisi keberadaan Shafira merupakan suatu alternatif pembelian produk busana yang saat ini sedang menuai keuntungan yang cukup besar dikarenakan mode yang sedang menjamur di kalangan masyarakat.

Kembali ke masalah loyalitas pelanggan yang cukup unik untuk dapat diperkirakan ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang manajemen pemasaran dalam membentuk suatu kinerja perusahaan dengan pendekatan atribut pemasaran yaitu pada model bauran pemasaran (marketing mix) yang dikembangkan oleh Kotler Philip (2003:393), terdiri dari product, promotion, price, dan place (distribution channel). Hal ini untuk melihat yang dirasakan pelanggan tentang kualitas produk atau jasa layanan perusahaan produk busana muslim dan kualitas produk atau jasa layanan seperti apa yang diinginkan oleh pelanggan.

Untuk mengidentifikasi pemenuhan tingkat kualitas harapan para konsumen tidak mudah, karena sekali konsumen dapat merasakan kualitas produk atau jasa layanan yang tinggi baik dari perusahaan maupun dari pesaingnya, maka mereka akan mengharapkan pengalaman yang sama akan berulang. Apabila suatu perusahaan dapat mengidentifikasi kualitas produk atau jasa layanan sesuai dengan harapan konsumen, sudah barang tentu hal ini akan menimbulkan kepuasan pada konsumennya, dengan kata lain penawaran kualitas produk atau jasa layanan yang baik dapat mempengaruhi pemakaian ulang produk ataupun jasa perusahaan.

Kualitas produk atau jasa layanan yang baik dalam menciptakan kepuasan konsumen memberikan berbagai manfaat, diantaranya memberikan dasar yang kuat bagi terciptanya kesetiaan konsumen yang pada akhirnya disebut sebagai loyalitas pelanggan. loyalitas pada suatu perusahaan akan membentengi pelanggan dari serangan para pesaing (retention). Di samping itu, loyalitas yang tinggi juga menjadi pendorong untuk melakukan pembelian ulang (repurchase) serta mengajak orang lain untuk menggunakan jasa tersebut (referral).

Agar dapat memperoleh informasi yang lebih jelas dan disertai bukti ilmiah mengenai bagaimana pengaruh penerapan bauran pemasaran produk busana muslim dalam peningkatan kinerja, arahan, serta motivasi pemasaran terhadap pembentukan loyalitas pelanggan, perlu dilakukan suatu penelitian ilmiah. Untuk itu penulis akan melakukan penelitian dengan menjadikan butik busana muslim Shafira di jalan Sulanjana 28, Bandung sebagai studied population.

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah

PT Shafira Laras Persada adalah merupakan salah satu contoh perdagangan produk busana Muslim di Indonesia dan lebih kecil lagi yaitu di Kota Bandung selain dari perusahaan lain yang juga memproduksi busana Muslim. PT Shafira Laras Persada merupakan salah satu perusahaan produk busana Muslim yang cukup memiliki pelanggan yang loyal. Shafira yang berlokasi di wilayah Bandung memiliki dua butik sebagai tempat penjualan produk-produknya salah satunya adalah yang sedang penulis teliti yaitu Butik busana muslim Shafira di jalan Sulanjana 28 sedangkan lainnya berada di jalan Buah Batu 165 berlokasi di wilayah Bandung Selatan.

Pada pengamatan sebelumnya terdapat beberapa orang pelanggan yang menyatakan tentang produk yang kurang memiliki tingkat kualitas yang diharapkan karena ternyata produk yang ditawarkan terkadang memiliki kekurangan seperti jahitan yang kurang baik, warna yang luntur, dan terkadang sulit untuk mencari ukuran yang sesuai sehingga ada pelanggan yang mengeluhkan bahwa pelanggan tersebut harus menyesuaikan kembali busana yang telah dibeli karena tidak ada ukuran produk yang sesuai. Selain dari hal diatas ada juga yang menyatakan tentang alat-alat promosi yang terkadang masih belum dapat memberikan informasi menyeluruh mengenai Shafira serta tempat yang agak dalam dan terkadang sulit untuk terjangkau.

Kembali ke masalah loyalitas pelanggan yang cukup unik untuk dapat diperkirakan ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang manajemen pemasaran dalam membentuk suatu kinerja perusahaan dengan pendekatan atribut pemasaran produk yaitu pada model bauran pemasaran (marketing mix) yang dikembangkan oleh Kotler Philip (2003:393), terdiri dari product, promotion, price, dan place (distribution channel). Hal ini untuk melihat yang dirasakan pelanggan tentang kualitas produk atau jasa layanan perusahaan produk busana muslim dan kualitas produk atau jasa layanan seperti apa yang diinginkan oleh pelanggan. dari kedua fenomena di atas maka akan dihubungkan sehingga dapat dihasilkan hubungan yang terjadi apakah memiliki tingkat pengaruh yang signifikan atau tidak.

Berdasarkan uraian identifikasi masalah diatas maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kinerja bauran pemasaran yang meliputi produk, tempat, promosi, dan harga di butik busana Muslim Shafira dilihat dari tanggapan konsumen yaitu pelanggan busana Muslim Shafira.
2. Sejauh mana pengaruh kinerja bauran pemasaran terhadap pembentukan loyalitas pelanggan dalam pemberian rekomendasi, pemakaian ulang, membelia antar lini produk, dan penolakan terhadap produk lain di butik busana Muslim Shafira yang dilihat dari tanggapan konsumen yaitu pelanggan busana Muslim Shafira.

Mei 13, 2009 at 11:47 pm Tinggalkan komentar

PENGARUH PENAWARAN PRODUK IMITASI JENIS FASHION TERHADAP PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN PADA KONSUMEN PASAR ECERAN PEKANAN GASIBU (PM-20)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Perilaku pembelian konsumen memang merupakan suatu pembahasan yang unik dan menarik , sebab bahasan ini akan menyangkut pada berbagai faktor di berbagai dimensi kehidupan manusia yang berbeda-beda. Selama manusia tersebut melakukan kegiatan perekonomian –pembelian- dalam kehidupan, maka selama itu kita akan selalu mendapatkan fenomena-fenomena baru dalam pola perilaku pembeliannya.

Salah satu fenomena yang cukup menarik perhatian penulis dan mungkin pula menarik perhatian banyak orang yaitu fenomena peredaran produk-produk imitasi –barang palsu- sebagai sebuah alternatif baru dalam pilihan konsumsi konsumen Indonesia. “Tiap orang di Indonesia menggunakan produk imitasi, setidaknya sekali seumur hidup” itulah sebuah satire yang mungkin pernah kita dengar. Kalau mau jujur berapa persen dari seluruh produk yang kita miliki yang benar-benar orisinal? Sisanya, bisa merupakan imitasi atau meniru sendiri. Hal seperti ini nampaknya nikmat dari sisi konsumen, tapi merupakan musibah bagi pihak perusahaan. Terlebih lagi apabila kita dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa International Intellectual Property Alliance (IIPA), sebuah organisasi independen di AS, merekomendasikan kepada Departemen Perdagangan AS dan World Intellectual Property Organization untuk tetap memasukkan Indonesia dalam peringkat yang diawasi. Sejak tahun 2000, Amerika menganggap Indonesia kurang serius dalam pelindungan HAKI. Hal itu tampak pada klaim pelanggarannya yang mencapai 668,2 juta dollar AS tahun 1997. Dari jumlah itu, pembajakan hak cipta mencapai 334,1 juta dollar AS, program komputer 256,1 juta dollar AS, serta untuk pembajakan buku, film, rekaman lagu, dan komposisi musik total sebesar 78 juta dollar AS (kompas/16 April 2002). Data tersebut, belum termasuk pembajakan terhadap karya-karya lokal.

Salah satu bukti kasar yang dapat kita lihat di lapangan yaitu semakin meningkatnya konsumen maupun produsen produk-produk imitasi di berbagai tempat. Terlepas dari legal maupun tidak legalnya kegiatan perekonomian semacam ini, kita dapat saksikan dengan jelas bahwa tempat-tempat yang menjual produk-produk imitasi tidak pernah sepi dari kegiatan perekonomian, sekalipun itu pada hari libur.

Bahasan ini semakin menarik karena produk imitasi yang dahulunya dianggap hanya mengunggulkan harga yang murah dengan mengabaikan kualitas dari produk yang ditawarkan, ternyata saat ini tidak seluruhnya benar. Sebab dalam sebuah perbincangan, penulis menemukan sebuah pendapat baru bahwa tidak semua barang imitasi kualitasnya rendah, pada kenyataannya banyak barang imitasi sudah mulai menyamai kualitas dari barang yang diimitasinya. Bahkan ada beberapa produsen produk imitasi yang berani menyatakan bahwa produk yang ditawarkannya tidak kalah dengan produk aslinya.

Hal ini semakin masuk akal ketika ada sebuah argumen bahwa produk imitasi dapat menawarkan produknya dengan kualitas hampir menyamai bahkan sama dengan produk aslinya dengan harga yang jauh dibawah harga produk asli, disebabkan produsen produk imitasi dapat memangkas banyak biaya yang seharusnya harus dikeluarkan oleh para produsen produk asli. Sebagian produsen produk asli mematok harga yang mahal dikarenakan mereka harus menutup berbagai biaya seperti biaya promosi –dimana sebagian besar perusahaan dunia menganggarkan sepertiga dari anggaran tahunannya untuk biaya ini-, biaya penelitian dan pengembangan produk, biaya penyaluran&distribusi serta pajak yang persentasenya tidak sedikit. Selain itu, harga mahal dapat juga disebabkan karena produk tersebut telah memiliki popularitas dimata konsumen, sehingga beberapa konsumen cenderung “membeli merek” dan mengesampingkan kualitas maupun harga.

Di bidang merek, pelanggaran tidak hanya menyangkut merek-merek asing. Selain merek terkenal asing, termasuk yang telah diproduksi di dalam negeri, merek-merek lokal juga tak luput dari sasaran peniruan dan pemalsuan. Di antaranya, produk rokok, tas, sandal dan sepatu, busana, parfum, arloji, alat tulis dan tinta printer, oli, dan bahkan onderdil mobil. Kasus pemalsuan yang terakhir ini terungkap lewat operasi penggerebekan terhadap sebuah toko di Jakarta Barat yang mendapatkan sejumlah besar onderdil Daihatsu palsu. Pelakunya telah ditindak dan saat ini sedang menjalani persidangan di PN Jakarta Barat.

Dalam hubungannya dengan perekonomian, Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung merupakan salah satu contoh sentra perdagangan produk imitasi di Kota Bandung setelah Pasar Baru dan Dalem kaum. Pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung merupakan salah satu pasar yang dikunjungi konsumen dalam jumlah yang relatif besar walaupun pasar ini hanya ada setiap hari minggu. Dari sebuah sumber pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya diperkirakan mencapai 10.000 orang yang berasal dari seluruh pelosok Kota Bandung hingga Kotif Cimahi, Kabupaten bandung, dan Kabupaten Sumedang. Ini juga menjadi menarik untuk diteliti oleh penulis, karena secara umum cukup meratanya pengunjung pasar Gasibu, baik itu dari asal domisilinya, tingkat pendapatannya, tingkat pendidikannya, golongan usianya, dan jenis kelaminnya, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pendapat penduduk Kota Bandung mengenai peredaran produk imitasi jenis fashion di kotanya atau minimal pendapat pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu itu sendiri.

Hal yang menarik lainnya adalah hal apa yang membuat banyak orang yang mengunjungi pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya? Apakah karena faktor produk yang ditawarkan disana memiliki variasi produk yang banyak? atau karena harga produk yang ditawarkan disana relaitif dibawah harga normal yang berlaku? atau tempat penjualan dimana terdapat korelasi antara olah raga pagi dengan berbelanja? atau hanya sebuah trend untuk mengunjungi Gasibu tiap hari minggu?

Namun terlepas dari itu semua, pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung telah memberikan kontribusi besar dalam perekonomian setiap pekannya. Baik itu kontribusi bagi pedagangnya sebagai tempat mencari nafkah, kontribusi yang berasal dari biaya retribusi yang masuk ke kas Pemda, atau kontribusi bagi konsumen yang mendapat penawaran produk dengan harga yang relatif terjangkau. Di lain sisi keberadaan pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung banyak meresahkan pihak-pihak yang merasa terancam dengan keberadaan pasar jenis ini. Banyak hal yang harus diamati mengenai tempat ini sebab bukan hanya efek negatif saja yang ditimbulkan, namun ternyata efek positif bagi beberapa pihak juga dapat dirasakan dengan jelas.

Kembali ke masalah perilaku pembelian konsumen, untuk memahami pola perilaku pembelian konsumen yang unik ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang atribut-atribut program pemasaran sebuah produk (marketing mix). Atribut-atribut program pemasaran sebuah produk tersebut dapat menjadi sebuah obyek yang menarik dan mengundang perhatian, terutama bagi pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung dan penduduk kota Bandung pada umumnya. Selanjutnya, atribut tadi menjadi stimulus (rangsangan) yang akan diinterpretasikan hingga menjadi gambaran yang berarti dan saling berkaitan atau persepsi, berdasarkan kriteria evaluasi yang ada di benak mereka. Setiap individu memiliki kriteria evaluasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya sehingga persepsi yang muncul pun akan berbeda-beda. Sementara itu suatu obyek akan dapat dinilai dari berbagai segi berdasarkan jumlah atribut yang melekat padanya. Kumpulan persepsi seseorang terhadap suatu obyek membentuk suatu citra tertentu atas obyek yang bersangkutan, maka dalam penelitian ini bila obyeknya adalah suatu produk imitasi jenis fashion maka citra yang terbentuk itu disebut citra produk imitasi jenis fashion.

Konsumen sebagai individu perilakunya turut dibentuk oleh faktor psikologis yang terdiri dari motivasi, persepsi, pengetahuan, keyakinan dan pendirian. Dengan demikian, perilaku pembelian yang diperagakan konsumen terhadap suatu produk imitasi jenis fashion juga dapat turut dibentuk oleh sekumpulan persepsi mereka terhadap atribut produk imitasi jenis fashion yang mereka rasakan.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh penawaran produk imitasi jenis fashion terhadap keputusan pembelian konsumen di pasar eceran dengan judul “Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen pada Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung”

1.2. Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah
Salah satu fenomena yang cukup menarik perhatian penulis dan mungkin pula menarik perhatian banyak orang yaitu fenomena peredaran produk-produk imitasi –barang palsu- sebagai sebuah alternatif baru dalam pilihan konsumsi konsumen Indonesia

Hal ini semakin masuk akal ketika ada sebuah argumen bahwa produk imitasi dapat menawarkan produknya dengan kualitas hampir menyamai bahkan sama dengan produk aslinya dengan harga yang jauh dibawah harga produk asli, disebabkan produsen produk imitasi dapat memangkas banyak biaya yang seharusnya harus dikeluarkan oleh para produsen produk asli.

Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung merupakan salah satu contoh sentra perdagangan produk imitasi di Kota Bandung setelah Pasar Baru dan Dalem kaum. Pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung merupakan salah satu pasar yang dikunjungi konsumen dalam jumlah yang relatif besar walaupun pasar ini hanya ada setiap hari minggu. Dari sebuah sumber pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya diperkirakan mencapai 10.000 orang yang berasal dari seluruh pelosok Kota Bandung hingga Kotif Cimahi, Kabupaten bandung, dan Kabupaten Sumedang.

Hal yang menarik lainnya adalah hal apa yang membuat banyak orang yang mengunjungi pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya? Apakah karena faktor produk yang ditawarkan disana memiliki variasi produk yang banyak? atau karena harga produk yang ditawarkan disana relaitif dibawah harga normal yang berlaku? atau tempat penjualan dimana terdapat korelasi antara olah raga pagi dengan berbelanja? atau hanya sebuah trend untuk mengunjungi Gasibu tiap hari minggu?

Kembali ke masalah perilaku pembelian konsumen, untuk memahami pola perilaku pembelian konsumen yang unik ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang atribut-atribut program pemasaran sebuah produk (marketing mix). Kemudian fenomena ini akan dihubungkan dengan proses keputusan pembelian konsumen, untuk nantinya akan dapat diketahui pengaruh antara dua variabel tersebut.

Dari uraian diatas, penulis dapat merumuskan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengetahuan konsumen yaitu konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung mengenai maraknya penawaran produk-produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung.
2. Bagaimana tanggapan konsumen yaitu konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung mengenai maraknya penawaran produk-produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung
3. Seberapa besar pengaruh penawaran produk-produk imitasi tersebut terhadap proses keputusan pembelian produk fashion pada konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung.

Mei 13, 2009 at 11:46 pm Tinggalkan komentar

Pengetahuan Konsumen Mengenai Perbankan Syariah dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah pada PT Bank Syariah Mandiri Tbk (PM-19)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Eksistensi lembaga keuangan khususnya sektor perbankan menempati posisi sangat strategis dalam menjembatani kebutuhan modal kerja dan investasi di sektor riil dan pemilikan dana. Dengan demikian, fungsi utama sektor perbankan dalam infrastuktur kebijakan makro ekonomi memang diarahkan dalam konteks bagaimana menjadikan uang efektif untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi (how to make money effective and efficient to increase economic value).

Krisis moneter yang melanda Indonesia beberapa tahun yang lalu berdampak besar pada industri perbankan. Pelaksanaan likuidasi terhadap enam belas bank swasta nasional pada bulan oktober 1997 menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional. Meskipun pemerintah menjamin keamanan dana yang disimpan nasabah baik di bank pemerintah maupun di bank swasta nasional melalui pengumuman pada tanggal 27 Januari 1998, dampak likuidasi tidak terelakkan. Para nasabah terdorong untuk menarik dana mereka secara besar-besaran (rush) dari perbankan nasional karena khawatir dengan adanya kemungkinan pelaksanaan likuidasi lanjutan yang akan membahayakan keamanan dana yang mereka simpan tersebut. Pemerintah berupaya menarik dana masyarakat dengan menaikkan suku bunga yang juga bertujuan untuk menekan inflasi dan mendorong apresiasi nilai tukar rupiah. Peningkatan suku bunga ini ternyata malah menimbulkan negative spread yaitu keadaan dimana bank mengalami kesulitan likuiditas karena beban bunga melebihi pendapatannya.

Kondisi perbankan nasional semakin terpuruk dengan adanya kredit macet sehingga menekan rasio kecukupan modal (capital Adequacy Ratio/CAR). Pemerintah kembali melakukan likuidasi terhadap bank-bank yang memiliki CAR dibawah 4% sampai akhir tahun 1998 dan memberikan dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Kebijakan ini memicu merger dan ditindaklanjuti dengan likuidasi terhadap sepuluh bank, serta tiga puluh delapan bank pada bulan Maret 1999 ditindaklanjuti dengan akuisisi terhadap sembilan bank nasional (Tim Bank Muamalat Indonesia, Republika 2001)
Selama krisis moneter (1997-1998) bank syariah dapat bertahan dan dapat menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan lembaga perbankan konvensional. Itu dapat dilihat dari relatif lebih rendahnya penyaluran pembiayaan yang bermasalah (non performing loan, tahun 2000 sebesar 12,96 % dan tahun 2001 sebesar 4,04 %, sumber: Bank Indonesia) pada bank syariah dan tidak terjadinya negative spread dalam kegiatan operasionalnya. Dengan filosofi utamanya, kemitraan dan kebersamaan dalam maupun risk, bank syariah terbukti prospektif untuk berkembang di tanah air.

Perkembangan perbankan syariah menunjukkan laju yang signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya peningkatan nilai asset perbankan syariah yang telah mencapai Rp 4,78 triliun. Sementara dana pihak ketiga mencapai Rp 3,4 triliun, dengan pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah telah mencapai Rp 3,86 triliun. Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan untuk jumlah asset sebesar 18,22%, dana pihak ketiga sebesar 16,66%, dan pembiayaan yang disalurkan 17,73% dibandingkan terhadap posisi masing-masing di akhir tahun 2002 (Deputi BI Maulana, Republika 25/6/2003)

Salah satu tantangan yang kini banyak dihadapi dan paling berat adalah banyaknya tudingan yang mengatakan bank syariah hanya sekedar perbankan konvensional yang ditambah label syariah. Tantangan lainnya adalah bagaimana menonjolkan ciri khas perbankan syariah, yakni bank yang secara langsung membangun sektor riil dengan prinsip keadilan. Selain itu, dari aspek eksternal, sektor perbankan syariah memiliki tantangan dari sisi pemahaman sebagian masyarakat yang masih rendah terhadap operasional bank syariah. Mereka secara sederhana beranggapan bahwa dengan tidak dijalankannya sistem bunga, bank syariah tidak akan memperoleh pendapatan. Konsekuensinya adalah bank syariah akan sulit untuk survive.

Penelitian dilakukan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa lembaga penelitian yang berusaha untuk memetakan potensi pengembangan Bank Syari’ah yang didasarkan pada analisis potensi ekonomi dan pola sikap/preferensi dari pelaku ekonomi dan jasa Bank Syari’ah. Selain itu juga untuk mempelajari karakteristik dan perilaku dari kelompok masyarakat pengguna dan calon pengguna jasa perbankan syari’ah sebagai dasar penetapan strategi sosialisasi dan pemasaran bagi bank-Bank Syari’ah. Penelitian tersebut dilakukan di seluruh Pulau Jawa dengan mengambil sampel di beberapa kabupaten dan kotamadya, yang dibagi menjadi tiga wilayah penelitian: Jawa Barat, Jawa Tengah/DIY dan Jawa Timur.

Dari penelitian tersebut terungkap bahwa 95% responden berpendapat bahwa sistem perbankan penting dan dibutuhkan dalam mendukung kelancaran transaksi ekonomi. Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa kesan umum yang ditangkap oleh masyarakat tentang Bank Syari’ah adalah (1) Bank Syari’ah indentik dengan bank dengan sistem bagi hasil, (2) Bank Syari’ah adalah bank yang Islami. Namun berdasarkan survey yang dilakukan di wilayah Jawa Barat 8,1% responden yang menyatakan bahwa Bank Syari’ah secara ekslusif hanya khusus untuk umat Islam. Selain itu juga terungkap bahwa pengetahuan masyarakat tentang sistem perbankan syari’ah relatif tinggi. Meskipun demikian pemahaman mengenai keunikan produk/jasa Bank Syari’ah secara umum masih rendah.

Saat ini sebagian besar dari mereka hanya melihat bahwa nilai tambah bank syariah adalah lebih halal dan selamat, lebih menjanjikan untuk kebaikan akhirat, dan juga lebih berorientasi pada menolong antarsesama dibandingkan dengan bank konvensional. Hal tersebut memang benar, namun bank syariah memiliki keuntungan duniawi karena produk-produknya tidak kalah bersaing dengan bank-bank konvensional dan juga bagi hasil yang ditawarkan tidak kalah menguntungkan dibandingkan dengan bunga.

Dengan masih rendahnya pemahaman masyarakat akan pemahaman Islam apalagi masalah perbankan bahkan perekonomian secara lebih luas maka perbankan syariah harus terus berkembang dan memperbaiki kinerjanya. Dengan pesatnya pertumbuhan yang ditandai semakin banyaknya bank konvensional yang akhirnya mendirikan unit-unit syariah, ini membuktikan bahwa bank syariah memang mempunyai kompetensi yang tinggi. Perbankan syariah akan semakin tinggi lagi pertumbuhannya apabila masyarakat mempunyai permintaan dan antusias yang tinggi dikarenakan faktor peningkatan pemahaman dan pengetahuan tentang bank syariah, disamping faktor penyebab lainnya.

Pemahaman yang rendah terhadap perbankan syariah salah satunya diakibatkan kurang dan masih bersifat parsialnya sosialisasi yang dilakukan terhadap prinsip dan sistem ekonomi syariah. Dengan demikian hal tersebut mempengaruhi persepsi dan dan sikap masyarakat terhadap bank syariah. Maka tugas penting yang harus dilakukan oleh pengelola bank syariah adalah meningkatkan sosialisasi sistem bank syariah melalui media massa yang efektif, sehingga pengetahuan masyarakat mengenai bank syariah tidak hanya terbatas pada bank yang menggunakan sistem bagi hasil.

Mengapa memahami pengetahuan konsumen penting bagi pemasar ? Karena apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli, dimana membeli, dan kapan membeli, akan tergantung kepada pengetahuan konsumen mengenai hal-hal tersebut. Oleh karena itu, pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian. Ketika konsumen memiliki pengetahuan yang lebih banyak, maka ia akan lebih baik dalam mengambil keputusan. Ia akan lebih efisien dan lebih tepat dalam mengolah informasi serta mampu merecall informasi dengan lebih baik.

Kini bank syariah tumbuh dan berkembang pesat. Apalagi dengan hadirnya sejumlah Bank Umum Syariah (BUS) semakin memantapkan posisi perbankan syariah di Indonesia. Salah satu BUS yang sedang mendapat sorotan publik adalah Bank Syariah Mandiri (BSM) yang resmi beroperasi pada hari Senin, 1 November 1999, bertepatan dengan tanggal 25 Rajab 1420 H. BSM yang merupakan anak perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) hadir sebagai bank yang mengkombinasikan idealisme usaha dan nilai-nilai rohani dalam operasionalisasinya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani tersebut, menjadi salah satu keunggulan BSM sebagai solusi dan kiprah baru perbankan Indonesia.
Sementara itu, BSM sebagai bank umum syariah yang terbesar dan kini telah memiliki kantor cabang sebanyak 49 kantor cabang (KC), 29 kantor cabang pembantu (KCP), dan 47 kantor kas (KK) per Desember 2004 terus berkembang, baik dari segi aset, total dana pihak ketiga (DPK) maupun kinerja keuangan, neraca dan laba usaha.

Sorotan itu tampaknya tidaklah berlebihan karena Bank Syariah Mandiri dinilai memiliki tingkat akselerasi yang signifikan dalam menyemarakkan kiprah perbankan syariah di Indonesia. Selama lima tahun kiprahnya, BSM telah memperoleh sejumlah pengakuan dan prestasi yang cukup membanggakan, baik dari pemerintah, lembaga independen, MUI maupun lembaga internasional. Di antara prestasi yang diraih oleh BSM adalah The Best Quality Service dan The Most Comfortable Mushala dalam Islamic Banking Quality Award 2004 dari Karim Business Consulting (KBC) dan Majalah Modal.

Kemudian, Bank Terbaik 2004 Kategori Syariah dari Majalah Investor, Bank Sehat dari BI, Bank Sangat Bagus versi Infobank (sejak 2001), dan Perbankan Syariah Terbaik, berdasarkan kinerja, perstasi dan pengamalan syariat Islam dari MUI, serta Islamic Banking Award 2004 dari KBC dengan kategori The Wisest Market Are Coverage, The Biggest Market Share, The Fastest Growth of Funding dan The Most Innovative. BSM juga memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 bidang audit, bidang pembiayaan dan pelayanan dari Lloyd’s Register Quality Assurance-UKAS. Kini, di usianya yang keenam, BSM ingin melangkah lebih jauh. Yakni, menjadi bank Islam yang modern, baik dari segi pelayanan, kualitas, produk perbankan, jaringan maupun sistem teknologi informasi (Pengelola BSM, Muhammad Haryoko).

Adopsi perbankan syariah dalam sistem perbankan nasional bukanlah semata-mata mengakomodasi kepentingan penduduk Indonesia yang mayoritas sebagian besar muslim, namun lebih kepada adanya faktor keunggulan atau manfaat lebih dari perbankan syariah dalam menjebatani ekonomi. Dalam sistem perbankan konvensional, selain berperan sebagai jembatan antara pemilik dana dan dunia usaha, perbankan juga masih menjadi penyekat antara keduanya karena tidak adanya transferability risk and return. Tidak demikian halnya sistem perbankan syariah dimana perbankan syariah menjadi manajer investasi, wakil, atau pemegang amanat dari pemilik dana atas investasi di sector riil. Dengan demikian, seluruh keberhasilan dan resiko dunia usaha secara langsung didistribusikan kepada pemilik dana sehingga menciptakan suasana harmoni.

Kendati secara prinsip bank syariah memiliki advantage, namun dalam realitasnya bank syariah, tanpa terkecuali Bank Syariah Mandiri, menghadapi beberapa kendala dan kelemahan yang memerlukan pembenahan. Diantaranya yaitu jaringan operasi yang belum luas, institusi pendukung yang belum lengkap dan efektif, efisiensi operasional bank syariah yang belum optimal dan masih sedikitnya sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam perbankan syariah. Dari sisi konsumen, kelemahan lainnya yakni masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai kegiatan usaha jasa keuangan perbankan syariah. Keterbatasan ini menyebabkan banyak masyarakat yang memiliki persepsi yang kurang tepat mengenai operasi bank syariah.

Bank Syariah termasuk di dalamnya Bank Syariah Mandiri dituntut untuk lebih gencar dan berani membuka diri guna terus meningkatkan sosialisasi dengan masyarakat luas terutama dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya penerapan syariah dalam kehidupan tanpa terkecuali dalam aspek ekonomi.

Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bank syariah menjadi isu strategis dalam pengembangan bank syariah di masa yang akan datang. Semakin baik pengetahuan tentang bank syariah semakin tinggi kemungkinan untuk mengadopsi bank syariah. Sebagian besar masyarakat yang mengadopsi bank syariah masih dominan dipengaruhi oleh emosi keagamaan belum berdasarkan pada pemahaman rasional yang baik.

Dengan mengetahui pentingnya pengetahuan konsumen tentang perbankan syariah, Bank Syariah Mandiri diharapkan dapat mengetahui dengan cara apa perusahaan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan nasabah.
Kondisi inilah yang menarik perhatian penulis untuk melakukan suatu penelitian dengan rumusan sebagai berikut :
Pengetahuan Konsumen (Consumer knowledge) Mengenai Perbankan Syariah dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah pada PT Bank Syariah Mandiri Tbk Cabang Bandung.

1.2 Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah

Identifikasi masalah yang diteliti berdasarkan latar belakang penelitian adalah berdasarkan fenomena yang terjadi diduga bahwa tingkat pemahaman masyarakat mengenai perbankan syariah masih tergolong rendah. Dengan masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai kegiatan usaha jasa keuangan perbankan syariah, menyebabkan banyak masyarakat yang memiliki persepsi yang kurang tepat mengenai operasi bank syariah. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah faktor psikologis termasuk di dalamnya yaitu faktor pengetahuan konsumen. Pengetahuan konsumen terdiri dari informasi yang disimpan di dalam ingatan. Penulis membatasi pada tiga jenis pengetahuan konsumen yaitu pengetahuan tentang atribut produk, manfaat produk, dan nilai kepuasan yang diperoleh dari produk yang ditawarkan perusahaan.

Di sisi lain, pemahaman konsumen akan mempengaruhi persepsinya terhadap sesuatu hal, dalam hal ini terhadap perbankan syariah. Pemahaman yang mendalam mengenai konsumen akan memungkinkan pemasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen, sehingga mau membeli apa yang ditawarkan pemasar. Oleh karena itu, pengetahuan konsumen turut memberikan andil pada proses pengambilan keputusan konsumen.

Adapun rumusan masalah yang diajukan adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengetahuan konsumen (berdasarkan atribut, manfaat, dan nilai kepuasan produk) mengenai perbankan syariah dan keputusan menjadi nasabah PT Bank Syariah Mandiri Tbk cabang Bandung yang terletak di Jl. Ir. H. Djuanda No. 74
2. Sejauh mana pengaruh pengetahuan konsumen terhadap keputusan menjadi nasabah
3. Jenis pengetahuan konsumen apa yang paling menentukan keputusannya untuk menjadi nasabah

Mei 13, 2009 at 11:43 pm Tinggalkan komentar

TINJAUAN PELAKSANAAN SALURAN DISTRIBUSI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENJUALAN PADA CV. AL – FATH PRODUCTION BANDUNG (PM-18)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, memiliki dampak yang luas disegala bidang. Salah satu bidang yang paling terkena dampaknya adalah sektor perekonomian. Bidang perekonomian memegang peranan penting dalam menunjang bidang – bidang yang lainnya, baik itu dalam aspek sosial, politik, pemerintahan, pertahanan dan keamanan serta kesejahteraan masyarakat.

Sebuah negara yang memiliki sistem perekonomian yang kuat akan mampu bersaing dengan negara – negara maju lainnya didunia. Indonesia sebagai negara yang kaya dan potensial akan sumber daya alamnya, harus dikelola dengan baik sehingga mampu menunjang bidang perekonomian. Dewasa ini perkembangan sektor perekonomian di Indonesia khususnya dunia usaha, baik yang dikelola pihak pemerintah maupun swasta sudah menunjukan hasil yang cukup menggembirakan, terutama perkembangan perekonomian Indonesia pasca kirisis.
Perusahaan sebagai pelaku dunia usaha dituntut harus mampu mengembangkan suatu rencana strategis pengembangan usaha terutama dalam menyikapi persaingan yang terjadi, untuk mencapai tujuan dan sasaran perusahaan dalam skala jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.

Untuk mencapai tujuan tersebut disadari bahwa tujuan pemasaran sangat diperlukan yaitu untuk membuat perusahaan memperoleh apa yang menjadi tujuan perusahaan.

Merancang sistem saluran distribusi dalam aspek strategi pemasaran adalah hal yang penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, yang mana strategi pemasaran merupakan cara untuk mengetahui faktor-faktor yang dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan agar dapat memperoleh keunggulan bersaing, meningkatkan volume penjualan dan laba perusahaan yang maksimal. Strategi pemasaran mempunyai peran yang sangat penting untuk keberhasilan perusahaan umumnya dan dibidang pemasaran khususnya. Disamping itu saluran strategi pemasaran harus dapat memberi gambaran yang jelas dan terarah tentang apa yang akan dilakukan perusahaan dalam menggunakan kesempatan atau peluang pada beberapa pasar sasaran.

Salah satu prioritas dalam penentuan strategi pemasaran perusahaan adalah dalam aspek penentuan saluran distribusi pemasaran produk. Karena perusahaan yang mampu menerapkan dan mengembangkan strategi saluran distribusi pemasaran yang tepat, dapat menghasilkan volume penjualan produk yang optimal, sehingga menghasilkan laba dan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang masalah pelaksanaa strategi saluran distribusi produk pada CV. Al-Fath Production Bandung. CV. Al-Fath Production Adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi dan distribusi produk fashion, printing, Accesories, souvenir, dll. Penulis akan mencoba membahas mengenai pelaksanaan saluran distribusi yang diterapkan perusahaan dengan judul :
“TINJAUAN PELAKSANAAN SALURAN DISTRIBUSI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENJUALAN PADA CV. AL-FATH PRODUCTION BANDUNG

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1. Apa tujuan pelaksanaan saluran distribusi pemasaran dalam upaya meningkatkan volume penjualan pada CV. Al – Fath Production di Bandung
2. Bagaimana pelaksanaan saluran distribusi pemasaran dalam upaya meningkatkan volume penjualan pada CV. Al – Fath Production di Bandung
3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung pelaksanaan saluran distribusi pemasaran dalam upaya meningkatkan volume penjualan pada CV. Al – Fath Production di Bandung
4. Hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan saluran distribusi pemasaran dalam upaya meningkatkan volume penjualan pada CV. Al – Fath Production di Bandung

Mei 13, 2009 at 11:42 pm Tinggalkan komentar

PELAKSANAAN PROMOSI DALAM UPAYA MEMELIHARA LOYALITAS PELANGGAN PADA PT.INDOSAT Tbk. CABANG BANDUNG (PM-17)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan perekonomian di negara Indonesia saat ini, juga pengaruh dari perkembangan teknologi yang menyebabkan perusahaan dalam perkembangannya dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif, sehingga membuat semakin ketatnya persaingan dalam dunia bisnis, dengan semakin ketatnya tingkat persaingan maka dibutuhkan pula fungsi pemasaran yang baik, sehingga tujuan yang di harapkan oleh perusahaan akan tercapai, karena pemasaran perupakan pilar utama yang penting dalam kelangsungan hidup perusahaan.

Perusahan yang unggul adalah mereeka yang dengan tangkas menyiasati perubahan bisnis dan dapat memanfatkan peluang-peluang yang ada, serta mereka yang berhasil memberikan kepuasan bagi pelanggannya, tentunya dengan sesuatu yang hal yang efektif dan efisien, salah satunya melalui komunikasi secara baik bagi pelanggannya, sehingga hubungan antara produsen atau perusahan dengan pelanggannya akan semakin erat dan harmonis.

Perusahaan membutuhkan komunikasi dengan pelanggannya yaitu dengan cara melakukan promosi, semakin gencar perusahaan melakukan promosi maka akan semakin dekat di benak pelanggannya. Oleh karena itu banyak perusahan yang berani mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk biaya promosi. Media atau alat promosi yang sering dilakukan perusahaan antara lain melalui: periklanan, Penjualan Personal, Pemasaran Langsung, Hubungan Masyarakat, dan Promosi Penjualan, Alat alat promosi tersebut dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dari perusahaan itu sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang masalah promosi dalam upaya mempertahankan loyalitas pelanggan pada PT.Indosat Tbk. Cabang Bandung yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi, penulis akan mencoba membahas mengenai promosi khususnya produk jasa telekomunikasi yang diterapkan perusahaan dengan judul :
“PELAKSANAAN PROMOSI DALAM UPAYA MEMELIHARA LOYALITAS PELANGGAN PADA PT. INDOSAT Tbk. CABANG BANDUNG”.

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah-masalah pokok sebagai berikut :
1.) Apa tujuan pelaksanaan promosi pada PT. Indosat Tbk cabang Bandung
2.) Bagaimana pelaksanaan promosi dalam upaya memelihara loyalitas pelanggan pada PT. Indosat Tbk cabang Bandung
3.) Faktor faktor yang Mendukung pelaksanaan promosi dalam upaya memelihara loyalitas pelanggan pada PT. Indosat Tbk cabang Bandung
4.) Faktor faktor yang menghambat pelaksanaan promosi dalam upaya memelihara loyalitas pelanggan pada PT. Indosat Tbk cabang Bandung

Mei 13, 2009 at 11:41 pm Tinggalkan komentar

SIRKULASI KERJA HOUSEKEEPING DI KARTIKA HOTEL PONTIANAK (PM-16)

BAB I PENDAHULUAN
Dunia kepariwisataan dewasa ini sedang mendapat perhatian dan sorotan yang sangat meningkat di berbagai negara maupun di berbagai dunia, hal ini terbukti dengan banyaknya dibangun biro-biro jasa, hotel-hotel/penginapan-penginapan, obyek-obyek wisata, sehingga banyak para pengunjung yang ingin menggunakan fasilitas tersebut. Jadi tak heran lagi bila banyak negara-negara yang berusaha ingin mengembangkan dunia kepariwisataannya.

Dalam kegiatannya sebagai seorang karyawan, khususnya karyawan hotel hendaknya dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya agar para tamu yang berkunjung mendapat kepuasan tersendiri serta mempunyai kesan yang baik bila pulang ke negaranya. Hal ini tidak terlepas dari sarana dan prasarana yang ada, antara lain misalnya :
Pelayanan penginapan/perhotelan, lokasi, alat-alat yang dipergunakan (sebab sektor perhotelan merupakan salah satu sarana pokok dalam pengelolaan Industri Pariwisata).
Hotel adalah merupakan suatu perusahaan yang menyediakan jasa dalam bentuk penginapan serta menyajikan segala makanan dan minuman serta fasilitas lainnya yang dijual secara teru-menerus.

Karena hotel bergerak dibidang jasa, maka pengelolaannya harus berdasarkan suatu bentuk organisasi yang gunanya untuk mempermudah dalam mempertanggung jawabkan setiap kegiatan dari departemen yang ada di hotel tersebut. Disamping itu untuk menetapkan masing-masing tugas dari setiap departemen, agar terjalin kerjasama yang baik antara departemen yang satu dengan departemen lainnya, begitu pula dengan para karyawannya.

A. Latar Belakang Masalah
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa, sebuah hotel berusaha untuk mewujudkan yang sebesar-besarnya keuntungan, untuk itu dituntut untuk mengutamakan kualitas pelayanan kepada para tamunya. Apabila kita memberikan pelayanan yang baik, maka para tamu jugalah yang akan menjadi alat promosi yang baik bagi hotel tersebut. Sehingga pihak hotel dapat meraih keuntungan dengan datangnya para pelanggan baru. Untuk mencapai tujuan tersebut maka sebagai seorang karyawan hotel hendaknya dituntut untuk menjadi tenaga yang profesional.

Untuk memperoleh tenaga kerja yang profesional, pada saat ini banyak didirikan Akademi-akademi yang memiliki jurusan Perhotelan. Begitu pula banyak didirikan kursus-kursus profesi yang memiliki jurusan tersebut. Untuk menjadi tenaga kerja profesional tersebut, selain dari pelajaran di bangku kuliah,

diadakan juga On The Job Training di Hotel berbintang. Dengan demikian dapat mempraktekkan langsung ilmu yang didapat dari bangku kuliah.
Atas dasar uraian tersebut di atas, maka penulis akan membahas salah satu departemen yang ada di Kartika Hotel Pontianak, dengan mengambil judul : “SIRKULASI KERJA HOUSEKEEPING DI KARTIKA HOTEL PONTIANAK”.

Mei 13, 2009 at 11:40 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

Oktober 2017
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Posts by Month

Posts by Category