Posts filed under ‘Sosiologi’

Contoh Skripsi Sosiologi

  1. Angkringan Dan Mahasiswa (Studi Tentang  Pemaknaan Angkringan Oleh Para Mahasiswa)
  2. Tingkat Kedisiplinan Masyarakat Dalam Menjaga Budaya Hidup Bersih Terhadap Lingkungannya Studi Kasus Pada Masyarakat Banaran Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang
  3. Pola Pengasuhan Anak Pada Keluarga Petani (Studi Tentang Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak Di Desa Badakarya, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara)
 Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Iklan

April 26, 2012 at 8:19 am Tinggalkan komentar

Pola Pengasuhan Anak Pada Keluarga Petani (Studi Tentang Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak Di Desa Badakarya, Kecamatan Punggelan, (SO-3)

BAB. I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara tradisional, keluarga merupakan unit sosial yang terkecil dari masyarakat dan merupakan suatu sendi dasar dalam organisasi sosial. Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyatakan dirinya sebagai manusia sosial di dalam hubungan dalam kelompoknya.

Di samping itu keluarga adalah suatu kesatuan sosial yang terkecil yang terdiri atas suami, istri, dan jika ada anak- anak yang didahului oleh perkawinan. Memang salah satu faktor mengapa individu itu membentuk keluarga adalah: mengharapkan anak atau keturunan. Tetapi itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Di samping faktor mengharapkan keturunan ada faktor-faktor lain yang menyebabkan membentuk keluarga yaitu:
1. Untuk memenuhi kebutuhan biologis atau kebutuhan seks.

2. Untuk memenuhi kebutuhan sosial, status, penghargaan dan sebagainya.
3. Untuk pembagian tugas misalnya: mendidik anak, mencari nafkah dan sebagainya.
4. Demi hari tua kelak, yaitu pemeliharaan di hari tua artinya setelah anak dewasa anak berkewajiban untuk memberikan kasih sayang
kepada orang tua. (Suwardiman, 1989: 121)

Suatu ikatan keluarga ditandai atau didahului oleh suatu perkawinan. Hal ini dimaksudkan bahwa perkawinan merupakan syarat mutlak terbentuknya suatu keluarga. Tanpa didahului perkawinan dua orang laki-laki dan perempuan yang tinggal di suatu rumah belum berhak disebut sebagai suatu keluarga. Keluarga, sebagai kelompok primer yang terikat oleh hubungan intim mempunyai fungsi-fungsi utama yang meliputi: pemberian afeksi, dukungan dan persahabatan, memproduksi dan membesarkan anak, meneruskan norma-norma kebudayaan, agama dan moral pada yang muda, membagi dan melaksanakan tugas-tugas di dalam keluarga maupun di luar serta mengembangkan kepribadian. Salah satu perbedaan yang cukup penting terlihat dari bentuk hubungan anggota-anggotanya yang lebih bersifat “gemeinschaff’ dan merupakan ciri-ciri kelompok primer, yang antara lain mempunyai hubungan yang lebih intim, kooperatif, face io face, masing- masing anggota memperlakukan anggota lainnya sebagai tujuan bukannya sebagai alat untuk mencapai tujuan. (Khaerudin, 1985:10)

Hubungan antara orang tua dan anak sangat penting artinya bagi perkembangan kepribadian anak, sebab orang tualah yang merupakan orang pertama yang dikenal oleh si anak. Melalui orang tualah anak mendapatkan kesan-kesan pertama tentang dunia luar. Bagi seorang bayi atau anak kecil, hubungan afeksi dengan orang tua merupakan faktor penentu, agar ia dapat “survive”. Penyelidikan Renespitz (Munandar, 1985:42), menunjukkan bahwa tanpa cinta kasih seorang bayi tidak dapat hidup terus; memperoleh cinta kasih merupakan kebutuhan dasar, seperti makan dan tidur. Orang tualah yang merupakan orang pertama yang membimbing tingkah laku anak. Terhadap tingkah laku anak mereka bereaksi dengan menerima, menyetujui, membenarkan atau menolak. Dengan demikian nilai terhadap tingkah laku berpengaruh dalam diri anak yang akan membentuk norma-norma sosial, norma-norma susila dan norma-norma tentang apa yang baik dan buruk, apa yang boleh atau tidak boleh.

Di dalam suatu keluarga yang harmonis semua fungsi keluarga dapat dijalankan dengan baik sehingga diharapkan keluarga itu menemukan kebahagiaan dan ketentraman dalam hidup berumah tangga. Seiring dengan perkembangan yang terus bergulir lembaga-lembaga dalam masyarakat terus mengalami perubahan baik itu perubahan progres maupun regres, termasuk di dalamnya adalah lembaga keluarga yang mengalami disorganisasi. Menurut Khaerudin (1987: 106-107) disorganisasi keluarga berkaitan erat dengan disorganisasi di dalam masyarakat yang lebih luas. Sikap-sikap, nilai-nilai dan norma-norma dan anggota keluarga merupakan gambaran dan kebudayaan yang berasal dan interaksi dan anggota-anggota dalam masyarakat luas. Suami-suami dan istri-istri sebagai individu menjabat peranan-peranan di dalam rnasyarakat yang lebih luas, juga di dalam subsistem keluarga yang kecil.

Keberhasilan perkawinan selanjutnya dipengaruhi oleh bagaimana mereka memenuhi peranan-peranan tersebut di dalam masyarakat. Nilai-nilai dan norma-norma yang mengalami pertentangan dalam dunia yang lebih besar diperlihatkan pada bagaimana masing-masing partner untuk menilai satu sama lain, yang selanjutnya merupakan faktor-faktor penting dalam menentukan jumlah perkawinan yang gagal.

Keluarga mempunyai sistem jaringan interaksi yang lebih bersifat hubungan interpersonal, dimana masing-masing anggota dalam keluarga dimungkinkan mempunyai intensitas hubungan satu sama lain; antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antara anak dengan anak. Sistem interaksi antar pribadi juga terdapat dalam keluarga petani. Keluarga petani merupakan keluarga yang anggota keluarganya (ayah/ibu) memiliki mata pencaharian bercocok tanam baik di sawah atau di ladang untuk menyambung hidup. (Khairuddin,1985:10-11)
Pada umumnya hubungan antara orang tua dan anak pada keluarga petani cenderung kurang intensif (jarang) artinya orang tua hanya bisa memperhatikan anak-anaknya pada saat sebelum atau sesudah bekerja, sehingga anak kurang mendapat kasih sayang dan perawatan yang cukup dan orang tua khususnya ibu. Bagaimanapun orang tua lebih dekat dengan anak- naknya sehingga orang tua dapat mengamati dan mengenal anaknya. Jarang orang tua menyadari bahwa banyak yang dapat mereka lakukan untuk merangsang perkembangan intelektual anak sebelum mereka masuk sekolah. Waktu yang tepat untuk belajar dan untuk merangsang dasar-dasar belajar adalah pada saat-saat jauh sebelum anak masuk sekolah. Oleh karena itu, orang tua diberi pengertian mengenai proses-proses belajar di masa dini ini, mereka dapat membantu merangsang kesenangan belajar anak untuk seumur hidupnya sekaligus meningkatkan kecerdasannya.

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa mendidik anak-anaknya
dengan cara-cara yang biasa (tradisional) dilakukan, tanpa disadari telah menghambat perkembangan mental anak. Cara-cara yang biasa (tradisional) yang dimaksud yaitu: anak dibiarkan berjam-jam dalam gendongan atau tempat tidur tanpa adanya variasi permainan dan orang tua yang penting si anak tidak menangis. Lain halnya dengan orang tua yang mengusahakan anaknya untuk bermain, dimana si anak diberi kesempatan untuk mendapat banyak pengalaman yang merangsang, si anak akan cepat “belajar untuk belajar”. Anak akan terdorong untuk senang belajar. Namun pada kenyatanya di desa banyak sekali orang tua yang membiarkan anak-anaknya berjam-jam di tempat tidur atau digendong. (Munandar, 1985: 45-46)

Kebiasaan mendidik anak dengan cara-cara tradisional juga dapat ditemukan di Desa Badakarya. Hal ini dimungkinkan karena pendidikan masyarakat secana umum di Desa Badakarya relatif rendah yang kebanyakan hanya tamat SD. Faktor lain yang berpengaruh di samping pendidikan yaitu masih terdapat ketergantungan dan sebagian penduduk desa pada usaha tani. usaha kerajinan tangan dan usaha kecil-kecilan. Usaha tani yang terdapat di Desa Badakarya meliputi: petani penyewa, penyakap dan buruh tani. Kehidupan perekonomian masyarakat desa Badakarya yang mengandalkan usaha tani dengan mekanisme yang tradisional masih tergolong lemah, pria dan wanita terpaksa mencari nafkah sebagai buruh tani dengan curahan waktu yang panjang tetapi hasilnya tidak seimbang, hal mana hanya cukup memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya yang paling minim. Oleh karena itu, orang tua tidak banyak memiliki waktu bersama anak-anaknya
sehingga anak-anak mereka cenderung berkembang tanpa asuhan orang tua. Para orang tua beranggapan bahwa anak mereka pada suatu saat nanti pasti akan berkembang dengan sendirinya tanpa perlu ada bimbingan dan asuhan dan orang tua. Akibatnya, mereka tidak memperhatikan kegiatan anak-anak mereka sehari-hari, dengan siapa mereka bergaul serta bagaimana kondisi lingkungan tempat si anak bermain. Bagi bayi atau anak kecil hubungan efektif dengan orang tua merupakan faktor penentu survive seperti cinta kasih, makan, minum dan tidur.

Pengasuhan anak (child rearing) adalah bagian dan proses sosialisasi tata pergaulan keluarga yang mengarah pada terciptanya kondisi kedewasaan dan kemandirian anggota keluarga atau masyarakat tersebut (Purwadarminta dalam Soetomo WE, dkk, 1989: 1-2). Wagnel dan Funk 1965 (Soetomo WE, dkk, 1989: 1-2) menyebutkan bahwa mengasuh meliputi menjaga serta memberikan bimbingan menuju pertumbuhan kearah kedewasaan. Sedangkan pengertian lain diutarakan oleh Webster (Soetomo WE, dkk, 1989: 1-2) yang intinya bahwa mengasuh itu membimbing menuju ke arah pertimbangan kedewasaan dengan memberikan pendidikan, makanan dan sebagainya terhadap mereka yang diasuh. Fungsi utama pengasuhan anak adalah mempersiapkan anak untuk menjadi warga masyarakat. Jadi tidak hanya menjaga dan rnengawasi anak tetapi di dalamnya meliputi mendidik baik sopan santun, menghormati orang, mengajarkan tentang disiplin dan keberhasilan anak bahkan memberi pengetahuan bagaimana seorang wanita atau laki-laki seharusnya bersikap dan memperkenalkan kebiasaan lainnya
(Soenarti, 1989:49).

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini


Maret 26, 2011 at 1:10 am Tinggalkan komentar

TINGKAT KEDISIPLINAN MASYARAKAT DALAM MENJAGA BUDAYA HIDUP BERSIH TERHADAP LINGKUNGANNYA Studi Kasus Pada Masyarakat Banaran (SO-2)

TINGKAT KEDISIPLINAN MASYARAKAT DALAM MENJAGA BUDAYA HIDUP BERSIH TERHADAP LINGKUNGANNYA Studi Kasus Pada Masyarakat Banaran Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang

KODE : SO-02

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada kenyataannya dewasa ini kondisi masyarakat Indonesia masih sangat memprihatinkan. Hal ini dapat ditemukan pada peristiwa-peristiwa yang masih sering terjadi di lingkungan masyarakat. Baik berupa penyimpangan- penyimpangan terhadap kaidah dan nilai yang berlaku dimasyarakat dengan berbagai macam perilaku. Salah satu diantaranya yaitu mengenai kepedulian masyarakat terhadap kondisi kebersihan lingkungan. Sehingga tak mengherankan apabila masyarakat Indonesia seringkali dirisaukan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah kondisi lingkungan.

Priodarminto (1994:15) mengatakan bahwa untuk mencapai pembangunan nasional diperlukan usaha untuk mengembangkan dan membina kehidupan masyarakat yang tertib, dan berdisiplin murni yang tinggi mulai dari tingkat pribadi individu yang paling dini yaitu lingkungan keluarga, bahkan tingkat kehidupan individu sebagai mahluk sosial yaitu masyarakat, karena keluarga batih merupakan unsur paling pokok dari setiap masyarakat. Oleh karena itu keluarga merupakan tempat penanaman nilai kedisiplinan demi tercapainya pembentukan fisik, mental sepiritual manusia Indonesia yang tangguh

Berdasarkan kenyataan kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia maka tingkat kedisiplinan dapat dilihat dari kepedulian masyarakat terhadap
lingkungan yang ada disekitar mereka. Kondisi suatu masyarakat dalam

kesehariannya tidak boleh terabaikan. Karena di tengah publik inilah penerapan disiplin bangsa Indonesia itu dilakukan, diuji dan dinilai ketangguhannya (Hidayah, 1996:3-5).

Menurut Suratman dalam Hidayah (1996:12) sikap disiplin selalu ada kaitannya dengan tiga unsur kepribadian manusia, yaitu jiwa, watak dan perilaku. Berkenaan dengan jiwa maka disiplin itu ditentukan oleh tingkat daya cipta, rasa dan karsa. Dalam tingkat ini disiplin mengandung aspek manusia memenuhi sesuatu melalui pengendalian ketiga unsur kejiwaan tersebut. Sehingga disiplin diartikan sebagai perbuatan kepatuhan yang dilakukan dengan sadar untuk melaksanankan suatu sistem dengan sikap menghormati, dan taat menjalankan keputusan, perintah atau aturan yang berlaku.

Dalam hal ini Koentjaraningrat (1983: 15) menyebutkan pada hakikatnya membangun suatu bangsa atau masyarakat tidak hanya menyangkut pembangunan yang berupa fisik melainkan juga yang bersifat non fisik. Hal inilah yang harus mendapatkan perhatian agar tercipta adanya keselarasan dan keseimbangan yang saling mendukung. Menciptakan lingkungan yang nyaman, tertib, bersih dan juga sesuai dengan kaidah-kaidah dan aturan yang berlaku di masyarakat perlu adanya kesadaran dan kepedulian setiap anggota masyarakat terhadap situasi dan kondisi lingkungan yang ada disekitar mereka karena lingkungan merupakan tempat manusia untuk menjalankan berbagai aktifitas dan interaksi dengan yang lain, dengan demikian lingkungan yang nyaman, tertib, serta budaya hidup sehat dan bersih dapat terwujud.

Menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat adalah tangung jawab bersama. Khususnya masyarakat yang ada disekitar lingkungannya. Mereka memiliki peran yang penting dalam menjaga lingkungan serta menciptakan budaya lingkungan yang bersih dan sehat.
Satu fenomena yang menarik bahwa tingkat kepedulian dan kesadaran masyarakat Banaran terhadap kebersihan lingkungan masih kurang. Meskipun pemerintah (Lembaga Kelurahan maupun RT dan RW) sudah berupaya memberikan pembinaan, pembimbingan serta pengarahan tentang kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan yang ada disekitar mereka. Rendahnya tingkat kepedulian dan kesadaran masyarakat Banaran terhadap kondisi lingkungan dapat dilihat dari cara hidup masyarakat yang sebagian besar belum mencerminkan budaya hidup bersih dan sehat.

Hal ini dapat dicermati masih banyak sampah yang berserakan dan menumpuk dilingkungan tempat tinggal disekitar mereka, sisa-sisa plastik dan makanan, tempat seperti sumur ( tempat MCK) yang jarang dibersihkan serta selokan-selokan yang memang sengaja dibendung oleh salah satu warga. Sehingga hal tersebut menyebabkan penyumbatan saluran air dan menjadi sarang bibit nyamuk, serta menyebabkan ganguan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Satu hal lain yang dapat diamati yaitu kebanyakan masyarakat Banaran cenderung menganggap enteng mengenai masalah kondisi kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka dan terhadap pola perilaku terhadap kesehatan.

Dalam lingkungan masyarakat masalah tersebut di atas, merupakan hal yang biasa dan tidak cukup menarik untuk dipermasalahkan. Akan tetapi kalau dibiarkan begitu saja, justru dapat menimbulkan pengaruh yang kurang baik, terutama terhadap kebersihan lingkungan dan kesehatan. Pada prinsipnya peningkatan kesehatan masyarakat memerlukan adanya keikutsertaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan terutama penanaman budaya hidup bersih dan sehat sejak dini dalam keluarga.

Berdasarkan fenomena-fenomena yang dikemukaan di atas maka masyarakat Banaran menjadi tempat pilihan penulisan skipsi ini. Selain itu menurut hasil pengamatan PKM (Penelitian Kesehatan Mayarakat) yang dilakukan oleh mahasiswa IKM Universitas Negeri Semarang (2005) terhadap kesehatan masyarakat di Banaran dengan didukung oleh kantor Kelurahan dan Puskesmas setempat ditemukan adanya permasalahan kesehatan masyarakat yaitu diataranya angka kejadian pernyakit gondongan (Parotitis) yang disebabkan oleh adanya faktor perilaku yang kurang sehat dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang ada disekitar mereka.

Dari uraian di atas inilah ketertarikan untuk mendiskripsikan mengenai masalah kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kebersihan dilingkungannya. Untuk itu mengambil judul skripsi tentang “Tingkat Kedisiplinan Masyarakat Dalam Menjaga Budaya Hidup Bersih Terhadap Lingkungannya” Studi Kasus Pada Masyarakat Banaran, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Semarang.

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Istilah disiplin kerap sekali kita dengar disekitar kita, bahkan banyak sekali slogan-slogan yang ditunjukan untuk meningkatkan dan menerapkan sikap disiplin. Istilah disiplin sering ditunjukan pada seorang manakala ia memetuhi peraturan yang ada dan selalu tepat waktu. Hal ini tentunya tidak semua orang memiliki pandangan atau persepsi yang sama. Begitu pula dalam penerapan kedisiplinan oleh setiap individu dilingkungannya. Semua tergantung pemahaman dan kesediaan individu untuk membiasakan hidup disiplin.

Menerapkan sikap disiplin dalam masyarakat tidak mudah. Perlu adanya dorongan baik dari dalam maupun dari luar individu untuk dapat menerapkannya. Sikap disiplin memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat misalnya yang sering terjadi dilingkungan yaitu terjangkitnya wabah pernyakit, banjir, sampah yang menumpuk dan masih banyak lainnya yang disebabkan oleh salah satunya yaitu perilaku, serta kedisiplinan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.

Dari hal-hal tersebut di atas muncul beberapa masalah yaitu: (1) bagaimana persepsi masyarakat terhadap budaya hidup bersih, (2) tingkat kedisiplinan masyarakat dalam menjaga dan mewujudkan budaya hidup bersih, (3) bagaimana kepedulian dan peranan masyarakat dalam menjaga budaya hidup bersih. Berdasarkan masalah yang ada dan uraian latar belakang yang dikemukakan diatas, maka untuk memfokuskan masalah dalam penelitian, dilakukan pembatasan sebagai berikut yaitu:

1. Bagaimana persepsi masyarakat Banaran mengenai budaya hidup bersih lingkungannya.

2. Upaya apa saja yang dilakukan masyarakat Banaran dalam rangka menjaga budaya hidup bersih di lingkungannya.
3. Bagaimana masyarakat Banaran menerapkan kedisiplinan dalam menjaga budaya hidup bersih dilingkungannya.

C. Tujuan Penelitian

Berkenaan dengan masalah di atas penelitian bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan tentang “Tingkat Kedisiplinan Masyarakat Dalam Menjaga Budaya Hidup Bersih terhadap Lingkungannya” dengan Studi kasus pada masyarakat Banaran Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang yaitu untuk mengetahui:
1. mengetahui bagaimana persepsi masyarakat Banaran tentang budaya hidup bersih lingkungannya.
2. Mengetahui upaya apa saja yang dilakukan masyarakat Banaran dalam rangka menjaga budaya hidup bersih dilingkungannya.
3. Mengetahui bagaimana masyarakat Banaran dalam penerapan kedisiplinan dalam menjaga budaya hidup bersih lingkungannya.

D. Kegunaan Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah:

1. Kegunaan Secara Teoretis

Secara teoretis penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu: a)

sebagai masukan kepada masyarakat untuk meningkatkan kedisiplinan dalam

menjaga kebersihan lingkungan, b) sebagai masukan kepada masyarakat mengenai pentingnya sikap disiplin dan kepedulian terhadap kondisi kebersihan lingkungan, c) memberikan pengetahuan tentang manfaat menjaga budaya hidup bersih bagi anggota masyarakat khususnya terhadap kesehatan mereka.
.

2. Kegunaan Secara Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk: a) menjadi pertimbangan kepada pihak-pihak yang berwewenang, untuk meningkatkan pembinaan tentang kedisiplinan dilingkungan masyarakat. b) sebagai masukan sekaligus informasi para instansi pemerintah yang bergerak dalam bidang kesehatan untuk memperhatikan dan meningkatkan kedisiplinan masyarakat menjaga budaya hidup bersih lingkungannya, c) memberikan pengetahuan bagi para masyarakat dalam menciptakan kedisiplinan dalam menjaga budaya hidup bersih dilingkungan, d) sebagai tumpuan bagi peneliti selanjutnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

E. Sistematika Skripsi

Penulisan skripsi ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian akhir skripsi. Bagian awal skripsi yaitu berisi tentang: halaman judul, persetujuan pembimbing, pernyataan, moto dan persembahan, prakarta, sari, daftar isi dan daftar gambar, daftar tabel dan daftar lampiran. Pada bagian inti skripsi bagian ini terdiri dari lima Bab yang meliputi:

Bab I: Pendahuluan, merupakan gambaran menyeluruh dari isi skripsi yang meliputi: latar belakang penelitian, identifikasi masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penelitian.

Bab II: Telaah pustaka dan kerangka berpikir; pada bab ini berisi mengenai telaah pustaka dari sejumlah teori yang dapat dijadikan landasan dalam penulisan, meliputi tinjauan konseptual yang membahas: kedisiplinan, masalah lingkungan, budaya hidup bersih, hubungan masyarakat dan lingkungan, masyarakat dan kebersihan lingkungan, dan kerangka berpikir.

Bab III: Metode penelitian, bab ini menguraikan tentang penelitian meliputi: pendekatan penelitian, lokasi dan fokus penelitian, sumber data penelitian, pengumpulan data, validitas data, analisis data, tahap pelaksanaan penelitian.

Bab IV: Hasil penelitian dan pembahasan, bagian ini menguraikan tentang hasil penelitian yang meliputi: gambaran umum penelitian yaitu: lokasi penelitian, situasi dan kondisi lingkungan. Bagian pembahasan meliputi: a) persepsi masyarakat terhadap budaya hidup bersih, b) upaya masyarakat dalam menjaga budaya hidup bersih, c) kedisiplinan masyarakat dalam menjaga budaya hidup bersih lingkungannya.
Bab V: Penutup, bagian ini terdiri dari simpulan dan saran.

Adapun untuk bagiaan akhir skripsi berisi tentang daftar pustaka dan lampiran- lampiran.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Mei 31, 2010 at 7:44 am Tinggalkan komentar

Angkringan dan Mahasiswa (Studi Tentang pemaknaan angkringan oleh para mahasiswa) (SO-1)

Angkringan dan Mahasiswa (Studi Tentang pemaknaan angkringan oleh para mahasiswa)

KODE : SO-1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuntutan mengenai tingkat kesejahteraan hidup manusia yang optimal memang merupakan tuntutan universal bagi seluruh manusia. Ketidakseimbangan antara needs dan resources adalah fenomena universal yang disebabkan oleh kecepatan pertumbuhan penduduk yang diikuti kebutuhan hidup yang melaju lebih cepat dibandingkan dengan ketersediaan sumber-sumber kebutuhan hidup. Hal ini juga berkaitan dengan pencari kerja yang semakin bertambah banyak dan disisi lain tidak diikuti dengan ketersedian lapangan kerja baru.

Keterbatasan pertumbuhan sektor modern dalam menyerap tenaga kerja mengakibatkan mereka yang tidak dapat diserap oleh sektor industri modern mencari alternatif lain dalam mencari pekerjaan di luar sektor tersebut. munculah kemudian apa yang disebut dengan sektor informal. Istilah sektor informal itu sendiri pertama kali dilontarkan oleh Keith Hart yang dituangkannya pada penelitiannya di Ghana pada tahun 1973. Ia mengungkapkan bahwa kesempatan memperoleh penghasilan di kota tidaklah selalu diidentikkan dengan proses industrialisasi yang serba canggih tetapi terdapat pula kegiatan ekonomi yang tidak terorganisir yaitu sektor informal. Meluasnya migrasi penduduk dari desa menuju kota sebagai akibat terkonsentrasinya pembangunan ekonomi di kota-kota besar semakin menjadikan sektor informal pada posisi strategis sebagai ruang yang menyediakan peluang ekonomi bagi masyarakat marginal. Di sini sektor informal justru dapat berfungsi sebagai katup penyelamat yang dapat meredam ledakan sosial sebagai akibat meningkatnya pencari kerja baik dalam kota maupun pendatang dari desa. Bahkan lebih jauh lagi, Hernando de Soto melihat sektor informal justru merupakan kekuatan tersembunyi untuk memperbaiki sistem ekonomi pasar yang tidak aksesibel (Hernando de Soto,88:1991).

Sektor informal sendiri tidak dapat dilepaskan dari proses pembangunan. Terdapat dua pemikiran yang berkembang dalam memahami kaitan antara pembangunan dan sektor informal Pertama: Pemikiran yang menekankan bahwa kehadiran sektor informal sebagai gejala transisi dalam proses pembangunan di Negara sedang berkembang. Sektor informal adalah tahapan yang harus dilalui dalam menuju tahapan modern, pandangan ini berpendapat bahwa sektor informal berangsur-angsur akan berkembang menjadi sektor formal seiring dengan meningkatnya pembangunan. Berarti keberadaan sektor informal merupakan gejala sementara dan akan terkoreksi oleh keberhasilan pembangunan. Kedua: Pemikiran kedua berpendapat bahwa kehadiran sektor informal merupakan gejala adanya ketidakseimbangan kebijaksanan pembangunan, kehadiran sektor informal dipandang sebagai akibat kebijaksanaan pembangunan yang dalam banyak hal lebih berat pada sektor modern (perkotaan) atau industri dari pada sektor tradisional (pertanian). Sektor informal akan terus hadir dalam proses pembangunan selama sektor tradisional tidak mengalami perkembangan (Tadjuddin Noer Effendi: 77:1993).

Sektor informal pada umumnya dimasuki oleh kaum migran kota yang tidak mempunyai akses untuk memperoleh penghasilan pada sektor formal karena keterbatasan keahlian dan pengalaman yang disyarakatkan sektor formal. Sethuraman menemukan bahwa mereka yang terlibat dalam sektor informal pada umumnya miskin, kebanyakan dalam usia kerja utama (primer age), berpendidikan rendah, upah yang diterima di bawah upah minimum, modal usaha rendah serta sektor ini memberikan kemungkinan untuk mobilitas vertikal (Chris Manning dan Noer Effendi,76:1985).

Sektor informal sebagai fenomena yang khas di negara-negara sedang berkembang dapat berupa kegiatan produksi dan distribusi barang maupun jasa. Misalnya saja pedagang kaki lima, pedagang asongan, tukang kredit dan unit-unit kegiatan lainnya. Salah satu contoh pedagang kaki lima yang hendak dibahas di sini ialah pedagang angkringan atau sering disebut di kota Purwokerto sebagai pedagang wedang hik. Pedagang angkringan adalah model perdagangan makanan dan minuman dengan menggunakan gerobak dorong yang biasanya berjualan pada malam hari, adapun yang dijual oleh pedagang angkringan yaitu macam-macam gorengan seperti pisang goreng, tempe mendoan, tahu goreng, bakwan, nasi bungkus, teh dan jeruk panas maupun dingin dan lain-lain yang dijajakan pada malam hari mulai selepas maghrib hingga tengah malam. Sebagai model perdagangan makanan yang menjajakan pada malam hari, pedagang angkringan dalam menyajikan dagangan memiliki karakteristik yang hampir sama antara pedagang angkringan satu dengan pedagang angkringan lainnya dimana hal ini menjadi ciri khas yang membedakan mereka dengan pedagang makanan lainnya, baik dari kondisi makanan dan minuman yang disajikan sampai suasana yang santai penuh kekeluargaan dan keakraban baik dari pedagangnya maupun dari para pembelinya.

Salah satu sifat angkringan adanya kenyamanan dan keleluasaan yang ditawarkan angkringan yang menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan angkringan dengan warung makan lain yang telah ada. Di angkringan kita boleh saja duduk berjam-jam tanpa harus khawatir akan mendapat usiran dari pemiliknya. Di angkringan pula kita boleh makan sambil jegang(duduk dengan kaki satu diangkat ) mengangkat kaki, bahkan bila memungkinkan sambil tiduran. Banyak pedagang angkringan menyediakan tikar untuk lesehan pengunjung atau pembeli, dimana hal ini memberikan suasana khas pada warung angkringan itu sendiri. Maka tak heran jika banyak mahasiswa yang menjadikan angkringan sebagai tempat konsumsi, mereka memilih angkringan karena suasana berbeda yang ditawarkan oleh para pedagang angkringan bila dibandingkan dengan warung makan lainnya.

Angkringan adalah suatu bisnis kecil, oleh rakyat dan bermodal kecil, cukup dengan modal yang kecil ditambah bekal tenaga dan kuat melek maka hasilnya bisa dikatakan lebih banyak dibandingkan dengan bekerja di pabrik. Angkringan pula yang telah berjasa melepaskan para pelakunya (masyarakat, terutama penduduk pedesaan di Klaten) dari lingkaran kemiskinan (Kompas, 28-05-2004), Berikut ini data nama para pedagang angkringan di Kota Purwokerto

Keberadaan pedagang angkringan nampak begitu nyata saat krisis ekonomi dan politik tahun 1997 memuncak. Badai politik, ekonomi, dan sosial yang mengguncang seluruh sendi bangsa ini menjelang dan pasca lengsernya Presiden Soeharto, nampak begitu nyata. Ini bisa kita lihat di kota Yogyakarta sebagai tempat munculnya pedagang angkringan pertama kali, dimana ketika kondisi atau keadaan semakin memburuk, pilihan tempat konsumsi yang murah menjadi alternatif yang tak terelakkan. Angkringan naik gengsi dan mendadak sontak menemukan maknanya yang kian jelas. Seperti yang diberitakan oleh harian kompas, di seluruh Yogyakarta setidaknya ada 1200-an paguyuban angkringan dan 2000-an pedagang angkringan yang menghidupi keluarganya dari kegiatan ekonomi rakyat ini. Diperkirakan 30.000 orang terlibat dan bergantung dari usaha angkringan ini. (Kompas, 4-03-2004).

Selain di kota Yogyakarta sebagai tempat lahir, tumbuh dan berkembangnya angkringan, di kota Purwokerto pun bermunculan pedagang-pedagang angkringan yang sebagian besar berasal dari Kecamatan Bayat Kabupaten Klaten (Jawa Tengah). Munculnya angkringan di Purwokerto dimulai sekitar tahun 1998 yang berlokasi di sekitar kompleks Universitas Jenderal Soedirman. Saat ini, pedagang angkringan di kota Purwokerto mulai terhimpun dalam wadah paguyuban pedagang angkringan yang sifatnya tidak resmi hanya sebatas wadah berkumpul dan saling membantu antar pedagang angkringan. Pedagang angkringan di Purwokerto sebagian besar berada di sekitar lingkungan kampus Unsoed Purwokerto, meskipun ada juga pedagang angkringan yang berada di luar kampus Unsoed yaitu kampus UMP (Universitas Muhammadiyah Purwokerto), dan di sekitar jalan jenderal Soedirman atau dekat alun-alun masing-masing hanya terdapat satu pedagang. Tidak seperti di kota Yogyakarta, Solo, dan Semarang yang dapat kita lihat di setiap sudut kota ada pedagang angkringan, ramainya daerah kampus oleh mahasiswa merupakan salah satu penyebab mengapa sebagian besar pedagang agkringan berada di sekitar kampus.

Pada umumnya diakui bahwa sektor informal memainkan peranan yang penting di daerah perkotaan, baik dalam hal menyerap tenaga kerja maupun menyediakan barang dan jasa yang murah bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Begitu juga halnya dengan angkringan, angkringan seolah menjadi tumpuan hidup kaum miskin kota, seperti tukang becak, buruh pertokoan, dan para pegawai. Fenomena ini barangkali terkait dengan tersebarnya para pedagang angkringan mulai dari tengah kota sampai pinggiran kota.
Sebagai penyedia kebutuhan barang dan jasa yang murah bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah, sudah semestinya jika angkringan kemudian dikaitkan dengan keberadaan kelompok masyarakat berpendapatan rendah sebagai konsumen tetapnya. Angkringan kemudian diidentikkan sebagai tempat konsumsi kelompok miskin kota yang melihat angkringan sebagai alternatif pilihan yang murah dalam pemenuhan kebutuhan dasar mereka.

Namun tampaknya asumsi ini tidaklah sepenuhnya benar. Kecenderungan yang ada sekarang ialah bahwa angkringan telah menjadi tempat konsumsi bagi semua lapisan sosial dalam masyarakat. Entah lapisan bawah, menengah atau yang disebut sebagai lapisan sosial atas. Sering terlihat mereka yang bepenampilan rapi, membawa handphone, berkendaraan sepeda motor dan mobil, bahkan mahasiswa yang dipandang oleh masyarakat sebagai calon-calon intelektual yang bersemangat, penuh dedikasi, enerjik, kritis, pintar dan berilmu sebab mereka digodok di sebuah tempat yang bernama Universitas tanpa segan-segan makan di angkringan. Mereka pun kadang-kadang rela mengantri untuk bisa mengambil makanan atau menunggu tempat yang kosong.
Kini angkringan bukan lagi milik orang-orang pinggiran atau orang-orang yang berkantung cekak (tipis atau orang yang mempunyai uang sedikit), namun mulai jadi sebuah life style baru bagi mahasiswa, mahasiswa yang menurut Basri adalah merupakan sekelompok kecil dari masyarakat yang sedang berkesempatan mengembangkan kemampuan intelektualnya dalam mendalami bidang yang diminatinya di perguruan tinggi (Basri:121:1995). Selain harganya relatif murah suasana santai di angkringan adalah daya tarik utama. Di angkringan, orang boleh makan sambil mengangkat kaki, bercanda dengan teman atau dengan pedagang angkringan, teriak atau bahkan mengeluarkan kata-kata yang kasar. Tetapi tak jarang angkringan menjadi ajang diskusi yang sangat serius.

Angkringan bukan lagi sebagai tempat makan, melainkan juga sebagai tempat nongkrong (duduk-duduk), tempat mencari inspirasi, tempat diskusi serta curhat di kalangan mahasiswa. Ankringan adalah ruang bersama yang merangkai komunikasi dari berbagai latar belakang, angkringan adalah gaya hidup baru bagi mahasiswa Unsoed Purwokerto. Mereka (mahasiswa) datang ke warung angkringan bukan hanya sekadar untuk menghabiskan uang, akan tetapi juga untuk mengkomunikasikan makna-makna tertentu. Apa yang dikonsumsi bukan lagi sekadar obyek tetapi juga makna-makna sosial yang tersembunyi di dalamnya.

Yang menarik, sebagaimana yang terjadi di kota Purwokerto angkringan menjadi identik dengan kelompok mahasiswa. sebab dari setiap warung angkringan yang ada pengunjungnya didominasi oleh mahasiswa. Bahkan kita sulit melihat pengunjung selain mahasiswa yang nongkrong di angkringan. Kalaupun ada pengunjung angkringan yang bukan mahasiswa maka jumlahnya sangat kecil. Dan memang secara sekilas kita sulit membedakan antara pengunjung yang mahasiswa dengan yang bukan mahasiswa. mungkin karena dalam gambaran kita yang mengunjungi angkringan pastilah mahasiswa.
Atas dasar itu angkringan memiliki nuansa yang khas bila dibanding dengan warung makan yang lainnya sebagaimana telah disinggung, angkringan bisa saja menjadi ruang baru bagi mahasiswa untuk memperbincangkan berbagai permasalahan. Karena itu sebagai sebuah trend bisa saja angkringan menjadi semacam ruang resistensi bagi para mahasiswa terhadap kecenderungan budaya tinggi di sekitarnya (high style). Dalam konteks ini angkringan bisa menjadi sebuah ruang alternatif bagi mahasiswa.

Pertanyaan yang kemudian terlontar adalah mengapa kecenderungan tersebut ada. Apa yang menyebabkan orang-orang yang bisa dibilang berkecukupan tersebut rela mengantri hanya untuk menikmati sepiring nasi kucing, berbagai macam gorengan, sate usus, wedang jahe, baceman kepala dan ceker ayam(nama dari bagian tubuh ayam yaitu kaki, wedang (bahasa jawa yang artinya minuman) jahe susu, ataupun jenis-jenis makanan lain yang biasa disajikan di angkringan. Apakah faktor harganya yang relatif murah makanannya ataukah ada faktor-faktor lain yang mendorong mereka menjatuhkan pilihan pada angkringan sebagai tempat konsumsi mereka. Misalnya saja suasana nyaman yang tercipta ataupun lelucon yang kadang terlontar.

B. Perumusan Masalah
Menurut Biro Pusat Statistik (BPS) sektor informal didefinisikan sebagai unit usaha berskala kecil yang menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa dengan tujuan utama menciptakan kesempatan kerja dan penghasilan bagi dirinya sendiri, meskipun mereka menghadapi kendala baik modal maupun sumber daya fisik dan manusia (Subarsono, Materi Kuliah Problema Pembangunan.:dalam skripsi Tatik Haryani:Fisip UGM).

Usaha angkringan adalah salah satu bagian dari sektor informal yang merupakan bisnis yang menjual makanan dan minuman, dengan mempunyai modal yang kecil ditambah bekal tenaga yang kuat dan betah melek, bisnis angkringan berfungsi sebagai katup penyelamat yang dapat meredam ledakan sosial sebagai akibat meningkatnya pencari kerja di kota-kota besar baik yang berasal dari kota sendiri maupun dari desa.
Berbicara mengenai mahasiswa dalam menentukan pilihan warung makan bisa dilihat dengan ukuran kantung masing-masing mahasiswa, maka bagi mereka (mahasiswa) yang berkantung terbatas atau yang sedang kehabisan cadangan makanan seringkali menjatuhkan pilihan pada warung angkringan sebagai tempat makan. Tetapi tak jarang ada juga mahasiswa yang berkantung tebal juga menjatuhkan pilihan pada warung angkringan sebagai tempat konsumsinya atau hanya sekedar tempat untuk nongkrong bersama teman-teman sambil menikmati hidangan dari warung angkringan.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan yang ingin dijawab disini adalah tentang bagaimana angkringan dimaknai oleh para mahasiswa?

C. Tujuan Penelitian
sejalan dengan perumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana para mahasiswa memaknai keberadaan angkringan?
2. Untuk mengetahui motivasi yang mendorong mahasiswa untuk makan di angkringan?

D. Manfaat Penelitian.
A. Manfaat Teoritik Secara teoritik, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dan memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya disiplin sosiologi perkotaan yang kaitannya dengan sektor informal. Selain itu dapat memberi khasanah atau perbendaharaan bagi ilmu pengetahuan serta dapat dijadikan sumber informasi bagi peneliti lain dengan tema sejenis.

B. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aktivitas pedagang angkringan agar dapat memberikan gambaran sehingga dapat dijadikan bahan masukan bagi PEMDA dalam meningkatkan kesejahteraan pedagang angkringan di sekitar kampus Unsoed Purwokerto.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Mei 31, 2010 at 7:41 am Tinggalkan komentar


Kalender

November 2017
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts by Month

Posts by Category