Archive for Februari, 2011

KETIDAKPEDULIAN KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK AUTIS TERHADAP PENDIDIKAN REMAJA AUTIS (PSIK-8)

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Konteks Penelitian

Orang tua dituntut untuk peduli terhadap pendidikan anaknya. Sebagai pendidik yang utama dan pertama, orang tua mempunyai peran penting dalam mendidik dan membimbing anaknya. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab agar anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas, tetapi juga membuat anak menjadi pribadi yang mandiri, bertanggungjawab dan dapat menghadapi kehidupannya kelak dengan baik dan berhasil. Tugas mendidik dan membimbing anak, tidak hanya dilakukan oleh seorang ibu, namun juga seorang ayah. Orang tua, khususnya ayah tidak hanya bertanggung jawab dalam mendidik, namun juga dalam memenuhi biaya pendidikan anaknya, tidak terkecuali ayah yang berprofesi guru.

Ayah yang berprofesi sebagai guru, hendaknya dapat memberikan layanan pendidikan yang tepat untuk anaknya, terutama bila anak tersebut membutuhkan layanan pendidikan khusus seperti pada anak autis. Anak autis membutuhkan penanganan yang cukup berat, karena membutuhkan strategi yang berbeda dengan anak lain pada umumnya. Menurut Ginanjar (2008; 19) orang tua merupakan tokoh kunci yang sangat berperan dalam memberikan contoh, bimbingan, dan kasih sayang dalam proses pertumbuhan anak-anak. Orang tua diharapkan dapat memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhan anaknya.

Kepedulian terhadap anak autis hendaknya perlu ditingkatkan, hal ini mengingat bahwa jumlah penderita autis meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian menunjukan bahwa pada tahun 1987, ratio penderita autis
1:5000. angka ini meningkat tajam menjadi 1:500 pada tahun 1997, kemudian jadi 1:150 pada tahun 2000. Para ahli memperkirakan pada tahun 2010 mendatang penderita autis akan mencapai 60% dari keseluruhan populasi di dunia. Sekitar 80%, gejala autis terdapat pada anak laki-laki.(www.autis.or.id).
Semakin meningkatnya penderita autis tersebut hendaknya dibarengi dengan meningkatnya layanan untuk penderita autis. Namun pada kenyataannya, penanganan untuk anak autis masih sangat sulit hal tersebut karena penanganan anak autis membutuhkan biaya yang sangat mahal. Penderita autis dari keluarga tidak mampu menjadi terabaikan karena biaya pendidikan untuk anak autis sangat mahal. Kasus ini menimpa seorang satpam yang harus membiayai pendidikan anaknya yang autis sebesar seratus ribu per hari, sedangkan gajinya tidak mencapai seratus ribu per hari (Kompas Jawa Barat, 2008).

Sebagai orang tua yang mempunyai anak autis memang mempunyai tanggung jawab serta peran yang penting dalam memberikan pelayanan serta pendidikan bagi anaknya. Terutama orang tua yang berprofesi guru. Tidak hanya seorang ibu, ayah juga berperan serta dalam mendidik anaknya. Seorang ayah yang berprofesi guru yang mempunyai anak autis, mempunyai peran yang penting, karena selain membutuhkan pendidikan yang tepat, anak autis juga membutuhkan biaya yang besar dalam penanganannya. Biaya terapi yang harus dikeluarkan para orang tua autis terbilang sangat mahal. Apalagi terapi tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama dan tidak bisa dipastikan akhirnya. Salah satu sebab utama mahalnya biaya terapi bagi anak-anak penderita autis adalah karena tingginya juga bayaran untuk profesi di dunia autis, baik terapis, dokter, psikiater, maupun profesi terkait lainnya. Padahal masa depan anak-anak autis tergantung dari terapi yang optimal (www.portalinfaq.co.id)

Menurut Puspita dalam Hadis (2006; 113) bahwa peranan orang tua anak autis dalam membantu anak untuk mencapai perkembangan dan pertumbuhan optimal sangat menentukan. Tindakan awal yang perlu dilakukan oleh orang tua ialah orang tua perlu teliti dalam mengamati berbagai gejala yang nampak pada diri anak yang autis. Tindakan lainnya adalah memberikan penanganan kepada anaknya berdasarkan masalah dan gejala perilaku yang nampak pada diri anak autis. Sedangkan menurut Hamalik (2002; 33) peran seorang guru adalah selain sebagai pengajar juga sebagai pembimbing. Sebagai seorang pembimbing, guru berperan dalam proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat.

Meskipun mempunyai peran penting dalam pendidikan, pada kenyataannya profesi guru tidak menjadikannya lebih peduli terhadap pendidikan anaknya. Hal ini terjadi pada seorang ayah yang berprofesi guru Sekolah Dasar di desa Sumbergirang. Ayah yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar ini, mempunyai tiga orang anak dan seorang istri yang bekerja sebagai pegawai Tata Usaha di salah satu Madrasah Aliyah di Rembang. Salah satu anak dari keluarga ini menderita autis. Anak autis yang kini telah berusia 15 tahun ini, hanya memperoleh pendidikan di sebuah SLB hingga kelas tiga. Anak autis yang kini telah menginjak usia remaja ini merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Berdasarkan wawancara awal dengan subyek yang merupakan ayah dari remaja autis tersebut, anaknya berhenti sekolah karena tidak ada pengasuh yang dapat mengantar jemput anaknya ke sekolah. Bahkan setelah berhenti sekolah, remaja autis tersebut tidak mendapat pendidikan baik formal maupun non formal. Berbeda dengan dua anak subyek lainnya yang memperoleh pendidikan hingga Perguruan Tinggi, remaja autis ini hanya disekolahkan hingga kelas tiga SLB. Mengingat profesi ayahnya sebagai guru, remaja autis ini tidak seharusnya berhenti dalam memperoleh pendidikan. Sebagai seorang ayah sekaligus seorang guru, hendaknya subyek dapat bertanggungjawab dan menjalankan perannya secara maksimal.

Namun pada kenyataannya, subyek yang merupakan seorang guru, tidak menjalankan perannya secara maksimal, yakni membimbing dan mendidik anak. Hal ini terlihat ketika anaknya berhenti dari SLB, subyek tidak melajutkan pendidikan untuk anaknya di sekolah khusus autis ataupun mendidik dan membimbing anaknya di rumah.

Tentunya hal ini bertentangan dengan profesinya sebagai guru, yang seharusnya mempunyai kepedulian lebih besar terhadap pendidikan.
Berdasarkan latar belakang inilah maka peneliti tertarik untuk mengetahui secara mendalam tentang kepedulian orang tua yang berprofesi sebagai guru terhadap pendidikan remaja berkebutuhan khusus, dalam hal ini adalah remaja autis. Dalam penelitian ini peneliti mengambil judul “Ketidakpedulian Keluarga Yang Memiliki Anak Autis Terhadap Pendidikan Remaja Autis (Studi Kasus Pada Keluarga Dengan Ayah Yang Berprofesi Guru Di Desa Sumbergirang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang)”.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Iklan

Februari 25, 2011 at 12:57 pm Tinggalkan komentar

TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM WACANA KOMIK DI MAJALAH ANNIDA (PBI-3)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa digunakan manusia salah satunya yaitu sebagai alat komunikasi dengan lingkungannya. Tuturan manusia dapat diekspresikan melalui media massa baik lisan maupun tulisan. Dalam media lisan, pihak yang melakukan tindak tutur adalah penutur (pembicara) dan mitra tuturnya (penyimak), sedangkan dalam media tulis, tuturan disampaikan oleh penulis (penutur) kepada mitra tuturnya, yaitu pembaca.

. Sementara, untuk tuturan melalui media penutur dapat mengekspresikan tulisannya baik lisan maupun tulisan dengan memanfaatkan media massa. Media massa yang dapat dimanfaatkan untuk tuturan lisan adalah media elektronik, seperti televisi dan radio. Sedangkan, untuk media cetak seperti majalah, tabloid, dan surat kabar merupakan sarana cetak yang dapat dimanfaatkan oleh penulis (penutur) untuk disampaikan kepada pembaca (mitra tutur) dengan tujuan agar apa yang disampaikannya melalui media tulis mendapatkan respon dari para pembacanya (mitra tutur).

Media tulis yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat baik dikalangan remaja maupun dewasa salah satunya yaitu majalah. Ketertarikan masyarakat terhadap majalah dikarenakan penyajian serta pengemasan yang dibuat semenarik mungkin oleh penerbit, dengan maksud agar pembaca tertarik untuk membeli atau
membaca majalahnya tersebut. Selain itu, majalah juga banyak jenisnya, antara

lain majalah tentang seputar keagamaan, seputar kehidupan atau gaya hidup remaja dan lain-lain. Majalah yang mengkaji tentang seputar agama khususnya agama Islam salah satunya majalah Annida. Majalah Annida merupakan majalah yang berisi informasi berupa hiburan maupun pendidikan. Bagian hiburan yang terdapat dalam majalah Annida diantaranya cerpen (cerita pendek) dan komik, sedangkan bagian pendidikan berisikan pengetahuan baik cerita atau kisah-kisah maupun fenomena-fenomena yang terjadi dikehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat. Akan tetapi, penelitian ini hanya mengakaji satu objek penelitian, yaitu komik yang terdapat pada bagian hiburan dalam majalah Annida.

Komik merupakan salah satu alat komunikasi massa yang memberikan pendidikan, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa (Lubis dalam Rahayuningsih 2005:19). Selain itu, komik adalah bahan bacaan yang ringan dan menarik. Sebagai salah satu alat komunikasi, komik juga dapat melatih daya imajinasi setiap pembacanya yang diwujudkan dalam bentuk gambar dan teks (bahasa tulisan), karena gambar dapat berfungsi untuk membantu pembaca dalam mengimajinasikan informasi yang dibaca.

Bahasa tulisan yang terdapat dalam komik mengikuti gambar yang terdapat dalam komik. Bahasa dalam komik mampu menyampaikan informasi secara efektif dan efisien melalui gambar dan teks. Bahasa dalam komik bertujuan untuk alat komunikasi antara penulis dan pembacanya. Tuturan dapat memunculkan daya pengaruh terhadap mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Tuturan yang demikian disebut tindak tutur atau tindak ujar.

Tindak tutur sebagai wujud peristiwa komunikasi bukanlah peristiwa yang terjadi dengan sendirinya, melainkan memunyai fungsi, mengandung maksud, dan tujuan tertentu serta dapat menimbulkan pengaruh atau akibat pada mitra tutur. Tarigan (1990:145) mengemukakan bahwa komunikasi memunyai fungsi yang bersifat purposif, mengandung maksud dan tujuan tertentu, dan dirancang untuk menghasilkan efek, pengaruh, akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembicara. Demikian halnya dengan komik yang dibuat oleh penulis kepada pembacanya.

Komunikasi dengan bahasa membuat setiap orang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dengan bahasa pula orang dapat mempelajari kebiasaan, adat istiadat, kebudayaan dan latar belakang peserta komunikasi masing-masing. Komunikasi merupakan proses di mana seseorang menyampaikan rangsangan- rangsangan (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk mengubah tingkah laku orang lain. Komunikasi juga diartikan sebagai pengiriman atau penerimaan pesan atau informasi antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksudkan dapat dipahami.
Berkenaan dengan bermacam-macam maksud yang mungkin berkomunikasi, Leech (1983) berpendapat bahwa sebuah tindak tutur yaitu mencakupi: (1) penutur dan mitra tutur; (2) konteks tutur; (3) tujuan tuturan; (4) tindak tutur sebagai bentuk tindak atau aktivitas dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal.

Tuturan memunyai tujuan dan maksud tertentu untuk menghasilkan komunikasi. Tujuan tuturan merupakan salah satu aspek yang harus hadir di dalam suatu tuturan. Karena yang dimaksud dalam tujuan tuturan tersebut yakni upaya untuk mencapai suatu hasil yang dikehendaki oleh penutur kepada mitra tutur. Tujuannya yaitu untuk menyampaikan informasi, menyampaikan berita, membujuk, menyarankan, memerintah dan sebagainya. Dalam hal ini seorang penutur harus mampu menyakinkan mitra tuturnya atas maksud tuturannya.

Rustono (1999:29) mengemukakan bahwa tujuan tuturan adalah apa yang ingin dicapai penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Tujuan tuturan ini merupakan hal yang melatarbelakangi tuturan. Tuturan seseorang memiliki sebuah tujuan. Hal ini berarti tidak mungkin ada tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan.

Dipilihnya majalah Annida sebagai sumber data penelitian ini, dikarenakan majalah Annida adalah majalah yang dapat menghibur sekaligus mendidik para pembacanya terutama pengetahuan tentang agama Islam. Majalah Annida terbit dua kali dalam satu bulan. Disetiap edisinya disajikan informasi-informasi yang terbaru dengan fenomena-fenomena yang nyata terjadi dikehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Akan tetapi, penelitian ini dikhususkan pada komik yang terdapat pada bagian yang terdapat dalam majalah Annida, karena komik yang disajikan di majalah Annida ini dirasa dapat memberikan pengetahuan kepada pembacanya. Berdasarkan alasan tersebut peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang wacana komik di majalah Annida, terutama masalah tindak tutur.

Untuk itu, penelitian ini akan mengkaji jenis dan fungsi tindak tutur dalam wacana komik di majalah Annida.

Februari 25, 2011 at 12:54 pm Tinggalkan komentar

PENDIDIKAN ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA GELANDANGAN (Studi Kasus di Pekojan Kelurahan Jagalan Kecamatan Semarang Tengah) (P-66)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan moderen, Indonesia telah berkembang dengan pesat. Beberapa fasilitas infra struktur, seperti gedung, jalan bebas hambatan, jalan raya dan taman, telah dibangun dengan mantap dan indah. Akan tetapi hal tersebut mengalami hambatan bagi bangsa Indonesia yang dalam tahap berkembang, hambatan tersebut dimulai sejak adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan sehingga bangsa Indonesia pada masa sekarang masih menghadapi pemasalahan yang cukup kompleks, meliputi aspek politik, ekonomi, budaya, pendidikan serta sosial

Minimnya Pendidikan Formal masyarakat Indonesia merupakan suatu hambatan bagi bangsa Indonesia untuk berkembang maju. Berdampak negatif terhadap keluarga tidak mampu atau keluarga golongan bawah. Dampak negatif tersebut antara lain kemampuan keluarga dalam membiayai sekolah anaknya. Bagi keluarga gelandangan, permasalahan yang dialami itu bersifat multi demensional sehingga mengakibatkan kehidupannya semakin terpuruk. Munculnya gelandangan di lingkungan perkotaan merupakan gejala sosial budaya yang menarik. Gejala sosial ini kebanyakan dikaitkan dengan perkembangan lingkungan perkotaan, karena didaerah kota sampai saat ini relatif masih membutuhkan tenaga yang murah, kasar dan tidak terdidik dalam mendukung proses perkembangannya.

Kondisi semacam ini membuktikan bahwa semakin kuatnya dikotomi antara kehidupan yang “resmi” kota dan kehidupan lain yang berbeda atau berseberangan dengan kontruksi kehidupan yang resmi tersebut. Pada kenyataannya Indonesia pada saat ini merupakan salah satu negara sedang berkembang yang ketinggalan jauh dibandingkan dengan negara lainnya, seperti Jepang, Korea, Cina, Malaysia dsb. Keterbelakangan itu menyangkut di bidang ekonomi, teknologi maupun bidang pendidikan. Guna menanggula-ngi hal tersebut khususnya dibidang pendidikan, pemerintah berupaya mengadakan atau lebih menekankan program Pendidikaa Wajib Belajar 9 Tahun.

Karena kita sadari pendidikan diajarkan sejak anak masih kecil, jadi bahwasannya anak adalah generasi penerus bangsa yang diharapkan mampu mendapatkan pendidikan yang layak serendah-rendahnya setingkat SLTP sebagai bekal yang berguna bagi masa depannya kelak, di samping itu anak dapat menikamati masa kecilnya secara wajar dalam lingkup pergaulan yang layak. Hal ini perlu diperhatikan agar anak dapat tumbuh dan mengembangkan kepribadianya seiring dengan bertambahnya usia sampai berusia 16 tahun. Program tersebut berlangsung dari tahun 1990. Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun yaitu setiap anak minimal harus memiiki ijazah sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) bukan hanya sekedar sampai bangku sekolah dasar.

Kenyataanya program tersebut hanya dapat dinikmati atau dilaksanakan pada masayarakat golongan keluarga yang mampu, lain halnya dengan keluarga yang tidak mampu (keluarga gelandangan), bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah kurang, apalagi harus untuk
memikirkan biaya akan pendidikan bagi anaknya. Keadaan seperti inilah yang menyebabkan negara kita semakin terbelakang, karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah itu menjadi salah satu faktor utama mengakibatkan kita terpuruk. Keterpurukan itu berdampak negatif pada masyarakat, misal semakin sulitnya seseorang mencari suatu pekerjaan, karena semakin sempit serta semakin sedikitnya lapangan kerja yang ada sehingga rakyat sebagian hidup dalam keadaan yang tidak memiliki daya, sehingga menjadi suatu penyakit masyarakat yaitu Gelandangan.

Masalah gelandangan merupakan salah satu dari penyakit masyarakat yang dari dahulu tidak dapat ditemukan jalan keluarnya. Contoh dari masalah itu misalnya pemerintah sudah berupaya mengentaskan gelandangan tersebut dari keadaan. Kenyataannya keadaan itu akan kembali lagi seperti semula. Masalah tersebut akan terselesaikan apabila si gelandangan serta pemerintah berupaya penuh akan pengentasan kemiskinan tersebut.

Masalah ini berkaitan erat dengan beberapa faktor penyebab gelandangan yang paling dominan antara lain:
1. Kemiskinan

Kemiskinan baik kemiskinan kelembagaan maupun kemiskinan pribadi.

2. Lingkungan

Lingkungan juga merupakan salah satu faktor terjadinya gelandangan.
Yang paling utama dalam masalah ini adalah gelandangan yang sudah mempunyai keluarga serta mempunyai anak. Dari sinilah sudah tampak baik
secara langsung maupun tidak langsung adanya “regenerasi” dari gelandangan itu sendiri.

Umumnya keluarga gelandangan, khususnya orang tua tidak memikirkan pendidikan anaknya dengan alasan kondisi miskin yang menimpa keluarga tersebut. Orang tua tidak dapat memberikan bimbingan pada anak-anaknya, padahal pendidikan serta bimbingan orang tua atau orang dewasa yang berada di sekitar anak itu sangat dibutuhkan oleh anak pada usia pertumbuhan dan perkembangan dalam hidup ini. Data tersebut merupakan gambaran umum, akan tetapi juga banyak anak dari keluarga gelandangan yang dapat merasakan bangku sekolahan.

Pengamatan peneliti selama ini menunjukkan bahwa peran orang tua sangat dominan dalam pendidikan bagi anak. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang berperan terhadap perkembangan diri pribadi anak. Di samping itu kesadaran dalam diri anak untuk tetap bersekolah minimal sampai tingkat pendidikan lanjutan pertama masih kurang.

Masyarakat golongan kurang mampu (gelandangan), pada dasarnya gelandangan masih memiliki ketangguhan dan ketrampilan dasar, hanya karena sebab-sebab yang unik mereka tidak dapat hidup dan berkehidupan sebagai masyarakat yang pada umunya. Sebenarnya anak dari keluarga gelandangan membutuhkan dunia bermain maupun belajar di bangku sekolah. Umumnya banyak anak dari keluarga gelandangan yang tidak dapat mengenyam bangku sekolah serta mendapatkan bimbingan dari orang tua mereka dapat dilihat diberbagai tempat seperti halnya di traffic light disitu dapat dilihat banyak anak-
anak yang berkeliaran pada jam-jam dimana semestinya anak-anak sekolah, disisi lain ada juga sebagian yang dari keluarga gelandangan yang anaknya dapat sekolah. Anak-anak dari keluarga gelandangan pada umumnya malah harus berfikir bahwa yang penting ialah untuk segera dapat memenuhi kebutuhan dasarnya yakni pangan, sandang serta papan.

Februari 25, 2011 at 12:31 pm Tinggalkan komentar

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IQRO’ GUNA MENINGKATKAN KETERCAPAIAN KECAKAPAN HIDUP SISWA PADA PEMBELAJARAN PRINSIP-PRINSIP KLASIFIKASI, VIRUS, ..(P-65)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perubahan yang sangat pesat terjadi dalam berbagai bidang seperti politik, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini merupakan ciri/karakter dari dinamika di abad 21 yang merupakan abad informasi. Seiring dengan perubahan tersebut, lembaga pendidikan memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan peserta didik agar mampu hidup secara produktif di tengah masyarakat dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya.

Salah satu cara untuk mengantisipasi perubahan yang pesat tersebut, maka pendidikan yang hanya menekankan pada penanaman konsep (produk) menjadi tidak sesuai lagi. Selain penanaman konsep, pendidikan dewasa ini harus mampu mengembangkan kecakapan-kecakapan yang berguna untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan. Kecakapan ini sering disebut dengan Life Skills. Dalam kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) telah diupayakan untuk mensinergikan berbagai mata pelajaran dengan kecakapan hidup (Life Skills) sebagai pengalaman belajar. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru MA Al Asror Semarang didapatkan bahwa rata-rata nilai harian siswa kelas X pada materi virus dan
monera masih rendah. Nilai harian siswa pada tahun 2003/2004 dan tahun
2004/2005 secara klasikal <6,5. Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa aktivitas siswa rendah dan siswa cenderung pasif. Hal ini dimungkinkan karena metode pembelajarannya cenderung teoritik yaitu guru masih menggunakan metode ceramah. Jadi dalam proses pembelajaran masih banyak didominasi oleh guru.
Model pembelajaran iqro’ adalah suatu model pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada aktivitas siswa dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator.

Model pembelajaran iqro’ mempunyai tiga sintaks yaitu eksplorasi, konseptualisasi, dan komunikasi. Dengan model pembelajaran iqro’ siswa diajak untuk aktif mengeksploitasi lingkungan disekitar siswa, baik lingkungan alam, sosial, budaya, agama dan sebagainya. Dengan memanfaatkan lingkungan atau alam sekitar diharapkan pembelajaran biologi akan lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk dipahami sehingga siswa dapat mencapai hasil yang lebih baik, siswa juga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengkaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga hasil belajarnya lebih berdaya guna bagi kehidupannya.
Berdasarkan masalah-masalah yang ada dan segala sesuatu yang mendukung, penulis berkeinginan untuk menerapkan model pembelajaran iqro’ pada materi prinsip-prinsip klasifikasi, virus, dan monera. Dengan demikian diharapkan hasil belajar siswa lebih meningkat dan kecakapan hidup siswa dapat lebih ditingkatkan serta dalam kehidupan di masyarakat dapat mengaplikasikan kecakapan yang dimiliki untuk mengatasi masalah/problem yang dihadapi.

Februari 25, 2011 at 12:28 pm Tinggalkan komentar

THE EXPRESSIONS OF THE MAIN CHARACTERS’ LOVE IN THOMAS HARDY’S NOVEL THE RETURN OF THE NATIVE (Psychological Approach) (P-64)

CHAPTER I
INTRODUCTION

1.1 Background of the Study

The study is in the area of psychology analysis. Davidoff (1976: 2) explains that psychology is the science of behavior. While behavior itself is any human or animal process or activity that can be objectively observed or measured. The definition of behavior includes thoughts, feelings, dreams, and anything a person does or experiences.

On the area of psychology, psychologists have observed some phenomena such as thoughts, sensations, emotions, needs, motives, personality characteristics, and capabilities that cannot be observed or measured directly. These phenomena are called hypothetical constructs (Davidoff 1976: 2)

Psychology happens in human mind, which will give the impact on people’s activities everyday. We can learn the psychological study not only in the character of human in real life but also in such literary works, like novel, short story, poem, etc. According to William Henry as cited by Hardjana (1991: 59), psychology enters the area of literary criticism through four ways: (1) discussion about the process of literary creation, (2) psychological analysis of the author (either as a type or as a person), (3) discussion about psychological theories applicable to the analysis of the character’s behavior in literary works, (4) the influence of literary works on the readers.

Rees (1973: 20) states that literature is a writing which expresses and communicates thoughts or ideas, feeling or emotions, and attitude towards life. It means that through literature, we know other people’s feelings, thoughts, and attitude’s in the written form of language.

Kiel (1974: 9) states that fiction, as a part of literature, can be pointed as a fruitful field for exploration in the study of human personality. In psychology insight, the writers usually know many things between heaven and earth that the academic wisdom does not dream about. Great writers know how to give a unified picture of a whole personality trough minute observation of meaningful expression, a characteristic mannerism, or unconscious habit. It can be said that there is an intimate relationship between psychology and literature. Psychology helps to clarify some literary problems and literature presents insight to psychology. According to Henry L in his book entitled Psychology (1984:423), there are two classification of emotion as follows:

(1) Positive emotions (i.e. joy, love, and sexual excitement) (2) Negative emotions (i.e. anger, fear, sadness, and grief)
From the categories above, the writer will focus only on the positive emotion that is love. Love is the most complex and important thing from all human emotions (Tressider, 1997: 1). Love is a prominence and virtue based on the human life. The supreme value of human virtue is out poured from their regard to the life itself. In this case, the reality of a certain person or individual development always has direct relation to the attention and relation of conscious inter-subject. It can be described that life flows from and within love.

Along the history, for the sake of love, people are willing to ignore their importance; they even sacrificing their life to show the expressions of their love to others. If we love someone or our homeland for example, we will do anything for them. The Return of the Native is one of many novels that tells about it. The sacrifice and love are still found all over the countries in the world, including in our country, and is still relevant to be analyzed at the present life. Therefore, I interested in the novel that reveals these human values that is love and sacrifice.

Februari 25, 2011 at 12:26 pm Tinggalkan komentar

PENGARUH PEMBERIAN MERKURI KLORIDA TERHADAP STRUKTUR MIKROANATOMI HATI IKAN MAS (P-63)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah pencemaran lingkungan terutama masalah pencemaran air mendapat perhatian yang besar dari pemerintah, karena air merupakan salah satu unsur penting bagi makhluk hidup dan kehidupan. Sejalan dengan meningkatnya industrialisasi, konsentrasi unsur logam berat di dalam perairan juga meningkat, sehingga memungkinkan tercapainya tingkat konsentrasi toksik bagi kehidupan akuatik.

Salah satu logam berat yang terus meningkat konsentrasinya adalah merkuri. Kandungan merkuri di badan air Kali Surabaya, telah mencapai seratus kali lipat dari Baku mutu yang ditetapkan Pemerintah yaitu 0,001 mg/l. Kajian ECOTON mendeteksi adanya peningkatan kandungan merkuri pada tahun 2001 sebesar 0,0011 – 0,0049 mg/l, meningkat pada tahun 2002 menjadi 0,004 – 0,089
mg/l (Anonim, 2004c). Pencemaran merkuri juga terjadi di perairan umum
Cakung Dalam, Jakarta Utara. Tahun 2003 kadar merkuri meningkat dari
0,0012 ppm menjadi 0,0079 ppm dan telah melebihi Baku mutu Hg air Golongan
C sehingga kurang layak dimanfaatkan untuk perikanan (Anonim, 2003).
Dalam keseharian, pemakaian merkuri telah berkembang sangat luas. Merkuri digunakan dalam bermacam-macam perindustrian, untuk peralatan- peralatan elektris digunakan untuk alat-alat ukur dalam dunia pertanian dan

keperluan yang lainnya. Demikian luasnya pemakaian merkuri mengakibatkan semakin mudah pula organisme mengalami keracunan merkuri.
Merkuri telah dikenal sejak zaman Mesir kuno dan Romawi pada awalnya digunakan sebagai bahan pemisah emas dari batuan lain dalam proses pengolahan tambang. Merkuri telah digunakan untuk menambang emas selama berabad-abad karena racun tersebut harganya murah, mudah digunakan, dan relatif efisien. Namun dampak yang ditimbulkannya juga dapat dirasakan sampai berabad-abad kemudian. Merkuri merupakan suatu toksin yang bersifat kuat dapat merusak bayi dalam kandungan, sistem saraf pusat manusia, organ-organ reproduksi dan sistem kekebalan tubuh. Insiden besar yang diakibatkan oleh pencemaran mercuri terjadi di teluk minimata, jepang .

Diperkirakan 1.800 orang meninggal dunia karena memakan hasil laut dari perairan lokal yang tercemar merkuri (Arie, 2006). Ancaman kematian akibat bahan beracun itu semakin luas karena penggunaannya yang kini beragam. Merkuri juga digunakan untuk thermometer, bahan penambal gigi, juga baterai (Yun, 2004).
Pada industri manufaktur Vinilkhlorida di Jepang, merkuri digunakan sebagai katalis. Pemakaian merkuri pada industri tersebut telah mengakibatkan terjadinya pencemaran merkuri pada bidang perairan Teluk Minamata. Pada tahun
1960, untuk pertama kalinya dunia dihebohkan oleh suatu jenis penyakit kerapuhan pada tulang. Melalui pengujian-pengujian yang dilakukan, diketahui bahwa penyakit tersebut berawal dari keracunan logam berat merkuri yang masuk melalui ikan-ikan yang ditangkap di Perairan Teluk Minamata untuk dikonsumsi (Palar, 1994).

Gejala pencemaran merkuri juga mengintai Surabaya. Meurut Amsyari (2004), penelitian yang dilakukan tahun 2003 yang lalu menunjukkan kadar merkuri, arsen, cadmium, timbal dan tembaga di perairan sudah di atas ambang batas. Bahkan kandungan bahan kimia berbahaya ini juga terdapat pada ASI, rambut dan darah di tubuh masyarakat yang tinggal di pesisir. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perairan di muara sungai Surabaya, tepatnya di Kenjeran telah tercemar. Kondisi ini juga berimbas pada kehidupan nelayan yang hasil tangkapan ikan di perairan Kenjeran terus menurun.

Terdapatnya mekuri di perairan dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama oleh kegiatan perindustrian seperti pabrik cat, kertas, peralatan listrik, klorin dan soda kaustik. Penyebab yang kedua oleh alam yaitu melalui proses pelapukan dan peletusan gunung berapi. Pencemaran merkuri yang disebabkan kegiatan alam pengaruhnya terhadap biologi maupun ekologi tidak menimbulkan efek-efek yang merugikan, karena masih dapat ditolelir oleh alam itu sendiri (Budiono, 2003).
Merkuri masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa jalan, yaitu saluran pernapasan, pencernaan dan penetrasi melalui kulit. Merkuri yang masuk dalam tubuh organisme air tidak dapat dicerna, dan merkuri dapat larut dalam lemak. Logam yang larut dalam lemak mampu untuk melakukan penetrasi pada membran sel, sehingga akhirnya ion-ion logam merkuri akan menumpuk (terakumulasi) di dalam sel dan organ-organ lain. Akumulasi tertinggi biasanya dalam organ detoksikasi (hati) dan organ ekskresi (ginjal) (Palar, 1994).

Rand (1980) dalam Muhammad (2002), mengatakan bahwa salah satu jenis hewan yang direkomendasikan oleh EPA (Environmental Protection Agency) sebagai hewan uji adalah Cyprinus carpio L., karena ikan tersebut memenuhi persyaratan yaitu penyebarannya cukup luas, mempunyai nilai ekonomi yang menonjol, mudah dipelihara di laboratorium. Ikan pada umumnya mempunyai kemampuan menghindarkan diri dari pengaruh pencemaran air. Namun demikian, pada ikan yang hidup dalam habitat yang terbatas (seperti sungai, danau, dan teluk), ikan sulit melarikan diri dari pengaruh pencemaran tersebut. Akibatnya, unsur-unsur pencemaran logam berat masuk ke dalam tubuh ikan.

Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh yang terletak pada bagian sirip dalam rongga peritoneal dan melingkupi viscera. Bentuk hati seperti huruf U dan berwarna merah kecoklatan (Anonim, 2004a). Hati merupakan organ yang sangat rentan terhadap pengaruh zat kimia dan menjadi organ sasaran utama dari efek racun zat kimia (toksikan).

Hal ini disebabkan sebagian besar toksikan yang masuk ke dalam tubuh setelah diserap sel epitel usus halus akan dibawa ke hati oleh vena porta hati. Karena itulah organ hati sangat rentan terhadap pengaruh berbagai zat kimia dan merupakan organ tubuh yang sering mengalami kerusakan (Lu, 1995). Oleh sebab itu, penelitian mengenai kerusakan organ kritis khususnya hati ikan mas akibat Hg (merkuri) sangat penting untuk mengetahui sejauh mana kerusakan yang ditimbulkannya sebagai upaya mengkaji berbahayanya logam berat, dalam hal ini merkuri klorida terhadap kehidupan organisme perairan.

Februari 25, 2011 at 12:24 pm Tinggalkan komentar

REFERENSI DALAM WACANA TULIS BERBAHASA INDONESIA DI SURAT KABAR (P-62)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi sosial. Manusia dalam sepanjang hidupnya hampir-hampir tidak pernah dapat terlepas dari peristiwa komunikasi. Di dalam berkomunikasi manusia memerlukan sarana untuk mengungkapkan ide, gagasan, isi pikiran, maksud, realitas, dan sebagainya. Sarana yang paling utama dan vital untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah bahasa. Dengan demikian fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai sarana komunikasi. Setiap anggota masyarakat dan komunitas selalu terlibat dalam komunikasi bahasa, baik dia bertindak sebagai komunikator (pembicara atau penulis) maupun sebagai komunikan (mitra baca, penyimak, pendengar, atau pembaca)

Secara garis besar, sarana komunikasi verbal dibedakan menjadi dua macam, yaitu sarana komunikasi yang berupa bahasa lisan dan sarana komunikasi yang berupa bahasa tulis. Dengan begitu, wacana atau tuturan pun dibagi menjadi dua macam: wacana lisan dan wacana tulis. Kridalaksana (1978:23) berpendapat bahwa dalam konteks tata bahasa, wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Dari pendapat tersebut berarti bahwa apa yang disebut wacana mencakup kalimat, gugus kalimat, alinea atau paragraf, penggalan wacana (pasal, subbab, bab, atau episode), dan wacana utuh. Hal ini berarti juga bahwa kalimat merupakan satuan gramatikal terkecil
dalam wacana dan dengan demikian kalimat juga merupakan basis pokok pembentukan wacana.

Wacana merupakan tataran yang paling besar dalam hierarki kebahasaan. Sebagai tataran terbesar dalam hierarki kebahasaan, wacana tidak merupakan susunan kalimat secara acak, tetapi merupakan satuan bahasa, baik lisan maupun tertulis. Untuk wacana yang disampaikan secara tertulis, penyampaian isi atau informasi disampaikan secara tertulis. Ini dimaksudkan agar tulisan tesebut dapat dipahami dan diinterpretasikan oleh pembaca. Hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana tulis tersusun berkesinambungan dan membentuk suatu kepaduan. Oleh karena itu, kepaduan makna dan kerapian bentuk pada wacana tulis merupakan salah satu faktor yang penting dalam rangka meningkatkan tingkat keterbacaan.

Informasi yang disampaikan melalui wacana tulis tentu mempunyai perbedaan dengan infomasi yang disampaikan secara lisan. Perbedaan itu ditandai oleh adanya keterkaitan antarproposisi. Keterkaitan dalam wacana tulis dinyatakan secara eksplisit yang merupakan rangkaian antarkalimat secara gramatikal. Adapun untuk bahasa lisan keterikatan itu dinyatakan secara implisit, di mana kejelasan informasi akan didukung oleh konteks.

Berdasakan pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa bahasa lisan atau ujaran lebih ditekankan pada konteks dan situasi untuk lebih menjelaskan topik pembicaraan pada saat komunikasi. Lain halnya pada bahasa tulis, keterkaitan kalimat sebagai unsur pembangun wacana, harus dirangkaikan secara runtut sehingga menjadi wacana yang mempunyai kepaduan, baik
secara bentuk ataupun secara makna. Kelompok kata belum tentu disebut wacana bila rentetan itu tidak memberikan informasi yang lengkap unsur- unsur yang membangun wacana.

Melihat fenomena yang ada, dalam wacana tulis hubungan antarkalimat harus selalu diperhatikan untuk memelihara keterkaitan dan keruntutan antarkalimat. Di dalam ilmu bahasa keterkaitan dan kerapian bentuk dinamakan kohesi dan koherensi. Di dalam manifestasi fonetisnya kohesi dan koherensi memiliki peran yang sangat vital untuk memelihara keterkaitan antarkalimat, sehingga wacana menjadi padu, tidak hanya sekumpulan kalimat yang setiap kalimat mengandung pokok pembicaraan yang berbeda, melainkan satu unsur dalam teks harus menyatakan konsep ikatan (Nunan 1992:6).

Wacana merupakan sebuah struktur kebahasaan yang luas melebihi batasan-batasan kalimat, sehingga dalam penyusunannya hendaknya selalu menggunakan bentuk tulis yang efektif. Salah satunya dengan penggunaan kohesi internal yang tepat. Kohesi merupakan salah satu unsur pembangun wacana yang menjadikan wacana menjadi padu dan jelas secara gamatikal. Konsep suatu ikatan dalam kebahasaan merupakan unsur pembangun yang membentuk sebuah wacana, sehingga menjadi kesatuan rangkaian kalimat yang bermakna.

Pemakaian bahasa yang baik dan benar, berarti sesuai dengan tata gramatikal dalam wacana tulis. Suatu wacana mempunyai kesatuan makna yang diciptakan melalui hubungan yang kohesif antarkalimat dalam wacana
tersebut. Dengan hubungan yang kohesif itu, suatu unsur dalam wacana dapat diinterpretasikan sesuai dengan ketergantungan antarunsur-unsur (Halliday dan Hasan dalam Cahyono 1995:231). Dengan demikian, kalimat yang terdapat dalam wacana saling berkaitan.

Baryadi (2002:17) mengemukakan bahwa untuk menciptakan keutuhan, bagian wacana harus saling berhubungan. Sejalan dengan pandangan bahwa bahasa itu terdiri dari bentuk (form) dan makna (meaning), hubungan dalam wacana dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu hubungan bentuk yang disebut kohesi (cohesion) dan hubungan makna atau hubungan semantis yang disebut koherensi (coherence).

Salah satu hubungan bentuk dalam sebuah wacana dapat dilakukan dengan menggunakan penanda referensial. Hubungan referensial menandai hubungan kohesif wacana melalui pengacuan. Sumarlam (2003:23) menyebutkan bahwa pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual yang lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau mengikutinya.

Dalam wacana tulis terdapat berbagai unsur seperti pelaku perbuatan, penderita perbuatan, pelengkap perbuatan, perbuatan yang dilakukan oleh pelaku, dan tempat perbuatan (Alwi 1998:40). Unsur itu acap kali harus diulang-ulang untuk mengacu kembali atau untuk memperjelas makna. Oleh karena itu, pemilihan kata serta penempatannya harus tepat sehingga wacana tadi tidak hanya kohesif, tetapi juga koheren. Dengan kata lain, referensinya atau pengacuannya harus jelas.

Referensi di dalam bahasa yang menyangkut nama diri digunakan sebagai topik baru (untuk memperkenalkan) atau untuk menegaskan bahwa topik masih sama. Topik yang sudah jelas biasanya dihilangkan atau diganti. Pada kalimat yang panjang, biasanya muncul beberapa predikat dengan subjek yang sama dan subjek menjadi topik juga. Subjek hanya disebutkan satu kali pada permulaan kalimat, lalu diganti dengan acuan (referensi) yang sama. Perhatikan contoh berikut,
(1) Safira kembali ke Indonesia. Dia membeli rumah baru di daerah Kebayoran, dan mulai mengatur hidupnya kembali di tempat baru itu.

Pada contoh (1) kata ‘Safira’ merupakan topik yang diletakkan di depan paragraf. Pada kalimat berikutnya topik yang masih sama diulang kembali menggunakan penanda referensial persona ‘dia, dan -nya’, serta penanda referensial demonstratifa ‘itu’. Dengan adanya penanda referensial membuat kepaduan dalam kalimat. Apabila penanda ini dihilangkan berarti topik merupakan informasi yang kurang penting sebagai unsur kesatuan yang suplementer (pelengkap). Bila penanda referensial ini digunakan dalam kalimat tersebut makna akan dijadikan kesatuan terdahulu. Dalam hal ini, pronomina dapat digunakan sebagai referensi dalam bahasa Indonesia.

Pembahasan yang akan dilakukan adalah wacana bentuk tulis dalam surat kabar karena peneliti menduga bahwa wacana tulis dalam surat kabar mempunyai variasi penggunaan penanda referensial. Fungsinya sebagai alat penggabung antarkalimat yang satu dengan yang lain, antara paragraf yang
satu dengan yang lain sehingga membentuk keterkaitan. Penanda kebahasaan itu biasa disebut kohesi referensial.
Adapun pemilihan wacana tulis dalam surat kabar dikarenakan wacana yang terdapat pada surat kabar lebih bervariasi jenisnya. Misalnya terdapat wacana narasi, eksposisi, argumentasi, persuasi. Dengan kevariasian jenis wacana tersebut menjadikan data penelitian berasal dari berbagai jenis wacana. Selain itu, surat kabar adalah sebuah lembaga yang menggunakan bahasa tulis sebagai alat komunikasi. Dengan demikian, penggunaan bahasa selalu diperhatikan untuk membentuk sebuah hubungan dalam sebuah wacana.

Pemilihan surat kabar Kompas, Suara Merdeka, dan Solopos sebagai sumber data dalam penelitian dengan mempertimbangkan beberapa aspek. Kompas dipilih karena merupakan surat kabar nasional yang memiliki oplah yang cukup besar dan rantai distribusi yang luas. Suara Merdeka dipilih karena merupakan surat kabar regional terbesar di Jawa Tengah. Adapun Solopos dikelompokkan ke dalam surat kabar lokal. Ketiganya merupakan surat kabar ternama, yang tentunya berbanding lurus dengan efektifitas wacana yang berada di dalamnya.
Beranjak dari fenomena yang ada dalam latar belakang di atas maka peneliti mengangkat judul “Referensi dalam Wacana Tulis Berbahasa Indonesia di Surat Kabar”.

Februari 25, 2011 at 12:21 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

Februari 2011
S S R K J S M
« Sep   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Posts by Month

Posts by Category