Posts filed under ‘Pendidikan Matematika’

Contoh Skripsi Pendidikan Matematika

Judul Skripsi Pendidikan Matematika (PMT)

  1. Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Siswa KelaS VIII SMP Bhakti Praja Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 Pada Materi Pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Melalui Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah
  2. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar dengan Menggunakan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Pada Materi Lingkaran Kelas VIII SMP Negeri 3 Ngunut Tulungagung Tahun Pelajaran 2007/2008
  3. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pokok Bahasan Hitung Campuran Kelas Iii Mi Ma’arif Blotongan Salatiga Menggunakan Alat Peraga Kartu Mainan Dan Pendekatan Cont:.05pt$22>extual Teaching And Learning (CTL) Tahun Ajaran 2005/2006
  4. Keefektifan Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Nht (Num;/span>bered-Heads-Together) Dengan Pemanfaatan Lks (Lembar Kerja Siswa) Pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar (Kubus Dan Balok) Siswa Kelas VIII Semester 2 SMP N 6 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007
  5. Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Sikap Peserta Didik Melalui Pelatihan Guru Dengan Vcd Pemodelan Dan Pendampingan Pada Pembelajaran Matematika Bercirikan Pendayagunaan Alat Peraga Materi Pokok Luas Bangun Datar Kelas V SD SEKARAN 2 Tahun Pelajaran 2006/2007

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File

atau klik disini

Iklan

April 11, 2012 at 11:51 pm Tinggalkan komentar

Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Sikap Peserta Didik Melalui Pelatihan Guru Dengan Vcd Pemodelan Dan Pendampingan Pada Pembelajaran Matematika (PMT-5

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya untuk memacu penguasaan ilmu pengetahuan, matematika memegang peranan penting dalam pendidikan baik sebagai objek langsung (fakta, konsep, prinsip) maupun objek tak langsung (sikap kritis, logis, dan tekun). Karena pentingnya matematika, mata pelajaran matematika menjadi salah satu mata pelajaran wajib yang diberikan di sekolah mulai dari jenjang terendah yaitu sekolah dasar sampai jenjang tertinggi yaitu sekolah menengah atas. Bahkan matematika juga dipelajari sampai tingkat perguruan tinggi terutama pada jurusan ilmu eksakta.
Mata pelajaran matematika diberikan dalam suatu proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran merupakan suatu sistem dengan komponen-komponen yang saling berkaitan. Komponen-komponen pembelajaran meliputi: peserta didik, guru, bahan ajar, kurikulum, sarana prasarana, serta srategi pembelajaran. Suatu sistem akan mencapai suatu keberhasilan jika komponen-komponen yang saling terkait bekerja secara seimbang. Jika salah satu komponen saja tidak bekerja, maka dapat dipastikan tidak akan memberikan hasil yang optimal.

Sebagai salah satu komponen pembelajaran, guru memegang fungsi dan tanggungjawab paling besar dalam proses pembelajaran. Dari penelitian untuk guru-guru di California, Michigan, dan Georgia (1976), guru-guru melaporkan bahwa mereka hanya menerima sedikit bantuan pengembangan profesional pada saat mulai mengajar dan pada akhir-akhir pembelajaran pun bantuan yang diterima sangat sedikit. Hal ini juga mungkin terjadi di Indonesia.

Selain guru, komponen pembelajaran yang lain adalah kurikulum. Salah satu kurikulum yang sedang berlaku di Indonesia saat ini adalah kurikulum 2004 atau sering disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pada kurikukum 2004 pembelajarannya harus dikaitkan dengan situasi di dunia nyata peserta didik. Peserta didik dituntut untuk menguasai materi sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Selain itu dalam kurikulum ini peserta didik harus aktif untuk mencari, mengolah dan menemukan dengan bimbingan proporsional dari guru dalam menemukan suatu konsep.

Penggunaan sarana-prasarana juga sangat membantu proses pembelajaran. Sarana-prasarana yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah media pembelajaran. Salah satu dari media pembelajaran adalah alat peraga. Hasil penelitian Isti dkk. (1999-2000) tentang implementasi pembelajaran matematika bercirikan pendayagunaan alat peraga menunjukkan bahwa pemanfaatan alat peraga dalam pembelajaran matematika menjadikan pembelajaran matematika mudah dipahami oleh peserta didik, peserta didik menjadi aktif (aktivitas belajar peserta didik meningkat), dan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan hal-hal yang harus diperhatikan dalam setiap pelaksanakan pembelajaran dalam Standar Kompetensi Kurikulum 2004. Hal senada juga diungkapkan oleh Piaget (Suherman, 2003:37) bahwa perkembangan mental anak Sekolah Dasar (SD) berada pada tingkat operasi konkret, tahap di mana pengerjaan-pengerjaan logis dapat dilakukan dengan bantuan benda-benda konkret. Kekonkretan ini membantu peserta didik dan guru memahami makna kata. Dengan demikian dalam pendidikan matematika (pembelajaran matematika) dituntut adanya benda-benda konkret yang merupakan model dari ide-ide matematika, dan juga benda konkret dapat digunakan untuk penerapan matematika (Tim PKG, 1988: 1). Namun mereka (para guru) belum mampu mengimplementasikan model-model pembelajaran yang sesuai dengan rambu-rambu kurikulum 2004 dalam pembelajaran di kelas (real teaching). Para guru masih mengalami kesulitan saat melaksanakan tugas mengajar sesuai kurikulum 2004, diantaranya adalah pemanfaatan alat peraga secara benar. Kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran masih kurang, sehingga pembelajaran matematika yang ada belum optimal. Hal ini menyebabkan peserta didik tidak menguasai konsep yang diajarkan dan hasil belajarnya rendah. Oleh karena itu, kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran perlu ditingkatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan kesiapan guru adalah dengan memberi pelatihan.

Permasalahan yang muncul adalah bagaimanakah strategi efektif untuk melatih guru dalam melaksanakan pembelajaran atematika sesuai kurikulum 2004? Dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi, penelitian ini dirancang untuk menerapkan strategi pelatihan dalam mengimplementasikan pembelajaran matematika sebagai implementasi kurikulum 2004. Sesuai dengan komponen-komponen utama pelatihan, strategi pelatihan yang akan diterapkan adalah pemodelan pembelajaran matematika bercirikan pendayagunaan alat peraga riil di dalam kelas melalui VCD. Hal ini dimaksudkan agar guru bisa menggunakan alat peraga secara benar dan guru lebih siap melaksanakan pembelajaran matematika, karena seperti diketahui bahwa penggunaan alat peraga pada pembelajaran matematika SD dapat meningkatkan pemahaman konsep. Setelah adanya pendemonstrasian model- model, selanjutnya diperlukan praktek yang disimulasikan dan seting kelas, umpan balik terstruktur maupun open ended, serta pembekalan untuk aplikasi. Maka dari itu setelah adanya pemodelan melalui VCD, penelitian ini dirancang dengan adanya suatu pendampingan sebagai bentuk tindak lanjut dari pemodelan. Dalam pendampingan ada suatu umpan balik dari pelatih (guru model) baik secara terstruktur maupun open ended dengan harapan setelah adanya suatu pendampingan guru mampu mengaplikasikan dan mengembangkan sendiri dalam suatu pembelajaran di kelas.
Penelitian ini diawali dengan suatu pengamatan dan wawancara di SD sekaran 2. Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika guru kelas V selalu menggunakan metode ekspositori tanpa adanya penggunaan alat peraga. Padahal penggunaan alat peraga memudahkan peserta didik dalam memahami konsep. Hal ini menjadi salah satu sebab nilai matematika peserta didiknya belum optimal. Sehingga untuk mata pelajaran matematika guru hanya berani menetapkan batas ketuntasan nilai ≥60 sebesar 60%. Padahal, pemahaman konsep merupakan pengetahuan dasar dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Peserta didik harus menguasai pemahaman konsep dengan baik agar bisa belajar untuk pengetahuan yang ada di atasnya yaitu pemecahan masalah, penalaran komunikasi, dan analisis, dengan demikian pembelajaran akan berlangsung secara potimal. Oleh karena itu, batas ketuntasan pada penelitian ini yaitu jika nilai rata-rata kelas ≥ 75 dengan batas ketuntasan 70% dan sikap peserta didik terhadap pembelajaran matematika ≥ 75% adalah positif. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman konsep dan sikap peserta didik kelas V SD Sekaran 2 sesuai indikator yang telah ditetapkan adalah dengan pembelajaran matematika bercirikan pendayagunaan alat peraga yang didukung dengan kesiapan guru sebagai pelaksana pembelajaran. Untuk meningkatkan kesiapan guru dapat dilakukan dengan pelatihan melalui VCD pemodelan yang disertai pendampingan.

Berdasarkan uraian di atas maka dilaksanakanlah penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan sikap peserta didik kelas V SD Sekaran 2. Selanjutnya penelitian tindakan kelas ini diberi judul “Meningkatkan pemahaman konsep dan sikap peserta didik melalui pelatihan guru dengan VCD pemodelan dan pendampingan pada pembelajaran matematika bercirikan pendayagunaan alat peraga materi pokok luas bangun datar kelas V SD Sekaran 2 tahun pelajaran 2006/2007”.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 11, 2012 at 11:49 pm Tinggalkan komentar

KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT DENGAN PEMANFAATAN LKS PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG SISI DATAR .. .(PMT-4)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika sejak dini. Oleh karena itu, mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang diberikan pada setiap jenjang pendidikan dari mulai pendidikan dasar.
Pada kenyataannya matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang susah untuk dimengerti. Indikasinya dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang kurang memuaskan. Selama ini umumnya siswa hanya bermodal menghafal rumus untuk menyelesaikan soal-soal matematika. Hal tersebut dikarenakan matematika bersifat abstrak dan membutuhkan pemahaman konsep-konsep. Faktor lain yang berpengaruh adalah cara mengajar guru yang tidak tepat. Pembelajaran yang biasa diterapkan selama ini menggunakan metode ekspositori, di mana pembelajaran berpusat pada guru, siswa pasif, dan kurang terlibat dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kejenuhan yang berakibat kurangnya minat belajar. Minat belajar akan tumbuh dan terpelihara apabila kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara bervariasi, baik melalui variasi model maupun media pembelajaran.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menekankan keterlibatan aktif antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Selain itu, pada kurikulum sebelumnya atau KBK menekankan bahwa belajar matematika tidak sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan meliputi learning to do, lerning to be, hingga learning to live together (Suyitno, 2004: 60). Oleh karena itu, pengajaran matematika perlu diperbarui, di mana siswa diberikan porsi lebih banyak dibandingkan dengan guru, bahkan siswa harus dominan dalam kegiatan belajar mengajar. Sasaran dari pembelajaran matematika adalah siswa diharapkan mampu berpikir logis, kritis dan sistematis.

Untuk mengembangkan potensi to live together salah satunya melalui model pembelajaran kooperatif. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan kepada siswa yang membutuhkan atau anggota lain dalam kelompoknya, sehingga belajar kooperatif dapat saling menguntungkan antara siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Slavin (Ibrahim, 2000:16) tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar pada semua tingkat kelas dan semua bidang studi menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu tipe NHT Numbered Heads Together). Model ini dapat dijadikan alternatif variabel model pembelajaran sebelumnya. Dibentuk kelompok heterogen, setiap kelompok beranggotakan 3-5 siswa, setiap anggota memiliki satu nomor, guru mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan bersama dalam kelompok. Guru menunjuk salah satu nomor untuk mewakili kelompoknya. Menurut Muhammad Nur (2005) model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam dalam diskusi kelompok.

Materi yang peneliti pilih pada penelitian ini adalah pokok bahasan bangun ruang sisi datar, karena pada materi ini diperlukan kemampuan visualisasi yang tinggi dan banyak dijumpai bangun ruang sisi datar pada kehidupan sehari-hari. Dalam menyelesaikan persoalan yang menyangkut bangun ruang sisi datar seringnya siswa hanya bermodal memasukkan angka ke rumus tanpa dibarengi pemahaman konsep yang mendalam. Melalui media pembelajaran matematika yang salah satunya adalah LKS dengan metode penemuan terbimbing siswa dapat mengetahui dari mana sebenarnya rumus yang digunakan berasal.

Berdasarkan observasi yang telah peneliti lakukan di SMPN 6 Semarang menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa masih rendah. Kurikulum yang digunakan di sekolah ini yaitu KTSP, namun paradigma lama di mana guru merupakan pusat kegiatan belajar di kelas (teacher center) masih dipertahankan dengan alasan pembelajaran seperti ini adalah yang paling praktis dan tidak menyita banyak waktu.

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul “Keefektifan Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered-Heads-Together) dengan Pemanfaatan LKS (Lembar Kerja Siswa) Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar (Kubus dan Balok) Siswa Kelas VIII Semester 2 SMP N 6 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007”.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 11, 2012 at 11:39 pm Tinggalkan komentar

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN HITUNG CAMPURAN KELAS III MI MA’ARIF BLOTONGAN SALATIGA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA KARTU MAINAN ..(PMT-3)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta – fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan strategi belajar “baru” yang lebih memperdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri (Diknas 2003 : 2). Melalui landasan filosofi kontruktivisme, CTL siswa diharapkan belajar melalui”mengalami” bukan “menghapal”.

Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas : 2002 : 1). Dengan konsep itu belajar diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status mereka, dan bagaimana mencapainya. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.

Dalam kelas kontekstual tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai suatu tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa tersebut. Begitulah peran guru dalam kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.

Pada masa seperti sekarang ini kualitas sumber daya manusia sangat di perlukan karena untuk*menghadapi tantangan dunia pada era globalisasi yang penuh dengan persaingan, tidak menutup kemungkinan bila sebuah negara tidak mempunyai kualitas sumber daya manusia yang tinggi akan tertinggal jauh dengan negara-negara lain, rendahnya kualitas pendidikan dapat diartikan sebagai kurang berhasilnya suatu proses belajar mengajar di suatu lingkungan pendidikan tersebut. Jika dilihat dari penyebabnya biasa dari siswa, guru sarana dan prasarana maupun model pembelajaran yang di gunakan. Jika minat dan motivasi dan kemampuan siswa rendah, kualitas pendidik yang kurang profesional
Pada umumnya siswa disekolah mempunyai kesan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit bagi mereka oleh karena itu guru – guru matematika perlu memiliki strategi dan penguasaan yang baik tentang berbagai metode dan pendekatan dalam proses pembelajaran matematika.

Dalam melaksanakan tugasnya guru tidak hanya berperan sebagai nara sumber kepada siswanya saja, tetapi guru mempunyai peranan sebagai pembimbing dan juga fasilitator. Guru sendiri menyadari peranan yang dipegangnya dalam pertemuan dengan siswa . Berperan sebagai guru mengandung tantangan, karena di satu pihak guru harus sabar, ramah, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan, dan menciptakan suasana yang efektif ; dilain pihak guru harus memberikan tugas, mendorong siswa untuk berusaha mencapai tujuan, mengadakan koreksi, menegur dan menilai sebelum proses belajar mengajar di mulai. Siswa pada suatu kelas umumnya merupakan kumpulan individu – individu yang heterogen, artinya mereka memiliki perbedaan individual dalam proses belajar mengajar. Perbedaan- perbedaan tersebut antara lain perbedaan intelegensi, bakat, minat, kepribadian, kondisi fisiologis, dan faktor lingkungan. Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut, maka ada siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan ada pula siswa yang kurang mampu dalam mengikuti pelajaran.

Sesungguhnya matematika itu merupakan ilmu abstrak yang butuh ketelitian, kesabaran, keuletan dan kesungguhan guru dalam menerapkan konsep dan mengetahui keadaan kondisi murid. Pada umumnya siswa berfikir dari hal – hal yang konkret menuju hal-hal yang abstrak. Agar siswa dapat berfikir yang abstrak digunakan bantuan yaitu dengan menggunakan media pendidikan atau alat peraga. Keterlibatan latar belakang keluarga dan ketimpangan ekonomi yang begitu minim berdampak pada motivasi anak menekuni pelajaran matematika dan juga berpengaruh pada hasil belajar anak yang belum memenuhi taraf maksimal. Maka dari itu peneliti membuat alat peraga yang sederhana yang bisa dijangkau oleh masyarakat yang minim akan ekonomi, yaitu alat peraga kartu mainan yang bahannya dari kertas dan bisa dibeli dengan harga terjangkau.

Kondisi nyata pada Madrasah Ibtidayah Ma’arif Blotongan tahun pelajaran 2004/2005 yang berjumlah 142 siswa mereka tergolong rendah dalam standar kompetensi pada umumnya. oleh karena itu hal ini memungkinkan untuk dinaikkan dengan melalui penanganan pendidikan semaksimal mungkin.

Matematika adalah sebagai ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaanya . Dalam usaha untuk menanggulangi rendahnya hasil belajar matematika dan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Maka pemerintah telah melakukan berbagai usaha antara lain dengan perubahan kurikulum pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam melaksanakan pengajaran pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Pada tahun 1975 telah disusun kurikulum matematika yang kemudian disempurnakan tahun 1984 kemudian disempurnakan lagi tahun 1994 dan tahun 2004 . sekarang yang dipergunakan adalah yaitu kurikulum tahun 2006 yang disebut dengan kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pelaksanaan kurikulum Berbasis Kompetensi ini berorentasi pada tujuan instruksional yang hendak dicapai dan prinsip belajar tuntas, (mastery learning ). Agar tujuan instruksional dapat dicapai dan ketuntasan belajar dapat terwujud dengan maksimal , maka kesalahan-kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal cerita pada pokok bahasan operasi hitung campuran perlu diketahui sedini mungkin. Hal ini untuk menghindari kesulitan belajar yang berlarut-larut dan terbawa sampai pada jenjang yang lebih tinggi. Kemudian soal cerita merupakan hal yang paling sulit dialami siswa didalam menyelesaikannya.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul: Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Soal Cerita Hitung Campuran Kelas III MI Ma’arif Blotongan Salatiga Menggunakan Alat Peraga Kartu Mainan dan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Tahun Pelajaran 2005/2006

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 9, 2012 at 11:55 am Tinggalkan komentar

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar dengan Menggunakan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Pada Materi Lingkaran Kelas VIII SMP Neg 3 .(PMT-2)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di zaman yang serba canggih dan modern seperti sekarang, ketika komputer merajai seluruh sendi kehidupan, seluruh manusia dituntut untuk bisa kreatif dan inovatif. Mampu beradaptasi dengan perubahan kehidupan yang sangat cepat. Untuk mewujudkan hal tersebut, pendidikan memegang peranan vital. Pendidikan harus bekerja keras dan berupaya untuk menciptakan generasi-generasi yang handal dan kreatif.

Menyikapi kenyataan di atas yang sekaligus merupakan tantangan bagi dunia pendidikan, maka paradigma pembelajaran juga harus diubah. Dari yang semula hanya “banyak mengajari” menjadi “banyak mendorong anak untuk belajar”, dari yang semula di sekolah hanya diorientasikan untuk menyelesaikan soal menjadi berorientasi mengembangkan pola pikir kreatif . Oleh karena itu seorang pendidik harus sanggup menciptakan suasana belajar yang nyaman serta mampu memahami sifat peserta didik yang berbeda dengan anak yang lain. Sebagaimana diungkapkan oleh Soepartinah Pakasi mengenai peranan pendidik dalam membangkitkan minat belajar anak didik. Karena dengan mengerti dan memahami bahwa setiap siswa berbeda, maka secara otomatis seorang pendidik akan mampu memposisikan dirinya dihadapan masing-masing individu anak didik.

Dalam semua jenjang pendidikan, pelajaran matematika memiliki porsi terbanyak dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran yang lain. Tetapi kenyataan yang terjadi selama ini, siswa malah menganggap matematika sebagai monster yang menakutkan. Matematika didakwa sebagai biang kesulitan dan hal yang paling dibenci dari proses belajar di sekolah. Padahal ketidak senangan terhadap suatu pelajaran berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Karena tidak senang akan membuat siswa enggan dan malas untuk belajar. Dan secara langsung akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Untuk mengatasi ketidak senangan siswa terhadap matematika diperlukan adanya pembenahan baik dari tenaga pendidik maupun dari peserta didik itu sendiri. Apabila seorang pendidik bisa meningkatkan minat belajar siswa terhadap matematika, diharapkan kesulitan yang ada pada diri siswa akan lebih mudah diatasi. Untuk itu diperlukan seorang tenaga pendidik yang kreatif dan profesional, yang mampu mempergunakan pengetahuan dan kecakapannya dalam menggunakan metode, alat pengajaran dan dapat membawa perubahan dalam tingkah laku anak didiknya. Dari yang semula benci menjadi sayang dan berminat untuk belajar. Karena pada dasarnya hasil dari belajar terletak pada perubahan tingkah laku secara menyeluruh.

Pada umumnya proses pelaksanaan belajar mengajar matematika di sekolah hanya mentransfer apa yang dipunyai guru kepada siswa dalam wujud pelimpahan fakta matematis dan prosedur penghitungan, Bahkan sering terjadi, dalam menanamkan konsep hanya menekankan bahwa konsep – konsep itu merupakan aturan yang harus dihafal, tidak perlu tahu dari mana asal – usul rumus tersebut. Siswa diprogram hanya untuk bisa menghafal rumus dan mengerjakan soal tanpa harus tahu apa makna dan fungsi soal tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

Dengan adanya pembelajaran matematika yang tidak bermakna serta hanya sebatas menghafal rumus dan mengikutinya untuk mengerjakan soal, penalaran siswa menjadi kurang berkembang. Padahal kemampuan penalaran siswa merupakan aspek penting, karena dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah lain, baik masalah matematika maupun masalah kehidupan sehari-hari. Karena dengan adanya penalaran, siswa akan mampu mengaplikasikan hal yang dipelajarinya kedalam dunia nyata. Bahkan menurut Krulik dan Rudnick, kemampuan penalaran merupakan aspek kunci dalam megembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dari siswa.

Pembelajaran matematika yang hanya berorientasi pada proses transfer dari guru ke siswa merupakan pandangan behaviorisme. Matematika dipandang sebagai barang jadi yang dapat dipindahkan dari seorang keorang lain. Menurut pandangan behaviorisme siswa bersifat pasif dan pembelajaran lebih berpusat pada guru . Bagi behavioris pengetahuan itu statis dan sudah jadi dan belajar hanya merupakan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta.
Selanjutnya lahirlah pandangan konstruktivisme yang beranggapan bahwa pengatahuan tidak dapat ditransfer tetapi harus dibangun sendiri oleh siswa di dalam pikirannya . Menurut pandangan konstruktivisme, pengetahuan dibangun secara aktif oleh individu melalui proses yang berkembang secara terus menerus . Pengetahuan merupakan suatu proses menjadi melalui kegiatan aktif siswa meneliti lingkungannya. Dengan kata lain pengetahuan dapat dibentuk oleh siswa dalam pikirannya sendiri setelah adanya interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan Ausubel, Novak dan Hanesian menyatakan bahwa suatu pembelajaran akan bermakna jika informasi yang baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Dengan demikian, pengetahuan yang telah dibangun seseorang akan semakin kuat dan kokoh.

Pada proses ini, terjadi pembaharuan pengetahuan seseorang yang dikembangkan melalui situasi dan pengalaman baru. Sehingga pengetahuan yang lebih dahulu diperoleh dapat disesuaikan dengan pengetahuan yang baru.
Inti dari pembelajaran konstruktivis adalah keaktifan siswa pada proses pembelajaran. Penekanan belajar siswa aktif ini sangat penting dan perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan kita. Karena dengan keaktifan dan kreatifitas, siswa akan dapat mandiri dalam kehidupan. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis suatu hal karena mereka berpikir dan mencipta, bukan meniru saja.
Berdasarkan pada prinsip filsafat konstruktifisme, muncul berbagai model pembelajaran yang berupaya untuk mengembangkan keaktifan dan kreatifitas siswa. Diantaranya adalah : contructivism, problem solving, problem posing, realistic mathematics education, dan open ended approach. Semua model pembelajaran tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dan setiap materi pelajaran memiliki karakteristik tersendiri sehingga tidak semua materi pelajaran bisa disampaikan dengan satu model pembelajaran tertentu. Selain penguasaan cara penyampaian pelajaran melalui berbagai model pembelajaran, seorang guru juga harus menguasai materi yang diajarkan secara luas dan mendalam. Karena dengan penguasaan materi seorang guru akan mampu dan mengerti bahwa terdapat bermacam cara untuk sampai pada suatu pemecahan persoalan, tanpa terpaku pada salah satu rumus saja. Sehingga siswa tidak hanya meniru contoh penyelesaian dari guru dan berkutat pada satu macam cara. Tetapi siswa dapat dengan bebas mengeluarkan pemikirannya, meski bimbingan dari guru tidak boleh diabaikan.

Dengan menyadari dan tidak mengajukan jalan satu-satunya sebagai jawaban yang benar, kreatifitas dan pemikiran siswa akan lebih berkembang. Dan dengan sendirinya penalaran dan pemahaman yang dimiliki siswa akan semakin tumbuh subur. Adapun model pembelajaran yang memberikan kebebasan berpikir kepada siswa diantaranya adalah problem posing dan open ended.
Model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang dilakukan dengan meminta siswa untuk mengajukan masalah . National Council of Techer of Mathematics (NCTM) juga menyarankan agar para guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk merumuskan soal dari informasi-informasi yang diberikan . Adapun manfaat dari pengajuan soal ini diantaranya adalah dapat mempertinggi kemampuan memecahkan masalah dan sedikit menhilangkan ketakutan siswa terhdap matematika. Karena dengan dapat membuat soal sendiri, siswa akan merasa percaya diri dengan pengertian dan pemahamannya. Hal ini disebabkan siswa merasa bahwa salah satu dari materi yang diajarkan dapat ia pecahkan. Dan kemungkinan besar dapat menghilangkan ketakutan dalam dirinya.

Sedang model pembelajaran open ended merupakan suatu model pembelajaran yang dilakukan dengan menyajikan masalah yang memiliki jawaban tidak tunggal atau cara penyelesaian yang tidak tunggal. Dengan diterapkannya strategi ini, diharapkan siswa dapat berpikir bebas karena tidak terpaku pada satu patokan saja. Dan ketika siswa bebas mengungkapkan gagasannya, asal logis dan rasional, maka akan mendorong siswa untuk berpikir kreatif. Kreatif menurut Krulik, Pundick dan Milou adalah bentuk penalaran tertinggi dari tahapan berpikir . Dan dengan kemampuan penalaran yang tinggi, siswa akan mudah mencari pemecahan terhadap masalah yang dihadapinya, baik dalam proses belajar disekolah maupun dalam kehidupan nyata.

Problem posing dan open ended merupakan model pembelajaran yang memberikan keleluasan berpikir kepada siswa. Namun banyak kendala untuk mempraktiknnya. Diantaranya adalah kebiasaan kita yang hanya terpaku pada satu jawaban atau selalu mengikuti rumus yang dituliskan oleh guru. Maka dari itu diperlukan adanya suatu pendekatan yang memadukan problem posing dan open ended serta pelaksanaan yang mudah diterapkan. Dan salah satu alternatif yang dapat dilaksanakan adalah model pembelajaran melalui pendekatan pohon matematika.

Pohon matematika adalah model pembelajaran yang merupakan gabungan dari model problem posing dan open ended. Pada pembelajaran ini, siswa diminta untuk menumbuhk`n daun dengan membangun konsep matematika dari suatu pohon yang berupa pokok bahasan yang diberikan. Pada setiap pohon yang dibangun terdapat beberapa cabang. Semakin banyak daun yang tumbuh, nilai akan semakin banyak. Namun, bila ada daun yang salah akan mengurangi nilai. Dan materi yang akan dijadikan pokok bahasan pada penelitian ini adalah materi luas bangun datar.

Di dalam matematika, luas bangun datar adalah syarat mutlak sebelum mempelajari volume bangun ruang. Adapun bangun datar yang dipergunakan adalah persegi panjang, jajar genjang, trapesium, belah ketupat dan layang-layang. Didalam kehidupan nyata, penerapan konsep luas bangun datar banyak dijumpai. Tetapi masih banyak siswa yang tidak memahami materi ini. Hal ini dikarenakan dalam memecahkan masalah, siswa tidak dapat menghubungkan antara pengetahuan dan konsep yang telah dipelajari dengan masalah yang dihadapi. Berdasar kenyataan tersebut, dengan tidak mengurangi faktor lain pada proses pembelajaran, perlu adanya perubahan strategi pembelajaran sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan.

Adapun SD Plus Baitussalam dipilih sebagai tempat penelitian dikarenakan peneliti juga sekaligus sebagai pengajar di sekolah tersebut. Sehingga dengan demikian diharapkan akan mempermudah dalam proses perijinan.

Berdasar uraian di atas, peneliti mencoba untuk mengembangkan pembelajaran matematika melalui pendekatan dengan pohon matematika yang diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas siswa kelas V SD Plus Baitussalam tahun pelajaran 2007/2008 pada materi luas bangun datar.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 9, 2012 at 11:46 am Tinggalkan komentar

Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Siswa KelaS VIII SMP Bhakti Praja Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 Pada Materi Pokok ..(PMT-1)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

SMP Bhakti Praja bukanlah pilihan pertama dari lulusan SD/MI di sekitar Gebog, walau merupakan satu-satunya SMP swasta di kecamatan Gebog. Setelah hasil seleksi SMP negeri diumumkan, siswa yang tidak diterima baru mendaftar di SMP Bhakti Praja Gebog. Dengan demikian input SMP Bhakti Praja Gebog adalah saringan atau sisa dari anak-anak terpilih, dengan motivasi orangtua yang kurang mendukung, latar belakang ekonomi orangtua kebanyakan buruh pabrik, sehingga proses belajar mengajar di SMP Bhakti Praja Gebog, terutama pada mata pelajaran matematika yang bagi sebagian siswa adalah pelajaran yang kurang menarik terasa berat.

Masalah menonjol yang dihadapi oleh pendidikan matematika adalah pada umumnya hasil belajar siswa yang kurang memuaskan, hal ini dikarenakan kurangnya minat siswa terhadap pelajaran matematika sehingga tidak sedikit dari mereka yang menganggap bahwa matematika adalah ilmu yang sulit dan tidak menarik. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian khusus dari guru selaku pendidik untuk menemukan metode pengajaran yang tepat dan sesuai dengan materi dan bahan yang diberikan kepada siswa, karena suatu pembelajaran akan efektif jika metode pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa. Di samping menguasai metode pembelajarannya seorang guru juga harus menguasai teknik menerangkan,
mengajarkan konsep matematika, cara membangkitkan motivasi siswa, cara
menggunakan alat bantu dan teknik mengevaluasi seberapa jauh proses belajar mengajar dalam kelas telah tercapai.

Oleh karena itu para pendidik matematika perlu memahami dan mengembangkan berbagai metode, keterampilan dan strategi dalam mengajarkan matematika. Tujuannya antara lain agar dapat menyusun program pengajaran yang dapat membangkitkan motivasi siswa agar mereka belajar dengan antusias. Lebih daripada itu agar siswa merasa benar-benar ikut ambil bagian dan berperan aktif dalam proses kegiatan belajar-mengajar, mengingat metode pembelajaran yang selama ini digunakan oleh guru matematika yang kebanyakan didominasi oleh guru itu sendiri.

Sistem persamaan linear dua variabel adalah salah satu materi pokok matematika di kelas VIII. Materi pokok yang berkaitan dengan masalah sehari-hari ini terasa sulit dipahami siswa kelas VIII SMP Bhakti Praja Gebog. Indikatornya siswa kurang mampu menyelesaikan soal-soal tentang sistem persamaan linear dua variabel apalagi bila disajikan dalam soal cerita, akibatnya lebih dari 75% siswa belum tuntas belajar dan rata-rata nilai ulangan harian kurang dari 6,00 serta kurang dari 75% siswa yang terlibat aktif ketika proses pembelajaran berlangsung.

Model pembelajaran berbasis masalah dipilih sebagai salah satu alternatif karena model ini merupakan pendekatan pengajaran yang
menggunakan masalah-masalah dunia nyata sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan terampil memecahkan, serta mendapatkan pengetahuan dan konsep-konsep dasar. Ciri-ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya dan peragaan.
Guru dalam model pembelajaran berbasis masalah, berperan sebagai penyaji masalah, fasilitator, membantu siswa memecahkan masalah dan menjadi salah satu sumber belajar siswa. Selain itu, guru memberikan dukungan, motivasi dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa.

Dalam hal ini guru berperan sebagai pemberi rangsangan, pembimbing kegiatan siswa dan penentu arah belajar mereka. Di samping itu, kegiatan pengembangan model pembelajaran berbasis masalah dalam materi pokok sistem persamaan linear dua variabel amatlah strategis, seiring dengan implementasi KBK, sehingga kreativitas guru dapat ditingkatkan, serta ketersediaan berbagai fasilitas yang dimiliki secara terbatas dapat ditingkatkan.

April 5, 2011 at 8:52 am Tinggalkan komentar


Kalender

November 2017
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts by Month

Posts by Category