Archive for Agustus, 2010

3. Preparasi Lapisan Tipis Semikonduktor P-N Junction Menggunakan Teknik Implantasi Ion Untuk Aplikasi Detektor Sawar Muka (P-53)

Preparasi Lapisan Tipis Semikonduktor P-N Junction Menggunakan Teknik Implantasi Ion Untuk Aplikasi Detektor Sawar Muka

Kode : P-53 atau PFis-3

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Pada saat ini aplikasi dari perkembangan teknologi lapisan tipis telah meluas, misalnya komponen aktif dari alat yang digunakan untuk komputer dan komunikasi dan bidang mikroelektronik. Alasan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi lapisan tipis menuju teknologi tinggi adalah sifat atau karakter lapisan tipis yang dapat divariasi secara drastis baik secara langsung (variasi parameter deposisi) maupun secara tidak langsung (annealing dan irradiasi).

Salah satu aplikasi lapisan tipis berhubungan dengan pembuatan detektor sawar muka. Detektor sawar muka adalah sambungan antara semikonduktor tipe P dengan semikonduktor tipe N, dimana daerah sambungan tersebut merupakan daerah aktif detektor. Detektor sawar muka menggunakan tenaga dari partikel sinar alpha untuk menimbulkan pasangan elektron-hole dalam bahan semikonduktor. Jumlah pasangan elektron-hole yang terbentuk sebanding dengan besar tenaga radiasi. Medan listrik yang ditimbulkan tegangan terbalik akan menyapu elektron ke terminal positif dan hole ke terminal negatif. Kepekaan dari suatu detektor sawar muka diantaranya tergantung pada bahan untuk membuat sambungan P-N. Bahan Silikon adalah salah satu bahan semikonduktor yang cocok untuk keperluan tersebut, karena mempunyai resistivitas tinggi (Agus Baskoro, 1992:339).
Untuk mengubah dari Silikon intrisik menjadi ekstrisik bahan Silikon diberi ketidakmurnian Boron (untuk membuat tipe P) dan ketidakmurnian Posfor (untuk membuat tipe N). Untuk memberikan ketidakmurnian pada bahan Silikon diantaranya menggunakan teknik implantasi ion. Teknik implantasi ion ini dapat memberi ketidakmurnian lebih baik, karena hanya ion tertentu (tidak dikotori unsur lain) yang dicangkokan pada bahan yang dikehendaki. Dosis dan kedalaman pencangkokan dapat dikendalikan dengan mengatur waktu dan energi ion yang dicangkokan. Dengan demikian akan terjadi sambungan N-P yang baik dan pada akhirnya akan menambah kepekaan detektor sawar muka.
Dalam metode implantasi ion, dimanfaatkan kemampuan akselerator untuk “menanamkan” atom ketidakmurnian langsung kedalam substrat. Teknik ini merupakan salah satu teknik pembuatan sambungan N-P semikonduktor yang mencapai kemajuan dalam proses reaktif dan modifikasi bentuk. Teknik implantasi ion mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan metode difusi, epitaksi dan paduan. Kelebihan dari teknik implantasi ion adalah: (Reka Rio, S dan Lida, M.1982:178)
1. Bahan yang diimplantasikan memiliki tingkat kemurnian yang sangat tinggi, karena menggunakan magnet pemisah massa sehingga dapat dipilih ion tertentu saja yang diinginkan.
2. Jumlah (dosis) pengotor yang ditambahkan dapat diatur dan diamati dari berkas arus ion dengan teliti.
3. Kosentrasi atom pengotor yang diimplantasikan sangat seragam.
4. Kedalaman sambungan dapat diatur dengan sangat teliti melalui pengaturan tenaga implantasi.
5. Tidak memerlukan temperatur tinggi dalam pengoperasianya.
Selain mempunyai keunggulan-keunggulan tersebut, teknik implantasi ion mempunyai kelemahan yaitu menghasilkan kerusakan yang tersisa pada lapisan yang diimplantasi. Bentuk nyata dari kerusakan belum diketahui dengan pasti, bisa terdiri dari interstisi (sisipan), yaitu atom yang berpindah ke posisi interstisi dalam kisi, kekosongan, yaitu lubang yang ditinggalkannya, atau dislokasi, yaitu cacat kristal dengan sebaris atom tidak berada pada posisi yang seharusnya.
Profil kerusakan untuk implantasi dosis rendah (≤ 1012 ion/cm2) adalah terbentuknya lorong terisolasi dan terbatas pada volume tertentu saja, sedangkan untuk dosis tinggi (≥1014 ion/cm2) akan terjadi tumpang tindih dari daerah-daerah yang rusak. Kerusakan yang diakibatkan oleh pengimplanan tersebut dapat dikompensasi sampai pada batas-batas tertentu dengan memanaskannya, biasanya pada suhu 600 oC-1000 oC, karena dengan adanya pemanasan diharapkan tenaga vibrasional atom-atom meningkat dan atom cenderung untuk kembali teratur (Mayer dkk, 1970 : -).
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil implantasi ion antara lain: energi ion dopan, massa ion dopan (jenis atom dopan), massa atom bahan yang diimplantasi (sasaran), kuat arus ion dopan dan suhu penganilan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yaitu implantasi ion Au ke permukaan wafer Silikon tipe N, maka akan diteliti lebih lanjut bagaimana pengaruh ketidakmurnian ion Boron yang dicangkokan pada wafer Silikon tipe N menggunakan teknik implantasi ion terhadap karakterisasi diode sambungan N-P. Karakterisasi diode sambungan N-P meliputi resistansi lapis, karakteristik arus tegangan I-V berupa arus dadal dan tegangan dadal serta kapasitansi sambungan N-P.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil implantasi ion?
2. Bagaimana pengaruh dosis ion dopan Boron terhadap resistansi lapis, karakteristik arus tegangan I-V dan kapasitansi sambungan N-P yang digunakan untuk menentukan lebar daerah deplesi?

C. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, masalah yang diteliti akan dibatasi tentang :
Pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasikan pada semikonduktor tipe N terhadap resistansi lapis, karakteristik arus tegangan I-V dan kapasitansi sambungan N-P yang digunakan untuk menentukan lebar daerah deplesi .

D. Rumusan Masalah
Dari batasan masalah seperti tesebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut yaitu:
1. Bagaimana pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasi pada semikonduktor tipe N terhadap resistansi lapis?
2. Bagaimana karakteristik arus dadal dan tegangan dadal pada sambungan N-P?
3. Bagaimana pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasi pada semikonduktor tipe N terhadap lebar lapisan deplesi?

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasi pada semikonduktor tipe N terhadap resistansi lapis
2. Untuk mengetahui karakteristik arus dadal dan tegangan dadal pada sambungan N-P
3. Untuk mengetahui pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasi pada semikonduktor tipe N terhadap lebar lapisan deplesi.

F. Manfaat Penelitian
1. Informasi tentang karakter arus tegangan I-V berupa tegangan dadal dan arus dadal pada sambungan N-P.
2. Disamping menambah khasanah ilmu pengetahuan juga untuk memberi gambaran tentang pembuatan sambungan N-P dari wafer Silikon tipe N yang diberi ketidakmurnian ion dopan Boron.
3. Sebagai bahan referensi dan informasi bagi penelitian lanjutan.

Untuk versi ms-word, silahkan klik download

Iklan

Agustus 9, 2010 at 1:52 am Tinggalkan komentar

Penyajian Masalah Melalui Permainan untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII B MTs Surya Buana Malang (P-52)

Penyajian Masalah Melalui Permainan untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII B MTs Surya Buana Malang Tahun Ajaran 2007/2008

KODE : P-52 ATAU PFis-2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fisika merupakan pelajaran yang sulit. Itu adalah paradigma tersebut telah berkembang di dalam masyarkat. Kondisi yang demikian sangat mem – pengaruhi proses pembelajaran fisika yang dilaksanakan oleh guru. Guru akan mengalami kesulitan melakukan proses pembelajaran karena kebanyakan siswa dari awal sudah tidak tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran.

Fisika semakin tidak populer di kalangan siswa karena metode penga – jaran yang sering digunakan oleh guru adalah metode cermah. Ceramah meru – pakan metode pembelajaran yang tidak dianjurkan untuk digunakan, namun paling umum digunakan guru (Wartono, 2003:94). Metode ceramah membuat siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru. Apabila siswa tidak terlibat langsung dalam proses pembelajaran, maka proses pembelajaran tersebut akan berjalan membosankan. Siswa akan memperoleh prestasi belajar yang rendah karena siswa tidak tertarik untuk belajar fisika. Proses pembelajaran menurut Driver (dalam Japa, 1999:7) lebih terfokus pada “suksesnya siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka”, dan bukan pada “kebenaran siswa dalam melakukan refleksi atas apa yang dikerjakan guru”.
Pada saat peneliti datang untuk melakukan observasi proses pembela – jaran mata pelajaran sains di kelas VIII B MTs Surya Buana Malang, terlihat proses pembelajaran berlangsung kurang baik. Disana guru terlihat hanya ber – komunikasi dengan beberapa siswa, sedangkan siswa yang lain asyik bermain dan sibuk dengan kegiatannnya sendiri. Ada yang berlarian kesana – kemari, mengo – brol dengan sesama teman, dan bermain sepak bola di luar kelas. Sebagian besar siswa tidak memiliki ketertarikan untuk mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung.
Setelah melakukan observasi, peneliti berdiskusi dengan guru mata pelajaran sains terkait proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hasil diskusi tersebut menyebutkan bahwa siswa tidak memiliki minat yang tinggi untuk mempelajari fisika. Guru mengungkapkan bahwa siswa sangat sulit dikondisikan agar tenang saat mengikuti proses pembelajaran fisika. Kondisi tersebut tidak berlaku untuk semua materi sains yang beliau berikan. Menurut guru, materi kimia dan biologi lebih mudah untuk diajarkan dan siswa merasa lebih mudah mempelajari kimia dan biologi dibanding dengan fisika. Disamping itu, guru adalah lulusan jurusan biologi sehingga beliau lebih memahami materi biologi dan cara – cara membelajarkannya kepada siswa. Siswa sangat antusias jika proses pembelajaran dilakukan sambil bermain dan keluar kelas. Seperti halnya ketika beliau mengajak siswa melakukan permainan simulasi jalannya darah melalui pembuluh darah. Sayangnya guru tidak pernah menerapkan metode tersebut dalam proses pembelajaran fisika. Proses pembelajaran yang dilaksanakan pada proses pembelajaran fisika lebih banyak menggunakan metode ceramah dan memberikan tugas berupa soal kepada siswa. Guru merasa kesulitan untuk menerapkan metode yang lebih bervariasi pada proses pembelajaran fisika. Guru juga jarang melaksanakan praktikum karena alat – alat praktikum yang tersedia di sekolah sangat tidak memadai. Selain itu sebagian besar siswa tidak memiliki buku pelajaran sehingga guru menjadi sumber belajar utama siswa.
Guru menjelaskan bahwa ketidak tersediaan alat praktikum, buku dan lebih tertariknya siswa untuk bermain menyebabkan minat siswa untuk belajar fisika menjadi rendah. Minat siswa yang rendah pada pokok bahasan fisika juga tercermin pada prestasi belajar siswa yang rendah pada bidang fisika. Beliau menyebutkan bahwa nilai tes rata – rata yang dilakukan pada materi tekanan adalah 44,7. Oleh karena itu guru menyampaikan pada peneliti agar penelitian yang akan dilaksanakan dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan hasil observasi tersebut, sebenarnya guru mengetahui permasalahan yang dihadapi dan salah satu alternatif pemecahannya. Permasa – lahan yang dihadapi adalah bagaimana meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa. Sedangkan salah satu altenatif pemecahannya adalah melakukan permainan sambil belajar.
Menurut Lavach (dalam Prayitno, 1989:52) , guru hendaknya dapat mengontrol emosi siswa untuk menjadi suka dan ingin belajar. Oleh karena itu guru harus menerapkan metode yang tepat agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Pendidikan hendaknya menumbuhkembangkan minat dan keingintahuan siswa melalui pengalaman langsung dan kegiatan nyata (Harjati dalam Shaleh, 2005:17). Selanjutnya Froebel (dalam Shaleh, 2005:17) menyatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pengembangan individu dan sosial siswa melalui kegiatan langsung yang mengutamakan kerjasama, spon – tanitas, kreativitas dan kegembiraan. Adapun cara untuk membuat suatu kegiatan menjadi menyenangkan yaitu dengan cara bermain, dengan ini berarti bahwa belajar dapat dilakukan sambil bermain (Shaleh, 2005:17).
Jika kita menyajikan sesuatu dengan cara yang tidak diketahui oleh siswa sebelumnya, maka siswa akan tertarik. Bahkan mereka tertarik untuk tahu lebih jauh (Richard dalam Prayitno, 1989:48). Rangsangan – rangsangan yang diberikan pada awal pembelajaran dapat meningkatkan minat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung. Rangsangan tersebut dapat berupa penyajian masalah yang terkait dengan topik yang akan dibahas. Penyajian masalah di awal pembelajaran dapat memberitahu siswa mengenai apa yang akan dipelajari dan membuat siswa berpikir untuk mengetahui jawaban dari masalah yang dihadirkan oleh guru.
Hasil observasi, wawancara dan pemikiran – pemikiran di atas yang mendasari penelitian yang berjudul “Penyajian Masalah Melalui Permainan untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang Tahun Ajaran 2007/2008”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah penyajian masalah melalui permainan dapat meningkatkan minat siswa kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang tahun ajaran 2007/2008?
2. Apakah penyajian masalah melalui permainan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang tahun ajaran 2007/2008?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan minat siswa kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang tahun ajaran 2007/2008 dengan menerapkan penyajian masalah melalui permainan.
2. Meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang tahun ajaran 2007/2008 dengan menerapkan penyajian masalah melalui permainan.

D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat, yaitu:
1. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi guru untuk memilih metode yang tepat dan menyenangkan untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran fisika.
2. Melalui penelitian ini diharapkan siswa lebih tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran fisika sehingga mampu meningkatkan minat dan prestasi belajar.

E. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi perbedaan penafsiran terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka diberikan beberapa penjelasan istilah penting sebagai berikut:
1. Penyajian masalah dalam penelitian ini adalah menyajikan permasalahan berupa pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan pada awal kegiatan melalui permainan.
2. Minat dalam penelitian ini adalah minat belajar siswa selama proses pembelajaran fisika yang dijabarkan dalam tiga aspek yaitu keaktifan, keantusiasan dan keceriaan yang dilihat dari hasil observasi minat pada tiap kegiatan.
3. Prestasi belajar dalam penelitian ini adalah prestasi belajar pada ranah kognitif yang dilihat dari hasil tes fisika melalui pretest dan posttest pada tiap siklus.
4. Permainan adalah suatu kegiatan dimana pemain – pemain atau peserta di dalamnya terikat oleh suatu aturan untuk mencapai tujuan.

Untuk versi MS Word, silahkan klik download

Agustus 7, 2010 at 11:16 pm Tinggalkan komentar

Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Fisika Siswa Smp Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (Tps) (P-51)

Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Fisika Siswa Smp Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (Tps) Pada Konsep Getaran Dan Gelombang

Kode : P-51 atau PFis-1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Seorang siswa dalam belajar fisika dikatakan kurang berhasil apabila perubahan tingkah laku yang terjadi belum mampu menentukan kebijaksanaannya untuk mencapai suatu hasil yang telah ditetapkan secara tepat dalam waktu yang telah ditentukan. Untuk mencapai suatu hasil belajar yang maksimal, banyak aspek yang mempengaruhinya, di antaranya aspek guru, siswa, metode pembelajaran dan lain-lain.

Menurut Mudjino (2002:10) Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (i) stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan (ii) proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar. Dengan demikian, belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses, siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Dari guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal.
Pelajaran fisika adalah pelajaran yang mengajarkan berbagai pengetahuan yang dapat mengembangkan daya nalar, analisa, sehingga hampir semua persoalan yang berkaitan dengan alam dapat dimengerti. Untuk dapat mengerti fisika secara luas, maka harus dimulai dengan kemampuan pemahaman konsep dasar yang ada pada pelajaran fisika. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam memahami tentang pelajaran fisika sangat ditentukan oleh pemahaman konsep.

Mengingat pentingnya ilmu fisika dalam berbagai bidang kehidupan manusia, maka perlu diperhatikan mutu pengajaran mata pelajaran fisika yang di ajarkan di tiap jenjang dan jenis pendidikan. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang ilmu fisika, maka siswa harus menempuh proses belajar mengajar yang baik. Belajar akan lebih berhasil bila telah diketahui tujuan yang ingin dicapai. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan fisika yang baik dan untuk mengatasi berbagai kelemahan dalam proses belajar mengajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran Think-Pair-Share, (Berpikir,Berpasang,Berbagi), strategi yang digunakan adalah saling bertukar pikiran secara berpasangang.

Pengamatan penulis lakukan selama PPL pada SMP Negeri 1 Darussalam Aceh Besar. Model pembelajaran yang di lakukan oleh guru fisika SMP 1 Darussalam masih menggunakan model pembelajaran yang lama di mana proses belajar mengajar hanya terpaku pada guru, siswa hanya bisa menerima materi yang disampaikan oleh guru. Maka penulis mencoba menerapkan model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. Hal ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran Think-Pair-Share itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lie (2002:57) bahwa, “Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya dan sebagai salah satu alternatif pembelajaran inovatif yang dapat mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan proses interaksi di antara individu yang dapat digunakan sebagai sarana interaksi sosial di antara siswa dan sekaligus menjawab masalah yang ada di sekolah. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini “Apakah penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share memberi pengaruh positif atau negatif terhadap prestasi belajar siswa kelas II pada pokok bahasan getaran dan gelombang di SMP Negeri 1 Darussalam Aceh Besar. Maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ” UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA SMP DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS) PADA KONSEP GETARAN DAN GELOMBANG.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-pair-share pada pokok bahasan getaran dan gelombang.
2. Bagaimana kemampuan siswa dalam mencapai indikator setelah mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-share pada pokok bahasan getaran dan gelombang.
3. Bagaimanakah respons siswa terhadap perangkat dan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share pada pokok bahasan getaran dan gelombang.

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.
2. Untuk mengetahui bagaimana kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
3. Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mencapai indikator setelah mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-share pada pokok bahasan gelombang.
4. Untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Think – Pair – Share pada pokok bahasan getaran dan gelombang

1.4 Anggapan Dasar

Perumusan dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk memberikan arah dan titik pangkal bagi pelaksanaan penelitian. Dalam hal ini yang menjadi anggapan dasar adalah:
1. Materi yang di ajarkan getaran dan gelombang pada kelas II.
2. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran fisika.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Suatu kegiatan penelitian perlu dibatasi masalah yang akan di teliti supaya penelitian lebih terfokus, terarah dan dapat memperlancar proses penelitian yang akan dilaksanakan. Ruang lingkup masalah pada penelitian ini adalah:
1. Subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 1 Darussalam Aceh Besar kelas II tahun ajaran 2007/2008.
2. Pokok bahasan yang dipilih adalah getaran dan gelombang.
3. Perlakuan yang diberikan hanya dalam tiga pertemuan.
4. Pembelajaran yang dilakukan adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan metode Think Pair Share.

1.6 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut:
1. Merupakan sumbangan yang berharga bagi lembaga pendidikan SMP dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan proses belajar mengajar terutama untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika.
2. Dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share siswa akan terbiasa untuk belajar mandiri dan berdiskusi tanpa harus di dekte oleh guru.
3. Mendorong guru untuk pro-aktif dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dan memotivasi siswa dalam meningkatkan prestasi belajar.
4. Menambah pengalaman dan wawasan berpikir bagi penulis terutama tentang penelitian ilmiah.

Untuk mendapatkan Versi MS-Word, silahkan klik download

Agustus 6, 2010 at 11:18 pm Tinggalkan komentar

Pengaruh Risiko Investasi Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (Periode 2007 – 2008) (KE-22)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya orang melakukan investasi adalah untuk menghasilkan sejumlah uang, dan tujuan yang lebih luas adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor.
Setiap investor yang ingin memaksimalkan kekayaan akan tertarik suatu investasi yang memberikan tingkat expected return yang lebih tinggi dibandingkan dengan peluang investasi lainnya. Dalam kenyataannya hampir semua investasi mengandung ketidakpastian atau risiko. Investor tidak tahu dengan pasti hasil yang akan diperolehnya, sehingga investor hanya bisa memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dan seberapa jauh hasil yang sebenarnya menyimpang dari yang diharapkan. Pilihan investasi tidak dapat hanya mengandalkan pada tingkat keuntungan yang diharapkan tetapi juga risikonya.

Dalam literatur banyak dibahas tentang pentingnya pemahaman dua konsep penting dalam pembuatan keputusan investasi yaitu risiko dan return. Investor harus memperhatikan hubungan antara kedua hal tersebut.
Risiko investasi dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya perbedaan antara return aktual dengan return yang diharapkan. Dua konsep ini, risiko dan return, bagaikan dua sisi mata uang yang selalu berdampingan. Hubungan ke dua hal penting tersebut biasa dijelaskan melalui Capital Asset Pricing Model ( CAPM )
yang menyatakan bahwa semakin besar risiko suatu investasi, maka semakin besar pula return yang disyaratkan investor. Dengan demikian hubungan antara return dan risiko yang disyaratkan investor bersifat positif dan linear. Risiko sering dihubungkan penyimpangan outcome (kemungkinan hasil) yang diterima dengan yang diekspektasi.
Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi diharapkan terjadi di masa yang akan datang. Pada kenyataannya return tidak selalu memenuhi harapan. Hal ini terjadi karena return selalu berubah-ubah. Dalam keadaan demikian investor harus jeli terhadap investasinya.
Sumber risiko dapat berasal dari factor yang mempengaruhi semua (banyak perusahaan) dan ada pula yang hanya spesifik mempengaruhi suatu perusahaann tertentu saja. Sebagai contoh, pengumuman tentang angka pertumbuhan GNP, tingkat bunga, merupakan informasi yang mempengaruhi semua perusahaan. Sedangkan pengumuman tentang penjualan perusahaan yang meningkat lebih tinggi dari yang diharapkan, produk pesaing yang mengalami gangguan, merupakan contoh informasi yang hanya mempengaruhi suatu perusahaan tertentu saja. Dengan demikian sumber risiko dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu systematic risk dan unsystematic risk.

Menurut Weston dan Copeland ( dalam michell Suharli, 2005 ) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi return saham adalah risiko finansial dan risiko sistematik. Sedangkan menurut Chow, 1997 (dalam Nisa Nursita, 2003) menyatakan ada faktor lain yang mempengaruhi return saham, yaitu risiko bisnis. Sedang menurut Tandelilin, 2001 ( dalam Nisa Nursita, 2003 ) menyatakan bahwa selain risiko bisnis, risiko sistematis juga merupakan faktor yang mempengaruhi return saham.
Risiko sistematis atau risiko pasar adalah risiko yang terkait dengan pengaruh makro ekonomi, kerusuhan, maupun perubahan politik yang sulit dikendalikan yang mempengaruhi pasar. Kondisi ekonomi yang stabil, tidak adanya kerusuhan dan perubahan politik akan berpengaruh positif terhadap harga saham, sehingga akan mempengaruhi terhadap return saham yang diperoleh investor. Di sini Risiko sistematis dapat dilambangkan dengan beta (β). Beta dapat diestimasi dengan meregres return saham terhadap return pasar. Beta merupakan pengukur volatilitas return suatu sekuritas atau portofolio terhadap return pasar. Dimana pengertian volatilitas adalah sebagai fluktuasi dari return suatu sekuritas dalam suatu periode tertentu. Jika fluktuasi return sekuritas secara statistik mengikuti fluktuasi return pasar, maka beta dari sekuritas tersebut bernilai 1. Misalnya apabila return pasar naik sebesar 5%, maka investor akan mengharapkan kenaikan return sekuritasnya sebesar 5% pula (Michell Suharli, 2005).
Risiko finansial termasuk faktor yang berpengaruh terhadap return saham. Risiko finansial merupakan risiko tambahan pada perusahaan akibat keputusan menggunakan hutang. Risiko ini diterima oleh investor akibat ketidakmampuan emiten saham atau obligasi memenuhi kewajiban pembayaran deviden atau bunga serta pokok investasi. Adanya kemampuan perusahaan membayar bunga dan pokok investasi, semakin besar kemungkinan akan berpegaruh positif terhadap peningkatan return saham. Sebagai pengukurannya, Risiko finansial akan dapat ditunjukkan dengan menggunakan Debt Ratio. Debt Ratio dihitung dengan membagi total hutang dengan total aset. Ratio ini mengukur besarnya asset perusahaan yang dibiayai hutang. Semakin besar hutang yang digunakan oleh perusahaan, semakin besar pula beban tetap berupa bunga yang harus dibayar, sehingga semakin besar pula risk finansialnya.

Risiko bisnis merupakan ketidakpastian yang melekat dalam proyeksi pengembalian atas modal yang diinvestasikan, ketidakpastian pada perkiraan pendapatan operasi perusahaan dimasa mendatang. Risiko bisnis mewakili tingkat risiko dari operasi – operasi perusahaan yang tidak menggunakan hutang.. Risiko ini berhubungan dengan kemampuan perusahaan dalam menjalankan pengembangan dengan modal sendiri. Semakin besar kemampuan perusahaan menjalankan modal akan berpengaruh positif terhadap peningkatan return saham. Risiko bisnis secara sederhana dapat digambarkan sebagai fungsi dari ketidakpastian yang terkandung dalam perkiraan hasil dari modal yang ditanamkan (Return on Invested Capital, ROIC) dari suatu perusahaan. Jika perusahaan tersebut tidak menggunakan hutang, maka ROIC adalah sama dengan ROE. Dengan demikian, risiko bisnis dari suatu perusahaan yang tidak berhutang dapat diukur dengan menghitung standar deviasi dari ROE – nya (Nanda, 2004). ROE merupakan ukuran kemampuan perusahaan (emiten) dalam menjalankan pengembangan dengan menggunakan modal sendiri, sehingga ROE disebut sebagai rentabilitas modal sendiri. Laba yang diperhitungkan disini adalah laba bersih setelah pajak atau EAT. Rasio ini dapat diperoleh dengan membagi laba setelah pajak dengan total modal sendiri (Lukas Setia Atmaja, 2003)
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan mengambil judul ”Pengaruh Risiko Investasi Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Periode 2007 – 2008)”.

1.2. Rumusan Masalah Penelitian
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui besarnya pengaruh risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis, terhadap return saham. Dalam penelitian ini, rumusan masalahnya adalah :
Apakah risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis berpengaruh terhadap return saham?

1.3. Batasan Masalah
Banyak faktor yang mempengaruhi return saham, diantaranya adalah risiko suku bunga, risiko sistematis, risiko inflasi, risiko bisnis, risiko finansial, risiko likuiditas, risiko nilai tukar mata uang dan risiko Negara, sehingga untuk mempermudah penelitian selanjutnya, peneliti membatasi risiko sebagai berikut : risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis.

1.4. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis secara simultan pengaruh risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis terhadap return saham.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis secara parsial pengaruh risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis terhadap return saham.

1.5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan di bawah ini :
1. Bagi dunia pendidikan.
Dapat digunakan sebagai tambahan informasi bagi akademik dan acuan dalam mempraktekkan berbagai teori yang menyangkut faktor-faktor yang mempengaruhi risiko saham.
2. Bagi Investor.
Memberikan bahan pertimbangan kepada calon investor dalam mengambil keputusan investasi.
3. Bagi pihak lain.
Memberikan bahan acuan bagi penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan hasil penelitian ini.
4. Bagi penulis.
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan dan juga untuk menerapkan teori yang telah didapatkan di FE UII.

Untuk versi MS-Word…silahkan klik download

Agustus 6, 2010 at 10:04 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Ekspektasi Inflasi Terhadap Inflasi IHK di Sulawesi Utara Tahun 1997:I-2005:IV (KE-21)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Inflasi merupakan masalah ekonomi di seluruh Negara. Menurut pengalaman di berbagai Negara yang mengalami inflasi adalah terlalu banyaknya jumlah uang yang beredar, kenaikan upah, krisis energi, defisit anggaran, dan masih banyak penyebab dari terjadinya inflasi..Salah satu penyakit dalam suatu perekonomian yang dialami oleh Negara berkembang adalah upaya menjaga kestabilan makro ekonomi secara luas, khususnya dalam menjaga inflasi. Seperti penyakit, inflasi timbul karena berbagai alasan. Sebagian inflasi timbul dari sisi permintaan, sebagian lagi dari sisi penawaran. Secara teoritis, pengertian inflasi merujuk pada perubahan tingkat harga (barang dan jasa) umum yang terjadi secara terus menerus akibat adanya kenaikan permintaan agregat atau penurunan penawaran agregat. Untuk itu inflasi harus dapat segera diatasi, karena inflasi yang buruk akan mengurangi investasi diikuti dengan berkurangnya kegiatan ekonomi, dan menambah pengangguran, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi.
(Sudono sukirno, 1981:17).

Dalam Surat kabar Suara Merdeka Senin, 07 November 2005, kondisi perekonomian indonesia pada triwulan III-2005 diwarnai oleh tekanan pada nilai tukar rupiah dan tingginya harga minyak internasional yang berkelanjutan, diiringi peningkatan ekspektasi inflasi masyarakat. Demikian pula menurut laporan Bank Indonesia, perekonomian indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap stabilitas makro ekonomi meningkat. Tingginya harga minyak dunia dan ekspansi ekonomi domestic yang bertumpu pada impor telah menimbulkan tekanan yang besar terhadap kondisi neraca pembayaran dan pengeluaran subsidi Bahan Bakar Minyak pemerintah. Dari sisi moneter, kondisi tersebut telah menyebabkan tekanan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkat, sementara inflasi masih relatif tinggi salah satunya karena dampak meningkatnya ekspektasi inflasi. Bank Indonesia memandang bahwa meningkatnya ekspektasi inflasi dan depresiasi nilai tukar rupiah tersebut dapat meningkatkan resiko ketidakstabilan makro ekonomi yang dapat mengganggu keberlangsungan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Masih berperannya inflasi periode lalu (ekspektasi adaptif) pada pembentukan ekspektasi inflasi masyarakat menunjukkan pentingnya peningkatan efektifitas kebijakan moneter dalam pengendalian inflasi. Studi tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan moneter Bank Indonesia dan membentuk ekspektasi inflasi dari realisasi inflasi yang terjadi. Dengan demikian, apabila efektifitas kebijakan moneter tersebut mampu ditingkatkan dan berhasil menekan inflasi ke tingkat yang rendah, maka ekspektasi inflasi juga akan menurun dan dengan demikian akan semakin mendukung efektifitas kebijakan moneter dalam pengendalian inflasi tersebut. Di sisi lain, pengaruh nilai tukar terhadap pembentukan ekspektasi inflasi cenderung bersifat asimetris. Bagi perusahaan, terdapat rigiditas harga ke bawah dalam pola pembentukan harga oleh perusahaan, dalam arti perusahaan cenderung enggan menurunkan harga dalam hal terjadi apresiasi nilai tukar rupiah. Sebaliknya, depresiasi nilai tukar melebihi suatu tingkat tertentu akan diikuti dengan kenaikan harga oleh perusahaan. Dari sisi rumah tangga, perilaku asimetris juga terjadi pada pembentukan ekspektasi inflasinya, dalam arti depresiasi akan diikuti dengan kenaikan ekspektasi inflasi sementara apresiasi tidak selalu diikuti dengan penurunan ekspektasi inflasi. Bukti empiris ini semakin menekankan pentingnya Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, baik karena pengaruhnya terhadap pembentukan ekspektasi inflasi maupun pertimbangan pengaruhnya baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap inflasi.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia melalui tabel 1.1 dapat dilihat bahwa tingkat inflasi di Sulawesi Utara dari triwulan I-2001 sampai triwulan IV-2005 mengalami fluktuasi, hal itu disebabkan karena fluktuasi nilai tukar rupiah dan tingkat ekspektasi masyarakat. Khusus pada tahun 2005 triwulan III kurs rupiah mengalami pelemahan yang tajam, dari Rp. 9.713 per USD pada triwulan ke II menjadi Rp. 10.310 per USD. Salah satu penyebabnya adalah adanya sentiment negatif dari persepsi pasar atas kondisi fiskal pemerintah dalam menanggung besarnya subsidi BBM akibat tingginya harga minyak. Ekspektasi inflasipun mengalami peningkatan akibat melemahnya nilai tukar pada triwulan tersebut. Dengan demikian dapat dilihat bahwa tingkat inflasi IHK tidak hanya dipengaruhi dengan nilai tukar saja, tetapi juga dengan tingkat ekspektasi masyarakat.

1.1. Tabel Nilai Tukar Rupiah, Ekspektasi Inflasi, dan Inflasi IHK
Di Sulawesi Utara
Tahun 1997 Triwulan I – Tahun 2005 Triwulan IV

Tahun Triwulan Nilai Tukar Ekspektasi IHK
1997 I 2419 101.25 106.77
II 2450 106.77 106.95
III 3275 106.95 111.31
IV 4650 111.31 113.8
1998 I 8325 113.8 136.25
II 14900 136.25 160.42
III 10700 160.42 191.63
IV 8025 191.63 198.39
1999 I 8685 198.39 212.57
II 6726 212.57 217.33
III 8386 217.33 209.2
IV 7100 209.2 213.1
2000 I 7590 213.1 216.11
II 8735 216.11 216.22
III 8780 216.22 222.08
IV 9595 222.08 237.41
2001 I 10400 237.41 241.42
II 11440 241.42 241.93
III 9675 241.13 250.46
IV 10400 250.46 268.99
2002 I 10410 268.99 278.11
II 8730 278.11 282.82
III 8996 282.82 291.26
IV 9049 291.26 309.92
2003 I 8908 309.92 96.9
II 8285 96.9 96.53
III 8389 96.53 98.78
IV 8465 98.78 100.69
2004 I 8587 100.69 109.27
II 9095 109.27 110.13
III 9222 110.13 110.58
IV 9290 110.58 113.46
2005 I 9480 113.46 114.13
II 9713 114.13 115.72
III 10250 115.72 117.98
IV 10289 117.98 120.87
Sumber Bank Indonesia

Berdasarkan catatan Bank Indonesia melalui tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat inflasi di Sulawesi Utara dari triwulan I-2001 sampai triwulan IV-2005 mengalami fluktuasi, hal itu disebabkan karena fluktuasi nilai tukar rupiah dan tingkat ekspektasi masyarakat. Khusus pada tahun 2005 triwulan III kurs rupiah mengalami pelemahan yang tajam, dari Rp. 9.713 per USD pada triwulan ke II menjadi Rp. 10.310 per USD. Salah satu penyebabnya adalah adanya sentiment negatif dari persepsi pasar atas kondisi fiskal pemerintah dalam menanggung besarnya subsidi BBM akibat tingginya harga minyak. Ekspektasi inflasipun mengalami peningkatan akibat melemahnya nilai tukar pada triwulan tersebut. Dengan demikian dapat dilihat bahwa tingkat inflasi IHK tidak hanya dipengaruhi dengan nilai tukar saja, tetapi juga dengan tingkat ekspektasi masyarakat.
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan betapa pentingnya pengkajian masalah inflasi di lakukan di Sulawesi Utara, terutama dikaitkan dengan variabel-variabel yang mempunyai pengaruh terhadap tingkat inflasi seperti nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi.

1.2. Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah pokok dalam penelitian ini, yaitu : “ Bagaimanakah pengaruh nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi terhadap Inflasi IHK di Sulawesi Utara ?”

1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh ekspektasi inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap tingkat inflasi di Sulawesi Utara.
2. Untuk mengetahui hubungan ekspektasi inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap tingkat inflasi di Sulawesi Utara.
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini sangat diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu :
1. Sebagai bahan masukan atau informasi kepada para pengambil keputusan, terutama kepada pemerintah daerah Sulawesi Utara maupun instansi terkait, dalam menentukan langkah-langkah kebijaksanaan, khususnya menyangkut masalah inflasi.
2. Sebagai bahan referensi dan pembanding bagi para peneliti yang lain yang ingin meneliti variabel-variabel lain yang turut mempengaruhi inflasi.

Ingin dalam bentuk MS-WOrd…silahkan klik download

Agustus 5, 2010 at 1:11 pm Tinggalkan komentar

PENGARUH HARGA DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP LIKUIDITAS SAHAM PADA PERUSAHAN YANG MELAKUKAN STOCK SPLIT (KE-20)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pasar modal memberikan manfaat bagi dunia usaha, pemodal atau investor maupun perekonomian nasional. Manfaat bagi dunia usaha yaitu pembinaan kegiatan operasional melalui penjualan saham merupakan allternatif sumber pembiayaan jangka panjang. Kebutuhan investasi yang di biayai melalui pasar modal sering kali lebih menguntungkan di banding dengan pembiayaan lainnya. Manfaat bagi investor yaitu dengan adanya pasar modal memungkinkan para investor untuk melakukan diversivikasi investasi, membentuk portofollio yng sesuai dengan resiko yang bersedia mereka tanggung dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan. Sedangkan manfaat yang di tinjau dari segi perekonomian nasional yaitu penjualan saham dapat menjadi sarana penyebaran dana yang efisien dan dapat meningkatkan produktifitas modal. Semakin efisiennya perusahaan yang memperoleh dana pembiayaan dari pasar modal maka diharapkan laba yang diperoleh makin meningkat.

Dalam dunia bisnis pasar modal, preferensi investor sangat mempengaruhi tingkat permintaan atas suatu saham. Dimana preferensi tersebut sangat di pengaruhi oleh expected return yang di inginkan investor atas investasi modalnya. Dalam hal ini, preferensi tidak hanya mempertimbangkan kondisi makro ekonomi dan stabilitas ekonomi, tetapi juga melihat profil, kinerja dan kebijakan perusahaan emiten, terutama kebijakan strategis yang berhubungan langsung dengan kekayaan pemegang saham. Bagi investor sendiri ada beberapa keuntungan yang di harapkan akan dapat di peroleh atas investasi yang dilakukan dalam pasar saham. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain berupa keuntungan dalam bentuk dividen, kenaikan harga saham (capital gain), serta keuntungan dalam bentuk hak investor untuk ikut serta dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan, yang nantinya akan menentukan arah dan kebijakan perusahaan ke depan.
Investor dalam mengambil keputusan untuk menginvestasikan uangnya di pasar modal pasti memerlukan informasi yang lengkap, Informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para investor dalam mengambil keputusan sehingga dapat mengurangi ketidakpastian yang mungkin terjadi. Keputusan yang di ambil di harapkan akan sesuai dengan tujuan yang ingin di capai, salah satu informasi yang ada adalah pengumuman stock split atau pemecahan saham. Dalam pasar modal sering kita mendengar tentang adanya pengumuman mengenai stock split. Banyak perusahaan emiten yang go-poblic di Bursa Efek Jakarta melakukannya, mungkin kita pernah mendengar sebuah perusahaan emiten yang mengumumkan bahwa perusahaan tersebut akan melakukan stock split dengan proporsi 2:1, 3:1 dan lain-lain. Misalnya stock split yang di lakukan PT. Indofood dengan proporsi 5:1 pada tanggal 29 september 2000, di mana satu saham dengan nilai nominal semula Rp.500 di pecah menjadi lima saham dengan nilai nominal Rp. 100 per lembar sahamnya, (Wijanarko, 2003:1).
Stock split merupakan kebijakan para emiten (perusahaan yang go-poblic) untuk meningkatkan jumlah saham beredar karena harga saham terlalu tinggi (over-valued). Secara teoritis dampak dari stock split adalah harga saham akan menjadi under-valued karena peningkatan jumlah lembar saham yang berlipat ganda.Sebenarnya para emiten berharap stock split akan diikuti oleh reaksi positif dari pasar yaitu meningkatnya minat beli (bid-order) para investor. Naiknya bid-order akan membuat harga saham emiten yang tadinya under-valued akan meningkat kembali beberapa hari setelah pengumuman stock split.
Namun kadang-kadang stock split juga tidak menimbulkan reaksi berarti atau bahkan terjadi reaksi negative di pasar. Hal ini terjadi karena pasar (investor) menilai kebijakan stock split suatu emiten kurang mencerminkan prospek yang positif di masa depan. Menurut persepsi pasar (investor) motivasi utama emiten melakukan stock split bukan untuk aktivitas rekapitalisasi hutang jangka panjang. Berbagai jenis reaksi pasar (investor) atas stock split mencerminkan Signaling Theory sementara fenomena perubahan harga saham akibat stock split mencerminkan Liquidity Hipotheses atau Trading Range Theory (Susanti dkk, 2005:36)
Hasil pengaruh stock split terhadap likuiditas saham di Indonesia menunjukkan adanya kontroversi. Fatmawati dan Asri (1999) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa secara keseluruhan aktivitas stock split berpengaruh secara siknifikan terhadap tingkat harga saham, volume turnover dan persentase spread. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan harga rata-rata saham sesudah stock split, sedangkan persentase spread sesudah stock split mengalami peningkatan. Peningkatan spread berimplikasi pada penurunan likuiditas. Sedangkan Ewijaya dan Nur Indriantoro (1999) menyimpulkan bahwa stock split berpengaruh negative terhadap perubahan harga saham relatif. Harga pasar saham sesudah stock split yang diharapkan naik justru menurun. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan stock split akan merugikan investor lama.
Berdasarkan pada beberapa pandangan yang kontroversi mengenai stock split tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Harga dan Volume Perdagangan Saham terhadap Likuiditas Saham pada Perusahaan yang Melakukan Stock Split “.

B. Pembatasan Masalah.
Lingkup permasalahan hanya dibatasi pada pokok bahasan yang berkaitan dengan judul permasalahan, yaitu :
1. Terbatas pada perbedaan harga saham, volume perdagangan dan likuiditas saham sebelum dengan sesudah stock split.
2. Terbatas pada pengaruh harga dan volume perdagangan saham terhadap likuiditas saham untuk perusahaan yang melakukan stock split.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah diatas, maka permasalahan yang akan di rumuskan berkenaan dengan obyek penelitian ini adalah :
1. Apakah ada perbedaan antara harga saham dan volume perdagangan dan likuiditas saham sebelum dan sesudah stock split?
2. Apakah ada pengaruh harga saham dan volume perdagangan saham terhadap likuiditas saham untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan stock split ?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan pada harga dan volume perdagangan saham dan likuiditas sebelum dan sesudah stock split.
2. Untuk menganalisis pengaruh harga dan volume perdagangan saham terhadap likuiditas untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan stock split.

E. Manfaat penelitian
Penelitian yang di lakukan diharapkan akan bermanfaat :
1. Bagi peneliti
Untuk memperoleh gambaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan investasi saham pada perusahaan-perusahaan yang melakukan stock split dan membandingkan dengan teori yang di peroleh selama mengikuti perkuliahan.
2. Bagi perusahaan dan pelaku pasar modal
Dapat memberikan informasi yang bermanfaat dalam menganalisis perubahan harga saham dan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah melakukan stock split.
3. Bagi Almamater
Sebagai bahan referensi bagi peniliti yang mengambil topik yang sama dan menambah khazanah perbendaharaan penelitian di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Untuk file dalam bentuk MS-Word, silahkan klik download

Agustus 5, 2010 at 1:06 pm Tinggalkan komentar

PERANAN PERILAKU SOSIAL PT “X” SEBAGAI BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP LINGKUNGAN SEKITARNYA (AK-31)

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Permasalahan
Kemajuan sebuah perusahaan yang didukung kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, politik dan budaya membuat dunia bisnis melaju dengan cepat, dan merupakan suatu hal yang positif apabila dibarengi dengan adanya tanggung jawab perusahaan terhadap apapun yang dilakukan. Karena pada dasarnya kemajuan tersebut mengakibatkan makin maju dan kompleksnya aktivitas perusahaan yang mengarah pada keinginan perusahaan untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menjalankan aktivitas operasionalnya. Kemudahan-kemudahan itu didapat, karena selama ini perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat, antara lain membuka lapangan pekerjaan, menyediakan kebutuhan masyarakat dan pembayaran pajak bagi pemerintah.

Bisnis yang baik selalu mempunyai misi tertentu yang luhur dan tidak sekedar mencari keuntungan, akan tetapi harus dapat meningkatkan standar hidup masyarakat dan membuat hidup manusia lebih manusiawi melalui pemenuhan kebutuhan secara baik. Bisnis yang hanya mencari keuntungan telah menyebabkan perilaku yang menjurus menghalalkan segala cara demi mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa mengindahkan nilai-nilai manusiawi lainnya.
Sekarang ini perusahaan dihadapkan pada persaingan global dengan linkungan yang berubah secara cepat. Perekonomian kapitalis yang pada prakteknya sering mengabaikan kepentingan sosial dan lingkungan, perlahan namun pasti sudah mulai mengadopsi nilai-nilai sosial. Perekonomian kapitalisme yang dulu hanya menekankan pada aspek pertumbuhan skala makro dan maksimalisasi laba berkelanjutan pada skala perusahaan, sekarang mulai memperhatikan kepentingan di luar laba. Hal ini menuntut manajemen perusahaan untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan stockholders, tetapi lebih pada kepentingan stakeholders.
Munculnya akuntansi sosial tidak terlepas dari kesadaran perusahaan terhadap kepentingan lain selain untuk memaksimalkan laba bagi perusahaan. Perusahaan menyadari bahwa mereka selalu bersinggungan dengan berbagai kontroversi dan masalah sosial sehingga perusahaan mulai memperhartikan hubungan dengan lingkungan sosial.
Akuntansi untuk pertanggungjawaban sosial merupakan perluasan pertanggungjawaban organisasi (perusahaan) diluar batas-batas akuntansi keuangan tradisional, yaitu menyediakan laporan keuangan tidak hanya kepada pemilik modal khususnya pemegang saham. Perluasan ini didasarkan pada anggapan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab yang lebih luas dan tidak sekedar mencari uang untuk para pemegang saham tetapi juga bertanggung jawab kepada seluruh stakeholders. Hal ini terdapat dalam Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia yang telah mengakomodasi hal tersebut, yaitu dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan no. 1 paragraph ke-9 :
”Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting”

Laporan keuangan sebagai laporan pertanggungjawaban perusahaan kepada pemilik dan kreditur ternyata belum mencukupi. Dapat dikatakan, entitas perusahaan tidak hanya dituntut untuk menghasilkan laba sebanyak-banyaknya bagi entitas tetapi juga dituntut untuk menghasilkan benefit yang maksimal bagi masyarakat umum dan lingkungan sosial, karena pengguna laporan keuangan tidak terbatas kepada pemegang saham, calon investor, kreditur dan pemerintah semata tetapi juga untuk stakeholder yang lain.
Dalam penerapannya, akuntansi pertanggungjawaban sosial mengalami berbagai kendala, terutama dalam masalah pengukuran elemen-elemen sosial dan dalam rangka penyajiannya di laporan keuangan yang bersifat kuantitatif. Masalah pengukuran timbul terutama karena tidak semua elemen sosial dapat diukur dengan satuan uang serta belum terdapatnya standar akuntansi yang baku mengenai pengukuran dan pelaporan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai mempedulikan lingkungan sosialnya, mengingat pentingnya aspek sosial tersebut. Wujud perhatian itu tampak pada kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan. Akuntansi yang merupakan bagian dari dunia usaha ikut memberikan kontribusi dalam merespon kepedulian sosial perusahaan dengan berkembangnya akuntansi sosial termasuk didalamnya pengungkapan aktivitas sosial dalam laporan keuangan tahunan perusahaan.

I.2. Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka, penulis merumuskan beberapa permasalahan antara lain :
1. Bagaimanakah perilaku sosial perusahaan dalam melaksanakan aktivitas-aktivitasnya terhadap lingkungan sekitarnya ?
2. Bagaimanakah laporan akuntansi pertanggungjawaban sosial untuk menilai kinerja sosial perusahaan pada PT”X” ?

I.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui perilaku sosial perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya dalam melaksanakan aktivitas-aktivitasnya.
2. Mengetahui laporan akuntansi pertanggungjawaban sosial untuk menilai kinerja sosial perusahaan.

I.4. Manfaat Penelitian
Penulisan Skripsi ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :
1. Bermanfaat bagi pembaca dalam menambah wawasan tentang penerapan akuntansi pertanggungjawaban sosial yang dapat dilakukan pada suatu perusahaan
2. Bermanfaat untuk membantu manajemen perusahaan untuk menyusun suatu laporan tentang biaya-biaya sosial dan laporan nilai tambah sebagai pelengkap dalam laporan keuangan untuk menunjukkan pertanggungjawaban sosial perusahaan.
3. Sebagai referensi bagi pihak lain yang akan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini.

Anda butuh file tersebut dalam bentuk MS-WORD, silahkan klik download

Agustus 4, 2010 at 11:40 pm Tinggalkan komentar


Kalender

Agustus 2010
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Posts by Month

Posts by Category