Archive for Mei, 2010

MANAJEMEN KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA (KONI) PROPINSI JAWA TENGAH TAHUN 2005 (POL-2)

MANAJEMEN KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA (KONI) PROPINSI JAWA TENGAH TAHUN 2005

KODE : POL-2 atau P-48

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Olahraga merupakan kebutuhan manusia yang merupakan unsur pokok dan sangat berpengaruh dalam pembentukan jiwa (rohani) dan jasmani (raga/tubuh) yang kuat. Sebagaimana sesuai dengan semboyan Yunani Kuno yang berbunyi : Orandum est ut sit, mens sana in corpore sano yang dapat diartikan “semoga hendaknya, dalam badan/tubuh/raga yang kuat bersemayam jiwa yang sehat“. Sehingga setiap manusia yang sering melakukan kegiatan olahraga akan memiliki kesehatan rohani dan jasmani yang lebih baik dibanding manusia yang jarang atau tidak pernah melakukan kegiatan olahraga.

Selain itu seiring dengan perkembangan olahraga, olahraga juga digunakan sebagai sarana untuk mengangkat harkat dan martabat. Hal tersebut dapat dicapai melalui prestasi yang membanggakan dibidang olahraga. Untuk mencapai tujuan tersebut, di Indonesia telah ada satu organisasi keolahragaan nasional yang berwenang mengkoordinasikan dan membina setiap dan seluruh kegiatan olahraga prestasi. Organisasi yang dimaksud adalah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang mempunyai tujuan untuk mewujudkan prestasi olahraga yang membanggakan, membangun watak bangsa untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia (KONI, 1999 : 3). Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, KONI mempunyai susunan organisasi mulai dari tingkat kecamatan sampai ketingkat pusat. Rangkaian susunan Pimpinan KONI tersebut, berkewajiban untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan keputusan lain yang mengikat, seperti keputusan Musornas, Raparnas, Musorda, Musda dan Raparda.

Dengan susunan organisasi yang sangat komplek tersebut, KONI sebagai satu-satunya wadah yang mengkoordinasikan dan membina olahraga prestasi di Indonesia dituntut untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik serta memiliki pengelolaan manajemen yang teratur. Sehingga menjadi organisasi yang mandiri dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Hal tersebut menjadi nilai mati dan harus dilaksanakan oleh KONI karena keberhasilan suatu organisasi termasuk KONI tidak akan pernah tercapai tanpa adanya suatu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan kerja serta dengan adanya suatu pengawasan atas pelaksanaan kerja. Syarat-syarat tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan manajemen. Dengan memiliki manajemen yang baik dan teratur, KONI akan mampu melaksanakan tugasnya dengan lebih profesional. Dengan kerja yang profesional KONI akan mampu menghadapi tantangan yang dihadapi. Serta dapat mencapai tujuannya dalam mewujudkan prestasi olahraga yang membanggakan, membangun watak bangsa untuk mengangkat moral bangsa.

Selain hal tersebut diatas, peran aktif anggota masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya pencapaian tujuan tersebut. Namun pada kenyataannya, pemahaman masyarakat tentang tujuan dan tugas KONI yang masih kurang membuat peran masyarakat belum maksimal bahkan sebagian masyarakat tidak peduli dengan perkembangan olahraga prestasi yang menjadi tujuan keberadaan KONI. Upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat adalah dengan memberikan pemahaman tentang tujuan dan tugas KONI, sehingga pada akhirnya peranan masyarakat dalam meningkatkan olahraga prestasi dapat ditingkatkan.
1.2 Permasalahan

Dari latar belakang tersebut, maka dapat ditarik permasalahan “Bagaimana manajemen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Propinsi Jawa Tengah Tahun 2005 ? “

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian yang ini adalah dapat mendiskripsikan manajemen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Propinsi Jawa Tengah Tahun 2005.

1.4 Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi kesalahpahaman dan untuk memberikan pemahaman tentang arah penelitian yang akan dilakukan, maka perlu ditegaskan istilah-istilah mengenai komponen pokok penelitian yaitu manajemen, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

1.4.1 Manajemen

Dalam memberikan definisi manajemen muncul beberapa pendapat. Menurut definisi yang dikembangkan oleh Manullang, manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan karyawan, pemberian perintah dan pengawasan terhadap human and resources untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Djati Julitriarsa dan John Suprihanto, 1988 : 3). George R. Terry memberikan definisi manajemen sebagai suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan pelaksanaan kerja dan pengawasan dengan memanfaatkan ilmu maupun seni untuk menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan (Soewarno Handayaningrat, 1982 : 20).

1.4.2 Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Propinsi Jawa Tengah

Dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) KONI tentang status KONI diartikan bahwa KONI adalah satu-satunya organisasi keolahragaan nasional yang berwenang mengkoordinasikan dan membina setiap dan seluruh kegiatan olahraga prestasi di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (KONI 1999 : 3). KONI Propinsi Jawa Tengah merupakan kepanjangan tangan dari KONI pusat yang berkedudukan dan memiliki wilayah kerja di Propinsi Jawa Tengah. KONI Propinsi Jawa Tengah mempunyai kantor di Komplek GOR Jati Diri Karangrejo Semarang.

1.5 Manfaat Penelitian

Dalam melaksanakan setiap penelitian diharapkan agar mendapatkan manfaat dari penelitian. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1.5.1 Bagi pihak KONI

Dapat dijadikan sebagai bahan masukan yang dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan profesionalisme kerja dan kegiatan KONI Propinsi Jawa Tengah dalam mengkoordonasi dan membina olahraga prestasi di Jawa Tengah.

1.5.2 Bagi peneliti
Dapat mengetahui secara jelas mengenai manajemen KONI Propinsi Jawa Tengah dalam mengkoordonasi dan membina olahraga prestasi di Jawa Tengah.
1.5.3 Bagi pembaca

Dapat dijadikan sebagai bahan referensi yang dapat menambah pemahaman tentang manajemen KONI Propinsi Jawa Tengah dalam mengkoordonasi dan membina olahraga prestasi di Jawa Tengah.

Iklan

Mei 31, 2010 at 12:08 pm Tinggalkan komentar

PENGELOLAAN KELAS GURU MATA PELAJARAN PENGETAHUAN SOSIAL DI SMP NEGERI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2005/2006 (PGEO-1)

PENGELOLAAN KELAS GURU MATA PELAJARAN PENGETAHUAN SOSIAL DI SMP NEGERI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2005/2006

KODE : PGEO-1 atau P-47

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan proses tindakan bimbingan dan pertolongan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Pendidikan mengusahakan pembinaan pribadi manusia sampai pada tujuan akhirnya yaitu kebahagiaan dan sekaligus berguna bagi masyarakat. Maka kegiatan pendidikan yang benar adalah pembinaan kepribadian manusia untuk mampu membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan diri sendiri, serta sekaligus untuk kepentingan masyarakat, perilaku hubungan dngan keluarga, masyarakat, dan alam sekitar (Theo Riyanto, 2002:46)

Tanggungjawab pendidikan yang paling mendasar terutama adalah mempersiapkan perserta didik menjadi subyek yang makin berperan dalam menampilkan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional dalam bidangnya masing-masing.
Guru merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat. Di dalam masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju, guru memegang peranan penting. Namun masih ada mayarakat yang menyangsikan besarnya tanggung jawab seorang guru, termasuk pula masyarakat yang sering menggaji guru lebih rendah daripada yang diinginkan. Banyak orang tua kadang-kadang merasa cemas akan kemampuan guru-guru anak-anak mereka itu sewaktu menyaksikan anak-anak

mereka berangkat ke sekolah. Dan guru-guru, setelah beberapa bulan pertama mengajar, pada umumnya sudah menyadari betapa besar pengaruh-pengaruh terpendam mereka memiliki terhadap pembentukan akal budi siswa-siswa mereka. Sayang sekali kesadaran umum akan besarnya tanggung jawab seorang guru itu belumlah terwujud dalam usaha mereka untuk mengajar dengan pertimbangan-pertimbangan yang seksama (James Popham, Eva L. Baker, 2003:1)

Keprihatinan tentang pendidikan sudah sampai pada keadaan yang kompleks. Mulai dari keprihatinan terhadap mutu pendidikan, kurikulum, buku mata pelajaran, sistem ujian, birokrasi, biaya, administrasi yang tidak perlu sampai tentu saja sikap dan semangat para guru. Ada pendapat bahwa guru itu dibedakan menjadi tiga golongan. Pertama, guru yang sungguh pendidik, mereka tidak hanya mengajar sebagai tempat mencari nafkah belaka, tetapi sungguh sebagai tempat pengabdian untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Kedua, guru yang pengajar, mereka sekedar memindahkan ilmu dan ketrampilan yang dimiliki kepada para siswa, tidak berurusan dengan bagaimana kepribadian, watak dan perilaku siswa. Ketiga, guru yang menumpang hidup di dunia pendidikan, mereka bukan pendidik dan pengajar tetapi tukang yang hanya sungguh mencari makan di dunia pendidikan. Dan rasanya kelompok kedua dan ketiga ini yang semakin berkembang dimana-mana, sedangkan guru yang pendidik semakin berkurang (Theo Riyanto, 2002:1)

Golongan guru kedua dan ketiga ini kemungkinan besar diakibatkan banyak pendidik yang mengalami frustasi dan kecewa terhadap sistem pendidikan yang ada. Begitu banyak tuntutan administratif dan peran yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan, sehingga menyedot banyak perhatian dan tenaga yang mestinya hanya ditujukan pada bagaimana membantu peserta didik untuk tumbuhkembang secara optimal.

Pendidikan dan pengajaran yang efektif tidak hanya sekedar efektifnya proses pemindahan ilmu pengetahuan dari pendidik ke peserta didik. Pengajaran tidak hanya sekedar memonitor peserta didik apakah mereka bertingkah laku seperti yang diajarkan pendidik atau tidak. Pendidikan yang efektif menuntut pendidik sebagai pribadi yang berfungsi penuh sedemikian sehingga mampu menciptakan relasi pribadi yang bersifat mendidik, sehingga peserta didik mampu menumbuhkembangkan dirinya secara utuh dan optimal.

Salah satu usaha guru dalam pengelolaan kelas adalah memberikan dorongan dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar oleh karena itu kelas harus dikelola dengan sebaik-baiknya oleh guru. Pengelolaan kelas sangat dibutuhkan oleh guru karena dari hari ke hari dan bahkan dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan anak didik selalu berubah. Hari ini anak didik dapat belajar dengan baik dan tenang tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam dalam kelompok sebaliknya, di masa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Tanpa adanya pengelolaan kelas yang baik maka akan mudah terjadi suatu penyelewengan tindakan dalam kelas. Penyelewengan tersebut disebabkan oleh banyak hal seperti kurangnya perhatian dan pengenalan, kurangnya ketegasan dalam disiplin, bosan, dan sebagainya.
Pengelolaan kelas dijalankan oleh seluruh SMP Negeri di Kabupaten Banjarnegara maka perlu diketahui bagaimana dan sejauh mana pelaksanaan pengelolaan kelas berbasis kompetensi telah dijalankan oleh guru-guru se- SMP Negeri di Kabupaten Banjarnegara.
Untuk itu “PENGELOLAAN KELAS GURU PENGETAHUAN SOSIAL DI SMP NEGERI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN
2005/2006” sangat diperlukan agar dapat diketahui sejauh mana tingkat pengelolaan kelas guru mata pelajaran Pengetahuan Sosial di SMP Negeri Kabupaten Banjarnegara selanjutnya memberikan informasi pengelolaan kelas berbasis kompetensi para pendidik dalam upaya mengoptimalkan hasil belajar.

B. PENEGASAN ISTILAH

Dari judul penelitian “PENGELOLAAN KELAS GURU PENGETAHUAN SOSIAL DI SMP NEGERI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2005/2006” penulis ingin memberikan batasan- batasan sebagai pedoman untuk penulisan skripsi selanjutnya. Selain itu penegasan istilah dimaksudkan untuk menghindari salah tafsir oleh pembaca. Beberapa istilah yang dijelaskan antara lain :
1. Pengelolaan kelas

Menurut Entang dan Raka Joni (985: 3), pengelolaan kelas adalah menunjuk kepada kegiatan-kegiatan yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan raport, penghentian tingkah laku siswa yang menyeleweng perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatwaktuan penyelesaian tugas oleh siswa, penetapan norma kelompok produktif, dsb). Sedangkan menurut Theo Riyanto (2002: 46), pengelolaan kelas tidak sekedar bagaimana mengatur ruang kelas dengan segala sarana dan prasarananya, tetapi menyangkut bagaimana interaksi dan pribadi-pribadi didalamnya.
Berdasarkan pengertian di atas, pengelolaan kelas yang dimaksud oleh peneliti adalah suatu usaha guru dalam mengatur siswanya baik dalam hal ruang kelas, interaksi, kedisiplinan dan juga belajar siswa agar terciptanya kondisi belajar yang kondusif.
2. Pengelolaan Kelas

Pengelolaan Kelas berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi adalah suatu pengelolaan yang meliputi beberapa pengelolaan antara lain pengelolaan ruang kelas, kegiatan siswa, hasil karya siswa, waktu, bentuk kegiatan belajar, sumber belajar (alat, bahan, perpustakaan, papan tulis, dan sebagainya) (Departemen Pendidikan Nasional, 2003:13)
3. Pengetahuan sosial

Pengetahuan sosial adalah seperangkat fakta, peristiwa, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan perilaku dan tindakan manusia untuk membangun dirinya, masyarakatnya, bangsanya, dan lingkungannya

berdasarkan pada pengalaman masa lalu yang dapat dimaknai untuk masa kini, dan diantisipasi untuk masa yang akan datang (Departemen pendidikan Nasional, 2003: 6)

4. SMP Negeri Banjarnegara

SMP Negeri Banjarnegara adalah Tempat/Sekolah Menengah Pertama di seluruh Kabupaten Banjarnegara yang digunakan oleh peneliti untuk mengadakan penelitian tentang pengelolaan kelas.
5. Pengelolaan Kelas Guru Pengetahuan Sosial di SMP Negeri Kabupaten

Banjarnegara tahun 2005/2006.

Pengelolaan Kelas Guru Pengetahuan Sosial di SMP Negeri Kabupaten Banjarnegara tahun 2005/2006 adalah suatu usaha guru dalam menciptakan, menjaga dan mempertahankan kondisi kelas khususnya pada mata pelajaran pengetahuan sosial dengan pengelolaan kelas yang meliputi pengelolaan pada pribadi pendidik, disiplin kelas, penetapan hubungan, dan kondisi fisik.

C. PERMASALAHAN

Permasalahan dalam penelitian ini adalah Sejauh mana tingkat pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru mata pelajaran pengetahuan sosial di SMP Negeri Kabupaten Banjarnegara tahun 2005/2006.

D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dalam penelitian ini adalah Mengetahui tingkat pengelolaan guru pengetahuan sosial di SMP Negeri Kabupaten Banjarnegara tahun 2005/2006.

E. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat dalam penelitian ini adalah:

1. Manfaat teoritis, yaitu sebagai bahan referensi bagi dunia pendidikan mengenai pengelolaan kelas kurikulum berbasis kompetensi
2. Manfaat Praktis, dengan penelitian ini akan memberikan informasi mengenai pengelolaan kelas Kurikulum Berbasis Kompetensi kepada kepala sekolah, guru, orang tua serta masyarakat sehingga dapat mengambil kebijaksanaan yang tepat untuk berupaya mengoptimalkan hasil belajar.

F. Sistematika Skripsi
Bagian awal dari skripsi berisi halaman judul, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi.

Bagian isi skripsi adalah sebagai berikut:

Bab I, berisi tentang pendahuluan. Dalam pendahuluan berisi latar belakang, penegasan istilah, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan skripsi.
Bab II, berisis tentang Landasan Teori. Landasan Teori ini merupakan dasar yang paling penting dalam menentukan teori-teori yang digunakan untuk menyususn skripsi.
Bab III, berisi tentang Metodologi Penelitian. Dalam bab ini ditentukan obyek peneltian, menentukan variabel, metode pengumpulan data, serta metode analisis data.
Bab IV, berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan

Bab V, berisi kesimpulan dan saran

Bagian terakhir skripsi adalah daftar pustaka yang berisi daftar buku- buku yang digunakan dalam penulisan skripsi serta lampiran-lampiran.

Mei 31, 2010 at 8:47 am 1 komentar

TINGKAT KEDISIPLINAN MASYARAKAT DALAM MENJAGA BUDAYA HIDUP BERSIH TERHADAP LINGKUNGANNYA Studi Kasus Pada Masyarakat Banaran (SO-2)

TINGKAT KEDISIPLINAN MASYARAKAT DALAM MENJAGA BUDAYA HIDUP BERSIH TERHADAP LINGKUNGANNYA Studi Kasus Pada Masyarakat Banaran Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang

KODE : SO-02

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada kenyataannya dewasa ini kondisi masyarakat Indonesia masih sangat memprihatinkan. Hal ini dapat ditemukan pada peristiwa-peristiwa yang masih sering terjadi di lingkungan masyarakat. Baik berupa penyimpangan- penyimpangan terhadap kaidah dan nilai yang berlaku dimasyarakat dengan berbagai macam perilaku. Salah satu diantaranya yaitu mengenai kepedulian masyarakat terhadap kondisi kebersihan lingkungan. Sehingga tak mengherankan apabila masyarakat Indonesia seringkali dirisaukan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah kondisi lingkungan.

Priodarminto (1994:15) mengatakan bahwa untuk mencapai pembangunan nasional diperlukan usaha untuk mengembangkan dan membina kehidupan masyarakat yang tertib, dan berdisiplin murni yang tinggi mulai dari tingkat pribadi individu yang paling dini yaitu lingkungan keluarga, bahkan tingkat kehidupan individu sebagai mahluk sosial yaitu masyarakat, karena keluarga batih merupakan unsur paling pokok dari setiap masyarakat. Oleh karena itu keluarga merupakan tempat penanaman nilai kedisiplinan demi tercapainya pembentukan fisik, mental sepiritual manusia Indonesia yang tangguh

Berdasarkan kenyataan kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia maka tingkat kedisiplinan dapat dilihat dari kepedulian masyarakat terhadap
lingkungan yang ada disekitar mereka. Kondisi suatu masyarakat dalam

kesehariannya tidak boleh terabaikan. Karena di tengah publik inilah penerapan disiplin bangsa Indonesia itu dilakukan, diuji dan dinilai ketangguhannya (Hidayah, 1996:3-5).

Menurut Suratman dalam Hidayah (1996:12) sikap disiplin selalu ada kaitannya dengan tiga unsur kepribadian manusia, yaitu jiwa, watak dan perilaku. Berkenaan dengan jiwa maka disiplin itu ditentukan oleh tingkat daya cipta, rasa dan karsa. Dalam tingkat ini disiplin mengandung aspek manusia memenuhi sesuatu melalui pengendalian ketiga unsur kejiwaan tersebut. Sehingga disiplin diartikan sebagai perbuatan kepatuhan yang dilakukan dengan sadar untuk melaksanankan suatu sistem dengan sikap menghormati, dan taat menjalankan keputusan, perintah atau aturan yang berlaku.

Dalam hal ini Koentjaraningrat (1983: 15) menyebutkan pada hakikatnya membangun suatu bangsa atau masyarakat tidak hanya menyangkut pembangunan yang berupa fisik melainkan juga yang bersifat non fisik. Hal inilah yang harus mendapatkan perhatian agar tercipta adanya keselarasan dan keseimbangan yang saling mendukung. Menciptakan lingkungan yang nyaman, tertib, bersih dan juga sesuai dengan kaidah-kaidah dan aturan yang berlaku di masyarakat perlu adanya kesadaran dan kepedulian setiap anggota masyarakat terhadap situasi dan kondisi lingkungan yang ada disekitar mereka karena lingkungan merupakan tempat manusia untuk menjalankan berbagai aktifitas dan interaksi dengan yang lain, dengan demikian lingkungan yang nyaman, tertib, serta budaya hidup sehat dan bersih dapat terwujud.

Menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat adalah tangung jawab bersama. Khususnya masyarakat yang ada disekitar lingkungannya. Mereka memiliki peran yang penting dalam menjaga lingkungan serta menciptakan budaya lingkungan yang bersih dan sehat.
Satu fenomena yang menarik bahwa tingkat kepedulian dan kesadaran masyarakat Banaran terhadap kebersihan lingkungan masih kurang. Meskipun pemerintah (Lembaga Kelurahan maupun RT dan RW) sudah berupaya memberikan pembinaan, pembimbingan serta pengarahan tentang kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan yang ada disekitar mereka. Rendahnya tingkat kepedulian dan kesadaran masyarakat Banaran terhadap kondisi lingkungan dapat dilihat dari cara hidup masyarakat yang sebagian besar belum mencerminkan budaya hidup bersih dan sehat.

Hal ini dapat dicermati masih banyak sampah yang berserakan dan menumpuk dilingkungan tempat tinggal disekitar mereka, sisa-sisa plastik dan makanan, tempat seperti sumur ( tempat MCK) yang jarang dibersihkan serta selokan-selokan yang memang sengaja dibendung oleh salah satu warga. Sehingga hal tersebut menyebabkan penyumbatan saluran air dan menjadi sarang bibit nyamuk, serta menyebabkan ganguan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Satu hal lain yang dapat diamati yaitu kebanyakan masyarakat Banaran cenderung menganggap enteng mengenai masalah kondisi kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka dan terhadap pola perilaku terhadap kesehatan.

Dalam lingkungan masyarakat masalah tersebut di atas, merupakan hal yang biasa dan tidak cukup menarik untuk dipermasalahkan. Akan tetapi kalau dibiarkan begitu saja, justru dapat menimbulkan pengaruh yang kurang baik, terutama terhadap kebersihan lingkungan dan kesehatan. Pada prinsipnya peningkatan kesehatan masyarakat memerlukan adanya keikutsertaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan terutama penanaman budaya hidup bersih dan sehat sejak dini dalam keluarga.

Berdasarkan fenomena-fenomena yang dikemukaan di atas maka masyarakat Banaran menjadi tempat pilihan penulisan skipsi ini. Selain itu menurut hasil pengamatan PKM (Penelitian Kesehatan Mayarakat) yang dilakukan oleh mahasiswa IKM Universitas Negeri Semarang (2005) terhadap kesehatan masyarakat di Banaran dengan didukung oleh kantor Kelurahan dan Puskesmas setempat ditemukan adanya permasalahan kesehatan masyarakat yaitu diataranya angka kejadian pernyakit gondongan (Parotitis) yang disebabkan oleh adanya faktor perilaku yang kurang sehat dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang ada disekitar mereka.

Dari uraian di atas inilah ketertarikan untuk mendiskripsikan mengenai masalah kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kebersihan dilingkungannya. Untuk itu mengambil judul skripsi tentang “Tingkat Kedisiplinan Masyarakat Dalam Menjaga Budaya Hidup Bersih Terhadap Lingkungannya” Studi Kasus Pada Masyarakat Banaran, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Semarang.

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Istilah disiplin kerap sekali kita dengar disekitar kita, bahkan banyak sekali slogan-slogan yang ditunjukan untuk meningkatkan dan menerapkan sikap disiplin. Istilah disiplin sering ditunjukan pada seorang manakala ia memetuhi peraturan yang ada dan selalu tepat waktu. Hal ini tentunya tidak semua orang memiliki pandangan atau persepsi yang sama. Begitu pula dalam penerapan kedisiplinan oleh setiap individu dilingkungannya. Semua tergantung pemahaman dan kesediaan individu untuk membiasakan hidup disiplin.

Menerapkan sikap disiplin dalam masyarakat tidak mudah. Perlu adanya dorongan baik dari dalam maupun dari luar individu untuk dapat menerapkannya. Sikap disiplin memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat misalnya yang sering terjadi dilingkungan yaitu terjangkitnya wabah pernyakit, banjir, sampah yang menumpuk dan masih banyak lainnya yang disebabkan oleh salah satunya yaitu perilaku, serta kedisiplinan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.

Dari hal-hal tersebut di atas muncul beberapa masalah yaitu: (1) bagaimana persepsi masyarakat terhadap budaya hidup bersih, (2) tingkat kedisiplinan masyarakat dalam menjaga dan mewujudkan budaya hidup bersih, (3) bagaimana kepedulian dan peranan masyarakat dalam menjaga budaya hidup bersih. Berdasarkan masalah yang ada dan uraian latar belakang yang dikemukakan diatas, maka untuk memfokuskan masalah dalam penelitian, dilakukan pembatasan sebagai berikut yaitu:

1. Bagaimana persepsi masyarakat Banaran mengenai budaya hidup bersih lingkungannya.

2. Upaya apa saja yang dilakukan masyarakat Banaran dalam rangka menjaga budaya hidup bersih di lingkungannya.
3. Bagaimana masyarakat Banaran menerapkan kedisiplinan dalam menjaga budaya hidup bersih dilingkungannya.

C. Tujuan Penelitian

Berkenaan dengan masalah di atas penelitian bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan tentang “Tingkat Kedisiplinan Masyarakat Dalam Menjaga Budaya Hidup Bersih terhadap Lingkungannya” dengan Studi kasus pada masyarakat Banaran Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang yaitu untuk mengetahui:
1. mengetahui bagaimana persepsi masyarakat Banaran tentang budaya hidup bersih lingkungannya.
2. Mengetahui upaya apa saja yang dilakukan masyarakat Banaran dalam rangka menjaga budaya hidup bersih dilingkungannya.
3. Mengetahui bagaimana masyarakat Banaran dalam penerapan kedisiplinan dalam menjaga budaya hidup bersih lingkungannya.

D. Kegunaan Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah:

1. Kegunaan Secara Teoretis

Secara teoretis penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu: a)

sebagai masukan kepada masyarakat untuk meningkatkan kedisiplinan dalam

menjaga kebersihan lingkungan, b) sebagai masukan kepada masyarakat mengenai pentingnya sikap disiplin dan kepedulian terhadap kondisi kebersihan lingkungan, c) memberikan pengetahuan tentang manfaat menjaga budaya hidup bersih bagi anggota masyarakat khususnya terhadap kesehatan mereka.
.

2. Kegunaan Secara Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk: a) menjadi pertimbangan kepada pihak-pihak yang berwewenang, untuk meningkatkan pembinaan tentang kedisiplinan dilingkungan masyarakat. b) sebagai masukan sekaligus informasi para instansi pemerintah yang bergerak dalam bidang kesehatan untuk memperhatikan dan meningkatkan kedisiplinan masyarakat menjaga budaya hidup bersih lingkungannya, c) memberikan pengetahuan bagi para masyarakat dalam menciptakan kedisiplinan dalam menjaga budaya hidup bersih dilingkungan, d) sebagai tumpuan bagi peneliti selanjutnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

E. Sistematika Skripsi

Penulisan skripsi ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian akhir skripsi. Bagian awal skripsi yaitu berisi tentang: halaman judul, persetujuan pembimbing, pernyataan, moto dan persembahan, prakarta, sari, daftar isi dan daftar gambar, daftar tabel dan daftar lampiran. Pada bagian inti skripsi bagian ini terdiri dari lima Bab yang meliputi:

Bab I: Pendahuluan, merupakan gambaran menyeluruh dari isi skripsi yang meliputi: latar belakang penelitian, identifikasi masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penelitian.

Bab II: Telaah pustaka dan kerangka berpikir; pada bab ini berisi mengenai telaah pustaka dari sejumlah teori yang dapat dijadikan landasan dalam penulisan, meliputi tinjauan konseptual yang membahas: kedisiplinan, masalah lingkungan, budaya hidup bersih, hubungan masyarakat dan lingkungan, masyarakat dan kebersihan lingkungan, dan kerangka berpikir.

Bab III: Metode penelitian, bab ini menguraikan tentang penelitian meliputi: pendekatan penelitian, lokasi dan fokus penelitian, sumber data penelitian, pengumpulan data, validitas data, analisis data, tahap pelaksanaan penelitian.

Bab IV: Hasil penelitian dan pembahasan, bagian ini menguraikan tentang hasil penelitian yang meliputi: gambaran umum penelitian yaitu: lokasi penelitian, situasi dan kondisi lingkungan. Bagian pembahasan meliputi: a) persepsi masyarakat terhadap budaya hidup bersih, b) upaya masyarakat dalam menjaga budaya hidup bersih, c) kedisiplinan masyarakat dalam menjaga budaya hidup bersih lingkungannya.
Bab V: Penutup, bagian ini terdiri dari simpulan dan saran.

Adapun untuk bagiaan akhir skripsi berisi tentang daftar pustaka dan lampiran- lampiran.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Mei 31, 2010 at 7:44 am Tinggalkan komentar

Angkringan dan Mahasiswa (Studi Tentang pemaknaan angkringan oleh para mahasiswa) (SO-1)

Angkringan dan Mahasiswa (Studi Tentang pemaknaan angkringan oleh para mahasiswa)

KODE : SO-1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuntutan mengenai tingkat kesejahteraan hidup manusia yang optimal memang merupakan tuntutan universal bagi seluruh manusia. Ketidakseimbangan antara needs dan resources adalah fenomena universal yang disebabkan oleh kecepatan pertumbuhan penduduk yang diikuti kebutuhan hidup yang melaju lebih cepat dibandingkan dengan ketersediaan sumber-sumber kebutuhan hidup. Hal ini juga berkaitan dengan pencari kerja yang semakin bertambah banyak dan disisi lain tidak diikuti dengan ketersedian lapangan kerja baru.

Keterbatasan pertumbuhan sektor modern dalam menyerap tenaga kerja mengakibatkan mereka yang tidak dapat diserap oleh sektor industri modern mencari alternatif lain dalam mencari pekerjaan di luar sektor tersebut. munculah kemudian apa yang disebut dengan sektor informal. Istilah sektor informal itu sendiri pertama kali dilontarkan oleh Keith Hart yang dituangkannya pada penelitiannya di Ghana pada tahun 1973. Ia mengungkapkan bahwa kesempatan memperoleh penghasilan di kota tidaklah selalu diidentikkan dengan proses industrialisasi yang serba canggih tetapi terdapat pula kegiatan ekonomi yang tidak terorganisir yaitu sektor informal. Meluasnya migrasi penduduk dari desa menuju kota sebagai akibat terkonsentrasinya pembangunan ekonomi di kota-kota besar semakin menjadikan sektor informal pada posisi strategis sebagai ruang yang menyediakan peluang ekonomi bagi masyarakat marginal. Di sini sektor informal justru dapat berfungsi sebagai katup penyelamat yang dapat meredam ledakan sosial sebagai akibat meningkatnya pencari kerja baik dalam kota maupun pendatang dari desa. Bahkan lebih jauh lagi, Hernando de Soto melihat sektor informal justru merupakan kekuatan tersembunyi untuk memperbaiki sistem ekonomi pasar yang tidak aksesibel (Hernando de Soto,88:1991).

Sektor informal sendiri tidak dapat dilepaskan dari proses pembangunan. Terdapat dua pemikiran yang berkembang dalam memahami kaitan antara pembangunan dan sektor informal Pertama: Pemikiran yang menekankan bahwa kehadiran sektor informal sebagai gejala transisi dalam proses pembangunan di Negara sedang berkembang. Sektor informal adalah tahapan yang harus dilalui dalam menuju tahapan modern, pandangan ini berpendapat bahwa sektor informal berangsur-angsur akan berkembang menjadi sektor formal seiring dengan meningkatnya pembangunan. Berarti keberadaan sektor informal merupakan gejala sementara dan akan terkoreksi oleh keberhasilan pembangunan. Kedua: Pemikiran kedua berpendapat bahwa kehadiran sektor informal merupakan gejala adanya ketidakseimbangan kebijaksanan pembangunan, kehadiran sektor informal dipandang sebagai akibat kebijaksanaan pembangunan yang dalam banyak hal lebih berat pada sektor modern (perkotaan) atau industri dari pada sektor tradisional (pertanian). Sektor informal akan terus hadir dalam proses pembangunan selama sektor tradisional tidak mengalami perkembangan (Tadjuddin Noer Effendi: 77:1993).

Sektor informal pada umumnya dimasuki oleh kaum migran kota yang tidak mempunyai akses untuk memperoleh penghasilan pada sektor formal karena keterbatasan keahlian dan pengalaman yang disyarakatkan sektor formal. Sethuraman menemukan bahwa mereka yang terlibat dalam sektor informal pada umumnya miskin, kebanyakan dalam usia kerja utama (primer age), berpendidikan rendah, upah yang diterima di bawah upah minimum, modal usaha rendah serta sektor ini memberikan kemungkinan untuk mobilitas vertikal (Chris Manning dan Noer Effendi,76:1985).

Sektor informal sebagai fenomena yang khas di negara-negara sedang berkembang dapat berupa kegiatan produksi dan distribusi barang maupun jasa. Misalnya saja pedagang kaki lima, pedagang asongan, tukang kredit dan unit-unit kegiatan lainnya. Salah satu contoh pedagang kaki lima yang hendak dibahas di sini ialah pedagang angkringan atau sering disebut di kota Purwokerto sebagai pedagang wedang hik. Pedagang angkringan adalah model perdagangan makanan dan minuman dengan menggunakan gerobak dorong yang biasanya berjualan pada malam hari, adapun yang dijual oleh pedagang angkringan yaitu macam-macam gorengan seperti pisang goreng, tempe mendoan, tahu goreng, bakwan, nasi bungkus, teh dan jeruk panas maupun dingin dan lain-lain yang dijajakan pada malam hari mulai selepas maghrib hingga tengah malam. Sebagai model perdagangan makanan yang menjajakan pada malam hari, pedagang angkringan dalam menyajikan dagangan memiliki karakteristik yang hampir sama antara pedagang angkringan satu dengan pedagang angkringan lainnya dimana hal ini menjadi ciri khas yang membedakan mereka dengan pedagang makanan lainnya, baik dari kondisi makanan dan minuman yang disajikan sampai suasana yang santai penuh kekeluargaan dan keakraban baik dari pedagangnya maupun dari para pembelinya.

Salah satu sifat angkringan adanya kenyamanan dan keleluasaan yang ditawarkan angkringan yang menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan angkringan dengan warung makan lain yang telah ada. Di angkringan kita boleh saja duduk berjam-jam tanpa harus khawatir akan mendapat usiran dari pemiliknya. Di angkringan pula kita boleh makan sambil jegang(duduk dengan kaki satu diangkat ) mengangkat kaki, bahkan bila memungkinkan sambil tiduran. Banyak pedagang angkringan menyediakan tikar untuk lesehan pengunjung atau pembeli, dimana hal ini memberikan suasana khas pada warung angkringan itu sendiri. Maka tak heran jika banyak mahasiswa yang menjadikan angkringan sebagai tempat konsumsi, mereka memilih angkringan karena suasana berbeda yang ditawarkan oleh para pedagang angkringan bila dibandingkan dengan warung makan lainnya.

Angkringan adalah suatu bisnis kecil, oleh rakyat dan bermodal kecil, cukup dengan modal yang kecil ditambah bekal tenaga dan kuat melek maka hasilnya bisa dikatakan lebih banyak dibandingkan dengan bekerja di pabrik. Angkringan pula yang telah berjasa melepaskan para pelakunya (masyarakat, terutama penduduk pedesaan di Klaten) dari lingkaran kemiskinan (Kompas, 28-05-2004), Berikut ini data nama para pedagang angkringan di Kota Purwokerto

Keberadaan pedagang angkringan nampak begitu nyata saat krisis ekonomi dan politik tahun 1997 memuncak. Badai politik, ekonomi, dan sosial yang mengguncang seluruh sendi bangsa ini menjelang dan pasca lengsernya Presiden Soeharto, nampak begitu nyata. Ini bisa kita lihat di kota Yogyakarta sebagai tempat munculnya pedagang angkringan pertama kali, dimana ketika kondisi atau keadaan semakin memburuk, pilihan tempat konsumsi yang murah menjadi alternatif yang tak terelakkan. Angkringan naik gengsi dan mendadak sontak menemukan maknanya yang kian jelas. Seperti yang diberitakan oleh harian kompas, di seluruh Yogyakarta setidaknya ada 1200-an paguyuban angkringan dan 2000-an pedagang angkringan yang menghidupi keluarganya dari kegiatan ekonomi rakyat ini. Diperkirakan 30.000 orang terlibat dan bergantung dari usaha angkringan ini. (Kompas, 4-03-2004).

Selain di kota Yogyakarta sebagai tempat lahir, tumbuh dan berkembangnya angkringan, di kota Purwokerto pun bermunculan pedagang-pedagang angkringan yang sebagian besar berasal dari Kecamatan Bayat Kabupaten Klaten (Jawa Tengah). Munculnya angkringan di Purwokerto dimulai sekitar tahun 1998 yang berlokasi di sekitar kompleks Universitas Jenderal Soedirman. Saat ini, pedagang angkringan di kota Purwokerto mulai terhimpun dalam wadah paguyuban pedagang angkringan yang sifatnya tidak resmi hanya sebatas wadah berkumpul dan saling membantu antar pedagang angkringan. Pedagang angkringan di Purwokerto sebagian besar berada di sekitar lingkungan kampus Unsoed Purwokerto, meskipun ada juga pedagang angkringan yang berada di luar kampus Unsoed yaitu kampus UMP (Universitas Muhammadiyah Purwokerto), dan di sekitar jalan jenderal Soedirman atau dekat alun-alun masing-masing hanya terdapat satu pedagang. Tidak seperti di kota Yogyakarta, Solo, dan Semarang yang dapat kita lihat di setiap sudut kota ada pedagang angkringan, ramainya daerah kampus oleh mahasiswa merupakan salah satu penyebab mengapa sebagian besar pedagang agkringan berada di sekitar kampus.

Pada umumnya diakui bahwa sektor informal memainkan peranan yang penting di daerah perkotaan, baik dalam hal menyerap tenaga kerja maupun menyediakan barang dan jasa yang murah bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Begitu juga halnya dengan angkringan, angkringan seolah menjadi tumpuan hidup kaum miskin kota, seperti tukang becak, buruh pertokoan, dan para pegawai. Fenomena ini barangkali terkait dengan tersebarnya para pedagang angkringan mulai dari tengah kota sampai pinggiran kota.
Sebagai penyedia kebutuhan barang dan jasa yang murah bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah, sudah semestinya jika angkringan kemudian dikaitkan dengan keberadaan kelompok masyarakat berpendapatan rendah sebagai konsumen tetapnya. Angkringan kemudian diidentikkan sebagai tempat konsumsi kelompok miskin kota yang melihat angkringan sebagai alternatif pilihan yang murah dalam pemenuhan kebutuhan dasar mereka.

Namun tampaknya asumsi ini tidaklah sepenuhnya benar. Kecenderungan yang ada sekarang ialah bahwa angkringan telah menjadi tempat konsumsi bagi semua lapisan sosial dalam masyarakat. Entah lapisan bawah, menengah atau yang disebut sebagai lapisan sosial atas. Sering terlihat mereka yang bepenampilan rapi, membawa handphone, berkendaraan sepeda motor dan mobil, bahkan mahasiswa yang dipandang oleh masyarakat sebagai calon-calon intelektual yang bersemangat, penuh dedikasi, enerjik, kritis, pintar dan berilmu sebab mereka digodok di sebuah tempat yang bernama Universitas tanpa segan-segan makan di angkringan. Mereka pun kadang-kadang rela mengantri untuk bisa mengambil makanan atau menunggu tempat yang kosong.
Kini angkringan bukan lagi milik orang-orang pinggiran atau orang-orang yang berkantung cekak (tipis atau orang yang mempunyai uang sedikit), namun mulai jadi sebuah life style baru bagi mahasiswa, mahasiswa yang menurut Basri adalah merupakan sekelompok kecil dari masyarakat yang sedang berkesempatan mengembangkan kemampuan intelektualnya dalam mendalami bidang yang diminatinya di perguruan tinggi (Basri:121:1995). Selain harganya relatif murah suasana santai di angkringan adalah daya tarik utama. Di angkringan, orang boleh makan sambil mengangkat kaki, bercanda dengan teman atau dengan pedagang angkringan, teriak atau bahkan mengeluarkan kata-kata yang kasar. Tetapi tak jarang angkringan menjadi ajang diskusi yang sangat serius.

Angkringan bukan lagi sebagai tempat makan, melainkan juga sebagai tempat nongkrong (duduk-duduk), tempat mencari inspirasi, tempat diskusi serta curhat di kalangan mahasiswa. Ankringan adalah ruang bersama yang merangkai komunikasi dari berbagai latar belakang, angkringan adalah gaya hidup baru bagi mahasiswa Unsoed Purwokerto. Mereka (mahasiswa) datang ke warung angkringan bukan hanya sekadar untuk menghabiskan uang, akan tetapi juga untuk mengkomunikasikan makna-makna tertentu. Apa yang dikonsumsi bukan lagi sekadar obyek tetapi juga makna-makna sosial yang tersembunyi di dalamnya.

Yang menarik, sebagaimana yang terjadi di kota Purwokerto angkringan menjadi identik dengan kelompok mahasiswa. sebab dari setiap warung angkringan yang ada pengunjungnya didominasi oleh mahasiswa. Bahkan kita sulit melihat pengunjung selain mahasiswa yang nongkrong di angkringan. Kalaupun ada pengunjung angkringan yang bukan mahasiswa maka jumlahnya sangat kecil. Dan memang secara sekilas kita sulit membedakan antara pengunjung yang mahasiswa dengan yang bukan mahasiswa. mungkin karena dalam gambaran kita yang mengunjungi angkringan pastilah mahasiswa.
Atas dasar itu angkringan memiliki nuansa yang khas bila dibanding dengan warung makan yang lainnya sebagaimana telah disinggung, angkringan bisa saja menjadi ruang baru bagi mahasiswa untuk memperbincangkan berbagai permasalahan. Karena itu sebagai sebuah trend bisa saja angkringan menjadi semacam ruang resistensi bagi para mahasiswa terhadap kecenderungan budaya tinggi di sekitarnya (high style). Dalam konteks ini angkringan bisa menjadi sebuah ruang alternatif bagi mahasiswa.

Pertanyaan yang kemudian terlontar adalah mengapa kecenderungan tersebut ada. Apa yang menyebabkan orang-orang yang bisa dibilang berkecukupan tersebut rela mengantri hanya untuk menikmati sepiring nasi kucing, berbagai macam gorengan, sate usus, wedang jahe, baceman kepala dan ceker ayam(nama dari bagian tubuh ayam yaitu kaki, wedang (bahasa jawa yang artinya minuman) jahe susu, ataupun jenis-jenis makanan lain yang biasa disajikan di angkringan. Apakah faktor harganya yang relatif murah makanannya ataukah ada faktor-faktor lain yang mendorong mereka menjatuhkan pilihan pada angkringan sebagai tempat konsumsi mereka. Misalnya saja suasana nyaman yang tercipta ataupun lelucon yang kadang terlontar.

B. Perumusan Masalah
Menurut Biro Pusat Statistik (BPS) sektor informal didefinisikan sebagai unit usaha berskala kecil yang menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa dengan tujuan utama menciptakan kesempatan kerja dan penghasilan bagi dirinya sendiri, meskipun mereka menghadapi kendala baik modal maupun sumber daya fisik dan manusia (Subarsono, Materi Kuliah Problema Pembangunan.:dalam skripsi Tatik Haryani:Fisip UGM).

Usaha angkringan adalah salah satu bagian dari sektor informal yang merupakan bisnis yang menjual makanan dan minuman, dengan mempunyai modal yang kecil ditambah bekal tenaga yang kuat dan betah melek, bisnis angkringan berfungsi sebagai katup penyelamat yang dapat meredam ledakan sosial sebagai akibat meningkatnya pencari kerja di kota-kota besar baik yang berasal dari kota sendiri maupun dari desa.
Berbicara mengenai mahasiswa dalam menentukan pilihan warung makan bisa dilihat dengan ukuran kantung masing-masing mahasiswa, maka bagi mereka (mahasiswa) yang berkantung terbatas atau yang sedang kehabisan cadangan makanan seringkali menjatuhkan pilihan pada warung angkringan sebagai tempat makan. Tetapi tak jarang ada juga mahasiswa yang berkantung tebal juga menjatuhkan pilihan pada warung angkringan sebagai tempat konsumsinya atau hanya sekedar tempat untuk nongkrong bersama teman-teman sambil menikmati hidangan dari warung angkringan.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan yang ingin dijawab disini adalah tentang bagaimana angkringan dimaknai oleh para mahasiswa?

C. Tujuan Penelitian
sejalan dengan perumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana para mahasiswa memaknai keberadaan angkringan?
2. Untuk mengetahui motivasi yang mendorong mahasiswa untuk makan di angkringan?

D. Manfaat Penelitian.
A. Manfaat Teoritik Secara teoritik, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dan memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya disiplin sosiologi perkotaan yang kaitannya dengan sektor informal. Selain itu dapat memberi khasanah atau perbendaharaan bagi ilmu pengetahuan serta dapat dijadikan sumber informasi bagi peneliti lain dengan tema sejenis.

B. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aktivitas pedagang angkringan agar dapat memberikan gambaran sehingga dapat dijadikan bahan masukan bagi PEMDA dalam meningkatkan kesejahteraan pedagang angkringan di sekitar kampus Unsoed Purwokerto.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Mei 31, 2010 at 7:41 am Tinggalkan komentar

SOSOK TOKOH SARIDIN DALAM SENI KETHOPRAK TERHADAP PENANAMAN BUDI PEKERTI SISWA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGAJARAN BAHASA JAWA (PBJ-01)

SOSOK TOKOH SARIDIN DALAM SENI KETHOPRAK TERHADAP PENANAMAN BUDI PEKERTI SISWA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGAJARAN BAHASA JAWA

KODE : PBJ-01 ATAU P-46

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam rangka menumbuhkan sikap, budaya para siswa yaitu sikap yang dapat menghargai, menghayati, dan mencintai seni atau karya seni sebagai hasil budaya bangsanya. Mencintai dan melestarikan serta mengembangkan seni budaya bangsa merupakan kewajiban setiap generasi. Mencintai seni budaya sendiri berarti pula menghayati nilai-nilainya yang menunjukkan keaslian dan kemurniannya. Seperti halnya dengan kesenian kethoprak yang kurang diperhatikan dan dilestarikan generasi muda. Kebudayaan Jawa seakan-akan tenggelam dalam serangan ombak modernisasi (Suseno, 1993:1).


Kesenian tradisional kethoprak bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat yang tinggal di pulau Jawa merupakan salah satu seni budaya tradisional. Sebagai kesenian Jawa, seni kethoprak tersebut telah hidup sejak dahulu dan mencapai kejayaan, dan sangat digemari oleh masyarakat pendukungnya. Hal ini membuktikan bahwa kethoprak mempunyai tempat tersendiri dihati masyarakat.

Kethoprak mempunyai peran yang sangat penting bagi generasi muda dalam pembinaan nilai-nilai pendidikan, hal ini menunjukkan bahwa hampir semua ajaran moral, keagamaan, kegiatan upacara agama dan atau ekspresi kesenian terdapat dalam kethoprak. Namun dalam hal ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat umum, terutama bagi mereka yang tidak mengalami sendiri lewat berolah seni. Berolah seni (praktik) sebenarnya dapat mengasah atau melatih diri seseorang (sekelompok) manusia untuk berperilaku yang lebih baik atau berbudi pekerti luhur.
Tidak hanya sebagai sarana hiburan atau tontonan saja, namun lebih dari itu dalam setiap pertunjukan kethoprak namun dalam hal ini tidak pertunjukan secara langsung tetapi melalui CD, terdapat berbagai misi atau pesan yang disampaikan, diantaranya misi keagamaan, filsafat, kemasyarakatan, kependidikan dan kepemimpinan.
Kesenian kethoprak sendiri pada masa sekarang sangat jarang dipertunjukkan atau dipertontonkan dikalangan masyarakat umum. Karena masyarakat khususnya generasi pemuda sekarang sudah tidak tertarik dengan pertunjukan kethoprak, mereka menganggap bahwa kethoprak itu sudah kuna apalagi dengan bahasanya yang sulit dipahami dan dimengerti oleh masyarakat.

Dalam bahasa kethoprak banyak terdapat petuah-petuah yang terkandung dan sangat bermanfaat bagi generasi muda dari segi moral, budi pekerti, tingkah laku. Kethoprak juga banyak makna filosofisnya.

Kethoprak dengan lakon Saridin terdapat nilai-nilai pendidikan, diantaranya nilai Ketuhanan, nilai sosial, nilai budi pekerti dan nilai moral serta terdapat banyak petuah atau wejangan-wejangan yang didapat dari para wali diantaranya Sunan kudus, Sunan Kalijaga. Dari wejangan-wejangan tersebut terdapat adanya nilai-nilai pendidikan.

Tokoh dan peristiwa sangat berperan dalam membangun sebuah karya sastra. Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Peristiwa digunakan untuk memperkuat cerita. Cerita Saridin dalam versi kethoprak terdapat adanya penokohan dan urutan peristiwa, di dalam lakon Saridin dapat diketahui adanya alur, penokohan, tema dan setting atau latar. Sehingga dapat diketahui struktur cerita Saridin dalam versi kethoprak. Adanya struktur cerita Saridin dapat diketahui nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya, niai-nilai pendidikan tersebut yang nantinya bisa diimplikasikan ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Hampir seluruh tokoh dalam cerita Saridin menampilkan watak tokoh yang datar. Dalam arti bahwa watak itu sejak awal hingga akhir tetap, yang baik tetap menunjukkan kebaikannya dan yang buruk menunjukkan perangai yang buruk hingga akhir cerita.

Cerita Saridin terdapat nilai pendidikan yang bisa kita ambil, seperti kepatuhan seorang murid dengan gurunya, tolong menolong antar sesama, dan kesetiaan seorang istri pada suami. Selain itu bisa dilihat dari perilaku tokoh Saridin yang mempunyai kepandaian luar biasa yang tidak dapat dinalar oleh manusia biasa. Banyak tingkah laku Saridin yang membuat Adipati marah, seperti tindakan yang dilakukan ketika Saridin akan di hukum gantung karena telah terbukti membunuh Branjung, Saridin membantu prajurit untuk menarik tali gantungan yang mengikat lehernya dan dia berhasil melarikan diri sampai di Paguron Panti Kudus. Disitu Saridin berguru pada Sunan Kudus, hingga suatu hari dia mengusung air untuk mengisi padasan (genthong wudu) dengan keranjang. Kepada Sunan Kudus dia juga mengatakan, setiap yang ada airnya pasti ada ikannya. Saridin mampu membuktikan, di semua tempat itu ada ikannya. Dari tingkah laku dan kejadian yang dialami Saridin dapat kita ambil ajaran-ajaran dan wejangan-wejangan yang terdapat di dalamnya. Selain itu makam Saridin juga dekat dengan lokasi penulis dan di makam Saridin dengan menebing ati, kita bisa ngleluri kembali riwayate Mbah jangkung dengan laku nistha, ora melik drajad, pangkat, lan kadonyan, kata Soetjipto (55) asal Rembang yang mengaku sudah 60 hari berada di tempat itu.
Saridin atau lebih dikenal dengan nama Syeh Jangkung yang makamnya berada di desa Landoh Kayen Kabupaten Pati. Kisahnya sejak kecil hingga ia mengakhiri petualangannya mulai dari desa Kiringan desa asalnya, ke Pati, Kudus, Cirebon, Palembang, ke Kerajaan Ngerum dan terakhir di Kerajaan Mataram Baru. Oleh raja Mataram Sultan Agung diperintahkan kembali ke Pati dan menetap di desa Landoh Kayen sampai akhir hayatnya, itu sebabnya makam Saridin terdapat di Pati.
Kisah Saridin sangat terkenal diseluruh penjuru Jawa Tengah mulai dari DIY, Semarang ke Timur sampai perbatasan Jateng-Jatim. Tapi sayang kisah yang sangat terkenal itu tidak banyak buku pelajaran yang mengisahkan riwayat Saridin tersebut. Kisah Saridin terkenal hanya melalui cerita dari mulut kemulut, hal ini diperkuat oleh Bapak RH. Damhari Panoto Jiwo selaku juru kunci makam Syeh Jangkung pada saat saya berkunjung ke makam Saridin beberapa waktu yang lalu tepatnya pada hari jumat tanggal 10 Februari 2006 sekitar jam 11.00-14.00.

1.2 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka muncul permasalahan sebagai berikut.
1. Bagaimana struktur cerita Saridin dalam versi kethoprak ?
2. Nilai-nilai pendidikan apa saja yang terdapat dalam cerita Saridin dengan versi kethoprak?

1.3 Tujuan
Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui cerita Saridin dalam versi kethoprak.
2. Mengetahui dan memahami nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita Saridin versi kethoprak

1.4 Manfaat
Manfaat yang bisa diambil dari hasil analisis ini ada dua macam, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoretis.
1.4.1 Manfaat Praktis
a. Bagi pembaca hasil penelitian dapat menambah wawasan dan mengetahui lebih lanjut mengenai cerita Saridin dalam versi kethoprak.
b. Dapat menambah khasanah dalam dunia ilmu pengetahuan tentang seni kethoprak
1.4.2 Manfaat Teoretis
a. Dengan adanya cerita Saridin dapat menambah khasanah dalam bidang ilmu sastra.
b. Dengan penelitian ini agar lebih mencintai budaya Jawa khususnya kethoprak.

Mei 30, 2010 at 10:23 pm Tinggalkan komentar

KEMAMPUAN DRIBBLE LAY UP SISI KANAN DENGAN TANGAN KANAN DAN DRIBBLE LAY UP SISI KIRI DENGAN TANGAN KIRI TERHADAP HASIL LAY UPMAHASISWA PUTRA (POL-01)

KEMAMPUAN DRIBBLE LAY UP SISI KANAN DENGAN TANGAN KANAN DAN DRIBBLE LAY UP SISI KIRI DENGAN TANGAN KIRI TERHADAP HASIL LAY UPMAHASISWA PUTRA SEMESTER IV B PKLO FIK UNNES

KODE : POL-01 atau P-45

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Olahraga adalah salah satu bentuk dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia yang diarahkan pada pembentukan watak dan kepribadian, disiplin dan sportivitas yang tinggi, serta peningkatan prestasi yang dapat membangkitkan rasa kebanggaan nasional. Kegiatan olahraga mencakup berbagai macam cabang seperti atletik, permainan, olahraga air, dan olahraga beladiri. Olahraga permainan yang dilakukan dalam proses pendidikan salah satunya adalah olahraga Bola Basket.

Bola basket merupakan salah satu cabang olahraga yang menarik, dan dewasa ini bola basket menjadi olahraga yang berkembang. Perkembangan olahraga bola basket dapat dilihat dari semakin banyaknya peminat olahraga bola basket. Tayangan televisi yang menyajikan permainan bola basket antara lain kompetisi NBA ke seluruh dunia telah mempengaruhi banyak orang yang meminatinya. Bola basket juga merupakan olahraga untuk semua orang, dapat dimainkan oleh pria maupun wanita dari segala ukuran bahkan mereka yang cacat.

Bola basket merupakan cabang olahraga yang makin banyak digemari oleh para masyarakat terutama oleh kalangan pelajar dan mahasiswa. Melalui kegiatan olahraga bola basket ini para remaja banyak memperoleh manfaat khususnya dalam pertumbuhan fisik, mental, dan sosial. Permainan bola saat ini basket mengalami perkembangan yang pesat terbukti dengan munculnya klub-klub tangguh ditanah air dan atlet-atlet bola basket pelajar baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi dan kompetisi yang ditangani secara profesional yaitu kompetisi bola basket nasional antar klub se Indonesia IBL (Indonesian basketball league). Berbagai kompetisi tersebut dengan sendirinya akan memunculkan bakat potensial di bidang bola basket.

Olahraga bola basket juga diberikan pada bidang pendidikan khususnya pada pelajaran jasmani di sekolah. Hal inilah sebenarnya yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi para pelajar mengenal bola basket khususnya pada kegiatan ekstrakulikuler bola basket yang diadakan di sekolah akan menarik minat para pelajar menggemarinya.

Setiap regu berusaha mencetak angka ke basket lawan dan mencegah regu lain mencetak angka (PERBASI, 2004:1). Menurut Imam Sodikun (1992:8) bola basket merupakan olahraga permainan yang menggunakan bola besar, dimainkan dengan tangan. Bola boleh dioper (dilempar ke teman), boleh dipantulkan ke lantai (ditempat atau sambil berjalan) dan tujuannya adalah memasukkan bola ke basket lawan. Permainan dilakukan oleh dua regu masing-masing terdiri dari 5 pemain, setiap regu berusaha memasukkan bola ke keranjang lawan dan menjaga (mencegah) keranjangnya sendiri kemasukan sedikit mungkin.

Dalam menghadapi persaingan kompetisi atau pertandingan, penguasaan teknik permainan sangat penting terutama dalam penguasaan teknik dasar permainan bola basket. Penguasaan teknik dasar yang baik harus benar-benar dikuasai oleh seorang pemain bola basket. Pencapaian prestasi tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik saja akan tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan teknik bermain.
Pada permainan bola basket, untuk mendapatkan gerakan efektif dan efisien perlu didasarkan pada penguasaan teknik dasar yang baik. Teknik dasar dalam permainan bola basket dapat dibagi sebagai berikut :
1. Teknik melempar dan menangkap
2. Teknik menggiring bola
3. Teknik menembak
4. Teknik gerakan berporos
5. Teknik tembakan Lay up
6. Merayah (Imam Sodikun, 1992 : 48).

Dari beberapa teknik bola basket yang telah dikemukakan di atas, bahwa Tembakan atau shooting merupakan teknik sangat penting untuk dikuasai dengan baik (Machfud Irsyada, 2000:14). Tujuan dalam permainan bola basket adalah untuk menciptakan tembakan yang tepat dan mendapat angka pada setiap kesempatan, yang merupakan syarat regu tersebut dinyatakan pemenang. Menurut Machfud Irsyada (2000:14) bahwa sesuai dengan tujuan utama permainan bola basket itu sendiri yaitu memasukan bola sebanyak mungkin ke keranjang lawan dengan cara yang sportif sesuai dengan aturan yang telah disepakati. Regu yang dapat mencatat atau mencetak angka (score) paling tinggi adalah sebagai pemenang. Dengan demikian ketrampilan gerak dasar Menembak (shooting) dalam permainan bola basket sangat penting untuk dikuasai secara baik, tetapi tidak boleh mengesampingkan ketrampilan gerak dasar yang lain.

Tingkat keberhasilan seseorang memasukkan bola ke dalam keranjang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan dan penguasaan teknik menembak yang baik. Menurut Dedi Sumiyarsono (2002:32) ada faktor yang berpengaruh terhadap hasil menembak yaitu:
1. Jarak
2. Mobilitas
3. Sikap penembak
4. Ulangan tembakan
Sebagai salah satu bagian dari teknik dasar permainan bola basket, teknik lay up adalah jenis tembakan yang efektif, sebab dilakukan pada jarak yang sedekat-dekatnya dengan basket (Imam Sodikun, 1992:64). Menurut Sukintaka (1979:23), tembakan lay up adalah tembakan yang dilakukan dengan dekat sekali dengan basket, hingga seolah-olah bola itu diletakkan kedalam basket yang didahului dengan gerakan dua langkah.

Menurut Imam Sodikun (1992:65) teknik awalan melakukan tembakan lay up ada dua cara yaitu : 1) melalui operan atau passing dari kawan. 2) menggiring bola. Dari kedua awalan tersebut yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah tembakan lay up dengan dribble bola atau menggiring bola. Jika seseorang ingin memiliki tembakan lay up yang bagus, maka harus ditunjang kemampuan dribble yang sangat bagus juga, baik dribble dengan tangan kanan maupun tangan kiri. Kedua teknik dasar tersebut sangat penting, maka harus benar-benar dimiliki oleh seorang pemain bola basket. Dalam penelitian ini yang peneliti bahas adalahkemampuan dribble lay up dari sisi kanan menggunakan tangan kanan dan dari sisi kiri menggunakan tangan kiri yang mempunyai hasil yang lebih baik diantara keduanya. Dalam kenyataan di lapangan keduanya sama-sama sering digunakan dalam pertandingan bola basket.

Mahasiswa PKLO IV B telah mendapatkan mata kuliah bola basket, sehingga pengetahuan tentang teknik dasar bola basket telah didapatkan. Terutama pengetahuan dan aplikasi mengenai tembakan, khususnya dribble lay up dari sisi kanan dan kiri selain itu para mahasiswa mendapatkan materi teknik dasar bola basket secara bersama-sama dan diajar oleh pengajar yang sama pula, sehingga peneliti sangat tertarik pada mahasiswa PKLO IV B untuk dijadikan sampel dalam penelitian.

Dari pernyataan di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: kemampuan dribble lay up sisi kanan dengan tangan kanan dan sisi kiri dengan tangan kiri terhadap hasil lay up pada mahasiswa putra semester IV B PKLO FIK UNNES.

Adapun yang menjadi alasan pemilihan judul dalam penelitian ini adalah :
1.1.1. Dalam permainan bola basket, lay up merupakan tembakan yang efektif untuk mendapat angka, dengan melakukan lay up maka jarak penembak dengan ring lebih dekat.
1.1.2. Keterampilan dribble berlari baik dengan menggunakan tangan kanan maupun tangan kiri mempunyai peranan penting dalam kemampuan melakukan tembakan lay up dalam permainan bola basket.

1.2 Permasalahan
Dalam suatu penelitian terdapat suatu permasalahan yang perlu untuk diteliti, dianalisis dan diusahakan pemecahannya. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah mana yang lebih baik antara kemampuan dribble lay up sisi kanan dengan tangan kanan dan sisi kiri dengan tangan kiri terhadap hasil lay up pada mahasiswa putra semester IV B PKLO FIK UNNES ?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mana yang lebih baik antara kemampuan dribble lay up sisi kanan dengan tangan kanan dan sisi kiri dengan tangan kiri terhadap hasil lay up pada mahasiswa putra semester IV B PKLO FIK UNNES.

1.4 Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahan penafsiran mengenai istilah-istilah yang terdapat pada tema skripsi dan permasalahan yang dibicarakan tidak meluas atau menyimpang dari tujuan penelitian maka penulis memberikan penegasan istilah yang meliputi :
1.4.1 Kemampuan Dribble Lay Up
Kemampuan berasal dari kata “mampu” yang mendapat awalan ke- dan akhiran–an yang berarti kecakapan atau kesanggupan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002:707). Dribble adalah salah satu cara yang diperbolehkan oleh peraturan untuk membawa lari ke segala arah. Seseorang pemain boleh membawa bola lebih dari satu langkah, asal bola dipantulkan, baik dengan jalan maupun berlari (Imam Sodikun, 1992 : 57). Sedangkan lay up adalah jenis tembakan yang dilakukan sedekat mungkin dengan basket yang didahului dengan lompat- langkah-lompat (Dedy Sumiyarsono, 2002:35). Dalam penelitian ini kemampuan dribble lay up adalah kecakapan seorang pemain dalam melakukan menggiring bola atau dribble.sendiri menuju basket, setelah dekat melaksanakan tembakan lay up. Tapi dalam penelitian ini yang dinilai adalah hasil dari lay up bukan kecepatan dribble maupun kualitas dribble

1.4.2 Dribble Lay Up Sisi Kanan Dengan Tangan Kanan
Dribble adalah salah satu cara yang diperbolehkan oleh peraturan untuk membawa lari ke segala arah. Seseorang pemain boleh membawa bola lebih dari satu langkah, asal bola dipantulkan, baik dengan jalan maupun berlari (Imam Sodikun, 1992 : 57). Sedangkan lay up adalah jenis tembakan yang dilakukan sedekat mungkin dengan basket yang didahului dengan lompat-langkah-lompat (Dedy Sumiyarsono, 2002:35). Dalam penelitian ini dribble lay up dari sisi kanan menggunakan tangan kanan adalah dribble sendiri dengan menggunakan tangan kanan menuju basket, setelah dekat melaksanakan tembakan lay up menggunakan tangan kanan juga dan dilakukan pada sisi kanan lapangan bola basket .

1.4.3 Dribble Lay Up Sisi Kiri Dengan Menggunakan Tangan Kiri
Dribble adalah salah satu cara yang diperbolehkan oleh peraturan untuk membawa lari ke segala arah. Seseorang pemain boleh membawa bola lebih dari satu langkah, asal bola dipantulkan, baik dengan jalan maupun berlari (Imam Sodikun, 1992 : 57). Sedangkan lay up adalah jenis tembakan yang dilakukan sedekat mungkin dengan basket yang didahului dengan lompat-langkah-lompat (Dedy Sumiyarsono, 2002:35). Dalam penelitian ini dribble lay up dari sisi kiri menggunakan tangan kiri adalah dribble sendiri dengan menggunakan tangan kiri menuju basket, setelah dekat melaksanakan tembakan lay up menggunakan tangan kiri juga dan dilakukan pada sisi kiri lapangan bola basket.

1.4.4 Hasil
Hasil berarti sesuatu yang di adakan (dibuat, dijadikan dan sebagainya) oleh usaha, dan yang dapat diartikan juga dengan berhasil (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002:391). Hasil disini adalah keberhasilan dalam memasukkan bola ke keranjang basket dalam melakukan tembakan lay up.

1.4.5 Mahasiswa Putra PKLO FIK UNNES
Mahasiswa adalah calon-calon pendidik bidang olahraga atau penjaskes yang dalam mata kuliahnya sudah di berikan materi teknik cabang olahraga bola basket khsususnya semester IV B Jurusan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang berjumlah 46 orang mahasiswa berjenis kelamin laki-laki.

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1.5.1 Bagi peneliti sendiri untuk memperoleh gelar sarjana.
1.5.2 Sebagai bahan informasi dan kajian mengenai teknik-teknik dalam permainan bola basket terutama masukan bagi pelatih/pembina bola basket dalam menyusun program latihan yang lebih baik khususnya dalam hal teknik tembakan lay up pada mahasiswa putra semester IV B PKLO FIK UNNES tahun 2007.
1.5.3 Sebagai bahan pertimbangan bagi para peneliti untuk mengadakan penelitian lanjutan.

Mei 30, 2010 at 8:49 pm Tinggalkan komentar

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK SYARI’AH MENGGUNAKAN PENDEKATAN LABA RUGI DAN NILAI TAMBAH (AK-29)

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK SYARI’AH MENGGUNAKAN PENDEKATAN LABA RUGI DAN NILAI TAMBAH

KODE : AK-29

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Persaingan perbankan syari’ah semakin ketat, seiring pemberlakuan UU No 10 Tahun1998 sebagai dasar hukum bagi beroperasinya lembaga perbankan syari’ah. Pemberlakuan UU ini memicu lahirnya bank syari’ah yang baru baik status bank umum maupun unit usaha syari’ah.

Adanya persaingan antar bank syari’ah maupun dengan bank-bank konvensional lainnya yang tidak bisa dihindarkan ini, membawa dampak positif dan negatif bagi perkembangan sebuah bank, termasuk bagi bank syari’ah. Dampak positifnya adalah memotivasi agar bank saling berpacu menjadi yang terbaik. Sedangkan dampak negatifnya adalah kekalahan dalam persaingan dapat menghambat laju perkembangan bank yang bersangkutan. Kondisi ini akan membawa kerugian yang besar bagi bank, bahkan dapat mengakibatkan gulung tikar.


Langkah strategis yang dapat ditempuh oleh bank dalam rangka memenangkan persaingan, salah satunya adalah dengan cara meningkatkan kinerja keuangan. Peningkatan kinerja keuangan mempunyai dampak yang luar biasa kepada usaha menjaga kepercayaan nasabah agar tetap setia menggunakan jasanya. Prinsip utama yang harus dikembangkan oleh bank syari’ah dalam meningkatkan kinerja keuangan adalah kemampuan bank syari’ah dalam melakukan pengelolaan dana. Yaitu kemampuan bank syari’ah memberikan bagi hasil yang optimal kepada nasabah. Penilaian kinerja keuangan bank syari’ah dapat dilakukan dengan menganalisa laporan keuangan yang diterbitkan. Yaitu dengan menganalisa tingkat profitabilitas bank syari’ah yang bersangkutan, dengan menggunakan tiga rasio yaitu Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE) dan rasio perbandingan antara total laba bersih dengan total aktiva produktif. Kualitas kinerja kuangan bank syari’ah, dapat dilihat seberapa besar rasio kinerja keuangan yang diperoleh. Semakin besar rasio yang diperoleh berarti kemampuan bank syari’ah dalam memberikan keuntungan bagi hasil kepada nasabah semakin baik, dan sebaliknya jika perolehan rasio kinerja keuangan kecil berarti kemampuan bank syari’ah memberikan keuntungan berupa bagi hasil kepada nasabah rendah.
Namun saat ini para pengguna laporan keuangan (nasabah, karyawan, pemerintah, masyarakat, manajemen) dihadapkan satu kondisi dimana laporan keuangan bank syari’ah belum dapat melakukan analisa terhadap kinerja keuangan bank syari’ah secara tepat, mengingat laporan keuangan bank syari’ah sebagaimana termuat dalam Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 59, hanya memuat sejumlah elemen laporan keuangan sebagaimana elemen dalam laporan keuangan bank konvensional, ditambah dengan beberapa laporan seperti Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, Laporan Dana Zakat, Infaq dan Shodaqoh serta Laporan Qardul Hasan. Selain itu di dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Bank Syari’ah disebutkan bahwa tujuan akuntansi keuangan bank syari’ah adalah penyediaan informasi keuangan ditambah dengan seputar informasi yang berkaitan terhadap prinsip syari’ah, yang merupakan karakteristik dari bank syari’ah. Jika dikaji secara lebih medalam, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan laporan keuangan bank syari’ah masih berorientasi pada kepentingan direct stakeholders. Tujuan ini sama dengan tujuan akuntansi yang termuat dalam laporan keuangan bank-bank konvensional. Sementara itu jika mengingat bank syari’ah adalah unit usaha bisnis yang berdasarka syari’ah Islam, maka seyogyanya akuntansi keuangan yang digunakan adalah akuntansi syari’ah. Dimana tujuan di dalam akuntansi syari’ah tidak hanya sebatas menyediakan informasi yang berkaitan dengan pengambilan keputusan ekonomi saja, akan tetapi sebagaimana diungkapkan oleh para pakar akutansi syari’ah, bahwa tujuan akuntansi syari’ah adalah muamalah yaitu Amar Ma’ruf Nahi Munkar, keadilan dan kebenaran, maslahat sosial, kerjasamaaa, menghapus riba, dan mendorong zakat. Sehingga dengan demikian tujuan akuntansi syari’ah lebih menekankan pentingnya memberikan informasi bagi penghitungan zakat, pelaksanaan keadilan dan melaporkan kegiatan yang bertentangan dengan syari’ah. Tujuan-tujuan tersebut perlu dilakukan dalam rangka memenuhi tanggungjawab bank kepada direct stakeholders maupun indirect stakeholders. Dengan kata lain tujuan akuntansi bank syari’ah seharusnya lebih menekankan pada pemenuhan akuntabilitas (kepada direct stakeholders, indirect stakeholders dan kepada Tuhan).
Dalam kaitannya dengan pemenuhan akuntanbilitas laporan kauangan bank syari’ah, Baydoun dan Willet (2000), seorang pakar akuntansi syari’ah merekomensikan laporan nilai tambah (Value Added Statement), sebagai tambahan dalam laporan keuagaan bank syari’ah. Laporan nilai tambah menurut Baydoun dan Willet (2000), merupakan laporan keuangan yang lebih menekankan prinsip full disclosure dan didorong akan kesadaran moral dan etika. Karena prinsip full disclosure merupakan cerminan kepekaan manajemen terhadap proses aktivitas bisnis terhadap pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Kepekaan itu terwujud berupa penyajian informasi akuntansi melalui distribusi pendapatan secara lebih adil. Adanya laporan nilai tambah telah merubah mainstream tujuan akuntansi dari decision making bergeser kepada pertanggungjawaban sosial.
Kaitannya dengan kinerja keuangan bank syar’ah, dengan belum dimasukkannya laporan nilai tambah sebagai laporan keuangan tambahan dalam laporan keuangan bank syari’ah, maka selama ini analisis kinerja keuangan bank syari’ah hanya didasarkan pada neraca dan laporan rugi laba saja. Hal ini menyebabkan hasil analisis belum menunjukkan hasil yang tepat, karena laporan laba rugi merupakan laporan yang lebih memperhatikan kepentingan direct stakeholders (pemilik modal), berupa pencapaian profit yang maksimal, dengan mengesampingkan kepentingan dari pihak lain (karyawan, masyarakaat, sosial dan pemerintah). Sehingga profit yang diperoleh distribusinya hanya sebatas kepada direct stakeholders (pemilik mnodal) saja. Sementara dengan laporan nilai tambah kemampauan bank syari’ah dalam menghasilkan provitabilitas dihitung dengan juga memperhatikan kontribusi pihak lain seperti karyawan, masyarakat, pemerintah dan lingkungan. Sehingga profit yang diperoleh dalam distribusinya tidak hanya sebatas pada direct stakeholders saja melainkan juga kepada indirect stakeholsers.
Berdasarkan latarbelakang ini, peneliti tertarik untuk melakukan Penelitian terhadap kinerja keuangan bank syari’ah dengan menggunakan pendekatan nilai tambah. Penelitian ini berjudul, “ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN BANK SYARI’AH MENGGUNAKAN PENDEKATAN LABA RUGI DAN NILAI TAMBAH “
1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah

Analisis terhadap kinerja keuangan bank syari’ah selama ini dilakukan hanya didasarkan pada laporan neraca dan laporan laba rugi, belum menggunakan laporan nilai tambah sebagaimana direkomendasikan oleh Baydoun dan Willet (2000), seorang pakar akuntansi syari’ah.

Analisis terhadap kinerja keuangan bank syari’ah yang hanya didasarkan pada neraca dan laporan laba rugi belum belum memberikan informasi yang akurat tentang seberapa besar rasio kinerja keuangan yang dihasilkan, karena profit yang menjadi dasar penghitungan rasio kinerja keuangan masih mengesampingkan kontribusi dari pihak lain (karyawan, masyarakat, sosial dan pemerintah). Sehingga hasil analisis kinerja keuangan belum menunjukkan kondisi yang riil. Sementara itu dengan menggunakan laporan nilai tambah, hasil analisis kinerja keuangan akan lebih riil karena profitabilitas yang dijadikan dasar pengukuran rasio kinerja keuangan dihitung dengan memperhatikan kontribusi dari pihak lain (karyawan, masyarakat, sosial dan pemerintah).

Dengan menggunakan pendekatan nilai tambah (Value Added Statement), penelitian ini dimaksudkan ingin menganalisis kinerja keuangan bank syari’ah dengan membandingkan antara hasil kinerja keuangan yang menggunakan pendekatan laba rugi dan yang menggunakan pendekatan nilai tambah. Karena keterbatasan waktu dan biaya, penelitian ini mengambil sempel pada laporan keuangan yang diterbitkan oleh PT Bank Syari’ah Mandiri (BSM) Tahun 2003 dan 2004., mengingat PSAK No. 59 mulai diberlakukan bulan Januari 2003. Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana kinerja keuangan PT. BSM Tahun 2003 dan 2004, jika dianalisis dengan menggunakan pendekatan laba rugi dan nilai tambah
2. Bagaimana perbedaan kinerja keuangan PT BSM Tahun 2003 dan 2004, jika dianalisis dengan menggunakan pendekatan laba rugi dan nilai tambah

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui kinerja keuangan PT BSM Tahun 2003 dan 2004, jika di analisis dengan menggunakan pendekatan laba rugi dan nilai tambah.
2. Untuk mengetahui perbedaan kinerja keuangan PT BSM Tahun 2003 dan
2004, jika di analisis dengan menggunakan pendekatan laba rugi dan nilai tambah.

1.4 Kegunaan Penelitian
Hal penting dari sebuah penelitian adalah kemanfaatan yang dapat dirasakan atau diterapkan setelah terungkapnya hasil penelitian. Adapun kegunaan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

1.4.1 Kegunaan Teoritis
Menambah khasanah pengetahuan dalam akuntansi syari’ah dan pengetahuan tentang perbankan syari’ah serta sebagai masukan pada penelitian dengan topik yang sama pada masa yang akan datang.

1.4.2 Kegunaan Praktis
1. Kepada praktisi sebagai bahan masukan tentang pentingnya menambahkan Laporan Nilai Tambah dalam elemen laporan keuangan yang diterbitkan.
2. Kepada pengguna jasa perbankan syari’ah sebagai bahan informasi untuk mengetahui kinerja keuangan perbankan syari’ah.

1.6 SISTEMATIKA SKRIPSI
Untuk memudahkan dalam memahami isi skripsi maka disusun sistematika skripsi penelitian. Skripsi ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
Bagian awal berisi : Halaman judul, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, prakata, halaman sari, halaman daftar isi, halaman tabel, halaman daftar tabel, halaman daftar gambar dan daftar lampiran. Adapun bagian pokok berisi:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini terdiri atas latar belakang pemasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan sistematika skripsi
BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS
Pada bab ini berisi landasan teori mengenai konsep operasional bank syari’ah, manajemen keuangan bank syari’ah, standar akuntansi keuangan bank syari’ah, dan penyajian dan pengungkapan pelaporan keuangan bank syari’ah. Disampin itu berisi juga kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini berisi metode penentuan obyek penelitian, variabel penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data dan analisi data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi hasil penelelitian yang telah dilakukan dan pembahasan. BAB V PENUTUP
Bab ini berisi simpulan dari penelitian dan saran untuk pihak-pihak terkait

Mei 30, 2010 at 11:55 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

Mei 2010
S S R K J S M
« Des   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Posts by Month

Posts by Category