Posts filed under ‘Pendidikan’

Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Sikap Peserta Didik Melalui Pelatihan Guru Dengan Vcd Pemodelan Dan Pendampingan Pada Pembelajaran Matematika (PMT-5

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya untuk memacu penguasaan ilmu pengetahuan, matematika memegang peranan penting dalam pendidikan baik sebagai objek langsung (fakta, konsep, prinsip) maupun objek tak langsung (sikap kritis, logis, dan tekun). Karena pentingnya matematika, mata pelajaran matematika menjadi salah satu mata pelajaran wajib yang diberikan di sekolah mulai dari jenjang terendah yaitu sekolah dasar sampai jenjang tertinggi yaitu sekolah menengah atas. Bahkan matematika juga dipelajari sampai tingkat perguruan tinggi terutama pada jurusan ilmu eksakta.
Mata pelajaran matematika diberikan dalam suatu proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran merupakan suatu sistem dengan komponen-komponen yang saling berkaitan. Komponen-komponen pembelajaran meliputi: peserta didik, guru, bahan ajar, kurikulum, sarana prasarana, serta srategi pembelajaran. Suatu sistem akan mencapai suatu keberhasilan jika komponen-komponen yang saling terkait bekerja secara seimbang. Jika salah satu komponen saja tidak bekerja, maka dapat dipastikan tidak akan memberikan hasil yang optimal.

Sebagai salah satu komponen pembelajaran, guru memegang fungsi dan tanggungjawab paling besar dalam proses pembelajaran. Dari penelitian untuk guru-guru di California, Michigan, dan Georgia (1976), guru-guru melaporkan bahwa mereka hanya menerima sedikit bantuan pengembangan profesional pada saat mulai mengajar dan pada akhir-akhir pembelajaran pun bantuan yang diterima sangat sedikit. Hal ini juga mungkin terjadi di Indonesia.

Selain guru, komponen pembelajaran yang lain adalah kurikulum. Salah satu kurikulum yang sedang berlaku di Indonesia saat ini adalah kurikulum 2004 atau sering disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pada kurikukum 2004 pembelajarannya harus dikaitkan dengan situasi di dunia nyata peserta didik. Peserta didik dituntut untuk menguasai materi sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Selain itu dalam kurikulum ini peserta didik harus aktif untuk mencari, mengolah dan menemukan dengan bimbingan proporsional dari guru dalam menemukan suatu konsep.

Penggunaan sarana-prasarana juga sangat membantu proses pembelajaran. Sarana-prasarana yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah media pembelajaran. Salah satu dari media pembelajaran adalah alat peraga. Hasil penelitian Isti dkk. (1999-2000) tentang implementasi pembelajaran matematika bercirikan pendayagunaan alat peraga menunjukkan bahwa pemanfaatan alat peraga dalam pembelajaran matematika menjadikan pembelajaran matematika mudah dipahami oleh peserta didik, peserta didik menjadi aktif (aktivitas belajar peserta didik meningkat), dan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan hal-hal yang harus diperhatikan dalam setiap pelaksanakan pembelajaran dalam Standar Kompetensi Kurikulum 2004. Hal senada juga diungkapkan oleh Piaget (Suherman, 2003:37) bahwa perkembangan mental anak Sekolah Dasar (SD) berada pada tingkat operasi konkret, tahap di mana pengerjaan-pengerjaan logis dapat dilakukan dengan bantuan benda-benda konkret. Kekonkretan ini membantu peserta didik dan guru memahami makna kata. Dengan demikian dalam pendidikan matematika (pembelajaran matematika) dituntut adanya benda-benda konkret yang merupakan model dari ide-ide matematika, dan juga benda konkret dapat digunakan untuk penerapan matematika (Tim PKG, 1988: 1). Namun mereka (para guru) belum mampu mengimplementasikan model-model pembelajaran yang sesuai dengan rambu-rambu kurikulum 2004 dalam pembelajaran di kelas (real teaching). Para guru masih mengalami kesulitan saat melaksanakan tugas mengajar sesuai kurikulum 2004, diantaranya adalah pemanfaatan alat peraga secara benar. Kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran masih kurang, sehingga pembelajaran matematika yang ada belum optimal. Hal ini menyebabkan peserta didik tidak menguasai konsep yang diajarkan dan hasil belajarnya rendah. Oleh karena itu, kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran perlu ditingkatkan. Salah satu cara untuk meningkatkan kesiapan guru adalah dengan memberi pelatihan.

Permasalahan yang muncul adalah bagaimanakah strategi efektif untuk melatih guru dalam melaksanakan pembelajaran atematika sesuai kurikulum 2004? Dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi, penelitian ini dirancang untuk menerapkan strategi pelatihan dalam mengimplementasikan pembelajaran matematika sebagai implementasi kurikulum 2004. Sesuai dengan komponen-komponen utama pelatihan, strategi pelatihan yang akan diterapkan adalah pemodelan pembelajaran matematika bercirikan pendayagunaan alat peraga riil di dalam kelas melalui VCD. Hal ini dimaksudkan agar guru bisa menggunakan alat peraga secara benar dan guru lebih siap melaksanakan pembelajaran matematika, karena seperti diketahui bahwa penggunaan alat peraga pada pembelajaran matematika SD dapat meningkatkan pemahaman konsep. Setelah adanya pendemonstrasian model- model, selanjutnya diperlukan praktek yang disimulasikan dan seting kelas, umpan balik terstruktur maupun open ended, serta pembekalan untuk aplikasi. Maka dari itu setelah adanya pemodelan melalui VCD, penelitian ini dirancang dengan adanya suatu pendampingan sebagai bentuk tindak lanjut dari pemodelan. Dalam pendampingan ada suatu umpan balik dari pelatih (guru model) baik secara terstruktur maupun open ended dengan harapan setelah adanya suatu pendampingan guru mampu mengaplikasikan dan mengembangkan sendiri dalam suatu pembelajaran di kelas.
Penelitian ini diawali dengan suatu pengamatan dan wawancara di SD sekaran 2. Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika guru kelas V selalu menggunakan metode ekspositori tanpa adanya penggunaan alat peraga. Padahal penggunaan alat peraga memudahkan peserta didik dalam memahami konsep. Hal ini menjadi salah satu sebab nilai matematika peserta didiknya belum optimal. Sehingga untuk mata pelajaran matematika guru hanya berani menetapkan batas ketuntasan nilai ≥60 sebesar 60%. Padahal, pemahaman konsep merupakan pengetahuan dasar dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Peserta didik harus menguasai pemahaman konsep dengan baik agar bisa belajar untuk pengetahuan yang ada di atasnya yaitu pemecahan masalah, penalaran komunikasi, dan analisis, dengan demikian pembelajaran akan berlangsung secara potimal. Oleh karena itu, batas ketuntasan pada penelitian ini yaitu jika nilai rata-rata kelas ≥ 75 dengan batas ketuntasan 70% dan sikap peserta didik terhadap pembelajaran matematika ≥ 75% adalah positif. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman konsep dan sikap peserta didik kelas V SD Sekaran 2 sesuai indikator yang telah ditetapkan adalah dengan pembelajaran matematika bercirikan pendayagunaan alat peraga yang didukung dengan kesiapan guru sebagai pelaksana pembelajaran. Untuk meningkatkan kesiapan guru dapat dilakukan dengan pelatihan melalui VCD pemodelan yang disertai pendampingan.

Berdasarkan uraian di atas maka dilaksanakanlah penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan sikap peserta didik kelas V SD Sekaran 2. Selanjutnya penelitian tindakan kelas ini diberi judul “Meningkatkan pemahaman konsep dan sikap peserta didik melalui pelatihan guru dengan VCD pemodelan dan pendampingan pada pembelajaran matematika bercirikan pendayagunaan alat peraga materi pokok luas bangun datar kelas V SD Sekaran 2 tahun pelajaran 2006/2007”.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Iklan

April 11, 2012 at 11:49 pm Tinggalkan komentar

KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT DENGAN PEMANFAATAN LKS PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG SISI DATAR .. .(PMT-4)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika sejak dini. Oleh karena itu, mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang diberikan pada setiap jenjang pendidikan dari mulai pendidikan dasar.
Pada kenyataannya matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang susah untuk dimengerti. Indikasinya dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang kurang memuaskan. Selama ini umumnya siswa hanya bermodal menghafal rumus untuk menyelesaikan soal-soal matematika. Hal tersebut dikarenakan matematika bersifat abstrak dan membutuhkan pemahaman konsep-konsep. Faktor lain yang berpengaruh adalah cara mengajar guru yang tidak tepat. Pembelajaran yang biasa diterapkan selama ini menggunakan metode ekspositori, di mana pembelajaran berpusat pada guru, siswa pasif, dan kurang terlibat dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kejenuhan yang berakibat kurangnya minat belajar. Minat belajar akan tumbuh dan terpelihara apabila kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara bervariasi, baik melalui variasi model maupun media pembelajaran.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menekankan keterlibatan aktif antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Selain itu, pada kurikulum sebelumnya atau KBK menekankan bahwa belajar matematika tidak sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan meliputi learning to do, lerning to be, hingga learning to live together (Suyitno, 2004: 60). Oleh karena itu, pengajaran matematika perlu diperbarui, di mana siswa diberikan porsi lebih banyak dibandingkan dengan guru, bahkan siswa harus dominan dalam kegiatan belajar mengajar. Sasaran dari pembelajaran matematika adalah siswa diharapkan mampu berpikir logis, kritis dan sistematis.

Untuk mengembangkan potensi to live together salah satunya melalui model pembelajaran kooperatif. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan kepada siswa yang membutuhkan atau anggota lain dalam kelompoknya, sehingga belajar kooperatif dapat saling menguntungkan antara siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Slavin (Ibrahim, 2000:16) tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar pada semua tingkat kelas dan semua bidang studi menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu tipe NHT Numbered Heads Together). Model ini dapat dijadikan alternatif variabel model pembelajaran sebelumnya. Dibentuk kelompok heterogen, setiap kelompok beranggotakan 3-5 siswa, setiap anggota memiliki satu nomor, guru mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan bersama dalam kelompok. Guru menunjuk salah satu nomor untuk mewakili kelompoknya. Menurut Muhammad Nur (2005) model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam dalam diskusi kelompok.

Materi yang peneliti pilih pada penelitian ini adalah pokok bahasan bangun ruang sisi datar, karena pada materi ini diperlukan kemampuan visualisasi yang tinggi dan banyak dijumpai bangun ruang sisi datar pada kehidupan sehari-hari. Dalam menyelesaikan persoalan yang menyangkut bangun ruang sisi datar seringnya siswa hanya bermodal memasukkan angka ke rumus tanpa dibarengi pemahaman konsep yang mendalam. Melalui media pembelajaran matematika yang salah satunya adalah LKS dengan metode penemuan terbimbing siswa dapat mengetahui dari mana sebenarnya rumus yang digunakan berasal.

Berdasarkan observasi yang telah peneliti lakukan di SMPN 6 Semarang menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa masih rendah. Kurikulum yang digunakan di sekolah ini yaitu KTSP, namun paradigma lama di mana guru merupakan pusat kegiatan belajar di kelas (teacher center) masih dipertahankan dengan alasan pembelajaran seperti ini adalah yang paling praktis dan tidak menyita banyak waktu.

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul “Keefektifan Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered-Heads-Together) dengan Pemanfaatan LKS (Lembar Kerja Siswa) Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar (Kubus dan Balok) Siswa Kelas VIII Semester 2 SMP N 6 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007”.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 11, 2012 at 11:39 pm Tinggalkan komentar

Perbedaan Hasil Latihan Forehand Drive Menggunakan Arah Bola Depan Belakang Dan Posisi Pemain Maju Mundur Trhdp Kemampuan Melakukan Forehand (POL-10)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Tenis merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang sangat populer karena banyak diminati oleh masyarakat. Kebutuhan akan tenis lapangan semakin meningkat karena banyaknya orang yang gemar bermain tenis mulai dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Tiap orang mempunyai tujuan yang berbeda-beda dalam melakukannya, misalnya ada yang bertujuan untuk memperluas pergaulan, memperbanyak teman, rekreasi, kesehatan, tidak sedikit pula dari mereka yang berusaha untuk prestasi. Bahkan dewasa ini tenis dapat dijadikan sebagai lapangan pekerjaan mengingat melalui tenis dapat menghasilkan pendapatan.
Sedangkan untuk pencapaian prestasi yang optimal dalam permainan tenis lapangan dapat dicapai melalui peranan yang sangat penting dari seoarang pelatih. Oleh karena itu pelatih harus mampu menyusun program, memilih, dan menerapkan metode latihan sesuai dengan tujuan latihan itu sendiri. Selain pelatih, orang tua dan atlet itu sendiri mempunyai peranan dan tanggung jawab yang sama dalam pencapaian prestasi. Usaha pemasalan, pembinaan, dan pengembangan untuk mencapai prestasi tersebut perlu diadakan pendekatan ilmiah, adanya sarana yang menunjang dan metode latihan yang tepat. Untuk pencapaian prestasi yang optimal dalam permainan tenis lapangan, faktor yang mendasar yang perlu dikuasai oleh seorang pemain adalah pukulan dasar.
Penguasan pukulan dasar yang baik dan benar merupakan salah satu landasan penting untuk meningkatan kecakapan bermain tenis.

Bagi petenis, penguasaan teknik dasar pukulan mutlak diperlukan dalam meningkatkan prestasi. Untuk penguasaan teknik dasar dapat dicapai dengan latihan yang benar, tepat, dan teratur.
Menurut B. Yudoprasetio (1981 : 43) “Pukulan-pukulan dalam permainan tenis digolongkan dalam tiga golongan, yakni: Groundstroke, Volleys dan Overhead Stroke.” Sedangkan untuk pukulan groundstroke dapat dibedakan lagi menjadi beberapa jenis antara lain: a). Forehand Drive, b). Drop Shot, c). Backhand Drive, d). Half Volley. Sedangkan pendapat lain mengatakan dalam permainan tenis lapangan ada empat jenis pukulan dasar yang harus dikuasai oleh seorang petenis yaitu; a). Service b). Forehand Drive (Groundstroke) c). Backhand Drive (Groudstroke) d). Volley (Scharff,1981:24).

Salah satu pukulan drive yang perlu dikuasai oleh seorang petenis lapangan adalah forehand drive. Menurut Mottram (1996:37) : ”Pukulan drive biasanya dinyatakan sebagai suatu pukulan yang paling mudah dipelajari oleh pemain pemula. Hal ini disebabkan pemain pemula memang merasa relatif mudah untuk mengembalikan bola dengan pola forehand, karena raketnya bebas dari tubuh.” Sedangkan pendapat lain mengatakan “Groundstroke Forehand mengarah kesamping tubuh di mana anda memegang raket.” (Jim Brown,1996:31). Hal ini adalah bentuk pukulan tenis yang paling sering dilakukan dan paling mudah dipelajari.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pukulan forehand drive merupakan pukulan yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum pukulan yang lain di pelajari. Hal ini dikarenakan pukulan forehand sangat mudah dipelajari dari pada pukulan yang lainnya.

Menurut Rex Lardner (1996:31).” Pukulan forehand merupakan stroke yang paling aman dipakai dalam tenis.” Sedangkan menurut Katilli (1948:30) “Pukulan forehand adalah senjata penyerang utama karena gerak-geriknya tidak begitu rulit untuk dipelajari dan menguasai pukulan ini dari pada pukulan-pukulan yang lainnya”. Pendapat lain juga dikemukakan oleh B. Yudoprasetio (1981: 55)” Forehand drive adalah pukulan yang wajar, maka forehand drive harus dipelajari dan dikuasai tekniknya terlebih dahulu.”
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pukulan forehand drive merupakan pukulan yang sangat penting. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan pukulan ini lebih dominan digunakan dalam suatu pertandingan untuk mendapatkan nilai atau angka. Walaupun pukulan forehand drive sangat mudah dipelajari namun dalam penguasaannya tetap harus melalui latihan.

Untuk meningkatkan variasi pukulan drive dapat menggunakan latihan dengan menggunakan variasi arah bola depan belakang dan latihan dengan variasi pada posisi pemain lari maju mundur. Dalam hal ini yang dimaksud dengan arah bola depan belakang adalah bahwa dalam latihan forehand drive dapat dilakukan dengan bola yang diumpan kemudian dipukul dan diarahkan disekitar daerah servis untuk latihan arah bola depan dan pada daerah baseline untuk arah bola
belakang. Latihan ini dilakukan secara bergantian dan terus menerus dalam satu tahap, sedangkan posisi pemain maju mundur maksudnya adalah bahwa dalam latihan posisi pemain lari maju mundur guna memukul bola serta mengarahkannya pada daerah yang telah ditentukan secara bergantian dan terus menerus dalam satu tahap latihan.

Dalam kedua bentuk latihan diatas maka penulis tertarik untuk menelitinya. Judul penelitian tersebut adalah :
“PERBEDAAN HASIL LATIHAN FOREHAND DRIVE MENGGUNAKAN ARAH BOLA DEPAN BELAKANG DAN POSISI PEMAIN MAJU MUNDUR TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN FOREHAND DRIVE TENIS LAPANGAN PADA PETENIS PUTRA KLUB VTC PEKALONGAN TAHUN 2005”

Adapun alasan pemilihan judul tersebut adalah:
1. Dalam permainan tenis lapangan pukulan drive merupakan salah satu teknik dasar pukulan yang sangat penting karena merupakan pukulan yang dominan digunakan.
2. Latihan menggunakan variasi arah bola depan belakang dan variasi latihan dengan posisi pemain lari maju mundur dapat meningkatkan penguasaan teknik dasar khususnya dalam melakukan Forehand Drive cabang olahraga tenis lapangan.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 9, 2012 at 12:36 pm Tinggalkan komentar

CONTEXT OF SITUATION AND CONTEXT OF CULTURE IN WILLIAM SHAKESPEARE’S “SONNET XVIII” (PBING-19)

CHAPTER I INTRODUCTION

1.1 General Background of the Study

Even though they come from different field, linguistics studies and literary studies are assumed to be connected in certain respects as intellectual disciplines. Linguistics, as the scientific study of language, necessarily “covers all aspects and uses of language, and all styles” (Hill, 1969: 196); or “an aspect of the study of language” (Halliday, 1985:4). This means that linguistics concerns with the way people use language and with how the various components of language function.

As we know, language is not only used in our everyday live, but it might also be presented in the form of a text. This text varies from just a short letter to a longer written forms presented in books and papers. Halliday (1985:11) proposed the definition of text as “an object in its own right; it may be a highly valued object, such as literature”. Literature, then, as defined by Rees (1973: 2) “is the written form of language, which expresses and communicates thoughts, feelings and attitudes towards life”. Literature comprises a number of particular uses and styles, forms and important. Those uses, styles and forms are also “a valuable part of the linguistics material in the study of a particular language”, as stated by
Robins (1980: 311).

Koesnosoebroto quotes Tzvetan Todorov (1988: 1) that “Literature is a kind of extension and application of certain properties of language”. He also says that the “literary work is a verbal work of art”. Robins (1980: 312) adds that literature, as work of art, is “the product of intuition”. He also gives an opposing idea that literature besides the work of art is also “the work of language” (1980:
313). As the work of language, it can be analyzed its interpretation within the scope of its elements and as a text of written language using certain theories of linguistics. The linguistics approach will deepen the appreciation of literary work itself, and also the artistic uses of language. The application of linguistics may expect to be able to penetrate into the component of language that great authors and poets have unconsciously seized on and molded into works of literary art.

Brown and Olmsted (1962: 139) divide literature into three forms: ‛poetry, fiction and drama”. Among other forms of literature, poetry is considered to have unique feature. It is assumed to be the most concentrated and condensed form of literature. It is called so since it is simpler, both in length and construction, but more sophisticated in style of language. The style of language of poetry is in the poet’s hand. It is usual that we sometimes meet the unusual language in unusual word constructions. But poets do things for a reason. If the structure of the poem is screwed up, it is generally because the poet is “trying to emphasize something” (Chatman, 1968: 18).

Many studies have done in the issue of poetry interpretation, whether based on literary interpretation or from its elements point of view, and on literary critics. In interpreting a poem, we need to consider how words mean or the sense of words since in poetry most words have more than one sense. The sense of a word is “the specific meaning it has in a given context” (Chatman, 1968: 3). Along with this, Halliday said that any text is “an instance of social meaning in a particular context of situation” (1985:11). In other words, a text is the product of its environment, a product of its context.

A text may have rhetorical, sociological and historical background of setting inside of it as found in drama and novel to support the understanding of the meaning and the message expressed by the writer. But some are not, as poetry. In poetry, the text itself is the primary source for such information. To determine the meaning within a given context, there is no way of making explicit one’s interpretation of the meaning of a text without the theory of linguistics, which is the theory of wording or grammar.

Taken generally, linguistics theories are created to explain and explore something about the nature of language, including how language is used in social context, and texts (including the Sonnet XVIII text) provide the data for such exploration. Linguistics therefore offers analytical tools that are appropriate to identifying and organizing texts in a systemic way as a step towards the process of interpretation.

Linguistics could be useful for the Sonnet XVIII interpreter by compensating for the interpreter’s lack of native familiarity with the language of the Sonnet XVIII. One who has an ability in a living language knows how to do hings with the resource of that language, how to communicate, how to accomplish certain tasks in concrete communicative contexts. Such a person also has an ability to recognize what others are doing in their use of the language. Linguistics offers to the interpreter a way acquiring explicitly at least in part what people once possessed implicitly by living in the social context of the language of the texts. This ability is not like the ability of a knowledgeable soccer fan who can recognize and talk about the rules, good or bad shoot, player’s performance, etc. It is instead like the knowledge of a well-trained soccer player who knows how to play the game from years of repetition, and who recognize moves not in order to talk about them but so as to be able to react, seemingly without effort. Linguistics offers the interpreter the opportunity to become an educated play-by-play commentator or analyst, describing and explaining what the producer of the text did by means of implicit knowledge and without explicit analysis. In the process, this text-oriented discipline has the potential to provide the interpreter with the resource to predict what aspects of the context are embedded in the texts, as well as the method for determining how to look for them.

Functional Grammar is one of the several theories in the current disciplines of linguistics that suits the purpose of Sonnet XVIII interpreter which conceive of text as social interaction, by systematically examining text in terms of the ways in which the language of the texts functions, and in the ways in which the functions relate to context. In other words, it is not only for increasing the interpreter’s understanding of the language of the text to be interpreted, but also for relating those texts into their context. Functional linguists view language as system of meaning potential in human interactions that are realized by various structures.

Martin, Matthiessen and Painter (1997: 3) states that “Functional Grammar is a method of analyzing text, not for correcting what is referred to as grammatical errors”. Rather, it provides us with tools for understanding why a text is the way it is, and it is also “a grammar that respects speaker’s rights about what they choose to say and in what forms they choose their style of language” (1997: 4). It is as Halliday said that the main purpose of writing the Introduction of Functional Grammar is “to provide a general grammar for purposes of analysis and interpretation” (1994: 1).

The unit assumed to be the most important in Functional Grammar is
“clause” (Thompson 1996: 21, Martin, Matthiessen and Painter, 1997: 5, Robins
1980: 282). Even if there is only one words builds one sentence, it is viewed as “one sentence constructed by single clause, single phrase and single word” (Robins, 1980: 283). The analysis of clauses within the Functional Grammar is realized in “three levels of functional perspective, Ideational, Interpersonal, and Textual” (Halliday 1994:34, Martin, Matthiessen and Painter 1997: 5, Thompson
1996: 32). All meanings expressed in the three levels of functional perspective are situated “in context of situation or Register, and context of culture or Genre” (Halliday 1985:12, Gerot and Wignell 1994: 10). The context of situation is embodied in those three metafunctions: “the ideational meaning reflects the field discourse, the tenor is expressed through the interpersonal, the mode of discourse is expressed through the textual” (Halliday 1985: 25). Then the context of situation creates the context of culture, “a broader background against which the text has to be interpreted” (Halliday, 1985:46).

The analysis of the Metafunction, Context of Situation and Context of Culture in William Shakespeare’s “Sonnet XVIII” is applied in the clauses of William Shakespeare’s “Sonnet XVIII”, based on the Functional Grammar introduced by Halliday. With this analysis, I would like to share ideas concerning the Sonnet XVIII interpretation. Hopefully, by interpreting poetry or other works from linguistic approach will improve our better understanding both in literature and linguistics.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 9, 2012 at 12:12 pm Tinggalkan komentar

Perbedaan Metode Mengajar Servis Bawah Terhadap Keberhasilan Servis Bawah Bola Voli Siswi Kelas X SMK N I Salam Tahun 2006 / 2007 (POL-9)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang masalah.

Permainan bola voli merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang diajarkan di seluruh tingkat sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA / SMK. Di dalam kurikulum SMK tahun 1999, permainan bola voli diajarkan pada siswa kelas I semester 2, kelas II semester 3 dan 4, kelas III semester 5 dan 6. Sedang dalam kurikulum 2004 sekolah diberi kebebasan untuk memprogramkan sendiri pada semester berapa permainan bola voli tersebut disampaikan. Di dalam KTSP
2006 sekolah memprogramkan permainan bola voli mulai diajarkan pada kelas X

semester 1. Keberhasilan suatu pembelajaran dipengaruhi oleh :

– metode

– guru

– siswa

– sarana prasarana / alat yang tersedia

Metode mengajar sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu pembalajaran, suatu metode mungkin cocok untuk mengajar suatu kompetensi tertentu, tetapi belum tentu tepat untuk kompetensi yang lain. Atau sebaliknya siswa tertentu dapat berhasil dengan metode itu sedang siswa yang lain mengalami kesulitan. Berkaitan dengan hal tersebut diharapkan guru dapat mencari atau menciptakan metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi dimana ia mengajar baik kondisi siswa maupun peralatan yang tersedia sehingga
pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Faktor yang kedua adalah guru. Kecakapan seorang guru dalam menyampaikan pembalajaran, membangkitkan motivasi siswa, mengevaluasi menganalisa latihan yang dilakukan siswanya, serta kemampuan guru itu sendiri menguasai materi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembalajaran.

Faktor yang ketiga. Kebugaran jasmani siswa, bakat, minat tingkat kecerdasan, dan jenis kelamin juga mempegaruhi keberhasilan pembalajaran.
Faktor yang keempat, kelengkapan dan jumlah alat yang tersedia. Alat / kelengkapan yang jumlahnya memadai tentu saja akan lebih baik hasilnya, karena anak/siswa lebih banyak kesempatan untuk melakukan latihan.

Pengalaman yang saya alami di lapangan dalam mengajar kompetensi permainan bola voli sedang sub kompetensinya servis bawah, ternyata siswa putri banyak mengalami kesulitan, dibandingkan siswa putra.

Hal ini tampak dalam latihan servis bawah untuk siswa putri banyak yang mengalami kegagalan, karena bola terlalu melambung, sehingga tidak bisa melampaui net, atau bola terlalu rendah sehingga bola menyangkut di net (jaring).
Menurut pengamatan saya, faktor yang menghambat keberhasilan servis bawah yang dilakukan siswi SMK N I Salam tersebut adalah:
1. Lambungan bola terlalu dekat atau terlalu jauh dari jangkauan tangan.

2. Siku tangan pemukul kurang dikencangkan pada saat memukul bola, atau siku tidak dikencangkan pada saat memukul bola, atau siku ditekuk
3. Ayunan tangan tidak dari belakang ke depan penuh, ayunan awalan kurang

4. Saat perkenaan bola dengan tangan tidak tepat (terlalu ke bawah, atau keatas dari ketinggian pinggang bagian depan).

Koordinasi gerak kurang harmonis.

Motivasi siswa kurang sebab latihan servis bawah terus menerus membuat tangan terasa sakit.
Berdasarkan pengalaman tersebut, maka saya mencoba mencari metode yang dapat membantu siswa putri untuk dapat melakukan servis bawah. Adapun metode yang saya gunakan adalah “ metode lemparan bawah “.

Hal itu dilakukan, karena menurut pengamatan saya ada kesamaan gerakan antara lemparan bawah dengan servis bawah. Persamaan tersebut diantaranya adalah posisi kaki, sikap badan, dan ayunan tangan, serta arah bola. Sedang perbedaannya adalah hanya saat bola lepas dari tangan dimana dalam lemparan bawah, bola selalu pada tangan ayun/yang digunakan untuk melempar dan pada posisi tertentu tinggal melepas, sedang pada servis bawah bola dipegang dengan tangan kiri, kemudian dilepaskan dan dipukul dengan tangan kanan. Dan lemparan bawah lebih mudah dilakukan dibandingkan servis bawah. Karena merasa mudah maka anak akan lebih suka dan bersemangat melakukan latihan. Lagi pula melakukan latihan lemparan bawah dengan berulang – ulang tidak menimbulkan rasa sakit. Berbeda dengan melakukan servis bawah, anak kurang berminat untuk mengulang-ulang dengan alasan tangan yang untuk memukul bola terasa sakit.

Dengan keberhasilan siswa melakukan lempar bawah ini, diharapkan dapat memberikan dorongan bahwa ia juga mampu melakukan servis bawah atau dapat mentransfer gerakan lemparan bawah ke dalam gerakan servis bawah bola voli.

Dari uraian diatas penulis bermaksud mengadakan penenelitian dengan judul “Perbedaan Metode Mengajar Servis bawah terhadap Keberhasilan Servis bawah Bola Voli Siswi kelas X SMK Negeri I Salam Tahun 2006/2007“
Adapun alasan dari pemilihan topik tersebut diantaranya adalah :

1. Dalam Kurikulum SMK bola voli merupakan salah satu kopetensi yang harus diajarkan.
2. Servis merupakan salah satu teknik dasar bola voli yang harus dikuasai oleh setiap pemain bola voli.
3. Sering dijumpai kasus pada siswa putri SMK Negeri I Salam kurang mampu melakukan servis, tetapi enggan melakukan latihan dengan alasan tangan sakit kalau mencoba terus menerus, maka perlu dicari metode lain untuk mengajar servis bawah.
4. Selama ini metode yang digunakan untuk mengajar servis bawah masih menggunakan metode lama yang biasa digunakan (metode konvensional).
5. Maka untuk mengatasi masalah tersebut Penulis mencoba menggunakan metode lemparan bawah untuk mengajar servis bawah bola voli.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 9, 2012 at 12:07 pm Tinggalkan komentar

Perkawinan Campur Dalam Novel Rojak Karya Fira Basuki (PBI-7)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tidak lepas dari akar masyarakatnya. Kendati demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi atau khayalan dari kenyataan. Sastra tidak akan semata-mata menyodorkan fakta secara mentah. Sastra bukan sekedar copy kenyataan melainkan kenyataan yang telah ditafsirkan. Kenyataan tersebut bukan berupa jiplakan yang kasar, melainkan sebuah refleksi halus dan estetis.

Sastra juga merupakan sebuah refleksi lingkungan sosial budaya yang merupakan satu tes dialektika antara pengarang dengan situasi sosial yang membentuknya atau merupakan penjelasan suatu sejarah dialektika yang dikembangkan dalam karya sastra. Oleh karena itu, baik aspek bentuk maupun isi karya sastra akan terbentuk oleh suasana lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu. Dalam hal ini, teks sastra menjadi saksi zaman. Sekalipun aspek imajinasi dan manipulasi tetap ada dalam sastra, aspek sosialpun juga tidak bisa diabaikan. Aspek-aspek kehidupan sosial akan memantul penuh ke dalam karya sastra. Oleh sebab itu, setiap karya sastra itu mencerminkan masyarakat dan zamannya.

Dalam pandangan Lowenthal (dalam Endraswara 2003:88) sastra sebagai cermin nilai dan perasaan yang akan merujuk pada tingkatan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang berbeda dan juga cara individu menyosialisasikan
diri melalui struktur sosial. Perubahan dan cara individu bersosialisasi biasanya akan menjadi sorotan pengarang yang tercermin lewat teks. Cermin tersebut menurut Stendal dapat berupa pantulan langsung segala aktifitas kehidupan sosial. Maksudnya, pengarang secara nyata memantulkan keadaan masyarakat lewat karya sastranya, tanpa terlalu banyak diimajinasikan.

Karya sastra yang cenderung memantulkan keadaan masyarakat, mau tidak mau akan menjadi saksi zaman. Dalam kaitan ini, sebenarnya pengarang ingin berupaya untuk mendokumentasikan zaman dan sekaligus sebagai alat komunikasi antara pengarang dan pembacanya. Oleh karena masyarakat cenderung dinamis, karya sastra juga akan mencerminkan hal yang sama. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena individual secara tertutup tetapi lebih merupakan sebuah “proses yang hidup”. Sastra tidak mencerminkan realitas seperti fotografi, tetapi lebih sebagai bentuk khusus yang mencerminkan realitas.
Adanya realitas sosial dan lingkungan yang berada di sekitar pengarang menjadi bahan dalam menciptakan karya sastra sehingga karya sastra yang dihasilkan memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan pengarang maupun dengan masyarakat yang ada di sekitar pengarang. Karya sastra yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah novel.

Novel mampu menceritakan berbagai permasalahan atau persoalan kehidupan yang lebih kompleks dibandingkan dengan karya sastra yang lain seperti puisi, cerpen, novelet dan lain-lain. Sebagai sebuah hasil karya sastra, novel dapat dipandang sebagai potret atau cerminan suatu masyarakat. Dimana
dalam karya tersebut diungkapakan pula sebuah realitas yang terjadi di masyarakat, khususnya mengenai perkawinan campur.
Pada masa sekarang, perkawinan campur menjadi gaya hidup tersendiri yang terjadi dikalangan masyarakat, bahkan telah merambah ke seluruh pelosok tanah air dan kelas masyarakat. Globalisasi informasi, ekonomi, pendidikan dan transportasi telah menggugurkan pendapat bahwa kawin campur adalah perkawinan antara ekspatriat kaya dan orang Indonesia.

Masyarakat awam belum mengetahui bahwa perkawinan campur terjadi di seluruh lapisan masyarakat. Mereka mengetahui perkawinan campur hanya terjadi dikalangan selebritis melalui media masa baik surat kabar, majalah maupun televisi dan radio. Kita sering mendapatkan berita pernikahan artis dengan pasangan mereka yaitu orang asing, orang yang berbeda kebangsaan dan kewarganegaraannya. Di antara pernikahan tersebut ada yang bertahan lama dan ada juga yang berakhir dengan perceraian. Hal inilah yang ingin diungkapkan Fira Basuki dalam novelnya yang berjudul Rojak.

Fira Basuki adalah salah seorang pengarang yang kritis terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Rojak merupakan karya kelima setelah trilogi (Jendela- Jendela, Atap, Pintu) yang terbit bersamaan dengan sebuah karya intermezzo-nya, Ms. B: Panggil Aku B. Pengarang yang lahir di Surabaya pada tanggal 7 Juni 1972 ini adalah salah satu pengarang muda yang produktif membuat novel dengan melihat apa yang terjadi di sekitarnya.

Fira berasal dari keluarga kejawen yang berasal dari keturunan Sunan
Kalijaga dan keturunan Paku Alam Yogyakarta. Ia dibesarkan dalam lingkungan
keluarga yang banyak memiliki pengalaman batin dan pengalaman hidup yang beraneka ragam. Ia menikah dengan seorang pria bernama Palden Tenzing Galang dan mempunyai seorang putri bernama Syaza Calibria Galang. Fira pernah tinggal di Singapura selama enam tahun. Di Singapura ia mempelajari budaya dan seluk- beluk peranakan, karena di sana banyak peranakan. Ia mendapat ide untuk membuat novel Rojak dari temannya orang Singapura China, pada saat ia makan rojak (rujak). Di Singapura ada bermacam-macam rujak seperti model Melayu dan India. Hal ini tak ubahnya seperti orang Singapura yang beragam. Dari ide ini, ditambah pengetahuannya tentang Singapura dan penduduknya terciptalah novel Rojak.
Melalui novel Rojak, Fira Basuki mengungkapkan kehidupan pasangan kawinn campur. Lewat karyanya ini juga, Fira mampu menceritakan secara jelas bagaimana konflik-konflik yang muncul akibat perkawinan campur.

Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dan dapat dijadikan sebagai kajian pustaka antara lain adalah penelitian yang dilakukan oleh Chatarina (2002), Ngabiyanto, Sunarto dan Suhadi (2004).
Chatarina (2002) meneliti Usaha-Usaha Pembauran Budaya Antar Etnis Melalui Fakta Cerita Dalam Novel Ca Bau Kan Karya Remi Sylado. Dalam penelitian ini dikemukakan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pembauran antaretnis, yaitu: 1) Faktor Cinta, yakni berperan untuk menyatukan dua etnis yang berbeda tetapi dengan cinta yang tulus, kebahagiaan dapat dicapai.
2) Faktor Kebudayaan, yakni sarana untuk menyatukan kedua etnis yang berbeda.

3) Faktor Bahasa, yakni sarana untuk berkomunikasi antara masyarakat Pribumi

dengan Tionghoa. 4) Faktor Persamaan Ideologi, yakni dapat terjadi apabila dia etnis yang berbeda mempunyai persamaan ideologi.

Ngabiyanto, Sunarto dan Suhadi (2004) meneliti Pembauran Etnis Tionghoa dengan Etnis Jawa di Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. Dalam penelitian ini dikemukakan bahwa model-model pembauran yang cukup efektif antara etnis Tionghoa dan Etnis Jawa adalah melalui kesenian, olah raga, pelayanan kesehatan, perkampungan, pekerjaan dan pendidikan. Dalam kaitannya dengan perkawinan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa etnis Tionghoa sudah dapat menerima etnis Jawa menjadi bagian keluarganya, bahkan yang memiliki hubungan darah. Sebagian besar responden dapat menerima apabila ia memiliki istri/suami etnis Jawa. Cucu, anak, dan diri sendiri merupakan garis penting dalam keluarga karena memiliki hubungan darah yang dekat. Dengan demikian, dilihat dari perkawinan ini, pembauran etnis Tionghoa dan etnis Jawa berkecenderungan berlangsung secara baik.

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, pada masa sekarang ini perkawinan campur banyak terjadi di semua kalangan masyarakat, baik itu kalangan atas maupun menengah. Banyak orang yang ingin mengetahui lika-liku pernikahan pasangan beda bangsa. Pasangan yang berasal dari satu bangsa saja punya banyak keunikan dan beragam masalah apalagi beda bangsa. Penulis tertarik ingin mengetahui bagaimana pasangan kawin campur menjalankan pernikahan dan masalah-masalah apa saja yang timbul akibat pernikahan tersebut

Berangkat dari inilah, penulis ingin mengungkapkan gambaran kehidupan dalam perkawinan campur yang terdapat dalam novel Rojak karya Fira Basuki.
Penulis memilih novel Rojak karya Fira Basuki, karena dalam novelnya, pengarang begitu jelas dan menarik menggambarkan kehidupan di dalam perkawinan campur. Pengarang benar-benar mengungkapkan sebuah realitas sosial yang terjadi di masyarakat yang dituang dan dikemas secara menarik dalam novelnya yang berjudul Rojak. Oleh karena itu, dalam skripsi ini, penulis mengambil judul Perkawinan Campur Dalam Novel Rojak Karya Fira Basuki.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Maret 27, 2012 at 12:38 pm Tinggalkan komentar

Dinamika Organisasi Muhammadiyah Dalam Perebutan Pengaruh Massa Di Kabupaten Rembang Tahun 1960-2000 (PSJ-2)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Organisasi massa Muhammadiyah merupakan salah satu pergerakan Islam yang pertama dengan bentuk modern dalam era kolonial Belanda. Keberadaan organisasi Muhammadiyah, sebuah organsasi yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta, semakin besar dan diakui masyarakat akibat adannya restu pemerintah kolonial Belanda. Pergerakan ini mendapatkan statusnya sebagai organisasi yang berbadan hukum (Recht Person) lewat surat ketetapan Gouvernement Besluit yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Yogyakarta (Algemene Secretarie, 22
Agustus 1914: No 81). Surat ini keluar setelah Muhammadiyah mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan sebagai badan hukum dengan terlebih dahulu mengajukan anggaran dasar, sekalipun dalam realitasnya anggaran dasar Muhammadiyah ketika itu sifatnya masih sangat sederhana (Pasha dan Darban,
2003:171). Dengan demikian tidak mengherankan bila pada tahun 1920-an munculnya cabang-cabang organisasi massa Muhammadiyah di daerah-daerah akibat status resmi Muhammadiyah, ditambah dengan izin perluasan wilayah gerakan organisasi ini ke seluruh wilayah Hindia Belanda (Mulkan,1990:29). Terlebih setelah dibentuknya utusan dakwah ke berbagai wilayah Nusantara (Darban,2000).
Organisasi Muhammadiyah memang menemukan perkembangan yang signifikan di daerah pedalaman Jawa, dimana pergulatan pemahaman Islam yang cenderung sinkretis (Geertz,1981; Mulder,1983), atau menurut Woodward (1988) yang lebih menganggap sebuah proses akulturasi antar Islam dan budaya lokal, telah melahirkan sikap konfrontatif dan motivasi Ahmad Dahlan serta Muhammadiyahnya, sehingga pendiri organisasi modern ini menemukan permasalahan mendasar umat sekaligus solusi bagi perubahan pemahaman Islam yang selama ini dianggap mengalami stagnasi, terutama terletak pada kehidupan manusianya (Damami,2000). Kegelisahan dalam menatap kondisi umat Islam inilah yang melahirkan pemikiran Ahmad Dahlan untuk mengembalikan posisi umat Islam dengan mereaktualisasi pemahaman Islam sesuai dengan aslinya.

Dalam perkembangan selanjutnya, Muhammadiyah mengalami pdrubahan model dalam gerakan dakwah. Ia lebih nampak sebagai gerakan yang anti dengan tradisi, ritual lokal–dalam arti anti terhadap syirik, tahayul, bid’ah, khurufat yang telah lama bergulir di kalangan masyarakat ‘tradisional’ dan telah merupakan tradisi yang turun-temurun (Asykuri et.al, 2003:2). Kegigihan Muhammadiyah memberantas TBC (Tahayul, Bid’ah, Churufat), menyebabkan sulit berkembang dalam masyarakat, terutama masyarakat tradisional (Geertz,1981). Meminjam istilah dari Abdul Munir Mulkan (2000), Muhammadiyah dalam perjalanannya lebih mengedepankan syariah sebagai doktrin ideologi dalam perubahan sosial. Penerapan syariah ini telah mengantarkan Muhammadiyah berada dalam posisi yang konfrontatif dengan tradisi lokal, baik dengan mayoritas Islam tradisional (NU), maupun dengan
kalangan abangan. Lebih lanjut, menurut Abdulloh (1996), pola pemurnian yang radikal terhadap tradisi yang berlaku di masyarakat lebih banyak diperankan oleh para ahli syariah sekaligus merupakan fungsi dominasi dari skriptualis syariah yang selama ini merupakan referensi pemahaman fundamentalis.
Secara teoritik meluasnya Muhammadiyah di daerah bukan tempat kelahirannya, mengandung banyak arti, termasuk sebuah upaya Islamisasi maupun sebuah usaha pribumisasi pemahaman Islam murni yang berkelanjutan oleh para anggota Muhammadiyah (Mulkan,2000). Kontak yang dilakukan Muhammadiyah di daerah-daerah, termasuk daerah pesisir utara Jawa, bagi Muhammadiyah merupakan sebuah wilayah yang telah ikut melahirkan sebuah motivasi untuk memformalisasi pemahaman Islam murni, sebuah pemahaman yang berdimensi ganda. Pertama, merupakan sebuah proses Islamisasi yang berarti pemberantasan bagi semua aspek yang bertentangan dengan skriptualis syariah yang fundamental (Nakamura,1983). Kedua, merupakan sebuah pergeseran konflik yang lebih luas, konflik yang dimaksud disini adalah pertemuan antara Muhammadiya dengan paham pemurniannya dengan tradisi santri tradisional yang selama ini telah mengakar kuat di masyarakat di pantai Utara Jawa (Asykuri,2003). Sebuah hubungan yang terbentuk karena munculnya patron-kliental diantara para tokoh Islam tradisional dengan para santri dan masyarakat sekitarnya (Mulkan,2000).
Sebagai organisasi yang ada di kawasan selatan pulau Jawa, berkembangnya Muhammadiyah di daerah sepanjang pantai utara Jawa merupakan akibat respon positif pada masyarakat muslim berpendidikan modern
atau terpelajar yang menginginkan suatu perubahan pada umat Islam (Ricklefs,2005:350). Namun demikian, kondisi Muhammadiyah di sepanjang pantai utara Jawa tidak sama dengan keadaan di kawasan selatan pulau Jawa, karena daerah utara pulau Jawa didominasi oleh pergerakan Islam yang lain yakni, Nahdhatul Ulama yang merupakan simbol dari kalangan muslim tradisional dan sampai sekarang termasuk menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam gerakan Islam di Indonesia.

Dalam perkembanganya, pemahaman Nahdhatul Ulama sangatlah berbeda dan berlawanan dengan apa yang menjadi tujuan berdirinya Muhammadiyah. Akan tetapi satu hal yang tampak jelas, keberadaan, peran, dan kontribusi kedua organisasi ini dalam transformasi sosial umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya sejak awal kelahirannya, pada era kebangkitan nasional hingga saat ini sungguh besar dan sangat penting. Pluralitas wajah pemahaman agama Islam yang diwujudkan dalam berbagai organisasi dapat pula diakibatkan oleh respon dari penganut pemahaman agama yang sama terhadap kondisi sosial yang berbeda (Pranowo,199:19). Dari perspektif inilah dapat dijelaskan tentang kecendrungan organisasi atau gerakan Islam yang dikenal sebagai ‘modernis’ yaitu Muhammadiyah lebih mendapatkan pendukung kuat di daerah perkotaan, sedangkan NU yang berusaha melestarikan tradisi secara kuat, sehingga dikenal sebagai golongan ‘tradisional’ memperoleh pengaruh kuat di desa-desa, baik pedesaan pesisir maupun pedesaan pertanian.

Sebagai daerah pantai pada umumnya, pantai utara Jawa dalam perjalanan waktu telah melahirkan situasi kehidupan yang cepat berubah, apalagi didukung adanya kebudayaan yang berbeda dan beragam dalam satu lokasi, telah
melahirkan kehidupan masyarakat pantai cenderung terbuka, sehingga menjadi suatu yang wajar bila pantai utara Jawa ikut berperan dalam terjadinya konversi masyarakat ke-dalam agama Islam di Indonesia (Masroer,2004:29). Hubungan masyarakat di pantai utara Jawa yang dimulai melalui saluran-saluran seperti asimilasi, akulturasi bahkan yang lebih ekstrim melalui saluran penetrasi telah membuat masyarakat di pantai utara Jawa mempunyai komunitas yang plural baik dari segi komposisi ras, agama, dan tradisi. Kecendrungan yang muncul dalam hubungan komunitas-komunitas masyarakat di pesisir utara Jawa, banyak di perankan oleh Islam. Hal tersebut, berkaitan erat dengan peran yang cukup dominan oleh masyarakat Islam yang pada awal kedatangan Islam, kota-kota pesisir utara Jawa jika direkonstruksi merupakan tempat berkumpulnya masyarakat Islam dalam penyebaran Islam sekaligus merupaka komponen penting dari kehidupan ekonomi dan sosial (Syam,2005)..
Menjamurnya komunitas Islam di pesisir utara Jawa yang diwujudkan dalam bentuk komunitas sosial masyarakat, termasuk banyaknya pesantren yang didirikan sebagai basis penyebaran pandangan hidup masyarakat yang melembaga dalam hubungan keyakinan hidup dan pola kehidupan sosial yang semuannya itu dipengaruhi oleh nilai normatif Islam (Zarkasyi,2003:119). Hal tersebut juga merupakan jawaban dari sebuah asumsi Sartono Kartodirjo yang selama ini mengangap proses penyebaran Islam dan pelembagaan Islam merupakan sebuah gerakan politik. Permasalahannya, perkembangan Islam selama ini yang ditawarkan kepada masyarakat–baik itu raja, bangsawan, pedagang dan rakyat jelata, lebih merupakan sebuah pandangan hidup daripada sebuah gerakan politik, sebab Islam disebarkan di Nusantara bukan melalui
melalui penetrasi dan peperangan, tetapi lebih berupa jalinan hubungan masyarakat melalui kontak-kontak sosial dan ekonomi (ibid,2003:120).
Selanjutnya, melalui cara tradisional dalam penyebarannya dengan berbagai konflik yang dialami–baik dari masyarakat setempat maupun penetrasi dari penjajah–, pelembagaan Islam telah mengalami pasang surut. Ketika bersentuhan dengan kolonial Belanda, masyarakat Islam dengan pesantren menempatkan diri dalam konfrontasi dengan penjajah. Melihat perlawanan dari masyarakat muslim Nusantara, telah melahirkan kebijakan Islam Politieke dari kolonial Belanda yang bertujuan untuk mengiliminir peran strategis dan kekuatan Islam, terutama tokoh-tokoh pergerakan Islam (Suminto,1996:2). Munculah kebijakan untuk memasarkan produk pendidikan model barat, kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan pemimpin pribumi yang berorientasi pada nilai-nilai barat. Menurut Aziz Thaba (1996), kebijakan ini merupakan sebuah formulasi dari Snouck Hourgronye–tokoh orientalis dan akademisi Belanda yang berdiri dibelakang hegemoni penjajah sebagai penasehat kolonial– yang bertujuan untuk menghilangkan peran tokoh Islam dengan tokoh pribumi yang berorientasi barat (Azra,1999).

Akhirnya, bukan stabilitas yang diharapkan kolonial Belanda, melainkan sebuah penetangan dan perlawanan yang berasal dari masyarakat dan pergerakan Islam Indonesia–sebagian besar para pemimpin Islam yang berorientasi modern– yang melihat sistem dan pemeberdayaan umat Islam Indonesia sudah sangat tertinggal, demi untuk memenuhi kelangsungan dan kejayaan umat Islam telah muncul pergerakan Islam modern seperti Muhammadiyah, meskipun ada faktor eksternal seperti Pan-Islamisme yang berperan melahirkan motivasi para
pemimpin Islam modern. Dengan demikian, Lahirnya organisasimodern Islam semacam Muhammadiyah di Yogyakarta tahun 1912 merupakan sebuah kemajuan sekaligus perubahan cara pandang struktural perjuangan sekaligus pemahaman Islam yang signifikan bagi kalangan Islam Indonesia.
Secara umum, bila kita berbicara keberhasilan dan munculnya perjuangan rakyat pribumi dalam bentuk organisasi modern pada jaman pergerakan nasional seperti Budi Utomo dan Muhammadiyah tidak terlepas dari faktor Politik Etis yang barangkali bagi kolonial Belanda merupakan dilema tersendiri (Niel,1984:118). Berlakunya Politik Etis yang dihembuskan di tanah Hindia oleh sebagian orang Belanda yang mempunyai rasa kemanusian telah melahirkan sebuah kehidupan baru bagi rakyat pribumi. Dari kebijakan pemerintah kolonial ini, bidang pendidikan merupakan wahana yang sangat penting bagi kelangsungan perjuangan kaum pribumi dalam tahun-tahun berikutnya. Dengan pendidikan inilah cara berfikir dan pengetahuan kaum pribumi menjadi berkembang dan maju yang pada akhirnya dapat mewujudkan sikap kritis dan semangat nasionalisme Rakyat Hindia Belanda, meskipun dalam realitanya pendidikan yang diberikan pemerintah kolonial ini hanya dapat dinikmati oleh kalangan rakyat pribumi yang mempunyai status darah biru. Akan tetapi, keadaan setelah kebijakan Politik Etis digulirkan daerah Hindia Belanda telah menimbulkan suatu perubahan sosial yang pada awalnya menimbulkan ketidaksukaan kalangan elit Jawa yang menghendaki status quo, kelompok ini terdiri dari para bangsawan yang selama ini telah menikmati kehidupan dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda (ibid,1984:71).

Munculnya elit yang berpendidikan barat pada masa pergerakan nasional di Hindia Belanda yang notabene adalah dunia Timur, pada akhirnya akan memunculkan elit baru dengan beberapa ideologi yang sampai sekarang mewarnai kekuasaan politik (Kartodirjo,1983:159). Adanya Politik Etis untuk kalangan masyarakat santri di daerah Hindia telah melahirkan suatu elit yang berpendidikan barat, tetapi mempunyai corak pemikiran dan visi keislaman yang kuat. Perubahan yang terjadi demikian pada akhirnya telah melahirkan kelompok pemikir-pemikir Islam yang didasari nasionalisme mulai melakukan langkah-langkah perjuangan yang modern. Kendati demikian, munculnya pemikiran sekaligus para tokoh yang mengaktualisasikan Islam sebagai tolak ukur perjuangan dengan metode modern muncul akibat Politik Etis, tetapi para tokoh ini tidak menjadikan barat sebagai acuan berfikir, tetapi Timur Tengah yang menjadi acuan berfikir. Disamping itu dalam waktu bersamaan di dunia Arab sedang bergolak perjuangan yang menitikberatkan Pan Islamisme yang di gerakan para tokoh seperti Jamaludin Al-Afghani dan Muhammad Abduh telah mempengaruhi secara ekternal kemunculan organisasi Islam Modern, salah satunya Muhammadiyah (Suwarno,2000:170). Dengan demikian, Politik Etis oleh kalangan Islam di Jawa khususnya dimanfaatkan untuk berjuang dengan konsep perjuang`n modern yang bercorak Islam.

Sebagai program yang diberlakukan dengan tujuan awal untuk memberikan kesan balas budi kepada daerah jajahan ini secara tidak langsung menjadi faktor munculnya kesadaran perjuangan berorganisasi di kalangan masyarakat muslim Indonesia, apalagi pada kaum terpelajar yang menghendaki perjuangan dengan cara modern (Damami,2000:2).

Didukung keadaan bangsa yang terjajah, fungsi dan peran umat Islam menjadi terhambat. Munculnya Muhammadiyah yang merupakan organisasi modern pada saat bangsa Indonesia dijajah telah melahirkan sebuah motivasi sekaligus sebuah harapan bagi masyarakat. Motivasi ini berupa daya tarik pembaharuan dan sistem organisasi yang disusun modern, sehingga membuat gerakan Muhammadiyah mempunyai daya tarik bagi semua lapisan masyarakat Islam, baik masyarakat kelas bawah, kalangan birokrat bahkan sampai kaum terpelajar yang mendapat pdndidikan barat. Selain itu, terjalinnya hubungan yang bersifat horisontal kelembagaan yang saling menguntungkan antara organisasi Budi Utomo dan Muhammadiyah merupakan sebuah contoh hubungan kerjasama yang sangat penting dalam masa pergerakan nasional.

Kontribusi yang sangat penting dari anggota Budi Utomo kepada Ahmad Dahlan dan teman-temannya, adalah berupa pengalaman anggota Budi Utomo yang dituangkan dalam bentuk pendirian Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi modern dan membantu pembentukan menejemen organisasi menurut pengalaman mereka. Satu hal yang tidak dapat dilupakan, sekalipun KH. Ahmad Dahlan cukup dekat dengan organisasi Budi Utomo, namun tampaknya orientasi revivalisme kebudayaan Jawa yang diperjuangkan organisasi Budi Utomo tidak mempengaruhinya, sebab revivalisme kebudayaan (yang terbatas Jawa) seperti itu tidak memuaskan visi ke depan KH. Ahmad Dahlan untuk memecahkan problem masyarakat (Damami,2000:102).

Organisasi Muhammadiyah yang merupakan wadah perjuangan kelompok muslim intelektual yang muncul dalam masa pergerakan nasional merupakan salah satu organisasi yang berjuang dengan konsep modern dan menggunakan
identitas Islam yang sangat kental dalam pergerakannya. Melihat kenyataan seperti itu, sangat ketara sekali bila pergerakan yang didirikan oleh Ahmad Dahlan yang telah mendapatkan semangat Pan Islamisme yang didengungkan di dunia Islam, sejak munculnya telah menggunakan metode organisasi yang menitikberatkan pada pembentukan masyarakat Islam yang ideal, maka berdasarkan parameter tersebut banyak para pengamat yang mengkategorikan Muhammadiyah dengan sendirinya sebagai sebuah gerakan keagamaan Islam yang modern (Damami,2000:1). Kenyataannya, hal ini didukung dan dibuktikan dengan adanya struktur organisasi yang berada di tataran pusat sampai daerah (Noer,1996:84).
Menurut Adaby Darban (2000) bahwa, komunitas Muhammadiyah lahir dengan membentuk sebuah komunitas dengan penerapan Islam secara formal dan berorientasi pada kegiatan yang bersifat sosial, seperti pembangunan Masjid, sekolah model barat dan klinik kesehatan. Kendati, Muhammadiyah lahir merupakan sebuah kebutuhan dan respon yang mendesak untuk mengejar ketertinggalan umat Islam, terutama masyarakat kota yang melihat keterpurukan umat (Pranowo,1998:19). Sebaliknya, dengan munculnya organisasi modern Islam juga memunculkan polemik yang komplek dalam lingkup masyarakat Islam sendiri. Perlu diketahui dengan munculnya orientasi yang sifatnya modern pada umat Islam tidak serta merta mnghilangkan komunitas Islam bersifat non- modernis–penerapan pendidikan dan sistem strukturalnya–atau lebih dikenal dengan Islam tradisional yang selama ini diwakili oleh NU.

Sementara itu, bergulirnya dikotomi modern dan tradisional yang beredar di masyarakat dalam lingkup pemahaman keagamaan dan kegiatan organisasi,
menempatkan posisi organisasi Muhammadiyah sebagai gerakan modern (Suwarno,2001:1). Berangkat dari hal di atas, kemodernisan yang melekat pada organisasi Muhammadiyah paling tidak tampak dalam tiga hal, antara lain, (1). Bentuk gerakannya terorganisasi, (2). Aktivitas pendidikannya mengacu pada model sekolah modern, berpola klasikal, (3). Aktivitas organisasi terutama amal usahanya didasarkan pada pendekatan teknologis (Mulkan,1990:9).

Untuk selanjutnya, ada tiga wajah yang dimiliki oleh Muhammadiyah sebagai pilar pergerakannya, yakni sebagai a religious reformist, agent of social change, dan a political force (Alfian,1989:5). Sebagai a religious reformist, Muhammadiyah tampil dalam bentuk gerakan pemurnian Islam yang tujuan utamanya adalah memberantas syirik, tahyul, bid’ah, dan khurafat di kalangan umat Islam. Hal diatas bertalian erat dengan praktek-praktek keagamaan yang kontradiktif dengan tujuan hakiki Islam itu sendiri yang tidak lain karena singkretisme Islam dengan pola kebudayaan Jawa (Noer,1996:85). Pola kehidupan keagamaan demikian terjadi ketika pengaruh kekuasaan keraton sebagai sentral kultural agama Islam secara legal mendukung kehidupan yang menyimpang dengan kemurnian Islam sekaligus tujuan Muhammadiyah.
Kemudian sebagai agent of social change, Muhammadiyah melakukan usaha modernisasi sosial dan pendidikan yang bertujuan memberantas keterbelakangan umat Islam yang selalu terlambat dan terhambat dalam peran dan fungsinya dalam perubahan akibat kolonialisme yang lama. Sebagai a political force, lebih mengkonsentrasikan pada lingkup keagamaan dan permasalahan sosial kemasyarakatan. Kendati demikian, pada tataran politik praktis Muhammadiyah secara oraganisasi dipastikan tidak pernah secara hukum
berdiri sebagai sebuah partai politik, sebagaimana organisasi massa lainnya seperti NU, PSII, Masyumi dan organisasi lainya yang bergerak secara hukum sebagai organisasi politik. Hanya saja para tokoh dan warga Muhammadiyah secara personal terlibat dalam politik praktis bergabung dengan partai Islam yang ada, meskipun permasalahan ini dalam organisasi Muhammadiyah dalam setiap Muktamar menjadi perdebatan dikalangan warga Muhammadiyah sendiri.

Dengan berbagai wajah inilah organisasi Muhammadiyah mempunyai predikat sebagai gerakan pembaharuan (Nashir, 2000:3). Anggapan atas predikat pembaharuan pada Muhammadiyah ini merupakan keputusan yang sifatnya homogen dari masyarakat Islam Indonesia, fakta ini diakui baik pada kalangan warga Muhammadiyah maupun organisasi pergerakan lainnya. Identitas yang melekat pada diri organisasi Muhammadiyah ini sampai sekarang memberikan warna tersendiri, yaitu merupakan sebuah organisasi yang menjadi tempat bernaungnya orang-orang yang memiliki pendidikan modern. Dampak yang muncul akibat dikotomi membuat sebagian masyarakat yang bersebrangan dengan konsep Muhammadiyah menolak segala bentuk kegiatan yang bernuansa pembaharuan. Terlebih bila ada kegiatan yang mempermasalahkan konsep tradisionalisme yang dilakukan sebagian masyarakat sampai sekarang.

Kemudian, fungsi sosial organisasi Muhammadiyah pada gilirannya muncul sebagai suatu gerakan kebangkitan umat Islam yang disusun dengan agenda modern dan terstruktur, Muhammadiyah mulai berusaha dengan perjuangan untuk dapat mengembalikan martabat bangsa dan umat yang kala itu terjajah, dan tujuan dasarnya menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Dalam
perjalanan agenda perjuangan yang dilakukan organisasi ini juga membuat suatu perubahan sosial yang sangat signifikan baik dalam tubuh umat Islam, juga menumbuhkan perlawanan umat terhadap segala bentuk ketidakadilan dan penjajahan baik secara fisik maupun secara pemikiran, sebagai contoh adalah upaya warga Muhammadiyah di Indonesia dalam membendung penetrasi misionaris di Indonesia (Alwi Shihab,1998:3).

Tidak hanya berhenti di situ saja, dengan didasari oleh nasionalisme yang merupakan salah satu kunci penggerak munculnya organisasi pada awal abad ke-
20 (Suhartono,2001:3). Muhammadiyah juga tampil menjadi pelopor dalam menentang terhadap kebijakan kolonial, sebagai contoh, dalam sebuah kegiatan yang melibatkan salah satu tokoh Muhammadiyah dalam melakukan aksi pemogokan dengan buruh-buruh perkebunan dan pabrik milik Belanda, hal ini berawal dari kebijakan Belanda yang merugikan para buruh. Klimak dari aksi pemogokan ini mengakibatkan A.R Fakhrudin, yang merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah masuk penjara, karena partisipasinya dalam aksi tersebut (Nashir,2000:84).

Kegiatan aksi penentangan terhadap kolonial tidak cukup pada fase tersebut, banyak kegiatan yang dilakukan oleh anggota Muhammadiyah sendiri, baik dari pimpinan pusat maupun cabang. Kolaborasi dengan organisasi lain merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk menentang kolonial Belanda. Kerja sama ini juga di bangun atas dasar persamaan tujuan maupun rasa kebangsaan. Ketika partai Masyumi berdiri Muhammadiyah termasuk salah satu anggota istimewa di dalam Masyumi, sehingga banyak kebijakan yang berasal dari Muhammadiyah menjadi rumusan tujuan dasar dan cita-cita partai Masyumi
yang bertujuan memajukan umat pada era rezim kolonial Belanda dan kolonial
Jepang bahkan sampai dibubarkanya partai Islam ini (Muchtar,2004:119).

Fenomena kegiatan yang bernuansa politik dalam lingkup penentangan terhadap kolonial dapat dimengerti oleh semua kalangan bila membaca dan mencermati penjelasan Kepribadian Muhammadiyah sebagai berikut,
“Muhammadiyah tidak buta politik, tidak takut politik, tetapi Muhammadiyah bukan organisasi politik. Muhammadiyah mencampuri soal-soal politik, tetapi apabila soal-soal politik masuk dalam Muhammadiyah ataupun soal politik mendesak- desak urusan agama Islam, maka Muhammadiyah akan bertindak menurut kemampuan, cara dan irama Muhammadiyah sendiri” (PP Muhammadiyah,1996:6).

Dari membaca konsep Kepribadian Muhammadiyah dapat digambarkan sebagai sebuah situasi rumit yang dihadapi organisasi Muhammadiyah ketika berhadapan dengan politik. Kenyataan sosiologis menunjukkan, bahwa hubungan Muhammadiyah dengan politik itu beragam dan tidak linier. Hal ini, berangkat dari suatu permasalahan yang memposisikan Muhammadiyah sebagai salah satu pihak yang secara yuridis bukan merupakan sebuah partai politik.

Sementara itu, peran yang dimiliki Muhammadiyah dalam lingkup sosial kemasyarakatan selama ini berupa sebuah gerakan yang menekankan pada bashs sosial keagamaan. Akan tetapi, melihat perkembangan kondisi kehidupan berbangsa yang menempatkan Muhammadiyah dalam situasi yang mengharuskan organisasi ini menghadapi dinamika kehidupan politik yang difahami sebagai perjuangan untuk meraih kekuasaan yang seharusnya diperankan sebuah partai politik. Keadaan ini membuat bagi Muhammadiyah akan melahirkan suatu paradoks dengan tujuan dari sebuah lembaga semacam Muhammadiyah. Dari sini bila dicermati secara menyeluruh dari pernyataan
diatas, maka dapat diambil sebuah kesimpulan yang menempatkan Muhammadiyah pada kerangka berfikir untuk memposisikan diri sebagai kelompok kepentingan dalam ruang lingkup untuk memainkan fungsi politik.

Perjuangan Muhammadiyah tidak hanya berhenti sampai di situ saja, akan tetapi dilakukan secara berlanjut dan dalam perjalanannya selalu mewarnai dinamika bangsa dari kemerdekaan, orde lama, orde baru dan orde reformasi yang telah mendewasakan dan menumbuhkan kearifan Muhammadiyah yang terus berjuang demi kemajuan umat dan bangsa. Salah satu sisi positif yang dimiliki gerakan Muhammadiyah adalah kontribusinya dalam dinamika perkembangan masyarakat muslim, sehingga dalam kurun waktu yang lama masih tetap eksis pada perjuangan ide-ide demi perubahan umat dan bangsa menuju yang lebih baik. kegiatan ini dilakukan karena didukung oleh sebuah pilihan perjuangan akomodatif dan konsisten dalam jalur sosial keagamaan, yang di kalangan Muhammadiyah sebagai gerakan yang mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar (Sobron,2003:31).
Dengan membaca sejarah pertautan Muhammadiyah dan politik, akhirnya melahirkan suatu kebijakan berupa strategi yang akomodatif dalam pendekatan terhadap penguasa, apalagi ketika rezim orde lama dan orde baru berkuasa secara otoriter. Dengan demikian, tidak salah bila muncul anggapan bahwa organisasi Muhammadiyah termasuk salah satu gerakan yang mengalami pasang surut dan pahit getir kekuasaan rezim yang silih berganti (Nashir,2000:15).

Suasana pasang surut organisasi Muhammadiyah tidak hanya melingkupi wilayah politik dan kekuasaan saja, akan tetapi gerakan yang lahir di Yogyakarta ini mengalami persoalan ketika berhadapan dengan keadaan sosial
di daerah yang di dalamnya terdapat kekuatan yang lebih dominan. Kekuatan itu bisa berwujud organisasi massa maupun bisa sebuah kebudayaan atau tradisi yang kontradiksi dengan Muhammadiyah atau memiliki kepentingan politik yang berkaitan dengan warga dan simpatisan organisasi Muhammadiyah. Suasana ini pada gilirannya tidak jarang telah melahirkan suatu persoalan sosial keagamaan yang pada klimaksnya menjadi suatu bentuk perpecahan, dan tak jarang pula menimbulkan korban dan kerugian harta milik masyarakat. Kasus perseteruan yang terjadi di Banyuwangi yang melibatkan warga Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama pada tahun 1999 merupakan suatu contoh yang layak dijadikan suatu pelajaran yang berharga ( Nashir,2001:3).

Konflik yang mengangkat isu-isu pemahaman beragama dan melibatkan kalangan Muhammadiyah dan NU di dalamnya telah menjadi suatu dinamika kehidupan masyarakat tersendiri. Pemandangan tentang konflik horisontal dalam masyarakat muslim yang melibatkan dua organisasi keagamaan di atas bukan kejadian yang sifatnya kotemporer. Pertentangan yang menafikan persamaan ideologi, dan lebih menonjolkan perbedaan dalam pola pendekatan teknis dalam kehidupan beragama –pendekatan yang lebih bersifat ritual seperti ibadah dan hubungan sosial kemasyarakatan (fikih), telah menguras tenaga organisasi keagamaan tersebut dalam konfrontasi yang tidak kunjung selesai. Tidak ayal lagi, dalam perkembangannya organisasi Muhammadiyah dan NU lebih banyak menampilkan konflik daripada konsensus, apalagi konflik yang melibatkan kedua organisasi tersebut lebih banyak terjadi di daerah yang menempatkan NU sebagai mayoritas massa dalam suatu daerah, termasuk daerah pesisir utara Jawa yang selama ini merupakan tempat terjadinya Islamisasi dan pelembagaan
agama Islam di Jawa (Syam,2005:63-70). Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan konflik juga terjadi di daerah yang menempatkan Muhammadiyah sebagai komponen mayoritas.

Kemudian, pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada ritual dan pemahaman keagamaan yang terjadi di pesisir pantai utara Jawa, termasuk di wilayah Kabupaten Rembang telah menempatkan komunitas masyarakat dalam konflik dan konsensus yang bersifat horisontal. Konflik dan konsensus yang menjadi bagian kehidupan sehari-hari dalam masyarakat–khususnya dalam lingkup masyarakat muslim–merupakan suatu fenomena tersendiri bagi wilayah pantai utara Jawa. Sebab dalam perjalanan sejarahnya pantai utara Jawa telah menjadi saksi terjadinya proses penyebaran agama, baik Hindhu-Budha, Islam dan Nasrani yang sekarang menjadi komunitas agama yang diakui resmi di Indonesia.

Sebagai bagian dari kota pesisir utara Jawa, wilayah Kabupaten Rembang merupakan tempat mengakarnya tradisi Islam tradisional, hal tersebut di buktikan dengan munculnya banyak tokoh Islam tradisional dari daerah Rembang. Dalam masa penyebaran dan pelembagaan Islam di pesisir utara Jawa–masa kedatangan Islam di pulau Jawa–wilayah Rembang yang termasuk daerah kekuasaan Kerajaan Demak, merupakan salah satu pintu masuk sekaligus berfungsi sebagai kota pusat komunitas Islam (De Graff,2003), disamping merupakan kontak dan jaringan dagang masyarakat pribumi dengan para pedagang Islam yang membawa budaya dan agama baru (Azra,2005). Pertautan ideologi masyarakat pesisir yang berupa agama Islam, merupakan wahana perkembangan ideologis sekaligus hubungan psikologis antara penyebar Islam
(Wali atau Kyai) dengan para muridnya (santri). Lambat laun perkembangan Islam mulai menyebar ke pedalaman pulau Jawa yang merupakan hasil ‘kerja’ para santri dalam pengembaraan dakwah mereka.

Bagi Muhammadiyah dalam penyebaran pemahamannya di pesisir utara Jawa, termasuk dalam wilayah Kabupaten Rembang–perkembangan yang bersifat kelembagaan dan tidak berorientasi yang bersifat penetrasi–sangat beragam dalam perkembangannya. Di sisi, lain seperti wilayah Pekajangan dan Lamongan daerah Muhammadiyah di pesisir utara Jawa lainnya, lebih menunjukkan sifat perkembangangan yang signifikan. Kendati, ketika dibandingkan dengan dominasi yang bersifat lembaga dan massa yang dimiliki NU, Muhammadiyah di wilayah Kabupaten Rembang jelas tidak berimbang. Sependapat dengan Karel Steenbrink (1994:57) yang menyatakan bahwa, Muhammadiyah cenderung lebih dikonsumsi oleh masyarakat kota yang sekaligus berperan sebagai pusat perdagangan, sehingga tidak mengherankan jika Muhammadiyah di Rembang lebih banyak berkonsentrasi di kota-kota kecamatan, disamping itu Muhammadiyah di Rembang personalnya didominasi oleh para pegawai negeri.
Dalam kasus Muhammadiyah di wilayah Rembang, cukup sesuai dengan tulisan diketengahkan oleh Kuntowijoyo yang berjudul Muslim Tanpa Masjid (2001). Sebagai kelompok gerakan Islam ‘pendatang’ di wilayah pesisir utara Jawa, Muhammadiyah datang ke Rembang didukung oleh orang-orang pendatang. Tanpa didukung patron-kliental dari masyarakat sebagaimana NU, Muhammadiyah dalam perkembangannya sulit untuk menerapkan kondisi sosial dan masyarakat setempat sesuai dengan kondisi daerah Kauman Yogyakarta.

Tidak ayal lagi, kemunculannya telah membangkitkan konflik yang rumit dengan gerkakan Islam tradisional NU yang telah lama mengakar di masyarakat Rembang. Benturan dan konflik yang muncul antar dua pemahaman yang berbeda ini telah melahirkan warna yang berbeda dalam pemahaman beragama Islam. Bagi NU yang telah menempatkan diri di daerah pesisir utara Jawa, dengan didukung ribuan santri pesantren dan dibidani oleh kyai yang mempunyai hubungan patron-kliental serta memiliki motivasi untuk melestarikan kebudayaan leluhur (Pranowo,1998; Mulkan, 2000). Telah melahirkan Konsensus bagi masyarakat setempat terhadap legitimasi dan pelembagaan Islam lokal.

Pada akhirnya dengan mengikuti alur pemikiran di atas peneliti bermaksud untuk mengangkat sepak terjang organisasi Muhammadiyah di pantai utara Jawa dalam kawasan wilayah Kabupaten Rembang, dalam suatu penelitian yang berjudul DINAMIKA ORGANISASI MUHAMMADIYAH DALAM PEREBUTAN PENGARUH MASSA DI DI KABUPATEN REMBANG TAHUN 1960-2000.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Maret 27, 2012 at 12:31 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

November 2017
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts by Month

Posts by Category