Posts filed under ‘Keuangan’

Contoh Skripsi Keuangan

  1. Analisis Kemampuan Pendapatan Daerah Terhadap Belanja Rutin Dan Belanja Pembangunan Di Pemerintah Kabupaten Kediri
  2. Kinerja Keuangan Perbankan Sebelum Dan Sesudah Implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (Api)
  3. Analisis Perkembangan Kemampuan Keuangan Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Kabupaten Sukoharjo
  4. Analisis Perbedaan Kinerja Keuangan, Tingkat Kemahalan Harga Saham, Return Saham, Dan Likuiditas Saham Perusahaan Yang Melakukan Stock Split Dan Perusahaan Yang Tidak Melakukan Stock Split Pada Perusahaan Manufaktur Yang Go Public Di Bursa Efek Jakarta (Bej) (Periode 2000-2005)
  5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Etnis China-Non Muslim Menjadi Nasabah Bank Syari’ah Dan Implikasinya Terhadap Strategi Pemasaran (Study Kasus : Pt Bank Syari’ah Mega Indonesia) (=Pm-3)
  6. Pengujian Kausalitas Granger Antara Nilai Tukar,  Suku Bunga Deposito Dan Harga Saham Di Lima Negara Asean Sebelum Dan Sesudah Krisis Periode 1995.1 – 2004.6
  7. Analisis Pengaruh Utang Luar Negeri (Foreign Debt) Dan Penanaman Modal Asing (Pma) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
  8. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan Dan Investasi Swasta Di Indonesia  Periode 1984-2003 (=Ep2)
  9. Analisis Network Planning Dengan Cpm (Critical Path Methode) Dalam Rangka Efisiensi Waktu Dan Biaya Proyek Pembangunan Jalan Segitiga Ujung Batu (Studi Kasus Pada Cv. Kenari Bangkit Jepara)”.
  10. Tinjauan Atas Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai  Di  Kantor Pelayanan Pajak Bandung Tegallega
  11. Analisis Persepsi Brand Association Menurut Pelanggan Sabun Mandi Cair Luk Pada Pt. Unilever Indonesia, Tbk =(Pm-7)
  12. Pelaksanaan Monitoring Pembiayaan Murobahah Di Pt. Bmi Tbk.. Cabang Kediri
  13. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Faktor Intern Dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan
  14. Penggunaan Analisis Rasio Keuangan Unttk Mengevaluasi Tingkat Kesehatan Dan Perkembangan Usaha Pada “Perum Pegadaian” Cabang Purwokerto
  15. Analisis Reaksi Pasar Modal Indonesia Akibat Peristiwa Bom Bali, J.W. Marriot Dan Kuningan (Studi Pada Saham – Saham Lq 45 Di Bursa Efek Jakarta)
  16. Analisis Hubungan Kausalitas Granger Antara Tingkat Imbal Jasa Agregat Dengan Tingkat Pembiayaan Perbankan Syariah Dan Tingkat Kredit Perbankan Konvensional Di Indonesia Periode 2001.I-2004.Xii
  17. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Kredit Investasi Pada Bank Umum Di Kabupaten Sleman (Kurun Waktu 1989 – 2004)
  18. Pengaruh Arus Kas Operasi Arus Kas Investasi Arus Kas Pendanaan Dan Roi Return On Invesment Terhadap Return Saham Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta Periode 2003-2005
  19. Analisis Efisiensi Sistem Moneter Bebas Bunga: Studi Kasus Di Indonesia Dan Malaysia Periode 1980-2000 Dengan Menggunakan Pendekatan Kointegrasi Dan Error – Correction Model
  20. Pengaruh Harga Dan Volume  Perdagangan  Saham Terhadap  Likuiditas Saham Pada  Perusahan   Yang Melakukan Stock Split
  21. Pengaruh Nilai Tukar Rupiah Dan Ekspektasi Inflasi Terhadap Inflasi Ihk Di Sulawesi Utara Tahun 1997:I-2005:Iv
  22. Pengaruh Risiko Investasi Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (Periode 2007 – 2008)
  23. Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Loan To Deposit Ratio, Return On Assets, Dan Besaran Perusahaan Terhadap Perubahan Laba Perusahaan Perbankan  Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta (BEJ)
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Iklan

April 25, 2012 at 4:38 pm Tinggalkan komentar

Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Loan To Deposit Ratio, Return On Assets, Dan Besaran Perusahaan Terhadap Perubahan Laba Perusahaan (KE-23)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Bursa Efek Jakarta adalah salah satu tempat perdagangan saham dari berbagai macam industri yang ada di Indonesia. Perusahaan perbankan adalah salah satu industri yang ikut berperan serta dalam pasar modal, disamping industri lainnya seperti industri manufaktur, pertanian, pertambangan, properti dan lain-lain. Perusahaan perbankan merupakan lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara keuangan (financial intermediary), selain itu perusahaan perbankan juga sebagai lembaga yang memperlancar lalu lintas pembayaran.

Pada dasarnya falsafah yang mendasari kegiatan usaha bank adalah kepercayaan dari nasabah. Sebagai lembaga kepercayaan, bank dalam operasinya lebih banyak menggunakan dana masyarakat dibandingkan dengan modal sendiri dari pemilik atau pemegang saham. Oleh karena itu pengelola bank dalam melakukan usahanya dituntut untuk dapat menjaga keseimbangan antara pemeliharaan likuiditas yang cukup dengan pencapaian rentabilitas yang wajar, serta pemenuhan modal yang memadai.

Sebagai suatu perusahaan atau entitas ekonomi, bank memberi laporan keuangan untuk menunjukkan informasi dan posisi keuangan yang disajikan untuk pihak-pihak yang berkepentingan. Informasi akuntansi seperti yang tercantum dalam pelaporan keuangan dapat digunakan oleh investor sekarang dan potensial dalam memprediksi penerimaan kas dari deviden dan bunga di masa yang akan datang. Deviden yang akan diterima oleh investor tergantung pada jumlah laba yang
diperoleh perusahaan pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, prediksi perubahan laba perusahaan dengan menggunakan informasi laporan keuangan menjadi sangat penting untuk dilaksanakan.

Laba merupakan indikator penting dari laporan keuangan yang memiliki berbagai kegunaan. Laba pada umumnya dipakai sebagai suatu dasar pengambilan keputusan investasi, dan prediksi untuk meramalkan perubahan laba yang akan datang. Investor mengharapkan dana yang diinvestasikan ke dalam perusahan akan memperoleh tingkat pengembalian yang tinggi sehingga laba yang diperoleh jadi tinggi pula. Laba yang diperoleh perusahaan untuk tahun yang akan datang tidak dapat dipastikan, maka perlu adanya suatu prediksi perubahan laba. Perubahan laba akan berpengaruh terhadap keputusan investasi para investor dan calon investor yang akan menanamkan modalnya ke dalam perusahaan.

Sumber utama indikator yang dijadikan dasar penilaian perusahaan adalah laporan keuangan yang bersangkutan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan dasar penilaian kinerja perusahaan. Analisis rasio keuangan perusahaan merupakan salah satu alat untuk memperkirakan atau mengetahui kinerja perusahaan. Apabila kinerja perusahaan publik meningkat nilai perusahaan akan semakin tinggi. Selain itu dengan analisis rasio keuangan akan dapat diketahui jika perusahaan melakukan penyimpangan-penyimpangan.

Untuk dapat menginterpretasikan informasi akuntansi yang relevan dengan tujuan dan kepentingan pemakainya telah dikembangkan seperangkat teknik analisis yang didasarkan pada laporan keuangan yang dipublikasikan. Salah satu teknik tersebut yang populer diaplikasikan dalam praktek bisnis adalah analisis rasio
keuangan. Menurut Mulyono (1995:95), untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan dapat diketahui dengan tiga aspek yaitu aspek solvabilitas, likuiditas, dan rentabilitas.

Solvabilitas merupakan indikator yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar semua utang-utang baik utang jangka panjang atau utang jangka pendek. Berdasarkan teori struktur modal menunjukkan penggunanan hutang akan meningkatkan tambahan laba operasi perusahaan karena pengembalian dari dana ini melebihi bunga yang harus dibayar, yang berarti meningkatkan keuntungan bagi investor dan perusahaan yaitu labanya akan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Dengan demikian rasio ini mempunyai hubungan yang positif terhadap perubahan laba. Dalam dunia perbankan rasio solvabilitas sama dengan rasio permodalan, yang dapat dihitung dengan Capital Adequacy Ratio (selanjutnya disingkat CAR).

Likuiditas merupakan indikator yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi atau membayar kewajibannya (simpanan masyarakat) yang harus segera dipenuhi. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya dengan tepat waktu berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid. Dalam dunia perbankan rasio likuiditas dapat diketahui dengan Loan to Deposit Ratio yang selanjutnya disingkat LDR. Rasio LDR merupakan rasio kredit yang diberikan terhadap dana pihak ketiga yang diterima oleh bank yang bersangkutan. Besarnya LDR akan berpengaruh terhadap laba melalui penciptaan kredit. LDR yang tinggi mengindikasikan adanya penanaman dana dari pihak ketiga yang besar ke dalam bentuk kredit. Kredit yang besar akan meningkatkan laba. Pertumbuhan likuiditas berlawanan arah dengan pertumbuhan laba yaitu jika pertumbuhan likuiditas
menunjukkan adanya peningkatan dana yang menganggur dapat menyebabkan pertumbuhan laba satu tahun kedepan akan menurun (Zainuddin dan Hartono, 1999), jadi jika LDR naik maka pertumbuhan laba akan meningkat.

Rentabilitas merupakan rasio yang mengukur efektivitas perusahaan dalam memperoleh laba, atau dengan kata lain rentabilitas merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Rentabilitas dalam dunia perbankan dapat dihitung dengan Return on Assets yang selanjutnya disingkat ROA. ROA mempunyai hubungan yang positif terhadap perubahan laba (Hasibuan,2004:100).

Perusahaan besar mempunyai kemampuan tinggi untuk menjamin prospek bisnis dimasa yang akan datang karena sumber dayanya bisa membuat manajemen percaya diri dan bekerja lebih giat untuk mencapai laba yang diramalkan. Perusahaan besar bisa membuat prediksi laba yang lebih tepat dibandingkan perusahaan kecil (Harianto dan Sudomo, 2001:182). Besaran perusahaan untuk selanjutnya disingkat SIZE.

Pada Bank BNI, nilai CAR mengalami penurunan pada tahun 2000 ke
2001 sebesar 0,2648 menjadi 0,1953 tetapi laba yang diperoleh mengalami kenaikan pada tahun tersebut yaitu sebesar 7,19 (Rp 214.300 juta menjadi Rp 1.756.256 juta). Nilai LDR yang dimiliki BNI untuk tahun 2002 ke 2003 mengalami kenaikan sebesar 0,3413 menjadi 0,3774 demikian juga laba yang diperoleh mengalami penurunan sebesar –0.61 yaitu Rp 2.513.260 juta menjadi Rp 970.308juta.

Pada Bank Mega, nilai CAR mengalami penurunan dari tahun 2002 ke
2003 yaitu sebesar 0,1277 menjadi 0,1121 tetapi laba yang diperoleh mengalami kenaikan sebesar 0, 96 yaitu Rp 180.302,00 juta menjadi Rp 208.064,00 juta. Nilai LDR tahun 2000 ke 2001 mengalami kenaikan sebesar 0,4887 menjadi 0,4975 tetapi perolehan laba mengalami penurunan sebesar -0,68 yaitu Rp 90.013,00 juta menjadi Rp 28.524,00 juta. SIZE tahun 2000 ke 2001 mengalami kenaikan tetapi laba yang diperoleh mengalami penurunan sebesar –0,68.

Penelitian ini mengambil objek perusahaan perbankan yang terdaftar di

Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan menggunakan laporan keuangan dari tahun 1999
sampai 2004. Hal ini dikarenakan perusahaan perbankan tersebut termasuk emiten yang telah terdaftar di bursa efek yang laporan keuangannya dipublikasikan secara berkala, agar masyarakat atau investor mengetahui hasil kinerja perusahaan dalam satu tahun, laba yang diperoleh, kondisi aktiva perusahaan, jumlah hutang, modal, perubahan modal dan informasi lainnya yang diperlukan untuk pengambilan keputusan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka diadakan penelitian tentang “Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Loan to Deposit Ratio, Return On Assets, dan Besaran Perusahaan Terhadap Perubahan Laba Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ)”

Februari 25, 2011 at 11:54 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Risiko Investasi Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (Periode 2007 – 2008) (KE-22)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya orang melakukan investasi adalah untuk menghasilkan sejumlah uang, dan tujuan yang lebih luas adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor.
Setiap investor yang ingin memaksimalkan kekayaan akan tertarik suatu investasi yang memberikan tingkat expected return yang lebih tinggi dibandingkan dengan peluang investasi lainnya. Dalam kenyataannya hampir semua investasi mengandung ketidakpastian atau risiko. Investor tidak tahu dengan pasti hasil yang akan diperolehnya, sehingga investor hanya bisa memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dan seberapa jauh hasil yang sebenarnya menyimpang dari yang diharapkan. Pilihan investasi tidak dapat hanya mengandalkan pada tingkat keuntungan yang diharapkan tetapi juga risikonya.

Dalam literatur banyak dibahas tentang pentingnya pemahaman dua konsep penting dalam pembuatan keputusan investasi yaitu risiko dan return. Investor harus memperhatikan hubungan antara kedua hal tersebut.
Risiko investasi dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya perbedaan antara return aktual dengan return yang diharapkan. Dua konsep ini, risiko dan return, bagaikan dua sisi mata uang yang selalu berdampingan. Hubungan ke dua hal penting tersebut biasa dijelaskan melalui Capital Asset Pricing Model ( CAPM )
yang menyatakan bahwa semakin besar risiko suatu investasi, maka semakin besar pula return yang disyaratkan investor. Dengan demikian hubungan antara return dan risiko yang disyaratkan investor bersifat positif dan linear. Risiko sering dihubungkan penyimpangan outcome (kemungkinan hasil) yang diterima dengan yang diekspektasi.
Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi diharapkan terjadi di masa yang akan datang. Pada kenyataannya return tidak selalu memenuhi harapan. Hal ini terjadi karena return selalu berubah-ubah. Dalam keadaan demikian investor harus jeli terhadap investasinya.
Sumber risiko dapat berasal dari factor yang mempengaruhi semua (banyak perusahaan) dan ada pula yang hanya spesifik mempengaruhi suatu perusahaann tertentu saja. Sebagai contoh, pengumuman tentang angka pertumbuhan GNP, tingkat bunga, merupakan informasi yang mempengaruhi semua perusahaan. Sedangkan pengumuman tentang penjualan perusahaan yang meningkat lebih tinggi dari yang diharapkan, produk pesaing yang mengalami gangguan, merupakan contoh informasi yang hanya mempengaruhi suatu perusahaan tertentu saja. Dengan demikian sumber risiko dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu systematic risk dan unsystematic risk.

Menurut Weston dan Copeland ( dalam michell Suharli, 2005 ) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi return saham adalah risiko finansial dan risiko sistematik. Sedangkan menurut Chow, 1997 (dalam Nisa Nursita, 2003) menyatakan ada faktor lain yang mempengaruhi return saham, yaitu risiko bisnis. Sedang menurut Tandelilin, 2001 ( dalam Nisa Nursita, 2003 ) menyatakan bahwa selain risiko bisnis, risiko sistematis juga merupakan faktor yang mempengaruhi return saham.
Risiko sistematis atau risiko pasar adalah risiko yang terkait dengan pengaruh makro ekonomi, kerusuhan, maupun perubahan politik yang sulit dikendalikan yang mempengaruhi pasar. Kondisi ekonomi yang stabil, tidak adanya kerusuhan dan perubahan politik akan berpengaruh positif terhadap harga saham, sehingga akan mempengaruhi terhadap return saham yang diperoleh investor. Di sini Risiko sistematis dapat dilambangkan dengan beta (β). Beta dapat diestimasi dengan meregres return saham terhadap return pasar. Beta merupakan pengukur volatilitas return suatu sekuritas atau portofolio terhadap return pasar. Dimana pengertian volatilitas adalah sebagai fluktuasi dari return suatu sekuritas dalam suatu periode tertentu. Jika fluktuasi return sekuritas secara statistik mengikuti fluktuasi return pasar, maka beta dari sekuritas tersebut bernilai 1. Misalnya apabila return pasar naik sebesar 5%, maka investor akan mengharapkan kenaikan return sekuritasnya sebesar 5% pula (Michell Suharli, 2005).
Risiko finansial termasuk faktor yang berpengaruh terhadap return saham. Risiko finansial merupakan risiko tambahan pada perusahaan akibat keputusan menggunakan hutang. Risiko ini diterima oleh investor akibat ketidakmampuan emiten saham atau obligasi memenuhi kewajiban pembayaran deviden atau bunga serta pokok investasi. Adanya kemampuan perusahaan membayar bunga dan pokok investasi, semakin besar kemungkinan akan berpegaruh positif terhadap peningkatan return saham. Sebagai pengukurannya, Risiko finansial akan dapat ditunjukkan dengan menggunakan Debt Ratio. Debt Ratio dihitung dengan membagi total hutang dengan total aset. Ratio ini mengukur besarnya asset perusahaan yang dibiayai hutang. Semakin besar hutang yang digunakan oleh perusahaan, semakin besar pula beban tetap berupa bunga yang harus dibayar, sehingga semakin besar pula risk finansialnya.

Risiko bisnis merupakan ketidakpastian yang melekat dalam proyeksi pengembalian atas modal yang diinvestasikan, ketidakpastian pada perkiraan pendapatan operasi perusahaan dimasa mendatang. Risiko bisnis mewakili tingkat risiko dari operasi – operasi perusahaan yang tidak menggunakan hutang.. Risiko ini berhubungan dengan kemampuan perusahaan dalam menjalankan pengembangan dengan modal sendiri. Semakin besar kemampuan perusahaan menjalankan modal akan berpengaruh positif terhadap peningkatan return saham. Risiko bisnis secara sederhana dapat digambarkan sebagai fungsi dari ketidakpastian yang terkandung dalam perkiraan hasil dari modal yang ditanamkan (Return on Invested Capital, ROIC) dari suatu perusahaan. Jika perusahaan tersebut tidak menggunakan hutang, maka ROIC adalah sama dengan ROE. Dengan demikian, risiko bisnis dari suatu perusahaan yang tidak berhutang dapat diukur dengan menghitung standar deviasi dari ROE – nya (Nanda, 2004). ROE merupakan ukuran kemampuan perusahaan (emiten) dalam menjalankan pengembangan dengan menggunakan modal sendiri, sehingga ROE disebut sebagai rentabilitas modal sendiri. Laba yang diperhitungkan disini adalah laba bersih setelah pajak atau EAT. Rasio ini dapat diperoleh dengan membagi laba setelah pajak dengan total modal sendiri (Lukas Setia Atmaja, 2003)
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan mengambil judul ”Pengaruh Risiko Investasi Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Periode 2007 – 2008)”.

1.2. Rumusan Masalah Penelitian
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui besarnya pengaruh risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis, terhadap return saham. Dalam penelitian ini, rumusan masalahnya adalah :
Apakah risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis berpengaruh terhadap return saham?

1.3. Batasan Masalah
Banyak faktor yang mempengaruhi return saham, diantaranya adalah risiko suku bunga, risiko sistematis, risiko inflasi, risiko bisnis, risiko finansial, risiko likuiditas, risiko nilai tukar mata uang dan risiko Negara, sehingga untuk mempermudah penelitian selanjutnya, peneliti membatasi risiko sebagai berikut : risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis.

1.4. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis secara simultan pengaruh risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis terhadap return saham.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis secara parsial pengaruh risiko sistematis, risiko finansial, dan risiko bisnis terhadap return saham.

1.5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan di bawah ini :
1. Bagi dunia pendidikan.
Dapat digunakan sebagai tambahan informasi bagi akademik dan acuan dalam mempraktekkan berbagai teori yang menyangkut faktor-faktor yang mempengaruhi risiko saham.
2. Bagi Investor.
Memberikan bahan pertimbangan kepada calon investor dalam mengambil keputusan investasi.
3. Bagi pihak lain.
Memberikan bahan acuan bagi penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan hasil penelitian ini.
4. Bagi penulis.
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan dan juga untuk menerapkan teori yang telah didapatkan di FE UII.

Untuk versi MS-Word…silahkan klik download

Agustus 6, 2010 at 10:04 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Ekspektasi Inflasi Terhadap Inflasi IHK di Sulawesi Utara Tahun 1997:I-2005:IV (KE-21)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Inflasi merupakan masalah ekonomi di seluruh Negara. Menurut pengalaman di berbagai Negara yang mengalami inflasi adalah terlalu banyaknya jumlah uang yang beredar, kenaikan upah, krisis energi, defisit anggaran, dan masih banyak penyebab dari terjadinya inflasi..Salah satu penyakit dalam suatu perekonomian yang dialami oleh Negara berkembang adalah upaya menjaga kestabilan makro ekonomi secara luas, khususnya dalam menjaga inflasi. Seperti penyakit, inflasi timbul karena berbagai alasan. Sebagian inflasi timbul dari sisi permintaan, sebagian lagi dari sisi penawaran. Secara teoritis, pengertian inflasi merujuk pada perubahan tingkat harga (barang dan jasa) umum yang terjadi secara terus menerus akibat adanya kenaikan permintaan agregat atau penurunan penawaran agregat. Untuk itu inflasi harus dapat segera diatasi, karena inflasi yang buruk akan mengurangi investasi diikuti dengan berkurangnya kegiatan ekonomi, dan menambah pengangguran, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi.
(Sudono sukirno, 1981:17).

Dalam Surat kabar Suara Merdeka Senin, 07 November 2005, kondisi perekonomian indonesia pada triwulan III-2005 diwarnai oleh tekanan pada nilai tukar rupiah dan tingginya harga minyak internasional yang berkelanjutan, diiringi peningkatan ekspektasi inflasi masyarakat. Demikian pula menurut laporan Bank Indonesia, perekonomian indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap stabilitas makro ekonomi meningkat. Tingginya harga minyak dunia dan ekspansi ekonomi domestic yang bertumpu pada impor telah menimbulkan tekanan yang besar terhadap kondisi neraca pembayaran dan pengeluaran subsidi Bahan Bakar Minyak pemerintah. Dari sisi moneter, kondisi tersebut telah menyebabkan tekanan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkat, sementara inflasi masih relatif tinggi salah satunya karena dampak meningkatnya ekspektasi inflasi. Bank Indonesia memandang bahwa meningkatnya ekspektasi inflasi dan depresiasi nilai tukar rupiah tersebut dapat meningkatkan resiko ketidakstabilan makro ekonomi yang dapat mengganggu keberlangsungan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Masih berperannya inflasi periode lalu (ekspektasi adaptif) pada pembentukan ekspektasi inflasi masyarakat menunjukkan pentingnya peningkatan efektifitas kebijakan moneter dalam pengendalian inflasi. Studi tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan moneter Bank Indonesia dan membentuk ekspektasi inflasi dari realisasi inflasi yang terjadi. Dengan demikian, apabila efektifitas kebijakan moneter tersebut mampu ditingkatkan dan berhasil menekan inflasi ke tingkat yang rendah, maka ekspektasi inflasi juga akan menurun dan dengan demikian akan semakin mendukung efektifitas kebijakan moneter dalam pengendalian inflasi tersebut. Di sisi lain, pengaruh nilai tukar terhadap pembentukan ekspektasi inflasi cenderung bersifat asimetris. Bagi perusahaan, terdapat rigiditas harga ke bawah dalam pola pembentukan harga oleh perusahaan, dalam arti perusahaan cenderung enggan menurunkan harga dalam hal terjadi apresiasi nilai tukar rupiah. Sebaliknya, depresiasi nilai tukar melebihi suatu tingkat tertentu akan diikuti dengan kenaikan harga oleh perusahaan. Dari sisi rumah tangga, perilaku asimetris juga terjadi pada pembentukan ekspektasi inflasinya, dalam arti depresiasi akan diikuti dengan kenaikan ekspektasi inflasi sementara apresiasi tidak selalu diikuti dengan penurunan ekspektasi inflasi. Bukti empiris ini semakin menekankan pentingnya Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, baik karena pengaruhnya terhadap pembentukan ekspektasi inflasi maupun pertimbangan pengaruhnya baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap inflasi.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia melalui tabel 1.1 dapat dilihat bahwa tingkat inflasi di Sulawesi Utara dari triwulan I-2001 sampai triwulan IV-2005 mengalami fluktuasi, hal itu disebabkan karena fluktuasi nilai tukar rupiah dan tingkat ekspektasi masyarakat. Khusus pada tahun 2005 triwulan III kurs rupiah mengalami pelemahan yang tajam, dari Rp. 9.713 per USD pada triwulan ke II menjadi Rp. 10.310 per USD. Salah satu penyebabnya adalah adanya sentiment negatif dari persepsi pasar atas kondisi fiskal pemerintah dalam menanggung besarnya subsidi BBM akibat tingginya harga minyak. Ekspektasi inflasipun mengalami peningkatan akibat melemahnya nilai tukar pada triwulan tersebut. Dengan demikian dapat dilihat bahwa tingkat inflasi IHK tidak hanya dipengaruhi dengan nilai tukar saja, tetapi juga dengan tingkat ekspektasi masyarakat.

1.1. Tabel Nilai Tukar Rupiah, Ekspektasi Inflasi, dan Inflasi IHK
Di Sulawesi Utara
Tahun 1997 Triwulan I – Tahun 2005 Triwulan IV

Tahun Triwulan Nilai Tukar Ekspektasi IHK
1997 I 2419 101.25 106.77
II 2450 106.77 106.95
III 3275 106.95 111.31
IV 4650 111.31 113.8
1998 I 8325 113.8 136.25
II 14900 136.25 160.42
III 10700 160.42 191.63
IV 8025 191.63 198.39
1999 I 8685 198.39 212.57
II 6726 212.57 217.33
III 8386 217.33 209.2
IV 7100 209.2 213.1
2000 I 7590 213.1 216.11
II 8735 216.11 216.22
III 8780 216.22 222.08
IV 9595 222.08 237.41
2001 I 10400 237.41 241.42
II 11440 241.42 241.93
III 9675 241.13 250.46
IV 10400 250.46 268.99
2002 I 10410 268.99 278.11
II 8730 278.11 282.82
III 8996 282.82 291.26
IV 9049 291.26 309.92
2003 I 8908 309.92 96.9
II 8285 96.9 96.53
III 8389 96.53 98.78
IV 8465 98.78 100.69
2004 I 8587 100.69 109.27
II 9095 109.27 110.13
III 9222 110.13 110.58
IV 9290 110.58 113.46
2005 I 9480 113.46 114.13
II 9713 114.13 115.72
III 10250 115.72 117.98
IV 10289 117.98 120.87
Sumber Bank Indonesia

Berdasarkan catatan Bank Indonesia melalui tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat inflasi di Sulawesi Utara dari triwulan I-2001 sampai triwulan IV-2005 mengalami fluktuasi, hal itu disebabkan karena fluktuasi nilai tukar rupiah dan tingkat ekspektasi masyarakat. Khusus pada tahun 2005 triwulan III kurs rupiah mengalami pelemahan yang tajam, dari Rp. 9.713 per USD pada triwulan ke II menjadi Rp. 10.310 per USD. Salah satu penyebabnya adalah adanya sentiment negatif dari persepsi pasar atas kondisi fiskal pemerintah dalam menanggung besarnya subsidi BBM akibat tingginya harga minyak. Ekspektasi inflasipun mengalami peningkatan akibat melemahnya nilai tukar pada triwulan tersebut. Dengan demikian dapat dilihat bahwa tingkat inflasi IHK tidak hanya dipengaruhi dengan nilai tukar saja, tetapi juga dengan tingkat ekspektasi masyarakat.
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan betapa pentingnya pengkajian masalah inflasi di lakukan di Sulawesi Utara, terutama dikaitkan dengan variabel-variabel yang mempunyai pengaruh terhadap tingkat inflasi seperti nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi.

1.2. Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah pokok dalam penelitian ini, yaitu : “ Bagaimanakah pengaruh nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi terhadap Inflasi IHK di Sulawesi Utara ?”

1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh ekspektasi inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap tingkat inflasi di Sulawesi Utara.
2. Untuk mengetahui hubungan ekspektasi inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap tingkat inflasi di Sulawesi Utara.
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini sangat diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu :
1. Sebagai bahan masukan atau informasi kepada para pengambil keputusan, terutama kepada pemerintah daerah Sulawesi Utara maupun instansi terkait, dalam menentukan langkah-langkah kebijaksanaan, khususnya menyangkut masalah inflasi.
2. Sebagai bahan referensi dan pembanding bagi para peneliti yang lain yang ingin meneliti variabel-variabel lain yang turut mempengaruhi inflasi.

Ingin dalam bentuk MS-WOrd…silahkan klik download

Agustus 5, 2010 at 1:11 pm Tinggalkan komentar

PENGARUH HARGA DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM TERHADAP LIKUIDITAS SAHAM PADA PERUSAHAN YANG MELAKUKAN STOCK SPLIT (KE-20)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pasar modal memberikan manfaat bagi dunia usaha, pemodal atau investor maupun perekonomian nasional. Manfaat bagi dunia usaha yaitu pembinaan kegiatan operasional melalui penjualan saham merupakan allternatif sumber pembiayaan jangka panjang. Kebutuhan investasi yang di biayai melalui pasar modal sering kali lebih menguntungkan di banding dengan pembiayaan lainnya. Manfaat bagi investor yaitu dengan adanya pasar modal memungkinkan para investor untuk melakukan diversivikasi investasi, membentuk portofollio yng sesuai dengan resiko yang bersedia mereka tanggung dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan. Sedangkan manfaat yang di tinjau dari segi perekonomian nasional yaitu penjualan saham dapat menjadi sarana penyebaran dana yang efisien dan dapat meningkatkan produktifitas modal. Semakin efisiennya perusahaan yang memperoleh dana pembiayaan dari pasar modal maka diharapkan laba yang diperoleh makin meningkat.

Dalam dunia bisnis pasar modal, preferensi investor sangat mempengaruhi tingkat permintaan atas suatu saham. Dimana preferensi tersebut sangat di pengaruhi oleh expected return yang di inginkan investor atas investasi modalnya. Dalam hal ini, preferensi tidak hanya mempertimbangkan kondisi makro ekonomi dan stabilitas ekonomi, tetapi juga melihat profil, kinerja dan kebijakan perusahaan emiten, terutama kebijakan strategis yang berhubungan langsung dengan kekayaan pemegang saham. Bagi investor sendiri ada beberapa keuntungan yang di harapkan akan dapat di peroleh atas investasi yang dilakukan dalam pasar saham. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain berupa keuntungan dalam bentuk dividen, kenaikan harga saham (capital gain), serta keuntungan dalam bentuk hak investor untuk ikut serta dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan, yang nantinya akan menentukan arah dan kebijakan perusahaan ke depan.
Investor dalam mengambil keputusan untuk menginvestasikan uangnya di pasar modal pasti memerlukan informasi yang lengkap, Informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para investor dalam mengambil keputusan sehingga dapat mengurangi ketidakpastian yang mungkin terjadi. Keputusan yang di ambil di harapkan akan sesuai dengan tujuan yang ingin di capai, salah satu informasi yang ada adalah pengumuman stock split atau pemecahan saham. Dalam pasar modal sering kita mendengar tentang adanya pengumuman mengenai stock split. Banyak perusahaan emiten yang go-poblic di Bursa Efek Jakarta melakukannya, mungkin kita pernah mendengar sebuah perusahaan emiten yang mengumumkan bahwa perusahaan tersebut akan melakukan stock split dengan proporsi 2:1, 3:1 dan lain-lain. Misalnya stock split yang di lakukan PT. Indofood dengan proporsi 5:1 pada tanggal 29 september 2000, di mana satu saham dengan nilai nominal semula Rp.500 di pecah menjadi lima saham dengan nilai nominal Rp. 100 per lembar sahamnya, (Wijanarko, 2003:1).
Stock split merupakan kebijakan para emiten (perusahaan yang go-poblic) untuk meningkatkan jumlah saham beredar karena harga saham terlalu tinggi (over-valued). Secara teoritis dampak dari stock split adalah harga saham akan menjadi under-valued karena peningkatan jumlah lembar saham yang berlipat ganda.Sebenarnya para emiten berharap stock split akan diikuti oleh reaksi positif dari pasar yaitu meningkatnya minat beli (bid-order) para investor. Naiknya bid-order akan membuat harga saham emiten yang tadinya under-valued akan meningkat kembali beberapa hari setelah pengumuman stock split.
Namun kadang-kadang stock split juga tidak menimbulkan reaksi berarti atau bahkan terjadi reaksi negative di pasar. Hal ini terjadi karena pasar (investor) menilai kebijakan stock split suatu emiten kurang mencerminkan prospek yang positif di masa depan. Menurut persepsi pasar (investor) motivasi utama emiten melakukan stock split bukan untuk aktivitas rekapitalisasi hutang jangka panjang. Berbagai jenis reaksi pasar (investor) atas stock split mencerminkan Signaling Theory sementara fenomena perubahan harga saham akibat stock split mencerminkan Liquidity Hipotheses atau Trading Range Theory (Susanti dkk, 2005:36)
Hasil pengaruh stock split terhadap likuiditas saham di Indonesia menunjukkan adanya kontroversi. Fatmawati dan Asri (1999) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa secara keseluruhan aktivitas stock split berpengaruh secara siknifikan terhadap tingkat harga saham, volume turnover dan persentase spread. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan harga rata-rata saham sesudah stock split, sedangkan persentase spread sesudah stock split mengalami peningkatan. Peningkatan spread berimplikasi pada penurunan likuiditas. Sedangkan Ewijaya dan Nur Indriantoro (1999) menyimpulkan bahwa stock split berpengaruh negative terhadap perubahan harga saham relatif. Harga pasar saham sesudah stock split yang diharapkan naik justru menurun. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan stock split akan merugikan investor lama.
Berdasarkan pada beberapa pandangan yang kontroversi mengenai stock split tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Harga dan Volume Perdagangan Saham terhadap Likuiditas Saham pada Perusahaan yang Melakukan Stock Split “.

B. Pembatasan Masalah.
Lingkup permasalahan hanya dibatasi pada pokok bahasan yang berkaitan dengan judul permasalahan, yaitu :
1. Terbatas pada perbedaan harga saham, volume perdagangan dan likuiditas saham sebelum dengan sesudah stock split.
2. Terbatas pada pengaruh harga dan volume perdagangan saham terhadap likuiditas saham untuk perusahaan yang melakukan stock split.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah diatas, maka permasalahan yang akan di rumuskan berkenaan dengan obyek penelitian ini adalah :
1. Apakah ada perbedaan antara harga saham dan volume perdagangan dan likuiditas saham sebelum dan sesudah stock split?
2. Apakah ada pengaruh harga saham dan volume perdagangan saham terhadap likuiditas saham untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan stock split ?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan pada harga dan volume perdagangan saham dan likuiditas sebelum dan sesudah stock split.
2. Untuk menganalisis pengaruh harga dan volume perdagangan saham terhadap likuiditas untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan stock split.

E. Manfaat penelitian
Penelitian yang di lakukan diharapkan akan bermanfaat :
1. Bagi peneliti
Untuk memperoleh gambaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan investasi saham pada perusahaan-perusahaan yang melakukan stock split dan membandingkan dengan teori yang di peroleh selama mengikuti perkuliahan.
2. Bagi perusahaan dan pelaku pasar modal
Dapat memberikan informasi yang bermanfaat dalam menganalisis perubahan harga saham dan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah melakukan stock split.
3. Bagi Almamater
Sebagai bahan referensi bagi peniliti yang mengambil topik yang sama dan menambah khazanah perbendaharaan penelitian di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Untuk file dalam bentuk MS-Word, silahkan klik download

Agustus 5, 2010 at 1:06 pm Tinggalkan komentar

Analisis Efisiensi Sistem Moneter Bebas Bunga: Studi Kasus di Indonesia dan Malaysia Periode 1980-2000 Menggunakan Pendekatan Kointegrasi (KE-19)

Dunia telah mengalami polarisasi dari dua kekuatan sistem ekonomi, ditandai dengan adanya dua negara adidaya sebagai representasi dari kedua sistem ekonomi tersebut. Amerika dan sekutu Eropa Baratnya merupakan bagian kekuatan dari sistem ekonomi kapitalis, sedangkan sistem ekonomi sosialis diwakili oleh Rusia dan Eropa Timur, Cina, serta Indocina seperti Vietnam dan Kamboja. Dalam perjalanannya, kedua sistem ekonomi tersebut gagal dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat dunia akibat dampak sistem yang dikembangkannya.

Karena kegagalan tersebut, maka para pendukung kedua sistem ekonomi tersebut melakukan modifikasi terhadap kedua sistem ekonomi tersebut. Sistem ekonomi kapitalis dimodifikasi menjadi sistem ekonomi yang selain menampilkan bentuk aslinya yaitu mengutamakan kebebasan individu dalam kepemilikan faktor-faktor produksi, juga telah memasukkan variabel asas distribusi keadilan ke dalam sistem ekonominya. Sedangkan sistem ekonomi sosialis dimodifikasi menjadi Neososialis dengan kecenderungan kearah mekanisme pasar.

Meskipun modifikasi dari kedua sistem telah dilakukan, kedua sistem ekonomi yang lebih baru tersebut belum mampu untuk mencari solusi dari krisis dan problematika dunia seperti inflasi, krisis moneter internasional, problematika utang negara berkembang, dan lain-lain. Sehingga muncullah pemikiran-pemikiran kritis dari berbagai kalangan untuk menemukan sistem ekonomi dunia yang dapat menyejahterakan masyarakat atas dasar keadilan dan persamaan hak. Dan diantara pemikiran-pemikiran tersebut yang mendapat banyak perhatian oleh berbagai kalangan adalah sistem ekonomi Islam.
Ilmu ekonomi moneter Islam sebagai salah satu cabang dari ilmu ekonomi Islam memandang bahwa keberlangsungan persoalan dan dalamnya krisis moneter internasional pada dasarnya karena ada sesuatu yang salah. Menurut Umer Chapra, kesalahan yang umumnya dilakukan yaitu bahwa akar permasalahannya hanya dicari pada symptom (gejala), seperti ketidakseimbangan anggaran, ekspansi moneter yang berlebihan, neraca pembayaran yang begitu besar, naiknya kecenderungan proteksionis, tidak memadainya bantuan asing, dan kerjasama internasional yang tidak mencukupi. Akibatnya, penyembuhan hanya bersifat sementara dan beberapa saat kemudian, krisis muncul kembali, bahkan lebih mendalam dan serius.

Diduga permasalahan mendasar dari krisis moneter internasional adalah karena penerapan tingkat bunga yang ternyata gagal berfungsi sebagai alat indirect screening mechanism. Berbagai literatur yang ditulis oleh para ekonom seperti Muslehuddin (1974), Qureshi (1979), Kahf (dalam Khurshid, 1981), Siddiqi (1981), Chapra (1985 dan 1986), Maurice Allais (1993), Mills dan Presley (1997), dan Choudry dan Mirakhor (1997) tidak menyetujui perekonomian yang bertumpu pada interest rate karena akan terjadi misalokasi sumber daya yang pada gilirannya cenderung akan mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi. Enzler Conrad dan Johnson (dalam Chapra, 1996) menemukan bukti kuat bahwa di AS telah terjadi misalokasi dana modal di antara sektor-sektor ekonomi dan jenis modal. Dengan terjadinya misalokasi dana yang disebabkan oleh suku bunga berpengaruh terhadap pencapaian tujuan-tujuan ekonomi dari suatu negara, yaitu pemenuhan kebutuhan pokok, pertumbuhan ekonomi yang optimum, pemerataan distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi.

Manajemen moneter yang berdasarkan bunga berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan pokok dan pemerataan distribusi pendapatan karena penyaluran pinjaman dengan bunga tertentu ditetapkan berdasarkan kemampuan peminjam memberikan jaminan kredit guna meng-cover pinjaman yang diberikan dan kecukupan cash flow untuk memenuhi kewajiban tersebut. Dikarenakan hal tersebut, maka dana akan mengalir cenderung pada golongan kaya yang umumnya mampu memenuhi syarat jaminan tersebut. Namun, golongan kaya umumnya memanfaatkan dana tersebut tidak hanya untuk investasi yang produktif, tetapi juga untuk conspicuous consumption (konsumsi barang lux, barang yang hanya untuk simbol status dan pengeluaran yang tidak bermanfaat) dan spekulasi. Hal ini mengakibatkan cepatnya ekspansi money demand untuk keperluan yang non-produktif dan pengeluaran-pengeluaran yang tidak bermanfaat, yang pada gilirannya memperkecil ketersediaan dana untuk pemenuhan kebutuhan pokok dan pembangunan. Keadaan ini akan membuat golongan miskin semakin sulit memenuhi kebutuhan pokok karena sulitnya golongan ini memenuhi syarat tersebut di atas dan terlebih lagi dengan semakin berkurangnya dana untuk kebutuhan pokok tersebut. Penyaluran pinjaman yang sedemikian rupa mengakibatkan semakin tidak meratanya distribusi pendapatan dan kekayaan.1 Selanjutnya, dari sisi pertumbuhan ekonomi, meningkatnya pola conspicuous consumption ini akan menyebabkan masyarakat mengurangi tingkat tabungannya, sehingga akan meningkatkan suku bunga, menurunkan kwalitas maupun kuantitas investasi, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja.
Selain itu, manajemen moneter berbasis bunga juga akan mengakibatkan tingginya ketidakpastian pada pasar keuangan dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap pencapain stabilitas dalam perekonomian. Sebagaimana dinyatakan oleh Milton Friedman dan L.A. Iacocoa. Milton Friedman mengatakan bahwa faktor penyebab perekonomian AS begitu sukar diperkirakan adalah karena perilaku suku bunga yang sama-sama tidak bisa diperkirakan. Mr. Iacocoa, pemimpin perusahaan Chrysler Corporation, mengamati bahwa suku bunga telah menjadi sedemikian mudah berubah sehingga tak seorang pun dapat melakukan perencanaan untuk masa depan.

Tingginya tingkat perubahan pada suku bunga menginjeksikan ketidakpastian yang besar dalam pasar investasi sehingga mendorong borrower dan lender mengalihkan tujuan pasar mereka, dari tujuan pasar utang jangka panjang kepada pasar utang jangka pendek yang berbau spekulasi, sehingga secara fundamental mengubah keputusan-keputusan investasi para pelaku bisnis. Di mana pelaku bisnis lebih senang mengambil keuntungan pada pasar-pasar komoditi, saham, valuta asing, dan keuangan. Kondisi seperti ini akan membuat pasar-pasar tersebut semakin aktif dan memanas yang merupakan salah satu penyebab ketidakstabilan ekonomi dunia saat ini.

Berdasarkan survey yang dilaksanakan oleh Bank for International Settlement (BIS), total turnover perdagangan valuta asing mencapai $1, 230 miliar per hari kerja pada bulan April 1995, yang berbeda jauh dibandingkan pada bulan April 1989 yang masih $620 miliar per hari kerja. Allais (1993) juga menemukan bahwa speculative cash flow dari negara-negara G-7 adalah 34 kali dibandingkan flows untuk transaksi perdagangan barang maupun jasa. Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa manajemen moneter berbasis bunga mengakibatkan ketidakstabilan bagi perekonomian secara keseluruhan karena efeknya yang positif terhadap peningkatan kegiatan-kegiatan yang non-produktif dan spekulatif.2 Sebagaimana dinyatakan oleh Maurice Allais (1993) yang merupakan pemenang nobel pada tahun 1988 berpendapat sebagai berikut:

Be it speculation on currencies or speculation on stocks and shares, the world has become one big casino with gaming labels distributed along every latitude and longitude. The game and the bids, in which millions of players take part, never cease. The American quotations are followed by those from Tokyo and Hongkong, from London, Frankfurt and Paris. Everywhere speculation is supported by credit since one can buy without paying and selling without owning.

Suku bunga, baik yang tinggi maupun yang rendah, implikasinya buruk terhadap kesehatan perekonomian. Suku bunga yang tinggi akan merugikan pengusaha dan dalam perekonomian kapitalis suku bunga merupakan penghambat utama investasi dan formasi modal. Akibat dari tingkat bunga yang tinggi tersebut antara lain menurunkan tingkat produktivitas, kesempatan kerja, dan laju pertumbuhan ekonomi. Tingkat suku bunga yang rendah juga sama jeleknya. Kalau tingkat suku bunga yang tinggi akan merugikan pengusaha, maka tingkat suku bunga yang rendah akan merugikan penabung terutama penabung kecil yang menginvestasikan dana pada instrumen berbasis bunga. Tingkat bunga yang rendah akan merangsang pinjaman untuk tujuan-tujuan konsumsi, baik sektor publik maupun swasta. Karena itu, akan meningkatkan tekanan inflasioner. Selain itu, tingkat bunga yang rendah akan mendorong investasi-investasi yang tidak produktif dan meningkatkan spekulasi pada bursa dan pasar komoditas. Suku bunga yang rendah juga akan mendorong kegiatan investasi yang terlalu menghemat tenaga kerja sehingga akan menimbulkan pengangguran. Karena itu, dengan menimbulkan distorsi pada harga modal, tingkat bunga yang rendah telah merangsang konsumsi yang bersifat inflasioner, mengurangi rasio tabungan kotor, menurunkan kualitas investasi, dan menciptakan kelangkaan modal. Ekuilibrium yang diidam-idamkan di mana suku bunga tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah, hanyalah impian para teoretikus. Karena itu, menurut Umer Chapra, obat terbaik bukanlah sekadar mereduksi suku bunga saja karena hal ini tidak akan menghilangkan ketidakpastian masa depan, mengingat adanya defisit anggaran yang tinggi di beberapa negara industri utama
Dalam sebuah perekonomian Islam yang bebas bunga, kegiatan-kegiatan ekonomi yang bersifat non-produktif seperti spekulasi kurang begitu berarti karena diharamkannya penggunaan instrumen bunga dalam aktivitas perekonomian. Sehingga dalam ekonomi Islam, permintaan akan dana untuk investasi merupakan bagian dari permintaan transaksi total dan akan bergantung pada kondisi perekonomian dan laju keuntungan yang diharapkan yang tidak ditentukan di depan. Mengingat harapan terhadap keuntungan tidak mengalami fluktuasi harian atau mingguan seperti suku bunga, maka permintaan agregat kebutuhan transaksi cenderung relatif lebih stabil. Sehingga kecepatan peredaran uang dapat diperkirakan perilakunya secara lebih baik.
Karena itu, variabel yang dipakai dalam suatu kebijakan moneter dalam sebuah perekonomian Islam adalah cadangan uang (stock of money) daripada suku bunga. Tujuan dari kebijakan moneter Islam adalah menjamin bahwa ekspansi moneter ridak bersifat “kurang atau berlebihan”, tetapi cukup untuk sepenuhnya mengeksploitasi kapasitas perekonomian agar dapat mensuplai barang dan jasa bagi kesejahteraan yang berbasis luas. Laju pertumbuhan yang dituju harus bersifat berkesinambungan, realistis, serta mencakup jangka menengah dan panjang, dan tidak kurang realistis dan sukar diperkirakan.3

Dengan tidak adanya suku bunga, uang beredar dapat diatur oleh bank sentral menurut kebutuhan sektor riil perekonomian dan sasaran-sasaran masyarakat muslim. Pertumbuhan dalam M dapat diatur untuk merealisasikan sasaran kesejahteraan berbasis luas dengan suatu laju pertumbuhan yang optimal, tetapi realistis dalam konteks stabilitas harga. Target dalam M ini akan dapat dicapai dengan menghasilkan pertumbuhan yang diinginkan dalam high-powered money melalui suatu kombinasi defisit fiskal dan pinjaman mudharabah oleh bank sentral kepada lembaga-lembaga finansial.
Jadi, dengan dihapuskannya instrumen bunga dalam manajemen moneter akan mengurangi salah satu sumber utama ketidakpastian dalam perekonomian. Karena bunga adalah akar dari ketidakpastian dan ketidakpastian adalah sumber utama inefisiensi ekonomi dan terutama akan menyulitkan dalam melakukan forecasting.
Secara sederhana, keuntungan dari manajemen moneter bebas bunga antara lain:
a. Manajemen moneter bebas bunga akan membantu pertumbuhan yang lebih sehat dalam uang beredar.
b. Manajemen moneter bebas bunga akan meminimalkan permintaan uang untuk keperluan yang tidak esensial dan mubazir serta pembiayaan bagi proyek-proyek yang meragukan dan sia-sia.
c. Manajemen moneter bebas bunga akan menimbulkan peningkatan dalam aliran pembiayaan bagi tujuan-tujuan produktif disamping distribusinya yang luas di kalangan sejumlah pelaku binis dan memperbaiki alokasi di antara berbagai sektor ekonomi.
d. Instabilitas yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan dalam suku bunga dan fluktuasi dalam pengeluaran agregat, akan dapat dikurangi secara substansial.
Dengan demikian, manajemen moneter bebas bunga akan menciptakan suatu tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang akan menimbulkan suatu dimensi yang sehat dalam perekonomian dengan keterkaitan yang kuat antara sektor moneter dan riil.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian superioritas sistem moneter bebas bunga layak untuk diteliti. Untuk itu penulis akan melakukan penelitian secara empiris di Indonesia dan Malaysia. Indonesia dan Malaysia menurut penulis mampu mewakili aktivitas perekonomian dari kedua sistem moneter, yaitu sistem moneter konvensional dan sistem moneter bebas bunga. Periode yang dipilih adalah tahun 1980-2000 dengan alasan ketersediaan data dan rentang waktu yang cukup panjang untuk meneliti efisiensi dalam sistem moneter bebas bunga. Sehingga judul yang diambil penulis dalam penelitian ini adalah:

“Analisis Efisiensi Sistem Moneter Bebas Bunga:
Studi Kasus di Indonesia dan Malaysia Periode 1980-2000 dengan Menggunakan Pendekatan Kointegrasi dan Error – Correction Model”

November 11, 2009 at 1:12 pm Tinggalkan komentar

PENGARUH ARUS KAS OPERASI ARUS KAS INVESTASI ARUS KAS PENDANAAN DAN ROI RETURN ON INVESMENT TERHADAP RETURN SAHAM (KE-18)

Laporan arus kas dan rasio profitabilitas merupakan bagian dari laporan keuangan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku investor, dimana memperoleh return merupakan tujuan utama aktivitas perdagangan para investor di pasar modal. Dalam berinvestasi, investor menggunakan informasi dari laporan keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan dan untuk meminimalisasi resiko investasinya, karena dalam laporan keuangan dapat diperoleh informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, aliran kas, dan informasi lainnya yang terkait dengan faktor yang mempengaruhi return saham. Variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap tingkat return, antara lain: arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan, dan ROI (Return On Invesment). Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis varibel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan menggunakan periode tahun penelitian terbaru yaitu dari tahun 2003 sampai 2005, yaitu sebanyak 145 perusahaan manufaktur. Penentuan sampel dari populasi menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data keuangan yang ada di Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 2006 untuk tiga tahun secara berurutan dengan mendapatkan 59 perusahaan manufaktur sebagai sampel penelitian. Metode analisis yang digunakan untuk meguji hipotesis pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda, dimana uji hipotesis secara parsial dengan menggunakan uji t dan uji hipotesis secara simultan dengan menggunakan uji F.

Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Sedangkan ROI (Return On Invesment) berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan, dan ROI (Return On Invesment) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap return saham. Koefisien determinasi yang didapat, adalah sebesar 4 persen return saham dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam penelitian ini, sedangkan sebanyak 96 persen dijelaskan oleh faktor lain diluar model penelitian.

November 11, 2009 at 1:10 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

November 2017
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts by Month

Posts by Category