Posts filed under ‘Uncategorized’

Perbandingan Nilai Tambah Dan Keuntungan Berbagai Produk Olahan Pangan Pada Kube Teratai (Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo) (119)

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

              Dalam pola
dasar pembangunan Jawa Timur 2001-2005 disebutkan bahwa, misi utama pembangunan
daerah Jawa Timur adalah mengembangkan perekonomian terpadu yang berorientasi
global berbasis potensi daerah dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya
alam yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta mampu memberdayakan
ekonomi rakyat sehingga. Sektor   
pertanian mampu menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat.
Banyak bahan alami Indonesia
khususnya tumbuhan yang mempuyai prospek  
untuk dijadikan makanan tambahan atau dijadikan suatu produk olahan
pangan. berpijak dari hal tersebut pembangunan pertanian ke depan diarahkan
kepada pengembangan usaha agribisnis baik itu skala industri kecil ataupun
besar yang mampu berdaya saing serta berkelanjutan
            

  Sejalan dengan hal tersebut,
program peningkatan pertanian Jawa Timur difokuskan pada peningkatan ketahanan
pangan berwawasan agribisnis, pemberdayaan ekonomi petani, peternak dan
nelayan, serta peningkatan produksi dan daya saing komoditas ekspor (Imam
Utomo, 2000). Ketiga hal tersebut saling terkait, dalam arti bahwa upaya
mewujudkan ketahanan pangan yang berwawasan agribisnis dan peningkatan daya
saing industri-industri kecil rumah tangga yang kontribusinya sangat besar
untuk pengembangan ekonomi daerah, baik itu skala industri kecil atau menengah
yang mampu memberi nilai tambah bagi suatu pengembangan  perekonomian daerah.  

             Pembangunan sektor pertanian untuk
sangat ini lebih mengarah pada pola pengembangan industri agribisnis baik itu
industri pengolahan pangan ataupun yang lebih mengarah pada pembinaan pengrajin
atau pengusaha industri kecil dan menengah guna meningkatkan sumber daya
manusia, dan meningkatkan kualitas hasil produksi serta peningkatan pelayanan
informasi dan perijinan sektor industri kecil, dimana keberhasilan pelaksanaan
pembangunan pemerintah dilaksanakan melalui program dan kegiatan pembangunan
antara lain: pengembangan Industri Rumah Tangga (IKM), peningkatan kemampuan
teknologi industri dan penataan struktural industri kecil. Oleh karena itu di
Kabupaten Probolinggo tepatnya di Kecamatan Kraksaan dibentuklah suatu kelompok
usaha bersama (KUBE) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya yang skala usahanya termasuk skala industri kecil serta
pendirianya dipelopori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Teratai.
          Kelompok Usaha Bersama (KUBE) adalah
kelompok warga atau binaan sosial yang dibentuk oleh warga atau kelompok warga
atau binaan sosial yang telah dibina melalui proses kegiatan untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatan sosial dan usaha ekonomi dalam semangat kebersamaan sebagai
sarana untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya. KUBE bertujuan untuk  meningkatkan kemampuan berwirausaha,
pengembangan usaha skala kecil dan peningkatan kepedulian serta kesetiakawanan
sosial dalam satu ruang lingkup.
         Dalam menangani obyek pengembangan
industri, baik yang bersifat pemecahan masalah maupun pengembangan kedepan
harus berdasar kepada pola pendekatan logis dan komprehensif agar tercipta
wirausaha yang unggul serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Seperti
diketahui usaha kecil dalam pengembangan usahanya seringkali menghadapi banyak
kendala baik itu kendala internal atau ekternal. Kendala internal terutama
berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, karena keterbatasan sumberdaya
tersebut maka mereka kurang mampu memanfaatkan peluang yang ada, baik akses
pasar atau akses terhadap sumber pembiayaan dan akses terhadap teknologi,
sedangkan kendala ekternal berkaitan dengan iklim usaha yang kurang kondunsif
terhadap pengembangan usaha kecil (Y.Sri Susilo 1996).
             Program utama yang dilaksanakan
dalam pengembangan sektor industri kecil adalah mendorong tumbuhnya sektor
industri kecil dan menengah karena sektor ini merupakan sektor penggerak
ekonomi riil di Kabupaten Probolinggo. Dampak positif yang dapat dimbil adalah
adanya perluasan tenaga kerja serta peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat
serta melibatkan partisipasi masyarakat.
        Berbagai alternatif pendekatan
pembinaan dan pengembangan sektor industri kecil pada dasarnya dapat dilakukan
dengan jangka pendek dan jangka panjang, dalam jangka pendek dapat dilakukan
dengan penciptaan iklim yang kondunsif   bagi usaha kecil sedangkan dalam jangka
panjang adalah perbaikan kualitas sumberdaya manusia
         Sektor industri mempuyai potensi yang
cukup besar terutama industri pengolahan pangan, dimana industri pengolahan
pangan diharapkan dapat menjadi penggerak utama perekonomian yang efisien dan
berdaya saing tinggi. Salah satu contoh dari sektor industri pengolahan
tersebut adalah sektor industri pengolahan pangan, pembangunan industri
pengolahan, termasuk industri pengolahan pangan 
merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan
ekonomi nasional.
Setiap daerah
mempuyai potensi yang berbeda-beda, meskipun Kabupaten Probolinggo merupakan
kota “Mangga” tapi industri pengolahan pangan relatif besar, sehingga mampu
memberikan kontribusi yang lebih terhadap pengembangan perekonomian suatu
daerah dengan demikian perlu dilakukan suatu penelitian dengan judul “Perbandingan Nilai Tambah Berbagai Produk
Olahan Pangan pada KUBE Teratai di Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan
Kabupaten Probolinggo”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini
Iklan

Mei 17, 2012 at 10:49 am Tinggalkan komentar

Kehidupan Sosial, Budaya dan Ekonomi Masyarakat Nelayan” (Studi pada Masyarakat Nelayan Desa Pangerungan Besar Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep Madura) (118)

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Indonesia dikenal sebagai bangsa maritim yang memiliki pantai terpanjang di
 dunia, dengan garis pantai lebih 81.000
km. Dari 67.439 desa di Indonesia, kurang
 lebih 9.261  desa dikatagorikan sebagai desa pesisir. Desa desa pesisir
adalah   kantong   kantong 
 kemiskinan   struktural   yang   potensial.   Kesulitan mengatasi masalah kemiskinan di desa desa pesisir telah menjadikan penduduk
di kawasan  ini  harus  menanggung  beban  kehidupan  yang  tidak  dapat  dipastikan
kapan  masa
 berakhirnya.  Kerawanan  dibidang
 sosial-  ekonomi
 dapat
 menjadi lahan subur bagi timbulnya kerawanan- kerawanan
dibidang kehidupan yang lain.

Di  samping  sebagai
 Negara  maritim
 Indonesia  juga  merupakan
 negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau dan 81.000 Km garis pantai, dimana  sekitar  70  %  wilayah
 teritorialnya  berupa  laut.  Selain
 beberapa
 pulau
besar, sebagian besar dari 17.508
pulau itu adalah pulau- pulau kecil yang tidak berpenghuni. Bahkan
hanya 5.700 yang mempunyai nama. Ada pula pulau- pulau kecil yang dihuni
 penduduk,  meskipun
jumlahnya sedikit.Dengan
perairan  laut seluas 
total  5,8  juta  Km2 
(berdasarkan konvensi
 PBB
 tahun  1982),  Indonesia menyimpan   potensi   sumberdaya  
 hayati   dan 
 non 
 hayati 
 yang   melimpah (Simanungkalit          dalam
   Resosudarmo,   dkk.,2002).             Hal        ini          menyebabkan sebahagian  besar   masyarakat   tinggal  dan  menempati  daerah  sekitar wilayah pesisir dan menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Jumlah
 nelayan  perikanan
 laut  di
 Indonesia  menurut
 kategori
 nelayan maka  status  nelayan
 penuh
 merupakan
 jumlah
 terbesar  dari  nelayan
 sambilan
utama  maupun   nelayan
 sambilan
 tambahan  dan  jumlah  ini  setiap  tahunnya
menunjukkan peningkatan (Dirjen Perikanan Tangkap, 2002). Hal ini mempunyai indikasi bahwa  jumlah nelayan
 yang cukup besar ini merupakan suatu potensi yang besar dalam pembangunan perikanan.
Masyarakat  nelayan
 harus
 menggali
 dan
 mengembangkan
 berbagai potensi  sosial-  budaya  yang
 dimiliki  dan  berakar
 kuat
 dalam  struktur  sosial mereka, seperti pranata-
pranata atau kelembagaan yang ada, jaringan
sosial, dan sebagainya, sehingga
masyarakat nelayan bisa keluar dari kemiskinan struktural.
Keberadaan  kehidupan  nelayan selama ini dihadapkan dengan
 sejumlah permasalahan  yang  terus  membelitnya,  seperti
 lemahnya  manajemen
 usaha, rendahnya   adopsi   teknologi   perikanan,   kesulitan   modal   usaha,   rendahnya pengetahuan pengelolaan sumberdaya perikanan,
rendahnya peranan
masyarakat dalam   proses 
 pengambilan   keputusan,   dan 
 lain 
 sebagainya   mengakibatkan kehidupan
nelayan dalam realitasnya menunjukkan kemiskinan.
Kemiskinan,  rendahnya  pendidikan  dan  pengetahuan
 serta  kurangnya informasi sebagai akibat keterisolasian pulau-pulau kecil merupakan karakteristik dari 
 masyarakat   pulau-pulau   kecil.   Hasil   pembangunan   selama   ini   belum dinhkmati oleh
 masyarakat yang tinggal di kawasan pulau terpencil. Masyarakat diletakkan sebagai obyek
pembangunan dan bukan sebagai subyek pembangunan, dengan   demikian 
 dibutuhkan   perhatian   dan 
 keinginan   yang 
 tinggi 
 untuk
memajukan  kondisi  masyarakat  pesisir  khususnya  nelayan
 sebagai  pengelola
sumberdaya pulau-pulau kecil agar dapat berlangsung secara lestari.
Penyelenggaraan Otonomi Daerah yang mandiri dan bertanggung jawab, diperlukan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mendayagunakan
secara efektif kekayaan alam bagi kemakmuran rakyat. Dalam kaitan
ini, pengembangan masyarakat pantai merupakan bagian integral dari pengelolaan sumber pesisir dan lautbagi            kemakmuran   masyarakatnya,
 sehingga  perlu  digunakan   suatu pendekatan   dimana   masyarakat   sebagai   obyek   sekaligus   sebagai   subyek pembangunan.
Ketertinggalan
 dalam
 strategi
 pengembangan  masyarakat  pantai,
 tidak
hanya 
 dilihat  sebagai  masalah
 sosial
 dan  budaya
 sehingga  perlu  perubahan ekstrem  dalam
 sistem
 sosial
 atau
 nilai-nilai  budaya,  melainkan  lebih  sebagai
masalah
 integral.  Oleh   karena  itu,  penyelesaiannya
 perlu
 dilakukan  melalui strategi yang komprehensif dengan menempatkan sistem sosial-ekonomi dan nilai budaya
 yang
 sudah  melekat
 didalam   masyarakat
 sebagai  faktor  pendorong perubahan. Selain itu, peningkatan produktivitas masyarakat pantai lebih menjadi sasaran   dalam 
 proses 
 pembangunan   guna   memajukan   kesejahteraan   serta menyongsong kemandirian daerah
secara berkelanjutan.  Perkembangan ini pada muaranya akan meningkatkan harkat
sumber daya manusia,
 kualitas dan sistem atau pranata sosial masyarakat.
Masyarakat nelayan selama kurang
lebih 32 tahun kekuasaan Orde Baru hampir          sama     sekali     tidak             mendapatkan     sentuhan
 
kebijakan-kebijakan pembangunan ekonomi. Persoalannya adalah
pengambil kebijakan di negeri ini belum
 memahami   secara 
 komprehensif   apa 
 sebenarnya  
akar   permasalahan kemiskinan
nelayan. Tingkat sosial ekonomi yang rendah merupakan
ciri umum kehidupan nelayan dimana pun berada. Tingkat kehidupan mereka sedikit di atas pekerja migrant atau setaraf dengan
petani kecil. Bahkan jika dibandingkan secara seksama
dengan kelompok  masyarakat lain            disektor             pertanian,  nelayan
(khususnya  nelayan  buruh  dan  nelayan  kecil
 atau
 nelayan  tradisional)  dapat
digolongkan sebagai
lapisan sosial yang paling miskin.
Pembangunan     perikanan  memang  seperti  paradoks. Sumber daya perikanan  yang  potensial
 dan
 mampu  menggenjot  penerimaan  ekonomi  yang
tinggi
 ternyata
 tidak  tercermin  dari  kesejahteraan  para  pelaku  perikanan  itu sendiri.
Nelayan
Indonesia masih tergolong kelompok masyarakat miskin dengan
pendapatan per kapita per bulan sekitar 7-10 dollar AS.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Mei 17, 2012 at 10:47 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pt Sinar Santosa Perkasa Banjarnegara (199)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada berbagai bidang khususnya kehidupan berorganisasi, faktor manusia merupakan masalah utama disetiap kegiatan yang ada didalamnya. Organisasi merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang reaktif dapat diidentifikasikan, bekerja secara terus menerus untuk mencapai tujuan (Robbins, 2006). Semua tindakan yang diambil dalam setiap kegiatan diprakarsai dan ditentukan oleh manusia yang menjadi anggota perusahaan. Perusahaan membutuhkan adanya faktor sumber daya manusia yang potensial baik pemimpin maupun karyawan pada pola tugas dan pengawasan yang merupakan penentu tercapainya tujuan perusahaan.

Sumber daya manusia merupakan tokoh sentral dalam organisasi maupun perusahaan. Agar aktivitas manajemen berjalan dengan baik, perusahaan harus memiliki karyawan yang berpengetahuan dan berketrampilan tinggi serta usaha untuk mengelola perusahaan seoptimal mungkin sehingga kinerja karyawan meningkat. Menurut Budi Setiyawan dan Waridin (2006) kinerja karyawan merupakan hasil atau prestasi kerja karyawan yang dinilai dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang ditentukan oleh pihak organisasi. Kinerja yang baik adalah kinerja yang optimal, yaitu kinerja yang sesuai standar organisasi dan mendukung tercapainya tujuan organisasi. Organisasi yang baik adalah organisasi yang berusaha meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya, karena hal tersebut merupakan faktor kunci untuk meningkatkan kinerja karyawan.

Peningkatan kinerja karyawan akan membawa kemajuan bagi perusahaan untuk dapat bertahan dalam suatu persaingan lingkungan bisnis yang tidak stabil. Oleh karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja karyawan merupakan tantangan manajemen yang paling serius karena keberhasilan untuk mencapai tujuan dan kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada kualitas kinerja sumber daya manusia yang ada didalamnya.

PT Sinar Santosa Perkasa merupakan perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang berawal dari comanditaire vennootschape (CV) yang berdiri tahun 1983 yang kemudian dijadikan Perseroan Terbatas (PT) pada tahun 2004. Penelitian ini memfokuskan pada karyawan PT Sinar Santosa Perkasa yang berlokasi di Banjarnegara karena disini pusat kegiatan manajerial dilakukan.
Kinerja karyawan yang tinggi sangatlah diharapkan oleh perusahaan terserbut. Semakin banyak karyawan yang mempunyai kinerja tinggi, maka produktivitas perusahaan secara keseluruhan akan meningkat sehingga perusahaan akan dapat bertahan dalam persaingan global.

Karyawan dituntut untuk mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya secara efektif dan efisien. Keberhasilan karyawan dapat diukur melalui kepuasan konsumen, berkurangnya jumlah keluhan dan tercapainya target yang optimal.

Kinerja karyawan PT Sinar Santosa Perkasa juga dapat diukur melalui penyelesaian tugasnya secara efektif dan efsien serta melakukan peran dan fungsinya dan itu semua berhubungan linear dan berhubungan positif bagi keberhasilan suatu perusahaan.

Terdapat faktor negatif yang dapat menurunkan kinerja karyawan, diantaranya adalah menurunnya keinginan karyawan untuk mencapai prestasi kerja, kurangnya ketepatan waktu dalam penyelesaian pekerjaan sehingga kurang menaati peraturan, pengaruh yang berasal dari lingkungannya, teman sekerja yang juga menurun semangatnya dan tidak adanya contoh yang harus dijadikan acuan dalam pencapaian prestasi kerja yang baik. Semua itu merupakan sebab menurunya kinerja karyawan dalam bekerja. Faktor-faktor yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja diantaranya adalah gaya kepemimpinan, motivasi dan disiplin kerja.
Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain (Suranta, 2002). Gaya kepemimpinan cocok apabila tujuan perusahaan telah dikomunikasikan dan bawahan telah menerimanya. Seorang pemimpin harus menerapkan gaya kepemimpinan untuk mengelola bawahannya, karena seorang pemimpin akan sangat mempengaruhi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya (Waridin dan Bambang Guritno, 2005). Perusahaan menggunakan penghargaan atau hadiah dan ketertiban sebagai alat untuk memotivasi karyawan. Pemimpin mendengar ide-ide dari para bawahan sebelum mengambil keputusan. Gaya kepemimpinan yang tepat akan menimbulkan motivasi seseorang untuk berprestasi. Sukses tidaknya karyawan

dalam prestasi kerja dapat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan atasannya (Hardini, 2001 dalam Suranta, 2002). Suranta (2002) dan Tampubolon (2007) telah meneliti pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja, menyatakan bahwa gaya kepemimpinan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan.

Motivasi adalah dorongan, upaya dan keinginan yang ada di dalam diri manusia yang mengaktifkan, memberi daya serta mengarahkan perilaku untuk melaksanakan tugas-tugas dengan baik dalam lingkup pekerjaannya (Hakim, 2006). Robbins (2006) mendefinisikan motifasi sebagai proses yang ikut menentukan intensitas, arah, dan ketekunan individu dalam usaha mencapai sasaran. Motivasi sebagai proses yang bermula dari kekuatan dalam hal fisiologis dan psikologis atau kebutuhan yang mengakibatkan perilaku atau dorongan yang ditujukan pada sebuah tujuan atau insentif (Moekijat, 2001 dalam Hakim, 2006). Beberapa peneliti telah menguji hubungan antara motivasi dengan kinerja karyawan, antara lain Suharto dan Cahyono (2005), Hakim (2006). Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja menunjukan hasil yang sama bahwa hubungan antara motivasi dengan kinerja karyawan menunjukan hubungan positif dan signifikan.

Menurut Budi Setiyawan dan Waridin (2006) disiplin sebagai keadaan ideal dalam mendukung pelaksanaan tugas sesuai aturan dalam rangka mendukung optimalisasi kerja. Salah satu syarat agar disiplin dapat ditumbuhkan dalam lingkungan kerja ialah, adanya pembagian kerja yang tuntas sampai kepada pegawai atau petugas yang paling bawah, sehingga setiap orang tahu dengan sadar apa tugasnya, bagaimana melakukannya, kapan pekerjaan dimulai dan selesai, seperti apa

hasil kerja yang disyaratkan, dan kepada siapa mempertanggung jawabkan hasil pekerjaan itu (Budi Setiyawan dan Waridin, 2006). Untuk itu disiplin harus ditumbuh kembangkan agar tumbuh pula ketertiban dan evisiensi. Tanpa adanya disiplin yang baik, jangan harap akan dapat diwujudkan adanya sosok pemimpin atau karyawan ideal sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat dan perusahaan. Menurut Budi Setiyawan dan Waridin (2006), dan Aritonang (2005) disiplin kerja karyawan bagian dari faktor kinerja. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa disiplin kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja kerja karyawan.

Berdasarkan survei pendahuluan, peneliti menemukan adanya kekurangmenaati tata tertib, ketentuan-ketentuan perusahaan yang memberatkan karyawan, disamping gaya kepemimpinan dan motivasi yang cukup tinggi. Kemudian timbul pemikiran bagaimana keseluruhan faktor tersebut saling berkesinambungan sehingga mempengaruhi kinerja karyawan.

Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian dengan judul: “Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT Sinar Santosa Perkasa Banjarnegara”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (BUKAN  pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

April 28, 2012 at 2:38 am Tinggalkan komentar

Home

Bagi Mahasiswa yang akan menyusun skripsi tesis atau pun mendapat tugas makalah. Kami memberi bantuan dengan menyediakan bahan-bahan tesis yang berguna untuk menambah referensi anda dalam penyusunan tesis.


Oleh karena itu melalui situs ini, kami menyediakan referensi ataupun rujukan dan bahan berupa tesis dan skripsi yang sudah jadi secara GRATIS yang bisa membantu mahasiswa untuk dijadikan bahan perbandingan, dan dipelajari kemudian dikembangkan sehingga menghasilkan karya tulis ilmiah yang lebih baik.
Kami menyediakan Tesis maupun Skripsi GRATIS semua sudah dalam bentuk file Ms-word. Anda hanya mengganti biaya pengetikan sesuai ketentuan.
Kami tidak bermaksud untuk mengkomersilkan Skripsi maupunTesis tersebut, akan tetapi biaya tersebut kami gunakan untuk pengembangan web baik dari aspek teknis maupun non-teknis.

Kami anti plagiat, sehingga gunakan media ini sebagai bagian dari pencarian referensi guna kelengkapan tesis dan skripsi anda.

Untuk melihat koleksi kami, silahkan klik setiap koleksi akan muncul judul-judul berdasarkan koleksi tersebut. atau jika anda ingin mendownload koleksi kami dalam bentuk file, silahkan klik download

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (BUKAN  pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

April 28, 2012 at 2:30 am Tinggalkan komentar

PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA APARATUR DAERAH DALAM PERSPEKTIF OTONOMI DAERAH…(96)

Penelitian ini dilakukan di pemerintah kabupaten Trenggalek yang dilakukan mulai 05-Pebruari sampai dengan 30-Mei 2003 atau selama 4 (empat) bulan. Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mendeskripsikan dan menganalisa persiapan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek dalam menghadapi pelaksanaan otonomi daerah. 2) Mendeskripsikan dan menganalisa proses pemberdayaan Sumber Daya Aparatur yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek.

Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode survei (Survey Method) dengan teknik pengambilan data yaitu dengan wawancara sedangkan data yang diambil adalah data primer dan data sekunder.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Persiapan Pelaksanaan Otonomi Daerah dengan kesiapan sumber daya aparaturnya, sebagai aparat birokrasi pemerintahan yang menyelenggarakan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat di jajaran Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. 2) Upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh Pemerinatah Kabupaten Trenggalek adalah dengan melakukan 1) Pendidikan dan Pelatihan bagi para aparatur, 2). Penataan kelembagaan 3). Melihat kemampuan Sumber Daya, Aparatur. 3) Melalui penataan kelembagaan akan tercipta suatu pembagian tugas dan kewenangan yang jelas, sehingga akan memberikan dorongan dan kesempatan pada aparatur Untuk berinisiatif secara aktif memikirkan dan menyelesaikan sendiri tugas-tugasnya. 4) Kemampuan aparatur merupakan refleksi dari pemberdayaan. Peningkatan kemampuan aparatur pada gilirannya akan meningkatkan citra aparatur di masyarakat.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (BUKAN  pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

April 27, 2012 at 11:42 pm Tinggalkan komentar

Analisis Dimensi Penilaian Prestasi Kerja Karyawan Bank Syariah Mandiri Di Wilayah …… 128

Berdasarkan gambaran penilaian prestasi kerja yang telah diberlakukan di perusahaan Bank Syariah Mandiri, penelitian ini bertujuan untuk mencari beberapa faktor penilaian yang dianggap relevan dan representatif sesuai dengan dimensi perilaku karyawan dan tugas kerja di perusahaan. Ada sepuluh variabel atau faktor penilaian yang selama ini telah diberlakukan, yaitu (1) transaksi harian, (2) pelayanan nasabah, (3) budaya sifat, (4) kualitas kerja, (5) keandalan, (6) pemecahan masalah, (7) inisiatif, (8) kerja sama, (9) komunikasi, dan (10) kedisiplinan. Dari masing- masing variabel memiliki sejumlah antara 2 hingga 4 indikator untuk menguji tingkat validitasnya.


Populasi dari penelitian ini adalah seluruh karyawan perusahaan Bank Syariah Mandiri mulai dari jabatan manajer ke bawah yang terbagi pada sejumlah lokasi, yaitu Bank Syariah Mandiri Cabang Surabaya, Malang, Pamekasan, dan tiga cabang pembantu di Surabaya, yaitu di Sidoarjo, Gresik, dan kawasan Ampel Surabaya. Jumlah total populasi yang digunakan dan sesuai dengan persyaratan dalam penelitian ini berjumlah 75 orang. Instrumen yang digunakan merupakan konstruksi dari peneliti dengan bentuk skoring antara angka 0 hingga 10, semakin sering melakukan maka prestasi kerjanya akan mendekati angka tertinggi dan semakin jarang melakukan akan mendekati angka terendah.

Data hasil survey dalam penelitian ini kemudian diolah dengan menggunakan SPSS versi 10.01. hasil uji keandalan alat ukur yang menggunakan metode alpha cronbach (a) masing-masing variabel memiliki angka > 0.60. Sedangkan hasil uji validitas analisis faktor, dari 10 komponen menjadi 7 komponen sesuai dengan syarat eigenvalue di atas angka 1, sehingga 7 komponen tersebut mengubah istilah dan nama dari variabel atau faktor penilaian sebelumnya menjadi: (1) transaksi harian, (2) keandalan dan komunikasi, (3) kualitas kerja, (4) inisiatif dan kerja sama, (5) budaya kerja, (6) potensi diri, dan (7) pemecahan masalah. Dari 7 komponen menunjukkan bahwa persentase variansi sebesar 80.385 %. Artinya ketujuh komponen ini dapat menjelaskan sebanyak 80.385 % dari seluruh makna yang terkandung di dalam data yang ada dalam penelitian ini.

Dari ketujuh faktor penilaian yang telah diketahui, maka faktor tersebut dianalisis dengan menggunakan metode behavioral anchored rating scale (BARS) yang menjelaskan dimensi perilaku seseorang yang terkait dengan pekerjaannya, termasuk standarisasi dan pengukurannya.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (BUKAN  pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

April 27, 2012 at 11:42 pm Tinggalkan komentar

Studi Perbandingan Prestasi Belajar Biologi Antara Siswa Yang Di Beri Pelajaran Dengan Metode Laboratorium Dan Metode Ceramah Di …(127)

Mata pelajaran biologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari seluk-beluk makhluk hidup ( Anwar 1984 ). Biologi merupakan suatu ilmu yang murni yang paling fleksibel, biologi merupakan suatu dasar bagi dunia pengetahuan yang lain dan juga sebagai ilmu terapan, misalnya : Ilmu Kedokteran, Ilmu Farmasi, Ilmu Peternakan, Ilmu Pertanian, dan Ilmu Kedokteran Hewan.


Mata pelajaran biologi telah diberikan mulai dari tingkat rendah ( SD ) sampai ke sekolah lanjutan dengan maksud agar siswa terlibat dalam proses belajar mengajar secara aktif dan kreatif.
Selain itu mata pelajaran biologi juga memenuhi kebutuhan dan minat siswa, baik melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi maupun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun pengajaran biologi di MTs/SMP bertujuan agar siswa menguasai konsep-konsep IPA dan saling keterkaitannya sikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan penciptaNya.

Menurut kurikulum Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Umum Tingkat Pertama adalah sebagai berikut :
Pengajaran biologi juga mengembangkan sikap, nilai dan ketrampilan antara lain:
1. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan untuk dapat memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep IPA
2. Mengembangkan sikap dan nilai.
3. Menanamkan sikap ilmiah kepada siswa dan melatih siswa untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya secara ilmiah.
4. Menyadarkan siswa akan pentingnya menjaga kelestarian alam lingkungan dan daya sumber alam.
5. Menyadarkan siswa akan keteraturan alam dan keindahannya sehingga siswa mencintai dan mengagungkan penciptaNya.
6. Memberikan pengetahuan dasar pada siswa untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
7. Mengembangkan kecerdasan dan kreatifitas siswa.

1. Peran Guru Dalam Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar keberhasilannya sangat ditentukan oleh adanya kerjasama antar guru dan murid, sebenarnya dalam proses belajar mengajar, merupakan interaksi kerjasama antar guru dan murid. Sering kita dengar, bahwa metode apapun yang dipakai oleh guru namun keberhasilanya lebih banyak ditentukan oleh guru dan murid. Guru yang pandai menggunakan metode tidak akan mencapai hasil pengajaran yang diinginkan kalau muridnya tidak mempunyai kemampuan belajar, tetapi sebaliknya guru akan memperoleh hasil pengajaran yang efektif jika guru dan muridnya sama mempunyai kemauan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Sepintas lalu pendapat tersebut ada benarnya, sebab dalam proses belajar mengajar pasti didalamnya mengandung unsur metode sebagai alat pendekatnya dan metode tersebut cukup memberikan arti.

Maka dari itu guru dituntut untuk mempunyai kemampuan memilih metode yang tepat serta mampu menguasai bagaimana menggunakannya untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Menurut Amir Dain Indra Kusuma dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Pendidikan mengatakan bahwa : Guru mempunyai dua fungsi yaitu mendidik dan mengajar. Kedua tugas tersebut secara praktis tidak bisa dipisahkan, tapi secara teoritis pengertian mengajar tidak sama dengan mendidik. Mengajar adalah menyerahkan atau menyampaikan ilmu pengetahuan ataupun ketrampilan dan lain sebagainya kepada orang lain dengan menggunakan cara-cara tertentu, sehingga pengetahuan ataupun ketrampilan dan sebagainya itu dapat menjadi milik orang tersebut, sedang mendidik adalah terletak pada tujuan pendidik itu, berusaha untuk membawa anak kepada nilai-nilai luhur, kepada norma-norma susila (Kusuma, 28).
Dari pendapat tersebut, jelaslah bahwa mengajar dan mendidik merupakan dua pengertian yang tidak dapat dipisahkan, hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan manusia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila.

Mendidik disamping sebagai ilmu juga sebagai suatu seni, yang dimaksud adalah keahlian di dalam menyampaikan materi pengajaran. Metode mengajar itu sendiri mempunyai kedudukan sebagai berikut :
1. Salah satu cara atau alat untuk mencapai tujuan pengajaran.
2. Merupakan salah satu komponen dalam proses mngajar.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan :
1. Mata pelajaran biologi terkandung nilai-nilai luhur didalammya dan mempunyai peran yang sangat urgen dalam pendidikan nasional. Sehingga perlu dicari pendekatan yang efektif dalam memberikan pelajaran biologi agar siswa mengerti dan memahami sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi lagi.
2. Pendidikan dan pengajaran banyak ditentukan oleh faktor guru, hal tersebut erat hubungannya dengan pemilihan dan penggunaan metode sebagai alat pendekatannya untuk mencapai tujuan pengajaran.
Dari bermacam-macam metode yang perlu diadakan penelitian, metode mana yang dipandang paling efektif untuk menyampaikan suatu materi pelajaran. Sedang yang sering dipakai adalah metode ceramah dan metode laboratorium yang dalam hal ini usaha penulis untuk diketahui mana yang lebih efektif dari kedua metode tersebut.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (BUKAN  pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

April 27, 2012 at 11:41 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kalender

Desember 2017
S S R K J S M
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category