ANALISIS PENGARUH FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL TERHADAP TINGKAT UNDERPRICING PADA PENAWARAN UMUM PERDANA DI BURSA EFEK JAKARTA (201)

Juni 17, 2012 at 5:43 am Tinggalkan komentar

Kebutuhan modal suatu perusahaan akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan perusahaan, hal ini mengharuskan pihak manajemen untuk memperoleh tambahan dana baru. Jika manajemen memutuskan  untuk   menambah  jumlah   kepemilika saha mak dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain menjual kepada pemegang saham yang  sudah  ada,  menjual langsung  kepada  pemilik tunggal  secara  privat (private placement), menjual kepada karyawan melalui ESOP (employee stock ownership plan), menambah saham melalui dividen yang tidak dibagi (dividen reinvestment plan), atau menawarkan kepada publik (Brigham, 1993). 



Sebelu perusahaan   menawarkan   sahamny di   pasar   sekunder (secondary market), perusahaan harus melalui tahap penawaran saham pada pasar  perdana (primary  market) yang  lebih  dikenal sebagai  Initial  Public Offering (IPO) atau go-public. Perusahaan akan melakukan go-public apabila dengan  melakukan gopublic  tersebut perusahaan  akan memperoleh keuntungan (Brigham,  1993). Harga yang ditawarkan pada pasar penawaran perdana (IPO) belum memilikiharga pasar sekunder. Di dalam kegiatan  penawaran  umuperdana  (IPO)  terdapat  suatu fenomena menarik yang disebut dengan underpricing dimana harga  saham yang ditawarkan pada pasar perdana lebih rendah dibandingkan dengan harga saham  ketika diperdagangkandi pasar sekunder. Fenomena underpricing didalam  IPO ini  dikenal hampir  diseluruh  dunia.  

Dari  beberapa  penelitian menunjukan  bahwa underpricing terjadi  hampir  pada setiap  pasar  efek  di seluruh dunia, Amerika  Serikat (Ritter, 1991),  Kuala Lumpur (Ranko  dkk, 1998),  Korea  (Kim  dkk,  1993), Hongkong  (Mc Guinnes,  1992),  serta  di Australia (How, 1995 dan Lee dkk, 1996) dalam H.I. Dianingsih (2003). Hal ini juga  terjadi pada pasar efek di Indonesia. Penelitiandari Suad  Husnan (1996) dalam  Ghozali  dan  Mudrik  (2002) menunjukkan bahwa penawaran saham   perdan pad perusahaanperusahaa privat   maupun  BUMN  di Indonesia   umumny mengalamunderpricing. 


Secara  mendasar  underpricing  disebabkan  oleh  kepentingan  dari pihak-pihak yang terkait dalam penawaran saham perdana.  Harga saham yang dijual di pasarperdana ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penjamin emisi (underwriter) dan emiten (issuers), sedangkan harga di pasar sekunder ditentukan oleh mekanisme permintaandan penawaran (Sunariyah, 2004).


Berbagai   macam  teori   telah   dikemukakan  oleh  para  ahli   untuk menjelaskan penyebab terjadinya fenomena underpricing. Ritter (1984) dalam Ernyan  dan  Husnan (2002),  menyatakan  bahwa  pada penawaran  saham perdana, saham-saham  yang beresiko  tinggi  akan  mengalami  underpricing yang lebih  besadaripada  saham  yang beresiko  rendah.  Baron  (1982) menawarkan    hipotesis Asimetri Informasi  yang menjelaskan  bahwa underpricing  diakibatkan  oleh  adanya perbedaaan  informasi  yang dimiliki oleh   pihak-pihak  yang  terlibat  dalam penawaran  perdana,  yaitu  emiten (perusahaan   yang  melakukan   IPO),   penjamin  emisi   (underwriter),   dan masyarakat pemodal(investor). Underwriter memiliki informasi tentang pasar yang  lebih  lengkap  daripada  emiten  sedangkan  terhadap calon investor, penjamin emisi memiliki informasi yang lebih lengkap tentang kondisi emiten. Semakin besar asimetri informasiyang dihadapi oleh investor maka semakin besar resiko yang ditanggung oleh  investor, sehingga semakin besar tingkat keuntungan  yang  diharapkan  oleh  investor   dalam  melakukan penawaran perdana.


Menurut Morris (1987) dalam Haryanto (2003), mengemukakan teori lain yang  dapat digunakan  untuk menjelaskan   penyebab terjadinya underpricing yaitu teori Signaling.  Teori ini menjelaskan bahwa pada saat melakukan   penawaran  umum calon   investor   tidak  sepenuhny dapat membedakan antara perusahaan yang berkualitas baik dan perusahaan yang berkualitas  buruk.  Perusahaan  yang berkualitas  baik  dengan  sengaja  akan memberikan  sinyal  pada  pasar,  dengan demikian  pasar diharapkan  dapat membedakan antara  perusahaan  yang  berkualitas baik  dengan  perusahaan yang berkualitas buruk.Bentuk dari sinyal positif yang disampaikan kepada pasar  dapa berupa penggunaan underwriter  yang berkualitas, besarnya proporsi saham yang ditahan, nilai penawaran saham, dan informasi akuntansi lainnya. Dalam memberikan sinyal kepada pasar, perusahaan berkualitas akan berusaha sebaik mungkin untuk menggunakan sinyal yang efektif dan tidak mudah ditiru oleh perusahaan lainnya.


Harga  saham  yang  ditawarkan   pada  saat   melakukan   penawaran perdana merupakan faktor penting  dalam menentukan berapa besar  jumlah dana  yang diperoleh  perusahaan (emiten).  Pada penjualan  saham  perdana, perusahaan  akan menerima  uang  tunai  dan keuntungan  dari  selisih  harga nominal saham dengan harga saham pada pasar perdana (Arifin,2004). Harga saham pada  dasarnya merupakan  pencerminan  besarnya pengorbanan yang harus  dilakukan  oleh  setiap investor  untuk penyertaan  dalam perusahaan. Permasalahannya adalah perusahaan tidak  ingin  menawarkan  saham perdananya dengan  harga  yang  terlalu  underpriced (harga  terlalu  rendah) kepada  calon   investor  dengan   tujuan  mengumpulkan  dana lebih  besar, sedangkan  investor  menginginkan  untuk memperoleh imbalan  dari resiko ketidakpastian yang terdapatdalam pembelian saham perdana.


Informasi  merupakan  suatu  kebutuhan  yang  sangat  penting  bagi investor  dalam mengambil keputusan  untuk  melakukan  investasi  pada penawaran  saham perdana  (Sunariyah,  2004).  Beberapa hal  menimbulkan ketidakpastian  bagi  calon investor  dalam mengambil  keputusan  investasi seperti keraguan atas kinerja dan nilai perusahaan yang sebenarnya, saham yang belum memiliki track record (sejarah), dan isu-isu berkembang seputar penawaran perdana.  Ketidakpastian tersebut menimbulkan resiko bagi  para investor  dalam  melakukan  investasi  pada saham  perdana.  Semakin  tinggi resiko yang dihadapi oleh investor  maka semakin tinggi ekspektasi investor untuk memperoleh keuntunganyang besar dalam melakukan investasi pada penawaran  perdana  (Arifin, 2004).  Informasi  yang dapat digunakan  oleh investor   dalam  pengambilan  keputusan investasi  dapat  berupa informasi akuntansi (kuantitatif)  yang  menjelaskan  kinerja perusahaan  dan informasi non  akuntansi   (kualitatif)   seperti underwriter   (penjami emisi), auditor independen, konsultan hukum, nilai penawaran saham, persentase saham yang ditawarkan, umur perusahaan,jenis industri dan informasi kualitatif lainnya. 


Underwrite sebagai  pihak   luar   yang   menjembatani   kepentingan emiten dan investor diduga  berpengaruh terhadap tinggi  rendahnya  tingkat underpricing (Balvers,  1989). Penjamin  emisi (underwriter)  dapat  berupa perusahaan  swastatau  BUMN   yang  menjadi   penanggung   jawab  atas terjualnya  efek  emiten kepada investor.  Underwriter memperoleh  komisi berdasarkan persentase dari nilai saham yang terjual. Underwriter dinilai oleh investor berdasarkan kemampuannya  untuk memberikan penawaran dengan initial return yang tinggi bagi para investor. Apabilaunderwriter gagal, makaakanmempengaruhi reputasinya di mata investor, sehingga dapat menghambat perusahaan penjamin emisi  untuk  memperoleh  transaksi  potensial  di  masa depan. Namun underwriter juga tidak dapat menentukan harga perdana yang terlalu underprice  dikarenakan emiten menginginkan dana hasil penawaran perdana yang besar dan underpricing merupakan biaya yang harus ditanggung oleh emiten.


Penentuan  harga  saham   perdana  ditentukan  oleh  emiten dan underwriter. Underwritesebagai  pihak  penghubung  antara  emiten  dan investor berperan penting dalam menentukan harga perdana sahspan style=”letter-spacing: 0.1pt;”>am (Carter dan Manaster,  1990).  Ketika  perusahaan yang  ditawarkan  mempunyai  tingkat ketidakpastianyang tinggi, maka tingkatunderpricing akan semakin tinggi. Hal  in dilakukan  oleh underwriter  untuk  memberikan  kompensasi  bagi investor yang bersedia untuk menanggung resiko tinggi dalam ketidakpastian investasi   tersebut.   Kim   dkk  (1993)  menyatakan   bahw emiten   yang menggunakan  penjamin  emisi  yang  berkualitas atau bereputasi baik akan mengurangi resiko yang tidak  dapat diungkapkan oleh informasi prospektus dan  menandakan bahwa  informas privat  dari  emiten mengenai  prospek perusahaan   di   masa   mendatan tidak  menyesatkan.   Kim  dkk   (1993) membuktikan bahwa reputasi penjamin emisi memiliki hubunganyang negatif dan signifikan dengan tingkatunderpricing. Penelitian ini didukung juga oleh Wolf dan Cooperman,  Chalk  dan Pearry (1986) dan Beatty  (1989);  dalam How(1995). Hal ini  bertentangan dengan penelitianTrisnawati (1998) yang menyatakan bahwa  hubungantersebut  tidak signifikan  dan Daljono (2000) yang menemukan hubungan positif. 


Umur  perusahaan  merupakan  hal  yang  dipertimbangkan  investor dalamenanamkan  modalnyaUmur   perusahaan   menunjukkan   bahwa perusahaan sudah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk bertahan dari persaingan  bisnis. Beatty  (1989) menunjukan  hubungan  statistis  signifikan positif. Hal ini didukungoleh Trisnawati (1998). Sedangkan How (1995) dan Henny Irnawan (2002) menunjukanhasil yang negatif. 


Ukuran   perusahaan  (size)  dapat digunakan  sebagai proksi ketidakpastian  (uncertainty ex-ante)  terhadap keadaan  perusahaan  dimasa yang akan  datang.  Ukuran  perusahaan diukur  dengan  menggunakan total aktivperusahaan  pada  periode  terakhir  sebelum melakukan  penawaran perdana. Kim dkk (1993) menunjukkan hubungan yang negatif antaraukuran perusahaan dengannilai dimasa yang akan datang, namun Indriantoro (1998) dan Nasirwan  (2002)  tidak menemukan  hubungan  yang  signifikan antara ukuraperusahaan dengan   tingkat   underpricing. Rufnialfian (1999) menemukan  bahwa  ukuran perusahaan berpengaruh  positif  terhadap  initial return.


Nilai   penawaran   saham   yang   ditawarka kepada   publik   dapat memberikan informasi mengenai kebutuhan keuangan perusahaan. Kebutuhan akan dana yang besar menunjukkan bahwa perusahaan sedangberkembang da memiliki  kinerja   yang   tinggi,   sehingga  dapat   mengurangi   tingkat ketidakpastian  bagi investor  dalam  melakukan  investasi  pada perusahaan. Sebelum saham  memasuki pasar  sekunder,  semakin  besar  nilai  penawaranmak tingka ketidakpastian  akan  semakin   kecil  (Christ dkk,   1996). Penelitian ini didukungoleh Chalk dan Pearry (1986), Wolf dan Cooperman, serta   Beatty   (1989)  dalam  Ho (1995).   Namun  bertentangan   dengan Trisnawati (1998) dan Daljono (2000) yang menunjukan hasil tidak signifikan. 


Financia leverag secara   teoritis   menunjukan   resiko   sehingga digunakan sebagai proksi ketidakpastian (Trisnawati, 1998). Kim dkk (1993) menemukan hubungan  yang signifikan  positif antara financial leverage dan initial return, halini didukung oleh How (1995) namun bertentangan dengan Hedge dan Miller (1996) yang menunjukan hasil signifikan negatif. 


Fractional    holding    merupakan     persentase     dari     jumlah saham perusahaan yang ditahan oleh pemegang saham sebelumnya. Jumlah saham yang  ditahan  dapat dijadikan suatu  indikasi bahwa perusahaan  memiliki informasi  mengenai  nilai saham dimasa  yang akan  datang.  Grinblat dan Hwang (1989)  dalam  Sumarso (2003) menyatakan bahwa untuk  mengatasimasalah  asimetri informasi, perusahaan (issuers)  akan  memberikan sinyal pada pasar dengan cara menahan sebagiansahamnya pada penawaran perdana. Menurut H.I.  Dianingsih   (2003)   besarnya saham  yang  ditahan memiliki pengaruh yang negatif terhadap tingkat underpricing. 


Dari uraiantersebut terdapat ketidak konsistenan dari hasil penelititan baik dari luar  negeri maupun Indonesia.  Hal  ini  menunjukkan  perlunya dilakukan   penelitian kembali  terhadap faktorfaktor  yang mempengaruhi tingkat underpricing  pada penawaran saham perdana. Maka dari itu, penulis tertarik untuk menulis skripsi dengan judul ”Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental   Terhadap   Tingkat  Underpricin Pada   Penawaran   Umum Perdana di Bursa Efek Jakarta.



Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (BUKAN  pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Analisis Kinerja Keuangan Pendekatan Altman dan Pengaruhnya Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Jasa Go Public di Bursa Efek Jakarta (202) ANALISIS PENGARUH CUSTOMER SATISFACTION, SWITCHING COST, DAN TRUST IN BRAND TERHADAP CUSTOMER RETENTION(Studi Kasus: Produk Kartu Seluler Prabayar simPATI Wilayah Semarang) (200)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Juni 2012
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: