Kehidupan Sosial, Budaya dan Ekonomi Masyarakat Nelayan” (Studi pada Masyarakat Nelayan Desa Pangerungan Besar Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep Madura) (118)

Mei 17, 2012 at 10:47 am Tinggalkan komentar

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Indonesia dikenal sebagai bangsa maritim yang memiliki pantai terpanjang di
 dunia, dengan garis pantai lebih 81.000
km. Dari 67.439 desa di Indonesia, kurang
 lebih 9.261  desa dikatagorikan sebagai desa pesisir. Desa desa pesisir
adalah   kantong   kantong 
 kemiskinan   struktural   yang   potensial.   Kesulitan mengatasi masalah kemiskinan di desa desa pesisir telah menjadikan penduduk
di kawasan  ini  harus  menanggung  beban  kehidupan  yang  tidak  dapat  dipastikan
kapan  masa
 berakhirnya.  Kerawanan  dibidang
 sosial-  ekonomi
 dapat
 menjadi lahan subur bagi timbulnya kerawanan- kerawanan
dibidang kehidupan yang lain.

Di  samping  sebagai
 Negara  maritim
 Indonesia  juga  merupakan
 negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau dan 81.000 Km garis pantai, dimana  sekitar  70  %  wilayah
 teritorialnya  berupa  laut.  Selain
 beberapa
 pulau
besar, sebagian besar dari 17.508
pulau itu adalah pulau- pulau kecil yang tidak berpenghuni. Bahkan
hanya 5.700 yang mempunyai nama. Ada pula pulau- pulau kecil yang dihuni
 penduduk,  meskipun
jumlahnya sedikit.Dengan
perairan  laut seluas 
total  5,8  juta  Km2 
(berdasarkan konvensi
 PBB
 tahun  1982),  Indonesia menyimpan   potensi   sumberdaya  
 hayati   dan 
 non 
 hayati 
 yang   melimpah (Simanungkalit          dalam
   Resosudarmo,   dkk.,2002).             Hal        ini          menyebabkan sebahagian  besar   masyarakat   tinggal  dan  menempati  daerah  sekitar wilayah pesisir dan menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Jumlah
 nelayan  perikanan
 laut  di
 Indonesia  menurut
 kategori
 nelayan maka  status  nelayan
 penuh
 merupakan
 jumlah
 terbesar  dari  nelayan
 sambilan
utama  maupun   nelayan
 sambilan
 tambahan  dan  jumlah  ini  setiap  tahunnya
menunjukkan peningkatan (Dirjen Perikanan Tangkap, 2002). Hal ini mempunyai indikasi bahwa  jumlah nelayan
 yang cukup besar ini merupakan suatu potensi yang besar dalam pembangunan perikanan.
Masyarakat  nelayan
 harus
 menggali
 dan
 mengembangkan
 berbagai potensi  sosial-  budaya  yang
 dimiliki  dan  berakar
 kuat
 dalam  struktur  sosial mereka, seperti pranata-
pranata atau kelembagaan yang ada, jaringan
sosial, dan sebagainya, sehingga
masyarakat nelayan bisa keluar dari kemiskinan struktural.
Keberadaan  kehidupan  nelayan selama ini dihadapkan dengan
 sejumlah permasalahan  yang  terus  membelitnya,  seperti
 lemahnya  manajemen
 usaha, rendahnya   adopsi   teknologi   perikanan,   kesulitan   modal   usaha,   rendahnya pengetahuan pengelolaan sumberdaya perikanan,
rendahnya peranan
masyarakat dalam   proses 
 pengambilan   keputusan,   dan 
 lain 
 sebagainya   mengakibatkan kehidupan
nelayan dalam realitasnya menunjukkan kemiskinan.
Kemiskinan,  rendahnya  pendidikan  dan  pengetahuan
 serta  kurangnya informasi sebagai akibat keterisolasian pulau-pulau kecil merupakan karakteristik dari 
 masyarakat   pulau-pulau   kecil.   Hasil   pembangunan   selama   ini   belum dinhkmati oleh
 masyarakat yang tinggal di kawasan pulau terpencil. Masyarakat diletakkan sebagai obyek
pembangunan dan bukan sebagai subyek pembangunan, dengan   demikian 
 dibutuhkan   perhatian   dan 
 keinginan   yang 
 tinggi 
 untuk
memajukan  kondisi  masyarakat  pesisir  khususnya  nelayan
 sebagai  pengelola
sumberdaya pulau-pulau kecil agar dapat berlangsung secara lestari.
Penyelenggaraan Otonomi Daerah yang mandiri dan bertanggung jawab, diperlukan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mendayagunakan
secara efektif kekayaan alam bagi kemakmuran rakyat. Dalam kaitan
ini, pengembangan masyarakat pantai merupakan bagian integral dari pengelolaan sumber pesisir dan lautbagi            kemakmuran   masyarakatnya,
 sehingga  perlu  digunakan   suatu pendekatan   dimana   masyarakat   sebagai   obyek   sekaligus   sebagai   subyek pembangunan.
Ketertinggalan
 dalam
 strategi
 pengembangan  masyarakat  pantai,
 tidak
hanya 
 dilihat  sebagai  masalah
 sosial
 dan  budaya
 sehingga  perlu  perubahan ekstrem  dalam
 sistem
 sosial
 atau
 nilai-nilai  budaya,  melainkan  lebih  sebagai
masalah
 integral.  Oleh   karena  itu,  penyelesaiannya
 perlu
 dilakukan  melalui strategi yang komprehensif dengan menempatkan sistem sosial-ekonomi dan nilai budaya
 yang
 sudah  melekat
 didalam   masyarakat
 sebagai  faktor  pendorong perubahan. Selain itu, peningkatan produktivitas masyarakat pantai lebih menjadi sasaran   dalam 
 proses 
 pembangunan   guna   memajukan   kesejahteraan   serta menyongsong kemandirian daerah
secara berkelanjutan.  Perkembangan ini pada muaranya akan meningkatkan harkat
sumber daya manusia,
 kualitas dan sistem atau pranata sosial masyarakat.
Masyarakat nelayan selama kurang
lebih 32 tahun kekuasaan Orde Baru hampir          sama     sekali     tidak             mendapatkan     sentuhan
 
kebijakan-kebijakan pembangunan ekonomi. Persoalannya adalah
pengambil kebijakan di negeri ini belum
 memahami   secara 
 komprehensif   apa 
 sebenarnya  
akar   permasalahan kemiskinan
nelayan. Tingkat sosial ekonomi yang rendah merupakan
ciri umum kehidupan nelayan dimana pun berada. Tingkat kehidupan mereka sedikit di atas pekerja migrant atau setaraf dengan
petani kecil. Bahkan jika dibandingkan secara seksama
dengan kelompok  masyarakat lain            disektor             pertanian,  nelayan
(khususnya  nelayan  buruh  dan  nelayan  kecil
 atau
 nelayan  tradisional)  dapat
digolongkan sebagai
lapisan sosial yang paling miskin.
Pembangunan     perikanan  memang  seperti  paradoks. Sumber daya perikanan  yang  potensial
 dan
 mampu  menggenjot  penerimaan  ekonomi  yang
tinggi
 ternyata
 tidak  tercermin  dari  kesejahteraan  para  pelaku  perikanan  itu sendiri.
Nelayan
Indonesia masih tergolong kelompok masyarakat miskin dengan
pendapatan per kapita per bulan sekitar 7-10 dollar AS.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pt Sinar Santosa Perkasa Banjarnegara (199) Perbandingan Nilai Tambah Dan Keuntungan Berbagai Produk Olahan Pangan Pada Kube Teratai (Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo) (119)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: