Strategi Pengembangan Agribisnis kopi arabika di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan …(107)

April 18, 2012 at 3:21 pm Tinggalkan komentar


Jenis kopi yang pertama dimasukkan ke Indonesia adalah kopi arabika (Coffea arabica) tahun 1696 – 1699 yang menyebar ke P. Jawa. Selama seabad kopi arabika merupakan satu-satunya komoditi komersiil yang ditanam Belanda di Indonesia. Kemudian mengalami serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) tahun 1876, akibatnya kopi arabika hanya ditanam di daerah dengan ketinggian diatas 1.000 m dpl, dimana serangan penyakit karat daun tidak begitu menghebat. 

Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor andalan sub sektor perkebunan yang mempunyai peranan cukup besar dalam menghasilkan devisa negara dan sumber pendapatan petani. Devisa yang dihasilkan tahun 1995 mencapai 606.396 US $ dari ekspor sebanyak 230.201 ton kopi. Sampai tahun 1996 luas pertanaman kopi di Indonesia mencapai 1.178.363 Ha dengan produksi 478.581 ton. Dari total luas areal tersebut 1.120.147 Ha (95,06%) dikelola oleh rakyat sedangkan 25.616 Ha dikelola oleh Perkebunan Besar Negara dan 32.600 Ha oleh Perkebunan Besar Swasta.
Produksi kopi Indonesia didominasi kopi robusta (90%) padahal pangsa pasarnya tidak lebih 30%, sedang jenis kopi arabika yang dipasaran Internasional mempunyai pangsa pasar sekitar 70%, justru masih relatif sedikit ditanam, padahal harga jualnya relatif lebih tinggi. 

Kopi arabika di Indonesia dengan luasan hanya 3,6% dari luas areal kopi, sedang ditinjau letaj geografisnya adalah merupakan daerah potensi tanaman kopi robusta dan arabika.
Produktivitas kopi rata-rata masih rendah, yaitu sekitar 564 Kg/Ha. Selain itu kopi Indonesia umumnya dikenal mempunyai cita rasa yang rendah. Peningkatan produksi kopi dapat dilakukan melalui intensifikasi pengelolaan kebun yang sudah ada, konversi dari komoditas lain menjadi kopi, serta pengembangan kopi di lahan baru. Upaya tersebut perlu didasari dengan pengetahuan persyaratan lahan, teknis budidaya, maupun cara pengolahan yang tepat agar diperoleh mutu hasil yang baik, sehingga pekebun dapat memperoleh harga yang tinggi. Salah satu penyebab rendahnya produksi kopi arabika di Indonesia adalah belum tersedianya bahan tanam (varietas) unggul tahan serangan penyakit karat daun, sehingga kopi arabika hanya dapat tumbuh optimal apabila ditanam di atas ketinggian 1.000 m dpl.
Kabupaten Magetan dengan luas wilayah 688,85 Km2 memiliki topografi dataran sampai pegunungan. Luas areal tanaman kopi arabika di Kecamatan Poncol tahun 2000 seluas 354,5 Ha dengan produktivitas 400 Kg/Ha, sedang total luas areal kopi arabika di Kabupaten Magetan mencapai luas 699 Ha, sedang potensi lahan yang ada sesuai agroklimat tersedia lahan pengembangan 1.131 Ha. Secara umum agroklimat di kawasan lereng Lawu khususnya Kecamatan Poncol, mempunyai karakteristik kondisi iklim sebagai berikut :
a. Elevasi (tinggi tempat) : 700 – 1.200 m dpl
b. Suhu rata – rata : 18 – 23oC
c. Curah hujan : 1.750 – 2.700 mm / tahun
d. Hari hujan : 137 – 146 hari / tahun
e. Bulan basah rata – rata : 6 – 8 bulan / tahun 
Didalam pengembangan kopi arabika di Kecamatan Poncol mempunyai prospek yang baik, terutama terpenuhinya syarat tumbuh tanaman (tanah dan iklim), tersedianya lahan, sarana produksi dan tenaga kerja serta pemasaran hasil. Namun masih dijumpai berbagai kendala antara lain produksi, manajemen dan permodalan.
Agar keunggulan Kopi Arabika dapat memberikan kontribusi yang maksimal terhadap peningkatan kesejahteraan petani maka perlu kiranya dikaji hambatan dan kelemahan didalam pengembangan kopi arabika tersebut. 
Mengingat tanaman kopi arabika adalah tanaman tahunan, sehingga tidak semudah tanaman semusim untuk dilakukan perubahan apabila terjadi kerugian didalam berusahataninya. Untuk itu strategi pengembangannya harus dirumuskan secara cermat agar tujuan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dapat tercapai.
Strategi pengembangan merupakan salah satu faktor yang amat penting bagi suatu pengembangan. 
Membuat strategi dipergunakan sebagai bijakan dan petunjuk dalam rangka mencapai tujuan dan juga memungkinkan bagi pengambil kebijakan digunakan untuk mengukur bagaimana program pengembangan yang dibutuhkan dalam menciptakan nilai pada saat ini dengan tetap mempertimbangkan kepentingan pada masa yang akan datang.
Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Strategi Pengembangan Agribisnis kopi arabika di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Analisis Strategi Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis Melalui Penguatan Modal Usaha Kelompok Tani Di Kabupaten Blitar…(93) Analisis Pengembangan Agribisnis Kelapa Sawit Di Kabupaten Kutai Timur (113)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2012
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: