Analisis Nilai Tambah Dan Margin Pemasaran Agribisnis Melinjo ( Studi Di Kecamatan … Kabupaten … )

Januari 23, 2008 at 7:34 am 1 komentar

Salah satu ciri strategi pembangunan yang harus dimiliki Indonesia yang mempunyai potensi sebagian besar dari sektor pertanian adalah kebijaksanaan pembangunan yang menjaga keterkaitan antara sektor pertanian yang menjaga keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor industri dalam bentuk AgroindustriAgroindustri akan mempunyai manfaat ekonomis yang besar apabila berlokasi di daerah pedesaan yang berlandaskan pada tersedia dan terpenuhinya sumberdaya lahan serta tersedianya sumber daya tenaga kerja.
Manfaat ekonomis dari agroindustri adalah 1) meningkatkan kesempatan kerja di pedesaan. 2). Meningkatkan nilai tambah. 3). Meningkatkan pedapatan bagi petani, dan 4) Meningkatkan mutu hasil produksi pertanian yang pada gilirannya dapat memenuhi syarat memasuki pasar Luar Negeri. Pengembangan Agroindustri sebagai suatu sub sistem dalam agroindustri mempunyai prospek yang cukup cerah di Kabupaten …, terutama jika dilihat dari potensi wilayah, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya cukup mendukung. Selain itu laju permintaan terhadap hasil agroindustri emping mlinjo akan terus bertambah di tahun mendatang sejalan dengan meningkatnya tingkat konsumsi di dalam negeri maupun di luar negeri.
Potensi tanaman melinjo pada tahun 2000 di Kabupaten … seluas 449,5 ha dan berkembang menjadi 174,5 ha pada tahun 2001, dengan produktifitas perpohon adalah 34 kg / tahun. Sedangkan produktifitas yang diharapkan perpohon adalah 60 kg / tahun, hal ini menunjukkan bahwa produktifitas tanaman melinjo di Kabupaten … masih rendah dibanding produktifitas potensi yang ada. Rendahnya produktifitas ini antara lain disebabkan :
1.Sistem usaha tani melinjo masih tradisional dan belum berorientasi komersil.
2.Jumlah tanaman belum menghasilkan lebih besar dibanding dengan tanaman yang menghasilkan.
Daerah produksi melinjo di Kabupaten … menyebar pada 15 kecamatan dan untuk tanaman melinjo paling baik Kecamatan …, seluas 42 Ha dengan populasi tanaman sebanyak 10.481 pohon. Di dalam pengelolaan usaha tani sebagian besar dilakukan petani sebagai usaha tani sampingan dan dilakukan pada lahan pekarangan dengan tingkat budidaya yang masih sederhana.
Umumnya tanaman melinjo yang ada di daerah tersebut belum dirawat dengan baik, sehingga mutu bahan baku melinjo yang ada juga belum terjamin, apabila masih banyak pula hasil yang tidak dapat diproses lebih lanjut karena di panen terlalu muda
Proses agroindustri emping melinjo melibatkan pemasok bahan baku, bahan penolong tenaga kerja, modal dan lembaga – lembaga yang berkepentingan dalam suatu sistem agroindustri.
Pada umumnya kendala yang dihadapi perusahan Agroindustri emping melinjo antara lain : 1) ketersediaan bahan baku yang tidak kontinyu; 2) keterbatasan modal untuk bahan baku : 3) pemasaran yang dilakukan secaralokal, belum semua pengusaha bisa melakukan ekspansi pasar ; 4) tingkat ketrampilan teknis dan manajemen yang sangat terbatas. Dengan kondisi demikian ini banyak petani dan masyarakat usaha ini dipandang memberikan keuntungan kecil dan tidak kontinyu.
Rendahnya produktifitas melinjo sebagai akibat dari penguasaan teknologi budidaya usaha tani masih tradisional, berdampak rendahnya produksi dan tidak mampu mencukupi menjamin pasokan kebutuhan bahan baku. Bahkan produksi tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan agroindustri emping melinjo dalam skala kecil maupun mencukupi kebutuhan agroindustri emping melinjo dalam skala kecil maupun skala besar. Kondisi ini mengakibatkan para pengusaha emping melinjo untuk mencukpi bahan baku mendatangkan dari luar Kabupaten … dengan harga yang relatife lebih mahal sebagai akibat dari bertambahnya biaya transportasi, sehingga penambahan tersebut menyebabkan membengkaknya biaya produksi yang pada akhirnya harga emping melinjo untuk mencukupi bahan baku mendatangkan dari luar Kabuapten … dengan harga yang relative lebih mahal sebagai akibat dari bertambahnya biaya transportasi sehingga penambahan tersebut menyebabkan membengkaknya biaya produksi yang pada akhirnya harga emping melinjo menjadi mahal dan dapat menurunkan daya saing emping melinjo terhadap produk sejenis atau produk olahan lainnya.
Pengolahan melinjo menjadi emping sebenarnya akan memberikan nilai tambah baik bagi petani maupun pengusaha, tetapi karena kekurangan ketrampilan yang dimiliki dan ketersediaan bahan baku yang terbatas menyebabkan petani melinjo kuang menyadari adanya nilai tambah tersebut sedang keterbatasan bahan baku akan berpengaruh pada kapasitas produk olahan.
Keterlibatan lembaga – lembaga pemasaran dalam system pemasaran suatu komoditas tentu memerlukan biaya- biaya dengan sejumlah keuntungan yang diinginkan oleh lembaga tersebut. keseluruhan dari biaya dan keuntungan inilah yang biasa dikenal dengan Marjin Pemarasan yang merupakan teknik antara harga yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima oleh produsen. Gambaran tentang efesiensi atau selisih nilai tambah akan mampu memberikan dampak pada peningkatan pendapatan petani.
Masalah yang dihadapi dalam pengembangan komoditas melinjo adalah masih lemahnya keterkaitan antara sektor pertanian dan sektor industri terutama di pedesaan, sehingga sebagian buah melinjo dipasarkan dalam bentuk primer daripada diolah lebih lanjut menjadi agroindustri. Untuk lebih memperkuat keterkaitan antar sektor tersebut diperlukan kejasama lintas sektoral yang lebih efektif dalam mengembangkan komoditas melinjo, penyediaan teknologi budidaya, dan agroindustri emping melinjo yang mampu menyediakan alternartif produk sekunder dari melinjo di pedesaan dan kebijakan pemerintah yang lebih terarah.
Oleh karena itu perlu dikaji dan diteliti tentang kendala dan prospek usaha tani melinjo dilokasi riset, tentang nilai tambah produsen yang mengolah bahan baku melinjo menjadi emping, pengusaha emping melinjo serta hubungan antara tingkat harga petani melinjo dengan konsumen emping melinjo dan mentransformasikan produk – produk mentah hasil pertanian menjadi barang – barang setengah jadi maupun barang jadi yang dapat dikonsumsi melinjo dan mendapatkan pengembangan komoditas melinjo dan menciptakan struktur agrobisnis dan agroindustri yang layak dan memadai.

Entry filed under: Manajemen Agribisnis, Manajemen Pemasaran, Pertanian. Tags: .

Evaluasi pengembalian kredit usaha tani. Penelitian tentang Evaluasi pengembalian kredit usaha tani (KUT) Analisis Kelayakan Dan Sensitivitas Usaha Tani Komoditas Manggis,

1 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Januari 2008
S S R K J S M
    Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: