Analisis Strategi Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis Melalui Penguatan Modal Usaha Kelompok Tani Di Kabupaten …

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten … dengan mengambil sampel sasaran pada kelompok tani di Kabupaten … sebanyak 60 responden dari 637 populasi kelompok tani yang tersebar di 22 kecamatan se-kabupaten ….
Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk menjelaskan dan menganalisa upaya yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dalam memberdayakan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani di Kabupaten …, (2) untuk menjelaskan dan menganalisa proses pemberdayaan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani di Kabupaten …, (3) untuk menjelaskan dan menganalisa dampak dari upaya pemberdayaan masyarakat agribisnis penguatan modal usaha kelompok tani dilihat dari tingkat kesejahteraannya.
Penelitian termasuk dalam penelitian “Discriptif Explanatory” dimana peneliti berusaha menjelaskan dari kejadian yang diteliti secara seksama dengan memakai alat analisa SWOT yaitu suatu analisa strategi dengan dasar pada logika dengan memaksimalkan faktor kekuatan dan peluang namun secara bersamaan bisa meminimalkan kelemahan dan ancaman yang datang dari luar.
Hasil analisis SWOT diperoleh bahwa : dengan melakukan tiga tahapan pengujian SWOT yaitu : (1) Matrik IFAS Dan EFAS, (2) Matrik SWOT dan (3) Analisis penentuan Strategi diperoleh hasil bahwa strategi yang paling mendekati cocok dan memiliki skor paling besar dalam pemberdayaan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani ialah menggunakan strategi SO ( Strength Opportunities ) yaitu strategi yang menggunakan kekuatan dengan memanfaatkan peluang yang ada, dengan bentuk pelaksanaan berupa : (1) peningkatan produktifitas agribisnis dengan mempererat kemitraan masyarakat agribisnis / kelompok tani, (2) pengembangan usaha agribisnis didukung dengan peningkatan kualitas personal, (3) perluasan kawasan produksi yang diimbangi dengan peningkatan distribusi produksi pertanian keluar daerah, (4) memperkuat institusi pengelola program degan meningkatkan pengetahuan tentang hukum dan peraturan pada masyarakat, (5) peningkatan kualitas sumber daya manusia serta memupuk jiwa wirausaha, sehingga diharapkan dengan menerapkan strategi tersebut maka proses pemberdayaan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani dapat mencapai sasaran yang diharapkan yaitu meningkatkan daya guna dan hasil guna kelompok tani di Kabupaten ….

Januari 3, 2008 at 7:23 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Motivasi Terhadap Perilaku Kerja Petani Tebu (Studi di Kecamatan … Kabupaten …)

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh motivasi berpengaruh terhadap perilaku kerja petani tebu. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan … Kabupaten … pada bulan Agustus – Oktober 2005. Jenis survei dengan mengamati dua faktor, motivasi dan perilaku kerja. Faktor pertama motivasi yang terdiri dari 2 variabel intern dan ekstern sedangkan perilaku terdiri dari dua variabel yaitu sikap dan pengambilan keputusan. Peubah motivasi intern terdiri dari tujuan (X11), pendidikan (X12), pengalaman (X13), peubah motivasi ekstern terdiri dari harga (X21), dukungan keluarga (X22), dukungan pemerintah (X23), status kepemilikan tanah (X24), luas lahan (X25), ketersediaan air (X26), dan musim (X27). Peubah sikap terdiri dari kreatifitas (LY11) dan inivatif (LY12), peubah pengambilan keputusan terdiri dari pengambilan keputusan rasional (LY21) dan tidak rasional (LY22). Pengukuran peubah dengan menggunakan skala interval dan skala rasio dengan skor 1-4.
Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sampel area. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, kuisioner dan studi dokumentasi. Model analisis yang digunakan adalah analisis faktor, regresi dan korelasi.
Hasil penelitian menunjukkan motivasi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sikap kreatifitas, tetapi memberikan pengaruh nyata terhadap sikap inovatif petani. Motivasi memberikan pengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan rasional maupun keputusan tidak rasional.

Januari 3, 2008 at 7:22 am 1 komentar

“Analisis Kinerja Program Pembelian Gabah Oleh Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan Di Kabupaten …”

Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia, khususnya Jawa Timur mengundang banyak pertanyaan apakah penyediaan bahan pangan (gabah) oleh pemerintah mampu memenuhi kebutuhan penduduknya, padahal bersamaan dengan itu pula penyempitan lahan subur akibat perluasan wilayah industri dan perkotaan menjadi penghambat pemenuhan produksi pangan.
Produksi pangan seperti padi, jagung, kedelai dan tanaman bahan pangan yang lain sangat dipengaruhi oleh faktor iklim dan musim. Pada saat panen raya, jumlah produksinya tinggi dan melebihi jumlah permintaan, sehingga menyebabkan harga jual ditingkat produsen menjadi sangat rendah. Sebaliknya, pada musim paceklik ketersediaan pangan ditingkat produsen sangat rendah, sehingga harga hasil produksi menjadi tinggi. Fluktuasi harga seperti itu dapat mempengaruhi pendapatan petani sebagai produsen bahan pangan. Petani tidak mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi pada saat panen sehingga peristiwa seperti itu dapat menurunkan kesejahteraannya.
Untuk mengetahui Dampak Program Pembelian Gabah Pada Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan di Kabupaten … maka dilakukan kajian yang secara khusus bertujuan untuk: Menganalisa program pembelian gabah ditinjau dari indikator (1) masukan (in-put) yang meliputan ketepatan lembaga pembeli gabah, jumlah dana, kesesuaian jumlah dana dengan kebutuhan masing-masing lembaga pembeli gabah, ketepatan waktu pencairan dana dengan waktu over suply gabah, ketepatan jumlah dana yang diterima lembaga pembeli gabah, dan ketepatan penggunaan dana oleh lembaga pembeli gabah, indikator (2) proses yang meliputi proses seleksi lembaga pembeli gabah, mekanisme penggunaan dana, mekanisme pengembalian dana, mekanisme pembelian gabah oleh lembaga pembeli gabah, serta mekanisme monitoring dan evaluasi, (3) output yang meliputi volume pembelian di tingkat lembaga, di tingkat kabupaten, dan tingkat pengembalian lunas tepat waktu. Indikator (4) outcome yang meliputi harga yang diterima petani di daerah sasaran dan perkembangan usaha lembaga pembeli gabah, indikator (5) benefit yaitu fluktuasi harga pangan dan perkembangan agribisnis pangan serta dari indikator (6) dampak yaitu peningkatan pendapatan petani.
Penelitian analisis kinerja pemebelian gabah ini adalah semua lembaga pembeli gabah yang ditunjuk mengadakan pembalian gabah untuk tahun anggaran 2001-2004. Lembaga pembeli gabah yang dimaksud adalah Koperasi Unit Desa (KUD), Koperasi non KUD, Koperasi Tani, dan Rice Milling Unit (RMU). Populai penelitian evaluasi kinerja juga memasukkan petani yang bekerjasama dengan lembaga pembeli gabah yang ada di Kabupaten ….
Populasi penelitian ini adalah Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) yang mendapat bantuan dari dana APBD atau APBN. Lembaga yang dimaksud adalah lembaga yang ditunjuk dan atau lembaga yang dalam usahanya adalah melakukan pengadaan atau pembelian gabah pada petani yang telah disebutkan diatas. Populasi yang akan diambil adalah lembaga yang telah mendapatkan bantuan dan ditunjuk sebagai pelaksana program pembelian gabah di Kabupaten …. Adapun lembaga yang ditunjuk antara lain adalah KUD Karangploso, KUD Pakis, KUD Pakisaji, Koptan Padita Tumpang dan Koptan Mitra Tani Tajinan.
Tahapan analisis data mulai pengolahan data yang meliputi : (1) Pengkodean. Tahapan ini untuk memudahkan proses komputasi dan analisis serta tabulasi data. (2) Tabulasi. Data diringkas dalam bentuk format tabel untuk memudahkan manajemen data, dan (3) Editing data. Pemeriksaan data untuk menelusuri terjadi atau tidaknya penyimpangan atau identifikasi adanya data outlier (data pencilan).
Analisis data dilakukan melaui tahapan : (a)Analisis diskriptif kuantitatif, seperti prosentase, tampilan diagram, rataan, standart deviasi, prosentase keberhasilan (input, proses dan dampak), dan lain-lain. Serta (b) Analisis diskriptif kualitatif, pemberian makna atas angka hasil anlisis kuntitatif, dan makna-makna data kualitatif atas hasil wawancara.
Berdasarkan analisis data, kajian ini dapat memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.Program pembelian gabah / bahan pangan lain yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten … terbukti dapat meningkatkan penerimaan usahatani bagi petani yang bekerjasama dengan lembaga pembeli gabah yang mendapatkan dana pembelian gabah / bahan pangan lain.
2.Pelaksanaan program pembelian gabah / bahan pangan lain di Kabupaten … dapat terlaksana dengan baik bila dilihat dari ketepatan pemilihan lembaga pembeli yang diberi dana walaupun dalam beberapa kasus ditemui lembaga pembeli yang kurang berkait erat dengan petani secara langsung. Program pembelian gabah ini telah mendorong, menghidupkan, dan memfasilitasi kegiatan ekonomi kelompok tani.
3.Lembaga pembeli gabah/bahan pangan lain melakukan kerjasama dengan petani atau kelompok tani tetapi ada juga lembaga pembeli gabah / bahan pangan lain yang membeli dari tengkulak.
4.Program pembelian gabah/bahan pangan lain menimbulkan dampak positif pada lembaga pembeli gabah seperti : (1) Peningkatan uang kas, (2) peningkatan pemilikan dan kualitas sarana transportasi, (3) perluasan lantai jemur, (4) perbaikan kualitas lantai jemur, (5) perbaikan kualitas RMU, (6) penambahan kapasitas gudang, (7) perbaikan kualitas gudang.
5.Selama proses, program pembelian gabah menimbulkan hal positif yang dapat diamati seperti berkurangnya proporsi petani yang menjual pada tengkulak dan bertambahnya petani yang menjual pada lembaga pembeli gabah yaitu KUD.
6.Dampak program pembelian gabah / bahan pangan lain adalah menambah dana segar bagi pembeli gabah sehingga mampu membeli gabah petani dengan volume yang lebih banyak.
7.Program ini menambah kekuatan lembaga pembeli gabah untuk membeli dengan tunai pada petani sehingga pada saat panen petani dapat memperoleh uang tunai.
8.Kekuatan menyerap ekses supply pada saat panen pada program ini masih belum memadai bila dibandingkan dengan volume ekses supply yang memang terjadi pada saat panen.

Januari 3, 2008 at 7:21 am Tinggalkan komentar

Dampak Cooperative Farming Terhadap Peningkatan Pendapatan Petani (Studi Kasus di Desa … Kecamatan … Kabupaten …)

Untuk melaksanakan Cooperative farming di tingkat usahatani di pedesaan maka dipandang perlu untuk melaksanakan kelembagaan cooperative farming ini dalam lingkup terbatas terlebih dahulu (pilot project) dan melihat dampaknya di masa uji coba itu secara terbatas. Berdasarkan pemikiran ini maka penelitian tentang potensi pelaksanaan cooperative farming, perbandingan usahatani sebelum melaksanakan cooperative farming dan sesudah melaksanakan cooperative farming pada daerah yang telah melaksanakan menjadi sangat penting.
Penelitian ini bertujuan untuk : (a) Mengukur potensi pengembangan cooperative farming pada petani peserta proyek. (b) Membandingkan pendapatan petani yang melaksanakan cooperative farming dan non cooperative farming.
Penelitian dilakukan di Desa … Kecamatan … Kabupaten …. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa desa ini merupakan pilot proyek cooperative farming yang didanai oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur tahun anggaran 2004.Sampel penelitian ini sebanyak 60 orang yang terdiri dari 30 orang petani yang mengikuti proyek cooperative farming dan 30 orang petani yang tidak mengikuti proyek cooperative farming. Data dikumpulkan dengan cara mewawancarai petani yang terpilih (interview) menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan. Untuk mengukur potensi pelaksanaaan cooperative farming digunakanlah berbagai indikator yang disusun berdasarkan aplikasi teori dan petunjuk pelaksanaan proyek. Untuk membandingkan perbedaan pendapatan petani yang melaksanakan cooperative farming dengan yang tidak mengikuti cooperative farming digunakan uji t (pengujian ini didasarkan pada kaidah with and without). Sebelum menyusun langkah-langkah strategis pengembangan cooperative farming di masa yang akan datang dilakukanlah analisis SWOT untuk melihat faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi penerapan model cooperative farming.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Kelompok tani Barokah di Desa … memiliki potensi besar untuk melaksanakan cooperative farming dengan baik karena skor kemampuan melaksanakan pengadaan sarana produksi secara kolektif sangat tinggi, pengaturan pola tanam dan bertanam kolektif, melakukan pengolahan tanah secara kolektif. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara kolektif dengan SLPHT selama bertahun-tahun. Hal yang belum dilakukan hanyalah mengadakan kerjasama kolektif dengan produsen penyedia sarana produksi. (b) Potensi pengelolaan budidaya dengan cooperative farming juga sangat tinggi hal ini dapat dilihat dari tinggi skor pada butir-butir sistem pengelolaan pengairan, sistem interaksi alih teknologi, dan sistem pemasaran hasil panen. Hal yang belum dilakukan adalah kontrak pemasaran dengan pembeli hasil pertanian (gabah). (c) Secara aktual, hampir seluruh komponen input produksi cooperative farming dapat ditekan jauh lebih rendah dibandingkan dengan komponen input produksi non cooperative farming. Sebaliknya, produktivitas, penerimaan usahatani, dan pendapatan usahatani petani cooperative farming menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan petani non cooperative farming.

Januari 3, 2008 at 7:20 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Pola Kemitraan PT BISI terhadap Peningkatan Pendapatan Petani Cabai

Masyarakat di Desa Maron Kecamatan Kabupaten … sebagian besar penduduknya mata pencahariannya adalah petani. Usaha untuk meningkatkan kwalitas dan kuantitas produksi yang secara langsung akan meningkatkan pendapatan petani, petani di Desa Maron mengambil langkah alternatif dengan program pola kemitraan dengan PT BISI. Dengan pola kemitraan diharapkan dapat miningkatkan kemakmuran.
Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui pengaruh pola kemitraan terhadap peningkatan pendapatan petani Cabai di Desa Maron, 2) Mengetahui pengaruh yang paling dominan pada pola kemitraan terhadap peningkatan petani Cabai di Desa Maron.
Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif , tehnik pengumpulan data dengan cara wawancara, kuisioner, dan dokumentasi. Metode analis yang dugunakan adalah dengan menggunakan analisis korelasi berganda dan regresi linear berganda.
Berdasarkan tujuan, hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan : 1) Ada pengaruh pola kemitraan terhadap peningkatan pendapatan petani Cabai di Desa Maron, dengan koefisien korelasi sebesar 0.929. 2) Pengaruh yang paling dominan dalam pola kemitraan terhadap peningkatan petani Cabai adalah variabel kepastian pasar (X2) dengan koefisien regresi sebesar 0.324. Sedangkan yang kedua adalah variabel Jaminan harga (X3) dengan koefisien regresi 0,316 dan yang ke tiga adalah variabel pengadaan Benih (X1) dengan koefisien regresi sebesar 0.309.

Januari 3, 2008 at 7:20 am Tinggalkan komentar

Analisis Fluktuasi Harga Pisang Agung Produksi Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang

Program pengembangan hortikultura di Jawa Timur bertujuan meningkatkan produksi dan mutu produk unggulan yang berdaya saing, mengembangkan berbagai produk untuk mendukung diversifikasi pangan, mendorong perkembangan ekonomi daerah dan nasional, mengembangkan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan devisa serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengembangkan sistem dan usaha agribisnis hortikultura melalui penerapan paket teknologi sesuai standar prosedur operasional disetiap tingkatan kegiatan.
Melalui pendekatan agribisnis dari tahun ketahun produksi hortikultura telah menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan, namun baik secara kuantitatif maupun kualitatif produksi tersebut belum seimbang dengan pertumbuhan permintaan baik dalam negeri maupun permintaan dari luas negeri. Permintaan di dalam negeri terutama disebabkan oleh pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, kesadaran masyarakat akan gizi serta perkembangan agroindustri dan pariwisata.
Paimin (1994) mengungkapkan, walaupun pemerintah memberikan peluang dalam hal impor buah buahan sehingga vlume impor meningkat, namun kebutuhan buah secara nasional belum tercukupi. Konsumsi buah-buahan penduduk Indonesia pada tahun 1995 baru mencapai 35 kg per kapita per tahun (Effendi 1997). Sedangkan menurut ketentuan badan dunia (FAO) konsumsi ideal untuk buah buahan sebanyak 64 kg per kapita per tahun, dan konsumsi masyarakat Indonesia terhadap buah pisang menurut data Susenas tahun 2002 baru mencapai 7,80 kg per kapita per tahun jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi pisang di Negara maju (Amerika Serikat) yang mencapai 22,05 kg per kapita per tahun. Dengan demikian potensi permintaan buah-buahan termasuk pisang masih cukup besar seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi buah-buahan.
Indonesia merupakan salah satu negara pemasok buah buahan trofis, namun perannya masih sangat kecil yaitu kurang dari 1 persen (Winarno 1996). Walaupun buah buahan trofis asal Indonesia telah memasuki pasaran dunia, akan tetapi jumlahnya sangat kecil akibat kemampuan suplai yang rendah dan tidak kontin, padahal permintaan buah buahan trofis segar dunia hususnya negara negara Eropa, Amerika dan Asia mengalami peningkatan 10,8 persen per tahun (Winarno 1996).
Jawa Timur terkenal sebagai Propinsi penghasil buah buahan eksotik, salah satu diantaranya yang mempunyai nilai ekonomis dan sedang berkembang dengan pesat adalah pisang, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan.
Kabupaten Lumajang yang terenal dengan sebutan kota pisang terdiri dari 21 kecamatan sebagian besar merupakan sentra pisang dengan memiliki luas 2644 ha dengan produksi 29,546 ton per tahun. Beberapa varietas pisang yang dikembangkan di Kabupaten Lumajang diantaranya, Agung Semeru, Mas Kirana, Raja Lumut, Ambon, Susu, Embug dan sebagainya. Diantara varietas pisang tersebut di atas, salah satu yang mempunyai harga stabil dan sangat menguntungkan bagi petani adalah pisang Mas Kirana, hal ini dikarenakan sistem pemasaran pisang mas kirana telah dilakukan melalui pola kemitraan dengan PT Sewu Segar Nusantara Jakarta. Sedangkan untuk varietas yang lain masih mengalami kendala pemasaran sehingga harga sangat berfluktuasi.
Dalam rangka pengembangan produk pertanian tidak cukup hanya memperbaiki cara berusahatani aja, melainkan harus diikuti dengan usaha penyempurnaan di bidang pemasaran karena pasar adalah merupakan salah satu syarat pokok bagi pengembangan usaha agribisnis. Menurut Ainurrofik (1984) pemasaran merupakan kegiatan yang penting dalam menjalankan usaha pertanian, karena pemasaran merupakan tindakan ekonomi yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya pendapatan petani. Penanaman pisang dilakukan oleh banyak petani dan lokasinya tersebar di beberapa desa, sehingga dalam melakukan distribusi kepada konsumen banyak melibatkan lembaga perantara mulai dari pedagang pengumpul tingkat desa, kecamnatan dan lembaga perantara tingkat kabupaten. Keterlibatan lembaga perantara tersebut mempunyai peranan penting dalam rangka memperlancar penyampaian pisang dari petani ke konsumen. Akan tetapi menurut Saifuddin (1982) terdapat perbedaan kepentingan diantara para pelaku pasar, yaitu petani produsen yang menghendaki harga tinggi, lembaga perantara ingin mendapatkan keuntungan yang besar dan konsumen menghendaki harga yang murah. Disebutkan juga oleh Saifudin (1982) bahwa dalam pemasaran yang efisien akan tercipta kepuasan bagi produsen, lembaga pemasaran dan konsumen.

Januari 3, 2008 at 7:19 am Tinggalkan komentar

Analisis Nilai Tambah, Efisiensi dan Saluran Pemasaran Agroindustri Emping Melinjo di Kecamatan … Kabupaten … “

Pembangunan pertanian di Kabupaten … merupakan prioritas pembangunan daerah yang mempunyai keunggulan komparatif sebagai daerah agraris. Sektor pertanian meliputi subsektor tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan serta subsektor perkebunan. Perekonomian di Kabupaten … didominasi oleh sektor pertanian, yang menyumbang PDRB sebesar 47,16%, sektor perdagangan/restoran sebesar 25,75% sedangkan sektor industri pengolahan hanya menyumbang sebesar 3,11% pada tahun 2003. Demikian juga dengan industri pengolahan emping melinjo yang mempunyai banyak peluang untuk diusahakan. Selain itu emping melinjo merupakan sektor industri kecil yang potensial, mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan berprospek cerah untuk diusahakan. Emping melinjo merupakan salah satu komoditas ekspor nonmigas. Jumlah ekspor emping melinjo berfluktuatif yang disebabkan karena usaha agroindustri tersebut masih bersifat industri kecil (skala rumah tangga).
Permasalahan penelitian ini adalah berapa besar nilai tambah yang diberikan agroindustri emping melinjo, berapa besar keuntungan dan efisiensi yang diberikan agroindustri emping melinjo serta bagaimana sistem dan saluran pemasaran pada agroindustri emping melinjo tersebut.
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar nilai tambah yang diberikan agroindustri emping melinjo, untuk mengetahui keuntungan dan efisiensi yang diberikan agoroindustri emping melinjo serta untuk mengetahui sistem dan saluran pemasaran pada agroindustri emping melinjo tersebut. Sehingga hipotesis yang didapat yaitu : diduga bahwa agroindustri emping melinjo di daerah penelitian akan memberikan nilai tambah, keuntungan dan efisiennsi yang besar, diduga bahwa sistem dan saluran pemasaran di daerah penelitian belum efisien.
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive) di Desa Bakung dan Desa Besuki Kecamatan … Kabupaten … karena daerah ini merupakan salah satu sentra agroindustri pengolahan emping melinjo dan pengambilan sampel menggunakan metode sensus. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode wawancara dengan responden. Sedangkan data sekunder diperoleh dari perpustakaan dan instansi terkait yaitu Kantor Kepala Desa Bakung dan Desa Besuki Kecamatan … Kabupaten … serta hasil-hasil penelitian terdahulu. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu analisis yang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena sosial ekonomi yang melatarbelakangi fenomena-fenomena yang ada. Sedangkan analisis kuantitatif yang digunakan meliputi analisis penerimaan, analisis keuntungan, analisis nilai tambah dan imbalan tenaga kerja serta analisis efisiensi agroindustri emping melinjo.
Dari hasil penelitian didapat bahwa keuntungan yang didapat oleh agroindustri skala rumah tangga sebesar Rp. 19.690,54 dan skala kecil sebesar Rp. 47.449,55. Dari tabel analisis nilai tambah antara skala industri rumah tangga dan industri kecil mempunyai nilai yang berbeda yaitu sebesar 1362,48 untuk skala rumah tangga dan 1602,90 untuk skala kecil. Perbedaan nilai ini dikarenakan adanya perbedaan kemampuan memproduksi emping melinjo. Nilai R/C rasio yang didapat oleh industri skala rumah tangga sebesar 1,10 dan skala kecil sebesar 1,15. Dengan demikian maka industri emping melinjo skala kecil lebih efisien dan lebih menguntungkan untuk diusahakan dibanding skala rumah tangga. Saluran pemasaran yang ada di daerah penelitian ada 4 yaitu antara pengrajin langsung ke konsumen, kedua yaitu pengrajin – pengecer – konsumen, ketiga antara pengrajin – pedagang pengumpul lokal – pengecer – konsumen, dan yang terakhir yaitu antara pengrajin – pedagang pengumpul – pedagang besar – pengecer – konsumen.

Januari 3, 2008 at 7:18 am 1 komentar

Tulisan Lebih Lama Tulisan Lebih Baru


Kategori

  • Blogroll

  • Feeds


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.