Posts filed under ‘Psikologi’

Contoh Skripsi Psikologi

  1. Makna Hidup Pada Pekerja Seks Komersial (Psk)
  2. Perbedaan Hasil Mental Imagery  Antara Suami Dan Istri Mengenai Dampak Perceraian
  3. Hubungan Antara Kecerdasan Ruhaniah  Dengan   Altruisme  Pada Mahasiswa
  4. Pengaruh Tingkat Kecerdasan Spiritual Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga Pada Suami Istri Di Desa Selokbesuki Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang
  5. Peranan Bimbingan Dan Penyuluhan Dalam Menanggulangi Kesulitan Belajar Siswa Di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumbersari Kabupaten Probolinggo Tahun Pelajaran 2002/2003
  6. Citra Remaja Perempuan Metropolitan Dalam Halaman Muka Majalah Gogirl
  7. Obedience, Compliance, Comformity, Acceptance Masyarakat Cikoang Dalam Perayaan Maudu’ Lompoa (Studi Eksploratif Terhadap Eksistensi Kepemimpinan Sayyid Di Takalar Sulawesi Selatan)
  8. Ketidakpedulian Keluarga Yang Memiliki Anak Autis Terhadap Pendidikan Remaja Autis (Studi Kasus Pada Keluarga Dengan Ayah Yang Berprofesi Guru Di Desa Sumbergirang Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang)
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

April 26, 2012 at 8:17 am Tinggalkan komentar

KETIDAKPEDULIAN KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK AUTIS TERHADAP PENDIDIKAN REMAJA AUTIS (PSIK-8)

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Konteks Penelitian

Orang tua dituntut untuk peduli terhadap pendidikan anaknya. Sebagai pendidik yang utama dan pertama, orang tua mempunyai peran penting dalam mendidik dan membimbing anaknya. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab agar anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas, tetapi juga membuat anak menjadi pribadi yang mandiri, bertanggungjawab dan dapat menghadapi kehidupannya kelak dengan baik dan berhasil. Tugas mendidik dan membimbing anak, tidak hanya dilakukan oleh seorang ibu, namun juga seorang ayah. Orang tua, khususnya ayah tidak hanya bertanggung jawab dalam mendidik, namun juga dalam memenuhi biaya pendidikan anaknya, tidak terkecuali ayah yang berprofesi guru.

Ayah yang berprofesi sebagai guru, hendaknya dapat memberikan layanan pendidikan yang tepat untuk anaknya, terutama bila anak tersebut membutuhkan layanan pendidikan khusus seperti pada anak autis. Anak autis membutuhkan penanganan yang cukup berat, karena membutuhkan strategi yang berbeda dengan anak lain pada umumnya. Menurut Ginanjar (2008; 19) orang tua merupakan tokoh kunci yang sangat berperan dalam memberikan contoh, bimbingan, dan kasih sayang dalam proses pertumbuhan anak-anak. Orang tua diharapkan dapat memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhan anaknya.

Kepedulian terhadap anak autis hendaknya perlu ditingkatkan, hal ini mengingat bahwa jumlah penderita autis meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian menunjukan bahwa pada tahun 1987, ratio penderita autis
1:5000. angka ini meningkat tajam menjadi 1:500 pada tahun 1997, kemudian jadi 1:150 pada tahun 2000. Para ahli memperkirakan pada tahun 2010 mendatang penderita autis akan mencapai 60% dari keseluruhan populasi di dunia. Sekitar 80%, gejala autis terdapat pada anak laki-laki.(www.autis.or.id).
Semakin meningkatnya penderita autis tersebut hendaknya dibarengi dengan meningkatnya layanan untuk penderita autis. Namun pada kenyataannya, penanganan untuk anak autis masih sangat sulit hal tersebut karena penanganan anak autis membutuhkan biaya yang sangat mahal. Penderita autis dari keluarga tidak mampu menjadi terabaikan karena biaya pendidikan untuk anak autis sangat mahal. Kasus ini menimpa seorang satpam yang harus membiayai pendidikan anaknya yang autis sebesar seratus ribu per hari, sedangkan gajinya tidak mencapai seratus ribu per hari (Kompas Jawa Barat, 2008).

Sebagai orang tua yang mempunyai anak autis memang mempunyai tanggung jawab serta peran yang penting dalam memberikan pelayanan serta pendidikan bagi anaknya. Terutama orang tua yang berprofesi guru. Tidak hanya seorang ibu, ayah juga berperan serta dalam mendidik anaknya. Seorang ayah yang berprofesi guru yang mempunyai anak autis, mempunyai peran yang penting, karena selain membutuhkan pendidikan yang tepat, anak autis juga membutuhkan biaya yang besar dalam penanganannya. Biaya terapi yang harus dikeluarkan para orang tua autis terbilang sangat mahal. Apalagi terapi tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama dan tidak bisa dipastikan akhirnya. Salah satu sebab utama mahalnya biaya terapi bagi anak-anak penderita autis adalah karena tingginya juga bayaran untuk profesi di dunia autis, baik terapis, dokter, psikiater, maupun profesi terkait lainnya. Padahal masa depan anak-anak autis tergantung dari terapi yang optimal (www.portalinfaq.co.id)

Menurut Puspita dalam Hadis (2006; 113) bahwa peranan orang tua anak autis dalam membantu anak untuk mencapai perkembangan dan pertumbuhan optimal sangat menentukan. Tindakan awal yang perlu dilakukan oleh orang tua ialah orang tua perlu teliti dalam mengamati berbagai gejala yang nampak pada diri anak yang autis. Tindakan lainnya adalah memberikan penanganan kepada anaknya berdasarkan masalah dan gejala perilaku yang nampak pada diri anak autis. Sedangkan menurut Hamalik (2002; 33) peran seorang guru adalah selain sebagai pengajar juga sebagai pembimbing. Sebagai seorang pembimbing, guru berperan dalam proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat.

Meskipun mempunyai peran penting dalam pendidikan, pada kenyataannya profesi guru tidak menjadikannya lebih peduli terhadap pendidikan anaknya. Hal ini terjadi pada seorang ayah yang berprofesi guru Sekolah Dasar di desa Sumbergirang. Ayah yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar ini, mempunyai tiga orang anak dan seorang istri yang bekerja sebagai pegawai Tata Usaha di salah satu Madrasah Aliyah di Rembang. Salah satu anak dari keluarga ini menderita autis. Anak autis yang kini telah berusia 15 tahun ini, hanya memperoleh pendidikan di sebuah SLB hingga kelas tiga. Anak autis yang kini telah menginjak usia remaja ini merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Berdasarkan wawancara awal dengan subyek yang merupakan ayah dari remaja autis tersebut, anaknya berhenti sekolah karena tidak ada pengasuh yang dapat mengantar jemput anaknya ke sekolah. Bahkan setelah berhenti sekolah, remaja autis tersebut tidak mendapat pendidikan baik formal maupun non formal. Berbeda dengan dua anak subyek lainnya yang memperoleh pendidikan hingga Perguruan Tinggi, remaja autis ini hanya disekolahkan hingga kelas tiga SLB. Mengingat profesi ayahnya sebagai guru, remaja autis ini tidak seharusnya berhenti dalam memperoleh pendidikan. Sebagai seorang ayah sekaligus seorang guru, hendaknya subyek dapat bertanggungjawab dan menjalankan perannya secara maksimal.

Namun pada kenyataannya, subyek yang merupakan seorang guru, tidak menjalankan perannya secara maksimal, yakni membimbing dan mendidik anak. Hal ini terlihat ketika anaknya berhenti dari SLB, subyek tidak melajutkan pendidikan untuk anaknya di sekolah khusus autis ataupun mendidik dan membimbing anaknya di rumah.

Tentunya hal ini bertentangan dengan profesinya sebagai guru, yang seharusnya mempunyai kepedulian lebih besar terhadap pendidikan.
Berdasarkan latar belakang inilah maka peneliti tertarik untuk mengetahui secara mendalam tentang kepedulian orang tua yang berprofesi sebagai guru terhadap pendidikan remaja berkebutuhan khusus, dalam hal ini adalah remaja autis. Dalam penelitian ini peneliti mengambil judul “Ketidakpedulian Keluarga Yang Memiliki Anak Autis Terhadap Pendidikan Remaja Autis (Studi Kasus Pada Keluarga Dengan Ayah Yang Berprofesi Guru Di Desa Sumbergirang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang)”.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Februari 25, 2011 at 12:57 pm Tinggalkan komentar

OBEDIENCE, COMPLIANCE, COMFORMITY, ACCEPTANCE MASYARAKAT CIKOANG DALAM PERAYAAN MAUDU’ LOMPOA (STUDI EKSPLORATIF TERHADAP KEPEMIMPINAN (PSIK-07)

Cikoang adalah salah satu desa yang terletak di pesisir selatan Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Desa Cikoang merupakan dataran rendah yang berada pada ketinggian 50 meter di atas permukaan laut, dengan luas wilayah 555,49 Ha. Penduduk asli Cikoang adalah suku Makassar. Desa ini dihuni oleh penduduk asli suku Makassar dan kaum Sayyid. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Makassar. Penduduknya mayoritas memeluk agama Islam sebagai keyakinan mereka. Jumlah penduduk sekitar 2444 jiwa dengan 574 kepala keluarga. Mata pencarian utama masyarakat Cikoang adalah bercocok tanam, membuat garam, mengelola tambak ikan, dan sebagai nelayan (Pemerintah Desa Cikoang, 2002). Jarak antara Desa Cikoang dengan Ibukota Kecamatan Mangarabombang ± 8 km, dari Ibukota Kabupaten Takalar ± 15 km, dan ke Kotamadya Makassar ± 52 km (Pemerintah Kabupaten Takalar, 2001).

Desa Cikoang mempunyai dua macam iklim yaitu iklim basah dan iklim kering (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Ujung Pandang, 1983/1984). Desa Cikoang termasuk daerah beriklim tropis (kering), hal ini disebabkan letak daerahnya berada di pesisir pantai. Desa Cikoang juga memiliki sebuah sungai yang bermuara ke laut. Masyarakat setempat menyebut sungai itu sesuai dengan nama desa tersebut, yaitu Sungai Cikoang. Di pinggir sungai inilah setiap tahun masyarakat Cikoang memuja dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai ritual agama Maudu’ Lompoa .
Maudu’ Lompoa adalah upacara yang dilaksanakan sekali setahun pada setiap Rabiul Awal (12 Rabiul Awal) untuk memperingati hari kelahiran nabi Besar Muhammad SAW atau biasa juga disebut sebagai Maulid Nabi (Saleh, 1996). Sebenarnya peringatan maulid nabi juga dilaksanakan oleh seluruh warga diberbagai daerah di Sulawesi Selatan, akan tetapi pelaksanaan Maudu’ Lompoa yang dilaksanakan di Cikoang kabupaten Takalar ini, memiliki keunikan tersendiri.

Keunikan upacara maulid di daerah Cikoang tidak hanya sekedar perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, akan tetapi mengandung makna yang lebih dalam yaitu tentang falsafah hidup yang erat kaitannya dengan kejadian alam semesta dan permulaan penciptaan roh manusia atau lebih dikenal dengan konsep Nur Muhammad (Saleh, 1996). Selain perayaan Maudu’ Lompoa dilaksanakan dengan besar-besaran yang tidak hanya dihadiri oleh komunitas sayyid yang ada di Cikoang akan tetapi juga dihadiri oleh sayyid-sayyid yang ada diluar daerah (Yuliana, 2004). Pelaksanaannya pun menelan biaya yang tidak sedikit, karena berbagai aksesoris atau perlengkapan dalam pelaksanaan perayaan maulid harus dipersiapkan oleh masing-masing keluarga. Seperti yang dikatakan oleh Saleh (1996) bahwa upacara pelaksanaan Maudu’ Lompoa mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat Cikoang. Apalagi masyarakat Cikoang mayoritas adalah petani dan nelayan yang memiliki tingkat ekonomi yang cukup rendah.

Hadirnya perayaan Maudu’ Lompoa, erat kaitannya dengan figur seorang ulama Aceh bernama Sayyid Jalaluddin, yang telah berjasa meneruskan ajaran agama Islam di Cikoang. Masyarakat Cikoang mengenalnya sebagai anak dari Sayyid Muhammad Wahid Al-Aidid (Al-Aidid, 2003). Ulama ini berada di Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam. Sayyid Jalaluddin adalah keturunan Arab Hadramaut Arab Selatan dan masih terhitung sebagai itrah ahlulbait atau keturunan anak cucu Nabi Muhammad SAW yang ke-27 (Baharuddin, 2001). Ia kemudian menikah dengan seorang putri bangsawan Makassar dari kerajaan Gowa bernama I Acara Daeng Tamami. Selanjutnya Sayyid Jalaluddin menetap di Cikoang guna memantapkan ajaran Islam.

Kedatangan Sayyid Jalaluddin merupakan cikal bakal muculnya keturunan-keturunan sayyid di Cokoang. Dalam status sosial di lingkungan masyarakat Cikoang, kaum Sayyid adalah golongan masyarakat tertinggi di antara anggota masyarakat lainnya. Mereka dipandang sebagai keturunan anak cucu Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, bagi kaum Sayyid wajib hukumnya merayakan Maudu’ Lompoa. Kaum Sayyid memiliki pengaruh yang kuat dari sisi kehidupan masyarakat Cikoang, khususnya pada bidang pemerintahan dan keagamaan.

Salah satu pemimpin kaum Sayyid di Cikoang adalah Karaeng Opua (Sayyid Opu). Seluruh aktivitas yang terkait dengan Maudu’ Lompoa dan aturan-aturan adat kaum Sayyid harus diputuskan oleh Karaeng Opua. Kedudukannya diibaratkan sebagai raja yang diagungkan. Kaum Sayyid sangat hormat dan patuh terhadap semua aturan dan perintahnya. Karaeng Opua memiliki penasihat, yaitu para anrong guru. Pola kerukunan, kebersamaan, kegotong-royongan, dan sejumlah aturan yang dibuat Karaeng Opua, dimaksudkan agar Maudu’ Lompoa tetap lestari dan ajaran nenek moyang mereka tetap terpelihara (Yuliana, 2004).

Masyarakat Cikoang sangatlah patuh kepada titah sang raja (Karaeng Opua), karena mereka percaya bahwa Sayyid Opu dan para penasehatnya (anrong guru) akan membawa mereka pada keselamatan di akhirat kelak. Sehingga apapun yang dikatakan oleh Karaeng Opua dan para penasehatnya akan diikuti oleh masyarakat pendukungnya terutama dalam hal pelaksanaan maulid nabi (Maudu’ Lompoa). Sebagaimana yang dikatakan oleh Yuliana (2004) bahwa masyarakat Cikoang tidak ada yang berani melawan ataupun membantah apa yang diperintahkan oleh Karaeng Opua utamanya dalam hal pelaksanaan Maulid Nabi. Masyarakat takut dikeluarkan atau tidak dimasukkan dalam golongan orang-orang yang akan di doakan keselamatannya diakhirat kelak. Hal semacam ini biasa dikenal oleh orng kebanyakan sebagai Tarekat.

Oleh karena itu kepatuhan masyarakat Cikoang terhadap Karaeng Opua dalam hal pelaksanan Maudu’ Lompoa, memiliki alasan-alasan kuat guna keselamatan mereka di akhirat kelak. Penelitian ini pun berusaha mengkaji lebih jauh mengenai kepatuhan masyarakat Cikoang dalam pelaksanaan perayaan Maudu’ Lompoa. Selain itu juga akan dikaji sejauh mana peranan kepemimpinan Sayyid dalam menjaga kepercayaan para pengikutnya utamanya masyarakat Cikoang agar tetap patuh dalam pelaksanaan perayaan Maudu’ Lompoa tersebut.

Bertolak dari permasalahan diatas maka, pertanyaan penelitian yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Apakah yang membuat masyarakat Cikoang begitu antusias dalam melaksakan Maulid (Maudu’ Lompoa) sehingga walau berada di luar daerah sekalipun akan tetap berusaha datang untuk menghadiri dan bahkan berpartisipasi dalam perayaan tersebut ?
b. Mengapa perayaan Maudu’ Lompoa begitu berarti dan bahkan begitu disakralkan oleh masyarakat Cikoang ?
c. Apakah fungsi Sayyid Opu (Karaeng Opua) dan para penasehatnya (Anrong Guru) dalam kehidupan masyarakat Cikoang ?
d. Mengapa Sayyid Opu dan para penasehatnya begitu dipatuhi oleh para pengikutnya atau masyarakat Cikoang ?

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

November 11, 2009 at 11:38 pm 2 komentar

Citra remaja perempuan metropolitan dalam halaman muka majalah Gogirl (PSIK-06)

Informasi telah menjadi kebutuhan primer masyarakat modern saat ini tanpa kecuali. Teknologi informasi yang semakin modern membawa konsekuensi kebutuhan informasi tersebut kedalam relasi-relasi sosial dalam masyarakat dengan menghilangkan batas-batas sosial budaya juga sangat berperan aktif dalam menghilangkan fungsi ruang dan waktu. Dengan konsekuensi hilangnya batas-batas sosial budaya akibat hilangnya fungsi ruang dan waktu, arus informasi membawa, menawarkan, dan dapat mengubah wajah sosial dan budaya dengan perlahan, dan seringkali tanpa disadari.

Kecepatan informasi untuk menjangkau penerima informasi tersebut terbawa oleh berbagai macam medium informasi yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat modern, karena melalui berbagai media massa tersebut itulah nilai-nilai sosial dan budaya tersosialisasikan yang didalamnya terdapat tanda-tanda dan simbol-simbol.
Tidak dapat dipungkiri media massa memberi pengaruh melalui pesan-pesan yang disampaikannya. Citra remaja perempuan metropolitan kini sangat mudah terpengaruh dengan trend. Untuk memenuhi kebutuhan itu mereka mencari informasi tersebut di media massa seperti majalah dan televisi. Dengan adanya gambaran seperti ini di kota-kota metropolitan seperti pada umumnya, dikarenakan masuknya budaya luar ke Indonesia. Hal-hal yang dilakukan oleh selebritis luar negeri dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang diliput oleh media massa dan disebar luaskan sehingga masuk ke Indonesia.
Media massa dan industri menciptakan kebutuhan remaja perempuan demi kepentingan pasar, yang disuarakan sebagai cara bagi remaja perempuan untuk keluar dari identitas yang diinginkan oleh orang tua. Akhirnya budaya remaja perempuan sangat identik dengan penampilan sebagai representasi identitas. Tentunya remaja perempuan di kota-kota besar adalah kelompok yang memiliki akses paling terbuka ke sumber informasi yang dibutuhkan. Mereka memungut informasi dari mana saja, dari televisi, majalah, radio, bahkan sobekan poster di pinggir jalan. Mereka punya kesempatan untuk memanfaatkan waktu luang di pusat perbelanjaan, tempat hiburan, dan ruang-ruang publik yang memungkinkan mereka untuk melakukan interaksi dan pertukaran informasi.
Remaja perempuan di kota-kota besar atau biasa disebut dengan remaja perempuan metropolitan selalu punya cara untuk tampil beda, meski tidak selalu orisinil karena banyak mengadopsi gaya selebritis idolanya masing-masing yang mereka lihat di majalah dan televisi, dengan demikian remaja perempuan metropolitan selalu berusaha untuk memperbaharui penampilannya sesuai dengan trend yang sedang berlaku. Yang disebut penampilan bukan saja apa yang melekat di tubuh semata, melainkan juga bagaimana keseluruhan potensi dalam diri memungkinkan mereka untuk menampilkan citra diri. Dan pesan verbal dan non verbal yang disampaikan media massa dianggap sebagai salah satu hal penting yang akan memberikan ciri khusus pada remaja perempuan metropolitan. Cara berpakaian dan pilihan warna dalam berbusana ataupun dalam hal apa saja yang berkaitan dengan identitaasnya sebagai remaja adalah salah satu dari usaha remaja perempuan metropolitan untuk membentuk citra tertentu melalui penampilannya.
Kita mengakui bahwa pengaruh dunia barat dengan nilai-nilainya yang mempengaruhi nilai budaya kita. Hal tersebut akibat arus simbolik global yang nyata yaitu nilai-nilai dari luar dapat dengan mudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat melalui transformasi teknologi komunikasi modern dan industri komersil. Kemasan media massa yang menarik dapat membuat khalayak tertarik untuk melihat atau membaca informasi tersebut. Bagaimana media massa mengkonstruksikan realitas ke dalam sebuah kemasan medianya.
Penempatan remaja perempuan dalam media massa saat ini merupakan bagian dari hal yang penting, karena dunia remaja adalah dunia yang menarik untuk terus kita ketahui dan kita simak. Media massa hanya mempengaruhi serta menyibak gaya dan pola remaja saat ini. pemenuhan kebutuhan informasi dari remaja perempuan yang membuat banyak media massa selalu berusaha memenuhi kebutuhannya tersebut.
Penggambaran yang terdapat di sebuah media massa menimbulkan rasa tertarik khalayak untuk mengetahui lebih jauh tentang dunia remaja tersebut. Bagaimana media massa menampilkan sebuah gambar, warna, lambang, dan tanda-tanda yang ada sebagai konstruksi realita yang ada.
“isi media pada hakikatnya adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa baik verbal dan non verbal sebagai perangkatnya, sedangkan bahasa bukan saja alat mempresentasikan realitas, namun juga bisa menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut. Akibatnya media massa mempunyai peluang yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikonstruksikan.”

“Media juga berfungsi sebagai media budaya. Media budaya merupakan media yang berada dalam budaya masyarakat dan sebenarnya menjembatani kepentingan salah satu pihak, yaitu pihak budaya masyarakat industri dengan budaya masyarakat pengguna.”
“Pengguna (pemakai) media budaya adalah individu-individu yang menikmati bentuk-bentuk media budaya, seperti majalah, surat kabar, atau tayangan yang muncul di televisi. Individu dan masyarakat pengguna diperkenalkan dengan semboyan/slogan yang menjanjikan.”

Menurut buku “Komunikasi Antar Budaya” : “Sistem kepercayaan erat kaitannya dengan nilai-nilai (values) yang ada, sebab nilai-nilai itu adalah aspek evaluatif dari sistem kepercayaan, nilai dan sikap, yang meliputi kualitas atau asas-asas seperti kemanfaatan, kebaikan, keindahan, kemampuan memuaskan kebutuhan dan kesenangan.”
Dan kebudayaan yang masuk ditiru oleh kaum metropolis khususnya para remaja perempuan metropolitan. Mereka umumnya berasal dari kalangan menengah-keatas dan termasuk kategori A dalam strata sosial ekonomi.

Pergeseran nilai dan budaya itu terjadi karena sikap dari respon remaja metropolitan yang menerima pengaruh dari luar dan mereka merasa pas atau cocok dengan kehidupan remaja metropolitan.

“Sikap adalah suatu respon yang evaluatif, dinamis dan terbuka terhadap kemungkinan perubahan yang disebabkan oleh interaksi seseorang dengan lingkungan. Kesiapan sikap perilaku tersebut adalah hasil dan cara belajar merespon lingkungan dalam kawasan budaya tertentu.”

Majalah turut mengkonstruksi gaya hidup remaja perempuan metropolitan dengan munculnya majalah khusus remaja perempuan. Kita bisa menelusurinya dari bagaimana remaja perempuan metropolitan dicitrakan oleh majalah, kemudian bagaimana citra itu merambah ke kehidupan sehari-hari.

Majalah Gogirl! menggambarkan citra remaja perempuan metropolitan sesuai dengan fenomena yang terjadi. Bersama media yang ada masyarakat global mulai mencerna kehidupan remaja metropolitan yang ada di masyarakat.
Disisi lain, penulis akan mencoba mengungkap gambaran umum tentang citra remaja perempuan metropolitan dalam halaman muka majalah Gogirl!, karena dinilai sebagai gejala kehidupan metropolitan yang dibentuk oleh kapitalis untuk mempublikasikan ide yang sekaligus sebagai mode atau trend yang marketable dan akhirnya menjadi bahan yang diterima masyarakat melalui media.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

November 11, 2009 at 11:36 pm Tinggalkan komentar

Peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan (PSIK-05)

Allah SWT menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin di dunia dengan dilengkapi segenap organ tubuh dan kesempurnaan yaitu : akal, emosi, hawa nafsu dan kelengkapan lainnya. Berbagai kelengkapan tubuh itu yang menjadikan manusia lebih mulia dari mahluk Allah lainnya apabila manusia mampu memfungsikan segala potensi sesuai dengan proporsinya. Namun apabila manusia menyalah gunakan kelengkapan dan potensi yang diberikan Allah itu manusia dapat menjadi mahluk yang rendah dan bahkan lebuh rendah dari binatang sekalipun.

Potensi yang ada pada manusia, selayaknya difungsikan dan ditumbuh kembangkan sesuai dengan proporsinya, manusia akan mampu menjalankan fungsi kepemimpinannya apabila membekali diri dengan ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq 1-5 :

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-Alaq 1-5) (Depag. RI., 1984:1097)
Sabda Nabi Muhammad SAW :

Artinya : Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (Shalih, Ibnu ‘Adi dan Baihaqi dari Anas). (Ahdjat, 1995:330).

Dari dua nash tersebut dapat dipahami bahwa Agama Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan pentingnya pendidikan yang menekankan perlunya orang belajar membaca dan menulis serta belajar ilmu pengetahuan.
Dengan berbekal ilmu pengetahuan manusia akan mendapat derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia baik menurut pandangan Allah SWT maupun manusia, dan hal imi dapat diperoleh cara beriman kepada Allah SWT dan memperbanyak serta memperluas ilmu pengetahuan. Allah SWT dalam firman-Nya mengungkapkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Firman Allah dalam surat Al-Mujaadalah ayat 11 yaitu :

Artinya : ….. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui terhadap apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujaadalah : 11) (Depag RI., 1984:910)

Dalam kaitannya dengan menuntut ilmu tersebut, maka seiring dengan kemajuan zaman yang kian pesat, proses belajar tersebut semakin maju dan masalah yang sangat kompleks dan urgen. Salah satu dari kekomplekannya, dapat dilihat dari konteks kekinian baik mulai dari tantangan dan hambatan pendidikan ataupun tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan itu sendiri.
Tujuan pembangunan nasional Bangsa Indonesia yang telah diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke IV adalah :
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajuka kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan abadi dan keadilan sosial. (UUD 1945, 1993:02)

Cita-cita bangsa Indonesia yang merupakan penegasan dan tujuan akhir pembangunan Nasional tersebut tellah dirumuskan kembali dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1993 tentang GBHN, sebagai tujuan pembanguna nasional yaitu :
Mewujudkan masyarakat adil makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia yang merdeka berkedaulatan rakyat, dalam suasana prikehidupan bangsa yang aman, tentram, tertib dan dinamis.

Untuk merealisasikan tujuan pembangunan nasional tersebut, nampaknya eksistensi pendidikan sangat urgen hal ini dapat dilihat dari tujuan Pendidikan Nasional yang termaktub dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yaitu :
Pendidikan Nasional adalah pendidikan berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Salah satu bentuk kemajuan dari proses belajar yaitu enggan diadakannya lembaga pendidikan yang secara formal diakui keberadaannya. Orang tua yang semestinya mendidik sendiri anaknya, dalam bebrapa aspek bisa diwakilkan dalam lembaga pendidikan formal tersebut yaitu sekolah. Sekolah atau Madrasah yang menjadi wakil dari amanat orang tua dalam mendidik anak harus memiliki kalifikasi yang cukup, dengan kata lain tidak semua lembaga pendidikan yang secara otomatis menjadi lembaga pendidika yang baik. Dengan demikian kualifikasi merupakan prasarat wajib yang harus dimiliki lembaga pendidikan, baik itu dari segi tenaga edukatif, sarana dan prasarana maupun aspek lain yang terkait.

Berkaitan dengan masalah proses belajar mengajar di sekolah, siswa maupun guru yang akan melakukan dinamisasi dalam arti proses belajar mengajar tersebut merupakan sarana untuk mengembangkan diri dan ilmu pengetahuan, sikap maupun akhlaq. Hanya saja proses belajar tersebut tidak selamanya berjalan tanpa hambatan. Hambatan atau rintangan akan senantiasa muncul setiap waktu baik itu kesulitan mengajar guru, kesulitan belajar siswa dan sebagainya. Sehingga dengan beberapa hambatan tersebut diharapkan guru dan siswa yang bersangkutan akan lebih dinamis dan inovatif.
Keberadaan bimbingan dan penyuluhan di sekolah yang berperan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam berbagai hal terutama masalah kesulitan belajar harus senantiasa mendapat perhatian yang serius agar kesulitan belajar tersebut dapat segera teratasi. Dari sini peranan bimbingan dan penyuluhan disekolah mulai diperlukan dan bukan saja untuk mengatasi kesulitan belajar siswa akan tetapi juga membantu guru dalam mengenal siswanya secara lebih dalam sehingga bimbingan dan penyuluhan lebih sistimatis dan bermutu.

Bimbingan dan penyuluhan yang keberadaannya semakin dibutuhkan dalam dunia pendidikan merupakan suatu badan yang mempunyai fungsi sangat penting. Dengan kata lain bimbingan dan penyuluhan mempunyai peran dalam mencarikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses belajar mengajar. Bimbingan dan penyuluhan berfungsi untuk membantu kelancaran pendidikan dan pengajaran di sekolah, artinya dengan adanya bimbingan dan penyuluhan disekolah secara intensif akan memberi dampak baik secara langsung maupun secara tidak langsung yang akhirnya akan kembali pada keberhasilan pendidikan.

Berdasarkan pada pemikiran inilah kiranya perlu dilakukan penelitian tentang peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumbersari Kabupaten Probolinggo Tahun Pelajaran 2002/2003.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

November 11, 2009 at 11:34 pm Tinggalkan komentar

PENGARUH TINGKAT KECERDASAN SPIRITUAL TERHADAP KEHARMONISAN RUMAH TANGGA PADA SUAMI ISTRI DI DESA SELOKBESUKI KECAMATAN SUKODONO (PSIK-04)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk pribadi akan memberikan pengaruh besar dalam kehidupan individu saat ini dan kelak. Apabila dalam keluarga kurang memberikan pemenuhan yang seimbang terhadap kebutuhan dan nilai yang memberi cara pandang terhadap individu dalam menjalani kehidupan, maka akan timbul pengaruh yang kurang baik pada kehidupannya kelak.

Pembunuhan, KDRT, perselingkuhan, dan kasus bunuh diri yang kerap kita ketahui dari media masa faktor penyebabnya tidak akan lepas dari keadaan dalam keluarga. Hal ini banyak ditentukan oleh keadaan jiwa individu tersebut dan keadaan keluarga yang menjadi pendorong dalam penyaluran hasrat emosional. Seperti anak yang berumur belasan tahun nekat bunuh diri, ia malu karena tidak mempunyai seragam sekolah.

Kasus tersebut mengindikasikan bahwa kurangnya kontrol dan keseimbangan dari kehidupan keluarga, apabila dalam keluarganya terjadi kesinambungan, penanaman moral yang tepat, dan saling pengertian antar anggota keluarga, maka resiko bunuh diri seperti kasus diatas bahkan kasus-kasus yang lain dapat diantisipasi.
Sikap individu dalam menyikapi sesuatu sangatlah penting, dan yang berpengaruh terhadap pembentukan sikap positif ini adalah iklim keluarga yang harmonis. Sikap positif dapat menuntun individu dalam menghadapi masalah dan memecahkan masalah tersebut dengan arif. Dengan adanya sikap ini maka peristiwa pembunuhan dan KDRT, perselingkuhan, dan bunuh diri dapat dicegah.

Kehidupan keluarga penuh tantangan dan tanggung jawab. Di satu sisi jadwal yang padat, pekerjaan diluar maupun dalam rumah, tanggung jawab dan janji, dan sebagainya. Kesemuanya menuntut agar dapat dijalankan dengan mulus. Setiap suami-istri pasti mendambakan kehidupan yang damai, membesarkan anak yang baik dan bermartabat, meraih mimpi-mimpi, meraih kepuasan pribadi, dan tetap menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Akhirnya mereka memerlukan keseimbangan dalm menjalankan kehidupan ditengah peran-peran tadi.

Untuk mencapai keseimbangan dalam peran-peran tersebut yang akan membawa terhadap kesuksesan keluarga dimulai dari paradigma yang merupakan peta dalam menjalankan kehidupan. Kita bertanggung jawab atas efektifitas kita sendiri, kebahagiaan kita, dan untuk sebagian besar keadaan kita. Apakah derita atau senang, baik atau buruk, dan sebagainya, kesemuanya didasarkan bagaimana kita merespon keadaan tersebut. Respon yang benar adalah respon yang didsarkan pada prinsip yang hakiki sebagai acuan paradigma kita. Namun kadang kita meluapkan salah satu sisi dari manusia, atau paradigma kita kurang akurat, dengan paradigma yang berpusat pada prinsip maka keutuhan dalam memandang manusia akan terpenuhi.

Paradigma pribadi utuh sanagat dibutuhkan dalam memandang manusia terutama dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Dengan paradigma pribadi utuh setiap orang dalam organisasi apapun entah itu keluarga dapat menyalurkan bakat, kecerdikan, dan kreativitas orang-orangnya, sehingga organisasi tersebut sungguh hebat dan bertahan lama. Paradigma yang tepat atau paradigma pribadi utuh adalah bahwa manusia memiliki empat dimensi yaitu fisik/ekonomis, mental, sosial/emosional, dan spiritual. Apabila mengabaikan salah satu dari keempatnya maka kita memandang seperti benda yang yang harus dikelola, mengendalikannya, memotivasinya dengan hadiah dan hukuman. Mereka yang diperlakukan dengan menggunakan paradigma prbadi utuh itulah yang mau bekerja sama dengan sukarela, memberikan komitmen sepenuh hati, dan mencurahkan semangat dan kegairahan secara kreatif.

Tidak semua orang dapat menyandarkan diri pada paradigma utuh yang berpusat pada prinsip yang benar. Diperlukan usaha atau kecerdasan untuk merubah dari dalam keluar untuk menciptakan perubahan dan solusi untuk bertindak secara efektif dan bijaksana dalam kehidupan terutama keluarga. Diperlukan pula kecerdasan untuk menyadari dan memaknai, menetukan nilai, menghayati pentingnya moral serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan sesama makhluk.

Temuan ilmiah menyebut kecerdasan tersebut sebagai kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshal SQ penting dalam kehidupan. Ia menjelaskan bahwa seorang yang SQ-nya tinggi cenderung menjadi menjadi pemimpin yang penuh pengabdian, yaitu seorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain, ia dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain. Penjelasan ini juga berlaku terhadap keluarga dimana kecerdasan ini sangat penting dalam membangun karakter manusia yaitu anggota keluarga yang mengilhami orang di sekitarnya, dan menciptakan pribadi utuh yang mampu bertindak bijaksana sehingga dalam keluarga tadi tercipta suatu kesinambungan.

Mengenai karakter manusia yang mengilhami dan memberikan pengaruh positif berdasarkan visi dan prinsip yang lebih tinggi ini Covey menerangkan bahwa; kemenangan publik dimulai dengan kemenangan pribadi. Tempat untuk membangun hubungan apa pun adalah di dalam diri sendiri, dalam lingkungan pengaruh, dan karakter. Setiap pribadi yang menjadi mandiri, proaktif, berpusat pada prinsip yang benar, di gerakkan oleh nilai dan mampu mengaplikasikan dengan integritas, maka ia pun dapat membangun hungungan saling tergantung, kaya, langgeng, dan sangat produktif dengan orang lain.

Kecerdasan spiritual mampu mengungkap yang abadi, yang asasi, yang spiritual, yang fitrah dalam struktur kecerdasan manusia. Kecerdasan spiritual juga mampu membimbing kecerdasan lain berdasarkan prinsip yang hakiki untuk membuat kita lebih arif, lebih bijaksana dari dalam keluar sehingga membuat manusia dapat lebih benar, lebih sempurna, lebih efektif, lebih bahagia, dan menyikapi sesuatu dengan lebih jernih sesuai dengan bimbingan nurani yang luhur dalam keseluruhan hidupnya. Atau dengan kata lain mampu membentuk karakter, dan membuat prinsip yang benar akan semakin jelas. Hal ini sejalan dengan Covey yang menjelaskan “Semakin banyak kita tahu tentang prinsip yang benar, semakin besar kebebasan pribadi untuk bertindak dengan bijaksana. Dengan memusatkan kehidupan kita pada prinsip yang benar (tidak berubah tanpa batas waktu) kita menciptakan paradigma mendasar tentang hidup yang efektif. Pusat inilah yang menempatkan pusat lain pada perspektifnya. Ingatlah bahwa paradigma adalah sumber dari mana sikap dan perilaku mengalir”.

Dalam kehidupan keluarga tindakan bijaksana tersebut adalah faktor yang menciptakan keharmonisan. Karena kebebasan atau kemandirian pribadi untuk bertindak bijaksana membuat hubungan saling tergantung secara efektif dan menambah tingkat kepercayaan dalam hubungan. Tindakan bijaksana tersebuat adalah buah dari paradigma yang berdasarkan prinsip. Covey menjelaskan paradigma membuahkan karakter yang merupakan akar dalam kemenangan pribadi maupun kemenangan publik. Karakter membuahkan penguasaan diri dan disiplin diri yang merupakan fondasi dari hubungan yang baik dengan orang lain.

Hal kecil dalam hubungan adalah hal besar, dengan kata lain sangat mutlak di perlukan. Kebaikan dan sopan santun yang kecil-kecilan begitu penting. Karena dengan pemupukan sikap, tindakan, dan ucapan sehari-hari yang bijaksana akan menumbuhkan dan mengembangkan taraf keparcayaan.

Kepercayaan adalah bentuk tertinggi dari motivasi manusia. Kepercayaan menghasilkan yang terbaik dari dari dalam diri manusia. Di butuhkan kapasitas internal dan paradigma yang berpusat pada prinsip yang benar untuk mengorganisir dan memberdaya, sehingga membuat keluarga tersebut efektif. Jika cadangan besar kepercayaan tidak ditunjang oleh deposito yang terus menerus, maka suatu perkawinan akan rusak.
Dengan kecerdasan spiritual pribadi akan memiliki pribadi utuh dan berpusat pada prinsip yang benar. Apabila tindakan didasari dibimbing oleh prinsip yang benar maka tindakan, ucapan, dan sikapnya menjadi bijaksana dan penuh kebaikan. Ketika hal tersebut menjadi karakter dan terus dilakukan maka taraf kepercayaan akan meningkat, sehingga keharmonisan rumah tangga akan terjalin.

Individu yang mampu mengembangkan kecerdasan spritual akan memiliki prinsip dan cara pandang yang realistis, mampu menyatukan keragaman, mampu memaknai, dan mentranformasikan kesulitan menjadi medan penyempurnaan dan pendidikan spritual yang lebih tajam dan matang . SQ akan membuat kita mampu dalam menghadapi pilihan dan realitas yang pasti akan datang dan harus kita hadapi kita apapun bentuknya. Baik atau buruk jahat atau dalam segala penderitaan yang tiba-tiba datang tanpa kita duga. SQ dapat digunakan pada masalah krisis yang sangat membuat kita seakan kehilangan keteraturan diri. Dengan SQ suara hati kita akan menuntun kejalannya yang lebih benar.

Kesemuanya hal diatas penting dalam kehidupan individu maupun kehidupan rumah tangga, karena dengan memiliki sikap tersebut maka individu mampu bersikap serasi, positif dalam berbagai hal dan mempunyai kebermaknaan yang membawanya terhadap jalan hidup yang arif dan menenagkan hati. Akhirnya kejahatan, perselingkuhan, gangguan jiwa, dan lain sebagainya dapat dicegah karena individu telah mempunyai sikap positif dan paradigma utuh yang berpusat pada prinsip yang benar.

Perkawinan mempertemukan dan menyatukan dua kepribadian yang berbeda, keduanya memerlukan penyesuaian diri, dan keharmonisan rumah tangga akan dipengaruhi oleh penyesuaian diri dari keduanya. Individu dengan latar belakang berbeda tersebut menyatu, memungkinkan terjadinya konflik, hambatan, masalah yang memerlukan penyesuaian diri dan pemecahan sehingga menentukan kualitas dari kebahagiaan tersebut. Walaupun mereka telah hidup bersama namun masalah yang timbul adalah hal baru dan memerlukan solusi yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas dari keharmonisan rumah tangga. Kecerdasan spriritual memungkinkan individu lebih mampu untuk menyesuaian diri, karena ia lebih berpegang teguh pada paradigma utuh yang berpusat pada prinsip yang benar dan jalan hidup yang lebih arif, yang membuatnya mampu bersikap positif dan rasional, akhirnya ia dapat bertindak dengan bijaksana.
Survey awal peneliti selama tiga bulan Desember 2006- April 2007 menunjukkan bahwa dilapangan terdapat realitas-realitas berikut:
Suara-suara yang menceritakan derita dan keluhan banyak terjadi di Desa Selokbesuki Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang. Peneliti mengetahuinya karena banyak pasangan suami istri yang menceritakan dan mengeluh terhadap peneliti mengenai kondisi kronik dalam kehidupan keluarganya. Kedaan ekonomi yang melelahkan masyarakat dan segala tuntutan maupun kebutuhan dari berbagai elemen kehidupan telah memaksa keluarga terutama di daerah ini untuk bekerja keras menjalani hidup. Ketidakseimbangan rentan terjadi karena masalah ini. Dampak terhadap hubungan dapat terlihat beragam tergantung paradigma yang melahirkan cara penyesuaian diri.

Di daerah ini juga banyak terdapat pasangan suami istri dengan usia perkawinan yang cukup lama dengan berbagai latar belakang dan keadaan keluarga yang cukup beragam. Ada beberapa pasangan yang menikah pada waktu usianya masih belia karena di jodohkan, keduanya tidak begitu mengenal bahkan ada yang sama sekali tidak tahu tentang calon pasangannya hingga akad pernikahan, namun mereka dapat mempertahankan pernikahan hingga puluhan tahun. Bertentangan dengan kenyataan ini di daerah tersebut ternyata terdapat pula yang sering berganti pasangan karena ketidak cocokan, walaupun sebelumnya mereka telah lama berpacaran.

Ada beberapa pasangan yang keduanya sama-sama mempunyai karir, sehingga intensitas pertemuan diantaranya bisa dikatakan kurang, kesibukan meningkat dan memerlukan upaya yang lebih untuk keseimbangan. Terdapat dua realitas dalam pengamatan awal peneliti mengenai keluarga karir ini:
Pertama, terdapat pasangan yang sama-sama berkarir untuk memenuhi kebutuhan mereka namun tetap mampu menjalani kehidupan keluarga tanpa ada percekcokan atau ketidaksesuaian yang berarti, pernikahan mereka dapat berjalan awet hingga berpuluh tahun, anak dari keluarga karir tersebut jarang mengeluh tentang keluarga mereka.
Kedua. Terdapat pula keluarga yang sering mengeluh, sering terjadi percekcokan atau ketidaksesuaian, prasangka, sikap yang kurang hangat terhadap keluarga terutama anak, sehingga membuat situasi keluarga menjadi kurang baik. Peneliti pernah bertanya terhadap salah satu anak dari keluarga tersebut, ia menjelaskan bahwa; orang tua mereka sering memukulnya, sering memarahinya, dan orang tua mereka sering bertengkar. Anak tersebut tidak mengerti apa sebenarnya yang benar-benar menjadi tujuan, harapan dari orang tuanya, ia merasa serba salah, keinginannya tidak diperhatikan, dalam pendidikan anak tersebut memiliki banyak kesulitan. Akahirnya peneliti mengambil kesimpulan bahwa anak tersebut tidak mempunyai arah kecuali kendali penuh dari orang tuanya.

Peneliti pernah bertanya terhadap beberapa anggota keluarga dan tetangganya tentang sikap keseharian yang selalu ditunjukkan oleh keluarga yang jarang terjadi percekcokan atau ketidaksesuaian, dan keluarga yang rentan terjadi percekcokan. Hasilnya adalah; Keluarga yang jarang terjadi ketidak harmonisan selalu menunjukkan sopan santun, ramah, jujur, menahan ucapan dan tindakan yang dapat menyakiti orang lain. Keluarga yang kurang seimbang menurut pengamatan dan laporan dari tetangga adalah mereka yang suka bermain tangan dan keras dalm tindakan, mereka sensitif terhadap perkataan dan tindakan orang lain.

Lebih jauh menurut masyarakat disana semakin baik dan bijaksana perbuatan anggota keluarga terhadap tetangga ataupun terhadap anggota keluarga yang lain maka keluarga tersebut akan semakin tentram atau jarang terjadi percekcokan. Hal ini menurut mereka didasarkan pada pengamatan-pengamatan terhadap tetangganya maupun pengalaman mereka sendiri.

Setelah ditanyakan lebih lanjut terhadap keluarga yang jarang terjadi percekcokan, mengapa mereka bisa mengembangkan sikap tadi, hasilnya adalah; Menurut mereka hal itu penting sesuai dengan ajaran agama. Hal itu juga penting karena kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri, namun kita hidup bersama orang lain. Perilaku kita akan berdampak terhadap orang lain dan kita sendiri. Untuk sukses dalam kehidupan yang harus diperhatikan adalah selalu ingat pada tuntunan agama dan tidak mengabaikan orang lain sehingga kita bisa menjadi lebih baik.

Pengamatan dan perbincangan lebih lanjut dengan keluarga-keluarga di daerah ini menunjukkan bahwa; Banyak yang melaporkan banyaknya kesibukan menjadikan mereka kurang bisa menyeimbangkan diri. Mereka melaporkan bahwa kondisi labil tersebut membuat mereka kurang bisa bersikap tenang, sehingga kadang mereka bertindak kurang bijaksana dalam menghadapi sesuatu. Mereka merasa anak dan pasangan kurang perhatian.

Dilain fihak beberapa keluarga melaporkan juga bahwa walaupun mereka sibuk dan banyaknya tantangan dalam rumah tangga, mereka tetap berusaha tetap tenang dengan menyandarkan diri pada Tuhan. Mereka berusaha menyeimbangkan kehidupan mereka dan menikmati apa yang terjadi. Karena mereka menganggap hal itu adalah bagian dari ujian kehidupan yang harus dilalui, dan semua ada hikmahnya. Banyak dari mereka mengatakan Tuhan pasti memberikan jalan, dan yang harus kita lakukan hanya berusaha berbuat baik dan berharap hanya kepada-Nya.

Menurut laporan tetangga dan berdasarkan laporan dari tokoh-tokoh masyarakat mengenai peran ibadah dan kebiasaan untuk beramal shaleh ini adalah adalah semakin mereka taat beribadah semakin seimbang kehidupannya terutama keluarganya. Karena jarang sekali terdengar dan terlihat percekcokan yang berasal dari keluarga yang taat beribadah ini. Mereka juga jarang terjebak pada masalah negatif dalam bermasyarakat.

Peneliti juga menemukan keluarga yang penuh kasih sayang tersebut senang membantu orang lain, mereka sangat murah hati, suka memberi, selalu bersilaturrahmi, dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Mereka mengatakan bahwa dengan bersialturrahmi, ikut serta dalam kegiatan masyarakat serta dengan membantu orang lain, maka Tuhan akan memberikan rahmat dan kemudahan dalam menghadapi kehidupan. Sebagian dari mereka melaporkan bahwa hal ini adalah modal yang harus kita bangun dalam mendidik anak dan menjalankan keluarga. Karena dengan demikian kita takkan egois, kita takkan selalu memandang keatas. Akhirnya memupuk kekeluargaan yang penuh semangat kebaikan, sehingga urusan dunia takkan memecah belahkan keluarga. Keluarga adalah titipan Tuhan.

Pengamatan lebih jauh menunjukkan bahwa semakin keluarga tersebut peka, dermawan, dan terlibat dalam beberapa kegiatan masyarakat, maka didalam keluarganya lebih sinambung, saling menghargai, saling membantu, dan lebih disukai sekitarnya. Akhirnya mereka dikatakan semakin kohesif. Hal ini juga didasarkan atas laporan anggota keluarga, tetangga, dan tokoh masyarakat disana.

Relitas diatas menunjukkan betapa berpengaruhnya kecerdasan spiritual yang melahirkan paradigma pribadi utuh yang berpusat pada prinsip hakiki terhadap hubungan keluarga. Karena lewat lensa ini kita berperilaku dan bersikap. Jika paradigma mengenai kodrat manusia tidak utuh, tidak berpusat pada prinsip yang benar-benar abadi, dan tanpa memiliki kecerdasan yang membimbing kearah yang bijaksana, maka masalah kronik dalam hubungan rentan terjadi. Keharmonisan rumah tangga takkan diperoleh, yang berdampak pada pertumbuhan pribadi.

Aspek-aspek metode yang menciptakan kehidupan keluarga harmonis tidak luput dari pembentukan sikap dari para anggota keluarga tentang kehidupannya. Dituntut kesadaran dan pandangan yang lebih luas terhadap kehidupan, sehingga mereka dapat mempunyai arti, tujuan, dan kelapangan hati untuk memandang hidup lebih positif. Akhirnya tercipta iklim keluarga yang damai dan harmonis, sehingga membuat awetnya penikahan.

Melihat fenomena ini peneliti berkesimpulan sementara bahwa tingkat kecerdasan spritual akan mempengaruhi kualitas keharmonisan rumah tangga. Karena dengan kecerdasan spritual individu dapat matang secara emosional, memiliki pegangan prinsip dan paradigma yang lebih positif juga realistis, mampu menyatukan keragaman, mampu memaknai, penuh kasih sayang dan kelembutan, penuh dengan kebijaksanaan dan kebaikan, serta mentranformasikan kesulitan menjadi medan penyempurnan spritual yang lebih tajam dan matang. Asumsi peneliti adalah apabila hal itu mampu diaplikasikan dalam kehidupan, maka penyesuaian diri dengan orang lain serta lingkunganya dapat tercapai. Karena ia dapat menempatkan diri dan berperilaku tepat dalam setiap keadaan khususnya dalam keluarga.

Kesimpulan dan asumsi sementara peneliti ini takkan benar adanya tanpa pembuktian riil yang berpegang pada metode ilmiah. Karena itu sesuai dengan beberapa penjelasan dan persoalan diatas, maka timbul suatu keinginan peneliti untuk membuktikan kesimpulan dan asumsi tersebut. Benarkah kecerdasan spiritual mampu menciptakan keharmonisan rumah tangga? untuk mendapatkan jawaban yang tepat dan ilmiah maka peneliti akan melakukan suatu penelitian yang berjudul PENGARUH TINGKAT KECERDASAN SPIRITUAL TERHADAP KEHARMONISAN RUMAH TANGGA PADA SUAMI ISTRI DI DESA SELOKBESUKI KECAMATAN SUKODONO KABUPATEN LUMAJANG. Peneliti sangat berharap penelitian ini akan memberikan sumbangan bagi masyarakat terutama pasangan suami istri untuk menjaga dan meningkatkan keharmonisan rumah tangganya guna mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat.

B. Rumusan Masalah:
1. Bagaimana tingkat kecerdasan spiritual suami istri di Desa Selokbesuki Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang?
2. Bagaimana tingkat keharmonisan rumah tangga suami istri di Desa Selokbesuki Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang?
3. Apakah terdapat pengaruh kecerdasan spiritual terhadap keharmonisan rumah tangga pada suami istri di Desa Selokbesuki Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui tingkat kecerdasan spiritual suami istri di Desa Selokbesuki Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang.
2. Untuk mengetahui tingkat keharmonisan rumah tangga suami Istri di desa Selokbesuki Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang.
3. Untuk mengetahui Apakah terdapat pengaruh kecerdasan spiritual terhadap keharmonisan rumah tangga pada suami istri di Desa Selokbesuki Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang.

D. Manfaat Penelitian
1. Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap khazanah ilmu pengetahuan khususnya psikologi keluarga, psikologi klinis, kesehatan jiwa, psikologi konseling dan ilmu pengetahuan lain yang masih terkait dengan penelitian ini.
2. Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang hal yang dapat menciptakan keharmonisan rumah tangga. Sehingga dapat berimplikasi dalam; Persiapan untuk menikah bagi calon suami atau calon istri, peningkatan kualitas keharmonisan keluarga suami/istri, meminimalisir keretakan perkawinan, penurunan angka kriminalitas yang dilakukan anggota keluarga, dan pencegahan terjadinya gangguan jiwa yang berakar dari hubungan dalam keluarga.

April 12, 2009 at 11:21 am Tinggalkan komentar

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN RUHANIAH DENGAN ALTRUISME PADA MAHASISWA (PSIK-03)

BAB I
PENGANTAR

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Seiring dengan kemajuan teknologi dan komunikasi pada saat ini semakin banyak individu yang mementingkan dirinya sendiri atau berkurangnya rasa tolong menolong antara sesama. Globalisasi juga berperan membuat hubungan antar sesama manusia menjadi semakin rumit. Kerumitan ini dapat menciptakan stress dan kekerasan-kekerasan yang kadang-kadang disebabkan oleh hal-hal sepele dan aneh. Semakin berkembangnya aktivitas pada setiap orang, maka akan semakin sibuk dengan urusannya sendiri, yang memunculkan sifat atau sikap individualisme yang menjadi ciri manusia modern. Individualisme ini merupakan faham yang bertitik tolak dari sikap egoisme, mementingkan dirinya sendiri, sehingga mengorbankan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri. (Niken, 1998).

Atas dasar kesatuan asal-usul dan kesamaan derajat dihadapan Allah SWT, tiap-tiap individu harus menyadari tanggung jawab yang telah ditentukan Allah. Tanggung jawab dapat diartikan berbagai macam, tapi yang paling penting adalah upaya untuk menciptakan kesejahteraan bersama dalam lingkungan masyarakat. Seseorang yang tergolong mampu secara fisik atau mampu secara harta maka dianjurkan untuk menolong orang yang tidak mampu. Sebaliknya seorang yang tidak mampu, misalnya, karena berusaha sehingga dapat dikatakan mampu, maka dia diajurkan juga untuk memberi bantuan kepada orang lain yang tidak mampu atau dalam kesusahan. Setiap orang harus memahami fungsi masing-masing. Seorang muslim hendaklah mengunjungi saudara muslimnya yang sakit, meringankan beban orang yang mendapat kesulitan, menciptakan rasa cinta kasih, persaudaraan dan solidaritas antara satu dan lainya, ia juga hendaknya memberikan hak-hak orang sekelilingnya, seperti hak untuk mendapat kehidupan dan perlakuan yang layak. Islam menganjurkan, hendaklah diciptakan rasa kebersamaan dalam masyarakat dan saling membantu orang–orang yang sedang mengalami kesusahan, karena Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang yang mau membantu sesama dengan iklash. (Jalaludin 2002).

Mengingat masih banyak orang-orang yang hidup didalam kesusahan dan membutuhkan pertolongan dan sebagian besar diantaranya adalah orang–orang yang beragama islam, maka menjadi sebuah kewajiban bagi umat islam untuk memberikan bantuan kepada orang-orang tersebut yaitu dhuafa, fuqara dan masakin atau orang-orang yang sedang tertimpa musibah. (Ancok & Suroso (1994).

Altruisme adalah tindakan menolong yang dilakukan seseorang dalam kondisi tertentu. Pada altruisme salah satu yang penting adalah sifat empati atau merasakan perasaan orang lain di sekitar kita. Hanya altruisme timbal balik yang mempunyai dasar biologis. Kerugian potensial dari altruisme yang dialami individu diimbangi dengan kemungkinan menerima pertolongan dari individu lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa altruisme merupakan bagian “sifat manusia” yang ditentukan secara genetika, karena keputusan untuk memberikan pertolongan melibatkan proses kongnisi sosial komplek dalam mengambil keputusan yang rasional. (Latane&Darley, Schwartz, dalam Sears, 1991)

Kehidupan sehari-hari banyak sekali fenomena masyarakat yang menunjukkan sikapa altruisme diantaranya adalah seperti yang dilakukan oleh Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta. Satu-satunya rumah sakit yang mau menerima seorang anak dari pasangan Lila dan Husen yang telah ditolak oleh enam rumah sakit di Jakarta untuk berobat hanya karena keluarga itu miskin. (Kompas 2005). Dalam kasus yang lain ketika terjadi gempa dan tsunami di NAD, banyak sekali perusahaan besar atau kelompok masyarakat yang menyumbangkan bantuan baik dalam bentuk uang atau barang, setelah melakukan bantuan mereka langsung melakukan konferensi pers untuk memberitahukan jumlah uang dan bentuk barang yang disumbangkan. Menurut penulis disini masih ada unsur bisnis dari perusahaan tersebut dengan menyebutkan jumlah bantuan kepada masyarakat umum.
Pengalaman peneliti sendiri saat ikut menjadi relawan yang diberi amanah oleh Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia untuk untuk berangkat ke Aceh, melihat banyak relawan yang dibayar baru mau bekerja, dan sebagian mereka adalah para relawan yang berasal dari daerah yang dekat dengan Aceh. Bahkan ada sebagian yang mencari kesempatan dengan kondisi Aceh saat itu dengan mengambil besi-besi bekas bangunan, kendaraan-kendaraan yang terkena bencana tsunami dan gempa.
Hasil obsevasi peneliti. Mahasiswa Fakultas Psikologi Univesitas Islam Indonesia masih sering melakukan kecurangan-kecurangan, salah satunya adalah memberikan bantuan pada mahasiswa yang lain untuk dipresensikan atau titip absen kepada mahasiswa yang masuk kedalam kelas untuk mengikuti kegiatan perkuliahan dengan imbalan tertentu, sebab di Universitas Islam Indonesia ada peraturan presensi harus 75% sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian semester. Pada saat melakukan pengambilan matakuliah atau pengisian sistem kredit semester yang dilakukan secara mandiri oleh para mahasiswa, terjadi Key-in di anjungan dengan antrian yang panjang serta berdesak-desakan. Masih banyak terlihat beberapa mahasiswa yang melakukan Key-in lebih dari satu kali, karena mahasiswa tersebut mendapat titipan dari temannya. Pada hal Kampus membebaskan kepada para mahasiswa untuk memilih lokasi Key-in, misalnya di warung internet atau warnet.

Sebenarnya peneliti mengalami sendiri dimana kondisi saat melakukan pengambilan mata kuliah semester baik di anjungan fakultas maupun diwarung internet kedua lokasi ini kondisinya tidak jauh berbeda yaitu setiap mahasiswa harus antri dengan mahasiswa yang lain untuk melakukan Key-in.

Pada kasus yang berbeda antar sesama mahasiswa ada kebiasaan dimana saat-saat ujian tengah semester maupun ujian akhir yaitu meminjamkan catatan untuk di foto copy oleh mahasiswa yang lain bahkan ada kejadian mahasiswa yang membuatkan tugas untuk mahasiswa yang lain atau memberikan copy dari disket supaya diedit ulang tapi berbeda susunannya pada tugas itu dengan pemilik pertama. Mengapa masih ada beberapa bagian dari para mahasiawa tersebut yang rela untuk melakukan atau bersikap seperti seorang pahlawan bagi yang lain, pada hal resiko yang akan akan dihadapai sangat paham bila bersikap demikian misalnya saat melakukan Key-in atau memberikan contoh tugas pada mahasiswa yang lain. Setinggi apakah kondisi kecerdasan Ruhaniah para mahsiswa itu serta seberapa besar tingkat altruisme yang telah tertanam didalam diri mereka, itulah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian ini.

Pada kecerdasan spiritual (SQ) yang digagas oleh Zohar dan Marshall, (2001), menerangkan kecerdasan spiritual memungkinkan manusia menjadi kreatif, kecerdasan spritual memungkinkan kita untuk bermain dengan batasan, memainkan “permainan tak terbatas”. Kecerdasan spiritual memberikan kemampuan kepada kita untuk membedakan, memberikan rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku dibarengi dengan pemahaman dan cinta serta kemapuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasnya. Kecerdasan spiritual digunakan untuk bergulat denagan ihwal baik dan jahat, serta untuk membayangkan kemungkinan yang belum terwujud- untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri dari kerendahan.
Penelitian ini sangat penting untuk dilakukan karena sebagian orang ada yang memberikan bantuan pada orang lain tampa memperdulikan resiko yang akan dihadapinya, tapi dilain pihak ada juga orang yang sanggat tidak perduli pada kesusahan orang lain. Maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang antara hubungan Kecerdasan Ruhaniah yang dikaitkan dengan atruisme. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengungkap sejauh mana faktor kecerdasan ruhaniah dapat mempengaruhi altruisme seseorang, hasil penelitian ini dapat memberi masukan dan sekaligus menambah pengetahuan dalam dunia psikologi terutama psikologi islami dan psikologi sosial, pertanyaan ini perlu dibuktikan lebih lanjut dalam suatu penelitian ilmiah, yang akan dituangkan dalam tulisan dengan judul :Hubungan Antara Kecerdasan Ruhaniah dengan Altruisme pada Mahasiswa.

B. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan Positif Antara Kecerdasan Ruhaniah dengan Altruisme pada Mahasiswa.

C. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat dari penelitian ini dapat ditinjau secara teoritis maupun secara praktis,dari penelitian yang akan dilakukan ini dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Manfaat secara teoritis
a. Dengan diketahuinya hubungan kecerdasan spiritual dapat menimbulkan altruisme/perilaku altruistik maka diharapkan penelitian ini dapat dijadikan rujukan dan pedoman atau bahan kajian bagi usaha-usaha pembahasan lanjut maupun tujuan yang relevan
b. Sebagai bahan untuk memperkaya khasana ilmu pengetahuan terutama dibidang ilmu psikologi islami dan psikologi sosial
c. Bila penelitian ini terbukti, maka hal ini menegaskan bahwa kecerdasan spiritual mempunyai efek-efek psikologis yang positif dalam kehidupan manusia
2. Manfaat secara praktis
Diharapkan agar para individu sebagai mahluk sosial, yang tidak bisa hidup sendiri di alam ini maka dengan melakukan prilaku pendekatan diri kepada tuhan dalam bentuk meningkatkan kecerdasan Ruhaniah dapat menjadi pokok atau niat membantu orang lain yang sedang mengalami kesusahan atau kesulitan dengan iklas serta didasari hanya Allah swt semata, dan memberikan masukan dan motivasi kepada umat islam untuk lebih menigkatkan kecerdasan Ruhaniah serta memperdalam nilai-nilai spiritualias.

April 12, 2009 at 11:20 am 4 komentar

PERBEDAAN HASIL MENTAL IMAGERY ANTARA SUAMI DAN ISTRI MENGENAI DAMPAK PERCERAIAN (PSIK-02)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perkawinan adalah dipersatukannya dua pribadi dalam suatu ikatan formal melalui catatan sipil dan juga diabadikan di hadapan Tuhan sesuai dengan agama yang disetujui kedua belah pihak. Kedua pribadi ini masing-masing memiliki karakter, keinginan dan tujuan hidup. Dalam pernikahan, dua orang menjadi satu kesatuan yang saling berdampingan, dan membutuhkan dukungan. Saling melayani yang diwujudkan dalam hidup berbagi (share living), karena pernikahan merupakan ikatan yang bersifat permanent, yang diperlukan bagi kesejahteraan dan rasa aman keluarga.

Perkawinan merupakan bertemunya dua manusia yang berbeda dalam hal karakter, kepribadian, prinsip dan tujuan hidup, serta keinginan dan harapannya, maka dalam perjalanan pernikahan itu sendiri akan sulit menemukan jalan lurus tanpa belokan-belokan dan hambatan-hambatan dan kelokan-kelokan tajam yang akan membuat orang yang menempuhnya selalu waspada. Perbedaan-perbedaan inilah yang sering menjadi pangkal sebab dan salah paham yang mengganggu ketenangan dan suasana aman dalam keluarga. Perkawinan harus dipandang sebagai suatu tugas bagi kedua orang. Perlu menerima kenyataan bahwa dengan kesungguhan berupaya akan dapat mengatur hidup agar sejahtera dan bahagia. Cinta harus dipupuk sehingga bertambah kuat. Perlu keyakinan diri dan percaya akan pasangannya. Perlu kesiapan untuk berupaya terus menerus menjadikan pernikahan sebagai suatu pengalaman indah dan saling memperkaya. Perkawinan banyak ditentukan oleh tekad baik kedua orang yang akan membentuk dan menciptakan pernikahan yang baik dan harmonis.

Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan menyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari batasan ini jelaslah bahwa tujuan perkawinan bukanlah kebahagiaan tetapi kesatuan, dengan adanya ikatan lahir batin antara suami istri dalam membentuk keluarga. Untuk itu suami-istri perlu saling membantu dan melengkapi agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya mencapai kesejahteraan spiritual dan material. Tanpa adanya kesatuan tujuan di dalam keluarga, dan tanpa adanya kesadaran bahwa tujuan itu harus dicapai bersama-sama, maka dapat dibayangkan bahwa keluarga itu akan mudah mengalami hambatan-hambatan, yang akhirnya akan dapat menuju keretakan keluarga yang dapat berakibat lebih jauh. Tujuan perkawinan merupakan hal yang sangat penting untuk ditanamkan pada masing-masing pihak, yaitu suami dan istri. Tujuan yang sama harus benar-benar diresapi oleh anggota pasangan dan harus disadari bahwa tujuan itu akan dicapai secara bersama-sama, bukan hanya oleh istri saja atau suami saja.

Pada umumnya dalam perkawinan peran suami dan istri sudah diatur sedemikian rupa, sehingga peran istri adalah memberikan keturunan, lebih banyak berhubungan dengan anak (mengasuh dan membesarkan anak) dan mempunyai kesibukan rumah tangga di dalam rumah. Sebaliknya suami atau ayah memberikan rasa aman, status, dukungan ekonomi (pencari nafkah) dan banyak melakukan aktifitas di luar rumah. Selain itu peran suami juga bertanggung jawab, aktif dan terlibat dalam pengasuhan anak-anaknya. Menurut hukum Islam peran suami sebagai kepala rumah tangga, dan peran istri adalah sebagai ibu rumah tangga, namun bukan berarti sebagai kepala rumah tangga suami bersikap semena-mena pada istri.

Adanya masalah dalam perkawinan merupakan alasan perceraian yang umum diajukan oleh pasangan suami istri. Alasan tersebut kerap diajukan apabila kedua pasangan atau salah satunya merasakan ketimpangan dalam perkawinan yang sulit diatasi sehingga mendorong mereka untuk mempertimbangkan perceraian. Masalah-masalah yang biasa timbul dalam perkawinan adalah kurangnya keintiman secara seksual, meledak ketika terlibat perdebatan sehingga menjadi terlalu terbawa emosi, bersikap mementingkan diri sendiri, berlaku tidak jujur pada pasangan, tidak ada saling menghargai sesama pasangan, dan kurangnya perhatian terhadap pasangan.

Perceraian di masa sekarang ini tampaknya telah menjadi suatu fenomena yang umum di masyarakat, karena situasi dan kondisi masyarakat saat ini juga telah berubah, berbeda jauh dengan kondisi masyarakat sebelumnya. Kurangnya aturan-aturan hukum yang membatasi kemungkinan terjadinya perceraian, kurang adanya penolakan dari agama-agama terhadap proses perceraian, dan mulai hilangnya stigma sosial untuk mereka yang bercerai, merupakan kondisi-kondisi yang mendorong meningkatnya angka perceraian dimasyarakat. Menurut Gottman (dalam Bachtiar, 2004) , momok perceraian tersebut akan terwujud jika masing-masing selalu melakukan kritik yang intinya menyalahkan pasangan, penghinaan, pembelaan diri, dan membangun tembok-tembok pembatas untuk tidak berhubungan lagi.
Tabel 1
Jumlah Perceraian di Surabaya
Tahun 2000 – 2005
Tahun Cerai (%)
2000 0,85
2001 1,25
2002 0,80
2003 10,99
2004 12,49
2005 21,60
Sumber: Kantor Dep. AGAMA kota Surabaya
Biro Pusat Statistik Surabaya

Angka perceraian di Surabaya pada tahun 2005 mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2004 dan tahun 2003. Angka cerai pada tahun 2005 bertambah menjadi 2.160 perkara. Berdasarkan data dari Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Surabaya pada tahun 2004 angka perceraian sebesar 1.249 perkara dan tahun 2003 sebesar 1.099 perkara. Pada tahun 2006 periode Januari – November sebanyak 2.302 kasus cerai yang masuk ke Pengadilan Agama Surabaya.

Dari data yang diperoleh ternyata ada pergeseran tren yang menarik, semakin tahun, jumlah perempuan mengajukan gugatan cerai terus meningkat bila dibandingkan dengan jumlah laki-laki yang mengajukan talak. Hal ini dapat dikatakan bahwa perempuan makin lama makin berani menyatakan ingin berpisah. Pada 2003, jumlah perempuan yang menggugat cerai suami berjumlah 1.220 orang. Angka itu meningkat jadi 1.464 setahun kemudian dan menjadi 1.622 di tahun 2005. Sementara jumlah talak yang diajukan nyaris tidak berubah. Pada tahun 2006, perbedaan ini terus berlanjut. Hingga akhir November , PA Surabaya telah menerima 1.368 kasus cerai gugat dan 813 cerai talak.
Menurut Sulaiman (hakim/humas PA Surabaya), banyaknya cerai gugat yang terjadi sekarang ini karena adanya beberapa faktor yang menyebabkan, faktor yang pertama adalah pendidikan emansipasi berhasil sehingga wanita-wanita tahu tentang hak-hak dan kewajibannya, karena saat ini hak perempuan dilindungi oleh Undang-undang sehingga tahu mana perilaku yang menyimpang dan tidak. Yang kedua wanita-wanita sekarang ini sudah tidak sabaran karena banyak yang sudah mandiri dan tidak bergantung pada suami sehingga jika terjadi perselisihan yang sepele, pihak istri langsung meminta cerai pada suaminya. Dan faktor lainnya karena maraknya PIL (Pria Idaman Lain) dan WIL (Wanita Idaman Lain) karena mayoritas perempuan tidak mau dimadu.

Ketidakcocokan menjadi alasan terbanyak dalam kasus perceraian di PA Surabaya. Sejak tahun 2005 hingga November 2006 ketidakcocokan menduduki rating tertinggi sebagai faktor penyebab perceraian. Menurut Sulaiman (Hakim/Humas PA Surabaya, interview 21 Desember 2006) ketidakcocokan ini merupakan akibat dari semua alasan-alasan perceraian. Namun ada sebab – sebab yang lain misalnya perekonomian, penganiayaan, tidak ada tanggung jawab, adanya pihak ketiga, cemburu yang kesemua ini menjurus pada ketidakcocokan. Sehingga ketidakcocokan ini merupakan puncak dari semua alasan-alasan perceraian.

Titi merupakan salah satu perempuan yang mencantumkan ketidakcocokan menjadi sebagai alasan untuk meminta cerai. Karena menurutnya ketidakcocokan merupakan hal yang prinsip, sehingga tidak mungkin bersatu lagi. (Jawa Pos, Kamis 21 Sept 2006)
Menurut Pramadi, dengan menjelaskan terlebih dahulu kondisi awal sebuah perkawinan terjadi fase peralihan peranan, dari yang semula sendiri menjadi berdua hingga anak-anak mereka lahir. Sehingga proses penyesuaian inilah yang tidak mudah. Yang akhirnya banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian karena salah satu hakikat dari pernikahan adalah menyatukan dua individu yang berbeda. Ketidakcocokan merupakan sebuah konsekuensi logis dari sebuah pernikahan. (Jawa Pos, Kamis 21 Sept 2006)

Percerian merupakan suatu kondisi yang sangat menyakitkan dan menyulitkan dalam kehidupan seseorang, karena menghadapkan mereka dengan sejumlah proses pengambilan keputusan yang penting. Sebelum mengambil keputusan untuk bercerai, seseorang dihadapkan pada sejumlah tahapan yang melibatkan aspek emosional dan psikis, serta pertimbangan sosial dan ekonomi. Perubahan-perubahan yang timbul akibat perceraian menciptakan perasaan yang gagal dalam diri maupun istri dan ketidakseimbangan bagi orang-orang yang terlibat.

Permasalahan yang sering dijumpai bagi perempuan yang bercerai adalah perubahan peranan sebagai ibu rumah tangga menjadi single parent dan memiliki hak asuh anak lebih besar. Donna yang berusia 32 tahun dan mempunyai 3 anak, suaminya menceraikannya dan menikahi perempuan lain. Uang perawatan anaknya hampir tidak cukup untuk menyewa tempat tinggal, untuk pakaian, dan kebutuhan lain. Namun bagi sebagian laki-laki perceraian tidaklah sangat menyakitkan. Mereka bisa memiliki hak yang lebih sedikit atas anak-anaknya, karena hak asuh anak telah diserahkan pada mantan istri (Santrock, 2002).

Untuk melihat dampak perceraian bagi pasangan suami istri yang masih terikat perkawinan secara sah, kita dapat menggunakan mental imagery atau pembayangan. Mental imagery merupakan kemampuan manusia untuk mengkhayalkan gambaran-gambaran dalam pikiran setelah stimuli-stimuli asli tidak dapat dilihat lagi. Dengan imagery seseorang dapat membayangkan pengalaman masa lalu atau juga pengalaman masa depan yang belum diketahui.

Mental imagery adalah pengalaman yang menyerupai pengalaman perseptual. Pengalaman – pengalaman ini dipahami oleh pokok-pokok mereka sebagai rekonstruksi-rekonstruksi atau pengalaman-pengalaman perceptual yang nyata dari masa lampau mereka, diwaktu lain yang mereka boleh tampakkan untuk mengantisipasi apa yang diinginkan dan apa yang ditakutkan dengan pengalaman-pengalaman dimasa depan.
Penggunaan mental imagery bertujuan untuk membentuk suatu gambaran mental dengan merasakan apa yang kita gambarkan didalam pikiran kita, sehingga kita mampu menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi. Maka dari itu dengan penggunaan mental imagery kita dapat melihat perbedaan dampak perceraian pada individu yang telah menikah sebelum terjadi perceraian dalam perkawinan individu. Dalam hal ini individu akan diminta untuk membayangkan dampak-dampak perceraian jika perkawinan individu berakhir dengan perceraian.

Adapun hasil pembayangan individu mengenai dampak perceraian sebagai berikut :
Pasutri I telah menikah 2 tahun
Istri (I) : “Selama ini saya tidak pernah membayangkan untuk bercerai, saya takut untuk membayangkan karena hal itu mengerikan. Perceraian itu sayang banget karena akibatnya kita akan merasa kehilangan karena kita biasanya dengan pasangan, begini dengan pasangan kemudian tidak ada. Yang tadinya semuanya sama-sama jadi harus memulai lagi dari awal, dan itu membuat saya malas.”

Suami (S) : “Perceraian itu merupakan solusi terakhir karena akan memisahkan semuanya. Andaikata saya bercerai, saya akan mencari lagi itupun harus beradaptasi lagi, apakah yang baru ini juga akan cocok, apakah akan ada keretakan lagi di rumah tangga yang berikutnya semua itukan masalah, tergantung bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik. Tapi jika saya cerai, ya….saya akan cari yang baru. ”
(hasil dari survey yang terpisah antara suami dan istri, November 2006)

Pasutri II dengan usia pernikahan 4 tahun
(I) : “ Jika saya berantem masalah ekonomi atau masalah anak saya selalu berpikir untuk cerai, tapi kadang saya menyesal karena cerai itu pasti sangat menyakitkan, cerai itu lho gak enak. Lagian saya punya anak. Kan akan berdampak pada anak kasian nanti dia ikut siapa, pasti kita akan rebutan anak. Apalagi saya tidak punya penghasilan, terus kalo saya ngotot anak ikut saya, nanti saya kasih makan apa? Kan kasian anaknya.
(S) : “ Perceraian berarti semuanya akan hancur, dan membawa akibat yang menyakitkan, tapi kalo saya cerai ya…..saya cari lagi, saya pasti kawin lagi.
(hasil dari survey yang terpisah antara suami dan istri, November 2006)

Pasutri III telah menikah selama 6 tahun
(I) : “Saya sering membayangkan tentang perceraian. Perceraian itu sangat menyakitkan karena kita harus berpisah, dan tidak mudah untuk mencari yang baru. Namun jika saya bercerai saya akan lebih banyak merenung dan introspeksi diri karena bisa saja waktu mengambil keputusan itu dalam keadaan emosi. Perceraian itu sendiri akan membuat saya merasa kesepian karena selama ini kita punya teman sharing jadi tidak ada, dan akan berdampak pada anak karena dia akan merasa sedih, sekarang saja jika saya berbeda argument dan ribut-ribut dengan suami saya dia akan menangis.”

(S) : ”saya sering sekali terbayangkan tentang cerai karena banyak melihat dari lingkungan dan teman-teman saya. Orang bercerai itu ga enak, lebih baik mati dari pada cerai. Karena jika cerai bisa sampai pada turunan-turunan kita dan hal itu ga gampang, dapat memutuskan hubungan rumah tangga, pecahnya keluarga. Saya pun akan menjadi sulit untuk percaya kembali pada orang lain atau ragu-ragu pada orang lain. Namun jika hal ini terjadi saya akan mencari penggantinya yang lebih baik, walaupun rumah tangga yang pertama saya lebih berkesan dari pada yang kedua. Hal ini sudah banyak terjadi pada teman-teman saya.”
(hasil survey yang terpisah antara suami dan istri, november 2006)

Dari hasil survey di atas dapat dilihat adanya perbedaan pandangan tentang perceraian antara suami dan istri. Pada pihak suami jika perceraian terjadi pada mereka, maka mereka akan mencari pengganti yang baru dan menikahinya. Walaupun mereka harus beradaptasi lagi, untuk menemukan kecocokan. Meskipun dampak perceraian itu akan merubah semuanya karena menurut mereka perceraian itu akan memisahkan dua keluarga menjadi pecah, namun untuk kembali berumah tangga dengan wanita lain lebih mudah dibandingkan dengan pihak istri. Berbeda dengan istri, menurut mereka perceraian merupakan hal yang sangat menyakitkan dan membuat mereka mejadi kesepian dan kehilangan. Pihak istri lebih memikirkan nasib anak-anak mereka ketika mereka memutuskan bercerai, bagaimana mereka harus membesarkan anak mereka tanpa kehadiran suami. Untuk memulai hidup baru dengan pria yang lain, merupakan hal yang tidak mudah mereka lakukan dan malas jika harus beradaptasi lagi dan kembali lagi dari awal.

Berdasarkan fenomena yang telah dipaparkan diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui perbedaan hasil mental imagery antara suami dan istri mengenai dampak perceraian. Karena dengan meggunakan mental imgery maka individu dapat memunculkan atau membayangkan dampak – dampak dari perceraian sebelum perkawinan individu berakhir dengan perceraian.

B. Batasan Masalah
Pembatasan masalah penelitian membantu peneliti untuk lebih mempersempit permasalahan dengan suatu ukuran yang dapat dilaksanakan atau dikerjakan. Pembatasan ini juga diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman pembaca dalam menafsirkan judul penelitian, untuk itu peneliti perlu memberikan suatu batasan sebagai berikut :
Perceraian membawa dampak yang besar pada siapapun, baik kepada pasangan yang bercerai maupun pada anak-anak mereka. Stres akibat perceraian yang terjadi menempatkan laki-laki maupun perempuan dalam resiko fisik maupun psikis. Stres karena perceraian dapat menurunkan kemampuan sistem pertahanan tubuh, menyebabkan individu yang bercerai rentan terhadap penyakit dan infeksi. Dalam satu penelitian terhadap perempuan yang baru saja berpisah (1 tahun atau kurang) cenderung menunjukkan kegagalan fungsi daya tahan tubuh daripada perempuan yang perpisahannya terjadi beberapa tahun sebelumnya (1- 6 tahun) (Kiecolt-Glaser & Glaser, 1988)
Berdasarkan data dari U.S. National Center for Health Statistics, Vital statistics of the United States, annual (1980) kebanyakan pernikahan berakhir dengan perceraian ±2 – 6 tahun. Menurut Sulaiman, mayoritas pengajuan cerai yang masuk di Pengadilan Agama Surabaya memiliki usia perkawinan ±2 – 5 tahun. Sehingga subyek penelitian ini dibatasi pada usia pernikahan 2 – 6 tahun. Selain usia pernikahan, subyek pun telah dibedakan berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan atau pasangan suami-istri.

Subyek penelitian masih terikat perkawinan secara sah, sehingga pemberian mental imagery untuk mempermudah subyek membayangkan dampak-dampak perceraian jika perceraian itu terjadi dalam diri individu.
Dampak perceraian dapat dilihat pada individu yang masih terikat perkawinan dengan menggunakan mental imagery, dimana individu akan diminta untuk menggambarkan gambaran mental dalam pikiran individu mengenai dampak perceraian jika perceraian itu terjadi dalam perkawinan individu. Mental imagery berfungsi untuk melihat perbedaan pendapat antara suami dan istri mengenai dampak perceraian.

C. Rumusan Masalah
Dari uraian yang telah dijelaskan diatas, maka masalah penelitian yang diajukan adalah : apakah ada perbedaan hasil mental imagery antara suami dan istri mengenai dampak perceraian?

D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin diperoleh dari hasil penelitian ini ingin mengetahui apakah ada perbedaan hasil mental imagery antara suami dan istri mengenai dampak perceraian.

April 12, 2009 at 11:18 am Tinggalkan komentar

MAKNA HIDUP PADA PEKERJA SEKS KOMERSIAL (PSK) (PSIK-01)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sekarang ini keberadaan wanita tuna susila atau sering disebut PSK merupakan fenomena yang tidak asing lagi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, akan tetapi keberadaan tersebut ternyata masih menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Pertanyaan apakah Pekerja Seks Komersial (PSK) termasuk kaum yang tersingkirkan atau kaum yang terhina, hal tersebut mungkin sampai sekarang belum ada jawaban yang dirasa dapat mengakomodasi konsep pekerja seks komersial itu sendiri. Hal ini sebagaian besar disebabkan karena mereka tidak dapat menanggung biaya hidup yang sekarang ini semuanya serba mahal.

Prostitusi di sini bukanlah semata-mata merupakan gejala pelanggaran moral tetapi merupakan suatu kegiatan perdagangan. Kegiatan prostitusi ini berlangsung cukup lama, hal ini mungkin di sebabkan karena dalam prakteknya kegiatan tersebut berlangsung karena banyaknya permintaan dari konsumen terhadap jasa pelayanan kegiatan seksual tersebut oleh sebab itu semakin banyak pula tingkat penawaran yang di tawarkan.

Di negara-negara lain istilah prostitusi dianggap mengandung pengertian yang negatif. Di Indonesia, para pelakunya diberi sebutan Pekerja Seks Komersial. Ini artinya bahwa para perempuan itu adalah orang yang tidak bermoral karena melakukan suatu pekerjaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat. Karena pandangan semacam ini, para pekerja seks mendapatkan cap buruk (stigma) sebagai orang yang kotor, hina, dan tidak bermartabat. Tetapi orang-orang yang mempekerjakan mereka dan mendapatkan keuntungan besar dari kegiatan ini tidak mendapatkan cap demikian. (6 Maret 2007 dari http://www.pikiran rakyat.com/)
Jika dilihat dari pandangan yang lebih luas. Kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya yang dilakukan pekerja seks adalah suatu kegiatan yang melibatkan tidak hanya si perempuan yang memberikan pelayanan seksual dengan menerima imbalan berupa uang. Tetapi ini adalah suatu kegiatan perdagangan yang melibatkan banyak pihak. Jaringan perdangan ini juga membentang dalam wilayah yang luas, yang kadang-kadang tidak hanya di dalam satu negara tetapi beberapa negara.

Oleh sebab itu perlu diakui bahwa eksploitasi seksual, pelacuran dan perdagangan manusia semuanya adalah tindakan kekerasan terhadap perempuan dan karenanya merupakan pelanggaran martabat perempuan dan juga merupakan pelanggaran berat hak asasi manusia. Jumlah perempuan pekerja seks meningkat secara dramatis di seluruh dunia karena sejumlah alasan ekonomis, sosial dan kultural.

Dalam kasus-kasus tertentu perempuan yang terlibat telah mengalami kekerasan patologis atau kejahatan seksual sejak masa anak. Lain-lainnya terjeremus ke dalam pelacuran guna mendapat nafkah yang mencukupi untuk diri sendiri atau keluarganya. Beberapa mencari sosok ayah atau relasi cinta dengan seorang pria. Lain-lainnya mencoba melunasi utang yang tak masuk akal. Beberapa meninggalkan keadaan kemiskinan di negeri asalnya, dalam kepercayaan bahwa pekerjaan yang ditawarkan akan mengubah hidup mereka. Jelaslah bahwa eksploitasi perempuan yang meresapi seluruh dunia adalah konsekuensi dari banyak sistem yang tidak adil. Banyak perempuan yang berperan sebagai pekerja seks dalam dunia pertama datang dari dunia kedua, ketiga dan keempat. Di Indonesia dan di tempat lain banyak dari mereka diperdagangkan dari negeri lain untuk melayani permintaan jumlah pelanggan yang meningkat. (Yangcheng Evening News, 15 Desember 2003 diambil dari http://www.kompas.co.id/).

“Sebaiknya tidak perlu ada hukum yang melarang aktivitas prostitusi karena akan ada seseorang dipersalahkan karena aktivitas tersebut. Dan ini menjadi tidak adil dalam konteks di mana prostitusi adalah pelibatan dua orang lawan jenis untuk sebuah kesenangan seksual.” (Dr Li Yinhe, sosiolog dan peneliti bidang perilaku seksual dari Cina, ketika ia menyampaikan ceramah berjudul A Criticism of Laws Governing Sexual Behavior in Contemporary China dalam simposium di He Xiangning Art Gallery, Shenzhen, Cina, bulan Desember 2003 lalu (Yangcheng Evening News, 15 Desember 2003 diambil dari http://www.kompas.co.id/).

Pandangan Dr Li itu mungkin dapat menimbulkan kontroversi apabila dilontarkan di Indonesia karena masyarakat kita pasti menolak pandangan seperti itu. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan, sekalipun praktik prostitusi secara hukum dan agama dilarang di Indonesia, kegiatan prostitusi bawah tanah tetap saja marak di kota-kota besar di Indonesia. Walaupun di Indonesia tidak ada undang-undang yang melarang praktek prostitusi, ada beberapa peraturan perundangan dan regulasi pemerintah yang menyentuh aktivitas seksual atas dasar kesepakatan bersama, atau lebih populer disebut seks komersial. Sejumlah pemerintah daerah memiliki peraturan daerah yang melarang pendirian lokalisasi. Dengan dasar hukum ini, aktivitas seksual atas dasar kesepakatan bersama di antara dua orang atau lebih dalam sebuah tempat yang bersifat pribadi atau “dipersiapkan” dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal. Definisi ini sebenarnya sudah ketinggalan zaman. Ketentuan yang didasarkan pada definisi ini seharusnya sudah dieliminasi. Berdasarkan prinsip universal tentang hak asasi manusia, sebenarnya setiap orang dewasa memiliki hak melakukan apa saja yang dianggap “menyenangkan” bagi badan mereka.

Untuk yang pertama kalinya terjadi, seorang kepala dinas tenaga kerja mengkritisi sebutan pekerja seks komersial bagi para pelacur. Ini diungkapkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Sukabumi Drs. H. Karmas Supermas, M.M. Karmas merasa keberatan dengan istilah pekerja seks komersial karena mengandung sebuah konsekuensi yang berat dilihat dari kacamata ketenagakerjaan. Pasalnya, di satu sisi wanita yang berprofesi sebagai pelacur disebut “pekerja”, tetapi di sisi lain “pekerja” itu tidak pernah mendapat perlindungan, bahkan selalu diobrak-abrik. Menurut Karmas, selama ini persoalan PSK belum dipandang secara komprehensif, menyeluruh, dan sistematik, terutama dalam penanganannya. Bahkan, sangat ironis dan dilematis, terutama antara persoalan yang ada dengan sistem penanganannya. “Kalau kita cermati istilah pekerja seks, di satu sisi disebut sebagai pekerja. Tetapi, di sisi lain dilarang melakukan pekerjaan tersebut,” jelas Karmas. Lebih jauh Karmas mengajak masyarakat sekitar untuk bersama-sama mencermati keterkaitan antara pekerja seks, ketenagakerjaan, gender, moralitas bangsa, dan hak asasi manusia dari sudut ketenagakerjaan, sesuai dengan UU No.13 Tahun 2003. Pengertian pekerja atau buruh, jelas Karmas, yaitu setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Namun, bukan untuk orang-orang yang berprofesi sebagai pelacur atau pekerja seks komersial. Kata “pekerja” sudah bisa dipastikan ada hubungannya dengan lapangan pekerjaan serta orang atau badan hukum yang mempekerjakan dengan standar upah yang dibayarkan. Kemudian, lapangan pekerjaan yang diperbolehkan harus memenuhi syarat-syarat kerja secara normatif yang diatur oleh peraturan perundang-undangan, termasuk sistem pengupahan dan keselamatan kesehatan kerja. Untuk selanjutnya, jenis pekerjaan tidak boleh bertentangan dengan moralitas bangsa atau agama yang diakui pemerintah. “Seks, tidak termasuk kelompok suatu jenis jabatan maupun pekerjaan. Jadi, tidak tepat kalau istilah pekerja seks komersial itu ditujukan bagi para wanita tuna susila atau pelacur. Istilah pekrja seks sepertinya merupakan sebuah pemolesan bahasa yang dapat berakibat kepada pembenaran terhadap perbuatan amoral tersebut,” kata Karmas. Oleh karena itu, Karmas mengusulkan kepada pemerintah atau siapa pun orang yang pertama kali mengganti istilah pelacur dengan WTS agar tidak menggunakan lagi istilah pekerja seks karena tidak menutup kemungkinan akan menjadi preseden buruk di kalangan pekerja “asli” atau buruh yang ada di Indonesia, bahkan tidak menutup kemungkinan merusak citra pekerja pada umumnya. (6 Maret 2007 dari http://www.pikiran rakyat.com/)

Dalam masyarakat, kehidupan seorang pekerja seks komersial merupakan suatu hal yang kurang dapat diterima. Sampai sekarang PSK dipandang sebagai mahluk yang menyandang stereotype negatif, dan tidak dianggap pantas menjadi bagian dari masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, kaum PSK selalu mendapat tekanan dari masyarakat, bahkan menjadi bahan olokan dan ejekan. Tekanan dan perlakuan negatif dari lingkungan ini biasanya muncul dari perilaku masyarakat yang selalu ingin memojokkan mereka.
Pandangan masyarakat ini hanya dikhususkan kepada para perempuan pekerja seks komersial yang menjalani pekerjaan ini karena murni akibat tekanan ekonomi. Kesan pertama akan perempuan pekerja seks ini adalah para perempuan jalang yang amoral. Tidak tahu malu, penggoda lelaki. Tidak layak bagi para perempuan pekeja seks untuk dihargai. Kenapa masyarakat bisa memiliki kesan seperti itu, karena sejak kecil ditanamkan oleh orang-orang tua bahwa perempuan pekerja seks menyebutnya pelacur, adalah perempuan yang tidak benar kelakuannya. Apalagi digambarkan para pekerja seks Komersial (PSK) tersebut kehidupannya glamour tetapi norak. Juga ditunjukkan jenis parfum yang di botolnya bergambar putri duyung, yang namanya minyak si nyong nyong, yang pakai minyak wangi itu adalah para pelacur. Akhirnya tertanamlah di benak masyarakat selama bertahun-tahun bahwa PSK itu memang perempuan jalang. (6 Maret 2007 dari http://www.pikiran rakyat.com/)

Kemudian jika melihat sendiri kehidupan nyata bahwa banyak dari para pekerja seks itu terpaksa menjalani pekerjaannya sebagai PSK karena tekanan ekonomi. Ada yang memang datang dari keluarga yang miskin, ada yang ditelantarkan suaminya sementara anak-anaknya harus tetap makan, ada yang untuk membiayai pengobatan orang tuanya, ada juga yang terpaksa disetujui suaminya karena benar-benar hidup amat miskin. Senada seperti pengakuan beberapa PSK, bahwa sebenarnya jika mereka boleh memilih, mereka tidak ingin jadi PSK, tetapi apa daya, mereka tidak punya kepandaian atau keterampilan.

Seharusnya kita tidak boleh merendahkan para PSK karena mereka juga bekerja, menjual jasa dan mereka dibayar untuk jasa mereka. Kita bisa merasa iba jika mendengar kabar para PSK ditangkapi petugas ketertiban. Atau disiksa pelanggannya, atau dijahati germonya. Sebetulnya para PSK akan selalu ada karena pemakai jasa mereka juga selalu ada. Meskipun banyak yang tidak menyetujui pilihan pekerjaan mereka, tetapi kita mulai bisa menghormati bahkan kagum pada para perempuan pekerja seks komersial, karena setidaknya mereka itu tetap merupakan pahlawan bagi keluarganya. Dengan demikian saya asumsikan bahwa mereka yang bekerja sebagai PSK seharusnya tidak mendapatkan asumsi-asumsi buruk mengenai diri mereka, padahal mereka rela mengorbankan kesucianya demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Tidak adanya dukungan sosial ini menyebabkan para PSK membentuk kelompok sendiri, yang selanjutnya makin menjauhkan diri mereka dari masyarakat umum seperti masuk ke dalam suatu lokalisasi (wadah tempat prostitusi berlanjut). Penolakan atau sikap negatif masyarakat serta label-label yang dilekatkan masyarakat pada PSK dapat menimbulkan efek Self-Fulfilling Phrophecy, Akibatnya komunitas PSK yang mengalami penurunan identitas ini, makin menarik diri dan mengalami berbagai hambatan dalam penyesuaian sosial dan pengembangan diri. Jadi dapat dikatakan bahwa sikap masyarakat ini justru dapat menimbulkan masalah psikologis yang baru bagi kaum wanita tuna susila. Dari sinilah kita mendapatkan suatu gambaran baru bagaimana PSK hidup dibawah tekanan (pressure) dari lingkungan sekitarnya baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Serta harus menerima berbagai macam stereotype negatif yang dialamatkan pada pelacur selama ini dan belum tentu kesemua yang ditujukan tersebut benar adanya. (2 November 2006 dari http://www.mirifica.com)
PSK yang secara sadar maupun tidak sadar, langsung maupun tidak langsung ingin juga diakui sebagai layaknya manusia pada umumnya, sehingga dapat dikatakan mempunyai kebutuhan dasar serta keinginan mereka dengan manusia lain pada umumnya. Sebagaimana manusia pasti memiliki suatu keinginan untuk hidup bahagia. Meraih kebahagian merupakan tujuan hidup manusia yang tidak dapat dipungkiri lagi, sehingga segala apa yang dilakukan manusia pada akhirnya hanyalah untuk membuatnya hidup bahagia.
Manusia dalam mencari tujuan hidup, mempunyai suatu kebutuhan yang bersifat unik, spesifik, dan personal, yaitu suatu kebutuhan akan makna hidup. Frankl mengartikan makna hidup sebagai kesadaran akan adanya suatu kesempatan atau kemungkinan yang dilatarbelakangi oleh realitas atau menyadari apa yang bisa dilakukan pada situasi tertentu (Frankl, 2004 : 221). Apabila seseorang berhasil makna hidupnya, maka kehidupannya dirasakan penting dan berharga, dengan demikian akan menimbulkan penghayatan bahagia (Bastaman, 2000 : 73). Makna hidup berfungsi sebagai pedoman terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan, sehingga dengan demikian makna hidup seakan-akan menantang (Challengging) dan mengundang (Inviting) seseorang untuk memenuhinya, serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan menjadi terarah. Makna hidup bersifat spesifik dan unik, makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapapun, melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri (Bastaman, 2000 : 73).

Permasalahan PSK tidak ubahnya sama dengan manusia pada umumnya, secara garis besar PSK tentunya juga mempunyai suatu Makna Hidup. Sama halnya dengan manusia atau individu lainnya. Proses penemuan makna hidup bukanlah merupakan suatu perjalanan yang mudah bagi seorang PSK, perjalanan untuk dapat menemukan apa yang dapat mereka berikan dalam hidup mereka, apa saja yang dapat diambil dari perjalanan mereka selama ini, serta sikap yang bagaimana yang diberikan terhadap ketentuan atau nasib yang bisa mereka rubah, yang kesemuannya itu tak lepas dari hal-hal apa saja yang diinginkan selama menjalani kehidupan, serta kendala apa saja yang dihadapi oleh mereka dalam mencapai Makna Hidup

Oleh karena hal inilah, penelitian yang sifatnya lebih mendalam tentang Makna Hidup seorang PSK sangat diperlukan untuk memperkaya teori dan memberikan tambahan pengetahuan. Dalam permasalahan ini, usaha yang dilakukan adalah penelitian tentang Makna Hidup PSK. Penelitian ini lebih berangkat dari fenomena yang unik dimana mereka selama ini sadar akan pandangan negatif yang diperolehnya dari lingkungan sekitar, tetapi mereka tetap dapat mempertahankan apa yang mereka percayai, dan mereka yakini serta hayati dan menjalankan kesemuanya itu dengan penuh keyakinan tanpa terpengaruh pendapat ataupun opini-opini dari orang-orang yang memandang negatif terhadap dirinya.

1.2 Identifikasi Masalah
PSK sama halnya dengan manusia lainnya, dimana mereka mempunyai keinginan untuk meraih arti hidup dan hal itu tercermin dalam Makna Hidup. Seperti merasakan kebahagiaan disayang atau diperhatikan orang lain, serta menyayangi orang lain, dihargai seperti orang lain pada umumnya, diberikan kesempatan yang sama dalam mencapai kesejahteraan di bidang ekonomi adalah hal yang menjadikan seorang PSK secara sadar maupun tidak sadar menemukan Makna Hidup bagi dirinya. Proses penemuan Makna Hidup adalah suatu perjalanan yang tidak mudah bagi siapapun terlebih pada diri sorang PSK. Perjalanan untuk dapat menemukan apa yang dapat mereka berikan dalam hidup mereka, apa saja yang dapat diambil dari perjalanan mereka selama ini, serta sikap yang bagaimana yang diberikan terhadap ketentuan atau nasib yang bisa mereka rubah, yang kesemuannya itu tak lepas dari hal-hal apa saja yang diinginkan selama menjalani kehidupan, serta kendala apa saja yang dihadapi PSK dalam mencapai Makna Hidup.

1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang, penelitian membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
a. Peneliti ingin mengungkap bagaimana makna hidup pada pekerja seks komersial (PSK). Dalam hal ini karena peneliti sering melihat fenomena yang sering terjadi pada kehidupan dan nantinya akan melihat makna hidup bagi seorang PSK, hal apa saja yang diinginkan oleh mereka dalam menjalani kehidupan serta kendala apa saja yang dihadapi dalam pencapaian Makna Hidup tersebut
b. Sehubungan dengan subyektifitas terhadap makna hidup, maka penelitian ini nantinya akan melihat makna hidup bagi seorang PSK pada rentang usia dewasa awal, hal apa saja yang diinginkan oleh mereka dalam menjalani kehidupan setelah menginjak usia dewasa awal, sehingga dapat mempermudah pengkategorian subyek kedalam penelitian.

1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
- Bagaimana makna hidup bagi seorang PSK pada rentang usia dewasa awal?

1.5 Tujuan Penelitian
Dengan rumusan masalah diatas, maka secara umum tujuan dari penelitian ini adalah :
- Mengetahui apa makna hidup bagi seorang Pekerja Seks Komersial pada rentang usia dewasa awal.

1.6 Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat, baik secara teoritis maupun praktis.
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan memperkaya teori mengenai Makna Hidup Pekerja Seks Komersial pada rentang usia dewasa awal. Dengan pengetahuan ini, diharapkan juga dapat meningkatkan segala hal yang berhubungan dengan Makna Pekerja Seks Komersial pada rentang usia dewasa awal.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberika perubahan yang lebih dalam pada masyarakat mengenai masalah makna hidup yang terjadi pada seorang pekerja seks komersial. Perubahan ini selanjutnya diharapkan dapat mengubah sikap masyarakat yang semata-mata memandang rendah seorang pekerja seks komersial (PSK). Dengan demikian diharapkan dari masyarakat untuk memikirkan langkah apa yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalaha prosstitusi yang terjadi selam ini.

April 12, 2009 at 11:16 am Tinggalkan komentar


Kalender

Juli 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.