Posts filed under ‘Peternakan’

Analisis Potensi Wilayah Untuk Pengembangan Usaha Sapi Potong Di Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Strategi pembangunan peternakan mempunyai prospek yang baik dimasa depan, karena permintaan akan bahan-bahan yang berasal dari ternak akan terus meningkat seiring dengan permintaan jumlah penduduk, pendapatan dan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi pangan bergizi tinggi sebagai pengaruh dari naiknya tingkat pendidikan rata-rata penduduk (Santosa, 1997).

Pembangunan dan pengembangan tersebut salah satunya adalah pembangunan di bidang pertanian yang meliputi pembangunan di bidang peternakan, peternak dimana salah satu usaha peternakan yang banyak di lakukan oleh masyarakat di pedesaan adalah beternak sapi potong, yang berbntuk usaha peternakan rakyat.

Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diidentifikasi alternatif pola pola pengembangan peternakan rakyat yang mempunyai skala usaha yang ekonomis yang mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan keluarga yang cukup memadai. Dalam perspektif kedepan, usaha peternakan rakyat harus mengarah menopang dalam pengembangan agribisnis peternakan, sehingga tidak hanya sebagai usaha sampingan, namun sudah mengarah pada usaha pokok dalam perekonomian keluarga. Dengan kata lain, usaha ternak rakyat diharapkan menjadi pendapatan utama rakyat peternak (paling tidak) dan dapat memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan kelurga peternak, seperti pada kegiatan ekonomi keluarga lainnya dan bahkan mengarah pada usaha peternakan keluarga.

Usaha pengembangan ternak sapi potong tidak terlepas dari usaha ternak rakyat. Dirjen Peternakan (1998) melaporkan bahwa potensi besar pengembangan peternakan Ruminansia di Indonesia hingga saat ini dan kemungkinan di masa mendatang bersal dari peternakan rakyat (skala usaha kecil). Hal ini ditegakkan lagi dengan laporan Dwi Yanto (2002) yang menyatakan bahwa 99 % produksi sapi bakalandalam negeri dilakukan oleh peternakan rakyat.

Sektor pertanian secara nasional, masih merupakan faktor yang signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena mayoritas penduduk masih memperoleh pendapatan utamanya di sektor ini. Peternakan merupakan salah satu sub-sektor yang terkandung didalamnya, memiliki peranan cukup penting dalam memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian negara ini.

Salah satu bentuk usaha peternakan yang cukup potensial untuk dikembangkan adalah ternak sapi potong, ini disebabkan karena ternak unggas sedang mengalami virus flu burung, maka sebagian masyarakat takut untuk mengkonsumsi daging unggas dan masyarakat pada saat sekarang ini lebih cenderung untuk memilih daging ternak besar terutama sapi potong. Usaha peternakan sapi potong sekarang ini sudah merupakan suatu usaha yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup kelurga ataupun suatu usaha.

Kecamatan Lubuk Alung memiliki luas daerah 111,63 km2 dengan ketinggian tempat 2,50 meter dari permukaan laut, dengan jumlah penduduk sebanyak 36.363 orang (BPS Kabupaten Padang Pariaman)
Berdasarkan berbagai hal diatas, maka dilakukan penelitian yang berjudul “ Analisis Potensi Wilayah Untuk Pengembangan Usaha Sapi Potong di Kecamatan Lubuk Alung kabupaten Padang Pariaman “

B. Perumusan Masalah
Dari urain diatas dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai Berikut :
1. Bagaimana potensi SDA di Kecematan Lubuk Alung untuk pengembangan usaha peternakan sapi potong dimasa mendatang.
2. Bagaimana potensi SDM di Kecematan Lubuk Alung dalam pemeliharaan sapi potong.
3. Bagaimana kondisi kelembagaan yang mendukung dalam pengembangan usaha peternakan sapi potong dimasa mendatang.

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk :
1. Mengetahui potensi SDA di Kecematan Lubuk Alung untuk pengembangan usaha peternakan sapi potong dimasa mendatang.
2. Mengetahui potensi SDM di Kecematan Lubuk Alung dalam pemeliharaan sapi potong.
3. Mengetahui kondisi kelembagaan yang mendukung dalam pengembangan usaha peternakan sapi potong dimasa mendatang.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang Kecematan Lubuk Alung sebagai salah satu wilayah alternatif basis pengembangan usaha sapi potong dimasa mendatang, terutama bagi para pengambil keputusan dan para pembuat kebijakan yang sesuai dengan kondisi daerah yang bersangkutan.

April 12, 2009 at 11:14 am Tinggalkan komentar

Evaluasi Pola Kemitraan Usaha Ternak Sapi Perah (Studi pada Koperasi Kelompok Tani " Demang Sari " Kecamatan … Kabupaten ….

Dalam era reformasi, Pemerintah mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata melalui penciptaan lapangan kerja dan lapangan berusaha, antara lain dengan pemberdayaan masyarakat desa dengan menggalakkan pertanian.Sebagai konsekuensinya perusahaan pertanian diharapkan dapat meningkatkan upaya kerja samanya dengan masyarakat tani. Dengan demikian diharapkan perusahaan memberikan kontribusi untuk pembangunan dalam rangka terwujudnya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Peribahasa yang sangat tepat untuk mengartikan prinsip utama dari pola kemitraan. Kesejajaran merupakan tujuan yang ingin dicapai dari kemitraan yaitu, sebuah keadaan win-win solution, menang semuanya atau keadilan bagi semua; yang dalam hal ini petani anggota kelompok mitra dan perusahaan mitra.
Salah satu jenis perusahaan yang bermitra dengan petani dipedesaan adalah Koperasi Kelompok Tani ” Demang Sari ” Kecamatan … Kabupaten …. Koperasi ini melakukan jenis usaha sebagai pemasar out put dan penyalur input. Didalam koperasi akan terjadi interaksi antara unit usaha anggota yang melakukan kegiatan produksi dengan perusahaan koperasi yang melakukan kegiatan pemasaran. Sistem kemitraan usaha yang dijalankan antara koperasi sebagai perusahaan mitra dan peternak sebagai anggota mitra adalah merupakan perihal yang kompleks yang selalu ditemui banyak kendala dalam pelaksanaannya.
Penelitian ini dilaksanakan pada Koperasi Kelompok Tani ” Demang Sari ” Kecamatan … Kabupaten … dengan mengambil sample sebanyak 68 Orang peternak sapi perah secara stratified random sampling dan menggunakan data skunder dari pihak koperasi. Data yang diperoleh dianalisa dengan perhitungan akuntansi serta diuraikan secara deskriptif.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pola kemitraan yang dijalankan antara koperasi dengan peternak menguntungkan dari segi financial. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa besarnya keuntungan yang diperoleh peternak pada pemeliharaan 3 ekor ternak sapi perah laktasi adalah
Rp. 6.545.092 ,-/ tahun atau Rp. 545.424 ,-./ bulan dengan R/C 1,50. Pada pemeliharaan 1 ekor ternak sapi perah laktasi, besarnya penerimaan keuntungan yang diterima oleh peternak adalah sebesar Rp. 1.838.364 ,-/ tahun atau sebesar Rp. 153.197 ,-/ bulan dengan R/C 1,40. Share profit yang diterima peternak modal kredit dari penjualan susu murni sebesar 26,37 %, share profit yang diterima koperasi adalah sebesar 28,50 % dan share biaya sebesar 45,13 %.
Pada kenyataannya kemitraan yang dijalankan adalah merupakan perwujudan cita-cita untuk melaksanakan system perekonomian gotong royong, hal ini tercermin dari pelayanan koperasi sebagai mitra dalam penyediaan modal, pakan, peralatan serta kebutuhan lainnya secara kredit, dan kesediaan koperasi mensubsidi pakan konsentrat serta memasarkan produk susu yang dihasilkan peternak. Namun kerjasama yang dijalankan pada pemasaran susu segar tidak transparan, hal ini terbukti bahwa dalam hal penentuan harga susu yang dilakukan sepihak oleh koperasi. Penentuan harga susu berdasarkan kualitas susu akan membuka peluang kepada pihak koperasi untuk mempermainkan harga dan akan mempengaruhi pendapatan peternak sehingga keadilan dalam pembagian keuntungan yang diharapkan dari pola kemitraan tidak berjalan sebagai mana semestinya.
Koperasi sebaiknya tidak merupakan profit center sendiri karena keuntungan itu diperoleh dari hasil usaha anggota serta bersifat sebagai pelayan anggota kelompok mitra dengan menggalakkan pemasaran susu untuk mendapatkan harga terbaik bagi anggota kelompok mitra.

Januari 23, 2008 at 7:52 am Tinggalkan komentar

Analisis Nilai Tambah Pemasaran Produk Ayam Pedaging Di Ex Karesidenan .

Penelitin ini dilakukan di Ex Karesidenan … yang dilakukan mulai tanggal 30 Mei 2003 selama 4 bulan. Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mengetahui perkembangan ayam pedaging di Ex Karesidenan …. 2) Mengetahui distribusi saluran pemasaran di ex. Karesidenan …. 3) Menganalisis adanya nilai tambah pemasaran produk ayam pedaging dan distribusinya.Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode survei (Survey Method) dengan teknik pengambilan sample secara acak sederhana (random sampling). Teknik pengambilan data yaitu dengan wawancara sedangkan data yang diambil adalah data primer dan data sekunder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Sistem saliran pemasaran yang dilakukan di ex karesidenan … adalah 1) Peternak  Pedagang Pengumpul  Pedagang Besar Konsumen 2) Peternak  Pedagang PengecerPedagang Besar Penjual Karkas  Konsumen akhir, 3) Peternak  Pedagang Pengecer  Penjual Karkas  Konsumen akhir. (2) Besarnya nilai tambah dari pengumpul ke pedagang besar sebesar Rp 900,-/ekor dari pedagang besar ke Penjual Karkas Rp 1.650/ekor dan dari penjual karkas ke konsumen akhir Rp 4.375/ekor,-. (3) Besarnya marjin pemasaran dari peternak samapi konsumen akhir sebesar Rp 7.575,-/ekor.

Januari 23, 2008 at 7:40 am 2 komentar

Analisa Sosial Ekonomi Program Pengembangan Sapi Potong Dengan Sistem Gaduhan Di Kecamatan … Kabupaten …

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku petani ternak penggaduh dalam menjalankan usaha taninya dan mengetahui pengaruh faktor–faktor sosial ekonomi terhadap pendapatan peternak penggaduh. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi Pemerintah sebagai bahan penentu kebijakan dalam melaksanakan pola kerja sama dengan petani ternak penggaduh sapi potong Kereman.Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive). Pengambilan sampel responden dilakukan dengan metode acak sederhana (Simple Random Sampling) sebagak 45 responden. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data yang terkumpul dianalisa secara Regresi Korelasi dengan dilakukan pengujian Koefisien Korelasi serta uji terhadap Koefisien garis Regresi dengan bantuan analisis berganda yang terdapat pada program SPSS for Windows.
Faktor – faktor sosial ekonomi yang terdiri dari tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga dan terhadap pendapatan peternak berpengaruh sangat nyata terhadap pendapatan peternak sapi potong, sehingga peningkatan faktor sosial ekonomi tersebut akan langsung berpengaruh terhadap pendapatan peternak. Dari hasil analisis statistik didapatkan model regresi Y = 206588,35 + 41000,546X1 +84985,772X2 + 21296,774X3 dengan angka signifikan untuk seluruh variabel independent yang dimasukkan dibawah 0,05. Oleh karena itu ketiga variabel tersebut secara bersama – sama berpengaruh terhadap dependent variabel yaitu pendapatan peternak, sehingga untuk memprediksi besarnya pendapatan peternak dapat menggunakan model Regresi tersebut.
Hasil studi ini menyarankan untuk meningkatkan pendapatan peternak sapi Kereman sistem gaduhan, maka faktor-faktor sosial ekonomi yang melekat pada diri peternak juga harus ditingkatkan. Perlu adanya penyuluhan tentang usaha sapi potong Kereman beserta demonstrasi plot (Demplot) guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peternak sehingga transfer teknologi dapat diserap langsung khususnya oleh peternak yang kurang berpengalaman.

Januari 23, 2008 at 7:39 am 1 komentar

Strategi Sistem Agribisnis Daging Di Jabotabek (kasus penggemukan sapi pt. sinar katel perkasa)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) Untuk mengetahui bagaimana pola penyediaan dan pemasaran daging dari dan ke Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. 2) Mengetahui bagaimana jalur dan mata rantai pemasaran daging dari dan ke Jakarta, Bogor, Tengerang dan Bekasi, 3) Mengetahui bagaimana model pemenuhan kebutuhan daging di Jabotabek oleh PT. Sinar Katel Perkasa.Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan explanatory research dengan metode survei (Survey Method) Teknik pengambilan data yaitu dengan wawancara, survei dan dokumenter. sedangkan data yang diambil adalah data primer dan data sekunder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Pasokan daging ke DKI Jakarta berasalal dari tiga sumber utama, yaitu dari : (a) Daging dari hasil pemotongan di RPH Cakung, Pulogadung, Mampang dan Tanjung Priuk. (b) Daging dari pasokan lokal, yaitu daging dari hasil pemotongan RPH/TPH di daerah Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. (c) Daging impor dari luar negeri, diantaranya dari Australia, Selandia Baru, Kanada, Amerika Serikat. 2) Pada masa belakangan ini telah terjadi pergeseran pola suplai daging ke Jakarta. 3) Pasokan daging lokal dari wilayah-wilayah tersebut sebagian berasal dari pemotongan di TPH-TPH yang kualitas pemotongannya diragukan. 4) Kontribusi daging impor juga meningkat dengan distribusi melalui meat shop dan pasar swalayan. 5) Fokus perhatian untuk mengetahui ketersediaan dan kecukupan daging untuk masyarakat DKI Jakarta tidak cukup hanya dengan melihat stok ternak potong yang ada di holding ground di Cakung saja. 6) Berdasarkan matrik pilihan strategi yang paling dominan, maka strategi yang digunakan a) Meningkatan optimalisasi kapasitas, memperbesar market share, meningkatkan sale dengan pasar tradisional dan menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang, b) Meningkatkan efisiensi, meningkatkan teknologi, memanfaatkan rancang bangun dan meminimalkan kelemahan dengan memanfaatkan peluang, c) Meningkatkan dan menjaga kualitas produk, social education/CD, kerjasama dengan pihak lain serta menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk atasi ancaman, d) Mengoptimalkan R&D, memanfaatkan kelebihan untuk perluasan kapasitas, penjualan sbg saham, serta menciptakan strategi memaksimalkan kekuatan dan menghindari ancaman.

Januari 23, 2008 at 7:32 am 2 komentar

Strategi Pengembangan Agribisnis Kambing Peranakan Etawa Di Kecamatan …

Perkembangan dunia yang mengarah kepada proses globalisasi dewasa ini mendorong kondisi perekonomian menjadi semakin komplek dan kompetitif sehingga menuntut tingkat efisiensi usaha yang tinggi, sehingga orientasi pembangunan nasional sektor pertanian harus diubah dari orientasi produksi kearah orientasi pendapatan petaniUntuk itu pendekatan pembangunan pertanian telah diubah dari pendekatan usahatani kearah agribisnis.
Dengan demikian dapat diartikan bahwa unit agribisnis bukan merupakan suatu unit kepemilikan, akan tetapi merupakan unit satu kesatuan sistem yang tersusun atas beberapa komponen yang merupakan jaringan terpadu untuk meraih nilai tambah ekonomi.
Berdasarkan sejarah perkembangannya, agribisnis bukan merupakan sistem yang baru tumbuh, akan tetapi sudah tumbuh sejak dulu. Pemerintah Belanda sebagai pendatang juga memperkenalkan pola agribisnis di Indonesia. Pola yang dikembangkan pemerintah kolonial adalah agribisnis penghasil barang ekspor yang ditata menurut pola perkebunan besar. Pemerintah kolonial juga memperkenalkan agribisnis yang berwatak industri pertanian dimana aspek investasi untuk meraih nilai tambah tampil sebagai nilai dasar dari pengembangan usaha.
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman sumber daya alamnya, termasuk sebagai salah satu negara yang kaya akan jenis ternak, namun pada kenyataannya sektor peternakan belum dikembangkan secara maksimal walaupun sebenarnya pengembangan agribisnis peternakan mempunyai peluang yang sangat besar dalam hal peningkatan permintaan baik dalam negeri maupun luar negeri.
Kambing PE (Peranakan Etawa) selain dikenal sebagai kambing bertipe besar kambing PE juga dikenal sebagai penghasil susu yang cukup potensial, kambing PE mampu menghasilkan susu sebanyak 0,45-2,2 liter perhari dengan panjang masa laktasi 92-256 hari.
Di Indonesia, hampir 90% pemeliharaan kambing bertujuam menghasilkan daging, tentunya kenyataan ini sangat ironis dengan fakta bahwa dinegeri ini populasi ternak kambing PE termasuk terbesar di dunia, dan seperti diketahui bahwa kambing PE adalah penghasil susu yang sangat potensial. Di luar negeri , seperti di India, kambing etawa juga dipelihara sebagai penghasil susu yang sangat produktif, rata-rata produksinya adalah 235Kg per masa laktasi (261hari). Produksi susu kambing memberikan sumbangan sebesar 35% terhadap produksi susu di dunia.
FAO (1996) memperkirakan bahwa permintaan atau impor daging kambing dunia akan meningkat rata-rata sekitar 2% pertahunnya, sehingga pada tahun 2000 jumlah kebutuhan sudah mencapai tidak kurang dari 10,9 juta ton. Sedangkan jumlah yang diperdagangkan mencapai kurang lebih 1,4 juta ton. Dari seluruh jumlah impor dunia, Australia, New Zealand, dan negara-negara maju lainya diperkirakan akan memasok 1,1 juta ton. Dan sisanya diposok oleh negara-negara berkembang yang juga akan mengalami peningkatan produksi.
Negara-negara berkembang yang selama ini mengalami kemajuan pesat dalam perkembangan produksi ternak kambing adalah ; Cina, Bangladesh, Pakistan, Maroko, Aljazair dan Nigeria. Sedangkan negara yang berpotensi melakukan impor tinggi adalah ; Amerika Latin, Afrika Selatan, dan Timur Jauh (kawasan Asia Pasifik dan Oceania). Hal ini disebabkan karena wilayah tersebut merupakan daerah yang pertumbuhan ekonominya tergolong tinggi.(Ditjen Peternakan:1999)
Sedangkan di Indonesia produksi daging kambing rata-rata menurun 2,93% pertahun dalam periode 1993-1997. Penurunan produksi terjadi hampir diseluruh Propinsi kecuali di Jawa Barat, Jawa Timur, DI Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan produsen utama daging kambing di Indonesia adalah Jawa Timur dengan rata-rata sumbangan 34,07% pertahun, kemudian diikuti Jawa Tengah 14,17% pertahun dan Jawa Barat 11,46% pertahun. Propinsi lainya rata-rata hanya mampu menyumbang dibawah 5 % pertahun.
Terkait dengan beberapa persoalan diatas, sudah saatnya kita melakukan sesuatu yang mampu memberikan sumbangan nyata bagi pembangunan sub-sektor peternakan dan langsung menyentuh masyarakat kecil dengan kemampuan modal yang terbatas, usaha ternak kambing PE rasanya sangat relevan dengan tujuan diatas karena memiliki beberapa karakteristik pendukung seperti, modal awal yang dibutuhkan relatif kecil dibandingkan dengan ternak besar, teknik pemeliharaan relatif mudah, sederhana dan tidak membutuhkan tempat yang luas, perkembangbiakan relatif lebih cepat dibandingkan dengan ternak besar.
Sehubungan dengan hal tersebut, sub-sektor peternakan dirasa perlu mendapat perhatian ekstra. Selama ini, perhatian pemerintah lebih banyak diarahkan kepada program peningkatan produksi hasil peternakan yang melibatkan modal besar dan sarat subsidi. Hasilnya sub-sektor ini dalam program-program tertentu mampu tumbuh pesat dengan tunjangan subsidi penuh dari pemerintah, tetapi program lain lebih banyak berjalan ditempat, jika tidak bisa dikatakan merosot tajam. Sebagai contoh, usaha peternakan ayam ras, sejak dimulai pengenalan kepada masyarakat mulai dekade 1950-an, telah tumbuh pesat dan menggurita. Beberapa perusahaan mengalami pertumbuhan yang sangat fantastis dan kini bisa menguasai 90% pasar ayam ras dari hulu ke hilir. Namun, pertumbuhan ini kini masih banyak kekurangannya. Tidak sedikit muncul hal yang kontradiktif. Sampai saat ini kita belum mampu menghasilkan GPS (grand …nt stock) sendiri.
Dengan hal tersebut diatas maka strategi pengembangannya harus dirumuskan secara cermat dan tepat sehingga tujuan peningkatan pendapatan serta kesejahteraan peternak dapat dicapai.
Berdasarkan uraian diatas di Kecamatan …, Kabupaten Purworejo yang mempunyai potensi Kambing PE dalam jumlah yang cukup besar, perlu adanya strategi pengembangan yang di analisis secara obyektif(kekuatan dan kelemahan) dan apakah mempunyai dampak terhadap perubahan deregulasi serta langkah-langkah kebijaksanaan operasional pemerintah (Peluang dan ancaman) dalam rangka peningkatan nilai ekonominya

Januari 23, 2008 at 7:30 am 1 komentar

Strategi Penyediaan Semen Beku Sapi Balai Inseminasi Buatan Di Singosari Dan Implemantasinya Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Semen Beku

Penelitian dilaksanakan dengan lokasi Balai Inseminasi Buatan Di Singosari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1). strategi BIB dalam pemenuhan kebutuhan semen beku daerah. 2). pengaruh yang nyata antara penyediaan semen beku sapi BIB di Singosari dan implementasinya terhadap pemenuhan kebutuhan semen bekuPenelitian ini diharapkan berguna 1). sebagai bahan informasi bagi peternak dalam menggunakan semen beku, 2) sebagai pijakan menyusun strategi yang tepat bagi BIB Di Singosari untuk menghasilkan produksi semen beku, 3) sebagai pijakan penelitian yang akan datang dalam menyusun strategi penyediaan semen beku
Penelitian yang di lakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus (Case Study) dengan bahan penelitian berupa data yang meliputi jumlah pejantan, kualitas semen beku, distribusi semen dan jumlah laporan daerah serta penyediaan semen beku dari tahun 1993 s/d 2002. Sebagai variabel independen adalah variabel X1 (Kualitas Semen Beku), X2 (Distribusi Semen Beku), X3 (Jumlah Pejantan), X4 (Jumlah Laporan Daerah. Sedangkan variabel dependen adalah Total Produksi/Pemenuhan Kebutuhan. Teknik pengambilan data yaitu dengan teknik observasi, wawancara dan teknik dokumentasi. sedangkan data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Anaisis data menggunakan Strength, Weaknesses, Opportunity, Threats (SWOT) dan Regresi Berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Strategi yang dapat dilakukan dalam penyediaan semen beku sapi BIB Di Singosari adalah: (a) Peningkatan kualitas dan kuantitas produk dengan memanfaatkan teknologi produksi dan informasi yang memadai serta memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada yang digunakan dalam mengembangkan persediaan semen beku sapi dan pencapaian target yakni pemenuhan kebutuhan semen beku, (b) Peningkatan kinerja serta pengembangan distribusi melalui suatu kerja sama yang baik dengan distributor akan mendukung adanya peningkatan investasi serta adanya dukungan dari program-program pemerintah guna tercapainya target yang ingin dihasilkan. 2) Persamaan regresi Y = 260.657,41+ 8.232,736 X1 + 0,273 X2 –3.682,381 X3 –8.561,032X4 . Hal ini berarti setiap peningkatan variabel kualitas semen beku akan meningkatkan kebutuhan semen beku sebesar 8.22,736 dosis dan setiap setiap peningkatan variabel distribusi semen beku akan meningkatkan 0.273 dosis. Variabel jumlah pejantan menunjukkan setiap penambahan seekor pejantan akan menurunkan pemenuhan kebutuhan semen beku sebesar 3.682,381 dosis, dan setiap penambahan variabel laporan daerah sebesar 8.561,032 dosis.
Pengaruh kualitas semen beku, distribusi semen beku, memberikan konstribusi yang nyata terhadap pemenuhan kebutuhan semen beku di BIB Di Singosari. Sedangkan jumlah pejantan dan laporan daerah/propinsi tidak berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan semen beku di BIB Di Singosari.
Menciptakan strategi yang tepat dan bertahan terhadap industri yang dimiliki, serta penelitian yang lebih mendetail untuk penyediaan semen beku dari berbagai bangsa/jenis pejantan yang disukai peternak merupakan langkah tindak lanjut dari penelitian ini.

Januari 23, 2008 at 7:29 am 2 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

November 2014
S S R K J S M
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.