Posts filed under ‘Pertanian’

Peranan Penyuluh Pertanian Dalam Pengembangan Kelompok Tani di Kecamatan … Kota …

Penyuluhan pertanian merupakan pendidikan non formal bagi petani beserta keluarganya yang meliputi kegiatan dalam ahli pengetahuan dan ketrampilan dari penyuluh lapangan kepada petani dan keluarganya berlangsung melalui proses belajar mengajar.Penyuluhan pertanian harus ahli pertanian yang berkompeten, disamping bisa berkomunikasi secara efektif dengan petani sehingga dapat mendorong minat belajar mereka dan harus berorientasi pada masalah yang dihadapi oleh petani, sesuai dengan kenyataan dan pemahaman mereka.
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana peran penyuluh pertanian dalam pengembangan kelompok tani di Kecamatan …, adakah kendala para penyuluh pertanian di lapang serta bagaimana kewenangan dan kompetensi penyuluh pada masyarakat tani saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peranan penyuluh pertanian dalam pengembangan kelompok tani di Kecamatan …, mengetahui berbagai kendala yang dihadapi oleh penyuluh pertanian di lapang serta mengetahui kewenangan dan kompetensi yang dimiliki oleh penyuluh pertanian pada kelompok tani di Kecamatan ….
Daerah penelitian ini dilakukan dengan sengaja yaitu di Kecamatan … Kota … dengan pertimbangan desa yang sangat berpotensi untuk diteliti. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 15 kelompok tani yang aktif yaitu pada masing-masing kelompok tani diambil 2 responden dan 4 responden penyuluh. Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif dan skala likert untuk pengukuran indikator.
Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa peranan penyuluh pertanian di Kecamatan … sudah berjalan optimal dan bisa memposisikan dirinya sebagai mitra dan fasilitator petani dengan melakukan peranan yang sesuai antara lain sebagai pembimbing, organisator dan dinamisator, teknisi serta sebagai konsultan petani. Upaya pengembangan kelompok tani oleh penyuluh pertanian maupun kelompok tani sendiri sudah berjalan baik, hal ini dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukan oleh kelompok tani dengan adanya klompencapir, pameran pertanian, pelatihan agribisnis, dan prestasi yang diraih oleh kelompok tani. Fasilitas yang terdapat pada kelompok tani sudah cukup memadai walaupun ada beberapa yang belum mendapat bantuan dari pemerintah. Prestasi yang diraih oleh beberapa kelompok tani juga sudah baik dengan segala keterbatasan sarana.
Berdasarkan pendekatan wilayah kemampuan kelompok tani dibedakan menjadi kelas pemula, kelas lanjut, kelas madya, dan kelas utama. Kendala yang sering dihadapi penyuluh di lapang yaitu rendahnya tingkat partisispasi dalam penyuluh pertanian karena sistem pendanaaan yang kurang sehingga menyebabkan rendahnya kinerja penyuluh pertanian. Metode penyampaian materi juga masih menggunakan cara tradisional. Pertemuan kelompok yang masih sebagian tidak sesuai dengan jadwal pertemuan karena alasan banyaknya kesibukan kerja bagi petani terkadang juga menjadi hambatan bagi penyuluh untuk menjalankan tugasnya.
Kompetensi Penyuluh merupakan kemampuan dan kemauan yang kuat penyuluh dalam upaya pengembangan dan kemajuan kelompok. Penyuluh pertanian kedepan menghadapi kepada berbagai tantangan berupa perubahan lingkungan sosial ekonomi yang dinamis baik di tingkat daerah dan nasional maupun global, sehingga petani mampu menjadi mitra sejajar dengan pemerintah dan pengusaha. Karena pada kenyataannya saat ini belum diadakan uji kompetensi penyuluh pertanian untuk mengembangkan petani yang berdaya saing.Dengan bukti kehadiran penyuluh di lapangan, petani menjadi lebih kompak, karena pada dasarnya keberhasilan petani adalah kebanggaan penyuluh juga

Januari 23, 2008 at 7:25 am 1 komentar

Analisis Strategi Pengembangan Pertanian Melalui Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu ( PHT ) Padi Di Kabupaten ….

Teknologi PHT adalah upaya pengendalian serangan organisme penganggu tanaman ( OPT ), dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian, yang dikembangkan oleh satu kesatuan untuk mencegah kerugian ekonomi dan kerusakan lingkungan hidupUntuk itu dengan melihat kondisi yang sesunguhnya dari pengembangan pertanian melalui penerapan teknologi PHT ( padi ) dilakukan suatu langkah strategis dalam mengembangkan pertanian tersebut melalui penerapan teknologi pengendalian hama terpadu.
Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten …. penelitian bertujuan untuk (1) mengetahui usaha – usaha adopsi tekologi pengendalian hama terpadu ( PHT ) oleh petani di Kabupaten …. (2) Mengetahui dan menganalisis strategi pengembangan pertanian melalui penerapan teknologi pengendalian hama terpadu ( PHT ) dalam upaya peningkatan produksi dan kesejahteraaan petani di Kabupaten ….
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik pengambilan sampel Random Sampling dengan memanfaatkan sebanyak 71 responden dari 247 populasi yang berstatus sebagai petani di Kabupaten … khususnya didaerah Gondang dan …. Analisa data yang digunakan dengan memakai Analisa SWOT. Analisa SWOT merupakan bentuk analisis untuk memaksimalkan peluang dan kekuatan serta meminimalkan kelemahan dan ancaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Upaya yang dilakukan untuk melakukan adopsi teknologi pengendalian hama terpadu ( PHT ) oleh petani di Kabupaten … diantaranya dengan melakukan sosialisasi program pengendalian hama terpadu ( PHT ) oleh petugas penyuluh pertanian, pelatihan penggunaan dan pemanfaatan berbagai teknologi pertanian. (2) Dalam peningkatan pengembangan pertanian melalui penerapan teknolgi PHT strategi yang paling tepat adalah dengan menerapkan startegi ( Strength – Opportunities ) yaitu dengan melakukan : (a) mengembangkan informasi akses peluang pasar dengan dukungan dari Dinas Pertanian, (b) meningkatkan mutu penyelenggaraan penyuluhan pertanian, (c) peningkatan kualitas sumber daya manusia aparat pertanian, (d). pengembangan pertanian oragnik, (e) standarisasi varietas / bibit (f) Intensifikasi pertanian, (g) penciptaan skala usaha produk pertanian

Januari 23, 2008 at 7:25 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Pemuda Pedesaan Terhadap Pemilihan Lapangan Kerja Sektor Pertanian Dan Non Pertanian (Studi di Desa …, Kecamatan …,

Penelitian ini merupakan metode kuantitatif pada Desa …, Kecamatan …, Kabupaten …, … dengan judul “Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Pemuda Pedesaan Terhadap Pemilihan Lapangan Kerja Sektor Pertanian Dan Non PertanianTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi penduduk Desa …, Kecamatan …, Kabupaten … … dan untuk mengetahui jenis faktor-faktor sosial ekonomi pemuda pedesaan yang mempengaruhi keputusan pemuda untuk memilih lapangan kerja pada pertanian dan non pertanian. Yang terdiri dari tiga variabel yaitu tingkat pendidikan pemuda, luas lahan yang ada dan tingkat pendapatan orang tua dan seluruh anggota keluarga pemuda.
Penelitian ini menggunakan sampel dari populasi penduduk yang berumur 15 – 29 tahun yang termasuk angkatan kerja dan bekerja di sektor pertanian dan non pertanian sebesar 100 responden. Dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu simpel acak random sempling dan teknik pengumpulan datanya yaitu melalui kuisioner. Sedangkan alat analisis yang digunakan yaitu analisis model probit.
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa nilai t tabel =1.661 pada  = 0.05 dan kepercayaan sebesar 95%. Disini disimpulkan bahwa t hitung (x1) = 7.368 ; t hitung (x2) = -10.205 dan t hitung (x3) = 2.019, karena variabel x1 dan x2 lebih besar dari t tabel = 1.661 berarti variabel tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan orang tua dan seluruh keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap pemuda pedesaan dalam pemilihan lapngan kerja sektor pertanian dan non pertanian sedangkan variabel x2 lebih kecil dari t tabel = 1.661 berarti luas lahan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemuda pedesaan dalam memilih lapangan kerja sektor pertanian dan non pertanian dan ini dilihat dari uji satu sisi kanan. Sedangkan untuk uji satu sisi kiri yaitu untuk f hitung = 69.331 lebih besar dari f tabel = 2.6994. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan , luas lahan yang ada dan tingkat pendapatan orang tua dan seluruh keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap pemuda pedesaan terhadap pemilihan lapangan kerja sektor pertanian dan non pertanian. Dengan demikian hipotesis tersebut terbukti.

Januari 23, 2008 at 7:24 am Tinggalkan komentar

Pola Kemitraan Antara Petani Tebu Dengan Pabrik Gula Asembagus (Desa Trigonco Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo

Tanaman tebu merupakan komoditi utama dalam menghasilkan gula pasir karena di dalam batangnya terkandung 20% cairan gula. Tebu rakyat dengan hasilnya gula pasir merupakan tanaman perdaganganSebagai tanaman perdagangan, maka perlu pemindahan dari produsen ke konsumen. Dalam usaha memasarkan tebunya, petani tebu dapat memilih salah satu cara yaitu dengan mengadakan kerjasama dengan pabrik gula dengan ketentuan kontrak yang telah disepakati antara pabrik gula dan petani tebu guna untuk meningkatkan pendapatan.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut yaitu: 1) bagaimana pola kemitraan antara petani tebu dengan PG Asembagus, 2) berapa keuntungan yang diperoleh petani tebu peserta kemitraan . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola kemitraan antara petani tebu dengan PG Asembagus dan juga untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh petani tebu peserta kemitraan.
Metode penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) yaitu di PG Asembagus Desa Trigonco Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo dengan pertimbangan PG tersebut merupakan PG yang beroperasi di daerah sentra tebu dan juga PG yang melakukan kemitraan dengan petani tebu di Desa Trigonco Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo. Metode pengambilan sampel dilakukan secara acak berstrata dengan dasar strata luas lahan serta menetapkan jumlah sampel yang diambil sebesar 10% dari jumlah populasi sebanyak 300 orang yaitu 30 orang sampel. Adapun metode pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Sedangkan untuk analisa data menggunakan analisa deskriptif dan kuantitatif
Dalam penelitian ini, Pabrik Gula Asembagus mengadakan kerjasama yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani tebu dan menambah pasokan bahan baku bagi Pabrik Gula Asembagus. Bentuk atau pola kemitraan yang dijalin oleh petani tebu dengan Pabrik Gula Asembagus adalah kontrak kerja yang saling menguntungkan. Sedangkan keuntungan yang diperoleh petani tebu dalam melakukan kemitraan adalah Rp. 16.946.681 dan nilai B/C Ratio pada usahatani tebu kemitraan adalah 1,42 sehingga nilai B/C Ratio >1 yang artinya usahatani tebu pada petani tebu kemitraan layak diusahakan

Januari 23, 2008 at 7:23 am Tinggalkan komentar

Potensi Pengembangan Usaha Pengolahan Ubi Jalar di Kabupaten dan Kota …

Ubi jalar sangat penting dalam tatanan penganekaragaman pangan. Jika dilihat dari kegunaannya, maka ubi jalar memiliki peluang yang baik untuk dikembangkan. Peningkatan produksi ubi jalar di Indonesia pada umumnya dan … pada khususnya dapat didorong melalui pengembangan agroindustri pengolahan hasil panen menjadi produk-produk yang unggul, menarik, dan awet sehingga laku di pasaran, baik dalam negeri maupun pasar luar negeri (ekspor).Peran pemerintah dalam hal ini sangat penting dalam mendorong masyarakat untuk mengembangkan ubi jalar melalui pameran dan penyuluhan yang memberikan gambaran bahwa ubi jalar dapat diangkat menjadi sumber bahan pangan alternatif. Pemerintah dapat juga memberikan kebijakan harga dasar yang layak untuk merangsang minat petani mengembangkan ubi jalar sebagai salah satu program diversifikasi pangan.
Saat ini usaha pengolahan ubi jalar di … relatif sedikit dan umumnya masih diusahakan dalam skala yang relatif kecil dengan manajemen yang sederhana. Hal ini diakibatkan masyarakat kurang mengetahui potensi-potensi yang ada pada usaha pengolahan ubi jalar. Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu adanya suatu upaya untuk menggali potensi-potensi agroindustri atau usaha pengolahan ubi jalar agar usaha pengolahan ini dapat dikembangkan.
Berdasarkan uraian diatas diambil pokok bahasan yang sesuai dengan kenyataan yang ada, yaitu dengan melakukan penelitian mengenai potensi pengembangan usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota ….
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui apa saja jenis usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kabupaten dan Kota …. (2) Mengetahui berapa volume produksi masing-masing usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota …. (3) Mengetahui struktur biaya pada masing-masing usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota …. (4) Mengetahui berapa keuntungan usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota ….
Pemilihan obyek dan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa ubi jalar sebagai salah satu komoditas pertanian penghasil karbohidrat yang dapat dijadikan sebagai cadangan pangan yang bila produksi padi tidak mencukupi lagi. Sedangkan pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa daerah … merupakan salah satu sentra penghasil ubi jalar di Jawa Timur.
Metode penentuan responden dilakukan dengan purposive sampling yaitu memilih secara sengaja anggota populasi usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kabupaten dan Kota …. Metode pengumpulan data diperoleh dari data primer yang berupa observasi, wawancara dan kuisioner. Sedangkan data sekunder diperoleh dari pustaka-pustaka yang digunakan sebagai acuan dan terkait dengan penelitian ini.
Metode analisis yang dipakai pada penelitian ini antara lain : analisa biaya, analisa penerimaan, analisa keuntungan, analisa R/C ratio dan analisis BEP serta analisa deskriptif.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa jenis usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kabupaten … antara lain adalah usaha pengolahan ubi jalar menjadi saos yaitu UD Utama dan UD Barokah. Sedangkan usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kota … antara lain adalah usaha pengolahan ubi jalar menjadi kripik yang diusahakan oleh Bp Suyono dan Bp Sunaji.
Volume produksi UD Utama mencapai 30.100 kg per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 2.150 kg saos. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 52.268,51 per produksi dan biaya variabelnya rata-rata per produksi sebesar Rp 1.490.827 sehingga total biaya rata-rata per produksi adalah sebesar Rp 1.766.733,51. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 1.935.000 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp 1.935.000 – Rp 1.766.733,51 = Rp 168.266,49. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,075. BEPq sebesar 2000,448 kg/ bulan dan BEPr pada sebesar Rp 833,95/ bungkus.
Volume produksi UD. Barokah mencapai 79.900 kg per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 3.073,08 kg saos. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 43.167,81 per produksi, biaya variabel rata-rata per produksi Rp. 4.622.836 sehingga total biaya rata-rata per produksi sebesar Rp 2.443.486,66. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 2.765.769,23 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp 2.765.769,23 – Rp 2.443.486,66 = Rp 322.282,57. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,13. BEPq sebesar 2.714,985 kg/ bulan dan BEPr sebesar Rp 795,1588/ bungkus.
Volume produksi agroindustri kripik Bapak Suyono mencapai 15.200 ons per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 950 ons kripik. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 17.900,98 per produksi, biaya variabel rata-rata per produksi Rp. 1.155.406 sehingga total biaya rata-rata per produksi sebesar Rp 1.173.307,23. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 1.425.000 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp1.425.000 – 1.173.307,23 = Rp 251.692,77. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,22. BEPq sebesar 782,2048 0ns/ bulan dan BEPr sebesar Rp 1.257,646/ ons.
Volume produksi agroindustri kripik ubi jalar Bapak Sunaji mencapai 7.500 ons per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 593,75 ons kripik. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 16.699,73 per produksi, biaya variabel rata-rata per produksi Rp. 637.525 sehingga total biaya rata-rata per produksi sebesar Rp 654.224,73. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 771.875 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp 771.875 – Rp 654.224,73 = Rp 117.650,27. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,18. BEPq sebesar 503,2498 0ns/ bulan dan BEPr sebesar Rp 1.111,263/ ons.
Dari analisa struktur biaya dan keuntungan masing-masing usaha pengolahan ubi jalar baik yang berada di Kabupaten maupun Kota … menunjukkan bahwa usaha pengolahan tersebut mempunyai potensi yang selanjutnya dapat lebih dikembangkan

Januari 23, 2008 at 7:21 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Pemberian Insentif Terhadap Disiplin dan Produktivitas Kerja Karyawan Bagian Produksi Pada Perusahaan Tenun “Rajin” Lawang

Dalam dunia usaha yang semakin berkembang pesat, persaingan antar perusahaan, terutama yang menghasilkan produk sejenis juga semakin ketat. Oleh karena itu, setiap perusahaan perlu melakukan upaya-upaya dalam rangka meningkatkan produksi mereka yang berkualitas dan berdaya guna tinggiPerusahaan dalam menjalankan proses produksinya tidak terlepas dari unsur tenaga kerja yang merupakan faktor utama. Penggunaan tenaga kerja secara efektif dan terarah merupakan kunci kearah peningkatan produktivitas kerja, untuk itu dibutuhkan suatu kebijaksanaan perusahaan dalam usahanya menggerakkan, mengajak dan mengarahkan tenaga kerja agar lebih produktif sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan perusahaan. Faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja adalah disiplin kerja dimana disiplin kerja berkorelasi dengan pemberian insentif baik finansial insentif dan non finansial insentif.
Tujuan penelitian adalah (1) untuk mengetahui hubungan pemberian insentif terhadap disiplin kerja dan produktivitas kerja karyawan pada Perusahaan Tenun “Rajin” Lawang, (2) untuk mengetahui faktor yang dominan terhadap produktivitas kerja karyawan pada Perusahaan Tenun “Rajin” Lawang. Oleh karena itu digunakan analisis jalur (path analysis) untuk dapat menjelaskan bentuk hubungan antara variabel tersebut, dengan menggunakan simple random sampling sebagai metode pengambilan sampelnya.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata secara langsung dari finansial insentif dan non finansial insentif terhadap disiplin kerja dan produktivitas kerja karyawan dengan total sumbangan efektif sebesar 81.64%, karena secara parsial yang berhubungan langsung dan signifikan dengan disiplin kerja hanya non finansial insentif dengan sumbangan efektif sebesar 12.29%. Selain itu, finansial insentif merupakan faktor yang dominan berpengaruh secara langsung terhadap produktivitas kerja karyawan, sebab tujuan utama pemberian finansial insentif pada umumnya adalah untuk meningkatkan prestasi kerja sehingga dapat mencapai produktivitas kerja yang optimal, dengan sumbangan efektif sebesar 65.93%. Oleh karena itu kebijakan perusahaan dalam pembagian insentif yang adil dan merata baik berupa finansial maupun non finansial kepada para karyawan perlu diperhatikan, agar dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan sehingga akan ikut meningkatkan keuntungan (profitabilitas) bagi perusahaan.

Kata kunci: Insentif, Produktivitas Kerja, Analisis Jalur

Januari 23, 2008 at 7:20 am Tinggalkan komentar

Analisis Finansial Dan Strategi Pengembangan Agroindustri Kerajinan Tangan di UD. Bambu Klasik …

Praktek penebangan hutan secara liar (illegal logging) yang diikuti dengan penyelundupan dan perdagangan kayu ilegal (illegal trading) ternyata tidak hanya mengakibatkan kerusakan lingkungan hutan, tetapi juga menimbulkan kerugian secara ekonomisSampai kini praktek illegal logging dan illegal trading belum dapat diatasi, bahkan kondisinya kini semakin marak sehingga berdampak pada hilangnya sebagian pangsa pasar produk mebel dan kerajinan Indonesia. Salah satu jalan keluar yang harus ditempuh para pengusaha mebel maupun kerajinan yang ada di Indonesia adalah mencari bahan baku pengganti yang dapat digunakan untuk tetap menghasilkan produk-produk yang diinginkan. Seperti agroindustri kerajinan tangan di Kecamatan … Kabupaten … yaitu di UD. Bambu Klasik yang menggunakan batang eceng gondok, pelepah pisang, tempurung kelapa dan bambu untuk dijadikan sebagai bahan baku produk mebel dan kerajinan tangan yang dapat dikomersialkan.
Permasalahan penelitian ini antara lain apakah pengembangan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik … sudah layak secara finansial, dan aspek lingkungan internal yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan serta lingkungan eksternal yang terdiri dari ancaman dan peluang apa saja yang mempengaruhi pengembangan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik ….
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik secara finansial, serta menganalisis aspek lingkungan internal dan lingkungan eksternal yang mempengaruhi pengembangan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik …. Sehingga hipotesis yang didapat yaitu: diduga agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik layak secara finansial.
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive) yaitu di UD. Bambu Klasik …. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode wawancara, observasi, kuisioner dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari perpustakaan dan instansi terkait yang berhubungan dengan penelitian ini serta hasil-hasil penelitian terdahulu. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif yang meliputi analisis kelayakan finansial dan analisis sensitivitas. Adapun analisis deskriptif yang digunakan adalah analisis SWOT.
Dari hasil penelitian didapat nilai NPV sebesar Rp. 473.320.627, IRR yang dihasilkan adalah 32%, nilai Net B/C Ratio sebesar 4,5 pada tingkat bunga 9%, dan waktu yang diperlukan untuk membayar kembali atau mengembalikan semua biaya-biaya yang dikeluarkan dalam investasi suatu proyek (Payback Period) yaitu pada triwulan ke-1. Sedangkan untuk analisis sensitivitas, pada tingkat suku bunga 9%, agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik selama 24 triwulan dengan menaikkan maupun menurunkan investasi, biaya dan benefit sebesar 10% masih dapat dikatakan layak untuk tetap dikembangkan. Selain itu dapat dikatakan bahwa benefit lebih sensitif jika dibandingkan dengan investasi dan biaya. Dengan demikian agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik dapat dikatakan layak untuk tetap dikembangkan.
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang secara sistematis digunakan untuk merumuskan strategi perusahaan. Adapun faktor-faktor internal dan eksternal yang dihasilkan dari penelitian pada agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik didapat bahwa kekuatan yang dimiliki meliputi pengrajin yang berpengalaman, kualitas produk baik, tenaga kerja yang terampil, harga produk murah, diversifikasi produk sesuai trend, kemampuan manajerial baik dan lokasi usaha yang strategis. Kelemahan yang dimiliki berupa modal terbatas dan peralatan produksi sederhana. Peluang meliputi kondisi pasar bahan baku, selera konsumen, dukungan Pemda, potensi pariwisata daerah dan pangsa pasar yang luas. Sedangkan ancaman yang ada meliputi pesaing memproduksi produk yang sama, perkembangan teknologi yang semakin maju dan perekonomian yang belum stabil.
Kata kunci: Agroindustri, kerajinan Tangan

Januari 23, 2008 at 7:19 am Tinggalkan komentar

Strategi Pengembangan Usaha Industri Tahu di Kecamatan … Kabupaten …

Visi dari pembangunan pertanian nasional adalah sebagai upaya mewujudkan pertanian yang tangguh, maju dan efisien yang mmepunyai ciri adanya kemampuan dalam menyejahterakan para petani, yang artinya membangun industri petani modern yang berbudaya industri dalam rangka membangun industri yang berbasis pedesaan (agrobisnis dan agroindustri).Adapaun agroindustri yang banyak berkembang di masyarakat adalah usaha industri tahu, seperti yang peneliti terjuni yaitu industri tahu yang ada di kecamatan … kabupaten …, dimana industri ini adalah salah satu industri kecil yang mampu menggerakkan roda perekonomian yang ada di kecamatan ….
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut maka penelitian pada industri tahu di kecamatan … kabupaten … bertujuan untuk :
1.Mengetahui sejauh mana pelaksanaan strategi yang diterapkan dalam proses produksi sehingga dapat menjamin kelestarian usahanya.
2.Mengetahui faktor – faktor internal dan eksternal berpengaruh dalam pengembangan industri tahu.
3.Mengetahui kemampuan dari pengusaha tahu di dalam pengembangan pemasaran hasil produk sehingga dapat menambah sumber pendapatan.
Dalam perkembangan industri yang ada ternyata diasumsikan bahwa faktor – faktor strategi sangat berpengaruh besar dalam menjaga kelangsungan hidup usaha industri tahu. Dan dalam penelitian ini jenis penelitiannya adalah metode studi kasus sedangkan populasi yang diambil yaitu semua pengusaha tahu yang ada di kecamatan … yang dianggap mampu untuk berkembang, kemudian teknik analisa yang digunakan yaitu analisa SWOT.
Dari hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa usaha industri tahu yang ada di kecamatan … mempunyai kekuatan dan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan usahanya. Adapun kekuatanya meliputi : Kesediaan bahan baku,sarana prasarana,teknologi produksi,dan kebijakan pemerintah beserta sumber daya manusia. Sedangkan peluang yang ada meliputi : Lembaga keuangan,masyarakat konsumen,sarana prasarana,dan jumlah penduduk yang besar

Januari 23, 2008 at 7:19 am Tinggalkan komentar

Analisis Daya Saing Komoditas Bawang Merah Di Kabuapaten …. (Tinjauan Keunggulan Komparatif dan Keunggulan Kompetitif di Daerah Sentra Produksi

Globalisasi perdagangan international memberi peluang dan tantangan bagi perekonomian nasional, termasuk didalamnya agribisnis. Kesepakatan-kesepakatan GATT, WTO, AFTA, AFEC dan organisasi perdagangan dunia lainnya, satu sisi memberi peluang terhadap sektor pertanian di Indonesia, jika agribisnis yang dilakukan memiliki daya saing, sisi lain merupakan ancaman terhadap komoditas pertanian jika tidak memiliki daya saing.Daya saing dapat dilihat dari keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
Komoditas bawang merah dipandang lebih siap memasuki era pasar bebas dibanding komoditas pangan lainnya. Karena memiliki kemandirian dan campur tangan pemerintah terhadap harga produksi relatif kecil. Komoditas bawang merah dipandang sebagai sumber pertumbuhan baru untuk dikembangkan dalam system agribisnis, karena mempunyai keterkaitan yang kuat baik ke sektor industri hulu pertanian (up stream agriculture) maupun keterkaitan ke hilir (on farm agriculture), yang mampu menciptakan nilai tambah produksi dan menyerap tenaga kerja melalui aktivitas pertanian sekunder (down stream agriculture). Di sisi yang lain, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki fluktuasi dan sensitivitas harga yang cukup tinggi, terutama karena perubahan permintaan dan penawaran.
Kabupaten … merupakan daerah sentra produksi bawang merah di Jawa Timur yang memiliki potensi wilayah kondusif bagi pengembangan bawang merah. Dengan keunggulan komparatif yang dimiliki dalam hal potensi wilayah dan tenaga kerja diharapkan mampu meningkatkan daya saing komoditas bawang merah.
Berdasarkan konsep diatas, dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1) Apakah usahatani bawang merah di Kabupaten … memberikan pendapatan finansial dan ekonomi, (2) Apakah usahatani bawang merah memiliki keunggulan komparatif, (3) Apakah usahatani bawang merah memiliki keunggulan kempetitif. (4) Apakah dampak perubahan produktivitas, harga input-output, nilai tukar rupiah dan kebijakan pemerintah berpengaruh terhadap daya saing komoditas bawang merah.
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah ; (1) Menganlisis pendapatan finansial dan ekonomi usahatani bawang merah di Kabupaten …. (2) Menganalisis keunggulan komparatif usahatani bawang merah di kabupaten …. (3) Menganalisis keunggulan kompetitif usahatani bawang merah di kabupaten …. (4) Menganlisis dampak perubahan-perubahan, harga input-output dan kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas bawang merah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : (1) Pendapatan finansial dan ekonomi bawang merah di Kabupaten … bernilai positif. (2) Usahatani bawang merah di Kabupaten … memiliki keunggulan komparatif. (3) Usahatani bawang merah di Kabupaten … memiliki keunggulan kompetitif. (4) Perubahan produktivitas usahatani dan harga output berpengaruh positif terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif. (5) Perubahan harga input, upah tenaga kerja dan nilai tukar mata uang berpengaruh negatif terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif.
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten …. Pemilihan lokasi usahatani dilakukan dengan cara sengaja (purposive) yaitu di Desa … dan Desa … Kecamatan … dipilih sebagai lokasi usahatani, karena kedua desa tersebut merupakan sentra produksi bawang merah di Kabupaten ….
Penentuan populasi yang didasarkan data sekunder dari Dinas Pertanian dan Perkebuanan Kabupaten … dengan menggunakan total sampling (total sampling methode), dengan tujuan sebagai sample penelitian yang dilakukan dengan cara stratified random sampling jumlah sample yang diambil 20% dari jumlah populasi. Petani responden di Desa … berjumlah 30 orang, sedangkan petani di Desa … sebanyak 34 orang juga.
Pengambilan sample untuk aktivitas pemasaran dilakukan dengan metode Rapid Marketing Appraisal (RMA), dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang biaya pemasaran dan harga di tingkat konsumen dari berbagai sumber terkait secara akurat dan cepat. Responden dipilih secara sengaja (purposive), yang terdiri dari : (a) Lembaga pemasaran output, (b) Lembaga pemasaran input, diantaranya PT Pupuk Petrokimia dan toko sarana produksi pertanian, (c) Dinas dan lembaga pemerintahan terkait, seperti Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Pertanian dan Perkebunan dan Bea Cukai Tanjung Perak Surabaya/Wilayah …, (d) Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, (e) Informan kunci.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diajukan adalah (1) Komoditas bawang merah di Kabupaten … memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang cukup tinggi, sehingga dapat dijadikan komoditas andalan Kabupaten … dalam rangka mengoptimalkan potensi wilayah, (2) Daya saing komoditas bawang merah dapat ditingkatkan dengan peningkatan produktivitas usahatani misalnya dengan perbaikan sistem budidaya dan penggunaan teknologi pertanian yang lebih efisien, (3) Hendaknya pengembangan komoditas bawang merah diiringi dengan pengembangan agroindustri dan penyimpanan bawang merah untuk bibit, karena nilai tambah yang di dapat lebih besar. (4) Kebijakan pemerintah efektif masih dibutuhkan oleh petani keberlangsungan agribisnis di kabupaten …, misalnya, subsidi pada input tradeable vital seperti pupuk, pestisida, penghapusan pungutan liar pada aktivitas perdagangan, pengawasan yang lebih ketat pada Dinas Bea Cukai untuk menjamin terealisasinya aturan perdagangan tentang bea masuk dan tarif impor-ekspor secara adil dan sehat, (5) Peneliti selanjutnya hendaknya melakukan perhitungan persentase berat bawang merah yang digunakan untuk bibit dibandingkan untuk konsumsi. Data tersebut nantinya digunakan untuk menentukan harga sosial bawang merah, sehingga estimasi tentang harga sosial lebih akurat, karena bawang merah selain diperdagangkan dalam bentuk bibit juga diperdagangkan dalam bentuk konsumsi / olahan.(bawang merah sebagai suatu produk)

Januari 23, 2008 at 7:18 am Tinggalkan komentar

Analisis Program Bongkar Ratoon Tanaman Tebu Untuk Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis : (a). Pengaruh Bongkar Ratoon terhadap peningkatan produktivitas tebu dan produktivitas gula (b). Pengaruh Bongkar Ratoon terhadap peningkatan pendapatan petani tebu di wilayah PG. TjoekirManfaat penelitian diharapkan dapat berguna : (a). Memberi masukan bagi Pemerintah Daerah dan Pusat untuk penyempurnaan pelaksanaan Program Bongkar Ratoon yang akan datang (b). Sebagai tambahan informasi dan wawasan bagi pelaku bisnis pertebuan, baik dari sisi sosial maupun ekonomi (c). Sebagai tambahan pengetahuan bagi peneliti selanjutnya.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah (a). Program Bongkar Ratoon dapat meningkatkan produktivitas tebu dan produktivitas gula (b). Faktor – faktor tenaga kerja, pemupukan dan herbisida mempengaruhi produktivitas tebu dan hablur (c). Program Bongkar Ratoon dapat meningkatkan pendapatan petani tebu.
Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel dengan Metode “Random Sampling” dari petani yang tersebar di seluruh wilayah PG. Tjoekir. Dalam menentukan jumlah sampel menggunakan formula yang ditetapkan oleh Slovin. Untuk menganalisis pengaruh peningkatan produktivitas tebu dan pendapatan petani antara tanaman tebu bongkar ratoon dengan bukan bongkar ratoon digunakan rumus Regresi Linier Berganda dengan Dummy.
Untuk menguji apakah variabel bebas (X) secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel tidak bebas (Y) digunakan uji “F” sedangkan untuk menguji apakah masing-masing variabel bebas berpengaruh terhadap variabel tidak bebas digunakan uji “T” , serta untuk melihat peningkatan produktivitas atau pendapatan petani antara petani bongkar ratoon dengan yang tidak bongkar ratoon dengan melihat Dummy variabel.
Hasil penelitian menunjukan bahwa :
Produktivitas tebu rata-rata pada tanaman bongkar ratoon mencapai 121,5 ton lebih tinggi dari pada tebu bukan bongkar ratoon sebesar 87,1 ton.
Variabel tenaga kerja, pupuk dan herbisida secara bersama-sama atau simultan berpengaruh nyata terhadap peningkatan produktivitas tebu.
Tebu yang dibongkar ratoon menghasilkan pendapatan rata-rata sebesar Rp. 31.373.602,- lebih tinggi bila dibanding pendapatan rata-rata tebu yang tidak di bongkar ratoon sebesar Rp. 22.089.338,-

Januari 23, 2008 at 7:17 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kalender

Juli 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.