Posts filed under ‘Pertanian’

Analisis Strategi Pengembangan Pertanian Melalui Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu ( PHT ) Padi Di Kabupaten ….

Teknologi PHT adalah upaya pengendalian serangan organisme penganggu tanaman ( OPT ), dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian, yang dikembangkan oleh satu kesatuan untuk mencegah kerugian ekonomi dan kerusakan lingkungan hidupUntuk itu dengan melihat kondisi yang sesunguhnya dari pengembangan pertanian melalui penerapan teknologi PHT ( padi ) dilakukan suatu langkah strategis dalam mengembangkan pertanian tersebut melalui penerapan teknologi pengendalian hama terpadu.
Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten …. penelitian bertujuan untuk (1) mengetahui usaha – usaha adopsi tekologi pengendalian hama terpadu ( PHT ) oleh petani di Kabupaten …. (2) Mengetahui dan menganalisis strategi pengembangan pertanian melalui penerapan teknologi pengendalian hama terpadu ( PHT ) dalam upaya peningkatan produksi dan kesejahteraaan petani di Kabupaten ….
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik pengambilan sampel Random Sampling dengan memanfaatkan sebanyak 71 responden dari 247 populasi yang berstatus sebagai petani di Kabupaten … khususnya didaerah Gondang dan …. Analisa data yang digunakan dengan memakai Analisa SWOT. Analisa SWOT merupakan bentuk analisis untuk memaksimalkan peluang dan kekuatan serta meminimalkan kelemahan dan ancaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Upaya yang dilakukan untuk melakukan adopsi teknologi pengendalian hama terpadu ( PHT ) oleh petani di Kabupaten … diantaranya dengan melakukan sosialisasi program pengendalian hama terpadu ( PHT ) oleh petugas penyuluh pertanian, pelatihan penggunaan dan pemanfaatan berbagai teknologi pertanian. (2) Dalam peningkatan pengembangan pertanian melalui penerapan teknolgi PHT strategi yang paling tepat adalah dengan menerapkan startegi ( Strength – Opportunities ) yaitu dengan melakukan : (a) mengembangkan informasi akses peluang pasar dengan dukungan dari Dinas Pertanian, (b) meningkatkan mutu penyelenggaraan penyuluhan pertanian, (c) peningkatan kualitas sumber daya manusia aparat pertanian, (d). pengembangan pertanian oragnik, (e) standarisasi varietas / bibit (f) Intensifikasi pertanian, (g) penciptaan skala usaha produk pertanian

Januari 23, 2008 at 7:25 am Tinggalkan komentar

Strategi Pengembangan Agribisnis Salak Di Kabupaten … ( Studi Kasus di Kecamatan … Kabupaten … )

Globalisasi ekonomi telah mendorong kondisi perekonomian menjadi semakin komplek dan kompetitif sehingga menuntut tingkat efisiensi usaha yang tinggi, yang mengharuskan orientasi pembangunan pertanian dirubah dari orientasi produksi kearah orientasi peningkatan pendapatan petaniGuna mendukung perubahan orientasi pembangunan pertanian ini pendekatan pembangunan pertanian tidak lagi melalui pendekatan usahatani melainkan melalui Pendekatan agribisnis.
Pengertian agribisnis dalam arti sempit adalah perdagangan atau pemasaran hasil pertanian. Sedangkan menurut Anonimous ( 2000 ), yang dimaksud dengan Sistem Agribisnis adalah rangkaian dari berbagai sub sistem penyelesaian prasarana dan sarana produksi, subsistem budidaya yang menghasilkan produk primer, sub sistem industri pengolahan ( agroindustri ), sub sistem pemasaran dan distribusi serta sub sistem jasa pendukung.
Bagi Indosensia pengembangan usaha pertanian cukup prospektif karena memiliki kondisi yang menguntungkan antara lain; berada di daerah tropis yang subur, keadaan sarana prasarana cukup mendukung serta adanya kemauan politik pemerintah untuk menampilkan sektor pertanian sebagai prioritas dalam pembangunan.
Tujuan pembangunan agribisnis adalah untuk meningkatkan daya saing komoditi pertanian, menumbuhkan usaha kecil menengah dan koperasi serta mengembangkan kemitraan usaha. Dengan visi mewujudkan kemampuan berkompetisi merespon dinamika perubahan pasar dan pesaing, serta mampu ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan keragaman sumber daya alamnya, termasuk hasil buah-buahan, sayuran dan bunga ( Hortikultura ) serta produk pertanian tropis lainnya, namun kenyataannya sejauh ini pemasok devisa utama masih berasal dari perkebunan dan perikanan. Bertambah cepatnya pertumbuhan sub sektor perikanan, perkebunan dan peternakan disebabkan karena perilaku petani maupun pengusaha lebih berfikir maju, yang ditandai oleh; cepatnya mengadopsi inovasi baru, berani menanggung resiko dan mau mencoba hal-hal / teknologi baru ( Soekartawi, 1997 ).
Peningkatan daya saing pada sektor pertanian dipandang perlu memperoleh perhatian, oleh karena itu pembangunan pertanian yang berorientasi pada peningkatan pendapatan perlu lebih dititik beratkan pada upaya mendorong pengembangan komoditas hortikultura.
Winarno (1996) menyebutkan bahwa permintaan akan buah-buahan tropis segar, khususnya negara Eropa, Amerika dan Asia umumnya mengalami peningkatan dengan laju 10,8 % pertahun. Namun Indonesia sebagai salah satu pemasok buah tropis segar dunia saat ini masih sangat kecil yakni kurang dari 1 %.
Menurut Rahmat Rukmana (1999), peningkatan jumlah penduduk dunia berpengaruh terhadap makin naiknya permintaan produk buah-buahan. Fenomena ini merupakan prospek cerah bagi pengembangan agribisnis buah-buahan diberbagai negara di dunia termasuk Indonesia.
Indonesia berpeluang besar menjadi produsen buah-buahan dalam menyikapi pola perdagangan bebas (globalisasi). Potensi dasar yang dimiliki Indonesia diantaranya dalah sumber daya alam yang amat kaya, termasuk aneka jenis buah-buahan. Lebih dari 25% jenis buah-buahan tropis yang ada didunia terdapat diwilayah Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa prospek pengembangan agribisnis buah-buahan di Indonesi semakin cerah, baik dirancang sebagai komoditas ekspor maupun diproyeksikan pada permintaan pasar (konsumen) dalam negeri. Pasar buah-buahan tropis luar negeri yang masih terbuka antara lain Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Brunei Darussalam, Taiwan, dan Hongkong.
Berdasarkan kondisi diatas dan dalam menghadapi pola perdagangan bebas (globalisasi), strategi pengembangan agribisnis buah-buahan di Indonesia harus pada jenis buah-buahan tropis yang tidak ada / sedikit pesaingnya seperti salak. Disamping itu usaha pengembangan jenis buah-buahan yang banyak pesaingnya diarahkan untuk meningkatkan mutu dengan mencari varietas baru yang lebih unggul (Rahmat Rukmana, 1999). Mengacu pada buah tropis yang sedikit pesaingnya, komoditas salak mempunyai propek pengembangan dan pasar yang sangat potensial, mengingat penyebarannya yang luas diberbagai wilayah, harga yang terjangkau oleh masyarakat serta mempunyai nilai gizi yang baik disamping digemari oleh berbagai lapisan masyarakat ( Anonimous, 1997 ). Selain dari itu ditinjau dari segi ekonomis, pengusahaan salak cukup menguntungkan serta mempunyai propek pasar yang baik mengingat segmen pasar yang luas dari berbagai stratifikasi lapisan masyarakat. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila minat masyarakat untuk mengembangkan salak sangat besar.

Januari 23, 2008 at 7:25 am 1 komentar

Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Pemuda Pedesaan Terhadap Pemilihan Lapangan Kerja Sektor Pertanian Dan Non Pertanian (Studi di Desa …, Kecamatan …,

Penelitian ini merupakan metode kuantitatif pada Desa …, Kecamatan …, Kabupaten …, … dengan judul “Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Pemuda Pedesaan Terhadap Pemilihan Lapangan Kerja Sektor Pertanian Dan Non PertanianTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi penduduk Desa …, Kecamatan …, Kabupaten … … dan untuk mengetahui jenis faktor-faktor sosial ekonomi pemuda pedesaan yang mempengaruhi keputusan pemuda untuk memilih lapangan kerja pada pertanian dan non pertanian. Yang terdiri dari tiga variabel yaitu tingkat pendidikan pemuda, luas lahan yang ada dan tingkat pendapatan orang tua dan seluruh anggota keluarga pemuda.
Penelitian ini menggunakan sampel dari populasi penduduk yang berumur 15 – 29 tahun yang termasuk angkatan kerja dan bekerja di sektor pertanian dan non pertanian sebesar 100 responden. Dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu simpel acak random sempling dan teknik pengumpulan datanya yaitu melalui kuisioner. Sedangkan alat analisis yang digunakan yaitu analisis model probit.
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa nilai t tabel =1.661 pada  = 0.05 dan kepercayaan sebesar 95%. Disini disimpulkan bahwa t hitung (x1) = 7.368 ; t hitung (x2) = -10.205 dan t hitung (x3) = 2.019, karena variabel x1 dan x2 lebih besar dari t tabel = 1.661 berarti variabel tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan orang tua dan seluruh keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap pemuda pedesaan dalam pemilihan lapngan kerja sektor pertanian dan non pertanian sedangkan variabel x2 lebih kecil dari t tabel = 1.661 berarti luas lahan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemuda pedesaan dalam memilih lapangan kerja sektor pertanian dan non pertanian dan ini dilihat dari uji satu sisi kanan. Sedangkan untuk uji satu sisi kiri yaitu untuk f hitung = 69.331 lebih besar dari f tabel = 2.6994. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan , luas lahan yang ada dan tingkat pendapatan orang tua dan seluruh keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap pemuda pedesaan terhadap pemilihan lapangan kerja sektor pertanian dan non pertanian. Dengan demikian hipotesis tersebut terbukti.

Januari 23, 2008 at 7:24 am Tinggalkan komentar

Pola Kemitraan Antara Petani Tebu Dengan Pabrik Gula Asembagus (Desa Trigonco Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo

Tanaman tebu merupakan komoditi utama dalam menghasilkan gula pasir karena di dalam batangnya terkandung 20% cairan gula. Tebu rakyat dengan hasilnya gula pasir merupakan tanaman perdaganganSebagai tanaman perdagangan, maka perlu pemindahan dari produsen ke konsumen. Dalam usaha memasarkan tebunya, petani tebu dapat memilih salah satu cara yaitu dengan mengadakan kerjasama dengan pabrik gula dengan ketentuan kontrak yang telah disepakati antara pabrik gula dan petani tebu guna untuk meningkatkan pendapatan.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut yaitu: 1) bagaimana pola kemitraan antara petani tebu dengan PG Asembagus, 2) berapa keuntungan yang diperoleh petani tebu peserta kemitraan . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola kemitraan antara petani tebu dengan PG Asembagus dan juga untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh petani tebu peserta kemitraan.
Metode penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) yaitu di PG Asembagus Desa Trigonco Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo dengan pertimbangan PG tersebut merupakan PG yang beroperasi di daerah sentra tebu dan juga PG yang melakukan kemitraan dengan petani tebu di Desa Trigonco Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo. Metode pengambilan sampel dilakukan secara acak berstrata dengan dasar strata luas lahan serta menetapkan jumlah sampel yang diambil sebesar 10% dari jumlah populasi sebanyak 300 orang yaitu 30 orang sampel. Adapun metode pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Sedangkan untuk analisa data menggunakan analisa deskriptif dan kuantitatif
Dalam penelitian ini, Pabrik Gula Asembagus mengadakan kerjasama yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani tebu dan menambah pasokan bahan baku bagi Pabrik Gula Asembagus. Bentuk atau pola kemitraan yang dijalin oleh petani tebu dengan Pabrik Gula Asembagus adalah kontrak kerja yang saling menguntungkan. Sedangkan keuntungan yang diperoleh petani tebu dalam melakukan kemitraan adalah Rp. 16.946.681 dan nilai B/C Ratio pada usahatani tebu kemitraan adalah 1,42 sehingga nilai B/C Ratio >1 yang artinya usahatani tebu pada petani tebu kemitraan layak diusahakan

Januari 23, 2008 at 7:23 am Tinggalkan komentar

Potensi Pengembangan Usaha Pengolahan Ubi Jalar di Kabupaten dan Kota …

Ubi jalar sangat penting dalam tatanan penganekaragaman pangan. Jika dilihat dari kegunaannya, maka ubi jalar memiliki peluang yang baik untuk dikembangkan. Peningkatan produksi ubi jalar di Indonesia pada umumnya dan … pada khususnya dapat didorong melalui pengembangan agroindustri pengolahan hasil panen menjadi produk-produk yang unggul, menarik, dan awet sehingga laku di pasaran, baik dalam negeri maupun pasar luar negeri (ekspor).Peran pemerintah dalam hal ini sangat penting dalam mendorong masyarakat untuk mengembangkan ubi jalar melalui pameran dan penyuluhan yang memberikan gambaran bahwa ubi jalar dapat diangkat menjadi sumber bahan pangan alternatif. Pemerintah dapat juga memberikan kebijakan harga dasar yang layak untuk merangsang minat petani mengembangkan ubi jalar sebagai salah satu program diversifikasi pangan.
Saat ini usaha pengolahan ubi jalar di … relatif sedikit dan umumnya masih diusahakan dalam skala yang relatif kecil dengan manajemen yang sederhana. Hal ini diakibatkan masyarakat kurang mengetahui potensi-potensi yang ada pada usaha pengolahan ubi jalar. Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu adanya suatu upaya untuk menggali potensi-potensi agroindustri atau usaha pengolahan ubi jalar agar usaha pengolahan ini dapat dikembangkan.
Berdasarkan uraian diatas diambil pokok bahasan yang sesuai dengan kenyataan yang ada, yaitu dengan melakukan penelitian mengenai potensi pengembangan usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota ….
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui apa saja jenis usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kabupaten dan Kota …. (2) Mengetahui berapa volume produksi masing-masing usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota …. (3) Mengetahui struktur biaya pada masing-masing usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota …. (4) Mengetahui berapa keuntungan usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota ….
Pemilihan obyek dan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa ubi jalar sebagai salah satu komoditas pertanian penghasil karbohidrat yang dapat dijadikan sebagai cadangan pangan yang bila produksi padi tidak mencukupi lagi. Sedangkan pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa daerah … merupakan salah satu sentra penghasil ubi jalar di Jawa Timur.
Metode penentuan responden dilakukan dengan purposive sampling yaitu memilih secara sengaja anggota populasi usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kabupaten dan Kota …. Metode pengumpulan data diperoleh dari data primer yang berupa observasi, wawancara dan kuisioner. Sedangkan data sekunder diperoleh dari pustaka-pustaka yang digunakan sebagai acuan dan terkait dengan penelitian ini.
Metode analisis yang dipakai pada penelitian ini antara lain : analisa biaya, analisa penerimaan, analisa keuntungan, analisa R/C ratio dan analisis BEP serta analisa deskriptif.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa jenis usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kabupaten … antara lain adalah usaha pengolahan ubi jalar menjadi saos yaitu UD Utama dan UD Barokah. Sedangkan usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kota … antara lain adalah usaha pengolahan ubi jalar menjadi kripik yang diusahakan oleh Bp Suyono dan Bp Sunaji.
Volume produksi UD Utama mencapai 30.100 kg per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 2.150 kg saos. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 52.268,51 per produksi dan biaya variabelnya rata-rata per produksi sebesar Rp 1.490.827 sehingga total biaya rata-rata per produksi adalah sebesar Rp 1.766.733,51. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 1.935.000 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp 1.935.000 – Rp 1.766.733,51 = Rp 168.266,49. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,075. BEPq sebesar 2000,448 kg/ bulan dan BEPr pada sebesar Rp 833,95/ bungkus.
Volume produksi UD. Barokah mencapai 79.900 kg per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 3.073,08 kg saos. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 43.167,81 per produksi, biaya variabel rata-rata per produksi Rp. 4.622.836 sehingga total biaya rata-rata per produksi sebesar Rp 2.443.486,66. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 2.765.769,23 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp 2.765.769,23 – Rp 2.443.486,66 = Rp 322.282,57. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,13. BEPq sebesar 2.714,985 kg/ bulan dan BEPr sebesar Rp 795,1588/ bungkus.
Volume produksi agroindustri kripik Bapak Suyono mencapai 15.200 ons per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 950 ons kripik. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 17.900,98 per produksi, biaya variabel rata-rata per produksi Rp. 1.155.406 sehingga total biaya rata-rata per produksi sebesar Rp 1.173.307,23. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 1.425.000 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp1.425.000 – 1.173.307,23 = Rp 251.692,77. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,22. BEPq sebesar 782,2048 0ns/ bulan dan BEPr sebesar Rp 1.257,646/ ons.
Volume produksi agroindustri kripik ubi jalar Bapak Sunaji mencapai 7.500 ons per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 593,75 ons kripik. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 16.699,73 per produksi, biaya variabel rata-rata per produksi Rp. 637.525 sehingga total biaya rata-rata per produksi sebesar Rp 654.224,73. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 771.875 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp 771.875 – Rp 654.224,73 = Rp 117.650,27. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,18. BEPq sebesar 503,2498 0ns/ bulan dan BEPr sebesar Rp 1.111,263/ ons.
Dari analisa struktur biaya dan keuntungan masing-masing usaha pengolahan ubi jalar baik yang berada di Kabupaten maupun Kota … menunjukkan bahwa usaha pengolahan tersebut mempunyai potensi yang selanjutnya dapat lebih dikembangkan

Januari 23, 2008 at 7:21 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Pemberian Insentif Terhadap Disiplin dan Produktivitas Kerja Karyawan Bagian Produksi Pada Perusahaan Tenun “Rajin” Lawang

Dalam dunia usaha yang semakin berkembang pesat, persaingan antar perusahaan, terutama yang menghasilkan produk sejenis juga semakin ketat. Oleh karena itu, setiap perusahaan perlu melakukan upaya-upaya dalam rangka meningkatkan produksi mereka yang berkualitas dan berdaya guna tinggiPerusahaan dalam menjalankan proses produksinya tidak terlepas dari unsur tenaga kerja yang merupakan faktor utama. Penggunaan tenaga kerja secara efektif dan terarah merupakan kunci kearah peningkatan produktivitas kerja, untuk itu dibutuhkan suatu kebijaksanaan perusahaan dalam usahanya menggerakkan, mengajak dan mengarahkan tenaga kerja agar lebih produktif sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan perusahaan. Faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja adalah disiplin kerja dimana disiplin kerja berkorelasi dengan pemberian insentif baik finansial insentif dan non finansial insentif.
Tujuan penelitian adalah (1) untuk mengetahui hubungan pemberian insentif terhadap disiplin kerja dan produktivitas kerja karyawan pada Perusahaan Tenun “Rajin” Lawang, (2) untuk mengetahui faktor yang dominan terhadap produktivitas kerja karyawan pada Perusahaan Tenun “Rajin” Lawang. Oleh karena itu digunakan analisis jalur (path analysis) untuk dapat menjelaskan bentuk hubungan antara variabel tersebut, dengan menggunakan simple random sampling sebagai metode pengambilan sampelnya.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata secara langsung dari finansial insentif dan non finansial insentif terhadap disiplin kerja dan produktivitas kerja karyawan dengan total sumbangan efektif sebesar 81.64%, karena secara parsial yang berhubungan langsung dan signifikan dengan disiplin kerja hanya non finansial insentif dengan sumbangan efektif sebesar 12.29%. Selain itu, finansial insentif merupakan faktor yang dominan berpengaruh secara langsung terhadap produktivitas kerja karyawan, sebab tujuan utama pemberian finansial insentif pada umumnya adalah untuk meningkatkan prestasi kerja sehingga dapat mencapai produktivitas kerja yang optimal, dengan sumbangan efektif sebesar 65.93%. Oleh karena itu kebijakan perusahaan dalam pembagian insentif yang adil dan merata baik berupa finansial maupun non finansial kepada para karyawan perlu diperhatikan, agar dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan sehingga akan ikut meningkatkan keuntungan (profitabilitas) bagi perusahaan.

Kata kunci: Insentif, Produktivitas Kerja, Analisis Jalur

Januari 23, 2008 at 7:20 am Tinggalkan komentar

Analisis Finansial Dan Strategi Pengembangan Agroindustri Kerajinan Tangan di UD. Bambu Klasik …

Praktek penebangan hutan secara liar (illegal logging) yang diikuti dengan penyelundupan dan perdagangan kayu ilegal (illegal trading) ternyata tidak hanya mengakibatkan kerusakan lingkungan hutan, tetapi juga menimbulkan kerugian secara ekonomisSampai kini praktek illegal logging dan illegal trading belum dapat diatasi, bahkan kondisinya kini semakin marak sehingga berdampak pada hilangnya sebagian pangsa pasar produk mebel dan kerajinan Indonesia. Salah satu jalan keluar yang harus ditempuh para pengusaha mebel maupun kerajinan yang ada di Indonesia adalah mencari bahan baku pengganti yang dapat digunakan untuk tetap menghasilkan produk-produk yang diinginkan. Seperti agroindustri kerajinan tangan di Kecamatan … Kabupaten … yaitu di UD. Bambu Klasik yang menggunakan batang eceng gondok, pelepah pisang, tempurung kelapa dan bambu untuk dijadikan sebagai bahan baku produk mebel dan kerajinan tangan yang dapat dikomersialkan.
Permasalahan penelitian ini antara lain apakah pengembangan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik … sudah layak secara finansial, dan aspek lingkungan internal yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan serta lingkungan eksternal yang terdiri dari ancaman dan peluang apa saja yang mempengaruhi pengembangan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik ….
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik secara finansial, serta menganalisis aspek lingkungan internal dan lingkungan eksternal yang mempengaruhi pengembangan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik …. Sehingga hipotesis yang didapat yaitu: diduga agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik layak secara finansial.
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive) yaitu di UD. Bambu Klasik …. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode wawancara, observasi, kuisioner dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari perpustakaan dan instansi terkait yang berhubungan dengan penelitian ini serta hasil-hasil penelitian terdahulu. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif yang meliputi analisis kelayakan finansial dan analisis sensitivitas. Adapun analisis deskriptif yang digunakan adalah analisis SWOT.
Dari hasil penelitian didapat nilai NPV sebesar Rp. 473.320.627, IRR yang dihasilkan adalah 32%, nilai Net B/C Ratio sebesar 4,5 pada tingkat bunga 9%, dan waktu yang diperlukan untuk membayar kembali atau mengembalikan semua biaya-biaya yang dikeluarkan dalam investasi suatu proyek (Payback Period) yaitu pada triwulan ke-1. Sedangkan untuk analisis sensitivitas, pada tingkat suku bunga 9%, agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik selama 24 triwulan dengan menaikkan maupun menurunkan investasi, biaya dan benefit sebesar 10% masih dapat dikatakan layak untuk tetap dikembangkan. Selain itu dapat dikatakan bahwa benefit lebih sensitif jika dibandingkan dengan investasi dan biaya. Dengan demikian agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik dapat dikatakan layak untuk tetap dikembangkan.
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang secara sistematis digunakan untuk merumuskan strategi perusahaan. Adapun faktor-faktor internal dan eksternal yang dihasilkan dari penelitian pada agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik didapat bahwa kekuatan yang dimiliki meliputi pengrajin yang berpengalaman, kualitas produk baik, tenaga kerja yang terampil, harga produk murah, diversifikasi produk sesuai trend, kemampuan manajerial baik dan lokasi usaha yang strategis. Kelemahan yang dimiliki berupa modal terbatas dan peralatan produksi sederhana. Peluang meliputi kondisi pasar bahan baku, selera konsumen, dukungan Pemda, potensi pariwisata daerah dan pangsa pasar yang luas. Sedangkan ancaman yang ada meliputi pesaing memproduksi produk yang sama, perkembangan teknologi yang semakin maju dan perekonomian yang belum stabil.
Kata kunci: Agroindustri, kerajinan Tangan

Januari 23, 2008 at 7:19 am Tinggalkan komentar

Strategi Pengembangan Usaha Industri Tahu di Kecamatan … Kabupaten …

Visi dari pembangunan pertanian nasional adalah sebagai upaya mewujudkan pertanian yang tangguh, maju dan efisien yang mmepunyai ciri adanya kemampuan dalam menyejahterakan para petani, yang artinya membangun industri petani modern yang berbudaya industri dalam rangka membangun industri yang berbasis pedesaan (agrobisnis dan agroindustri).Adapaun agroindustri yang banyak berkembang di masyarakat adalah usaha industri tahu, seperti yang peneliti terjuni yaitu industri tahu yang ada di kecamatan … kabupaten …, dimana industri ini adalah salah satu industri kecil yang mampu menggerakkan roda perekonomian yang ada di kecamatan ….
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut maka penelitian pada industri tahu di kecamatan … kabupaten … bertujuan untuk :
1.Mengetahui sejauh mana pelaksanaan strategi yang diterapkan dalam proses produksi sehingga dapat menjamin kelestarian usahanya.
2.Mengetahui faktor – faktor internal dan eksternal berpengaruh dalam pengembangan industri tahu.
3.Mengetahui kemampuan dari pengusaha tahu di dalam pengembangan pemasaran hasil produk sehingga dapat menambah sumber pendapatan.
Dalam perkembangan industri yang ada ternyata diasumsikan bahwa faktor – faktor strategi sangat berpengaruh besar dalam menjaga kelangsungan hidup usaha industri tahu. Dan dalam penelitian ini jenis penelitiannya adalah metode studi kasus sedangkan populasi yang diambil yaitu semua pengusaha tahu yang ada di kecamatan … yang dianggap mampu untuk berkembang, kemudian teknik analisa yang digunakan yaitu analisa SWOT.
Dari hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa usaha industri tahu yang ada di kecamatan … mempunyai kekuatan dan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan usahanya. Adapun kekuatanya meliputi : Kesediaan bahan baku,sarana prasarana,teknologi produksi,dan kebijakan pemerintah beserta sumber daya manusia. Sedangkan peluang yang ada meliputi : Lembaga keuangan,masyarakat konsumen,sarana prasarana,dan jumlah penduduk yang besar

Januari 23, 2008 at 7:19 am Tinggalkan komentar

Analisis Daya Saing Komoditas Bawang Merah Di Kabuapaten …. (Tinjauan Keunggulan Komparatif dan Keunggulan Kompetitif di Daerah Sentra Produksi

Globalisasi perdagangan international memberi peluang dan tantangan bagi perekonomian nasional, termasuk didalamnya agribisnis. Kesepakatan-kesepakatan GATT, WTO, AFTA, AFEC dan organisasi perdagangan dunia lainnya, satu sisi memberi peluang terhadap sektor pertanian di Indonesia, jika agribisnis yang dilakukan memiliki daya saing, sisi lain merupakan ancaman terhadap komoditas pertanian jika tidak memiliki daya saing.Daya saing dapat dilihat dari keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
Komoditas bawang merah dipandang lebih siap memasuki era pasar bebas dibanding komoditas pangan lainnya. Karena memiliki kemandirian dan campur tangan pemerintah terhadap harga produksi relatif kecil. Komoditas bawang merah dipandang sebagai sumber pertumbuhan baru untuk dikembangkan dalam system agribisnis, karena mempunyai keterkaitan yang kuat baik ke sektor industri hulu pertanian (up stream agriculture) maupun keterkaitan ke hilir (on farm agriculture), yang mampu menciptakan nilai tambah produksi dan menyerap tenaga kerja melalui aktivitas pertanian sekunder (down stream agriculture). Di sisi yang lain, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki fluktuasi dan sensitivitas harga yang cukup tinggi, terutama karena perubahan permintaan dan penawaran.
Kabupaten … merupakan daerah sentra produksi bawang merah di Jawa Timur yang memiliki potensi wilayah kondusif bagi pengembangan bawang merah. Dengan keunggulan komparatif yang dimiliki dalam hal potensi wilayah dan tenaga kerja diharapkan mampu meningkatkan daya saing komoditas bawang merah.
Berdasarkan konsep diatas, dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1) Apakah usahatani bawang merah di Kabupaten … memberikan pendapatan finansial dan ekonomi, (2) Apakah usahatani bawang merah memiliki keunggulan komparatif, (3) Apakah usahatani bawang merah memiliki keunggulan kempetitif. (4) Apakah dampak perubahan produktivitas, harga input-output, nilai tukar rupiah dan kebijakan pemerintah berpengaruh terhadap daya saing komoditas bawang merah.
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah ; (1) Menganlisis pendapatan finansial dan ekonomi usahatani bawang merah di Kabupaten …. (2) Menganalisis keunggulan komparatif usahatani bawang merah di kabupaten …. (3) Menganalisis keunggulan kompetitif usahatani bawang merah di kabupaten …. (4) Menganlisis dampak perubahan-perubahan, harga input-output dan kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas bawang merah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : (1) Pendapatan finansial dan ekonomi bawang merah di Kabupaten … bernilai positif. (2) Usahatani bawang merah di Kabupaten … memiliki keunggulan komparatif. (3) Usahatani bawang merah di Kabupaten … memiliki keunggulan kompetitif. (4) Perubahan produktivitas usahatani dan harga output berpengaruh positif terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif. (5) Perubahan harga input, upah tenaga kerja dan nilai tukar mata uang berpengaruh negatif terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif.
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten …. Pemilihan lokasi usahatani dilakukan dengan cara sengaja (purposive) yaitu di Desa … dan Desa … Kecamatan … dipilih sebagai lokasi usahatani, karena kedua desa tersebut merupakan sentra produksi bawang merah di Kabupaten ….
Penentuan populasi yang didasarkan data sekunder dari Dinas Pertanian dan Perkebuanan Kabupaten … dengan menggunakan total sampling (total sampling methode), dengan tujuan sebagai sample penelitian yang dilakukan dengan cara stratified random sampling jumlah sample yang diambil 20% dari jumlah populasi. Petani responden di Desa … berjumlah 30 orang, sedangkan petani di Desa … sebanyak 34 orang juga.
Pengambilan sample untuk aktivitas pemasaran dilakukan dengan metode Rapid Marketing Appraisal (RMA), dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang biaya pemasaran dan harga di tingkat konsumen dari berbagai sumber terkait secara akurat dan cepat. Responden dipilih secara sengaja (purposive), yang terdiri dari : (a) Lembaga pemasaran output, (b) Lembaga pemasaran input, diantaranya PT Pupuk Petrokimia dan toko sarana produksi pertanian, (c) Dinas dan lembaga pemerintahan terkait, seperti Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Pertanian dan Perkebunan dan Bea Cukai Tanjung Perak Surabaya/Wilayah …, (d) Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, (e) Informan kunci.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diajukan adalah (1) Komoditas bawang merah di Kabupaten … memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang cukup tinggi, sehingga dapat dijadikan komoditas andalan Kabupaten … dalam rangka mengoptimalkan potensi wilayah, (2) Daya saing komoditas bawang merah dapat ditingkatkan dengan peningkatan produktivitas usahatani misalnya dengan perbaikan sistem budidaya dan penggunaan teknologi pertanian yang lebih efisien, (3) Hendaknya pengembangan komoditas bawang merah diiringi dengan pengembangan agroindustri dan penyimpanan bawang merah untuk bibit, karena nilai tambah yang di dapat lebih besar. (4) Kebijakan pemerintah efektif masih dibutuhkan oleh petani keberlangsungan agribisnis di kabupaten …, misalnya, subsidi pada input tradeable vital seperti pupuk, pestisida, penghapusan pungutan liar pada aktivitas perdagangan, pengawasan yang lebih ketat pada Dinas Bea Cukai untuk menjamin terealisasinya aturan perdagangan tentang bea masuk dan tarif impor-ekspor secara adil dan sehat, (5) Peneliti selanjutnya hendaknya melakukan perhitungan persentase berat bawang merah yang digunakan untuk bibit dibandingkan untuk konsumsi. Data tersebut nantinya digunakan untuk menentukan harga sosial bawang merah, sehingga estimasi tentang harga sosial lebih akurat, karena bawang merah selain diperdagangkan dalam bentuk bibit juga diperdagangkan dalam bentuk konsumsi / olahan.(bawang merah sebagai suatu produk)

Januari 23, 2008 at 7:18 am Tinggalkan komentar

Strategi Pemasaran Buah Jeruk Keprok (Citrus Nobilis L) Lokal (Studi Kasus di Kecamatan … Kotamadya …)

Buah jeruk merupakan salah satu jenis buah-buahan yang paling banyak digemari oleh masyarakat di Indonesia, hal ini disebabkan buah jeruk banyak mengandung jenis vitamin terutama vitamin C dan Vitamin A. selain itu buah jeruk merupakan buah yang selalu tersedia sepanjang tahun, karena tanaman jeruk tidak mengenal musim berbunga yang khususDi samping itu tanaman jeruk dapat ditanam dimana saja, baik didataran rendah maupun didataran tinggi.
Namun demikian nasib buah jeruk lokal di Indonesia ini tidak terlalu mendapatkan angin segar, hal ini disebabkan banyaknya persaingan dari jenis buah-buahan lokal itu sendiri maupun jenis buah-buahan lokal yang lain, ditambahkan dengan semakin banyaknya buah impor yang ada baik jeruk maupun buah-buahan yang lainnya.
Selain hal tersebut diatas pemasaran juga dapat menjadi penyebab dari perma salahan ini, untuk itu perlu diketahui bagaimana sistem pemasaran yang berlangsung selama ini, sehingga dapat diketahui apa penyebab dari permasalahan pemasaran buah ter sebut.
Dengan melihat fenomena diatas, terdapat beberapa permasalahan yang perlu dikaji, yaitu mengenai:
1.Bagaimana segmentasi pasar buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan …?
2.Bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan …?
3.Bagaiamana strategi yang tepat dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan … berdasarkan analisa SWOT?
Dengan melihat perumusan masalah yang ada maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1.Untuk mengetahui segmentasi pasar buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan ….
2.Untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan ….
3.Untuk mengetahui strategi yang tepat dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan … berdasarkan analisa SWOT.
Penentuan daerah dilakukan secara purposive atau sengaja di kecamatan … kotamadya … berdasarkan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan kecamatan yang mempunyai lokasi pemasaran yang beragam, mulai dari pasar tradisional hingga pasar modern (supermarket) dan diantara kedua tempat pemasaran tersebut tidak mempunyai perbedaan kuantitatif yang sangat menonjol.
Metode pengumpulan data dengan cara interview, questionnaires atau angket serta observasi sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah analisa deskriptif yaitu menjelaskan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang dikaitkan dengan teori dan pendapat para ahli terhadap pembahasan yang dilakukan dalam penelitian, dan analisa kuantitatif-kualitatif SWOT.
Dari pembahasan dapat diketahui bahwa kekutan yang dimiliki dalam pemaaran buah jeruk keprok lokal adalah rasa, yang lengkap, harga yang cukup murah, mudah di dapat atau di temui, serta pelayanan yang baik dari para pemasar. Kelemahan yang dimiliki dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal adalah warna kulit yang kurang menarik, aroma buah jeruk keprok lokal yang biasa, warna daging buah yang kuning pucat, ketersediaan kandungan air yang sedang, pengemasan yang belum ada, tata letak yang kurang mendukung, kurang adanya antisipasi penjagaan kwalitas buah jeruk keprok lokal, tidak adanya promosi mengenai kelebihan dari buah jeruk keprok lokal ini. Peluang yang dimiliki dalam pemasarn buah jeruk keprok lokal adalah sudah dikenalnya buah ini di kalangan masyarakat, buah ini merupakan buah yang selalu tersedia sepanjang tahun (tidak mengenal musim tertentu), pertumbuhan penduduk dan perluasan pangsa pasar. Ancaman yang ada dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal yaitu adanya buah impor, adanya buah substitusi, sehingga semakin berkurangnya produksi buah jeruk keprok lokal yang dihasilkan oleh petani. Strategi pemasaran yang ideal setelah dilakukan analisa SWOT yang disesuaikan dengan analisa matrik faktor strategi internal – eksternal pemasaran buah jeruk keprok lokal adalah strategi SO (strenghts- opportunities) dan WO (weaknss – opportunities). Strategi SO yaitu dengan mempertahankan kualitas rasa, meningkatkan hasil produksi, menambah pasokan kesemua pasar buah (outlet, toko buah, pasar tradisional dsb), memperbaiki kualitaas penjualan dan area pemasaran. Strategi WO yaitu dengan meningkatkan kwalitas hasil produksi, perbaikan pengemasan, memperluas pangsa pasar, meningkatkan antisipasi pasca panen, memperpendek jalur pemasaran, menguasai pangsa pasar.

Januari 23, 2008 at 7:17 am Tinggalkan komentar

Tulisan Lebih Lama Tulisan Lebih Baru


Kalender

April 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.