Posts filed under ‘Pertanian’

Strategi Pengembangan Agribisnis Lebah Madu Di Kecamatan … Kabupaten …

Pengembangan usaha budidaya lebah madu di Kecamatan … mempunyai prospek yang baik untuk masa yang akan datang. Ada beberapa faktor yang mendukung usaha tersebut antara lain adanya potensi sumberdaya alam, dukungan dari Pemerintah Daerah dan manfaat budidaya lebah itu sendiri bagi kehidupan manusia serta kelestarian lingkungan hidup.Dalam rangka melaksanakan pengembangan usaha budidaya lebah madu di Kecamatan … untuk membentuk suatu usaha yang mempunyai wawasan agribisnis tidak lepas dari permasalahan yang menjadi hambatan dan kekurangan, maka dari itu terlebih dahulu perlu diketahui dan dipelajari faktor – faktor yang berpengaruh positif dan negatif yang ada didalam usaha budidaya lebah itu sendiri maupun diluar usaha, sehingga dapat dipergunakan untuk mengetahui strategi apa yang tepat untuk pengembangan agribisnis lebah madu di Kecamatan ….
Ada beberapa faktor strategis didalam agribisnis lebah madu, antara lain adalah faktor sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sarana produksi, modal, penerapan teknologi, panen dan pasca panen, produksi yang dihasilkan serta pemasaran hasil. Masing – masing faktor mempunyai kelemahan dan kelebihan yang berpengaruh terhadap pengembangan usaha budidaya lebah madu.
Hasil penelitian, dengan menggunakan analisis SWOT diketahui bahwa faktor kelemahan yang ada di dalam usaha dan ancaman dari luar usaha mempunyai pengaruh yang lebah besar dari pada faktor kekuatan maupun peluang usaha budidaya lebah madu, maka strategi terpilih adalah strategi defensif yaitu meminimalkan kelemahan untuk menanggulangi ancaman dengan kegiatan :
Mencegah penebangan liar dengan menertibkan perijinan penebangan tanaman;
Diversifikasi produk dalam bentuk madu bee pollen;
Pemberian label dan ijin produksi pada kemasan produk;
Merubah bentuk rumah lebah dengan menambah bingkai sarang pada rumah lebah.

Kata Kunci :
Strategi Pengembangan, Lebah Madu

Januari 23, 2008 at 7:32 am 1 komentar

Strategi Sistem Agribisnis Daging Di Jabotabek (kasus penggemukan sapi pt. sinar katel perkasa)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) Untuk mengetahui bagaimana pola penyediaan dan pemasaran daging dari dan ke Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. 2) Mengetahui bagaimana jalur dan mata rantai pemasaran daging dari dan ke Jakarta, Bogor, Tengerang dan Bekasi, 3) Mengetahui bagaimana model pemenuhan kebutuhan daging di Jabotabek oleh PT. Sinar Katel Perkasa.Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan explanatory research dengan metode survei (Survey Method) Teknik pengambilan data yaitu dengan wawancara, survei dan dokumenter. sedangkan data yang diambil adalah data primer dan data sekunder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Pasokan daging ke DKI Jakarta berasalal dari tiga sumber utama, yaitu dari : (a) Daging dari hasil pemotongan di RPH Cakung, Pulogadung, Mampang dan Tanjung Priuk. (b) Daging dari pasokan lokal, yaitu daging dari hasil pemotongan RPH/TPH di daerah Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. (c) Daging impor dari luar negeri, diantaranya dari Australia, Selandia Baru, Kanada, Amerika Serikat. 2) Pada masa belakangan ini telah terjadi pergeseran pola suplai daging ke Jakarta. 3) Pasokan daging lokal dari wilayah-wilayah tersebut sebagian berasal dari pemotongan di TPH-TPH yang kualitas pemotongannya diragukan. 4) Kontribusi daging impor juga meningkat dengan distribusi melalui meat shop dan pasar swalayan. 5) Fokus perhatian untuk mengetahui ketersediaan dan kecukupan daging untuk masyarakat DKI Jakarta tidak cukup hanya dengan melihat stok ternak potong yang ada di holding ground di Cakung saja. 6) Berdasarkan matrik pilihan strategi yang paling dominan, maka strategi yang digunakan a) Meningkatan optimalisasi kapasitas, memperbesar market share, meningkatkan sale dengan pasar tradisional dan menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang, b) Meningkatkan efisiensi, meningkatkan teknologi, memanfaatkan rancang bangun dan meminimalkan kelemahan dengan memanfaatkan peluang, c) Meningkatkan dan menjaga kualitas produk, social education/CD, kerjasama dengan pihak lain serta menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk atasi ancaman, d) Mengoptimalkan R&D, memanfaatkan kelebihan untuk perluasan kapasitas, penjualan sbg saham, serta menciptakan strategi memaksimalkan kekuatan dan menghindari ancaman.

Januari 23, 2008 at 7:32 am 2 komentar

Sikap Ibu Rumah Tangga Pedesaan Terhadap Tanaman Obat Keluarga (TOGA) (Study Kasus di Desa … Kecamatan … Kabupaten ..

Tanaman obat merupakan salah satu sumber daya yang sudah ada sejak dahulu kala dimanfaatkan oleh nenek moyang kita dalam upaya mengatasi masalah kesehatan dengan menjadikan berbagai ramuan bahan tanaman obat. Oleh karena itu pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) perlu dikembangkan dan disebar luaskan di masyarakat terutama untuk ibu-ibu rumah tangga.Ibu rumah tangga sangat berperan dalam masalah kesehatan, sehingga apabila anggota keluarga ada yang sakit maka ibu rumah tanggalah yang melakukan pencegahan pertama dalam mengatasi masalah kesehatan. Namun dewasa ini banyak kecenderungan perubahan sikap konsumen dalam masalah mengkonsumsi obat-obatan untuk kesehatan. Kesehatan bagi kelangsungan hidup kita sangat penting sekali, karena tanpa kesehatan kita tidak dapat melakukan berbagai aktivitas yang dapat mempertahankan hidup di dunia ini.
Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Berapa tingkat pengetahuan ibu rumah tangga terhadap tanaman obat keluarga untuk kesehatan, 2) Bagaimana pemanfaatan dan pengelolaan tanaman obat keluarga bagi kesehatan, 3) Bagaimana sikap ibu rumah tangga terhadap obat-obatan farmasi dengan obat-obatan tradisional, 4) Berapa tingkat perbedaan harga obat-obatan tradisional dengan obat-obatan farmasi.
Tujuan dari penelitan ini adalah: 1) Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu rumah tangga terhadap tanaman obat keluarga untuk kesehatan. 2) Untuk mengetahui pemanfaatan dan pengelolaan tanaman obat keluarga bagi kesehatan.3) Untuk mengetahui sikap ibu rumah tangga terhadap obat-obatan farmasi dengan obat tradisional dan faktor-faktor yang mempengaruhi. 4) Untuk mengetahui tingkat perbedaan harga obat tradisional dengan obat-obatan farmasi.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sensus yaitu dengan interview, observasi dan kuisioner yang diperoleh langsung dari ibu-ibu rumah tangga di Desa … Kecamatan … Kabupaten … Madura.
Metode analisis yang digunakan adalah uji validitas dan reliabilitas untuk menganalisis tentang pengetahuan dan sikap dari ibu rumah tangga terhadap tanaman obat keluarga (TOGA). Sedang untuk mengetahui tingkat penghematan pengeluaran ibu rumah tangga terhadap tanaman obat keluarga (TOGA) menggunakan uji-t yang dilakukan dengan uji dua arah.
Hasil penelitian
1.Berdasarkan hasil perhitungan total skor pengetahuan, maka dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu rumah tangga tentang tanaman obat keluarga (TOGA) berada pada rentang skala penilaian baik, hal ini ditunjukkan oleh rata-rata skor variabel menyatakan sebesar 153,07.
2.Berdasarkan hasil perhitungan, maka dapat diketahui bahwa sikap ibu rumah tangga tentang tanaman obat keluarga (TOGA) berada pada rentang skala penilaian baik, hal ini ditunjukkan oleh rata-rata skor variable pengetahuan sebesar 157,14.
3. Berdasarkan hasil uji perbandingan harga obat farmasi dengan harga obat tradisional terhadap beberapa jenis penyakit adalah terdapat perbedaan yang nyata antara harga obat farmasi dengan harga obat tradisional yaitu diketahui bahwa obat tradisional mempunyai harga yang lebih murah dibandinglan dengan harga obat farmasi. Hal ini dikarenakan harga obat tradisional memiliki rata-rata harga yang relatief lebih murah dibandingkan dengan harga obat tradisional. Beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu pengalaman pribadi, usia, pendidikan, informasi dari luar ( televisi, radio, internet), pendapatan, sosial dan budaya. Dalam hal ini sikap ibu rumah tangga mempengaruhi dalam mengkonsumsi tanaman obat keluarga misalnya tentang penghematan dalam memilih dan mengkonsumsi obat-obatan baik dari obat tradisional maupun obat farmasi.
4.Manfaat dan pengolahan dari tanaman obat bagi kesehatan sangat mudah, sehingga siapapun yang ingin membuat jamu dari tanaman obat keluarga tersebut dapat melakukannya. Ibu-ibu rumah tangga juga dapat melakukan nya dalam membuat jamu dari TOGA tersebut karena ibu rumah tangga sering menjumpai tanaman obat ini. Tanaman obat keluarga ini seperti kunyit, jahe, lengkuas, kencur dan temulawak.

Januari 23, 2008 at 7:31 am Tinggalkan komentar

Analisis Usaha pada Industri Kecil ‘Tembakau Campur’ ( Studi Kasus di Kelurahan … Kecamatan … Kabupaten …

Pembangunan sektor pertanian sistem agribisnis mencakup tiga sub sektor, yaitu : Pertama, sub sektor agribisnis hulu (up stream agribusiness) merupakan suatu kegiatan ekonomi yang menghasilkan dan memperdagangkan sarana produksi pertanian Primer. Kedua, sub sektor usaha tani (on farm agribusiness) atau disebut sektor pertanian. Ketiga, sub sektor agribisnis hilir (down stream agribusiness) yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah hasil usaha tani menjadi produk olahan beserta kegiatan perdagangannya yang disebut agroindustri hilir (Saragih, 1998).
Salah satu usaha yang ada di kabupaten … adalah industri tembakau campur yang menggunakan bahan baku tembakau, cengkeh dan saos rokok. Tembakau campur memiliki keunikan dan keahlian khusus dalam mengelola saos rokok yang akan dipakai. Pada industri ini penggunaan tenaga kerja melibatkan tenaga warga sekitar pabrik dan melibatkan orang dalam keluarga dalam melakukan aktivitas produksi.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis berkeinginan melakukan analisis usaha pada industri tembakau campur di Kabupaten … dengan perumusan masalah mengenai : (1) Bagaimana struktur biaya, penerimaan dan keuntungan industri tembakau campur; (2) berapakah volume produksi dan harga pada industri tembakau campur pada saat usaha mengalami impas.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : (1) Keuntungan yang diperoleh pengusaha tembakau campur rata-rata sebesar Rp. 6.985.500,00. Dari hasil penelitian tingkat Break Even Point / Titik Impas perusahaan pada bulan November 2006 yaitu sebesar Rp. 9.583.333,00. Sedangkan total penjualan yaitu 650 Kg dengan harga berlaku per Kg Rp. 50.000,00 sehingga memiliki total penjualan sebesar Rp. 32.500.000,00. Pada bulan November 2006 perusahaan tembakau campur mendapatkan laba sebesar 21,5%. Peneliti memberikan suatu perencanaan laba yaitu sebesar 10 % dengan keadaan biaya tetap dan harga berlaku konstan, sehingga total penjualan yang harus dicapai yaitu sebesar Rp. 14.162.561,00, atau dengan volume produksi sebesar 283,25 Kg. Biaya pengusahaan tembakau campur rata –rata per bulan pada bulan November 2006 adalah Rp. 25.514.500,00 yang terdiri dari Biaya tetap (FC) rata-rata sebesar Rp. 2.875.000,00 dan Biaya Variabel (VC) rata-rata sebesar Rp. 22.639.500,00. Pendapatan yang diterima oleh pengusaha tembakau campur adalah Rp. 32.000.-000,00. (2) Dari hasil penelitian tentang analisa BEPq ( Break Even Point ) atau minimal produksi tembakau campur sebesar 510,29 Kg dengan produksi pada penelitian bulan November 2006 sebesar 650 Kg, maka pengusaha tembakau Campur ini masih menguntungkan karena produksi Impas lebih kecil dari tingkat produksi rata-rata.
Pada analisa Break Even price (BEPr) untuk harga minimal produksi tembakau campur sebesar Rp. 39.253,00 per Kg dengan harga rata-rata yang diterima produsen sebesar Rp. 50.000,00. Hal ini menunjukkan bahwa harga tembakau campur menguntungkan, karena harga impas lebih kecil dari harga ditingkat produsen. Dalam industri Tembakau Campur ini masih banyak kendala yang dihadapi oleh pengusaha diantaranya permodalan, kompetisi antar pengusaha, pemasaran , teknologi dan mana-jemen manejerial yang kesemuanya dirasa sulit untuk di atasi dan dengan adanya peluang yang dihadapi diantaranya peningkatan produksi, perluasan pemasaran dan peningkatan skala usaha diharapkan mampu mengatasi kendala yang ada sehingga memberikan kesejahteraan pengusaha dalam peningkatan pengembangan skala usaha yang lebih baik.

Januari 23, 2008 at 7:31 am Tinggalkan komentar

Strategi Pengembangan Agroindustri Kurmelo Di Kecamatan … Kabupaten …

Pamelo merupakan produk unggulan Kabupaten …, dimana 20% produksinya tidak mempunyai nilai ekonomi dikarenakan rusak fisiologis yang disebabkan serangan hama dan penyakit, rusak mekanis maupun penjarangan buahBertitik tolak dari hal tersebut dengan teknologi pengolahan hasil pertanian, maka buah pamelo tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan manisan kulit pamelo yang disebut Kurmelo.
Dalam upaya mengembangkan agroindustri Kurmelo di Kecamatan …, banyak faktor – faktor yang berpengaruh, baik faktor internal maupun eksternal secara positif maupun negatif. Untuk itu perlu diketahui faktor – faktor yang berpengaruh tersebut, sehingga dapat disusun suatu strategi yang tepat untuk pengembangan agroindustri di Kecamatan ….
Ada beberapa faktor / aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan agroindustri Kurmelo, antara lain : (a) Sumberdaya Alam; (b) Sumberdaya Manusia; (c) Modal; (d) Teknologi; (e) Produksi; (f) Managemen usaha dan (g) Pemasaran. Masing – masing faktor tersebut mempunyai kekurangan dan kelebihan yang berpengaruh terhadap pengembangan agroindustri Kurmelo.
Dari hasil penelitian dengan menggunakan analisis SWOT dapat diketahui bahwa faktor kekuatan dan peluang mempunyai pengaruh lebih besar daripada faktor kelemahan dan ancaman. Maka startegi yang diterapkan untuk pengembangan agroindustri Kurmelo di Kecamatan … adalah strategi Growth / pertumbuhan yang dinamis dengan memaksimalkan kekuatan yang ada dengan memanfaatkan peluang, dengan kegiatan sebagai berikut :
1.Pernambahan modal untuk mengoptimalkan bahan baku serta menambah kapasitas produksi;
2.Meningkatkan kerjasama untuk memperluas pasar;
3.Memanfaatkan sarana informasi untuk promosi.

Kata Kunci :
Strategi Pengembangan, Kurmelo

Januari 23, 2008 at 7:31 am Tinggalkan komentar

Strategi Pengembangan Agribisnis Kambing Peranakan Etawa Di Kecamatan …

Perkembangan dunia yang mengarah kepada proses globalisasi dewasa ini mendorong kondisi perekonomian menjadi semakin komplek dan kompetitif sehingga menuntut tingkat efisiensi usaha yang tinggi, sehingga orientasi pembangunan nasional sektor pertanian harus diubah dari orientasi produksi kearah orientasi pendapatan petaniUntuk itu pendekatan pembangunan pertanian telah diubah dari pendekatan usahatani kearah agribisnis.
Dengan demikian dapat diartikan bahwa unit agribisnis bukan merupakan suatu unit kepemilikan, akan tetapi merupakan unit satu kesatuan sistem yang tersusun atas beberapa komponen yang merupakan jaringan terpadu untuk meraih nilai tambah ekonomi.
Berdasarkan sejarah perkembangannya, agribisnis bukan merupakan sistem yang baru tumbuh, akan tetapi sudah tumbuh sejak dulu. Pemerintah Belanda sebagai pendatang juga memperkenalkan pola agribisnis di Indonesia. Pola yang dikembangkan pemerintah kolonial adalah agribisnis penghasil barang ekspor yang ditata menurut pola perkebunan besar. Pemerintah kolonial juga memperkenalkan agribisnis yang berwatak industri pertanian dimana aspek investasi untuk meraih nilai tambah tampil sebagai nilai dasar dari pengembangan usaha.
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman sumber daya alamnya, termasuk sebagai salah satu negara yang kaya akan jenis ternak, namun pada kenyataannya sektor peternakan belum dikembangkan secara maksimal walaupun sebenarnya pengembangan agribisnis peternakan mempunyai peluang yang sangat besar dalam hal peningkatan permintaan baik dalam negeri maupun luar negeri.
Kambing PE (Peranakan Etawa) selain dikenal sebagai kambing bertipe besar kambing PE juga dikenal sebagai penghasil susu yang cukup potensial, kambing PE mampu menghasilkan susu sebanyak 0,45-2,2 liter perhari dengan panjang masa laktasi 92-256 hari.
Di Indonesia, hampir 90% pemeliharaan kambing bertujuam menghasilkan daging, tentunya kenyataan ini sangat ironis dengan fakta bahwa dinegeri ini populasi ternak kambing PE termasuk terbesar di dunia, dan seperti diketahui bahwa kambing PE adalah penghasil susu yang sangat potensial. Di luar negeri , seperti di India, kambing etawa juga dipelihara sebagai penghasil susu yang sangat produktif, rata-rata produksinya adalah 235Kg per masa laktasi (261hari). Produksi susu kambing memberikan sumbangan sebesar 35% terhadap produksi susu di dunia.
FAO (1996) memperkirakan bahwa permintaan atau impor daging kambing dunia akan meningkat rata-rata sekitar 2% pertahunnya, sehingga pada tahun 2000 jumlah kebutuhan sudah mencapai tidak kurang dari 10,9 juta ton. Sedangkan jumlah yang diperdagangkan mencapai kurang lebih 1,4 juta ton. Dari seluruh jumlah impor dunia, Australia, New Zealand, dan negara-negara maju lainya diperkirakan akan memasok 1,1 juta ton. Dan sisanya diposok oleh negara-negara berkembang yang juga akan mengalami peningkatan produksi.
Negara-negara berkembang yang selama ini mengalami kemajuan pesat dalam perkembangan produksi ternak kambing adalah ; Cina, Bangladesh, Pakistan, Maroko, Aljazair dan Nigeria. Sedangkan negara yang berpotensi melakukan impor tinggi adalah ; Amerika Latin, Afrika Selatan, dan Timur Jauh (kawasan Asia Pasifik dan Oceania). Hal ini disebabkan karena wilayah tersebut merupakan daerah yang pertumbuhan ekonominya tergolong tinggi.(Ditjen Peternakan:1999)
Sedangkan di Indonesia produksi daging kambing rata-rata menurun 2,93% pertahun dalam periode 1993-1997. Penurunan produksi terjadi hampir diseluruh Propinsi kecuali di Jawa Barat, Jawa Timur, DI Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan produsen utama daging kambing di Indonesia adalah Jawa Timur dengan rata-rata sumbangan 34,07% pertahun, kemudian diikuti Jawa Tengah 14,17% pertahun dan Jawa Barat 11,46% pertahun. Propinsi lainya rata-rata hanya mampu menyumbang dibawah 5 % pertahun.
Terkait dengan beberapa persoalan diatas, sudah saatnya kita melakukan sesuatu yang mampu memberikan sumbangan nyata bagi pembangunan sub-sektor peternakan dan langsung menyentuh masyarakat kecil dengan kemampuan modal yang terbatas, usaha ternak kambing PE rasanya sangat relevan dengan tujuan diatas karena memiliki beberapa karakteristik pendukung seperti, modal awal yang dibutuhkan relatif kecil dibandingkan dengan ternak besar, teknik pemeliharaan relatif mudah, sederhana dan tidak membutuhkan tempat yang luas, perkembangbiakan relatif lebih cepat dibandingkan dengan ternak besar.
Sehubungan dengan hal tersebut, sub-sektor peternakan dirasa perlu mendapat perhatian ekstra. Selama ini, perhatian pemerintah lebih banyak diarahkan kepada program peningkatan produksi hasil peternakan yang melibatkan modal besar dan sarat subsidi. Hasilnya sub-sektor ini dalam program-program tertentu mampu tumbuh pesat dengan tunjangan subsidi penuh dari pemerintah, tetapi program lain lebih banyak berjalan ditempat, jika tidak bisa dikatakan merosot tajam. Sebagai contoh, usaha peternakan ayam ras, sejak dimulai pengenalan kepada masyarakat mulai dekade 1950-an, telah tumbuh pesat dan menggurita. Beberapa perusahaan mengalami pertumbuhan yang sangat fantastis dan kini bisa menguasai 90% pasar ayam ras dari hulu ke hilir. Namun, pertumbuhan ini kini masih banyak kekurangannya. Tidak sedikit muncul hal yang kontradiktif. Sampai saat ini kita belum mampu menghasilkan GPS (grand …nt stock) sendiri.
Dengan hal tersebut diatas maka strategi pengembangannya harus dirumuskan secara cermat dan tepat sehingga tujuan peningkatan pendapatan serta kesejahteraan peternak dapat dicapai.
Berdasarkan uraian diatas di Kecamatan …, Kabupaten Purworejo yang mempunyai potensi Kambing PE dalam jumlah yang cukup besar, perlu adanya strategi pengembangan yang di analisis secara obyektif(kekuatan dan kelemahan) dan apakah mempunyai dampak terhadap perubahan deregulasi serta langkah-langkah kebijaksanaan operasional pemerintah (Peluang dan ancaman) dalam rangka peningkatan nilai ekonominya

Januari 23, 2008 at 7:30 am 1 komentar

Strategi Penyediaan Semen Beku Sapi Balai Inseminasi Buatan Di Singosari Dan Implemantasinya Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Semen Beku

Penelitian dilaksanakan dengan lokasi Balai Inseminasi Buatan Di Singosari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1). strategi BIB dalam pemenuhan kebutuhan semen beku daerah. 2). pengaruh yang nyata antara penyediaan semen beku sapi BIB di Singosari dan implementasinya terhadap pemenuhan kebutuhan semen bekuPenelitian ini diharapkan berguna 1). sebagai bahan informasi bagi peternak dalam menggunakan semen beku, 2) sebagai pijakan menyusun strategi yang tepat bagi BIB Di Singosari untuk menghasilkan produksi semen beku, 3) sebagai pijakan penelitian yang akan datang dalam menyusun strategi penyediaan semen beku
Penelitian yang di lakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus (Case Study) dengan bahan penelitian berupa data yang meliputi jumlah pejantan, kualitas semen beku, distribusi semen dan jumlah laporan daerah serta penyediaan semen beku dari tahun 1993 s/d 2002. Sebagai variabel independen adalah variabel X1 (Kualitas Semen Beku), X2 (Distribusi Semen Beku), X3 (Jumlah Pejantan), X4 (Jumlah Laporan Daerah. Sedangkan variabel dependen adalah Total Produksi/Pemenuhan Kebutuhan. Teknik pengambilan data yaitu dengan teknik observasi, wawancara dan teknik dokumentasi. sedangkan data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Anaisis data menggunakan Strength, Weaknesses, Opportunity, Threats (SWOT) dan Regresi Berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Strategi yang dapat dilakukan dalam penyediaan semen beku sapi BIB Di Singosari adalah: (a) Peningkatan kualitas dan kuantitas produk dengan memanfaatkan teknologi produksi dan informasi yang memadai serta memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada yang digunakan dalam mengembangkan persediaan semen beku sapi dan pencapaian target yakni pemenuhan kebutuhan semen beku, (b) Peningkatan kinerja serta pengembangan distribusi melalui suatu kerja sama yang baik dengan distributor akan mendukung adanya peningkatan investasi serta adanya dukungan dari program-program pemerintah guna tercapainya target yang ingin dihasilkan. 2) Persamaan regresi Y = 260.657,41+ 8.232,736 X1 + 0,273 X2 –3.682,381 X3 –8.561,032X4 . Hal ini berarti setiap peningkatan variabel kualitas semen beku akan meningkatkan kebutuhan semen beku sebesar 8.22,736 dosis dan setiap setiap peningkatan variabel distribusi semen beku akan meningkatkan 0.273 dosis. Variabel jumlah pejantan menunjukkan setiap penambahan seekor pejantan akan menurunkan pemenuhan kebutuhan semen beku sebesar 3.682,381 dosis, dan setiap penambahan variabel laporan daerah sebesar 8.561,032 dosis.
Pengaruh kualitas semen beku, distribusi semen beku, memberikan konstribusi yang nyata terhadap pemenuhan kebutuhan semen beku di BIB Di Singosari. Sedangkan jumlah pejantan dan laporan daerah/propinsi tidak berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan semen beku di BIB Di Singosari.
Menciptakan strategi yang tepat dan bertahan terhadap industri yang dimiliki, serta penelitian yang lebih mendetail untuk penyediaan semen beku dari berbagai bangsa/jenis pejantan yang disukai peternak merupakan langkah tindak lanjut dari penelitian ini.

Januari 23, 2008 at 7:29 am 2 komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kalender

Desember 2014
S S R K J S M
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.