Posts filed under ‘Pendidikan Olahraga’

Contoh Skripsi Pendidikan Olahraga

  1. Kemampuan Dribble Lay Up Sisi Kanan  Dengan Tangan Kanan Dan Dribble Lay Up Sisi Kiri Dengan Tangan Kiri Terhadap Hasil Lay Upmahasiswa Putra Semester Iv B Pklo Fik Unnes
  2. Manajemen Komite Olahraga Nasional Indonesia (Koni) Propinsi Jawa Tengah Tahun 2005
  3. Pengaruh Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian Dengan Dua Kaki Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok Pada Siswa Putra Kelas V, Vi Sd Kalisidi 03 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005
  4. Survai Kondisi Fisik Atlet Pencak Silat Tapak Suci Usia 13-18 Tahun Di Kecamatan Wanadadi Kabupaten Banjarnegara Tahun 2006
  5. Perbedaan Urutan Mengajar Smash Normal Antara Awalan – Memukul Dan Memukul – Awalan Terhadap Hasil Belajar Smash Normal Pada Siswa Putra Peserta Ekstrakurikuler Bola Voli Smk T&I Kristen Salatiga Tahun Pelajaran 2006 / 2007
  6. Hubungan Antara Daya Ledak Otot Tungkai Dan Panjang Lengan Dengan Hasil Jumping Service Pada Mahasiswa Putera Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Voli Universitas Negeri Semarang Tahun 2006
  7. Hubungan Antara Kekuatan Otot Lengan Bahu Dan Daya Ledak Otot Lengan Bahu Dengan Hasil Jumping Service Pada Mahasiswa Putra
  8. Hubungan Antara Postur Tubuh Dan Keterbelajaran Gerak Pada Siswa Kelas V Dan Vi Sekolah Dasar Negeri Di Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan Tahun 2006/2007
  9. Perbedaan Metode Mengajar Servis Bawah Terhadap Keberhasilan Servis Bawah Bola Voli Siswi Kelas X SMK N I Salam Tahun 2006 / 2007
  10. Perbedaan Hasil Latihan Forehand Drive Menggunakan Arah           Bola Depan Belakang Dan                  Posisi Pemain Maju Mundur Terhadap Kemampuan Melakukan Forehand Drive Tenis Lapangan Pada Petenis Putra Klub Vtc Pekalongan Tahun 2005
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

April 26, 2012 at 8:06 am Tinggalkan komentar

Perbedaan Hasil Latihan Forehand Drive Menggunakan Arah Bola Depan Belakang Dan Posisi Pemain Maju Mundur Trhdp Kemampuan Melakukan Forehand (POL-10)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Tenis merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang sangat populer karena banyak diminati oleh masyarakat. Kebutuhan akan tenis lapangan semakin meningkat karena banyaknya orang yang gemar bermain tenis mulai dari anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Tiap orang mempunyai tujuan yang berbeda-beda dalam melakukannya, misalnya ada yang bertujuan untuk memperluas pergaulan, memperbanyak teman, rekreasi, kesehatan, tidak sedikit pula dari mereka yang berusaha untuk prestasi. Bahkan dewasa ini tenis dapat dijadikan sebagai lapangan pekerjaan mengingat melalui tenis dapat menghasilkan pendapatan.
Sedangkan untuk pencapaian prestasi yang optimal dalam permainan tenis lapangan dapat dicapai melalui peranan yang sangat penting dari seoarang pelatih. Oleh karena itu pelatih harus mampu menyusun program, memilih, dan menerapkan metode latihan sesuai dengan tujuan latihan itu sendiri. Selain pelatih, orang tua dan atlet itu sendiri mempunyai peranan dan tanggung jawab yang sama dalam pencapaian prestasi. Usaha pemasalan, pembinaan, dan pengembangan untuk mencapai prestasi tersebut perlu diadakan pendekatan ilmiah, adanya sarana yang menunjang dan metode latihan yang tepat. Untuk pencapaian prestasi yang optimal dalam permainan tenis lapangan, faktor yang mendasar yang perlu dikuasai oleh seorang pemain adalah pukulan dasar.
Penguasan pukulan dasar yang baik dan benar merupakan salah satu landasan penting untuk meningkatan kecakapan bermain tenis.

Bagi petenis, penguasaan teknik dasar pukulan mutlak diperlukan dalam meningkatkan prestasi. Untuk penguasaan teknik dasar dapat dicapai dengan latihan yang benar, tepat, dan teratur.
Menurut B. Yudoprasetio (1981 : 43) “Pukulan-pukulan dalam permainan tenis digolongkan dalam tiga golongan, yakni: Groundstroke, Volleys dan Overhead Stroke.” Sedangkan untuk pukulan groundstroke dapat dibedakan lagi menjadi beberapa jenis antara lain: a). Forehand Drive, b). Drop Shot, c). Backhand Drive, d). Half Volley. Sedangkan pendapat lain mengatakan dalam permainan tenis lapangan ada empat jenis pukulan dasar yang harus dikuasai oleh seorang petenis yaitu; a). Service b). Forehand Drive (Groundstroke) c). Backhand Drive (Groudstroke) d). Volley (Scharff,1981:24).

Salah satu pukulan drive yang perlu dikuasai oleh seorang petenis lapangan adalah forehand drive. Menurut Mottram (1996:37) : ”Pukulan drive biasanya dinyatakan sebagai suatu pukulan yang paling mudah dipelajari oleh pemain pemula. Hal ini disebabkan pemain pemula memang merasa relatif mudah untuk mengembalikan bola dengan pola forehand, karena raketnya bebas dari tubuh.” Sedangkan pendapat lain mengatakan “Groundstroke Forehand mengarah kesamping tubuh di mana anda memegang raket.” (Jim Brown,1996:31). Hal ini adalah bentuk pukulan tenis yang paling sering dilakukan dan paling mudah dipelajari.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pukulan forehand drive merupakan pukulan yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum pukulan yang lain di pelajari. Hal ini dikarenakan pukulan forehand sangat mudah dipelajari dari pada pukulan yang lainnya.

Menurut Rex Lardner (1996:31).” Pukulan forehand merupakan stroke yang paling aman dipakai dalam tenis.” Sedangkan menurut Katilli (1948:30) “Pukulan forehand adalah senjata penyerang utama karena gerak-geriknya tidak begitu rulit untuk dipelajari dan menguasai pukulan ini dari pada pukulan-pukulan yang lainnya”. Pendapat lain juga dikemukakan oleh B. Yudoprasetio (1981: 55)” Forehand drive adalah pukulan yang wajar, maka forehand drive harus dipelajari dan dikuasai tekniknya terlebih dahulu.”
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pukulan forehand drive merupakan pukulan yang sangat penting. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan pukulan ini lebih dominan digunakan dalam suatu pertandingan untuk mendapatkan nilai atau angka. Walaupun pukulan forehand drive sangat mudah dipelajari namun dalam penguasaannya tetap harus melalui latihan.

Untuk meningkatkan variasi pukulan drive dapat menggunakan latihan dengan menggunakan variasi arah bola depan belakang dan latihan dengan variasi pada posisi pemain lari maju mundur. Dalam hal ini yang dimaksud dengan arah bola depan belakang adalah bahwa dalam latihan forehand drive dapat dilakukan dengan bola yang diumpan kemudian dipukul dan diarahkan disekitar daerah servis untuk latihan arah bola depan dan pada daerah baseline untuk arah bola
belakang. Latihan ini dilakukan secara bergantian dan terus menerus dalam satu tahap, sedangkan posisi pemain maju mundur maksudnya adalah bahwa dalam latihan posisi pemain lari maju mundur guna memukul bola serta mengarahkannya pada daerah yang telah ditentukan secara bergantian dan terus menerus dalam satu tahap latihan.

Dalam kedua bentuk latihan diatas maka penulis tertarik untuk menelitinya. Judul penelitian tersebut adalah :
“PERBEDAAN HASIL LATIHAN FOREHAND DRIVE MENGGUNAKAN ARAH BOLA DEPAN BELAKANG DAN POSISI PEMAIN MAJU MUNDUR TERHADAP KEMAMPUAN MELAKUKAN FOREHAND DRIVE TENIS LAPANGAN PADA PETENIS PUTRA KLUB VTC PEKALONGAN TAHUN 2005”

Adapun alasan pemilihan judul tersebut adalah:
1. Dalam permainan tenis lapangan pukulan drive merupakan salah satu teknik dasar pukulan yang sangat penting karena merupakan pukulan yang dominan digunakan.
2. Latihan menggunakan variasi arah bola depan belakang dan variasi latihan dengan posisi pemain lari maju mundur dapat meningkatkan penguasaan teknik dasar khususnya dalam melakukan Forehand Drive cabang olahraga tenis lapangan.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 9, 2012 at 12:36 pm Tinggalkan komentar

Perbedaan Metode Mengajar Servis Bawah Terhadap Keberhasilan Servis Bawah Bola Voli Siswi Kelas X SMK N I Salam Tahun 2006 / 2007 (POL-9)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang masalah.

Permainan bola voli merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang diajarkan di seluruh tingkat sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA / SMK. Di dalam kurikulum SMK tahun 1999, permainan bola voli diajarkan pada siswa kelas I semester 2, kelas II semester 3 dan 4, kelas III semester 5 dan 6. Sedang dalam kurikulum 2004 sekolah diberi kebebasan untuk memprogramkan sendiri pada semester berapa permainan bola voli tersebut disampaikan. Di dalam KTSP
2006 sekolah memprogramkan permainan bola voli mulai diajarkan pada kelas X

semester 1. Keberhasilan suatu pembelajaran dipengaruhi oleh :

- metode

- guru

- siswa

- sarana prasarana / alat yang tersedia

Metode mengajar sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu pembalajaran, suatu metode mungkin cocok untuk mengajar suatu kompetensi tertentu, tetapi belum tentu tepat untuk kompetensi yang lain. Atau sebaliknya siswa tertentu dapat berhasil dengan metode itu sedang siswa yang lain mengalami kesulitan. Berkaitan dengan hal tersebut diharapkan guru dapat mencari atau menciptakan metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi dimana ia mengajar baik kondisi siswa maupun peralatan yang tersedia sehingga
pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Faktor yang kedua adalah guru. Kecakapan seorang guru dalam menyampaikan pembalajaran, membangkitkan motivasi siswa, mengevaluasi menganalisa latihan yang dilakukan siswanya, serta kemampuan guru itu sendiri menguasai materi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembalajaran.

Faktor yang ketiga. Kebugaran jasmani siswa, bakat, minat tingkat kecerdasan, dan jenis kelamin juga mempegaruhi keberhasilan pembalajaran.
Faktor yang keempat, kelengkapan dan jumlah alat yang tersedia. Alat / kelengkapan yang jumlahnya memadai tentu saja akan lebih baik hasilnya, karena anak/siswa lebih banyak kesempatan untuk melakukan latihan.

Pengalaman yang saya alami di lapangan dalam mengajar kompetensi permainan bola voli sedang sub kompetensinya servis bawah, ternyata siswa putri banyak mengalami kesulitan, dibandingkan siswa putra.

Hal ini tampak dalam latihan servis bawah untuk siswa putri banyak yang mengalami kegagalan, karena bola terlalu melambung, sehingga tidak bisa melampaui net, atau bola terlalu rendah sehingga bola menyangkut di net (jaring).
Menurut pengamatan saya, faktor yang menghambat keberhasilan servis bawah yang dilakukan siswi SMK N I Salam tersebut adalah:
1. Lambungan bola terlalu dekat atau terlalu jauh dari jangkauan tangan.

2. Siku tangan pemukul kurang dikencangkan pada saat memukul bola, atau siku tidak dikencangkan pada saat memukul bola, atau siku ditekuk
3. Ayunan tangan tidak dari belakang ke depan penuh, ayunan awalan kurang

4. Saat perkenaan bola dengan tangan tidak tepat (terlalu ke bawah, atau keatas dari ketinggian pinggang bagian depan).

Koordinasi gerak kurang harmonis.

Motivasi siswa kurang sebab latihan servis bawah terus menerus membuat tangan terasa sakit.
Berdasarkan pengalaman tersebut, maka saya mencoba mencari metode yang dapat membantu siswa putri untuk dapat melakukan servis bawah. Adapun metode yang saya gunakan adalah “ metode lemparan bawah “.

Hal itu dilakukan, karena menurut pengamatan saya ada kesamaan gerakan antara lemparan bawah dengan servis bawah. Persamaan tersebut diantaranya adalah posisi kaki, sikap badan, dan ayunan tangan, serta arah bola. Sedang perbedaannya adalah hanya saat bola lepas dari tangan dimana dalam lemparan bawah, bola selalu pada tangan ayun/yang digunakan untuk melempar dan pada posisi tertentu tinggal melepas, sedang pada servis bawah bola dipegang dengan tangan kiri, kemudian dilepaskan dan dipukul dengan tangan kanan. Dan lemparan bawah lebih mudah dilakukan dibandingkan servis bawah. Karena merasa mudah maka anak akan lebih suka dan bersemangat melakukan latihan. Lagi pula melakukan latihan lemparan bawah dengan berulang – ulang tidak menimbulkan rasa sakit. Berbeda dengan melakukan servis bawah, anak kurang berminat untuk mengulang-ulang dengan alasan tangan yang untuk memukul bola terasa sakit.

Dengan keberhasilan siswa melakukan lempar bawah ini, diharapkan dapat memberikan dorongan bahwa ia juga mampu melakukan servis bawah atau dapat mentransfer gerakan lemparan bawah ke dalam gerakan servis bawah bola voli.

Dari uraian diatas penulis bermaksud mengadakan penenelitian dengan judul “Perbedaan Metode Mengajar Servis bawah terhadap Keberhasilan Servis bawah Bola Voli Siswi kelas X SMK Negeri I Salam Tahun 2006/2007“
Adapun alasan dari pemilihan topik tersebut diantaranya adalah :

1. Dalam Kurikulum SMK bola voli merupakan salah satu kopetensi yang harus diajarkan.
2. Servis merupakan salah satu teknik dasar bola voli yang harus dikuasai oleh setiap pemain bola voli.
3. Sering dijumpai kasus pada siswa putri SMK Negeri I Salam kurang mampu melakukan servis, tetapi enggan melakukan latihan dengan alasan tangan sakit kalau mencoba terus menerus, maka perlu dicari metode lain untuk mengajar servis bawah.
4. Selama ini metode yang digunakan untuk mengajar servis bawah masih menggunakan metode lama yang biasa digunakan (metode konvensional).
5. Maka untuk mengatasi masalah tersebut Penulis mencoba menggunakan metode lemparan bawah untuk mengajar servis bawah bola voli.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

April 9, 2012 at 12:07 pm Tinggalkan komentar

Hubungan Antara Postur Tubuh Dan Keterbelajaran Gerak Pada Siswa Kelas V Dan Vi Sekolah Dasar Negeri Di Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan (POL-8)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Manusia dalam hidupnya selalu tumbuh dan berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Sepanjang hidup manusia mulai masih dalam kandungan, dilahirkan dan sampai mati memperoleh sebutan yang berganti-ganti. Pergantian sebutan didasarkan pada usianya dan merupakan fase-fase dalam perkembangan yang dilewati.
Anak-anak sekolah dasar kelas V dan VI merupakan usia anak besar. Pada masa anak usia besar kecenderungan pertumbuhan fisik kearah tipe tubuh tertentu mulai terlihat, namun masih belum begitu jelas.

Sebagian besar kegiatan anak-anak di Kecamatan Sragi pada usia anak besar tidak jauh berbeda dengan kecamatan lain. Kegiatan setiap harinya yaitu sekolah. Dengan bersekolah anak-anak mendapat pengetahuan tentang pembelajaran gerak melalui mata pelajaran pendidikan jasmani dan kebutuhan gerak mereka juga terpenuhi melalui permainan-permainan yang dilakukan di sekolah. Tetapi untuk kegiatan di luar sekolah tergantung dari daerah masing-masing. Biasanya anak mengisi waktu luang dengan bermain. Permainan yang dimainkan juga tergantung pada musim yang ada pada desa masing-masing. Bentuk permainan juga bermacam-macam, ada sepak bola, layang-layang, kelereng, engklek, dan lain- lain. Selain kegiatan aktifitas permainan (motorik) anak-anak ada yang memilih permainan elektronik misalnya play station, dingdong, video game dan kebiasaan nonton TV. Setiap sore anak-anak juga ada yang pergi mengaji di sekolah TPQ.

Anak yang menguasai keterampilan gerak dasar yang baik akan lebih bisa menguasai aktivitas olahraga dengan baik pula. Gerakan dasar dalam olahraga sangat banyak dan bervariasi. Dengan aktivitas olahraga dan aktifitas lainnya anak akan tambah pintar bergerak, sebab dalam olahraga sendiri kebanyakan yang dipelajari adalah masalah gerakan. Biasanya anak yang suka bergerak, akan mempunyai gerakan yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan anak yang lebih memilih untuk tidak banyak bergerak.

Anak yang mempunyai postur tubuh yang seimbang, diharapkan dapat melakukan gerak yang optimal. Suatu rangkaian gerakan dapat terlihat dengan jelas pada saat anak melakukan gerakan tertentu. Seorang anak dikatakan mempunyai koordinasi tubuh yang bila mampu bergerak dengan mudah dan lancar dalam rangkaian gerakan (Khomsin, 2002:25).

Perkembangan gerak pada masa anak besar berbeda dengan pada masa sebelumnya, maupun pada masa sesudahnya. Pada masa ini terjadi perkembangan fisik yang makin jelas, khususnya yang terkait dengan kekuatan, kelentukan, keseimbangan, dan koordinasi.

Kemampuan gerak anak besar bertambah sejalan dengan fisik dan ukuran tubuh. Kemampuan gerak dasar yang biasa dilakukan antara lain gerakan menggunakan tangan dan kaki. Menurut Khomsin (2002:25) gerak dasar anak besar dapat diidentifikasikan dalam bentuk:
a. Gerakan bisa dilakukan dengan mekanik tubuh yang makin efisien b. Gerakan yang dilakukan makin lancar
c. Pola atau bentuk gerakan makin bervariasi d. Gerakan yang dilakukan makin bertenaga
Pada umumnya gerakan yang dilakukan sudah menyerupai orang dewasa, perbedaanya hanya pada tenaga atau gerakan yang kurang bertenaga.
Bertolak dari pemikiran diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan aktifitas fisik yang ada di daerah Kecamatan Sragi nantinya akan berpengaruh pada perkembangan ukuran dan proporsi tubuh yang erat kaitannya dengan keterbentukan setiap individu ke tipe bentuk tubuh tertentu. Bentuk tubuh seseorang merupakan wujud dari perpaduan antara tinggi badan, berat badan serta berbagai antropometrik lainnya pada diri seseorang.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Postur Tubuh dan Keterbelajaran Gerak Pada Siswa Kelas V dan VI Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan Tahun Ajaran 2006/2007”.

Untuk mendapatkan koleksi Judul Tesis Lengkap dan Skripsi Lengkap dalam bentuk file MS-Word, silahkan klik download

Atau klik disini

Maret 27, 2012 at 12:22 pm Tinggalkan komentar

Hubungan Antara Kekuatan Otot Lengan Bahu Dan Daya Ledak Otot Lengan Bahu Dengan Hasil Jumping Service Pada Mahasiswa Putra (POL-7)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Dalam dunia olahraga dikenal berbagai macam cabang olahraga, salah satunya adalah cabang bola voli. Permainan bola voli merupakan salah satu diantara banyak cabang olahraga yang populer di masyarakat. Hal ini terbukti bahwa bola voli banyak dimainkan di sekolah-sekolah, di kantor-kantor maupun di kampung-kampung. Permainan bola voli digemari oleh masyarakat dari berbagai tingkat usia, anak-anak, remaja dan dewasa baik pria maupun wanita ( Suharno HP, 1984 : 6 ).

Para pembina bola voli berpendapat bahwa sumber pemain kebanyakan berasal dari sekolah-sekolah, seperti dikatakan oleh Bonnie Robinson ( 1993 : 7 ) bahwa tempat yang cocok untuk latihan olahraga adalah sekolah, termasuk Perguruan Tinggi.

Pengajaran pendidikan jasmani dan kesehatan olahraga di Sekolah Dasar dan sekolah menengah, hendaknya tidak diartikan secara sempit, ialah hanya sebagai kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan kegiatan sebagai penyela kesibukan belajar atau sekedar untuk mengamankan siswa supaya tertib. Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui aktifitas jasmani. Tujuan yang ingin dicapai bersifat menyeluruh mencakup domain psykomotor, kognitif dan afektif. Dengan kata lain
melalui aktifitas jasmani, anak diarahkan untuk belajar melalui fisik
sehingga akan terjadi suatu perubahan perilaku tidak saja menyangkut aspek psikomotor, tetapi juga kognitif dan afektif. Sehingga sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal pada pelaksanaannya secara nasional telah menetapkan kurikulum yang disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan disesuaikan dengan lingkungannya ( Rusli Lutan,
2000:4 ).

Permainan bola voli dapat digunakan sebagai sarana untuk mendidik, sebab dengan olahraga bola voli dapat membentuk pribadi yang sportif, jujur, kerjasama, bertanggung jawab. Yang semua itu merupakan nilai-nilai pendidikan yang dapat ditanamkan. Oleh karena itu olahraga permainan bola voli diberikan dalam lingkungan atau sebagai olahraga sekolah, bola voli diberikan sejak anak-anak SD, SLTP, SLTA sampai di tingkat Perguruan Tinggi. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Maryanto, dkk. ( 1993:51 ) bahwa olahraga dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, salah satunya ialah olahraga permainan bola voli digemari dan menarik bagi anak didik, ternyata juga mengandung nilai-nilai secara langsung dapat membentuk kepribadian anak didik, memberi ketegasan dan kecekatan pada anak didik. Hal tersebut mendorong untuk selalu terus dikembangkan serta ditingkatkannya mutu permainan olahraga bola voli di Indonesia, dan salah satu usaha untuk mengembangkannya adalah mengajarkan permainan olahraga bola voli sedini mungkin. Karena kepada anak-anak akan lebih mudah dan cepat
menyerap teknik dasar bola voli dibandingkan dengan orang dewasa ( PBVSI, 1995 : 55 ).

Dewasa ini olahraga bola voli bukan hanya merupakan olahraga rekreasi, tetapi sudah merupakan olahraga prestasi. Seperti yang dikemukakan oleh Suharno H.P ( 1984:10 ), bahwa bola voli pada abad ke-20 ini tidak hanya merupakan olahraga rekreasi lagi, melainkan telah menjadi olahraga prestasi sehingga menuntut kualitas prestasi setinggi- tingginya. Karena ada tuntutan prestasi yang tinggi dan semakin berkembangnya permainan bola voli maka akan mengalami beberapa perkembangan baik secara teknik maupun taktik. Selain itu juga perlu dicari cara latihan yang efektif dan efisien, terutama untuk memilih dan menyusun metode latihan yang baik, terutama untuk penguasaan teknik dasar yang sempurna sehingga prestasi yang diharapkan dapat tercapai ( M. Yunus, 1992, 5 ).

Dalam permainan bola voli dikenal berbagai teknik dasar, dan untuk dapat bermain bola voli harus betul-betul dikuasai dahulu teknik- teknik dasar ini. Salah satu teknik dasar adalah service, dimana service merupakan permulaan untuk dimulainya suatu pertandingan. Service adalah pukulan bola yang dilakukan dari daerah dibelakang garis lapangan melampaui net ke daerah lawan. Pukulan service dilakukan pada permulaan dan setelah terjadinya suatu kesalahan. Pukulan service dapat berupa serangan bila bola dipukul dengan keras dan terarah ( Sunardi,
1993 : 114 ). Service harus dilakukan dengan baik dan sempurna dan oleh semua pemain, karena kesalahan service mengakibatkan pertambahan angka bagi lawan dan uniknya lagi setiap pemain akan melakukan service ini. Demikian pentingnya kedudukan service dalam permianan bola voli, maka teknik dasar service harus dikuasai dengan baik, sebaiknya latihan dasar service mendapat porsi yang cukup. Service dilakukan dari daerah service di belakang lapangan, dengan panjang tak terbatas. Mula-mula service hanya berperan sebagai pelayanan saja untuk memulai pertandingan, tetapi dewasa ini service bisa merupakan serangan awal untuk mendapat nilai agar suatu regu memperoleh kemenangan ( M. Yunus, 1992 : 69 ). Oleh karena itu service harus dilakukan dengan keras dan terarah dengan tujuan agar tidak bisa diterima oleh lawan yang berarti pihak pemegang service mendapatkan angka.

Service sendiri juga ada bermacam-macam, dan masing-masing memiliki nama dan sifat serta teknik sendiri-sendiri. Menurut M Yunus, ( 1992 : 69-71 ), bertolak dari pentingnya kedudukan service diciptakan bermacam-macam teknik dan variasi service. ialah : 1) Service tangan bawah ( underhand service ), terutama diajarkan untuk pemula. 2) Floating Service ( Servis Mengapung), terdiri atas Floating Overhand Service dan Overhand Change Up Service ( Slider Floating Overhand ).
3) Overhand Round-Hause Sservice ( Hook Service ), dan 4) Jumping

Service.

Penguasaan tehnik dasar secara sempurna dapat di capai dengan melakukan latihan-latihan kontinyu dan menggunakan metode latihan yang
baik. Penguasaan teknik dasar sebagai salah satu penunjang keberhasilan permainan bola voli sangat di pengaruhi oleh unsur lain yaitu unsur kondisi fisik. Komponen fisik yang diperlukan dalam service terutama dalam jumping service dalam permainan bola voli adalah kekuatan, kecepatan, daya tahan, keseimbangan dan koordinasi. (Agus Margono
1993 : 174 ) Komponen-komponen fisik tersebut masing-masing memiliki peranan yang berbeda, sesuai karakteristik yang dimiliki. Komponen fisik yang dirasa sangat penting berkaitan dengan jumping service dalam permainan bola voli antara lain adalah unsur kekuatan otot lengan bahu dan daya ledak otot lengan bahu. Hal ini didasarkan pada teori bahwa service yang baik ialah keras dan terarah. Service yang keras dan terarah adalah spesifikasi jumping service, dan pelaksanaannya dibutuhan lompatan yang tinggi agar pemain leluasa dalam mengarahkan bola dan pukulan yang lepas dan keras. Untuk pukulan yang keras ini dubutuhkan daya ledak otot lengan bahu dan kekuatan otot lengan bahu. ( M.Maryanto,
1993 : 114-115 )

April 5, 2011 at 9:13 am Tinggalkan komentar

Hubungan Antara Daya Ledak Otot Tungkai Dan Panjang Lengan Dengan Hasil Jumping Service Pada Mahasiswa Putera Unit Kegiatan Mhs Bola Voli (POL-6)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul
Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang mengacu pada keseimbangan gerak, penanaman sikap, watak, emosi, dan intelektual dalam setiap pengajarannya. Pendidikan jasmani dilaksanakan guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang tinggi, serta dimulai sejak usia dini melalui pendidikan olahraga di sekolah dan masyarakat. Segala usaha yang ditempuh untuk mewujudkan tujuan tersebut harus mampu diterapkan dalam setiap pengajaran pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan melalui aktivitas jasmani. Tujuan yang ingin dicapai bersifat menyeluruh mencakup aspek fisik, intelektual, sosial dan moral ( Maryanto dkk. 1993 : 51
).

Tujuan pendidikan dapat dicapai salah satunya dengan mengajarkan pendidikan jasmani atau olahraga di sekolah mencakup berbagai macam cabang olahraga seperti atletik, permainan, olahraga air dan olahraga bela diri. Olahraga permainan yang dilakukan dalam proses pendidikan salah satunya adalah olahraga bola voli.

Permainan bola voli sendiri mengalami perkembangan yang pesat, ini terbukti dengan adanya klub-klub bola voli yang ada sekarang ini. Hal tersebut didukung olah perkembangan bola voli di sekolah-sekolah, baik di tingkat SLTP maupun SLTA yang menempatkan
bola voli sebagai salah-satu cabang olahraga permainan yang masuk dalam kurikulum pendidikan sebagai olah raga yang wajib diajarkan baik lewat pendidikan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler dan terprogram dalam Garis–garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Keberadaannya secara tidak langsung ikut serta dalam upaya mewujudkan pembangunan nasional yaitu pembangunan manusia yang berkualitas baik fisik maupun mental.( Depdiknas , 1998 : 1 ).

Sebagai salah satu lembaga pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES) sekjak masih berstatus sebagai IKIP Negeri Semarang, mempunyai Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) juga bertanggung jawab untuk mengembangkan olahraga dan memiliki kurikulum berbagai cabang olahraga salah satunya ialah cabang olahraga bola voli. FIK adalah fakultas olahraga memiliki beberapa jurusan. Salah satunya ialah jurusan Kepelatihan Olahraga yang salah satu tujuannya mencetak para pelatih olahraga, dan oleh sebab itu setiap mahasiswa diharapkan melakukan kegiatan melatih ketrampilan sendiri dengan bergabung pada unit-unit kegiatan mahasiswa yang lazim disebut Unit Kegiatan Mahasiswa ( UKM ) yang salah satunya adalah Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Voli.

Permainan bola voli merupakan salah satu cabang olahraga permainan besar yang dimainkan oleh dua regu dan masing-masing regu terdiri dari 6 orang. Permainan ini adalah kontak tidak langsung, sebab masing-masing regu bermain dalam lapangan sendiri yang dibatasi oleh jaring atau net. Prinsip bermain bola voli adalah memainkan bola dengan
memvoli (memukul dengan tangan) dan berusaha menjatuhkannya kedalam lapangan permainan lawan dengan menyeberangkan bola lewat atas net atau jaring dan mempertahankannya agar bola tidak jatuh dilapangan sendiri. Setiap Regu diperkenankan memainkan atau menyentuh bola tidak lebih dari tiga kali sebelum melewati net selama bola dalam permainan. (M. Yunus,
1992:27). Permainan bola voli merupakan cabang olahraga yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia baik pria maupun wanita, hal ini terbukti bahwa baik dilingkungan sekolah, instasi pemerintah, swasta, maupun perguruan tinggi serta dilingkungan masyarakat. Permainan bola voli ini banyak dimainkan, di berbagai kalangan, hal ini disebabkan selain manfaatnya sangat baik untuk pembentukan individu secara keseluruhan lapangan permainannya juga tidak membutuhkan tempat yang begitu luas sehingga mudah untuk mendapatkannya (M. Yunus, 1992:2). Ternyata bahwa bola voli pada masa sekarang ini bukan hanya sebagai olahraga rekreasi melainkan telah menjadi olahraga prestasi, apalagi bola voli sekarang sudah dikelola secara profesional.

Hal ini terlihat dengan munculnya Livotama ( Liga Bola Voli Utama ) ialah kejuaraan antar klub bola voli yang dilakukan rutin setiap tahun, dimana setiap klub sudah mendatangkan pemain asing yang secara kualitas memang lebih baik daripada pemian lokal. Mau tidak mau kedatangan pemain asing ini merupakan saingan dan tantangan bagi pemain lokal untuk bermain lebih baik, maka tidak heran apabila dalam permainan bola voli para pemain dituntut prestasi setinggi-tingginya.

Adanya tuntutan prestasi yang tinggi, maka perlu dilakukan latihan yang lebih efektif dan efisien, terutama sekali dalam metode latihan, sehingga penguasaan teknik dasar dapat dikuasai dengan sempurna. Penguasaan teknik dasar merupakan suatu yang perlu dikembangkan untuk prestasi permainan. Teknik dasar bola voli harus betul-betul dipelajari terlebih dahulu, guna dikembangkan mutu prestasi bola voli sebab menang atau kalahnya suatu regu di dalam suatu pertandingan salah satunya ditentukan oleh penguasaan teknik dasar permainan bola voli ( Suharno HP,
1984 : 11 ).

Salah satu modal dasar untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam suatu cabang olahraga adalah memiliki bibit yang berbakat sesuai dengan tuntunan dan spesifikasi masing-masing cabang olahraga. M Yunus (1992:68) Untuk dapat berprestasi dalam cabang olahraga bola voli mutlak harus dimulai sejak umur muda, dalam hal ini bibit yang dimaksud adalah anak yang masih muda berumur sekitar 9 sampai 13 tahun dan mempunyai potensi (bakat) yang tunggi untuk dikembangkan menjadi pemain yang baik (M Yunus, 1992 : 68 ).

Teknik-teknik dasar permainan bola voli, menurut M. Yunus (1992:130-132) terbagi dalam lima macam teknik dasar yaitu : 1) servis, meliputi servis tangan bawah, servis dari tangan samping, dan servis dari atas;
2) passing, meliputi pass bawah, pass atas; 3) umpan; 4) smah meliputi smash normal, smash semi, smash pull, smash pull (quick), smash pull straigh, smash push; dan 5) bendungan (block). Dalam bola voli dikenal adanya bermacam- macam service, dan masing-masing memiliki nama dan sifat serta teknik
sendiri-sendiri. Pada dasarnya ada dua macam pukulan service yaitu : 1) Pukulan dari bawah yang juga sering disebut service bawah. Jenis pukulan ini bagi pemain pemula merupakan pukulan yang sederhana dan cocok. ( Sunardi,
1993 : 115 ). 2) Pukulan dari atas kepala atau yang disebut service atas. Pukulan service atas ada tiga variasi yang pokok ialah : Floating Service ( Servis Mengapung), Overhand Round-Hause Sservice ( Hook Service ), dan Jumping Service.

Penguasaan tehnik dasar secara sempurna dapat di capai dengan melakukan latihan-latihan kontinyu dan menggunakan metode latihan yang baik. Penguasaan teknik dasar sebagai salah satu penunjang keberhasilan permainan bola voli sangat di pengaruhi oleh unsur lain yaitu unsur kondisi fisik. Komponen fisik yang diperlukan dalam service terutama dalam jumping service dalam permainan bola voli adalah kekuatan, kecepatan, daya tahan, keseimbangan dan koordinasi. (Agus Margono 1993 : 174 ) Komponen- komponen fisik tersebut masing-masing memiliki peranan yang berbeda, sesuai karakteristik yang dimiliki. Komponen fisik yang dirasa sangat penting berkaitan dengan kekuatan jumping seperti jumping service dalam permainan bola voli adalah unsur daya ledak otot lengan bahu dan daya ledak otot tunghkai. Hal ini didasarkan pada teori dasar bahwa untuk jumping service dibutuhkan kekuatan otot lengan yang prima agar bola dapat berlari dengan cepat serta daya lompat yang tinggi agar pemain mudah mengarahkan bola. ( Soedarminto 1992: 60-61)

Salah satu teknik dasar yang sangat penting dalam permainan bola voli adalah servis, sebab dalam teknik servis yang baik suatu regu dapat dengan mudah memperoleh point. Servis merupakan salah satu teknik dasar permainan Bola voli. Pada mulanya servis hanya merupakan pukulan awal untuk dimulainya suatu permainan awal untuk diperoleh nilai agar suatu regu berhasil meraih kemenangan (M. Yunus,1992:69). Teknik servis dalam permainan bola voli merupakan persyaratan tertentu sebagai modal dalam setiap melakukan servis diantaranya memiliki kondisi fisik yang baik berupa:

1) Kekuatan (strenght), 2) Kecepatan (Speed), 3) Kelincahan dan koordinasi (agility and coordination), 4) Tenaga (power), 5) Daya tahan otot (musculer undurance), 6) Daya kerja jantung dan paru-paru (cardio respiratory function), 7) Kelentukan (flexibility), 8) Keseimbangan (balance),
9) Ketepatan (accurisy), dan 10) Kesehatan untuk olahraga (Healt for sport) (Sajoto,M,1988:4). Sebab untuk dapat melakukan servis yang diharapkan perlu ketrampilan khusus disamping kemampuan untuk melakukan servis secara berulang sepanjang permainan yang baik. Misalnya kecepatan gerak lengan ketika bola dipukul, kekuatan otot lengan untuk memberi tenaga, ayunan lengan agar bola mampu melaju cepat dan keras serta antropometrik yang memungkinkan lengan dapat menguntungkan bola dipukul.

Dalam usaha pemain untuk mencapai prestasi maksimal bermain bola voli, persiapan pemain bukan hanya ditekankan kepada penguasaan teknik dan taktik saja, tetapi kondisi fisik yang sempurna berkat latihan, merupakan syarat penting bagi pemain bola voli. Kondisi fisik pemain perlu
penjagaan dan peningkatan secara kontinyu untuk menghadapi latihan dan pertandingan. Diharapkan pemain selalu dalam kondisi sempurna dalam menghadapi pertandingan agar tidak mengurangi prestasi individu dan regu. Apabila seorang pemain atau lebih memiliki kondisi fisik jelek pada saat pertandingan, akan menimbulkan prestasi regu tersebut dalam menurun secara keseluruhan.

Dalam penelitian ini faktor kondisi fisik yang akan dikaji adalah daya ledak otot tungkai dan panjang lengan. Daya ledak otot tungkai dan panjang lengan merupakan faktor penting dalam melakukan servis atas terutama jumping service.
Daya ledak, merupakan unsur kecepatan maksimal dan kekuatan maksimal dan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dan diperlukan dalam berbagai cabang olahraga, daya ledak otot tungkai merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang sangat penting dan diperlukan bagi keberhasilan melakukan pukulan servis jumping. Daya ledak (power) ialah kemampuan sebuah otot atau sekelompok otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kekuatan dan kecepatan tinggi dalam suatu gerakan yang utuh (Suharno HP, 1984:11). Komponen daya ledak dapat terbentuk secara optimal jika unsur-unsur seperti kecepatan dan kekuatan ditumbuhkembangkan dengan baik.

Upaya peningkatan daya ledak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kontraksi otot, kecepatan gerak dalam mengatasi hambatan, koordinasi kekuatan berbagai macam otot dan panjang pengungkit (Guyton, A.C. 1991:72). Daya ledak otot tungkai merupakan
faktor pendukung dalam melakukan servis jumping, dengan daya ledak otot tungkai yang optimal akan menghasilkan servis jumping dengan baik sehingga sulit diterima oleh lawan. Sementara panjang lengan merupakan faktor pendukung untuk melakukan servis jumping dengan baik. Panjang lengan merupakan tuas yang panjang dipengaruhi dengan kecepatan gerakan dan kecepatan itu yang sebanding dengan radius, yaitu panjang lengan seseorang.

Pada kenyataannya tingkat kondisi fisik dan anatomis seseorang berbeda. Sedangkan untuk diperoleh bibit pemain bola voli yang baik perlu diketahui seberapa besar faktor tersebut diatas ikut berpengaruh terhadap hasil permainan bola voli terutama dalam pelaksanaan servis jumping. Dengan pertimbangan seperti tersebut di muka maka peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul : ” Hubungan antara Daya Ledak Otot Tungkai dan Panjang Lengan Dengan Hasil Jumping Service Pada Mahasiswa Putra Unit Kegiatan Mahasiswa Bola Voli Univwersitas Negeri Semarang Tahun 2006..”

April 5, 2011 at 9:10 am Tinggalkan komentar

PERBEDAAN URUTAN MENGAJAR SMASH NORMAL ANTARA AWALAN – MEMUKUL DAN MEMUKUL – AWALAN TERHADAP HASIL BELAJAR SMASH NORMAL PADA SISWA PUTRA (P-61)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
1.1.1 Kebijakan Tentang Ekstrakurikuler
Undang-Undang Republik Indonesia No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk perkembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam undang-undang tersebut dan menghadapi era globalisasi, maka diperlukan peningkatan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan membentuk kualitas generasi muda sebagai generasi penerus bangsa yang tangguh. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan merupakan usaha yang penting bagi masa depan generasi muda agar mampu berperan aktif dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Beberapa upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, telah dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan melalui usaha-usaha perbaikan antara lain : peningkatan SDM, peningkatan sarana dan prasarana, kurikulum. SMK sebagai lembaga pendidikan menengah berperan menghasilkan
tenaga kerja tingkat menengah yang terampil komponen dan mandiri.

Pembinaan siswa SMK bertujuan untuk menyeimbangkan kemampuan otak kanan dan otak kiri dalam bentuk kegiatan ektrakulikuler. Kegiatan kesiswaan khususnya pada pembinaan ektrakulikuler Direktorat pembinaan SMK memfasilitasi beberapa kegiatatan yang diantaranya mengarah kepada kreatifitas dan inovasi dalam pengembangan bakat minat siswa serta pengembangan kepribadian. Sebagai usaha dalam merealisasikan kegiatan ektrakulikuler maka pada tahun 2007 Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan menyediakan dana subsidi untuk memotivasi SMK mengembangkan Klub bakat dan Minat disekolah.

Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler di SMK diharapkan secara umum dapat membekali siswa dalam mengembangkan kepribadian, bakat dan minat. Disamping itu juga diharapakan kegiatan ekstrakurikuler dapat digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan sikap sportifitas, menghargai karya seni serta kemampuan kecakapan hidup lainnya. Kegiatan ekstrakurikuler dapat didorong melalui pembentukan klub-klub dalam bidang olahraga, kesenian, pecinta alam, maupun klub-klub lainnya sesuai dengan minat dan potensi sekolah/masyarakat sekitar.

Februari 25, 2011 at 12:18 pm Tinggalkan komentar

SURVAI KONDISI FISIK ATLET PENCAK SILAT TAPAK SUCI USIA 13-18 TAHUN DI KECAMATAN WANADADI KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2006 (P-59)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembinaan olahraga di Indonesia dewasa ini semakin maju, hal ini tidak lepas dari peran serta masyarakat yang semakin sadar dan mengerti akan arti pentingnya olahraga itu sendiri, di samping adanya dukungan dan perhatian dari pemerintah dalam menunjang perkembangan olahraga di negara kita. Dalam kehidupan modern ini suatu kenyataan bahwa ada empat dasar tujuan manusia melakukan kegiatan olahraga yaitu:

1. Mereka yang melakukan kegiatan olahraga hanya untuk rekreasi, jadi segalanya dikerjakan dengan santai dan tidak formal, baik tempat maupun peraturannya.
2. Mereka yang melakukan kegiatan olahraga untuk tujuan pendidikan seperti misalnya anak – anak sekolah yang diasuh oleh guru olahraga. Kegiatan yang dilakukan formal, tujuannya guna mencapai sasaran pendidikan nasional melalui kegiatan olahraga yang telah disusun melaui kurikulum tertentu.
3. Mereka melakukan kegiatan olahraga dengan tujuan meningkatkan kesegaran jasmani tertentu.
4. Mereka yang melakukan kegiatan olahraga tertentu untuk mencapai prestasi. ( Sajoto1988: 1-2 )
Terkait dengan poin ke empat untuk mencapai prestasi tersebut maka perlu

adanya pembinaan olahraga.

Tujuan dari pembinaan olahraga itu sendiri untuk mengidentifikasikan calon atlet berpotensi, memilih jenis olahraga yang sesuai dengan potensi dan minatnya yang memperkirakan peluang untuk berhasil dalam program pembinaan sehingga dapat mencapai prestasi yang diharapkan, salah satunya Pencak Silat. Dalam Pencak silat yang merupakan hasil usaha budi daya manusia yang bertujuan untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan bersama, seiring perkembangan zaman Pencak Silat juga masuk dalam olahraga prestasi dan yang membedakan Pencak Silat dengan olahraga yang lain yaitu empat aspek yang merupakan satu kesatuan bulat, yakni aspek mental spiritual, beladiri, seni dan olahraga.

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya perguruan-perguruan Pencak Silat di Indonesia,salah satunya adalah perguruan Pencak Silat Tapak Suci Kecamatan Wanadadi Kabupaten Banjarnegara.Perguruan ini berdiri tahun 1979, tepatnya pada tanggal 17 Juli 1979 dan sampai sekarang perguruan ini masih eksis dan selalu memunculkan atlet-atlet baru. Usaha untuk tetap mempertahankan keeksisan tersebut tidak mudah diperlukan pembinaan dan pengembangan yang optimal. Bahwa ada 4 aspek pokok yang menentukan prestasi olahraga, yaitu aspek biologis, aspek psikologis, aspek lingkungan dan aspek penunjang (Sajoto
1995:2-5).

Bahwa aspek biologis merupakan salah satu aspek yang tidak dapat diabaikan dan sangat diandalkan dalam menentukan tinggi rendahnya prestasi yang dicapai atlet. Hal ini disebabkan dalam aspek biologis terhadap salah satu
aspek yang disebut kondisi fisik, yaitu suatu tingkat kesegaran jasmani yang sangat diperlukan atlet untuk dapat berprestasi dalam suatu pertandingan.
Kesegaran jasmani dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas fisik secara berulang-ulang dalam waktu yang relatif lama tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti. Kondisi fisik merupakan salah satu faktor yang menentukan performance atau penampilan, sehingga runtuhnya kondisi fisik akan menyebabkan hilangnya keterampilan(Sajoto 1988:99).

Kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Artinya bahwa di dalam usaha peningkatan kondisi fisik, maka seluruh komponen tersebut harus di kembangkan. Walaupun disana-sini dilakukan dengan sistem prioritas sesuai keadaan atau status yang dibutuhkan tersebut, maka perlu diketahui selanjutnya adalah bagaimana seorang atlet dapat diketahui status dan keadaan kondisi fisiknya pada suatu saat. (Sajoto,1995:10).

Komponen kondisi fisik tersebut terdiri atas kekuatan, kecepatan, kelincahan, kelentukan, daya tahan, daya ledak otot, koordinasi, keseimbangan, daya lentur, dan reaksi. Bahwa faktor penentu pencapaian prestasi maksimal, ada dua faktor yaitu faktor indogen (atlet) dan faktor eksogen. Salah satu faktor indogen yang sangat penting adalah kondisi fisik (Suharsono 1988:2-3).

Dengan latihan kondisi fisik, teknik, mental dan sebagainya dapat diketahui peningkatannya karena untuk meningkatkan fisik tidak dapat dilakukan dengan permainan itu sendiri. Mengapa faktor fisik? Karena faktor kondisi fisik memegang peranan penting dan merupakan komponen dasar untuk menuju
latihan-latihan berikutnya, kalau tidak di dukung dengan kondisi fisik yang prima seorang atlet tidak akan mampu melakukan latihan sesuai dengan porsinya, nilai fisik antara lain kualitas otot berdasarkan kinerja faal dan mekanisme otot yang sedang bekerja yang dipertimbangkan pada kekuatan otot, kapasitas anaerobik, kapasitas aerobik power, fleksibilitas (Boucard,1975:15-16).

Kondisi fisik atlet memegang peranan yang sangat penting dalam program latihannya. Program latihan kondisi fisik haruslah direncanakan secara baik dan sistematis serta ditujukan untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kemampuan fungsional dari sistem tubuh sehingga dengan demikian memungkinkan atlet untuk mencapai tingkat prestasi yang lebih baik, kalau kondisi fisik baik maka, 1)akan ada peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi kerja jantung, 2) akan ada peningkatan dalam kekuatan, kecepatan, kelincahan, kelentukan, stamina dan nilai-nilai komponen kondisi fisik, 3) akan ada efisiensi gerak yan lebih baik pada waktu latihan, 4) akan ada pemulihan yang lebih cepat dari organ tubuh setelah latihan, 5) akan ada respon yang cepat dari organisme tubuh apabila sewaktu-waktu respon demikian diperlukan(Harsono
1988:133).

Setiap usaha peningkatan kondisi fisik harus dikembangkan semua komponen yang ada, walaupun dalam pelaksanaannya perlu adanya prioritas untuk menentukan komponen mana yang perlu untuk mendapatkan porsi latihan lebih besar sesuai dengan olahraga yang ditekuni dalam hal ini pencak silat. Tidak adanya salah satu komponen pendukung akan mempengaruhi hasil yang dicapai. Demikian juga dalam olahraga pencak silat membutuhkan dasar fisik yang baik tetapi tidak meninggalkan faktor-faktor yang lain seperi teknik dan mental.

Sebelum seseorang atlet terjun karena pertandingan, ia harus berada dalam kondisi fisik dan tingkat kebugaran yang baik. Tanpa persiapan dan kondisi fisik yang baik atlet yang diterjunkan kepertandingan tidak akan berhasil. Kondisi fisik yang baik dapat menyebabkan stamina tidak cepat turun dengan drastis sewaktu dalam permainan atau pertandingan.

Dari paparan diatas maka peneliti ingin mengetahui bagaimana tingkat kondisi fisik atlet Pencak Silat Tapak Suci usia 13-18 tahun di Kecamatan Wanadadi Kabupaten Banjarnegara Adapun alasan peneliti mengapa perlu mengetahui kondisi fisik mereka adalah:
1. Kondisi fisik merupakan salah satu faktor penting yang dibutuhkan oleh atlet pencak silat untuk menjaga dan meningkatkan efektivitas latihan.
2. Kondisi fisik yang baik diharapkan dapat membantu atlet pencak silat selama permainan atau pertandingan
3. Dengan pembinaan kondisi fisik yan baik diharapkan dapat menghasilkan atlet-atlet pencak silat yang berkualitas.

Februari 25, 2011 at 12:07 pm Tinggalkan komentar

PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI BERGANTIAN DENGAN DUA KAKI TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA (POL-3)

PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI BERGANTIAN DENGAN DUA KAKI TERHADAP HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA KELAS V, VI SD KALISIDI 03 UNGARAN TAHUN PELAJARAN 2004/2005

KODE : POL-03 atau P-49

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini telah banyak penelitian yang dilakukan dalam bidang olahraga, dalam upaya mengembangkan prestasi olahraga yang setinggi-tingginya. Berbagai disiplin ilmu yang terkait banyak menunjang program latihan olahraga. Disiplin ilmu tersebut antara lain : ilmu biomekanika, sport medicine, fisiologi, anatomi, massage, kinesiology, ilmu coaching khusus, psikologi olahraga, psikologi kepelatihan serta banyak lagi disiplin ilmu yang lainnya.

Masalah peningkatan prestasi dibidang olahraga sebagai sasaran yang ingin dicapai dalam pembinaan dan pengembangan di Indonesia akan membutuhkan waktu yang lama. Latihan dimulai diusia dini dan harus dilakukan secara berkesinambungan sampai mencapai puncak prestasi pada cabang olahraga yang ditekuninya, selanjutnya pembinaan prestasi ditingkatkan. Dengan demikian pembinaan olahraga sejak dini sangatlah penting, supaya kelak atlet mampu mencapai kesuksesan.
Untuk mengikuti perkembangan itu, maka segala usaha kearah pembinaan terus dipacu dan ditumbuh kembangkan oleh semua pihak yang terkait. Pihak- pihak yang terkait antara lain : pemerintah, KONI, pelatih, masyarakat, atlet, pihak swasta dan orang tua. Pola pembinaan kearah yang lebih professional, sistematis, berkualitas dan terprogram dengan baik inilah yang akan melahirkan atlet yang tengguh dimasa yang akan datang.

Menurut M. Sajoto (1988 : 15) faktor kelengkapan yang harus dimiliki atlet bila ingin mencapai prestasi yang optimal, yaitu : 1) Pengembangan fisik, 2) Pengembangan teknik, 3) Pengembangan mental, 4) Kematangan juara.
Dengan demikian untuk mencapai suatu prestasi yang optimal di dunia olah raga, keempat aspek pendukung tersebut harus dilakukan dengan baik, sesuai dengan cabang olahraga yang ditekuninya.

Dari keempat aspek diatas yang merupakan faktor utama adalah kondisi fisik seperti pendapat Depdikbud (2000 : 10) bahwa salah satu unsur atau faktor penting untuk meraih suatu prestasi dalam olahraga adalah kondisi fisik, disamping penguasaan teknik, taktik dan kemampuan mental. Komponen kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari konponen kesegaran jasmani, kondisi fisik adalah salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi.

Komponen kondisi fisik yang meliputi kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, kelenturan, keseimbangan, koordinasi, kelincahan, ketepatan reaksi (M. Sajoto 1988 : 16). Untuk mencapai prestasi yang baik perlu dilakukan upaya- upaya seperti peningkatan sarana, memperbarui metode latihan, penggunaan sarana yang baik, perbaikan gizi, dokter olahraga dan ahli gizi (M. Sajoto : 10)
Berkaitan dengan hal tersebut di atas Suharno H.P. (1986 : 4-7) mengemukakan bahwa secara umum ada dua faktor penentu pencapaian prestasi maksimal yaitu faktor indogen dan faktor exogen.

1. Faktor indogen, diantaranya adalah: a) Kesehatan fisik dan mental yang baik, terutama tidak berpenyakit jantung, paru-paru, saraf dan jiwa; b) Bentuk dan proporsi tubuh yang sesuai dengan cabang olah raga yang dipilihnya; c) Kondisi fisik dan kemampuan fisik yang baik; d) Penguasaan tehnik yang sempurna; e) Penguasaan taktik; f) Aspek kejiwaan dan kepribadian yang baik; g) Memiliki kematangan juara yang mantap.

2. Faktor exogen, diantaranya adalah: a) Hubungan yang baik dan harmonis antar pelatih, asisten pelatih dan atlet; b) Kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana olahraga yang tersedia; c) Kepengurusan dan organisasi cabang olahraga yang jujur dan bertanggung jawab; d) Lingkungan hudup atlet haru menunjang; e) Dukungan moril dan material dari pemerintah daerah atau pusat; f) Metode-metode latihan yang efektif dsn efisien.

Salah satu faktor untuk mencapai prestasi dalam olahraga khususnya lompat jauh adalah kekuatan, ketepatan, kelentukan dan koordinasi gerak (Aip Syarifuddin dan Muhadi 1992/1993 : 73). Latihan untuk meningkatkan hasil lompat jauh banyak ragamnya, yaitu lompat naik turun bangku, latihan jongkok berdiri, latihan naik turun tumit, latihan squat jump, naik turun tangga dan lain- lain (Engkos Kosasih 1993 : 89). Dari bermacam-macam metode latihan tersebut belum diketahui dengan pasti metode mana yang paling efektif dan baik hasilnya untuk meningkatkan hasil lompat jauh.

Untuk mengetahui hasil latihan yang baik dan efektif tersebut akan diberikan eksperimen lompat naik turun bangku yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan hasil lompat jauh yang maksimal. Adapun metode latihan yang diberikan adalah metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian sedangkan yang satunya diberikan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki. Dalam melakukan kedua jenis latihan merupakan latihan kekuatan otot kaki. Lingkup yang dilatih dalam kedua latihan ini adalah daya ledak otot tungkai dan kekuatan otot tungkai, sehingga dengan latihan tersebut diharapkan akan memberikan perbedaan pada peningkatan hasil lompat jauh gaya jongkok.

Dengan memperhatikan uraian di atas maka penulis ingin penelitian berjudul
:” Pengaruh Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005”.
Adapun alasan lain pemilihan judul tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1.1.1. Lompat jauh merupakan materi kurikulum Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar
1.1.2. Pekan Olah Raga Pelajar Daerah Sekolah Dasar
1.1.3. Metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki dapat meningkatkan hasil lompat jauh

1.2. Permasalahan
Di dalam setiap pelaksanaan penelitian selalu bertitik tolak dari adanya permasalahan yang dihadapi, yang segera perlu diteliti, dikaji, dianalisis serta selanjutnya diusahakan solusi pemecahannya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah Apakah ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap kemampuan hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi
03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang tahun 2004 – 2005?.

1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang berarti antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005
1.3.2. Apabila ditemukan ada perbedaan akan diuji lanjut untuk mengetahui metode latihan mana antara naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang.

1.4. Penegasan Istilah / Batasan Operasional
Untuk menghindari adanya salah penafsiran atau kesalahan pengertian terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka istilah-istilah tersebut perlu adanya ketegasan sebagai berikut :
1.4.1. Pengaruh
Pengaruh adalah daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu
(orang,benda dsb) yang berkuasa atau yang berkekuatan Poerwadarminta,
1985 : 731).

1.4.2. Latihan
Latihan adalah suatu proses penyesuaian tubuh terhadap kerja yang lebih berat dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi yang lebih berat dan meningkatkan ketrampilan.
Menurut Harsono (1982 : 27) latihan adalah proses yang sistematis dari pada berlatih atau bekerja secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihannya atau pekerjaannya.
Jadi latihan dalam penelitian ini adalah cara melakukan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki secara berulang-ulang, makin lama makin bertambah bebannya dengan tujuan untuk mengetahui hasil yang dicapai dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
Pengaruh latihan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh antara dua latihan, yaitu antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan metode lompat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap lompat jauh gaya jongkok.

1.4.3. Daya ledak
Kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya (M.Sajoto,
1995 : 8).
Sedangkan daya ledak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah daya ledak dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.

1.4.4. Metode
Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud tertentu (Poerwodarminto, 1995 : 649).
Dalam penelitian ini metode diartikan sebagai cara untuk melatih lompat jauh gaya jongkok dengan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
1.4.5. Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki
Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian yang dimaksud garakan ini adalah melompat ke atas bangku tumpuan satu kaki kiri di atas bangku, kaki kanan di atas lantai. Kemudian melompat bersama-sama kaki kanan membentuk sudut 900, kemudian kaki kiri mendarat di atas bangku, kaki kanan mendarat di atas lantai.
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki yang dimaksud gerakan ini adalah sikap kaki rapat menghadap bangku kemudian meloncat ke atas bangku bersama-sama, kemudian turun lagi bersama-sama.

1.4.6. Lompat jauh gaya jongkok
Lompat jauh gaya jongkok adalah salah satu tehnik melompat dalam lompat jauh. Adapun gerakan dari tehnik lompat jauh gaya jongkok adalah sebagai berikut : pada saat lepas dari tanah (papan tolakan) keadaan sikap badan di udara jongkok. Dengan jalan membulatkan badan dengan kedua lutut ditekuk dan kedua lengan di depan. Pada waktu akan mendarat kedua kaki dijulurkan ke depan lalu mendarat pada kedua kaki dengan bagian tumit lebih dahulu dan kedua tangan ke depan ( Aip Syarifuddin, 1992 :
93).

1.5. Kegunaan Hasil Penelitian
Setelah mengetahui perbedaan dari kedua metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki penelitian ini, maka manfaat yang dapat diambil adalah :
1.5.1. Memberikan sumbangan pemikiran bagi para guru dan pelatih atlet lompat jauh untuk meningkatkan prestasi lompat jauh
1.5.2. Sebagai perbandingan bagi yang berminat mengadakan penelitian dicabang lompat jauh.

Juni 2, 2010 at 12:22 am Tinggalkan komentar

MANAJEMEN KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA (KONI) PROPINSI JAWA TENGAH TAHUN 2005 (POL-2)

MANAJEMEN KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA (KONI) PROPINSI JAWA TENGAH TAHUN 2005

KODE : POL-2 atau P-48

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Olahraga merupakan kebutuhan manusia yang merupakan unsur pokok dan sangat berpengaruh dalam pembentukan jiwa (rohani) dan jasmani (raga/tubuh) yang kuat. Sebagaimana sesuai dengan semboyan Yunani Kuno yang berbunyi : Orandum est ut sit, mens sana in corpore sano yang dapat diartikan “semoga hendaknya, dalam badan/tubuh/raga yang kuat bersemayam jiwa yang sehat“. Sehingga setiap manusia yang sering melakukan kegiatan olahraga akan memiliki kesehatan rohani dan jasmani yang lebih baik dibanding manusia yang jarang atau tidak pernah melakukan kegiatan olahraga.

Selain itu seiring dengan perkembangan olahraga, olahraga juga digunakan sebagai sarana untuk mengangkat harkat dan martabat. Hal tersebut dapat dicapai melalui prestasi yang membanggakan dibidang olahraga. Untuk mencapai tujuan tersebut, di Indonesia telah ada satu organisasi keolahragaan nasional yang berwenang mengkoordinasikan dan membina setiap dan seluruh kegiatan olahraga prestasi. Organisasi yang dimaksud adalah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang mempunyai tujuan untuk mewujudkan prestasi olahraga yang membanggakan, membangun watak bangsa untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia (KONI, 1999 : 3). Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, KONI mempunyai susunan organisasi mulai dari tingkat kecamatan sampai ketingkat pusat. Rangkaian susunan Pimpinan KONI tersebut, berkewajiban untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan keputusan lain yang mengikat, seperti keputusan Musornas, Raparnas, Musorda, Musda dan Raparda.

Dengan susunan organisasi yang sangat komplek tersebut, KONI sebagai satu-satunya wadah yang mengkoordinasikan dan membina olahraga prestasi di Indonesia dituntut untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik serta memiliki pengelolaan manajemen yang teratur. Sehingga menjadi organisasi yang mandiri dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Hal tersebut menjadi nilai mati dan harus dilaksanakan oleh KONI karena keberhasilan suatu organisasi termasuk KONI tidak akan pernah tercapai tanpa adanya suatu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan kerja serta dengan adanya suatu pengawasan atas pelaksanaan kerja. Syarat-syarat tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan manajemen. Dengan memiliki manajemen yang baik dan teratur, KONI akan mampu melaksanakan tugasnya dengan lebih profesional. Dengan kerja yang profesional KONI akan mampu menghadapi tantangan yang dihadapi. Serta dapat mencapai tujuannya dalam mewujudkan prestasi olahraga yang membanggakan, membangun watak bangsa untuk mengangkat moral bangsa.

Selain hal tersebut diatas, peran aktif anggota masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya pencapaian tujuan tersebut. Namun pada kenyataannya, pemahaman masyarakat tentang tujuan dan tugas KONI yang masih kurang membuat peran masyarakat belum maksimal bahkan sebagian masyarakat tidak peduli dengan perkembangan olahraga prestasi yang menjadi tujuan keberadaan KONI. Upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat adalah dengan memberikan pemahaman tentang tujuan dan tugas KONI, sehingga pada akhirnya peranan masyarakat dalam meningkatkan olahraga prestasi dapat ditingkatkan.
1.2 Permasalahan

Dari latar belakang tersebut, maka dapat ditarik permasalahan “Bagaimana manajemen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Propinsi Jawa Tengah Tahun 2005 ? “

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian yang ini adalah dapat mendiskripsikan manajemen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Propinsi Jawa Tengah Tahun 2005.

1.4 Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi kesalahpahaman dan untuk memberikan pemahaman tentang arah penelitian yang akan dilakukan, maka perlu ditegaskan istilah-istilah mengenai komponen pokok penelitian yaitu manajemen, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

1.4.1 Manajemen

Dalam memberikan definisi manajemen muncul beberapa pendapat. Menurut definisi yang dikembangkan oleh Manullang, manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan karyawan, pemberian perintah dan pengawasan terhadap human and resources untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Djati Julitriarsa dan John Suprihanto, 1988 : 3). George R. Terry memberikan definisi manajemen sebagai suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan pelaksanaan kerja dan pengawasan dengan memanfaatkan ilmu maupun seni untuk menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan (Soewarno Handayaningrat, 1982 : 20).

1.4.2 Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Propinsi Jawa Tengah

Dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) KONI tentang status KONI diartikan bahwa KONI adalah satu-satunya organisasi keolahragaan nasional yang berwenang mengkoordinasikan dan membina setiap dan seluruh kegiatan olahraga prestasi di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (KONI 1999 : 3). KONI Propinsi Jawa Tengah merupakan kepanjangan tangan dari KONI pusat yang berkedudukan dan memiliki wilayah kerja di Propinsi Jawa Tengah. KONI Propinsi Jawa Tengah mempunyai kantor di Komplek GOR Jati Diri Karangrejo Semarang.

1.5 Manfaat Penelitian

Dalam melaksanakan setiap penelitian diharapkan agar mendapatkan manfaat dari penelitian. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1.5.1 Bagi pihak KONI

Dapat dijadikan sebagai bahan masukan yang dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan profesionalisme kerja dan kegiatan KONI Propinsi Jawa Tengah dalam mengkoordonasi dan membina olahraga prestasi di Jawa Tengah.

1.5.2 Bagi peneliti
Dapat mengetahui secara jelas mengenai manajemen KONI Propinsi Jawa Tengah dalam mengkoordonasi dan membina olahraga prestasi di Jawa Tengah.
1.5.3 Bagi pembaca

Dapat dijadikan sebagai bahan referensi yang dapat menambah pemahaman tentang manajemen KONI Propinsi Jawa Tengah dalam mengkoordonasi dan membina olahraga prestasi di Jawa Tengah.

Mei 31, 2010 at 12:08 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

Juli 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.