Posts filed under ‘Pendidikan Fisika’

Contoh Skripsi Pendidikan Fisika

  1. Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Fisika Siswa Smp Dengan Menerapkan Model  Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (Tps) Pada Konsep Getaran Dan Gelombang
  2. Penyajian Masalah Melalui Permainan Untuk Meningkatkan Minat Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas Viii B Mts Surya Buana Malang Tahun Ajaran 2007/2008
  3. Preparasi Lapisan Tipis Semikonduktor P-N Junction Menggunakan Teknik Implantasi Ion Untuk Aplikasi Detektor Sawar Muka
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

April 26, 2012 at 8:14 am Tinggalkan komentar

3. Preparasi Lapisan Tipis Semikonduktor P-N Junction Menggunakan Teknik Implantasi Ion Untuk Aplikasi Detektor Sawar Muka (P-53)

Preparasi Lapisan Tipis Semikonduktor P-N Junction Menggunakan Teknik Implantasi Ion Untuk Aplikasi Detektor Sawar Muka

Kode : P-53 atau PFis-3

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Pada saat ini aplikasi dari perkembangan teknologi lapisan tipis telah meluas, misalnya komponen aktif dari alat yang digunakan untuk komputer dan komunikasi dan bidang mikroelektronik. Alasan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi lapisan tipis menuju teknologi tinggi adalah sifat atau karakter lapisan tipis yang dapat divariasi secara drastis baik secara langsung (variasi parameter deposisi) maupun secara tidak langsung (annealing dan irradiasi).

Salah satu aplikasi lapisan tipis berhubungan dengan pembuatan detektor sawar muka. Detektor sawar muka adalah sambungan antara semikonduktor tipe P dengan semikonduktor tipe N, dimana daerah sambungan tersebut merupakan daerah aktif detektor. Detektor sawar muka menggunakan tenaga dari partikel sinar alpha untuk menimbulkan pasangan elektron-hole dalam bahan semikonduktor. Jumlah pasangan elektron-hole yang terbentuk sebanding dengan besar tenaga radiasi. Medan listrik yang ditimbulkan tegangan terbalik akan menyapu elektron ke terminal positif dan hole ke terminal negatif. Kepekaan dari suatu detektor sawar muka diantaranya tergantung pada bahan untuk membuat sambungan P-N. Bahan Silikon adalah salah satu bahan semikonduktor yang cocok untuk keperluan tersebut, karena mempunyai resistivitas tinggi (Agus Baskoro, 1992:339).
Untuk mengubah dari Silikon intrisik menjadi ekstrisik bahan Silikon diberi ketidakmurnian Boron (untuk membuat tipe P) dan ketidakmurnian Posfor (untuk membuat tipe N). Untuk memberikan ketidakmurnian pada bahan Silikon diantaranya menggunakan teknik implantasi ion. Teknik implantasi ion ini dapat memberi ketidakmurnian lebih baik, karena hanya ion tertentu (tidak dikotori unsur lain) yang dicangkokan pada bahan yang dikehendaki. Dosis dan kedalaman pencangkokan dapat dikendalikan dengan mengatur waktu dan energi ion yang dicangkokan. Dengan demikian akan terjadi sambungan N-P yang baik dan pada akhirnya akan menambah kepekaan detektor sawar muka.
Dalam metode implantasi ion, dimanfaatkan kemampuan akselerator untuk “menanamkan” atom ketidakmurnian langsung kedalam substrat. Teknik ini merupakan salah satu teknik pembuatan sambungan N-P semikonduktor yang mencapai kemajuan dalam proses reaktif dan modifikasi bentuk. Teknik implantasi ion mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan metode difusi, epitaksi dan paduan. Kelebihan dari teknik implantasi ion adalah: (Reka Rio, S dan Lida, M.1982:178)
1. Bahan yang diimplantasikan memiliki tingkat kemurnian yang sangat tinggi, karena menggunakan magnet pemisah massa sehingga dapat dipilih ion tertentu saja yang diinginkan.
2. Jumlah (dosis) pengotor yang ditambahkan dapat diatur dan diamati dari berkas arus ion dengan teliti.
3. Kosentrasi atom pengotor yang diimplantasikan sangat seragam.
4. Kedalaman sambungan dapat diatur dengan sangat teliti melalui pengaturan tenaga implantasi.
5. Tidak memerlukan temperatur tinggi dalam pengoperasianya.
Selain mempunyai keunggulan-keunggulan tersebut, teknik implantasi ion mempunyai kelemahan yaitu menghasilkan kerusakan yang tersisa pada lapisan yang diimplantasi. Bentuk nyata dari kerusakan belum diketahui dengan pasti, bisa terdiri dari interstisi (sisipan), yaitu atom yang berpindah ke posisi interstisi dalam kisi, kekosongan, yaitu lubang yang ditinggalkannya, atau dislokasi, yaitu cacat kristal dengan sebaris atom tidak berada pada posisi yang seharusnya.
Profil kerusakan untuk implantasi dosis rendah (≤ 1012 ion/cm2) adalah terbentuknya lorong terisolasi dan terbatas pada volume tertentu saja, sedangkan untuk dosis tinggi (≥1014 ion/cm2) akan terjadi tumpang tindih dari daerah-daerah yang rusak. Kerusakan yang diakibatkan oleh pengimplanan tersebut dapat dikompensasi sampai pada batas-batas tertentu dengan memanaskannya, biasanya pada suhu 600 oC-1000 oC, karena dengan adanya pemanasan diharapkan tenaga vibrasional atom-atom meningkat dan atom cenderung untuk kembali teratur (Mayer dkk, 1970 : -).
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil implantasi ion antara lain: energi ion dopan, massa ion dopan (jenis atom dopan), massa atom bahan yang diimplantasi (sasaran), kuat arus ion dopan dan suhu penganilan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yaitu implantasi ion Au ke permukaan wafer Silikon tipe N, maka akan diteliti lebih lanjut bagaimana pengaruh ketidakmurnian ion Boron yang dicangkokan pada wafer Silikon tipe N menggunakan teknik implantasi ion terhadap karakterisasi diode sambungan N-P. Karakterisasi diode sambungan N-P meliputi resistansi lapis, karakteristik arus tegangan I-V berupa arus dadal dan tegangan dadal serta kapasitansi sambungan N-P.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil implantasi ion?
2. Bagaimana pengaruh dosis ion dopan Boron terhadap resistansi lapis, karakteristik arus tegangan I-V dan kapasitansi sambungan N-P yang digunakan untuk menentukan lebar daerah deplesi?

C. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, masalah yang diteliti akan dibatasi tentang :
Pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasikan pada semikonduktor tipe N terhadap resistansi lapis, karakteristik arus tegangan I-V dan kapasitansi sambungan N-P yang digunakan untuk menentukan lebar daerah deplesi .

D. Rumusan Masalah
Dari batasan masalah seperti tesebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut yaitu:
1. Bagaimana pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasi pada semikonduktor tipe N terhadap resistansi lapis?
2. Bagaimana karakteristik arus dadal dan tegangan dadal pada sambungan N-P?
3. Bagaimana pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasi pada semikonduktor tipe N terhadap lebar lapisan deplesi?

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasi pada semikonduktor tipe N terhadap resistansi lapis
2. Untuk mengetahui karakteristik arus dadal dan tegangan dadal pada sambungan N-P
3. Untuk mengetahui pengaruh dosis ion dopan Boron yang diimplantasi pada semikonduktor tipe N terhadap lebar lapisan deplesi.

F. Manfaat Penelitian
1. Informasi tentang karakter arus tegangan I-V berupa tegangan dadal dan arus dadal pada sambungan N-P.
2. Disamping menambah khasanah ilmu pengetahuan juga untuk memberi gambaran tentang pembuatan sambungan N-P dari wafer Silikon tipe N yang diberi ketidakmurnian ion dopan Boron.
3. Sebagai bahan referensi dan informasi bagi penelitian lanjutan.

Untuk versi ms-word, silahkan klik download

Agustus 9, 2010 at 1:52 am Tinggalkan komentar

Penyajian Masalah Melalui Permainan untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII B MTs Surya Buana Malang (P-52)

Penyajian Masalah Melalui Permainan untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII B MTs Surya Buana Malang Tahun Ajaran 2007/2008

KODE : P-52 ATAU PFis-2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fisika merupakan pelajaran yang sulit. Itu adalah paradigma tersebut telah berkembang di dalam masyarkat. Kondisi yang demikian sangat mem – pengaruhi proses pembelajaran fisika yang dilaksanakan oleh guru. Guru akan mengalami kesulitan melakukan proses pembelajaran karena kebanyakan siswa dari awal sudah tidak tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran.

Fisika semakin tidak populer di kalangan siswa karena metode penga – jaran yang sering digunakan oleh guru adalah metode cermah. Ceramah meru – pakan metode pembelajaran yang tidak dianjurkan untuk digunakan, namun paling umum digunakan guru (Wartono, 2003:94). Metode ceramah membuat siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru. Apabila siswa tidak terlibat langsung dalam proses pembelajaran, maka proses pembelajaran tersebut akan berjalan membosankan. Siswa akan memperoleh prestasi belajar yang rendah karena siswa tidak tertarik untuk belajar fisika. Proses pembelajaran menurut Driver (dalam Japa, 1999:7) lebih terfokus pada “suksesnya siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka”, dan bukan pada “kebenaran siswa dalam melakukan refleksi atas apa yang dikerjakan guru”.
Pada saat peneliti datang untuk melakukan observasi proses pembela – jaran mata pelajaran sains di kelas VIII B MTs Surya Buana Malang, terlihat proses pembelajaran berlangsung kurang baik. Disana guru terlihat hanya ber – komunikasi dengan beberapa siswa, sedangkan siswa yang lain asyik bermain dan sibuk dengan kegiatannnya sendiri. Ada yang berlarian kesana – kemari, mengo – brol dengan sesama teman, dan bermain sepak bola di luar kelas. Sebagian besar siswa tidak memiliki ketertarikan untuk mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung.
Setelah melakukan observasi, peneliti berdiskusi dengan guru mata pelajaran sains terkait proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hasil diskusi tersebut menyebutkan bahwa siswa tidak memiliki minat yang tinggi untuk mempelajari fisika. Guru mengungkapkan bahwa siswa sangat sulit dikondisikan agar tenang saat mengikuti proses pembelajaran fisika. Kondisi tersebut tidak berlaku untuk semua materi sains yang beliau berikan. Menurut guru, materi kimia dan biologi lebih mudah untuk diajarkan dan siswa merasa lebih mudah mempelajari kimia dan biologi dibanding dengan fisika. Disamping itu, guru adalah lulusan jurusan biologi sehingga beliau lebih memahami materi biologi dan cara – cara membelajarkannya kepada siswa. Siswa sangat antusias jika proses pembelajaran dilakukan sambil bermain dan keluar kelas. Seperti halnya ketika beliau mengajak siswa melakukan permainan simulasi jalannya darah melalui pembuluh darah. Sayangnya guru tidak pernah menerapkan metode tersebut dalam proses pembelajaran fisika. Proses pembelajaran yang dilaksanakan pada proses pembelajaran fisika lebih banyak menggunakan metode ceramah dan memberikan tugas berupa soal kepada siswa. Guru merasa kesulitan untuk menerapkan metode yang lebih bervariasi pada proses pembelajaran fisika. Guru juga jarang melaksanakan praktikum karena alat – alat praktikum yang tersedia di sekolah sangat tidak memadai. Selain itu sebagian besar siswa tidak memiliki buku pelajaran sehingga guru menjadi sumber belajar utama siswa.
Guru menjelaskan bahwa ketidak tersediaan alat praktikum, buku dan lebih tertariknya siswa untuk bermain menyebabkan minat siswa untuk belajar fisika menjadi rendah. Minat siswa yang rendah pada pokok bahasan fisika juga tercermin pada prestasi belajar siswa yang rendah pada bidang fisika. Beliau menyebutkan bahwa nilai tes rata – rata yang dilakukan pada materi tekanan adalah 44,7. Oleh karena itu guru menyampaikan pada peneliti agar penelitian yang akan dilaksanakan dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan hasil observasi tersebut, sebenarnya guru mengetahui permasalahan yang dihadapi dan salah satu alternatif pemecahannya. Permasa – lahan yang dihadapi adalah bagaimana meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa. Sedangkan salah satu altenatif pemecahannya adalah melakukan permainan sambil belajar.
Menurut Lavach (dalam Prayitno, 1989:52) , guru hendaknya dapat mengontrol emosi siswa untuk menjadi suka dan ingin belajar. Oleh karena itu guru harus menerapkan metode yang tepat agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Pendidikan hendaknya menumbuhkembangkan minat dan keingintahuan siswa melalui pengalaman langsung dan kegiatan nyata (Harjati dalam Shaleh, 2005:17). Selanjutnya Froebel (dalam Shaleh, 2005:17) menyatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pengembangan individu dan sosial siswa melalui kegiatan langsung yang mengutamakan kerjasama, spon – tanitas, kreativitas dan kegembiraan. Adapun cara untuk membuat suatu kegiatan menjadi menyenangkan yaitu dengan cara bermain, dengan ini berarti bahwa belajar dapat dilakukan sambil bermain (Shaleh, 2005:17).
Jika kita menyajikan sesuatu dengan cara yang tidak diketahui oleh siswa sebelumnya, maka siswa akan tertarik. Bahkan mereka tertarik untuk tahu lebih jauh (Richard dalam Prayitno, 1989:48). Rangsangan – rangsangan yang diberikan pada awal pembelajaran dapat meningkatkan minat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung. Rangsangan tersebut dapat berupa penyajian masalah yang terkait dengan topik yang akan dibahas. Penyajian masalah di awal pembelajaran dapat memberitahu siswa mengenai apa yang akan dipelajari dan membuat siswa berpikir untuk mengetahui jawaban dari masalah yang dihadirkan oleh guru.
Hasil observasi, wawancara dan pemikiran – pemikiran di atas yang mendasari penelitian yang berjudul “Penyajian Masalah Melalui Permainan untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang Tahun Ajaran 2007/2008”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah penyajian masalah melalui permainan dapat meningkatkan minat siswa kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang tahun ajaran 2007/2008?
2. Apakah penyajian masalah melalui permainan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang tahun ajaran 2007/2008?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan minat siswa kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang tahun ajaran 2007/2008 dengan menerapkan penyajian masalah melalui permainan.
2. Meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII B MTs. Surya Buana Malang tahun ajaran 2007/2008 dengan menerapkan penyajian masalah melalui permainan.

D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat, yaitu:
1. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi guru untuk memilih metode yang tepat dan menyenangkan untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran fisika.
2. Melalui penelitian ini diharapkan siswa lebih tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran fisika sehingga mampu meningkatkan minat dan prestasi belajar.

E. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi perbedaan penafsiran terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka diberikan beberapa penjelasan istilah penting sebagai berikut:
1. Penyajian masalah dalam penelitian ini adalah menyajikan permasalahan berupa pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan pada awal kegiatan melalui permainan.
2. Minat dalam penelitian ini adalah minat belajar siswa selama proses pembelajaran fisika yang dijabarkan dalam tiga aspek yaitu keaktifan, keantusiasan dan keceriaan yang dilihat dari hasil observasi minat pada tiap kegiatan.
3. Prestasi belajar dalam penelitian ini adalah prestasi belajar pada ranah kognitif yang dilihat dari hasil tes fisika melalui pretest dan posttest pada tiap siklus.
4. Permainan adalah suatu kegiatan dimana pemain – pemain atau peserta di dalamnya terikat oleh suatu aturan untuk mencapai tujuan.

Untuk versi MS Word, silahkan klik download

Agustus 7, 2010 at 11:16 pm Tinggalkan komentar

Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Fisika Siswa Smp Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (Tps) (P-51)

Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Fisika Siswa Smp Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (Tps) Pada Konsep Getaran Dan Gelombang

Kode : P-51 atau PFis-1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Seorang siswa dalam belajar fisika dikatakan kurang berhasil apabila perubahan tingkah laku yang terjadi belum mampu menentukan kebijaksanaannya untuk mencapai suatu hasil yang telah ditetapkan secara tepat dalam waktu yang telah ditentukan. Untuk mencapai suatu hasil belajar yang maksimal, banyak aspek yang mempengaruhinya, di antaranya aspek guru, siswa, metode pembelajaran dan lain-lain.

Menurut Mudjino (2002:10) Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (i) stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan (ii) proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar. Dengan demikian, belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses, siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Dari guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal.
Pelajaran fisika adalah pelajaran yang mengajarkan berbagai pengetahuan yang dapat mengembangkan daya nalar, analisa, sehingga hampir semua persoalan yang berkaitan dengan alam dapat dimengerti. Untuk dapat mengerti fisika secara luas, maka harus dimulai dengan kemampuan pemahaman konsep dasar yang ada pada pelajaran fisika. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam memahami tentang pelajaran fisika sangat ditentukan oleh pemahaman konsep.

Mengingat pentingnya ilmu fisika dalam berbagai bidang kehidupan manusia, maka perlu diperhatikan mutu pengajaran mata pelajaran fisika yang di ajarkan di tiap jenjang dan jenis pendidikan. Untuk mendapatkan pengetahuan tentang ilmu fisika, maka siswa harus menempuh proses belajar mengajar yang baik. Belajar akan lebih berhasil bila telah diketahui tujuan yang ingin dicapai. Salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan fisika yang baik dan untuk mengatasi berbagai kelemahan dalam proses belajar mengajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran Think-Pair-Share, (Berpikir,Berpasang,Berbagi), strategi yang digunakan adalah saling bertukar pikiran secara berpasangang.

Pengamatan penulis lakukan selama PPL pada SMP Negeri 1 Darussalam Aceh Besar. Model pembelajaran yang di lakukan oleh guru fisika SMP 1 Darussalam masih menggunakan model pembelajaran yang lama di mana proses belajar mengajar hanya terpaku pada guru, siswa hanya bisa menerima materi yang disampaikan oleh guru. Maka penulis mencoba menerapkan model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. Hal ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran Think-Pair-Share itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lie (2002:57) bahwa, “Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya dan sebagai salah satu alternatif pembelajaran inovatif yang dapat mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan proses interaksi di antara individu yang dapat digunakan sebagai sarana interaksi sosial di antara siswa dan sekaligus menjawab masalah yang ada di sekolah. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini “Apakah penggunaan model pembelajaran Think-Pair-Share memberi pengaruh positif atau negatif terhadap prestasi belajar siswa kelas II pada pokok bahasan getaran dan gelombang di SMP Negeri 1 Darussalam Aceh Besar. Maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ” UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA SMP DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS) PADA KONSEP GETARAN DAN GELOMBANG.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kemampuan guru dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-pair-share pada pokok bahasan getaran dan gelombang.
2. Bagaimana kemampuan siswa dalam mencapai indikator setelah mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-share pada pokok bahasan getaran dan gelombang.
3. Bagaimanakah respons siswa terhadap perangkat dan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share pada pokok bahasan getaran dan gelombang.

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share.
2. Untuk mengetahui bagaimana kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
3. Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mencapai indikator setelah mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-share pada pokok bahasan gelombang.
4. Untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Think – Pair – Share pada pokok bahasan getaran dan gelombang

1.4 Anggapan Dasar

Perumusan dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk memberikan arah dan titik pangkal bagi pelaksanaan penelitian. Dalam hal ini yang menjadi anggapan dasar adalah:
1. Materi yang di ajarkan getaran dan gelombang pada kelas II.
2. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran fisika.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Suatu kegiatan penelitian perlu dibatasi masalah yang akan di teliti supaya penelitian lebih terfokus, terarah dan dapat memperlancar proses penelitian yang akan dilaksanakan. Ruang lingkup masalah pada penelitian ini adalah:
1. Subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 1 Darussalam Aceh Besar kelas II tahun ajaran 2007/2008.
2. Pokok bahasan yang dipilih adalah getaran dan gelombang.
3. Perlakuan yang diberikan hanya dalam tiga pertemuan.
4. Pembelajaran yang dilakukan adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan metode Think Pair Share.

1.6 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut:
1. Merupakan sumbangan yang berharga bagi lembaga pendidikan SMP dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan proses belajar mengajar terutama untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika.
2. Dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share siswa akan terbiasa untuk belajar mandiri dan berdiskusi tanpa harus di dekte oleh guru.
3. Mendorong guru untuk pro-aktif dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share dan memotivasi siswa dalam meningkatkan prestasi belajar.
4. Menambah pengalaman dan wawasan berpikir bagi penulis terutama tentang penelitian ilmiah.

Untuk mendapatkan Versi MS-Word, silahkan klik download

Agustus 6, 2010 at 11:18 pm Tinggalkan komentar


Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.