Posts filed under ‘Manajemen Agribisnis’

Strategi Perluasan Budidaya Tanaman Padi Untuk Stabilitas Ketahanan Pangan Di Kabupaten ..

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor kekuatan dan kelemahan internal, serta peluang dan ancaman eksternal dalam perluasan penanaman padi, dalam rangka merumuskan strategi perluasan penanaman padi untuk stabilitas ketahanan pangan di Kabupaten …. Metode analisis yang dipergunakan untuk merumuskan strategi perluasan penanaman padi untuk stabilitas ketahanan pangan di Kabupaten … adalah SWOT analisis.
Hasil analisis faktor internal terdiri dari kekuatan yaitu : jumlah kelompok tani cukup, baku lahan sawah sangat luas, produktivitas tinggi, jumlah ternak sapi cukup tinggi, indek penanaman masih rendah, penguasaan teknologi cukup tinggi. Kelemahan yaitu : pemilikan lahan sempit, petani bersifat subsistem, menejemen usahatani lemah, modal berusahatani kecil, sebagaian petani bersifat individu, pendidikan petani rata-rata rendah.
Hasil analisis faktor eksternal terdiri dari Peluang yaitu desentralisasi, dukungan pemerintah pusat, kebutuhan beras tinggi, jumlah penyuluh pertanian tinggi, kios saprodi banyak, perkembangan teknologi pertanian. Ancaman : globalisasi, kesempatan kerja di luar negeri, berkembangnya perumahan rakyat, meningkatnya harga produk hortikultura, subsidi beras pemerintah pusat, tidak adanya subsidi harga saprotan.
Strategi yang ditetapkan dalam rangka perluasan penanaman tanaman padi untuk ketahanan pangan di Kabupaten … adalah : (1) Koordinasi Dinas lingkup pertanian dalam rangka program perluasan areal tanam padi untuk ketahanan pangan di Kabupaten …, (2) Rembug kelompok tani se Kabupaten … untuk pengaturan pola tanam dalam rangka peningkatan Indek Penanaman, (3) Bantuan pompa air pada kelompok tani, disertai pelatihan menejemn dan tehnologi operasional, untuk meningkatkan debet air di musim kemarau, (4) Proyek peningkatan mutu intensifiksi padi dengan memanfaatkan dana bantuan langsung masyarakat untuk peningkatan indek penanaman dan produktivitas padi, (5) Sekolah lapang penanaman padi dengan memanfaatkan tenaga Penyuluh Pertanian, (6) Dem cara pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan limbah padat atau cair ternak sapi.

Januari 23, 2008 at 6:48 am Tinggalkan komentar

Upaya Menentukan Ukuran Bisnis Antara Pabrik Gula Dan Petani Melalui Perhit. Rendemen dgn Metode Fak. Rendemen, Fak. Overall Recovery Dan Fak.Krist

Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Dengan luas areal sekitar 350 ribu ha pada periode 2000-2005, industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja langsung yang terlibat mencapai sekitar 1,3 juta orang
Gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah. Oleh karena itu, maka dinamika harga gula dalam industri gula nasional akan berpengaruh langsung terhadap laju inflasi, kesempatan kerja dalam distribusi pendapatan serta alokasi sumber daya lahan yang makin kompetitif. Sejarah pernah menunjukkan bahwa Indonesia mengalami era kejayaan industri gula pada tahun 1930-an, produktivitas habluh 14,8 ton/ha dan rendemen mencapai 11% – 13,8%. Dengan produksi puncak mencapai sekitar 3 juta ton, ekspor gula pernah mencapai sekitar 2,4 juta ton. Kini, Indonesia merupakan salah satu importir gula terbesar di dunia dengan volume impor rata-rata sekitar 1,5 juta ton pada dekade terakhir, (Susila dan Supriono, 2006).
Program akselerasi peningkatan produktivitas gula nasional tahun 2002-2007, diharapkan produksi gula ditargetkan meningkat rata-rata 9,6% per tahun sehingga pada tahun 2007, Indonesia bisa menghasilkan 3,0 juta ton gula (Rini S., 2006).
Penurunan produksi berjalan sejak diberlakukannya Inpres no. 9 tahun 1975 dan diperparah dengan deregulasi bidang pertanian berupa UU no. 5 tahun 1992 serta Demonopoli BULOG pada tahun 1998, perlu dicegah dengan meningkatkan keunggulan daya saing industri gula (Anonim, 2004).
Produksi gula nasional, luas areal produktivitas lahan, inefisiensi on-farm dan off-farm, pergeseran areal ke lahan marginal, kebijakan pergulaan nasional dan perdagangan pasar inernasional yang sangat distorsif merupakan kemelut permasalahan industri gula di Indonesia. Berbagai alternatif solusi bersifat komprehensif dan menyeluruh yang dapat melindungi semua pihak, terasa masih jauh dari harapan padahal era liberalisasi perdagangan sungguh tidak mungkin ditolak. Kalangan fabrikan dan petani tebu bukannya tidak menyadari kalau kunci utama penyelesaian kemelut itu adalah peningkatkan produktivitas, harga pokok produksi (HPP) rendah tanpa batas. Persoalannya, mengapa produktivitas yang berdaya saing tidak kunjung terjawab, lamban, cenderung jalan di tempat? (Adig Suwandi, 2003).
Peningkatan produktivitas gula dapat dilaksanakan dengan meningkatkan hasil bobot tebu dan meningkatkan rendemen. Diantara kedua metode tersebut, meningkatkan rendemen mempunyai nilai keunggulan karena tidak perlu meningkatkan kapasitas giling, dan efisiensi biaya tebang angkut serta biaya prosesing gula (Anonymous, 2004).
Sesuai Surat Edaran (SE) Meneg BUMN perihal Gerakan Peningkatan Rendemen Tebu, diilustrasikan bila rendemen berhasil naik 1% saja di tahun 2006, produksi gula nasional akan mengalami kenaikan 310.000 ton. Artinya jika produksi gula nasional saat ini 2,24 juta ton ditambah 310.000 maka jumlah produksi gula nasional sudah mencapai 2,55 ton. Industri gula nasional telah bangkit (Agus Pakpahan, 2006).
Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 45 tahun 2006 tentang Petunjuk Teknis Peningkatan Rendemen Tebu di Jawa Timur, merupakan langkah lanjutan atas keberhasilan program akselerasi peningkatan produktivitas gula di Jawa Timur yang telah mampu meningkatkan areal, produksi namun belum diikuti peningkatan rendemen yang memadai.
Paradigma petani tebu rakyat, bobot sudah lama menjadi orientasi dan tolok ukur pendapatan produksi. Transfer teknologi budidaya terhambat akibat tidak dirasakan adanya perbedaan nilai tambah secara signifikan dari penerapan teknologi budidaya yang benar. Bisnis pembelian tebu serta bobot pada petani daun semakin subur menjadikan orientasi pemeliharaan dengan maksimalisasi pemupukan Nitrogen.
Salah satu hambatan ketidakpercayaan petani kepada pabrik gula adalah perhitungan rendemen atas pasok tebu rakyat. Belajar dari pengalaman hancurnya banyak usaha bisnis disebabkan karena tidak adanya kepercayaan (trust); kehormatan (respect), kebenaran menyatakan apa adanya (candor), maka kesenjangan hubungan petani tebu dan pabrik gula atas penilaian rendemen harus mendapat perhatian serius (Anonymous, 2004).
Agar program peningkatan rendemen dapat terlaksana, maka diperlukan perubahan sistem yang menghargai prestasi petani secara individual maupun pabrik gula. Untuk itu perlu dikaji formula yang dapat menilai mutu (rendemen) bahan baku tebu dan efisiensi pabrik secara lebih akurat, sehingga hubungan bisnis dan kemitraan petani – pabrik gula terjalin dengan kondusif (Anonymous, 2004)
Beberapa metode perhitungan rendemen tebu antara lain menggunakan faktor rendemen, Faktor Overal Recovery, dan Factor Eksternal. Saat ini yang umum dilakukan adalah menggunakan faktor rendemen.
Rendemen merupakan tema tertinggi dalam produktivitas dan berskala ekonomi bagi pelaku bisnis industri gula, maka ketepatan perhitungan rendemen sesuatu hal yang mendesak, sehingga kepercayaan antara pabrik gula dan petani sebagai mitra bisnis terbangun. Dari metode-metode perhitungan rendemen tersebut, apakah didapatkan hasil rendemen yang berbeda?. Dan metode manakah yang lebih bisa diterima oleh semua pelaku bisnis tebu (stakeholder) dipandang dari skala bisnis?

Januari 23, 2008 at 6:02 am Tinggalkan komentar

Analisis Margin Pemasaran dan Nilai Tambah Penyulingan Nilam di Kecamatan … Kabupaten …

Minyak atsiri hanya sebagaian kecil minyak nilam yang digunakan didalam negeri. Sebagaian besar justru diekspor ke mancanegara. Selama ini, minyak nilam Indonesia banyak di ekspor ke singapura, perancis, spanyol dan belanda. Minyak tersebut biasanya digunakan sebagai bahan pengikat (fiksatif) dalam industri parfum dan kosmetika.Tujuan dari penelitian ini adalah :1. Mengetahui besarnya margin harga pada saluran pemasaran nilam. 2. Mengetahui besarnya nilai tambah yang dihasilkan dari pe-nyulingan minyak nilam Metode Pengambilan Data yang diambil dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara dengan pemilik penyulingan nilam yang meliputi, sejarah berdirinya usaha tersebut. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur-literatur atau instansi yang terkait dalam penelitian ini
Metode analisis yang digunakan yaitu analisis margin pemsaran untuk mengetahui kontribusi harga yang diterima petani dari pedagang dan pengecer, serta analisa nilai tambah dan analisa keuntungan. Besarnya nilai tambah karena proses pengolahan didapat dari pengolahan biaya bahan baku (nilam) ditambah input lainnya terhadap produksi yang dihasilkan, tidak termasuk tenaga kerja..
Berdasarkan hasil penelitian dari saluran pemasaran nilam dan penyulingan nilam maka dapat disimpulan sebagai berikut: Besarnya marjin pemasaran nilam untuk saluran (petani, tengkulak sampai penyuling) adalah sebesar Rp.200,00 per Kg. Distribusi ini merupakan dstribusi terbesar yang di miliki oleh tengkulak. Selisih keuntungan untuk penjualan nilam dari petani langsung ke penyuling dan dari petani ke tengkulak adalah sebesar Rp. 140,00 per Kg. Dalam hal ini berarti petani lebih untung menjual hasil nilamnya langsung kepabrik dari pada menjual nilam ketengkulak. Hal yang mempengaruhi rantai distribusi pemasaran pendek adalah di karenakan nilam tidak dikonsumsi oleh semua orang seperti makanan olahan tapi hanya dibutuhkan oleh penyuling saja.
Penyulingan nilam untuk minyak atsiri warna kuning kehijauan, mampu menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 612,00 Per Kg dengan keuntungan sebesar Rp. 506,00 Per Kg. Dan untuk minyak atsiri warna kuning kecoklatan, mampu menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 330,00 Per Kg dengan keuntungan sebesar Rp. 230,00 Per Kg. Usaha penyulingan nilam menjadi minyak atsiri untuk saat ini masih memberikan nilai tambah yang sangat kecil. Hal ini dikarenakan biaya bahan baku tinggi, Biaya produksi tinggi, dan harga jual minyak atsiri relatif rendah. Rasio nilai tambah untuk minyak atsiri warana kuning kehijauan adalah 9,73 % dan untuk warna kunig kecoklatan adalah 5,12 %. Berarti rasio yang terbesar di miliki oleh bapak Paniran yang meghasilkan minyak kuning kehijauan, hal ini di sebabkan kwalitas yang di hasilkan lebih bagus karena menggunakan mesin suling yang berbahan dari stinlies serta dipengaruhi oleh tenaga kerja yang lebih efektif dibanding dengan penyulingan milik bapak Damis.

Januari 23, 2008 at 5:29 am Tinggalkan komentar

“Tingkat Adopsi Petani Dalam Program Pola Kemitraan Komoditi Kapas”

Kemitraan yang terjadi antara dunia usaha pemerintah, swasta dan masyarakat merupakan pendekatan baru, fenomena baru, juga tuntutan baru dalam pembangunan, oleh karena itu akhir-akhir ini banyak sekali himbauan tentang kemitraan. Namun demikian kemitraan sebagai suatu tuntutan pembangunan baru tidaklah begitu mudah dilaksanakan, hal ini sangat tergantung pada kehendak baik atau niatan baik ketiga pelaku kerjasama (dunia usaha, pemerintah dan masyarakat).
Tingkat adopsi petani pada umumnya heterogen, banyak yang belum baik, namun ada juga yang sudah baik, jika program kemitraan yang terjalin dengan perusahaan sudah baik. tingkat adopsi pada berbagai kegiatan pertanian perlu diketahui apa masih harus diperbaiki dalam melaksanakan program kemitraan ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Untuk mendiskripsikan pelaksanaan program kemitraan yang dilaksanakan PT. Nusafarm Intiland corp dengan petani kapas; 2) Untuk mengetahui tingkat adopsi petani kapas dalam mengikuti program kemitraan.
Metode penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu: Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, sedangkan penentuan sampel menggunakan purposive sampling (sampling segaja)dimana terdapat 40 petani kapas yang bermitra dengan PT. Nusafarm Intiland corp yang dijadikan responden. Untuk menjawab tujuan pertama menggunakan analisa deskripsi yaitu menggambarkan pelaksanaan program kemitraan, sedangkan untuk mengetahui tingkat adopsi petani kapas dalam program kemitraan digunakan analisis deskriptif dengan menggunakan skor.
Berdasarkan hasil penelitian pola kemitraan yang dibentuk adalah pola inti plasma dimana PT. Nusafarm Intiland Corp sebagai perusahaan inti sedangkan petani bertindak sebagai plasma dari perusahaan itu. Dalam pola ini perusahaan inti melaksanakan pembinaan melaui penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis, sampai dengan pemasaran hasil produksi.
Adapun tingkat adopsi petani kapas dapat dilihat dari beberapa variabel – variabel seperti: persepsi yang dijabarkan melalui 6 indikator, dan dikategorikan tinggi dengan total skor 16,3 atau 90,4 %; dilihat dari segi pengetahuan yang dijabarkan dengan 6 indikator hasil yang diperoleh dengan total skor 15,8 atau 87,5% dan dikategorikan tinggi; dilihat dari segi sikap yang dijabarkan dalam 6 indikator dikategorikan tinggi,dengan perolehan skor 15,8 atau 87,6 %; dan yang terakkhir dilihat dari segi ketrampilan para petani, diperoleh skor sebesar 16,7 atau 92,8 % dan juga dikategorikan tinggi. Tingkat adopsi petani dalam program kemitraan komoditi kapas dikategorikan tinggi, yaitu diperoleh skor sebesar 63,7 atau 88,4 % petani responden menerapkan program kemitraan dalam usahatani kapasnya
Kata Kunci: Tingkat Adopsi Petani, Program Pola Kemitraan

Januari 23, 2008 at 5:28 am Tinggalkan komentar

“Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Terhadap Konsumsi Pangan dan Non Pangan Mahasiswa Universitas … ..

Kenaikan harga BBM memang merupakan momok bagi Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Muhammad Jusuf Kalla (MJK), karena dengan adanya keputusan untuk menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) akan melahirkan permasalahan yang komplek bagi semua bidang. Pada tanggal 1 Oktober 2005 Pemerintah resmi memasukkan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 50%-80% dengan perincian sebagai berikut Premium Rp.4500,00/liter, Minyak tanah Rp.2500,00/liter, beras Rp. 3000,00/kilogram.Dengan adanya kenaikan harga ini, sebagai gantinya pihak Pemerintah berjanji akan memberikan kompensasi sebesar Rp. 10,5 Trilyun Rupiah untuk rakyat miskin. Dana tersebut akan dialokasikan untuk biaya pendidikan, layanan kesehatan, pembanggunan infrastruktur didesa tertinggal diseluruh Indonesia.
Berdasarkan latar belakang diatas maka data dirumuskan perasalahan yang ada yaitu: Bagaimana Dampak Kenaikan Harga BBM terhadap Konsumsi Pangan dan Non Pangan? sedangkan Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian adalah: Untuk mengetahui dampak kenaikan harga BBM terhadap konsumsi pangan dan konsumsi non pangan.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga dengan adanya kenaikan harga BBM mengakibatkan menurunya tingkat konsumsi pangan dan non pangan mahasiswa.
Penentun lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Pengambilan sampel dilakukan dengan kuota sampling. Adapun data yang dikumpulkan dari sumber data adalah sebagai berikut: Data Primer dan Data Sekunder,
Dari hasil out put terlihat bahwa Mean 70,570 dengan t tabel 1,66 Karena t hitung 8,770 > t tabel 1,66, maka disimpulkan tolak Ho artinya ada perbedaan antara pengeluaran mahasiswa secara statistik pada waktu sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM. Hal ini bisa dilihat pada signifikan 0,000 < 0,05 dapat disimpulkan bahwa hipotesis Ho yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata antara pengeluaran mahasiswa pada waktu sebelum dan sesudah kenaikan harga Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) ditolak, dengan kata lain bahwa ternyata pada waktu kenaikan harga Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memberikan dampak terhadap pengeluaran Mahasiswa Universitas … …

Januari 23, 2008 at 5:27 am Tinggalkan komentar

Analisa Nilai Tambah Agroindustri Sirup Markisa ( Studi Kasus di Koperasi Peran Serta Masyarakat (KOPERMAS) Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang

Peranan sektor industri dalam kegiatan dalam kegiatan pembangunan semakin penting. Pemerintah terus berusaha menyeimbangkan peranan sektor industri terhadap sektor pertanian, untuk menciptakan struktur ekonomi yang seimbang dimana terdapat kemampuan industri maju yang didukung oleh pertanian yang tangguh. Berdasarkan kenyataan diatas, maka industri yang mengolah hasil-hasil pertanian di Indonesia memegang peranan yang strategis.Akan tetapi dengan perkembangan dalam tahun terakhir akibat dampak El Nino yang meyebabkan kemarau panjang, kebakaran hutan dan krisis moneter yang melanda Indonesia mulai pertengahan tahun 1997 telah mengakibatkan ketahanan pangan mengalami situasi yang sangat berubah. Dengan perkembangan situasi perekonomian dalam tahun terakhir ini telah menyebabkan peningkatan jumlah penduduk miskin yang cukup nyata pada tahun 1998 ( A. M. Saefuddin, 1998 ).
Oleh karena itu pemerintah telah melakukan pendekatan melalui penerapan sistem agribisnis yang telah diamanatkan dalam GBHN 1993, yang pokok tujuannya adalah mengembangkan sektor pertanian menjadi pertanian modern yang didukung oleh sektor industri ( agroindustri ). Agribisnis itu sendiri merupakan suatu sistem yang memadukan antara sub sistem saran produksi, pra panen, pasca panen dan pemasaran. Adanya kesatuan sistem tersebut mutlak diperlukan untuk tercapainya tujuan usaha yang menguntungkan dan meningkatkan pendapatan.
Sektor pertanian dalam wawasan agribisnis dengan perannya dalam perekonomian nasional memberikan beberapa hal yang menunjukan keunggulan yang patut dipertimbangkan dalam pembangunan nasional. Keunggulan tersebut antara lain melihat tingginya nilai tambah agroindustri. Dengan kontribusi tersebut dalam perekonomian nasional maka sektor agribisnis semakin dipacu mengenai pengembangan teknologi yang ada.
Pengembangan teknologi tersebut karena masih ada yang salah yang dihadapi oleh agroindustri yaitu antara lain ; pertama, penyediaan bahan baku yang teratur dalam bentuk kuantitas maupun kualitas yang memadai, serta harga yang bersaing menjadi persoalan pelik bagi agroindustri. Apalagi bahan baku tersebut harus dibeli di pasar bebas dari petani kecil yang lokasinya berpencar-pencar. Kedua, pemasaran sering menjadi persoalan karena produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang kurang baik, sering sangat sulit memasarkan produk-produk dengan kemasan dan label yang menarik. Ketiga, pengangkutan produk agroindustri cenderung mahal karena soal jarak yang jauh.
Dengan demikian pengembangan agroindustri berlokasi didaerah sentra produksi atau didaerah produksi bahan baku itu sendiri perlu menjadi perhatian. Karena pengembangan agroindustri ada keterkaitan dengan tujuan pembangunan wilayah pedesaan dan keterlibatan sumber daya manusia pedesaan. Sehingga dapat memperkenalkan tambahan kegiatan atau perlakuan terhadap komoditas setelah di panen, yang nantinya dapat memperoleh nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan.
Dengan tetap memberikan prioritas yang tinggi kepada pembangunan pertanian maka peran pemerintah sangat penting sekali. Dalam politik pemerintahan, perekonomian Indonesia antara sektor pertanian dan sektor industri mempunyai keterkaitan dan saling mendukung. Bagi sektor industri menghasilkan kebutuhan pokok rakyat yang mendukung sektor pertanian dalam mengolah sumber daya alam yang tersedia. Tampak bahwa peranan pertanian masih dominan dan semakin nyata, bahwa sektor perekonomian dipengaruhi sektor pertanian. Walaupun jumlah usaha tani pada saat sekarang ini arealnya semakin berkurang, namun penting untuk dipertahankan dan meningkatkan produksi dengan cara mengubah bahan baku pertanian menjadi produk olahan agar komoditas pertanian mempunyai nilai yang tinggi.
Markisa ( Passifloraceae ) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai potensi tinggi untuk dibudidayakan. Kendati bukan buah asli Nusantara, tanaman jenis ini telah tersebar luas ke sejumlah kawasan, u…ya sepanjang daerah Lampung, sebagian Sumatera Selatan dan sedikit di Jawa Timur. Hanya markisa memang belum sepo…r ”saudara-saudara”-nya yang lain semacam anggur, apel, pear, strawberry. Tetapi justru karena ketidakpo…rannya ini, penanam markisa menjadi lumayan menjanjikan sebab produksinya menjadi tidak banyak pesaing. Ada beberapa kelebihan tanaman asal Amerika latin itu, Pertama, ia secara teknis memiliki keistimewaan sebagai jenis yang tidak manja. Artinya dengan perlakuan yang “ alakadarnya”. pun, markisa mampu tumbuh normal, bahkan ditanam dilahan kurang produktif sekalipun. Dan kedua, pasar buah ini masih terbuka luas ( Anonymous, 2000 ).
Markisa memiliki kandungan vitamin A, B6 dan C yang sangat tinggi. Ia sering dikonsumsi dalam bentuk bahan minuman kemasan, sirup, coktail, dan serbuk. Permintaan akan buah markisa selain datang dari pasar dalam negeri, juga berasal dari Timur Tengah, Jepang dan Taiwan. Keistimewaan lain, tingkat produksinya mampu mencapai 30 ton pertanian hektar dalam kurun waktu satu periode tanam. Tetapi untuk mencapai angka maksimal itu, dibutuhkan peralatan yang memadai. Markisa dari jenis rola adalah tanaman tropis yang tahan kemarau panjang dan berbuah cepat ( 6 – 8 bulan ) secara terus menerus (Anonymous, 2000).
Untuk menangani kelebihan produksi serta mempertahankan kualitas bahan baku maka perlu dilakukan pengawetan. Pengawetan merupakan rangkaian tahapan penanganan dan pengolahan produk markisa yang bertujuan untuk mempertahankan bahan baku agar tetap memenuhi syarat. Pada prinsipnya industri pengolahan pangan bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah bahan pangan, menambah daya guna dan meningkatkan daya simpan.

Januari 23, 2008 at 5:25 am Tinggalkan komentar

Analisis Daya Dukung Saluran Distribusi Terhadap Marjin Penjualan Gula Lokal Di …

Penelitian tentang analisis daya dukung distribusi terhadap marjin penjualan gula Lokal di … Raya. Lingkup masalah utama yang diteliti ialah marjin harga gula dari produsen sampai ke konsumen akhir. Mahalnya harga gula karena beberapa hal, diantaranya ialah panen, pasca panen dan jalur distribusi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perbedaan marjin penjualan pada masing-masing tingkat saluran yang ada di kawasan … Raya
Dengan adanya penelitian ini diharapkan bermanfaat begi semua fihak. Diantaranya ialah bisa menurunkan harga gula yang harus dibayar oleh konsumen (pengguna akhir). Pengukuran sasaran ditujukan ke produsen, pedagang besar, grosir dan pengecer. Jenis penelitian adalah Deskriptif kuantitatip. Dari data primer, sekunder maupun tersier dapat dihimpun bahwa:
Produksi gula Nasional tahun 2004 sebanyak 1.701.293 ton. Sedangkan kebutuhannya 3.326.904 ton. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut pemerintah terpaksa impor gula. Industri gula Indonesia pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 1930, memproduksi sebanyak 2.907.078 ton, namun saat ini menjadi negara pengimpor gula. Kemunduran pergulaan di Indonesia disebabkan oleh produktivitas dan efisiensi yang rendah. Dengan adanya kesepakatan multilateral (AFTA, APEC, WTO) Indonesia pada posisi tawar yang lemah. Mahalnya harga gula lokal disebabkan oleh kelemahan di semua sektor produksi, mulai dari pra panen, panen, pasca panen sampai jalur distribusi. Perdagangan gula (impor gula) diatur dalam SK Diperindag no: 643/MPP/KEP/9/2002 tanggal 23 September 2002.
Pabrik gula Kebun Agung adalah satu-satunya produsen dalam penelitian ini, menghasilkan gula kristal putih dengan proses sulfitasi, kapasitas giling 3000 ton tebu per hari. Pada tahun 2004 tebu digiling 832.010 ton, produksi gula 60.175 ton, rendemen 7,23%. Dari operasional tersebut didapat keuntungan perusahaan berturut-turut Rp. 29.371.188.050, tahun 2004. Rp. 25.523.035.514 tahun 2003, Rp. 25.707.195.900 tahun 2002 (rata-rata dalam tiga tahun Rp. 26.867.139.820). Untuk tahun 2004 didapat Gross Margin 45,45%, Operating Margin 40,79%, Profit Margin 54,55%. Pada kondisi ini bisa dikatakan sebagai suatu perusahaan yang sehat. Pesaing PG.Kebon Agung ialah PG.Krebet Baru. Dalam evaluasi didapat Pg.Kebon Agung mempunyai total skor 3,20 sedang PG.Krebet Baru 2,70. Obyek yang dinilai ialah Pangsa pasar, Penerapan harga, Posisi keuangan, Kualitas produksi serta Kapasitas giling. Harga pokok penjualan (HPP) mengacu pada angka-angka 2004.
Pabrik gula (produsen) Rp. 3.398,-. Dijual ke Pedagang besar Rp. 3.606,-. Dari Pedagang besar ke Grosir Rp. 4.356,-. Dari Grosir ke Pengecer Rp. 4.554,-. Dari pengecer ke konsumen Rp. 4.950,-. Di tingkat penyalur, Net profit Margin yang didapat ialah: tingkat pedagang besar 8,32%, tingkat grosir 3,00%, tingkat pengecer 5,61%.
Biaya terbesar (dalam struktur komponen biaya) di tingkat Pedagang besar ialah biaya transportasi, yaitu biaya muat 32,9%, biaya angkut 24,7% dan biaya bongkar 32,9%. Di tingkat Grosir juga biaya transportasi, yaitu biaya muat 37,42%, biaya angkut 28,06% dan biaya bongkar 22,45%. Di tingkat Pengecer biaya transportasi, yaitu biaya muat 18,91%, biaya angkut 4,73% dan biaya bongkar 7,09%.
Sedang di pos upah karyawan, pekerja dll sebesar 47,29%. Besarnya hal ini bisa dimengerti mengingat jumlah barang yang dijual cukup kecil jumlahnya (hanya 200 kg/minggu).
Dari hasil penelitian ini dapat direkomendasikan perlunya pemangkasan jalur distribusi yang ada sekarang. Dengan adanya modifikasi penyaluran didapat penghematan biaya distribusi sebesar Rp.3.141.736.750,- (lebih dari 3 Milyar rupiah) dalam 1 tahun operasional (1 musim giling).

Januari 23, 2008 at 5:24 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kalender

Oktober 2014
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.