Posts filed under ‘Manajemen Agribisnis’

Analisis Fluktuasi Harga Pisang Agung Produksi Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang

Program pengembangan hortikultura di Jawa Timur bertujuan meningkatkan produksi dan mutu produk unggulan yang berdaya saing, mengembangkan berbagai produk untuk mendukung diversifikasi pangan, mendorong perkembangan ekonomi daerah dan nasional, mengembangkan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan devisa serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengembangkan sistem dan usaha agribisnis hortikultura melalui penerapan paket teknologi sesuai standar prosedur operasional disetiap tingkatan kegiatan.
Melalui pendekatan agribisnis dari tahun ketahun produksi hortikultura telah menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan, namun baik secara kuantitatif maupun kualitatif produksi tersebut belum seimbang dengan pertumbuhan permintaan baik dalam negeri maupun permintaan dari luas negeri. Permintaan di dalam negeri terutama disebabkan oleh pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, kesadaran masyarakat akan gizi serta perkembangan agroindustri dan pariwisata.
Paimin (1994) mengungkapkan, walaupun pemerintah memberikan peluang dalam hal impor buah buahan sehingga vlume impor meningkat, namun kebutuhan buah secara nasional belum tercukupi. Konsumsi buah-buahan penduduk Indonesia pada tahun 1995 baru mencapai 35 kg per kapita per tahun (Effendi 1997). Sedangkan menurut ketentuan badan dunia (FAO) konsumsi ideal untuk buah buahan sebanyak 64 kg per kapita per tahun, dan konsumsi masyarakat Indonesia terhadap buah pisang menurut data Susenas tahun 2002 baru mencapai 7,80 kg per kapita per tahun jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi pisang di Negara maju (Amerika Serikat) yang mencapai 22,05 kg per kapita per tahun. Dengan demikian potensi permintaan buah-buahan termasuk pisang masih cukup besar seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi buah-buahan.
Indonesia merupakan salah satu negara pemasok buah buahan trofis, namun perannya masih sangat kecil yaitu kurang dari 1 persen (Winarno 1996). Walaupun buah buahan trofis asal Indonesia telah memasuki pasaran dunia, akan tetapi jumlahnya sangat kecil akibat kemampuan suplai yang rendah dan tidak kontin, padahal permintaan buah buahan trofis segar dunia hususnya negara negara Eropa, Amerika dan Asia mengalami peningkatan 10,8 persen per tahun (Winarno 1996).
Jawa Timur terkenal sebagai Propinsi penghasil buah buahan eksotik, salah satu diantaranya yang mempunyai nilai ekonomis dan sedang berkembang dengan pesat adalah pisang, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan.
Kabupaten Lumajang yang terenal dengan sebutan kota pisang terdiri dari 21 kecamatan sebagian besar merupakan sentra pisang dengan memiliki luas 2644 ha dengan produksi 29,546 ton per tahun. Beberapa varietas pisang yang dikembangkan di Kabupaten Lumajang diantaranya, Agung Semeru, Mas Kirana, Raja Lumut, Ambon, Susu, Embug dan sebagainya. Diantara varietas pisang tersebut di atas, salah satu yang mempunyai harga stabil dan sangat menguntungkan bagi petani adalah pisang Mas Kirana, hal ini dikarenakan sistem pemasaran pisang mas kirana telah dilakukan melalui pola kemitraan dengan PT Sewu Segar Nusantara Jakarta. Sedangkan untuk varietas yang lain masih mengalami kendala pemasaran sehingga harga sangat berfluktuasi.
Dalam rangka pengembangan produk pertanian tidak cukup hanya memperbaiki cara berusahatani aja, melainkan harus diikuti dengan usaha penyempurnaan di bidang pemasaran karena pasar adalah merupakan salah satu syarat pokok bagi pengembangan usaha agribisnis. Menurut Ainurrofik (1984) pemasaran merupakan kegiatan yang penting dalam menjalankan usaha pertanian, karena pemasaran merupakan tindakan ekonomi yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya pendapatan petani. Penanaman pisang dilakukan oleh banyak petani dan lokasinya tersebar di beberapa desa, sehingga dalam melakukan distribusi kepada konsumen banyak melibatkan lembaga perantara mulai dari pedagang pengumpul tingkat desa, kecamnatan dan lembaga perantara tingkat kabupaten. Keterlibatan lembaga perantara tersebut mempunyai peranan penting dalam rangka memperlancar penyampaian pisang dari petani ke konsumen. Akan tetapi menurut Saifuddin (1982) terdapat perbedaan kepentingan diantara para pelaku pasar, yaitu petani produsen yang menghendaki harga tinggi, lembaga perantara ingin mendapatkan keuntungan yang besar dan konsumen menghendaki harga yang murah. Disebutkan juga oleh Saifudin (1982) bahwa dalam pemasaran yang efisien akan tercipta kepuasan bagi produsen, lembaga pemasaran dan konsumen.

Januari 3, 2008 at 7:19 am Tinggalkan komentar

Analisis Nilai Tambah, Efisiensi dan Saluran Pemasaran Agroindustri Emping Melinjo di Kecamatan … Kabupaten … “

Pembangunan pertanian di Kabupaten … merupakan prioritas pembangunan daerah yang mempunyai keunggulan komparatif sebagai daerah agraris. Sektor pertanian meliputi subsektor tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan serta subsektor perkebunan. Perekonomian di Kabupaten … didominasi oleh sektor pertanian, yang menyumbang PDRB sebesar 47,16%, sektor perdagangan/restoran sebesar 25,75% sedangkan sektor industri pengolahan hanya menyumbang sebesar 3,11% pada tahun 2003. Demikian juga dengan industri pengolahan emping melinjo yang mempunyai banyak peluang untuk diusahakan. Selain itu emping melinjo merupakan sektor industri kecil yang potensial, mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan berprospek cerah untuk diusahakan. Emping melinjo merupakan salah satu komoditas ekspor nonmigas. Jumlah ekspor emping melinjo berfluktuatif yang disebabkan karena usaha agroindustri tersebut masih bersifat industri kecil (skala rumah tangga).
Permasalahan penelitian ini adalah berapa besar nilai tambah yang diberikan agroindustri emping melinjo, berapa besar keuntungan dan efisiensi yang diberikan agroindustri emping melinjo serta bagaimana sistem dan saluran pemasaran pada agroindustri emping melinjo tersebut.
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar nilai tambah yang diberikan agroindustri emping melinjo, untuk mengetahui keuntungan dan efisiensi yang diberikan agoroindustri emping melinjo serta untuk mengetahui sistem dan saluran pemasaran pada agroindustri emping melinjo tersebut. Sehingga hipotesis yang didapat yaitu : diduga bahwa agroindustri emping melinjo di daerah penelitian akan memberikan nilai tambah, keuntungan dan efisiennsi yang besar, diduga bahwa sistem dan saluran pemasaran di daerah penelitian belum efisien.
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive) di Desa Bakung dan Desa Besuki Kecamatan … Kabupaten … karena daerah ini merupakan salah satu sentra agroindustri pengolahan emping melinjo dan pengambilan sampel menggunakan metode sensus. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode wawancara dengan responden. Sedangkan data sekunder diperoleh dari perpustakaan dan instansi terkait yaitu Kantor Kepala Desa Bakung dan Desa Besuki Kecamatan … Kabupaten … serta hasil-hasil penelitian terdahulu. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu analisis yang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena sosial ekonomi yang melatarbelakangi fenomena-fenomena yang ada. Sedangkan analisis kuantitatif yang digunakan meliputi analisis penerimaan, analisis keuntungan, analisis nilai tambah dan imbalan tenaga kerja serta analisis efisiensi agroindustri emping melinjo.
Dari hasil penelitian didapat bahwa keuntungan yang didapat oleh agroindustri skala rumah tangga sebesar Rp. 19.690,54 dan skala kecil sebesar Rp. 47.449,55. Dari tabel analisis nilai tambah antara skala industri rumah tangga dan industri kecil mempunyai nilai yang berbeda yaitu sebesar 1362,48 untuk skala rumah tangga dan 1602,90 untuk skala kecil. Perbedaan nilai ini dikarenakan adanya perbedaan kemampuan memproduksi emping melinjo. Nilai R/C rasio yang didapat oleh industri skala rumah tangga sebesar 1,10 dan skala kecil sebesar 1,15. Dengan demikian maka industri emping melinjo skala kecil lebih efisien dan lebih menguntungkan untuk diusahakan dibanding skala rumah tangga. Saluran pemasaran yang ada di daerah penelitian ada 4 yaitu antara pengrajin langsung ke konsumen, kedua yaitu pengrajin – pengecer – konsumen, ketiga antara pengrajin – pedagang pengumpul lokal – pengecer – konsumen, dan yang terakhir yaitu antara pengrajin – pedagang pengumpul – pedagang besar – pengecer – konsumen.

Januari 3, 2008 at 7:18 am 1 komentar

Strategi Pengembangan Dan Analisis Pendapatan Agroindustri Gula Semut. (Studi Kasus Di Desa …, Kecamatan …, Kabupaten …).

Industrialisasi pedesaan merupakan suatu proses yang dicirikan dengan penggunaan alat-alat mekanis dalam sektor pertanian dan semakin berkembangnya industri pengolahan hasil-hasil pertanian. Dampak dari industrialisasi tersebut dapat diwujudkan melalui keterkaitan yang saling menguntungkan antara petani produsen dengan industri pengolahan dalam mewujudkan pembangunan ekonomi pedesaan.
Kabupaten … merupakan salah satu daerah penghasil gula semut di Jawa Timur, sebagian masyarakatnya telah mengusahakan usaha ini lebih dari 20 tahun dan bersifat turun-temurun, Desa … salah satunya. Namun keberadaan agroindustri ini ternyata belum mampu menjalankan perannya secara optimal. Produsen harus mengahabiskan waktu yang cukup lama untuk mengembangkan usahanya ini, bahkan ada dari mereka yang tidak bertahan dalam usaha ini. Faktor yang menyebabkan antara lain modal yang terbatas, pasar yang masih lokal daerah, teknologi belum modern. Faktor-faktor tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada kualitas, kuantitas maupun kontinyuitas produksi gula semut yang dihasilkan masih rendah sehingga keuntungan yang diperoleh produsen gula semut tidak bisa maksimal. Akan tetapi produsen yang mampu memanfaatkan peluang-peluang ekonomi dan memiliki strategi dalam mengusahakan agroindustri gula semut akan mampu bertahan bahkan dapat meningkatkan pendapatan dan skala usaha.
Melihat kenyataan yang ada maka perlu diadakan penelitian mengenai strategi pengembangan dan analisis pandapatan agroindustri gula semut untuk mengetahui keuntungan yang didapatkan dari usaha ini dan juga sejauh mana agroindustri ini mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi sebagai upaya untuk tetap menjaga profitabilitas, pertumbuhan dan kelangsungan usaha serta peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya produsen gula semut dan peningkatan perekonomian masyarakat desa melalui pemilihan strategi pengembangan usaha yang tepat.
Permasalahan yang akan dikaji adalah: (1). Apakah kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang harus dihadapi oleh agroindustri gula semut. (2) Strategi apakah yang akan digunakan produsen untuk mengembangkan agroindustri gula semut. (3) Berapa besarnya pendapatan, keuntungan dan R C Ratio agroindustri gula semut.
Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang terdapat dalam agroindustri dan untuk merumuskan strategi apa yang sesuai digunakan produsen dalam upaya mengembangkan agroindustri gula semut serta menganalisis besarnya pendapatan, keuntungan agroindustri gula semut dan RC Ratio
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga agroindustri gula semut faktor kekuatan dan peluang lebih besar dibandingkan dengan kelemahan dan ancaman.
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja. Pengambilan sampel (responden) dilakukan secara sensus. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah kuantitatif menggunakan analisis pendapatan, keuntungan usaha dan analisis efisiensi usaha/RC Ratio. Biaya produksi dihitung dengan rumus TC = TFC+TVC, pendapatan kotor atau penerimaan dirumuskan dengan TR=PqXQ dan pendapatan bersih atau keuntungan adalah  = TR-TC, RC Ratio = Pq.Q/TVC + TFC. Jumlah responden sebanyak 8 orang.
Dari analisis SWOT didapatkan bahwa faktor internal yang mempengaruhi dilihat dari kekuatan adalah sebagai sarana peningkatan kesejahteraan, tenaga kerja berpengalaman, produk tahan lama, kemampuan memimpin usaha, ciri khas produk. Sedangkan kelemahan yang dimiliki antara lain keterbatasan modal, teknologi gabungan, produksi belum stabil, kualitas belum terstandarisasi, keterkaitan on farm dan off farm belum mantap. Nilai dari faktor internal yaitu 2,70 artinya agroindustri ini mampu dalam menghadapi dinamika lingkungan internal.
Dari faktor eksternal didapatkan peluang antara lain: kemudahan dalam memperoleh bahan baku, penganekaragaman produk, penelitian dan pengembangan, sarana transportasi lancar, penyerapan hasil pertanian. Sedangkan ancaman yang didapatkan antara lain: adanya pesaing, adanya barang substitusi, pangsa pasar masih lokal, harga murah, selera konsumen. Nilai dari faktor eksternal yaitu 2,55 artinya agroindustri gula semut mampu menghadapi perubahan yang terjadi di lingkungan eksternal perusahaan.
Pendapatan kotor atau penerimaan yang diterima sebesar Rp. Rp. 2.681.250,00. Keuntungan atau pendapatan bersih yang diterima sebesar Rp. 188.727,50 per sekali produksi. Analisis efisiensi usaha atau RC Ratio menunjukkan sebesar 1,08. Artinya setiap Rp. 1,00 yang diinvestasikan oleh produsen akan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 1,08.
Berdasarkan temuan di lapang, ada beberapa saran yang diajukan dalam membantu produsen dalam mengembangkan usahanya antara lain: (1) Produsen gula semut melakukan survey pasar untuk melihat prospek perlusan pasar ke depannya. (2) Dengan menerapkan strategi pengembangan yang tepat maka produsen gula semut di daerah penelitian akan dapat meningkatkan usahanya.

Januari 3, 2008 at 7:15 am Tinggalkan komentar

Analisis Usaha Padi Sawah dengan Menggunakan Urea Tablet Studi di Desa Tisnogambar Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember

Penelitian dilakukan di desa Tisnogambar kecamatan Bangsalsari kabupaten Jember. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive karena desa Tisnogambar memiliki otensi padi sawah yang cukup besar dan hal ini didukung dengan adanya jaringan irigasi teknnis untuk seluruh lahan sawah.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan besarnya biaya, penerimaan, keuntungan dan tingkat efisiensi antara kelompok petani pengguna urea prill dengan kelompok petani pengguna urea tablet. Sampel diambil masing-masing kelompok sebanyak 30 orang secara simple random sampling dari populasi yang ada.
Dari hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut : Biaya total kelompok pengguna urea prill ternyata lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan kelompok pengguna urea tablet, sehingga biaya mencapai Rp 90.000/ha. Produksi kelompok pengguna urea tablet lebih besar daripada produksi yang dihasilkan oleh kelompok pengguna uera Prill. Selisih produksi tersebut mencapai 670 kg gabah per ha. Hal ini akan mempengaruhi adanya perbedaan besarnya apenerimaan. Penerimaan kelompok pengguna urea tablet lebih besar Rp 1.001.800 dibanding penerimaan kelompok pengguna urea Prill. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan adanya perbedaan produksi, tetapi juga disebabkan oleh perbedaan harga gabah diantara kedua kelompok. Harga gabah yang dihasilkan kelompok pengguna urea tablet lebih mahal Rp 20,- dibanding harga gabah dari kelompok pengguna urea Prill. Hal ini menandakan bahwa mutu gabah yang dihasilkan kelompok pengguna urea tablet lebih baik.
Pada kedua kelompok sampel terdapat perbedaan tingkat efisiensi usaha yaitu efisiensi kelompok pengguna urea tablet ( 1,889 ) lebih besar daripada tingkat efisiensi kelompok pengguna urea Prill ( 1,657 ).
Dari hasil analisis statistik diperoleh fakta bahwa t hitung < t tabel ( 0,1948 < 2,0 ) untuk dk = 58 dan tingkat kesalahan 5%, sehingga Ho yang menyatakan tidak terdapat perbedaan tingkat efisiensi usaha anata kelompok petani pengguna urea Prill dengan kelompok petani pengguna urea tablet harus diterima. Artinya walaupun pada kasus sampel terjadi perbedaan tingkat efisiensi tetapi hal itu hanya terbatas terjadi pada sampel saja dan hal ini tidak berlaku pada anggota populasi yang lain. Jadi dengan perkataan lain, perbedaan tersebut tidak signifikan.

Januari 3, 2008 at 7:14 am Tinggalkan komentar

Analisis pola kemitraan budidaya ayam pedaging pada kud ”sari bumi”… Kabupaten …

Pengumpulan data penelitian dilaksanakan di KUD ”Sari Bumi” … Kabupaten …. Masalah penelitian adalah bagaimana mekanisme kerjasama kemitraan antara KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging, bagaimana sistem kesepakatan harga sarana produksi dan hasil produksi kemitraan KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging, bagaimana bentuk perjanjian kerjasama antara KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging dan bagaimana pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak ayam pedaging KUD “Sari Bumi”.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui mekanisme kerjasama kemitraan antara KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging, mengetahui sistem kesepakatan harga sarana produksi dan hasil produksi kemitraan KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging, mengetahui bentuk perjanjian kerjasama antara KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging dan mengetahui pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak ayam pedaging KUD “Sari Bumi”. Kegunaan penelitian adalah sebagai petunjuk bentuk kerjasama yang sebaiknya diterapkan dalam hubungan peternak dengan KUD dalam rangka melaksanakan kemitraan yang berkelanjutan, sebagai bahan informasi serta pertimbangan bagi KUD dalam menyusun dan menetapkan kebijakan untuk pembangunan usaha dan pembinaan peternak, sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan keputusan yang diambil peternak untuk pengembangan usaha serta sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai yang digunakan untuk mengumpulkan data primer. Pengumpulan data primer diperoleh dari KUD “Sari Bumi” dan dari peternak plasma anggota kemitraan dengan menggunakan instrumen observasi, wawancara dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka. Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif dianalisis secara deskriptis, sedangkan data kuantitatif dianalisis secara eksplanatif dengan perhitungan rumus – rumus ekonomi.Teknik pemilihan sampel dilakukan secara judgemental sampling dengan jumlah sampel 30 responden. Variabel yang diamati adalah Variabel bebas meliputi; jumlah penguasaan ternak (ekor) serta uang muka.Variabel tidak bebas; jumlah pendapatan peternak plasma.
Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan pola kemitraan usaha ayam pedaging pada KUD “Sari Bumi” merupakan pola kemitraan inti plasma. Besarnya harga sarana produksi ditentukan berdasarkan harga pasar yang setiap harinya berfluktuasi (berubah – ubah) artinya KUD tidak memberikan harga garansi terhadap harga jual input (pakan, DOC, Obat) dan output (ayam pedaging). Koperasi Unit Desa berperan sebagi inti yang bertanggung jawab dalam pemasokan sarana produksi berupa pakan, DOC dan obat – obatan serta bertanggung jawab dalam pemasaran hasil produksi dan bimbingan teknis. Peternak plasma bertanggung jawab dalam proses produksi untuk menghasilkan ayam pedaging hidup. Kerjasama kemitraan hanya dilakukan secara lesan tanpa adanya bukti tertulis yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Mekanisme kerjasama kemitraan meliputi tahapan kerjasama kemitraan unit unggas KUD “Sari Bumi”, persyaratan peternak plasma, penetapan harga sarana produksi dan hasil produksi, peta hak dan kwajiban antara KUD dan peternak, pola pengawasan KUD, kedudukan inti – plasma dalam kemitraan KUD, pola pengaturan produksi, bonus dan tabungan koperasi (takosi), teknis produksi, sanksi, pemasaran dan permasalahan – permasalahan produksi. Pelaksanaan kemitraan KUD dalam meningkatkan kesejahteraan peternak belum sepenuhnya tercapai, misalnya banyak peternak yang berhenti usaha karena rugi dan tidak mampu mambayar hutang ke KUD. Permasalahan dalam kemitraan contohnya adalah keterlambatan pakan dan umur panen, kualitas pakan yang diberikan jelek, kurangnya pengawasan dan bimbingan teknis. Rata – rata FCR ayam pedaging yang diusahakan peternak yaitu 1,9. Sedangkan angka mortalitas ayam pedaging mencapai angka yang cukup tinggi yaitu 6,2 persen. Prosentase modal terbesar dialokasikan pada pengadaan pakan. Struktur biaya produksi dibedakan menjadi 3 strata. Biaya produksi per kilogram bobot ayam pedaging hidup pada masing – masing strata adalah pada strata I sebesar Rp. 8145,13, strata II sebesar Rp. 7280,53 dan strata III sebesar Rp. 7195,44, Pendapatan per kilogram ayam pedaging pada strata I sebesar Rp. 28,07, strata II Rp. 120,72 dan strata III sebesar Rp. 314,91. Rentabilitas pada strata I, II dan III masing – masing adalah 0,43 persen, 1,48 persen dan 4,15 persen.
Saran dalam penelitian ini diantaranya adalah isi perjanjian kerjasama kemitraan sebaiknya dibuat secara saling menguntungkan antara KUD dan peternak plasma, misalnya persamaan kedudukan dalam bergainning position antara KUD dan peternak , penetapan uang muka yang lebih murah, sistem bonus berdasarkan FCR. KUD sebaiknya merubah kesepakatan harga kemitraan dengan memberikan harga garansi sapronak dan hasil produksi, sehingga dapat meminimalisir kerugian peternak akibat fluktuasi harga. Bentuk perjanjian kerjasama kemitraan sebaiknya dibuat secara tertulis sehingga lebih terinci peta hak dan kwajiban antara KUD dan peternak plasma serta dapat dipertanggung jawabkan secara hukum yang berlaku. Peternak sebaiknya terus mengembangkan usaha ternak ayam pedagingnya dengan memperbasar skala usahanya.

Januari 3, 2008 at 7:13 am 2 komentar

Analisis Kinerja Jalur Pemasaran Dan Prospek Pasar Susu Kambing (Studi di Agriculture Technical Misión Republic of China)

Tujuan Penelitian adalah untuk menganalisis kinerja jalur pemasaran dan prospek pasar susu kambing di ATM-ROC. Kegunaan dari penelitian ialah sebagai informasi bagi produsen untuk mengetahui tingkat efisiensi pemasaran susu kambing, pertimbangan untuk menetapkan kebijakan yang diambil produsen guna pengembangan usaha selanjutnya dan informasi untuk penelitian selanjutnya.
Metode penelitian menggunakan metode studi kasus (case study). Pengambilan sample lembaga pemasaran dilakukan secara total sampling, sedangkan sample konsumen dilakukan secara accidental sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, kuisioner dan observasi. Analisis data berupa analisis secara deskriptif, analisis harga yang diterima produsen, analisis share keuntungan dan biaya lembaga pemasaran, analisis margin pemasaran, analisis pendekatan structure, conduct and Market performance (S-C-P) dan analisis SWOT.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 2 tipe saluran pemasaran susu kambing, yaitu : (1) Produsen  konsumen akhir dan (2) produsen pedagang pengecer konsumen akhir. Harga jual susu pasteurisasi dan yoghurt berkisar antara Rp 3.500 sampai Rp 4.500 per cup (220 ml) dan Rp 6.000 sampai Rp 6.500 per cup (220 ml). Besarnya margin pemasaran berbeda pada masing-masing pedagang pengecer dengan kisaran Rp 1.000 per cup (220 ml) sampai Rp 2.500 per cup (220 ml) untuk susu pasteurisasi dan yoghurt, sedangkan margin pemasaran untuk susu segar sebesar Rp 8.000 per liter. Share yang diterima produsen untuk produk susu segar sebesar 60 persen, share dari susu pasteurisasi berkisar antara 55,56 sampai 71,43 persen, dan share dari yoghurt sebesar 61,54 dan 66,67 persen. Keuntungan dan distribusi margin masing-masing pedagang menunjukkan perbedaan yang disebabkan oleh aktifitas kegiatan fungsi pemasaran yang dilakukan dan tujuan usaha pedagang. Evaluasi dengan pendekatan struktur, perilaku dan penampilan pasar menunjukkan belum efisien dengan indikator penilaian antara lain: margin pemasaran, harga produk, tingkat keuntungan, tersedianya fasilitas pemasaran dan intensitas persaingan. Evaluasi dengan metode SWOT menunjukkan prospek pasar yang cukup besar dengan pertimbangan alternatif solusi antara lain: peningkatan kegiatan promosi, perbaikan manajemen sumber daya manusia dan peninjauan kembali visi dan misi usaha, meningkatkan mutu pelayanan pemasaran dan kontinuitas produk, dan perbaikan kinerja perusahaan dengan strategi pemasaran baru.
Kesimpulan dari hasil penelitian ialah kinerja jalur pemasaran belum efisien (efisiensi rendah) dan prospek pasar yang cukup besar apabila didukung dengan strategi pemasaran baru. Saran dari peneliti antara lain: kegiatan promosi menggunakan media radio berupa iklan dan brosur, perluasan pasar dengan pembukaan jalur distribusi baru, meningkatkan mutu pelayanan dan kontinuitas produk, perbaikan kepemimpinan dan profesionalitas, rekrutment tenaga pemasaran dan alternatif lain transaksi pembayaran.

Januari 3, 2008 at 7:13 am 1 komentar

Analisis Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Dan Implikasinya Terhadap Volume Penjualan Pada Perusahaan Susu Farida Di Desa … Kecamatan … Kabupaten .

Penelitian dilaksanakan di perusahaan susu Farida di desa … kecamatan … Kabupaten …. Tujuan penelitian adalah mendiskripsikan pelaksanaan bauran pemasaran dan untuk menetahui implikasi bauran pemasaran terhadap volume penjualan susu. Hasil penelitian ini diharapkan sebagai sumber informasi dan referensi tentang bauran pemasaran dan sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam membuat kebijakan pemasaran.
Penelitian bersifat kuantitatif dengan menggunakan metode studi kasus untuk memperoleh diskripsi kondisi tertentu dengan akumulasi data untuk membuktikan hipotesis. Tehnik pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan menggunakan metode interview, observasi, dan dokumentasi. Data diklasifikasikan menjadi dua yaitu data primer yang di dapatkan langsung dari perusahaan dan data sekunder dari dokumen, catatan, buku yang mendukung penelitian.
Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas (independent variable) yaitu biaya produksi, harga, biaya distribusi, dan biaya promosi dan variabel terikat (dependent variable) yaitu volume penjualan. Metode analisa data menggunakan analisa regresi linier berganda dan pengujian hipotesis dengan uji t dan uji f.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan Farida menerapkan strategi bauran pemasaran yang terdiri dari strategi produksi yaitu memproduksi susu segar dengan kualitas yang terjaga kemurniannya. Strategi harga yang digunakan adalah berdasarkan kesepakatan anggota ikatan para peternak sapi perah didaerah … untuk konsumen dan pengecer. Strategi distribusi yang diterapkan dengan menjual secara langsung susu segar di tempat dimana susu segar itu diproduksi, sedangkan strategi promosi dilakukan dengan menjaga kepercayaan pelanggan dan memberikan bonus setiap tahun dengan harapan pelanggan mensosialisasikan produk dengan komunikasi person to person.
Implikasi bauran pemasaran terhadap volume penjualan dilakukan dengan perhitungan secara statistik pada masing-masing lembaga pemasaran. Bauran pemasaran berimplikasi pada volume penjualan pada pegecer, konsumen, dan KUD secara simultan masing-masing sebesar 55,8 persen; 89,6 persen dan 93,2 persen pada tingkat signifikansi 0,05. Sedangkan secara parsial yang berimplikasi terhadap volume penjualan adalah biaya produksi sebesar Rp 0,681 pada pengecer, Rp 0,672,- pada konsumen, dan Rp 0,719,- pada KUD.
Kesimpulan penelitian bahwa strategi bauran pemasaran yang diterapkan pada perusahaan susu Farida cukup efektif dan bauran pemasaran mempunyai implikasi yang signifikan terhadap volume penjualan. Saran yang dapat diberikan adalah perlunya penelitian lebih lanjut mengenai besarnya pengaruh harga dan biaya distribusi terhadap volume penjualan dan hendaknya perusahaan meningkatkan kualitas susu serta memperluas jaringan pemasaran.

Januari 3, 2008 at 7:12 am Tinggalkan komentar

Analisa Total Quality Management Dan Kinerja Koperasi Persusuan (Studi Kasus Koperasi “SAE” Kecamatan …, Kabupaten …)

Penelitian tentang analisa Total Quality Management dilakukan di Koperasi Sinau Andandani Ekonomi (Koperasi “SAE”) Kecamatan …, Kabupaten …. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penerapan konsep Total Quality Management (TQM) di Koperasi “SAE”, mengetahui kinerja keuangan koperasi melalui analisis finansial, dan keuntungan serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam penerapanTQM. Penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan masukan dan perbandingan bagi koperasi dalam melaksanakan TQM sehingga dapat mencapai keuntungan maksimal.
Metode penelitian menggunakan metode studi kasus. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive sampling yakni subjek sudah diketahui sifat-sifat atau ciri tertentunya. Variabel yang diamati adalah pilar organisasi, kepemimpinan, komitmen, proses dan produk di Koperasi “SAE” serta analisa finansial melalui perhitungan rasio manajemen aktiva, manajemen hutang, profitabilitas dan rasio likuiditas.
Hasil penelitian, penerapan TQM pada Koperasi ”SAE” ada lima pilar yaitu organisasi dengan cara bottom up yaitu mengangkat aspirasi dari bawah ke atas,dan sistem desentralisasi. Kepemimpinan dengan cara partisipatif, sasaran kerja yang jelas, penghargaan kepada setiap usaha dan saluran komunikasi yang lancar. Pilar komitmen, bekerja berorientasi terhadap produk dan pelanggan (konsumen). Pengendalian dan pengawasan terhadap bahan baku, proses produksi dan pasca produksi yang menerapkan sanitasi dan pengujian secara menyeluruh merupakan penerapan TQM pada pilar proses. Pada pilar produk dengan cara menjaga kualitas susu segar, memperluas pangsa pasar untuk mencegah kelebihan produk dan menjalin hubungan yang erat dengan pelanggan.
Keuntungan Koperasi ”SAE” dari tahun 2002, 2003, 2004, dan 2005 secara berturut-turut adalah Rp.718.185.641,-; Rp.735.897.461,74; Rp. 419.790.260,30 dan Rp.768.585.506,11. Nilai current ratio tertinggi terdapat pada tahun 2003 sebesar 254,16%,nilai terendah terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 222,83%. Nilai quick ratio tertinggi terdapat pada tahun 2003 yaitu sebesar 229,58%, nilai terendah terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 206,50%. Nilai rasio perputaran persediaan koperasi tertinggi terdapat pada tahun 2003 yaitu 57,50 kali, nilai terendah terdapat pada tahun 2005 yaitu sebesar 44,90 kali. Nilai Rata-rata umur piutang tertinggi terdapat pada tahun 2004 yaitu 44 hari, nilai terendah terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 33 hari. Nilai rasio perputaran aktiva tetap tertinggi terdapat pada tahun 2005 yaitu sebesar 12,20 kali, nilai terendah terdapat pada tahun 2003 yaitu sebesar 10,70 kali Nilai rasio perputaran total aktiva tertinggi terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 3,50 kali dan nilai terendah terdapat pada tahun 2005 yaitu sebesar 2,45 kali. Nilai gross profit margin (GPM) tertinggi terdapat pada tahun 2005 sebesar 12,35%, nilai terendah terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 10,50%.
Nilai net profit margin (NPM) tertinggi terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 1,15%, nilai terendah terdapat pada tahun 2004 yaitu sebesar 0,69%. Nilai return on investment (ROI) tertinggi terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 3,40%, nilai terendah terdapat pada tahun 2004 yaitu sebesar 1,27%. Nilai retun on equity (ROE) tertinggi terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 4,90% dan nilai terendah pada tahun 2004 sebesar 2,26%. Rasio total hutang tertinggi terdapat pada tahun 2004 yaitu sebesar 43,60%, nilai terendah terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 30,70%. Nilai total debt to total equity tertinggi terdapat pada tahun 2004 yaitu sebesar 77,30%, nilai terendah terdapat pada tahun 2002 yaitu sebesar 44,70%.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pelaksanaan TQM di Koperasi ”SAE” sudah berjalan cukup baik dan kinerja keuangan pada Koperasi ”SAE” menunjukkan nilai tertinggi pada tahun 2002 dan paling rendah terdapat pada tahun 2004. Saran yang dapat diberikan yaitu koperasi dapat menerapkan konsep TQM secara optimal dengan cara merangkul anggota yang tidak aktif sehingga anggota dapat menjadi aktif kembali, mengadakan pelatihan bagi karyawan dan anggota mengenai kepemimpinan dan inovasi beternak yang lebih baik serta perluasan pemasaran sehingga tercapai keuntungan maksimal.

Januari 3, 2008 at 7:11 am Tinggalkan komentar

Analisis Profitabilitas Usaha Peternakan Ayam Petelur Di Talangsuko Farm Desa Talangsuko Dan Padi Farm Desa Padi Kecamatan … Kabupaten …

Penelitian ini dilaksanakan pada usaha peternakan Talangsuko Farm di desa Talangsuko dan Padi Farm di desa Padi kecamatan … Kabupaten … mulai tanggal 5 Juli sampai dengan 5 Agustus 2005. Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah bahwa kedua usaha peternakan tersebut belum pernak dilakukan analisa profitabilitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis besarnya biaya produksi per satuan (Rp/kg), keuntungan per satuan (Rp/kg) serta tingkat profitabilitas pada kedua peternakan. Keguanaan dari hasil penelitian ini adalah diharapkan dapat digunakan sebagai bahan perencanaan usaha serta sebagai pengaturan faktor-faktor produksi dalam upaya peningkatkan keuntungan perusahaan. Materi dari penelitian ini adalah usaha peternakan ayam petelur.
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Data penelitian yang diambil adalah data kuantitatif, berupa data primer dan data sekunder dari peternakan. Data tersebut meliputi data produksi telur ayam dan biaya-biaya produksi yang dikeluarkan kedua peternakan. Analisis data yang dipakai adalah analisis deskriptif.
Hasil penelitian diperoleh bahwa untuk total biaya produksi pada Talangsuko Farm adalah sebesar Rp.11.284.635.764,47,-/periode atau sebesar Rp.6.308,45,-/kg. Total biaya produksi pada Padi Farm adalah sebesar Rp.6.982.114.675,08,-/tahun atau sebesar Rp. 6.813,67,-/kg. Keuntungan Talangsuko yang didapatkan sebesar Rp.1.100.137.548,01,-/tahun atau sebesar Rp.615,01,-/kg. Padi Farm memperoleh keuntungan sebesar Rp.137.053.702,17,-/tahun atau sebesar Rp.133,75,-/kg. Hasil profitabilitas yang telah dihitung didapatkan bahwa profitabilitas yang berkaitan dengan penjualan yakni nilai Gross Profit Margin (GPM) pada Talangsuko Farm 8,97 % dan Padi Farm 2,05 %, Operating Ratio (OR) pada Talangsuko Farm sebesar 91,12 % dan Padi Farm 98,07 %, Net Profit Margin (NPM) pada Talangsuko Farm sebesar 8,88 % dan Padi Farm 1,93 %. Profitabilitas yang berkaitan dengan investasi yakni nilai Rentabilitas ( R ) pada Talangsuko Farm sebesar 9,36 % dan Padi Farm sebesar 1,91 %. Nilai Turn Over of Assets (TOA) Talangsuko Farm sebesar 1,05 kali dan Padi Farm sebesar 0,99 kali. Nilai TOA pada kedua peternakan masih belum sesuai dengan standar industri yaitu sebesar 1,5 kali.
Kesimpulan yang dapat diambil yakni kedua peternakan masih dapat menjalankan kegiatan operasional perusahaan meskipun jumlah keuntungan yang didapatkan tergolong rendah. Sebagai saran diharapkan kedua peternakan berusaha untuk meminimalkan biaya produksi dari pemberian gaji bagi tenaga kerja yang harus disesuaikan dengan standar gaji UMR sebesar Rp.500.000/bulan serta meningkatkan jumlah penjualan produk telur dan hasil sampingan lainnya supaya tingkat keuntungan yang didapatkan menjadi lebih tinggi.

Januari 3, 2008 at 7:11 am Tinggalkan komentar

Analisa Resiko Finansial Usaha Peternakan Ayam Pedaging Pada Peternak Plasma Kemitraan Kud “Sari Bumi” Di Kecamatan … Kabupaten …

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui resiko financial berdasarkan besarnya pendapatan dan efisiensi usaha peternakan ayam pedaging pada peternak plasma KUD Sari Bumi, serta untuk mengetahui besarnya tingkat resiko keuangan pada peternak plasma.
Metode yang digunakan adalah metode survey. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sebanyak 30 orang responden yang terbagi menjadi 3 strata berdasarkan jumlah kepemilikan ternak, dimana untuk strata I jumlah ternaknya kurang dari 1.268 ekor, strata II antara 1.268 hingga 3.208 ekor dan strata III sebanyak lebih dari 3.208 ekor. Data dianalisis secara kualitatif untuk memperoleh gambaran pelaksanaan kemitraan KUD dengan peternak dan analisa kuantitatif untuk mengambarkan analisa input – output. Besarnya keuntungan atau pendapatan dan tingkat efisiensi usaha yang diperoleh selama 1 tahun dan tiap periode produksi diukur dengan menggunakan analisa resiko financial yang meliputi Farm Financial Effeciency atau Operating Expense Ratio, Rasio Likuiditas (Current Ratio), Rasio Solvabilitas (Debt to Assets Ratio), Rasio Profitabilitas (Return on Assets and Return on Equity), Debt Coverage Ratio dan Analisa secara statitik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan kemitraan di KUD Sari Bumi merupakan kemitraan plasma inti. Penetapan harga input – output berdasarkan harga pasar yang berlaku atau tanpa ada harga kontrak. Nilai Operating Expenses Ratio selama I tahun dan tiap periode produksi pada strata I masing-masing sebesar 86,7% dan 86,5%, pada strata II masing-masing sebesar 86,3% dan 86,2% sedangkan pada strata III masing-masing sebesar 84,7% dan 84,8%. Nilai Current Ratio selama 1 tahun dan setiap periode pada strata I sebesar 1,03 dan 1,03, strata II sebesar 1,03 dan 1,03 dan strata III sebesar 1,05 dn 1,05. Nilai Debt to Assets Ratio selama 1 tahun dan tiap periode pada strata I sebesar 72,61% dan 72,51%, strata II sebesar 75,51% dan 74,62% sedangkan pada strata III sebesar 78,26% dan 77,66%. Nilai Return on Assets selama 1 tahun dan tiap periode produksi pada strata I sebesar 2,5% dan 2,7%, pada strata II sebesar 3,7% dan 3,7%, sedangkan pada strata III sebesar 6,4 dan 6,3. Nilai Return on Equity selama 1 tahun dan tiap periode pada strata I sebesar 1,1% dan 1,8%, strata II sebesar 6% dan 5,7%, pada strata II sebesar 18,8% dan 14,6%. Nilai Debt Coverage Ratio selama 1 tahun dan tiap periode pada strata I sebesar 18,9% dan 19,2%, pada strata II sebesar 19,4% dan 19,6%, sedangkan pada strata III sebesar 21,6% dan 21,9%. Selain itu, hasil perhitungan statistik analisa resiko finansial adalah sebagai berikut :
Nilai rata-rata hasil yang diharapkan atau keuntungan rata-rata selama 1 tahun dan tiap periode untuk strata I sebesar Rp 8.324.773,- dan Rp1.636.196,-; pada strata II sebesar Rp 21.783.408,- dan Rp 4.118.329,- sedangkan pada strata III sebesar Rp 60.975.382,- dan Rp 10.997.006,-
Nilai standart deviasi selama 1 tahun dan tiap periode untuk strata I sebesar Rp 4.083.320,- dan Rp 838.200,-; strata II sebesar Rp 9.199.784,- dan Rp 1.470.242,- sedangkan pada strata III sebesar Rp 19.066.524,- dan Rp 3.305.320,-
Nilai koefisien variasi selama 1 tahun dan tiap periode untuk strata I sebesar 49% dan 51%; strata II sebesar 42% dan 36% sedangkan pada strata III sebesar 31% dan 30%.
Nilai batas bawah selama 1 tahun dan tiap periode untuk strata I sebesar Rp 158.133,- dan Rp -40.204,-, strata II sebesar Rp 3.383.840,- dan Rp 1.177.846,- sedangkan strata III sebesar Rp 22.842.335,- dan Rp 4.386.366,-
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa besarnya pendapatan kotor yang paling tinggi baik selama 1 tahun maupun tiap periode pemeliharaan adalah pada strata III yang nilainya masing-masing sebesar Rp 424.477.675,- dan Rp 76.542.403,- sedangkan yang paling rendah adalah pada strata I yang masing-masing sebesar Rp 106.222.045,- dan Rp 20.883.791,-. Nilai pendapatan bersih selama 1 tahun dan tiap periode pemeliharaan yang paling tinggi adalah pada strata III yang nilainya masing-masing sebesar Rp 119.813.794,- dan Rp 20.761.226,- sedangkan nilai pendapatan yang paling rendah baik selama 1 tahun maupun tiap periode pemeliharaan adalah pada strata I yang nilainya masing-masing sebesar Rp 2.793.356,- dan Rp 898.132,- .Hasil perhitungan efisiensi usaha berdasarkan nilai Operating Expenses Ratio selama 1 tahun dan tiap periode menunjukkan bahwa skala usaha yang paling efisien adalah pada strata III yaitu sebesar 84,7% selama 1 tahun dan 84,8% rata-rata tiap periodenya, sedangkan yang paling tidak efisien yakni pada strata I yaitu sebesar 86,7% selama 1 tahun dan 86,5% rata-rata tiap periodenya. Berdasarkan nilai Coefficient of Variation maka strata I mempunyai tingkat resiko finansial yang paling tinggi yaitu sebesar 49% selama 1 tahun dan 51% rata-rata tiap periode pemeliharaan sedangkan strata III mempunyai tingkat resiko finansial yang paling rendah yaitu sebesar 31% selama 1 tahun dan 30% rata-rata tiap periode pemeliharaan.
Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan kepada peternak supaya menjalankan usaha pemeliharaan ayam pedaging pada strata usaha III sebab keuntungan yang diperoleh paling tinggi dan tingkat resiko finansial yang dhadapi paling rendah diantara kedua strata usaha lainnya.

Januari 3, 2008 at 7:10 am Tinggalkan komentar

Tulisan Lebih Lama Tulisan Lebih Baru


Kalender

April 2014
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.