Posts filed under ‘Manajemen Agribisnis’

Analisis Daya Saing Komoditas Bawang Merah Di Kabuapaten …. (Tinjauan Keunggulan Komparatif dan Keunggulan Kompetitif di Daerah Sentra Produksi

Globalisasi perdagangan international memberi peluang dan tantangan bagi perekonomian nasional, termasuk didalamnya agribisnis. Kesepakatan-kesepakatan GATT, WTO, AFTA, AFEC dan organisasi perdagangan dunia lainnya, satu sisi memberi peluang terhadap sektor pertanian di Indonesia, jika agribisnis yang dilakukan memiliki daya saing, sisi lain merupakan ancaman terhadap komoditas pertanian jika tidak memiliki daya saing.Daya saing dapat dilihat dari keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
Komoditas bawang merah dipandang lebih siap memasuki era pasar bebas dibanding komoditas pangan lainnya. Karena memiliki kemandirian dan campur tangan pemerintah terhadap harga produksi relatif kecil. Komoditas bawang merah dipandang sebagai sumber pertumbuhan baru untuk dikembangkan dalam system agribisnis, karena mempunyai keterkaitan yang kuat baik ke sektor industri hulu pertanian (up stream agriculture) maupun keterkaitan ke hilir (on farm agriculture), yang mampu menciptakan nilai tambah produksi dan menyerap tenaga kerja melalui aktivitas pertanian sekunder (down stream agriculture). Di sisi yang lain, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki fluktuasi dan sensitivitas harga yang cukup tinggi, terutama karena perubahan permintaan dan penawaran.
Kabupaten … merupakan daerah sentra produksi bawang merah di Jawa Timur yang memiliki potensi wilayah kondusif bagi pengembangan bawang merah. Dengan keunggulan komparatif yang dimiliki dalam hal potensi wilayah dan tenaga kerja diharapkan mampu meningkatkan daya saing komoditas bawang merah.
Berdasarkan konsep diatas, dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1) Apakah usahatani bawang merah di Kabupaten … memberikan pendapatan finansial dan ekonomi, (2) Apakah usahatani bawang merah memiliki keunggulan komparatif, (3) Apakah usahatani bawang merah memiliki keunggulan kempetitif. (4) Apakah dampak perubahan produktivitas, harga input-output, nilai tukar rupiah dan kebijakan pemerintah berpengaruh terhadap daya saing komoditas bawang merah.
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah ; (1) Menganlisis pendapatan finansial dan ekonomi usahatani bawang merah di Kabupaten …. (2) Menganalisis keunggulan komparatif usahatani bawang merah di kabupaten …. (3) Menganalisis keunggulan kompetitif usahatani bawang merah di kabupaten …. (4) Menganlisis dampak perubahan-perubahan, harga input-output dan kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas bawang merah.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : (1) Pendapatan finansial dan ekonomi bawang merah di Kabupaten … bernilai positif. (2) Usahatani bawang merah di Kabupaten … memiliki keunggulan komparatif. (3) Usahatani bawang merah di Kabupaten … memiliki keunggulan kompetitif. (4) Perubahan produktivitas usahatani dan harga output berpengaruh positif terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif. (5) Perubahan harga input, upah tenaga kerja dan nilai tukar mata uang berpengaruh negatif terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif.
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten …. Pemilihan lokasi usahatani dilakukan dengan cara sengaja (purposive) yaitu di Desa … dan Desa … Kecamatan … dipilih sebagai lokasi usahatani, karena kedua desa tersebut merupakan sentra produksi bawang merah di Kabupaten ….
Penentuan populasi yang didasarkan data sekunder dari Dinas Pertanian dan Perkebuanan Kabupaten … dengan menggunakan total sampling (total sampling methode), dengan tujuan sebagai sample penelitian yang dilakukan dengan cara stratified random sampling jumlah sample yang diambil 20% dari jumlah populasi. Petani responden di Desa … berjumlah 30 orang, sedangkan petani di Desa … sebanyak 34 orang juga.
Pengambilan sample untuk aktivitas pemasaran dilakukan dengan metode Rapid Marketing Appraisal (RMA), dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang biaya pemasaran dan harga di tingkat konsumen dari berbagai sumber terkait secara akurat dan cepat. Responden dipilih secara sengaja (purposive), yang terdiri dari : (a) Lembaga pemasaran output, (b) Lembaga pemasaran input, diantaranya PT Pupuk Petrokimia dan toko sarana produksi pertanian, (c) Dinas dan lembaga pemerintahan terkait, seperti Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Pertanian dan Perkebunan dan Bea Cukai Tanjung Perak Surabaya/Wilayah …, (d) Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, (e) Informan kunci.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diajukan adalah (1) Komoditas bawang merah di Kabupaten … memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang cukup tinggi, sehingga dapat dijadikan komoditas andalan Kabupaten … dalam rangka mengoptimalkan potensi wilayah, (2) Daya saing komoditas bawang merah dapat ditingkatkan dengan peningkatan produktivitas usahatani misalnya dengan perbaikan sistem budidaya dan penggunaan teknologi pertanian yang lebih efisien, (3) Hendaknya pengembangan komoditas bawang merah diiringi dengan pengembangan agroindustri dan penyimpanan bawang merah untuk bibit, karena nilai tambah yang di dapat lebih besar. (4) Kebijakan pemerintah efektif masih dibutuhkan oleh petani keberlangsungan agribisnis di kabupaten …, misalnya, subsidi pada input tradeable vital seperti pupuk, pestisida, penghapusan pungutan liar pada aktivitas perdagangan, pengawasan yang lebih ketat pada Dinas Bea Cukai untuk menjamin terealisasinya aturan perdagangan tentang bea masuk dan tarif impor-ekspor secara adil dan sehat, (5) Peneliti selanjutnya hendaknya melakukan perhitungan persentase berat bawang merah yang digunakan untuk bibit dibandingkan untuk konsumsi. Data tersebut nantinya digunakan untuk menentukan harga sosial bawang merah, sehingga estimasi tentang harga sosial lebih akurat, karena bawang merah selain diperdagangkan dalam bentuk bibit juga diperdagangkan dalam bentuk konsumsi / olahan.(bawang merah sebagai suatu produk)

Januari 23, 2008 at 7:18 am Tinggalkan komentar

Strategi Pemasaran Buah Jeruk Keprok (Citrus Nobilis L) Lokal (Studi Kasus di Kecamatan … Kotamadya …)

Buah jeruk merupakan salah satu jenis buah-buahan yang paling banyak digemari oleh masyarakat di Indonesia, hal ini disebabkan buah jeruk banyak mengandung jenis vitamin terutama vitamin C dan Vitamin A. selain itu buah jeruk merupakan buah yang selalu tersedia sepanjang tahun, karena tanaman jeruk tidak mengenal musim berbunga yang khususDi samping itu tanaman jeruk dapat ditanam dimana saja, baik didataran rendah maupun didataran tinggi.
Namun demikian nasib buah jeruk lokal di Indonesia ini tidak terlalu mendapatkan angin segar, hal ini disebabkan banyaknya persaingan dari jenis buah-buahan lokal itu sendiri maupun jenis buah-buahan lokal yang lain, ditambahkan dengan semakin banyaknya buah impor yang ada baik jeruk maupun buah-buahan yang lainnya.
Selain hal tersebut diatas pemasaran juga dapat menjadi penyebab dari perma salahan ini, untuk itu perlu diketahui bagaimana sistem pemasaran yang berlangsung selama ini, sehingga dapat diketahui apa penyebab dari permasalahan pemasaran buah ter sebut.
Dengan melihat fenomena diatas, terdapat beberapa permasalahan yang perlu dikaji, yaitu mengenai:
1.Bagaimana segmentasi pasar buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan …?
2.Bagaimana kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan …?
3.Bagaiamana strategi yang tepat dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan … berdasarkan analisa SWOT?
Dengan melihat perumusan masalah yang ada maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1.Untuk mengetahui segmentasi pasar buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan ….
2.Untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan ….
3.Untuk mengetahui strategi yang tepat dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal di Kota … Kecamatan … berdasarkan analisa SWOT.
Penentuan daerah dilakukan secara purposive atau sengaja di kecamatan … kotamadya … berdasarkan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan kecamatan yang mempunyai lokasi pemasaran yang beragam, mulai dari pasar tradisional hingga pasar modern (supermarket) dan diantara kedua tempat pemasaran tersebut tidak mempunyai perbedaan kuantitatif yang sangat menonjol.
Metode pengumpulan data dengan cara interview, questionnaires atau angket serta observasi sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah analisa deskriptif yaitu menjelaskan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang dikaitkan dengan teori dan pendapat para ahli terhadap pembahasan yang dilakukan dalam penelitian, dan analisa kuantitatif-kualitatif SWOT.
Dari pembahasan dapat diketahui bahwa kekutan yang dimiliki dalam pemaaran buah jeruk keprok lokal adalah rasa, yang lengkap, harga yang cukup murah, mudah di dapat atau di temui, serta pelayanan yang baik dari para pemasar. Kelemahan yang dimiliki dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal adalah warna kulit yang kurang menarik, aroma buah jeruk keprok lokal yang biasa, warna daging buah yang kuning pucat, ketersediaan kandungan air yang sedang, pengemasan yang belum ada, tata letak yang kurang mendukung, kurang adanya antisipasi penjagaan kwalitas buah jeruk keprok lokal, tidak adanya promosi mengenai kelebihan dari buah jeruk keprok lokal ini. Peluang yang dimiliki dalam pemasarn buah jeruk keprok lokal adalah sudah dikenalnya buah ini di kalangan masyarakat, buah ini merupakan buah yang selalu tersedia sepanjang tahun (tidak mengenal musim tertentu), pertumbuhan penduduk dan perluasan pangsa pasar. Ancaman yang ada dalam pemasaran buah jeruk keprok lokal yaitu adanya buah impor, adanya buah substitusi, sehingga semakin berkurangnya produksi buah jeruk keprok lokal yang dihasilkan oleh petani. Strategi pemasaran yang ideal setelah dilakukan analisa SWOT yang disesuaikan dengan analisa matrik faktor strategi internal – eksternal pemasaran buah jeruk keprok lokal adalah strategi SO (strenghts- opportunities) dan WO (weaknss – opportunities). Strategi SO yaitu dengan mempertahankan kualitas rasa, meningkatkan hasil produksi, menambah pasokan kesemua pasar buah (outlet, toko buah, pasar tradisional dsb), memperbaiki kualitaas penjualan dan area pemasaran. Strategi WO yaitu dengan meningkatkan kwalitas hasil produksi, perbaikan pengemasan, memperluas pangsa pasar, meningkatkan antisipasi pasca panen, memperpendek jalur pemasaran, menguasai pangsa pasar.

Januari 23, 2008 at 7:17 am Tinggalkan komentar

Analisis Program Bongkar Ratoon Tanaman Tebu Untuk Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis : (a). Pengaruh Bongkar Ratoon terhadap peningkatan produktivitas tebu dan produktivitas gula (b). Pengaruh Bongkar Ratoon terhadap peningkatan pendapatan petani tebu di wilayah PG. TjoekirManfaat penelitian diharapkan dapat berguna : (a). Memberi masukan bagi Pemerintah Daerah dan Pusat untuk penyempurnaan pelaksanaan Program Bongkar Ratoon yang akan datang (b). Sebagai tambahan informasi dan wawasan bagi pelaku bisnis pertebuan, baik dari sisi sosial maupun ekonomi (c). Sebagai tambahan pengetahuan bagi peneliti selanjutnya.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah (a). Program Bongkar Ratoon dapat meningkatkan produktivitas tebu dan produktivitas gula (b). Faktor – faktor tenaga kerja, pemupukan dan herbisida mempengaruhi produktivitas tebu dan hablur (c). Program Bongkar Ratoon dapat meningkatkan pendapatan petani tebu.
Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel dengan Metode “Random Sampling” dari petani yang tersebar di seluruh wilayah PG. Tjoekir. Dalam menentukan jumlah sampel menggunakan formula yang ditetapkan oleh Slovin. Untuk menganalisis pengaruh peningkatan produktivitas tebu dan pendapatan petani antara tanaman tebu bongkar ratoon dengan bukan bongkar ratoon digunakan rumus Regresi Linier Berganda dengan Dummy.
Untuk menguji apakah variabel bebas (X) secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel tidak bebas (Y) digunakan uji “F” sedangkan untuk menguji apakah masing-masing variabel bebas berpengaruh terhadap variabel tidak bebas digunakan uji “T” , serta untuk melihat peningkatan produktivitas atau pendapatan petani antara petani bongkar ratoon dengan yang tidak bongkar ratoon dengan melihat Dummy variabel.
Hasil penelitian menunjukan bahwa :
Produktivitas tebu rata-rata pada tanaman bongkar ratoon mencapai 121,5 ton lebih tinggi dari pada tebu bukan bongkar ratoon sebesar 87,1 ton.
Variabel tenaga kerja, pupuk dan herbisida secara bersama-sama atau simultan berpengaruh nyata terhadap peningkatan produktivitas tebu.
Tebu yang dibongkar ratoon menghasilkan pendapatan rata-rata sebesar Rp. 31.373.602,- lebih tinggi bila dibanding pendapatan rata-rata tebu yang tidak di bongkar ratoon sebesar Rp. 22.089.338,-

Januari 23, 2008 at 7:17 am Tinggalkan komentar

Analisis Pendapatan Petani Bawang Merah Sistem Pengendalian Hama Terpadu Di Kabupaten …

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui analisis perbedaan biaya produksi, pendapatan total dan pendapatan bersih usahatani petani bawang merah yang menggunakan sistem lampu perangkap hama dengan sistem non lampu perangkap hama di Kabupaten …Metode analisis yang digunakan adalah untuk menganalisa usahatani bawang merah yang menggunakan sistem lampu perangkap hama dan yang tidak menggunakan lampu perangkap hama pada tanaman bawang merah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya produksi usahatani bawang merah yang menggunakan sistem lampu perangkap hama sebesar Rp. 32.172.597,36,- per hektar lebih efisien daripada yang tidak menggunakan lampu perangkap hama sebesar Rp. 36.005.457,89,- per hektar. Pendapatan total petani bawang merah yang menggunakan sistem lampu perangkap hama Rp. 53.989.971,05,- per hektar memperoleh peningkatan hasil produksi yang signifikan daripada yang tidak menggunakan lampu perangkap hama sebesar Rp. 53.340.823,68,- per hektar. Sedangkan pada pendapatan bersih usahatani bawang merah yang menggunakan sistem lampu perangkap hama sebesar Rp. 21.817.210,52,- per hektar lebih besar daripada pendapatan bersih petani bawang merah yang tidak menggunakan lampu perangkap hama sebesar Rp. 17.335.365,78,- per hektar.
Pada Com… Means Paired-Samples T test diperoleh analisa sebagai berikut pada rata-rata biaya produksi, pendapatan total dan pendapatan bersih usahatani bawang merah yang menggunakan sistem lampu perangkap hama dan yang tidak menggunakan lampu perangkap hama T hitung lebih besar daripada T tabel yaitu 49,860 > 2,024 pada biaya produksi, 8,004 > 2,024 pada pendapatan total dan pada pendapatan bersih sebesar 118,441 > 2,024.
Dengan demikian aplikasi sistem pengendalian hama terpadu yang menggunakan lampu perangkap hama dapat meningkatkan pendapatan petani daripada yang tidak menggunakan lampu perangkap pada usahatani bawang merah.

Januari 23, 2008 at 7:16 am Tinggalkan komentar

Kajian Pengembangan Kawasan Agropolitan Sebagai Pendekatan Wilayah Dan Pemberdayaan Masyarakat Kota ..

Pengembangan agribisnis merupakan hal penting karena nilai tambah dari semua rangkaian produksi pertanian tercipta pada subsistem budidaya, pemasaran dan pengolahan atau agroindustri pedesaan dapat menjadi fase transisi menuju tranformasi struktural pertanian keproduksi pertanian sesungguhnyaDalam pengembangan komoditi wilayah harus didasarkan atas keunggulan komparatif lokasi, dengan demikian produk-produk pertanian yang mempunyai karaktristik khusus harus mempunyai orentasi pengembangan yang lebih baik dan manajemen yang tepat untuk mencapai efisiensi yang maksimal.
Agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) diwilayah sekitarnya. Kota pertanian (agropolitan) berada dalam kawasan pemasok hasil pertanian (sentra produksi pertanian) yang mana kawasan tersebut memberikan kontribusi yang besar terhadap mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakatnya. Selanjutnya kawasan pertanian tersebut (termasuk kotanya) disebut dengan kawasan agropolitan. Kota pertanian dapat merupakan kota menengah atau kota kecil atau kota kecamatan atau kota pedesaan yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mendorong pertumbuhan pembangunan perdesaan dan desa-desa hinterland atau wilayah sekitarnya melalui pengembangan ekonomi, yang tidak terbatas sebagai pusat pelayanan sektor pertanian, tetapi juga pembangunan sektor secara luas seperti usaha pertanian (on farm and off farm), industri kecil, pariwisata, jasa pelayanan, dan lain-lain. Batasan suatu kawasan agropolitan lebih ditentukan dengan memperhatikan economic of scale dan economic of scope.
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kondisi wilayah di Kota … dalam proses pengembangan kawasan agropolitan. (2) Bagaimana pemberdayaan Masyarakat pertanian di Kota … dalam proses pengembangan kawasan agropolitan. Dari permasalahan di atas maka tujuan Penelitian ini adalah: (1) Untuk mendeskripsikan kondisi wilayah di Kota … dalam proses pengembangan kawasan agropolitan. (2) Untuk mendeskripsikan pemberdayaan Masyarakat pertanian di Kota … dalam proses pengembangan kawasan agropolitan. Berdasarkan penjelasan dalam kerangka pemikiran, maka dapat di kemukakan hipotesis sebagai berikut: Diduga kondisi wilayah dan pemberdayaan masyarakat pertanian di Kota … mempunyai kontribusi yang cukup besar sebagai sektor pemimpin (Leading sector) terhadap proses pengembangan agropolitan.
Metode penentuan daerah penelitian dilakuakan secara sengaja (purposive) di Kota … … Jawa Timur dengan pertimbangan daerah tersebut termasuk daerah yang memilki potensi, berupa sumberdaya alam dan sumberdaya manusia untuk pembangunan dan pengembangan sektor pertanian dan pada waktu penelitian dilakukan daerah tersebut telah melaksanakan Program Pengembangkan Kawasan Agropolitan. Data yang digunakan untuk penelitian ini didapatkan dari data sekunder, dengan demikian data yang digunakan adalah data-data dari instansi-instansi terkait dalam penelitian ini, seperti: Pemerintah Daerah (Pemerintah Kota), Dinas Pertanian, Bappeda, Dinas Kimpraswil, BPS, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Kelompok Tani dan informan yang terkait lainya.
Metode Analisis Data yang digunakan adalah metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masyalah yang diselidiki, dengan mengambarkan keadaan obyek penelitian pada saat sekarang. Berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagai mana adanya, metode deskriptif memusatkan perhatianya pada penemuan fakta-fakta (fact finding) sebagaimana keadaan sebenarnya. Analisa deskriptif dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai data sekunder yang telah dikumpulkan. Analisa data adalah proses yang memerlukan usaha yang secara formal mengidentifikasi tema-tema dan menyusun hipotesa-hipotesa (gagasan-gagasan) yang ditapilkan oleh data, serta upaya untuk menunjukan bahwa tema dan hipotesa adalah pernyataan yan bersifat proposi.
Karena penelitian ini bersifat deskriptif, maka menggunakan analisis dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan mengemukakan dalam analisis kualitatif dan selanjutnya untuk mengetahui keabsahan data digunakan metode triangulasi. Interprestasi data kualitatif dapat dilakukan melalui model alir dimana dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: Reduksi data diartikan sebagai proses pemilian pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Reduksi data merupakan bagian dari analisis berfungsi untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
Pendapatan masyarakat Kota … pada umumnya bersumber dari sektor pertanian. Dalam kegiatan agribisnis diorentasikan pada komoditi unggulan daerah berupa tanaman holtikultura. Di daerah ini memiliki lahan yang didukung oleh sumber daya alam yang memadai dan telah memiliki kelembagaan dan sarana-prasarana agribisnis, berupa Lembaga pertanian, Kelompok tani, sarana pasar, irigasi dan wisata pertanian. Memiliki sarana dan prasarana umum seperti listrik, telepon dan sarana informasi.
Rancangan pengembangan kawasan agropolitan di Kota …, diarahkan pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakatnya dengan melibatkan peran aktif semua pelaku pembangunan, yaitu Pemerintah Daerah serta Masyarakat itu sendiri dan pembentukan kawasan yang mempunyai keseimbangan pada semua asapek kegiatan masyarakat dan keseimbangan lingkungan. Dari hal tersebut orientasi pengembangan tata ruang wilayah meliputi pada kawasan strategis perkotaan dan perdesaan, kawasan lindung dan permukiman. Berdasarkan keadaan wilayah dan masyarakatnya, Kota … sangat potensial sebagai Kota pertanian atau Agropolitan.

Januari 23, 2008 at 7:16 am Tinggalkan komentar

Analisis Permintaan Kedelai Indonesia

Kedelai merupakan sumber protein nabati yang tinggi serta sumber lemak, vitamin dan mineral yang sering dikonsumsi masyarakat dalam negeri. Angka konsumsi kedelai dalam negeri cukup besar. Kebutuhan kedelai tahun 2002 mencapai 1,2 juta tonUntuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia masih harus terus melakukan impor yang rata-rata sebesar 40% dari kebutuhan kedelai nasional meningkat dari tahun ke tahun, produksi dalam negeri masih relatif rendah dan memiliki kecenderungan terus menurun. Hal ini menyebabkan ketergantungan akan kedelai impor terus berlangsung dan memiliki kecenderungan terus meningkat. Berdasarkan latar belakang tersebut muncul beberapa permasalahan. Faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan kedelai impor dan kedelai domestik. Bagaimana hubungan permintaan kedelai domestik dengan kedelai impor. Bagaimana kinerja produksi kedelai domestik dan permintaan kedelai dari tahun ketahun.
Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah mengidentifikasi variabel variabel yang mempengaruhi permintaan kedelai impor dan kedelai domestik. Mengidentifikasi hubungan permintaan kedelai domestik dengan kedelai impor. Mengetahui proyeksi kinerja produksi kedelai domestik, impor dan permintaan kedelai dari tahun ketahun
Hipotesis penelitian ini (1) Diduga permintaan kedelai domestik dan permintaan kedelai impor dipengaruhi oleh harga kedelai domestik, harga kedelai impor, jumlah penduduk dan pendapatan penduduk. (2) Diduga elastisitas harga kedelai domestik terhadap permintaan kedelai domestik bernilai negatip. Elastisitas harga silang kedelai domestik terhadap permintaan kedelai impor bernilai positif untuk barang substitusi. Elastisitas pendapatan penduduk terhadap permintaan kedelai bernilai positif untuk barang normal. (3) Diduga kinerja produksi kedelai domestik dan permintaan kedelai dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi data produksi kedelai domestik, jumlah kedelai impor, harga kedelai domestik dan harga kedelai impor, kurs tengah Dolar terhadap Rupiah, pendapatan penduduk dan jumlah penduduk. Data tersebut diambil dari Biro Pusat Statistik (BPS) dan Food Organitation (FAO).
Dalam menganalisis data digunakan tiga metode analisis (1) Untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dalam analisis statistik, digunakan fungsi bentuk Regresi linear berganda yang menggunakan persamaan Y=a+ bX+ bX+bX + bX + εi. Dimana; Y = Jumlah permintaan kedelai, X = Harga kedelai domestik, X= Harga kedelai impor, X= Pendapatan penduduk, X= Jumlah penduduk, a= Konstanta, b- b= Nilai koefesien, εi = Error term. (2) Untuk mengetahui keterkaitan permintaan kedelai impor dan kedelai domestik maka digunakan model elastisitas permintaan yang meliputi:
(a)Elastisitas harga barang itu sendiri E= .
(b)Elastisitas harga silang terhadap permintaan E= .
(c)Elastisitas pendapatan terhadap permintaan E= . ,
(3) Untuk memproyeksi kinerja produksi kedelai domestik, volume impor dan permintaan kedelai dari tahun ke tahun maka digunakan analisa trend. Y = a + bx. Dimana; x = Periode waktu, Y = Permintaan kedelai, a = Nilai Y apabila x = 0, b= Besarnya perubahan variabel Y yang terjadi pada setiap perubahan satu unit variabel x.
Dari hasil penelitian dan pembahasan didapatkan bahwa (1) Variabel yang mempengaruhi permintaan kedelai domestik adalah variabel harga kedelai domestik (X1) sebesar 0,501 berarti bahwa setiap penambahan Rp.1,- per ton harga kedelai domestik akan meningkatkan permintaan kedelai domestik sebesar 0,501 ton. Variabel harga kedelai impor (X2) sebesar 4.759,670, berarti bahwa setiap penambahan $ 1,- per ton harga kedelai impor akan menyebabkan penurunan permintaan kedelai domestik sebesar 4759,670 ton. Variabel pendapatan penduduk (X3) sebesar 0,665 berarti bahwa setiap penambahan pendapatan penduduk sebesar Rp. 1,- perkapita pertahun maka permintaan kedelai domestik akan turun sebesar 0,665 ton. Variabel jumlah penduduk (X4) sebesar 64,317 menyatakan bahwa setiap penambahan jumlah penduduk sebanyak 1000 jiwa maka akan meningkatkan permintaan kedelai domestik sebesar 64,317 ton. (2) Variabel yang mempengaruhi permintaan kedelai impor adalah variabel harga kedelai impor (X2) sebesar 5.773,237 berarti bahwa setiap penambahan $ 1,- per ton harga kedelai impor akan menyebabkan penambahan permintaan kedelai impor sebesar 5.773,237 ton . (3) Nilai elastisitas harga kedelai domestik terhadap permintaan kedelai domestik adalah -0,880. Hal tersebut berarti apabila harga kedelai domestik bertambah sebesar1% maka permintaan kedelai domestik akan menurun sebesar 0,880% per tahun. Nilai elastisitas harga kedelai impor terhadap permintaan kedelai domestik adalah 0,984. Hal tersebut berarti apabila harga kedelai impor meningkat sebesar 1% maka permintaan kedelai domestik akan naik sebesar 0,984% per tahun. Karena E adalah positif maka hubungan antara kedelai domestik dan kedelai impor adalah subtitusi. Nilai elastisits pendapatan penduduk terhadap permintaan kedelai domestik bernilai 2,684. Hal tersebut berarti apabila pendapatan penduduk meningkat sebesar 1% maka permintaan kedelai domestik akan naik sebesar 2,684% (karena En>0) maka kedelai domestik disebut barang normal. (4) Nilai elastisitas harga kedelai impor terhadap permintaan kedelai impor adalah –2,446. Hal tersebut berarti apabila harga kedelai impor meningkat sebesar1% maka permintaan kedelai impor akan turun sebesar 2,446%. Nilai elastisitas pendapatan penduduk terhadap permintaan kedelai impor bernilai -3,611. Hal tersebut berarti apabila pendapatan penduduk naik sebesar 1% maka permintaan kedelai domestik akan turun sebesar 3,611% (karena En<0 maka kedelai impor disebut barang tuna nilai. (5) Trend produksi kedelai domestik pada tahun 1991-2002 memiliki nilai slope (kemiringan) negatif sebesar 46052,1 dan laju pertumbuhan tiap tahunnya sebesar –0,033%. Trend permintaan kedelai domestik antara tahun 1991-2002 memiliki nilai slope negatif sebesar 44.829,2 dan laju pertumbuhannya sebesar -11%. Trend permintaan kedelai impor pada tahun 1991-2002 memiliki slope (kemiringan) positif sebesar 29945,42 dan laju pertumbuhan tiap tahunnya 0,035%.
Selama ini pemerintah banyak melakukan kebijakan proteksi di sektor komoditas pertanian, seperti beras, gula dan kedelai, yang bertujuan untuk mencapai swasembada. Akan tetapi, sebaiknya kebijakan tersebut juga perlu diikuti dengan program pemerintah yang jelas dan terukur. Peluang untuk meningkatkan produktivitas kedelai sulit untuk dapat dicapai, tanpa disertai penyediaan lahan khusus untuk upaya itu. Apabila petani tetap melakukan pola tanam yang terus berganti, maka produktivitas sulit untuk bisa ditingkatkan. Dengan demikian, harus dilakukan program perluasan lahan tanaman kedelai untuk swasembada kedelai. Selain itu, juga perlu diadakan program budidaya bibit kedelai secara berkesinambungan yang langsung bisa dimanfaatkan oleh para petani. Rencana pengenaan tarif bea masuk (BM) kedelai sebesar 10-15 % akan meningkatkan harga jual kedelai yang gilirannya akan mengakibatkan kenaikan biaya produksi. Dengan demikian, pengusaha akan membagi adanya penambahan beban itu kepada konsumen dengan cara menaikkan harga jual produknya di tingkat eceran oleh karena itu pemerintah hendaknya mencari solusi terbaik sehingga harga kedelai impor bisa diproteksi tetapi juga tidak merugikan konsumen.

Kata Kunci: Analisis, Permintaan, Kedelai

Januari 23, 2008 at 7:04 am Tinggalkan komentar

Analisis Pengaruh Proyek Peningkatan Mutu Intensifikasi (Pmi) Terhadap Produksi Dan Pendapatan Usahatani Padi Di Kabupaten ..

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui dan menganalisis apakah Proyek Mutu Intensifikasi mempunyai pengaruh yang nyata terhadap produksi, (2) Untuk mengetahui dan menganalisis apakah usahatani padi dalam Proyek Mutu Intensifikasi akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi daripada sebelum proyek, (3) Untuk mengetahui dan menganalisis besarnya Farm Gate Prices yaitu biaya produksi per-unit usahatani padi dalam Proyek PMI dan sebelum Proyek.
Penelitian dilakukan dengan sengaja yaitu di Kabupaten … dimana Responden diambil dengan menggunakan metode Acak sederhana (Simple Random Sampling) sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tehnik Observasi, wawancara dan pencatatan. Guna menguji hipotesa maka metode analisa data yang digunakan antara lain (1) Untuk menguji hipotesa satu dan dua dengan menggunakan Uji Regresi linier berganda dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) dengan melihat nilai R2 , F – test dan t – test, (2) Untuk hipotesa tiga dianalisis dengan mencari nilai Farm Gate Price.
Dari hasil analisa data diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : (1) Proyek PMI berpengaruh secata nyata terhadap produksi usahatani padi yang dibuktikan dengan nilai t hitung 3,681 > t tabel 0,058, (2) Produksi usahatani padi dalam Proyek PMI 8,7 ton / ha lebih besar dan berbeda nyata dengan produksi usahatani padi sebelum proyek 7,0 ton / ha, hal ini dibuktikan oleh besarnya koefisien regresi variabel dummy = 3,239 dan menunjukkan perbedaan nyata pada tingkat kesalahan 1 %, (3) Pendapatan per hektar usahatani padi dalam proyek adalah Rp 3.760.721,00 lebih besar daripada sebelum proyek Rp 2.152.254,00 dengan nilai Farm Gate Price Rp 669,12 dalam proyek PMI dan Rp 791,61 untuk sebelum proyek.

Januari 23, 2008 at 6:52 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kalender

Desember 2014
S S R K J S M
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.