Posts filed under ‘Manajemen Agribisnis’

Strategi Pengembangan Agribisnis Salak Di Kabupaten … ( Studi Kasus di Kecamatan … Kabupaten … )

Globalisasi ekonomi telah mendorong kondisi perekonomian menjadi semakin komplek dan kompetitif sehingga menuntut tingkat efisiensi usaha yang tinggi, yang mengharuskan orientasi pembangunan pertanian dirubah dari orientasi produksi kearah orientasi peningkatan pendapatan petaniGuna mendukung perubahan orientasi pembangunan pertanian ini pendekatan pembangunan pertanian tidak lagi melalui pendekatan usahatani melainkan melalui Pendekatan agribisnis.
Pengertian agribisnis dalam arti sempit adalah perdagangan atau pemasaran hasil pertanian. Sedangkan menurut Anonimous ( 2000 ), yang dimaksud dengan Sistem Agribisnis adalah rangkaian dari berbagai sub sistem penyelesaian prasarana dan sarana produksi, subsistem budidaya yang menghasilkan produk primer, sub sistem industri pengolahan ( agroindustri ), sub sistem pemasaran dan distribusi serta sub sistem jasa pendukung.
Bagi Indosensia pengembangan usaha pertanian cukup prospektif karena memiliki kondisi yang menguntungkan antara lain; berada di daerah tropis yang subur, keadaan sarana prasarana cukup mendukung serta adanya kemauan politik pemerintah untuk menampilkan sektor pertanian sebagai prioritas dalam pembangunan.
Tujuan pembangunan agribisnis adalah untuk meningkatkan daya saing komoditi pertanian, menumbuhkan usaha kecil menengah dan koperasi serta mengembangkan kemitraan usaha. Dengan visi mewujudkan kemampuan berkompetisi merespon dinamika perubahan pasar dan pesaing, serta mampu ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan keragaman sumber daya alamnya, termasuk hasil buah-buahan, sayuran dan bunga ( Hortikultura ) serta produk pertanian tropis lainnya, namun kenyataannya sejauh ini pemasok devisa utama masih berasal dari perkebunan dan perikanan. Bertambah cepatnya pertumbuhan sub sektor perikanan, perkebunan dan peternakan disebabkan karena perilaku petani maupun pengusaha lebih berfikir maju, yang ditandai oleh; cepatnya mengadopsi inovasi baru, berani menanggung resiko dan mau mencoba hal-hal / teknologi baru ( Soekartawi, 1997 ).
Peningkatan daya saing pada sektor pertanian dipandang perlu memperoleh perhatian, oleh karena itu pembangunan pertanian yang berorientasi pada peningkatan pendapatan perlu lebih dititik beratkan pada upaya mendorong pengembangan komoditas hortikultura.
Winarno (1996) menyebutkan bahwa permintaan akan buah-buahan tropis segar, khususnya negara Eropa, Amerika dan Asia umumnya mengalami peningkatan dengan laju 10,8 % pertahun. Namun Indonesia sebagai salah satu pemasok buah tropis segar dunia saat ini masih sangat kecil yakni kurang dari 1 %.
Menurut Rahmat Rukmana (1999), peningkatan jumlah penduduk dunia berpengaruh terhadap makin naiknya permintaan produk buah-buahan. Fenomena ini merupakan prospek cerah bagi pengembangan agribisnis buah-buahan diberbagai negara di dunia termasuk Indonesia.
Indonesia berpeluang besar menjadi produsen buah-buahan dalam menyikapi pola perdagangan bebas (globalisasi). Potensi dasar yang dimiliki Indonesia diantaranya dalah sumber daya alam yang amat kaya, termasuk aneka jenis buah-buahan. Lebih dari 25% jenis buah-buahan tropis yang ada didunia terdapat diwilayah Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa prospek pengembangan agribisnis buah-buahan di Indonesi semakin cerah, baik dirancang sebagai komoditas ekspor maupun diproyeksikan pada permintaan pasar (konsumen) dalam negeri. Pasar buah-buahan tropis luar negeri yang masih terbuka antara lain Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Brunei Darussalam, Taiwan, dan Hongkong.
Berdasarkan kondisi diatas dan dalam menghadapi pola perdagangan bebas (globalisasi), strategi pengembangan agribisnis buah-buahan di Indonesia harus pada jenis buah-buahan tropis yang tidak ada / sedikit pesaingnya seperti salak. Disamping itu usaha pengembangan jenis buah-buahan yang banyak pesaingnya diarahkan untuk meningkatkan mutu dengan mencari varietas baru yang lebih unggul (Rahmat Rukmana, 1999). Mengacu pada buah tropis yang sedikit pesaingnya, komoditas salak mempunyai propek pengembangan dan pasar yang sangat potensial, mengingat penyebarannya yang luas diberbagai wilayah, harga yang terjangkau oleh masyarakat serta mempunyai nilai gizi yang baik disamping digemari oleh berbagai lapisan masyarakat ( Anonimous, 1997 ). Selain dari itu ditinjau dari segi ekonomis, pengusahaan salak cukup menguntungkan serta mempunyai propek pasar yang baik mengingat segmen pasar yang luas dari berbagai stratifikasi lapisan masyarakat. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila minat masyarakat untuk mengembangkan salak sangat besar.

Januari 23, 2008 at 7:25 am 1 komentar

Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Pemuda Pedesaan Terhadap Pemilihan Lapangan Kerja Sektor Pertanian Dan Non Pertanian (Studi di Desa …, Kecamatan …,

Penelitian ini merupakan metode kuantitatif pada Desa …, Kecamatan …, Kabupaten …, … dengan judul “Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Pemuda Pedesaan Terhadap Pemilihan Lapangan Kerja Sektor Pertanian Dan Non PertanianTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi penduduk Desa …, Kecamatan …, Kabupaten … … dan untuk mengetahui jenis faktor-faktor sosial ekonomi pemuda pedesaan yang mempengaruhi keputusan pemuda untuk memilih lapangan kerja pada pertanian dan non pertanian. Yang terdiri dari tiga variabel yaitu tingkat pendidikan pemuda, luas lahan yang ada dan tingkat pendapatan orang tua dan seluruh anggota keluarga pemuda.
Penelitian ini menggunakan sampel dari populasi penduduk yang berumur 15 – 29 tahun yang termasuk angkatan kerja dan bekerja di sektor pertanian dan non pertanian sebesar 100 responden. Dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu simpel acak random sempling dan teknik pengumpulan datanya yaitu melalui kuisioner. Sedangkan alat analisis yang digunakan yaitu analisis model probit.
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa nilai t tabel =1.661 pada  = 0.05 dan kepercayaan sebesar 95%. Disini disimpulkan bahwa t hitung (x1) = 7.368 ; t hitung (x2) = -10.205 dan t hitung (x3) = 2.019, karena variabel x1 dan x2 lebih besar dari t tabel = 1.661 berarti variabel tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan orang tua dan seluruh keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap pemuda pedesaan dalam pemilihan lapngan kerja sektor pertanian dan non pertanian sedangkan variabel x2 lebih kecil dari t tabel = 1.661 berarti luas lahan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemuda pedesaan dalam memilih lapangan kerja sektor pertanian dan non pertanian dan ini dilihat dari uji satu sisi kanan. Sedangkan untuk uji satu sisi kiri yaitu untuk f hitung = 69.331 lebih besar dari f tabel = 2.6994. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan , luas lahan yang ada dan tingkat pendapatan orang tua dan seluruh keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap pemuda pedesaan terhadap pemilihan lapangan kerja sektor pertanian dan non pertanian. Dengan demikian hipotesis tersebut terbukti.

Januari 23, 2008 at 7:24 am Tinggalkan komentar

Pola Kemitraan Antara Petani Tebu Dengan Pabrik Gula Asembagus (Desa Trigonco Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo

Tanaman tebu merupakan komoditi utama dalam menghasilkan gula pasir karena di dalam batangnya terkandung 20% cairan gula. Tebu rakyat dengan hasilnya gula pasir merupakan tanaman perdaganganSebagai tanaman perdagangan, maka perlu pemindahan dari produsen ke konsumen. Dalam usaha memasarkan tebunya, petani tebu dapat memilih salah satu cara yaitu dengan mengadakan kerjasama dengan pabrik gula dengan ketentuan kontrak yang telah disepakati antara pabrik gula dan petani tebu guna untuk meningkatkan pendapatan.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut yaitu: 1) bagaimana pola kemitraan antara petani tebu dengan PG Asembagus, 2) berapa keuntungan yang diperoleh petani tebu peserta kemitraan . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola kemitraan antara petani tebu dengan PG Asembagus dan juga untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh petani tebu peserta kemitraan.
Metode penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) yaitu di PG Asembagus Desa Trigonco Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo dengan pertimbangan PG tersebut merupakan PG yang beroperasi di daerah sentra tebu dan juga PG yang melakukan kemitraan dengan petani tebu di Desa Trigonco Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo. Metode pengambilan sampel dilakukan secara acak berstrata dengan dasar strata luas lahan serta menetapkan jumlah sampel yang diambil sebesar 10% dari jumlah populasi sebanyak 300 orang yaitu 30 orang sampel. Adapun metode pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Sedangkan untuk analisa data menggunakan analisa deskriptif dan kuantitatif
Dalam penelitian ini, Pabrik Gula Asembagus mengadakan kerjasama yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani tebu dan menambah pasokan bahan baku bagi Pabrik Gula Asembagus. Bentuk atau pola kemitraan yang dijalin oleh petani tebu dengan Pabrik Gula Asembagus adalah kontrak kerja yang saling menguntungkan. Sedangkan keuntungan yang diperoleh petani tebu dalam melakukan kemitraan adalah Rp. 16.946.681 dan nilai B/C Ratio pada usahatani tebu kemitraan adalah 1,42 sehingga nilai B/C Ratio >1 yang artinya usahatani tebu pada petani tebu kemitraan layak diusahakan

Januari 23, 2008 at 7:23 am Tinggalkan komentar

Potensi Pengembangan Usaha Pengolahan Ubi Jalar di Kabupaten dan Kota …

Ubi jalar sangat penting dalam tatanan penganekaragaman pangan. Jika dilihat dari kegunaannya, maka ubi jalar memiliki peluang yang baik untuk dikembangkan. Peningkatan produksi ubi jalar di Indonesia pada umumnya dan … pada khususnya dapat didorong melalui pengembangan agroindustri pengolahan hasil panen menjadi produk-produk yang unggul, menarik, dan awet sehingga laku di pasaran, baik dalam negeri maupun pasar luar negeri (ekspor).Peran pemerintah dalam hal ini sangat penting dalam mendorong masyarakat untuk mengembangkan ubi jalar melalui pameran dan penyuluhan yang memberikan gambaran bahwa ubi jalar dapat diangkat menjadi sumber bahan pangan alternatif. Pemerintah dapat juga memberikan kebijakan harga dasar yang layak untuk merangsang minat petani mengembangkan ubi jalar sebagai salah satu program diversifikasi pangan.
Saat ini usaha pengolahan ubi jalar di … relatif sedikit dan umumnya masih diusahakan dalam skala yang relatif kecil dengan manajemen yang sederhana. Hal ini diakibatkan masyarakat kurang mengetahui potensi-potensi yang ada pada usaha pengolahan ubi jalar. Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu adanya suatu upaya untuk menggali potensi-potensi agroindustri atau usaha pengolahan ubi jalar agar usaha pengolahan ini dapat dikembangkan.
Berdasarkan uraian diatas diambil pokok bahasan yang sesuai dengan kenyataan yang ada, yaitu dengan melakukan penelitian mengenai potensi pengembangan usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota ….
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui apa saja jenis usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kabupaten dan Kota …. (2) Mengetahui berapa volume produksi masing-masing usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota …. (3) Mengetahui struktur biaya pada masing-masing usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota …. (4) Mengetahui berapa keuntungan usaha pengolahan ubi jalar di Kabupaten dan Kota ….
Pemilihan obyek dan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa ubi jalar sebagai salah satu komoditas pertanian penghasil karbohidrat yang dapat dijadikan sebagai cadangan pangan yang bila produksi padi tidak mencukupi lagi. Sedangkan pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa daerah … merupakan salah satu sentra penghasil ubi jalar di Jawa Timur.
Metode penentuan responden dilakukan dengan purposive sampling yaitu memilih secara sengaja anggota populasi usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kabupaten dan Kota …. Metode pengumpulan data diperoleh dari data primer yang berupa observasi, wawancara dan kuisioner. Sedangkan data sekunder diperoleh dari pustaka-pustaka yang digunakan sebagai acuan dan terkait dengan penelitian ini.
Metode analisis yang dipakai pada penelitian ini antara lain : analisa biaya, analisa penerimaan, analisa keuntungan, analisa R/C ratio dan analisis BEP serta analisa deskriptif.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa jenis usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kabupaten … antara lain adalah usaha pengolahan ubi jalar menjadi saos yaitu UD Utama dan UD Barokah. Sedangkan usaha pengolahan ubi jalar yang ada di Kota … antara lain adalah usaha pengolahan ubi jalar menjadi kripik yang diusahakan oleh Bp Suyono dan Bp Sunaji.
Volume produksi UD Utama mencapai 30.100 kg per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 2.150 kg saos. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 52.268,51 per produksi dan biaya variabelnya rata-rata per produksi sebesar Rp 1.490.827 sehingga total biaya rata-rata per produksi adalah sebesar Rp 1.766.733,51. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 1.935.000 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp 1.935.000 – Rp 1.766.733,51 = Rp 168.266,49. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,075. BEPq sebesar 2000,448 kg/ bulan dan BEPr pada sebesar Rp 833,95/ bungkus.
Volume produksi UD. Barokah mencapai 79.900 kg per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 3.073,08 kg saos. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 43.167,81 per produksi, biaya variabel rata-rata per produksi Rp. 4.622.836 sehingga total biaya rata-rata per produksi sebesar Rp 2.443.486,66. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 2.765.769,23 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp 2.765.769,23 – Rp 2.443.486,66 = Rp 322.282,57. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,13. BEPq sebesar 2.714,985 kg/ bulan dan BEPr sebesar Rp 795,1588/ bungkus.
Volume produksi agroindustri kripik Bapak Suyono mencapai 15.200 ons per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 950 ons kripik. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 17.900,98 per produksi, biaya variabel rata-rata per produksi Rp. 1.155.406 sehingga total biaya rata-rata per produksi sebesar Rp 1.173.307,23. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 1.425.000 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp1.425.000 – 1.173.307,23 = Rp 251.692,77. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,22. BEPq sebesar 782,2048 0ns/ bulan dan BEPr sebesar Rp 1.257,646/ ons.
Volume produksi agroindustri kripik ubi jalar Bapak Sunaji mencapai 7.500 ons per bulan dan rata-rata per produksi dapat menghasilkan 593,75 ons kripik. Biaya tetap rata-rata sebesar Rp 16.699,73 per produksi, biaya variabel rata-rata per produksi Rp. 637.525 sehingga total biaya rata-rata per produksi sebesar Rp 654.224,73. Total penerimaan rata-rata sebesar Rp 771.875 per produksi sehingga rata-rata keuntungan per produksi sebesar Rp 771.875 – Rp 654.224,73 = Rp 117.650,27. Nilai rasio biaya dan penerimaan sebesar 1,18. BEPq sebesar 503,2498 0ns/ bulan dan BEPr sebesar Rp 1.111,263/ ons.
Dari analisa struktur biaya dan keuntungan masing-masing usaha pengolahan ubi jalar baik yang berada di Kabupaten maupun Kota … menunjukkan bahwa usaha pengolahan tersebut mempunyai potensi yang selanjutnya dapat lebih dikembangkan

Januari 23, 2008 at 7:21 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Pemberian Insentif Terhadap Disiplin dan Produktivitas Kerja Karyawan Bagian Produksi Pada Perusahaan Tenun “Rajin” Lawang

Dalam dunia usaha yang semakin berkembang pesat, persaingan antar perusahaan, terutama yang menghasilkan produk sejenis juga semakin ketat. Oleh karena itu, setiap perusahaan perlu melakukan upaya-upaya dalam rangka meningkatkan produksi mereka yang berkualitas dan berdaya guna tinggiPerusahaan dalam menjalankan proses produksinya tidak terlepas dari unsur tenaga kerja yang merupakan faktor utama. Penggunaan tenaga kerja secara efektif dan terarah merupakan kunci kearah peningkatan produktivitas kerja, untuk itu dibutuhkan suatu kebijaksanaan perusahaan dalam usahanya menggerakkan, mengajak dan mengarahkan tenaga kerja agar lebih produktif sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan perusahaan. Faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja adalah disiplin kerja dimana disiplin kerja berkorelasi dengan pemberian insentif baik finansial insentif dan non finansial insentif.
Tujuan penelitian adalah (1) untuk mengetahui hubungan pemberian insentif terhadap disiplin kerja dan produktivitas kerja karyawan pada Perusahaan Tenun “Rajin” Lawang, (2) untuk mengetahui faktor yang dominan terhadap produktivitas kerja karyawan pada Perusahaan Tenun “Rajin” Lawang. Oleh karena itu digunakan analisis jalur (path analysis) untuk dapat menjelaskan bentuk hubungan antara variabel tersebut, dengan menggunakan simple random sampling sebagai metode pengambilan sampelnya.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata secara langsung dari finansial insentif dan non finansial insentif terhadap disiplin kerja dan produktivitas kerja karyawan dengan total sumbangan efektif sebesar 81.64%, karena secara parsial yang berhubungan langsung dan signifikan dengan disiplin kerja hanya non finansial insentif dengan sumbangan efektif sebesar 12.29%. Selain itu, finansial insentif merupakan faktor yang dominan berpengaruh secara langsung terhadap produktivitas kerja karyawan, sebab tujuan utama pemberian finansial insentif pada umumnya adalah untuk meningkatkan prestasi kerja sehingga dapat mencapai produktivitas kerja yang optimal, dengan sumbangan efektif sebesar 65.93%. Oleh karena itu kebijakan perusahaan dalam pembagian insentif yang adil dan merata baik berupa finansial maupun non finansial kepada para karyawan perlu diperhatikan, agar dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan sehingga akan ikut meningkatkan keuntungan (profitabilitas) bagi perusahaan.

Kata kunci: Insentif, Produktivitas Kerja, Analisis Jalur

Januari 23, 2008 at 7:20 am Tinggalkan komentar

Analisis Finansial Dan Strategi Pengembangan Agroindustri Kerajinan Tangan di UD. Bambu Klasik …

Praktek penebangan hutan secara liar (illegal logging) yang diikuti dengan penyelundupan dan perdagangan kayu ilegal (illegal trading) ternyata tidak hanya mengakibatkan kerusakan lingkungan hutan, tetapi juga menimbulkan kerugian secara ekonomisSampai kini praktek illegal logging dan illegal trading belum dapat diatasi, bahkan kondisinya kini semakin marak sehingga berdampak pada hilangnya sebagian pangsa pasar produk mebel dan kerajinan Indonesia. Salah satu jalan keluar yang harus ditempuh para pengusaha mebel maupun kerajinan yang ada di Indonesia adalah mencari bahan baku pengganti yang dapat digunakan untuk tetap menghasilkan produk-produk yang diinginkan. Seperti agroindustri kerajinan tangan di Kecamatan … Kabupaten … yaitu di UD. Bambu Klasik yang menggunakan batang eceng gondok, pelepah pisang, tempurung kelapa dan bambu untuk dijadikan sebagai bahan baku produk mebel dan kerajinan tangan yang dapat dikomersialkan.
Permasalahan penelitian ini antara lain apakah pengembangan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik … sudah layak secara finansial, dan aspek lingkungan internal yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan serta lingkungan eksternal yang terdiri dari ancaman dan peluang apa saja yang mempengaruhi pengembangan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik ….
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik secara finansial, serta menganalisis aspek lingkungan internal dan lingkungan eksternal yang mempengaruhi pengembangan agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik …. Sehingga hipotesis yang didapat yaitu: diduga agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik layak secara finansial.
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive) yaitu di UD. Bambu Klasik …. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode wawancara, observasi, kuisioner dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari perpustakaan dan instansi terkait yang berhubungan dengan penelitian ini serta hasil-hasil penelitian terdahulu. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif yang meliputi analisis kelayakan finansial dan analisis sensitivitas. Adapun analisis deskriptif yang digunakan adalah analisis SWOT.
Dari hasil penelitian didapat nilai NPV sebesar Rp. 473.320.627, IRR yang dihasilkan adalah 32%, nilai Net B/C Ratio sebesar 4,5 pada tingkat bunga 9%, dan waktu yang diperlukan untuk membayar kembali atau mengembalikan semua biaya-biaya yang dikeluarkan dalam investasi suatu proyek (Payback Period) yaitu pada triwulan ke-1. Sedangkan untuk analisis sensitivitas, pada tingkat suku bunga 9%, agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik selama 24 triwulan dengan menaikkan maupun menurunkan investasi, biaya dan benefit sebesar 10% masih dapat dikatakan layak untuk tetap dikembangkan. Selain itu dapat dikatakan bahwa benefit lebih sensitif jika dibandingkan dengan investasi dan biaya. Dengan demikian agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik dapat dikatakan layak untuk tetap dikembangkan.
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor internal maupun eksternal yang secara sistematis digunakan untuk merumuskan strategi perusahaan. Adapun faktor-faktor internal dan eksternal yang dihasilkan dari penelitian pada agroindustri kerajinan tangan di UD. Bambu Klasik didapat bahwa kekuatan yang dimiliki meliputi pengrajin yang berpengalaman, kualitas produk baik, tenaga kerja yang terampil, harga produk murah, diversifikasi produk sesuai trend, kemampuan manajerial baik dan lokasi usaha yang strategis. Kelemahan yang dimiliki berupa modal terbatas dan peralatan produksi sederhana. Peluang meliputi kondisi pasar bahan baku, selera konsumen, dukungan Pemda, potensi pariwisata daerah dan pangsa pasar yang luas. Sedangkan ancaman yang ada meliputi pesaing memproduksi produk yang sama, perkembangan teknologi yang semakin maju dan perekonomian yang belum stabil.
Kata kunci: Agroindustri, kerajinan Tangan

Januari 23, 2008 at 7:19 am Tinggalkan komentar

Strategi Pengembangan Usaha Industri Tahu di Kecamatan … Kabupaten …

Visi dari pembangunan pertanian nasional adalah sebagai upaya mewujudkan pertanian yang tangguh, maju dan efisien yang mmepunyai ciri adanya kemampuan dalam menyejahterakan para petani, yang artinya membangun industri petani modern yang berbudaya industri dalam rangka membangun industri yang berbasis pedesaan (agrobisnis dan agroindustri).Adapaun agroindustri yang banyak berkembang di masyarakat adalah usaha industri tahu, seperti yang peneliti terjuni yaitu industri tahu yang ada di kecamatan … kabupaten …, dimana industri ini adalah salah satu industri kecil yang mampu menggerakkan roda perekonomian yang ada di kecamatan ….
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut maka penelitian pada industri tahu di kecamatan … kabupaten … bertujuan untuk :
1.Mengetahui sejauh mana pelaksanaan strategi yang diterapkan dalam proses produksi sehingga dapat menjamin kelestarian usahanya.
2.Mengetahui faktor – faktor internal dan eksternal berpengaruh dalam pengembangan industri tahu.
3.Mengetahui kemampuan dari pengusaha tahu di dalam pengembangan pemasaran hasil produk sehingga dapat menambah sumber pendapatan.
Dalam perkembangan industri yang ada ternyata diasumsikan bahwa faktor – faktor strategi sangat berpengaruh besar dalam menjaga kelangsungan hidup usaha industri tahu. Dan dalam penelitian ini jenis penelitiannya adalah metode studi kasus sedangkan populasi yang diambil yaitu semua pengusaha tahu yang ada di kecamatan … yang dianggap mampu untuk berkembang, kemudian teknik analisa yang digunakan yaitu analisa SWOT.
Dari hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa usaha industri tahu yang ada di kecamatan … mempunyai kekuatan dan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan usahanya. Adapun kekuatanya meliputi : Kesediaan bahan baku,sarana prasarana,teknologi produksi,dan kebijakan pemerintah beserta sumber daya manusia. Sedangkan peluang yang ada meliputi : Lembaga keuangan,masyarakat konsumen,sarana prasarana,dan jumlah penduduk yang besar

Januari 23, 2008 at 7:19 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kalender

Oktober 2014
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.