Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan pada Perusahaan Food & Beverage di Bursa Efek Surabaya.. (132).

April 27, 2012 at 11:44 pm Tinggalkan komentar

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam mendirikan perusahaan, seorang investor atau pemilik perusahaan pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Menurut John D. Martin (1993) perusahaan didirikan dengan tujuan tertentu, yaitu : memaksimalkan keuntungan atau kekayaan bagi karyawan, masyarakat sekliling perusahaan dan terutama pemegang saham. Maksimali perusahaan sering disebut sebagai tujuan perusahaan dalam arti mikro ekonomi, tetapi itu belum cukup disebut sebagai tujuan perusahaan apabila ditinjau dari sudut keuangan, hal ini sesuai dengan pernyataan Clive (1990) bahwa maksimalisasi laba mempunyai kelemahan sebagai berikut :

1. Ukuran laba ditentukan oleh metode akuntansi yang digunakan. Hal ini menyebabkan laba sebagai tujuan yang dapat diukur mempunyai keterbatasan.
2. Laba tidak mempertimbangkan ukuran atau skala investasi yang ditanamkan.
3. Laba tidak mempertimbangkan pola waktu dari pengembalian.
4. Penggunaan laba tidak mempertimbangkan tingkat resiko yang dihadapi dalam investasi yang dilakukan.

Atas dasar kelemahan-kelemahan maksimalisasi laba, maka seharusnya tujian yang dicapai oleh manajer keuangan adalah bukan maksimalisasi laba, melainkan maksimalisasi kekayaan pemegang saham melalui maksimalisasi nilai perusahaan. Tujan ini dapat ditempuh dengan memaksimumkan nilai sekarang atau persent value semua keuntungan pemegang saham akan meningkat bila harga saham yang dimiliki meningkat.
Syamsudin (1995) menyatakan bahwa tujuan dari memaksimumkan kekayaan pemegang saham harus diutamakan oleh perusahaan, karena tujuan ini mempertimbangkan penghasilan pemilik perusahaan, pandangan jangka panjang, waktu penerimaan keuntungan, resiko, dan distribusi keuntungan perusahaan.

Pemegang saham sebagai pemilik perusahaan biasanya tidak ikut terlibat langsung dalam manajemen perusahaan, tetapi mendelegasikan kepada tim manajemen yang dipilih untuk mengoperasikan perusahaan. Pemilik modal berharap keputusan yang diambil oleh tim manajemen adalah merupakan keputusan yang terbaik bagi kepentingan pemegang saham yaitu meningkatkan kekayaan pemilik muda.

Oleh karena pemegang saham tidak terlibat langsumng dalam manajemen perusahaan, maka secara terbuka perusahaan harus diketahui kinerjanya oleh pemegang saham atau investor. Kurangnya informasi dalam melakukan penilaian terhadap operasional perusahaan akan menyebabkan kesalahan penilaian terhadap investasi yang dilakukan.
Untuk mengukur kinerja perusahaan investor biasanya menggunakan ukuran kinerja keuangan yang berupa rasio keuangan dengan berbagai macam rasio. Seringkali terjadi satu rasio keuangan baik, belum tentu rasio keuangan lainnya juga baik. Berbagai keterbatasan analisis rasio keuangan ini diungkapkan oleh Weston dan Brigham (1994). Selain itu untuk melihat kinerja keuangan dengan ukuran rasio ini diperlukan adanya ukuran pembandingyang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan lain yang sering kali sulit untuk didapatkan. Ukuran rasio tersebut diperlukan juga sebuah analisis trend dari setiap rasio terhadap setiap rasio beberapa tahun sebelumnya. Untuk memberi alternatif lain dengan mempertimbangkan berbagai keterbatasan rasio maka munculah Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) sebagai alat ukur kinerja keuangan perusahaan.

EVA untuk mengukur kinerja internal perusahaan relative masih baru dan belum, banyakk diadopsi oleh negara-negara berkembang. .EVA dikembangkan oleh Stern Steward & Company merupakan suatu ukuran kinerja keuangan perusahaan dengan cara mengurangi biaya modal (Cost of Capital ) yang timbul sebagai akibat investasi yang di lakukan
Capitalmerupakan jumalh dana yang tersedia bagi perusahaan untuk membiayai usahanya yang merupakan penjumlahan dari total hutang dan modal saham atau ecuitas..Total biaya modal (cost of capital ) meniunjukan besarnya kompensasi atau pengembalian yang ditutup investor atas modal yang telah di investasikan di perusahaan. Besarnya kompensasi tergantung pada tiungkat resiko perusahaan yang bersangkutan

Secara konseptual perhitungan EVA adalah laba dikurangi biaya modal . Sehingga dari perhitungan tersebut dapat digambarkan bahwa apabila tingkat pengembalian yang dihasilkan (laba) lebih besar dari biaya modal yang dituntut investor atas inveatasinya maka akan menghasilkan EVA positif Keadaan ini menunjukan bahwa perusahaan berhasil menciptakan nilai bagi pemilik modal . Demikian juga sebaliknya , apabila tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan (laba) lebih kecil dari biaya modal yang dituntut investor atas investasinya , maka akan mengasilkan EVA yang negatif sehingga nilai perusajhaan berkurang.
Sedangkan MVA merupakan hasil kumulatif kinerja perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupoun yang diantisipasi yang akan dilakukan sehingga keberhasilan dari MVA ini adalah sebagi keberhasilan memaksimalkan kekayaan pemeganmg sdaham dengan alokasi sumber-sumber yang sesuai .Dengan demikian MVA merupakan ukuran kinerja eksternal perusahaan . Berkaitan dengan biaya modal , maka seperti pada perhitungan EVA diatas, apabila laba perusahaan lebih besar dari biaya modal , maka akan menghasilkan EVA positif sehingganilai perusahaan juga meningkat . Hal ini akan mengakibatkan meningkatnya MVA karena EVA merupakan selisih antara nilaiperusahaan dengan nilai modal.Demikian juga sebaliknya.

Bagi investor , bila kita hubungkan dengan ukuran kinerja perusahaan maka investor disatu sisi perlu memahami kinerja internal keuangan perusahaan dan disisi lain perlu mengetahui kinerja eksternal perusahaan yang mampu menciptakan nilai tambah baginya . Oleh karena itu EVA dan MVA sebagai ukuran kinerja keuangan perusahaan yang belum banyak dipakai perlu pembahasan dan pembuktian labiih lanjut khususnya untuk menilai kinerja keuangan pada industri di negara kita. EVA dan MVA lebih menekankan pada penciptaan nilai tambah
EVA dan MVA diterapkan pada perusahaan dengan sistem management by open book . Oleh karena itu perusahaan Food & Beferage yang go pulic di Bursa Efek Surabaya yang akan diteliti karena Perusahaan Food & Beferage bersifat paling resisten terhadap kondisi pasar . pada umumnya perusahaan yang tergolong sebagai perusahaan besarlah yang melakukan go public . Mengingat perusahaan besar unruk aktivitas usahanya memerlukan dana dalam jumlah besar pula dalam hal ini akan terpenuhi bila menggali dana pada masyarakat lewat passer modal .

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (BUKAN  pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Entry filed under: Manajemen, Manajemen Akuntansi, Manajemen Keuangan. Tags: .

Responsibility accounting sebagai alat pengendalian biaya produksi pada perusahaan rokokpt. Banyu biru malang .. (129) Pengaruh Pola Kepemimpinan Terhadap Kinerja Guru Dalam Kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) (139)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2012
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: