Archive for Januari 3, 2008

Strategi Pengembangan Agribisnis Benih Padi Berlabel Di Kabupaten …

Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi faktor-faktor internal dan external dalam pengembangan Agribisnis Benih Padi Berlabel di Kabupaten …. 2) Menganalisa strategi pengembangan Agribisnis Benih Padi Berlabel di Kabupaten ….
Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan explanatory research dengan metode survei (Survey Method) dengan teknik pengambilan sample secara stratified random sampling. Teknik pengambilan data yaitu dengan angket, wawancara, survei dan dokumenter. sedangkan data yang diambil adalah data primer dan data sekunder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Pengembangan agribisnis benih padi berlabel khususnya di kabupaten … cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan pengembangan produk dan pengembangan informasi pasar dan jaringan kerja serta pembanguna sarana dan prasarana yang digunakan dalam mengembangkan agribisnis dan mencapai target kelompok petani. 2) Strategi yang perlu dilakukan dalam pengembangan agribisnis benih padi berlabel di Kabupaten … adalah melakukan suatu aksi untuk meningkatan sumber daya manusia serta mengembangkan jalur pemasaran guna tercapainya target kelompok petani, serta meningkatkan modal kerja para pengrajin.

Januari 3, 2008 at 7:27 am Tinggalkan komentar

“Analisis Komparasi Usaha Pengolahan Sari Apel di CV Bromo Semeru dan CV Nusa Agro Industri Kota …”.

Salah satu komoditas pertanian yang terkenal di Kota … adalah apel. Apel (Malus syvestriss Mill) merupakan bahan baku yang digunakan dalam usaha pengolahan sari apel. Usaha pengolahan sari apel ini lebih banyak menggunakan apel sortiran (apel dengan kualitas rendah) kemudian diolah menjadi minuman sari apel dengan nilai jual yang lebih tinggi, sehingga mampu memberikan keuntungan bagi para pengusahanya dan dapat memberikan lapangan kerja. Jenis apel yang digunakan dalam usaha ini adalah apel rome beauty dan apel manalagi. Usaha pengolahan sari apel merupakan usaha skala kecil (skala rumah tangga).
Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui proses produksi pengolahan sari apel, (2) Untuk mengetahui perbandingan usaha pengolahan sari apel yang menggunakan jenis apel rome beauty dengan apel manalagi dilihat dari biaya, penerimaan, keuntungan, produksi, harga jual, tingkat efisiensi dan tingkat kelayakannya, (3) Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi kendala dalam usaha pengolahan sari apel.
Penelitian ini dilakukan pada usaha pengolahan sari apel pada CV Bromo Semeru dan CV Nusa Agro Industri di Kota …. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa usaha pengolahan sari apel ini merupakan usaha yang sedang berkembang. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data biaya, produksi, penerimaan, keuntungan dan data primer yang diperoleh melalui wawancara dan pengambilan dokumentasi peralatan serta produknya dari tempat penelitian. Adapun analisa yang digunakan adalah biaya, penerimaan, keuntungan, efisiensi (R/C ratio) dan kelayakan (B/C ratio).

Januari 3, 2008 at 7:27 am Tinggalkan komentar

Analisis Komparasi Usaha Tani Tebu Dengan Aplikasi Pupuk “Organik” Dan Pupuk An-Organik

Dalam menghadapi semakin langka dan mahalnya harga pupuk dipasaran mengakibatkan para petani tebu melakukan langkah-langkah alternatif yang dapat mengurangi tingginya biaya dalam membudidaya tanaman tebu. Langkah yang diambil para petani antara lain dengan cara mengubah sistem pertanian an-organik menjadi semi organik, yaitu dengan cara mengurangi jumlah pupuk jadi dan kekurangannya digantikan dengan pupuk kandang atau dengan pupuk hijau daun.
Tujuan Penelitian adalah 1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan teknologi pemupukan dengan pupuk organik dan an-organik. 2. Untuk mengetahui bagaimana perbandingan struktur biaya, produksi, pendapatan usaha tani antara penerapan teknologi pemupukan dengan pupuk organik dan an-organik pada tanaman tebu.
Batasan masalah dalam usaha tani tebu dengan pemupukan semi organik ini sudah tergolong usaha tebu dengan pupuk organik. Untuk tanaman tebu apabila menggunakan pupuk organik murni hasilnya tidak maksimal.
Metode penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dikecamatan Kandat kabupaten …. Dengan pertimbangan bahwa didaerah tersebut banyak petani tebu. Metode penentuan sampel dilakukan secara sensus, dengan pertimbangan karena jumlahnya kurang dari 30 jiwa.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian usaha tani tebu dengan amplikasi pupuk organik dan an-organik dengan cara berikut:
a. Analisis Biaya
TC = TFC + TVC
Organik 19.782.892 = 12.791.506 + (3.972.136 + 3.018.811)
An-organik 19.320.468 = 12.791.506 + (3.532.228 + 2.996.734)
Dimana : TC = Total Biaya (Total Cost)
TFC = Total Biaya Tetap (sewa lahan)
TVC = Total Biaya Variabel (Saprodi + TK)
b. Analisis Pendapatan Usaha Tani
π = TR – TC
Organik 12..066.892 = 31.789.344 – 19.782.452
An-organik 10.919.903 = 30.240.371 – 19.320.627
Dimana : Π = Pendapatan Usaha Tani
TR = Total Penerimaan
TC = Total Biaya
Berasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam usaha tani tebu semakin besar biaya produksi dengan luas lahan yang sama maka semakin besar pula tingkat pendapatan, dalam hal ini adalah usaha tani tebu organik yang dapat dilakukan secara berkelanjutan dan lebih baik.

Januari 3, 2008 at 7:26 am 1 komentar

“Analisis Usaha Pada Pengolahan Produk Gula Kacang” (Studi kasus di Desa Takeran Kec. Takeran Kab. …).

Kacang tanah merupakan salah satu dari komoditi pertanian yang termasuk tanaman palawija. Kacang tanah memiliki peran yang cukup penting dalam kehidupan manusia atara lain sebagai salah satu komoditi pangan yang memiliki nilai gizi yang cukup tinggi sehingga memiliki potensi yang cukup bagus untuk dikembangkan. Sebagai salah satu dari tanaman palawija, kacang tanah amat potensial dalam pengembangan program Nasional peningkatan produksi kacang-kacangan, sebagai sumber protein nabati serta bahan penganekaragaman pangan penduduk. Kacang tanah dapat diolah menjadi berbagai produk olahan, yang salah satunya yaitu produk “gula kacang”. Pengolahan kacang tanah menjadi produk gula kacang mempunyai arti penting dalam menambah pendapatan keluarga dan memperbaiki ekonomi rumah tangga. Salah satu daerah yang terdapat usaha pengolahan produk gula kacang yaitu Desa Takeran Kecamatan Takeran Kabupaten ….
Tujuan dari peneltian ini adalah (1) untuk mengetahui proses pengolahan produk gula kacang, (2) untuk mengetahui masalah/kendala dalam usaha produk gula kacang, (3) untuk mengetahui biaya dan pendapatan usaha pengolahan produk gula kacang, (4) untuk mengetahui produksi dan harga impas pada usaha produk gula kacang, dan (5) untuk mengetahui besarnya efisiensi usaha pengolahan produk gula kacang. Dalam penelitian ini penentuan daerah dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa di desa Takeran Kec. Takeran Kab. … terdapat usaha pengolahan produk gula kacang. Metode pengambilan data dilakukan dengan dua cara yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara secara langsung dengan bantuan kuesioner yang sudah disiapakan, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait yang dapat menunjang kelengkapan data primer serta dari literatur atau pustaka. Penentuan responden dilakukan dengan metode sensus, yaitu dengan mengambil semua responden yang ada di daerah penelitian.
Dari hasil penelitian, bahwa proses pengolahan produk gula kacang adalah; memasukkan semua bahan kedalam kwali dengan air ± 1 liter kemudian direbus dalam waktu ± 30 menit. Setelah masak langsung dicetak dan ditiriskan, kemudian jadilah produk gula kacang dan langsung dilakukan pengemasan. Adapaun masalah yang dihadapai oleh pemilik usaha rata-rata yaitu masalah harga-harga bahan baku yang tidak stabil, masalah masih minimnya modal, serta masalah dalam hal pemasaran.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata biaya total yang dikeluarkan per satu kali proses produksi sebesar Rp 517.677, dimana terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap. Biaya tetap dalam usaha produk gula kacang ini yaitu penyusutan alat sebesar Rp 2.513, sedangkan biaya variabel sebesar Rp 515.164 yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengemasan, transportasi, dan bahan bakar (kayu bakar). Rata-rata penerimaan (pendapatan kotor) per satu kali proses sebesar Rp 570.228, sedangkan pendapatan bersih sebesar Rp 52.551. Adapun untuk besarnya produksi impas yaitu 593 bungkus, sedangkan besarnya produksi rata-rata sebesar 653 bungkus yang berada di atas produksi impas. Sedangkan harga jual rata-rata sebesar Rp 900, dimana berada di atas harga impas yaitu Rp 817. Dari hasil analisis bahwa usaha pengolahan produk gula kacang di Desa Takeran menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai R/C ratio rata-rata > 1, yaitu sebesar 1,10%. Ini berarti bahwa setiap pengeluaran sebesar Rp 100, maka akan diperoleh pendapatan sebesar Rp 110. Dengan demikian maka usaha pengolahan produk gula kacang tersbut layak diusahakan dan sangat baik untuk dikembangkan.

Januari 3, 2008 at 7:25 am Tinggalkan komentar

Analisa Perbandingan Pendapatan Petani Kedelai Anggota APKKI dan Non-Anggota APKKI” (Studi Kasus di Kecamatan … … Kabupaten …).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan besarnya biaya, produksi, penerimaan dan pendapatan yang diperoleh petani anggota APKKI dan non-anggota APKKI. Apakah pendapatan yang diperoleh petani anggota APKKI lebih besar daripada petani non-anggota APKKI.
Penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) di wilayah Kecamatan … … Kabupaten … dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut mempunyai luas areal tanaman kedelai yang paling luas dan jumlah kelompok tani yang menanam paling banyak diantara kecamatan lainnya se-Kabupaten ….
Metode penentuan sampel yang digunakan adalah cluster sampling karena sampel diambil dari pengelompokan-pengelompokan sejumlah 35 kelompok tani. Responden yang diambil mewakili kelompoknya yaitu untuk responden petani anggota APKKI adalah ketua kelompok tani tersebut, sedangkan responden petani non-anggota APKKI diambil 35 responden anggota kelompok tani yang mewakili non-anggota APKKI.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya total (TC) yang dikeluarkan untuk usaha tani kedelai oleh petani anggota APKKI sebesar Rp. 3.484.554,3/hektar yang terdiri dari benih sebesar Rp. 266.686, Pupuk Organik Majemuk (POM) sebesar Rp 609.440, pestisida sebesar Rp. 231.000, tenaga kerja sebesar Rp. 1.377.428,57 dan untuk sewa tanah sebesar Rp. 1.000.000. Sedangkan untuk petani non-anggota APKKI harus mengeluarkan rata-rata biaya total (TC) sebesar Rp. 3.479.417,1/hektar yang terdiri dari benih sebesar Rp. 169.486, Pupuk Organik Majemuk (POM) sebesar Rp. 591.474,3, pestisida sebesar Rp. 183.171,4 tenaga kerja sebesar Rp. 1.535.285,71 dan sewa lahan sebesar Rp. 1.000.000.
Produksi rata-rata yang diperoleh petani anggota APKKI sebanyak 2035,34 kg/hektar dengan penerimaan rata-ratanya sebesar Rp. 6.106.028,57 sedangkan petani non-anggota APKKI memperoleh rata-rata produksi hanya sebanyak 1514 kg/hektar dengan penerimaan rata-rata hanya sebesar Rp. 4.239.200.
Dari rata-rata biaya total dan rata-rata penerimaan per hektar petani anggota APKKI diperoleh rata-rata pendapatan sebesar Rp. 2.621.474,3 sedangkan petani non-anggota APKKI diperoleh rata-rata pendapatan sebesar Rp. 759.782,86. Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t diperoleh nilai t hitung sebesar 4,918 dengan taraf kepercayaan 5% diperoleh t tabel sebesar 1,676. Bararti nilai t hitung > t tabel sehingga H 1 diterima, diperoleh kesimpulan bahwa tingkat pendapatan petani anggota APKKI lebih besar daripada petani non-anggota APKKI.
Kendala dan alasan yang di ungkapkan oleh keseluruhan petani baik anggota APKKI maupun non-anggota APPKI di Kecamatan … … Kabupaten … ini adalah modal. Faktor modal yang menentukan mereka dalam memilih benih yang akan mereka tanam.

Januari 3, 2008 at 7:24 am Tinggalkan komentar

Analisis Strategi Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis Melalui Penguatan Modal Usaha Kelompok Tani Di Kabupaten …

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten … dengan mengambil sampel sasaran pada kelompok tani di Kabupaten … sebanyak 60 responden dari 637 populasi kelompok tani yang tersebar di 22 kecamatan se-kabupaten ….
Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk menjelaskan dan menganalisa upaya yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dalam memberdayakan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani di Kabupaten …, (2) untuk menjelaskan dan menganalisa proses pemberdayaan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani di Kabupaten …, (3) untuk menjelaskan dan menganalisa dampak dari upaya pemberdayaan masyarakat agribisnis penguatan modal usaha kelompok tani dilihat dari tingkat kesejahteraannya.
Penelitian termasuk dalam penelitian “Discriptif Explanatory” dimana peneliti berusaha menjelaskan dari kejadian yang diteliti secara seksama dengan memakai alat analisa SWOT yaitu suatu analisa strategi dengan dasar pada logika dengan memaksimalkan faktor kekuatan dan peluang namun secara bersamaan bisa meminimalkan kelemahan dan ancaman yang datang dari luar.
Hasil analisis SWOT diperoleh bahwa : dengan melakukan tiga tahapan pengujian SWOT yaitu : (1) Matrik IFAS Dan EFAS, (2) Matrik SWOT dan (3) Analisis penentuan Strategi diperoleh hasil bahwa strategi yang paling mendekati cocok dan memiliki skor paling besar dalam pemberdayaan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani ialah menggunakan strategi SO ( Strength Opportunities ) yaitu strategi yang menggunakan kekuatan dengan memanfaatkan peluang yang ada, dengan bentuk pelaksanaan berupa : (1) peningkatan produktifitas agribisnis dengan mempererat kemitraan masyarakat agribisnis / kelompok tani, (2) pengembangan usaha agribisnis didukung dengan peningkatan kualitas personal, (3) perluasan kawasan produksi yang diimbangi dengan peningkatan distribusi produksi pertanian keluar daerah, (4) memperkuat institusi pengelola program degan meningkatkan pengetahuan tentang hukum dan peraturan pada masyarakat, (5) peningkatan kualitas sumber daya manusia serta memupuk jiwa wirausaha, sehingga diharapkan dengan menerapkan strategi tersebut maka proses pemberdayaan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani dapat mencapai sasaran yang diharapkan yaitu meningkatkan daya guna dan hasil guna kelompok tani di Kabupaten ….

Januari 3, 2008 at 7:23 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Motivasi Terhadap Perilaku Kerja Petani Tebu (Studi di Kecamatan … Kabupaten …)

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh motivasi berpengaruh terhadap perilaku kerja petani tebu. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan … Kabupaten … pada bulan Agustus – Oktober 2005. Jenis survei dengan mengamati dua faktor, motivasi dan perilaku kerja. Faktor pertama motivasi yang terdiri dari 2 variabel intern dan ekstern sedangkan perilaku terdiri dari dua variabel yaitu sikap dan pengambilan keputusan. Peubah motivasi intern terdiri dari tujuan (X11), pendidikan (X12), pengalaman (X13), peubah motivasi ekstern terdiri dari harga (X21), dukungan keluarga (X22), dukungan pemerintah (X23), status kepemilikan tanah (X24), luas lahan (X25), ketersediaan air (X26), dan musim (X27). Peubah sikap terdiri dari kreatifitas (LY11) dan inivatif (LY12), peubah pengambilan keputusan terdiri dari pengambilan keputusan rasional (LY21) dan tidak rasional (LY22). Pengukuran peubah dengan menggunakan skala interval dan skala rasio dengan skor 1-4.
Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sampel area. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, kuisioner dan studi dokumentasi. Model analisis yang digunakan adalah analisis faktor, regresi dan korelasi.
Hasil penelitian menunjukkan motivasi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sikap kreatifitas, tetapi memberikan pengaruh nyata terhadap sikap inovatif petani. Motivasi memberikan pengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan rasional maupun keputusan tidak rasional.

Januari 3, 2008 at 7:22 am 1 komentar

“Analisis Kinerja Program Pembelian Gabah Oleh Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan Di Kabupaten …”

Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia, khususnya Jawa Timur mengundang banyak pertanyaan apakah penyediaan bahan pangan (gabah) oleh pemerintah mampu memenuhi kebutuhan penduduknya, padahal bersamaan dengan itu pula penyempitan lahan subur akibat perluasan wilayah industri dan perkotaan menjadi penghambat pemenuhan produksi pangan.
Produksi pangan seperti padi, jagung, kedelai dan tanaman bahan pangan yang lain sangat dipengaruhi oleh faktor iklim dan musim. Pada saat panen raya, jumlah produksinya tinggi dan melebihi jumlah permintaan, sehingga menyebabkan harga jual ditingkat produsen menjadi sangat rendah. Sebaliknya, pada musim paceklik ketersediaan pangan ditingkat produsen sangat rendah, sehingga harga hasil produksi menjadi tinggi. Fluktuasi harga seperti itu dapat mempengaruhi pendapatan petani sebagai produsen bahan pangan. Petani tidak mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi pada saat panen sehingga peristiwa seperti itu dapat menurunkan kesejahteraannya.
Untuk mengetahui Dampak Program Pembelian Gabah Pada Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan di Kabupaten … maka dilakukan kajian yang secara khusus bertujuan untuk: Menganalisa program pembelian gabah ditinjau dari indikator (1) masukan (in-put) yang meliputan ketepatan lembaga pembeli gabah, jumlah dana, kesesuaian jumlah dana dengan kebutuhan masing-masing lembaga pembeli gabah, ketepatan waktu pencairan dana dengan waktu over suply gabah, ketepatan jumlah dana yang diterima lembaga pembeli gabah, dan ketepatan penggunaan dana oleh lembaga pembeli gabah, indikator (2) proses yang meliputi proses seleksi lembaga pembeli gabah, mekanisme penggunaan dana, mekanisme pengembalian dana, mekanisme pembelian gabah oleh lembaga pembeli gabah, serta mekanisme monitoring dan evaluasi, (3) output yang meliputi volume pembelian di tingkat lembaga, di tingkat kabupaten, dan tingkat pengembalian lunas tepat waktu. Indikator (4) outcome yang meliputi harga yang diterima petani di daerah sasaran dan perkembangan usaha lembaga pembeli gabah, indikator (5) benefit yaitu fluktuasi harga pangan dan perkembangan agribisnis pangan serta dari indikator (6) dampak yaitu peningkatan pendapatan petani.
Penelitian analisis kinerja pemebelian gabah ini adalah semua lembaga pembeli gabah yang ditunjuk mengadakan pembalian gabah untuk tahun anggaran 2001-2004. Lembaga pembeli gabah yang dimaksud adalah Koperasi Unit Desa (KUD), Koperasi non KUD, Koperasi Tani, dan Rice Milling Unit (RMU). Populai penelitian evaluasi kinerja juga memasukkan petani yang bekerjasama dengan lembaga pembeli gabah yang ada di Kabupaten ….
Populasi penelitian ini adalah Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) yang mendapat bantuan dari dana APBD atau APBN. Lembaga yang dimaksud adalah lembaga yang ditunjuk dan atau lembaga yang dalam usahanya adalah melakukan pengadaan atau pembelian gabah pada petani yang telah disebutkan diatas. Populasi yang akan diambil adalah lembaga yang telah mendapatkan bantuan dan ditunjuk sebagai pelaksana program pembelian gabah di Kabupaten …. Adapun lembaga yang ditunjuk antara lain adalah KUD Karangploso, KUD Pakis, KUD Pakisaji, Koptan Padita Tumpang dan Koptan Mitra Tani Tajinan.
Tahapan analisis data mulai pengolahan data yang meliputi : (1) Pengkodean. Tahapan ini untuk memudahkan proses komputasi dan analisis serta tabulasi data. (2) Tabulasi. Data diringkas dalam bentuk format tabel untuk memudahkan manajemen data, dan (3) Editing data. Pemeriksaan data untuk menelusuri terjadi atau tidaknya penyimpangan atau identifikasi adanya data outlier (data pencilan).
Analisis data dilakukan melaui tahapan : (a)Analisis diskriptif kuantitatif, seperti prosentase, tampilan diagram, rataan, standart deviasi, prosentase keberhasilan (input, proses dan dampak), dan lain-lain. Serta (b) Analisis diskriptif kualitatif, pemberian makna atas angka hasil anlisis kuntitatif, dan makna-makna data kualitatif atas hasil wawancara.
Berdasarkan analisis data, kajian ini dapat memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.Program pembelian gabah / bahan pangan lain yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten … terbukti dapat meningkatkan penerimaan usahatani bagi petani yang bekerjasama dengan lembaga pembeli gabah yang mendapatkan dana pembelian gabah / bahan pangan lain.
2.Pelaksanaan program pembelian gabah / bahan pangan lain di Kabupaten … dapat terlaksana dengan baik bila dilihat dari ketepatan pemilihan lembaga pembeli yang diberi dana walaupun dalam beberapa kasus ditemui lembaga pembeli yang kurang berkait erat dengan petani secara langsung. Program pembelian gabah ini telah mendorong, menghidupkan, dan memfasilitasi kegiatan ekonomi kelompok tani.
3.Lembaga pembeli gabah/bahan pangan lain melakukan kerjasama dengan petani atau kelompok tani tetapi ada juga lembaga pembeli gabah / bahan pangan lain yang membeli dari tengkulak.
4.Program pembelian gabah/bahan pangan lain menimbulkan dampak positif pada lembaga pembeli gabah seperti : (1) Peningkatan uang kas, (2) peningkatan pemilikan dan kualitas sarana transportasi, (3) perluasan lantai jemur, (4) perbaikan kualitas lantai jemur, (5) perbaikan kualitas RMU, (6) penambahan kapasitas gudang, (7) perbaikan kualitas gudang.
5.Selama proses, program pembelian gabah menimbulkan hal positif yang dapat diamati seperti berkurangnya proporsi petani yang menjual pada tengkulak dan bertambahnya petani yang menjual pada lembaga pembeli gabah yaitu KUD.
6.Dampak program pembelian gabah / bahan pangan lain adalah menambah dana segar bagi pembeli gabah sehingga mampu membeli gabah petani dengan volume yang lebih banyak.
7.Program ini menambah kekuatan lembaga pembeli gabah untuk membeli dengan tunai pada petani sehingga pada saat panen petani dapat memperoleh uang tunai.
8.Kekuatan menyerap ekses supply pada saat panen pada program ini masih belum memadai bila dibandingkan dengan volume ekses supply yang memang terjadi pada saat panen.

Januari 3, 2008 at 7:21 am Tinggalkan komentar

Dampak Cooperative Farming Terhadap Peningkatan Pendapatan Petani (Studi Kasus di Desa … Kecamatan … Kabupaten …)

Untuk melaksanakan Cooperative farming di tingkat usahatani di pedesaan maka dipandang perlu untuk melaksanakan kelembagaan cooperative farming ini dalam lingkup terbatas terlebih dahulu (pilot project) dan melihat dampaknya di masa uji coba itu secara terbatas. Berdasarkan pemikiran ini maka penelitian tentang potensi pelaksanaan cooperative farming, perbandingan usahatani sebelum melaksanakan cooperative farming dan sesudah melaksanakan cooperative farming pada daerah yang telah melaksanakan menjadi sangat penting.
Penelitian ini bertujuan untuk : (a) Mengukur potensi pengembangan cooperative farming pada petani peserta proyek. (b) Membandingkan pendapatan petani yang melaksanakan cooperative farming dan non cooperative farming.
Penelitian dilakukan di Desa … Kecamatan … Kabupaten …. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa desa ini merupakan pilot proyek cooperative farming yang didanai oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur tahun anggaran 2004.Sampel penelitian ini sebanyak 60 orang yang terdiri dari 30 orang petani yang mengikuti proyek cooperative farming dan 30 orang petani yang tidak mengikuti proyek cooperative farming. Data dikumpulkan dengan cara mewawancarai petani yang terpilih (interview) menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan. Untuk mengukur potensi pelaksanaaan cooperative farming digunakanlah berbagai indikator yang disusun berdasarkan aplikasi teori dan petunjuk pelaksanaan proyek. Untuk membandingkan perbedaan pendapatan petani yang melaksanakan cooperative farming dengan yang tidak mengikuti cooperative farming digunakan uji t (pengujian ini didasarkan pada kaidah with and without). Sebelum menyusun langkah-langkah strategis pengembangan cooperative farming di masa yang akan datang dilakukanlah analisis SWOT untuk melihat faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi penerapan model cooperative farming.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Kelompok tani Barokah di Desa … memiliki potensi besar untuk melaksanakan cooperative farming dengan baik karena skor kemampuan melaksanakan pengadaan sarana produksi secara kolektif sangat tinggi, pengaturan pola tanam dan bertanam kolektif, melakukan pengolahan tanah secara kolektif. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara kolektif dengan SLPHT selama bertahun-tahun. Hal yang belum dilakukan hanyalah mengadakan kerjasama kolektif dengan produsen penyedia sarana produksi. (b) Potensi pengelolaan budidaya dengan cooperative farming juga sangat tinggi hal ini dapat dilihat dari tinggi skor pada butir-butir sistem pengelolaan pengairan, sistem interaksi alih teknologi, dan sistem pemasaran hasil panen. Hal yang belum dilakukan adalah kontrak pemasaran dengan pembeli hasil pertanian (gabah). (c) Secara aktual, hampir seluruh komponen input produksi cooperative farming dapat ditekan jauh lebih rendah dibandingkan dengan komponen input produksi non cooperative farming. Sebaliknya, produktivitas, penerimaan usahatani, dan pendapatan usahatani petani cooperative farming menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan petani non cooperative farming.

Januari 3, 2008 at 7:20 am Tinggalkan komentar

Pengaruh Pola Kemitraan PT BISI terhadap Peningkatan Pendapatan Petani Cabai

Masyarakat di Desa Maron Kecamatan Kabupaten … sebagian besar penduduknya mata pencahariannya adalah petani. Usaha untuk meningkatkan kwalitas dan kuantitas produksi yang secara langsung akan meningkatkan pendapatan petani, petani di Desa Maron mengambil langkah alternatif dengan program pola kemitraan dengan PT BISI. Dengan pola kemitraan diharapkan dapat miningkatkan kemakmuran.
Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui pengaruh pola kemitraan terhadap peningkatan pendapatan petani Cabai di Desa Maron, 2) Mengetahui pengaruh yang paling dominan pada pola kemitraan terhadap peningkatan petani Cabai di Desa Maron.
Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif , tehnik pengumpulan data dengan cara wawancara, kuisioner, dan dokumentasi. Metode analis yang dugunakan adalah dengan menggunakan analisis korelasi berganda dan regresi linear berganda.
Berdasarkan tujuan, hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan : 1) Ada pengaruh pola kemitraan terhadap peningkatan pendapatan petani Cabai di Desa Maron, dengan koefisien korelasi sebesar 0.929. 2) Pengaruh yang paling dominan dalam pola kemitraan terhadap peningkatan petani Cabai adalah variabel kepastian pasar (X2) dengan koefisien regresi sebesar 0.324. Sedangkan yang kedua adalah variabel Jaminan harga (X3) dengan koefisien regresi 0,316 dan yang ke tiga adalah variabel pengadaan Benih (X1) dengan koefisien regresi sebesar 0.309.

Januari 3, 2008 at 7:20 am Tinggalkan komentar

Tulisan Lebih Lama


Kalender

Januari 2008
S S R K J S M
    Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.